Prof. Menachem Ali Ungkap Perjalanan Mencari Kebenaran Islam melalui Filologi dan Manuskrip

Warta Batavia – Prof. Menachem Ali menjelaskan perjalanan intelektualnya dalam menemukan Islam melalui kajian filologi, bahasa, manuskrip, dan perbandingan teks agama dalam wawancara bersama Rhoma Irama.
Prof. Menachem Ali Ungkap Perjalanan Mencari Kebenaran Islam melalui Filologi dan Manuskrip
Prof. Menachem Ali menjelaskan perjalanan intelektual dan spiritualnya dalam menemukan Islam melalui kajian bahasa, filologi, manuskrip, serta perbandingan berbagai tradisi keagamaan.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam perbincangan bersama Rhoma Irama yang ditayangkan kanal YouTube Rhoma Irama Official pada 13 September 2024. Dalam dialog tersebut, pembahasan berlangsung mulai dari pencarian kebenaran agama, konsep ketuhanan, hubungan bahasa Arab dan Ibrani, teks agama-agama terdahulu, hingga pemahaman mengenai Islam dan perbedaan di antara umat beragama.
Dalam transkrip wawancara tersebut, Rhoma Irama memperkenalkan Menachem Ali sebagai seorang akademisi yang melakukan penelitian terhadap manuskrip-manuskrip agama. Rhoma juga menanyakan bagaimana perjalanan intelektual tersebut mengantarkan Menachem Ali pada pilihannya terhadap Islam.
Menachem Ali menjelaskan bahwa pilihannya terhadap agama tidak dilakukan sekadar berdasarkan tradisi atau identitas yang diwarisi, tetapi melalui proses penelitian dan pencarian. Ia menggambarkan pencarian kebenaran sebagai proses panjang yang membuat seseorang terus mengajukan pertanyaan.
Menurut penjelasannya, kajian terhadap berbagai agama mempertemukannya dengan sejumlah persoalan mengenai konsep ketuhanan, teks suci, bahasa, sejarah, serta hubungan antarteks.
Latar Belakang Kajian Filologi Menachem Ali
Filologi menjadi salah satu bidang yang berkaitan erat dengan perjalanan intelektual Menachem Ali. Kajian filologi memungkinkan peneliti menelaah naskah, bahasa, sejarah teks, serta konteks yang melatarbelakangi sebuah manuskrip.
Dalam pemberitaan Universitas Airlangga, Menachem Ali pernah dikenal sebagai dosen filologi pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Ia juga memiliki perhatian khusus terhadap manuskrip pesantren dan berbagai buku langka. (Universitas Airlangga)
Universitas Airlangga juga mencatat bahwa koleksi Menachem Ali mencakup berbagai manuskrip dan buku dalam sejumlah bahasa. Di antaranya bahasa Arab, Ibrani, Persia, Urdu, Yunani, Koptik, Sanskerta, Hindi, Belanda, Inggris, Jawa, Madura, dan Melayu. (Universitas Airlangga)
Dalam konteks kajian filologi, teks tidak hanya dibaca dari terjemahannya. Bahasa asli, bentuk tulisan, sejarah naskah, variasi teks, dan konteks penggunaannya dapat menjadi bagian dari proses penelitian.
Hal tersebut tercermin dalam wawancara dengan Rhoma Irama. Menachem Ali berulang kali menggunakan pendekatan kebahasaan ketika membandingkan istilah dalam tradisi Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, dan tradisi lainnya.
Pencarian Kebenaran Tidak Berhenti pada Tradisi
Dalam dialog tersebut, Rhoma Irama menanyakan apakah setelah masuk Islam Menachem Ali masih melakukan pencarian terhadap agama lain.
Menachem Ali menjawab bahwa pilihan beragama, menurut penjelasannya, merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan. Ia mengatakan bahwa agama-agama yang ada di sekitar manusia menawarkan berbagai pilihan, sehingga seseorang perlu melakukan penelitian terhadap pilihan tersebut.
Ia kemudian memberikan contoh mengenai konsep ketuhanan dalam sejumlah tradisi agama.
Menurut Menachem Ali, salah satu hal mendasar yang ia perhatikan adalah konsep mengenai Tuhan Yang Esa. Ia menghubungkan pembacaannya terhadap berbagai teks dengan konsep monoteisme.
Dalam penjelasannya, ia menyebut teks yang dikaitkannya dengan tradisi Hindu, kemudian membandingkannya dengan Surah Al-Ikhlas dalam Al-Quran.
Ia juga menghubungkan kajian tersebut dengan tradisi Yahudi yang menggunakan bahasa Ibrani dan tradisi Islam yang menggunakan bahasa Arab.
Pendekatan yang digunakan dalam dialog tersebut terutama berupa perbandingan bahasa dan makna istilah.
Bahasa Arab dan Ibrani dalam Kajian Teks Agama
Salah satu bagian utama dalam pembicaraan Menachem Ali adalah hubungan bahasa-bahasa Semitik.
Ia menjelaskan bahwa bahasa Ibrani dan bahasa Arab memiliki hubungan yang erat dalam perspektif kebahasaan. Ia kemudian menggunakan sejumlah istilah dari tradisi Yahudi dan Islam untuk menunjukkan adanya kemiripan struktur bahasa serta pesan yang menurutnya dapat dibandingkan.
Dalam penjelasannya, ia juga mengutip ungkapan dari tradisi Yahudi yang menurutnya memiliki pesan tentang keesaan Tuhan.
Pembahasan kemudian diarahkan kepada tradisi Kristen. Menachem Ali menyebut bahwa dalam Injil terdapat ajaran tentang keesaan Tuhan yang disampaikan dalam bahasa Suryani.
Ia menjelaskan bahwa bahasa Suryani, Ibrani, dan Arab merupakan bagian dari rumpun bahasa Semitik. Karena itu, sejumlah istilah dan nama dapat memiliki bentuk yang berbeda tetapi tetap menunjukkan hubungan kebahasaan.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah nama Isa. Dalam bahasa Arab disebut Isa Al-Masih, sedangkan dalam tradisi Yunani dikenal dengan nama Yesus Kristus. Menachem Ali juga menyebut bentuk nama dalam bahasa Suryani.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara yang digunakan Menachem Ali dalam membaca hubungan antara teks-teks keagamaan.
Pesan Keagamaan dalam Bahasa yang Berbeda
Menachem Ali menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, ajaran ketuhanan disampaikan kepada manusia dalam rentang sejarah yang panjang dan menggunakan bahasa yang berbeda-beda.
Ia menyebut Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran sebagai kitab yang memiliki posisi dalam sejarah tradisi agama. Dalam wawancara itu, ia mengatakan bahwa bahasa penyampaian dapat berbeda sesuai dengan umat yang menerima pesan tersebut.
Dalam konteks tersebut, ia mengutip gagasan bahwa setiap umat memiliki nabi atau pemberi peringatan dan pesan disampaikan dengan bahasa kaumnya.
Pembicaraan kemudian masuk pada istilah Islam. Menachem Ali menjelaskan bahwa kata Islam dalam bahasa Arab berkaitan dengan makna berserah diri atau tunduk kepada Tuhan.
Ia menggunakan kisah Nabi Ibrahim sebagai salah satu contoh. Menurut penjelasannya, penyebutan Islam tidak selalu harus dipahami sebagai penggunaan bahasa Arab pada masa setiap nabi, karena para nabi hidup dalam lingkungan bahasa yang berbeda.
Konsep Monoteisme dalam Berbagai Tradisi
Pembahasan berikutnya berkaitan dengan konsep Tuhan Yang Esa.
Menachem Ali menyampaikan bahwa ia menemukan tema tentang ketuhanan yang menurutnya dapat dibandingkan di berbagai tradisi agama. Ia menyebut Hindu, Yahudi, Kristen, dan Islam dalam penjelasannya.
Rhoma Irama kemudian menyimpulkan bahwa pembahasan tersebut mengarah pada gagasan tentang kesatuan asal-usul agama berdasarkan keesaan Tuhan.
Namun, Menachem Ali memberikan penjelasan bahwa rincian ajaran dapat memiliki kekhasan sesuai dengan kondisi masyarakat dan periode sejarah. Ia mencontohkan bahwa aturan tertentu dapat mengalami perubahan dalam perjalanan sejarah.
Dalam wawancara tersebut, pembahasan tidak berhenti pada konsep ketuhanan, tetapi berlanjut kepada contoh konkret berupa larangan mengonsumsi daging babi.
Kajian Larangan Babi dalam Teks Agama
Menachem Ali menggunakan larangan mengonsumsi babi sebagai contoh untuk menjelaskan adanya hubungan antarteks keagamaan.
Ia menyebut istilah khinzir dalam bahasa Arab dan mengaitkannya dengan istilah dalam bahasa Ibrani yang menurutnya memiliki kemiripan. Ia kemudian mengatakan bahwa larangan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba ketika Al-Quran diturunkan pada abad ketujuh Masehi.
Menurut penjelasannya, larangan tersebut juga ditemukan dalam tradisi Yahudi, khususnya dalam Kitab Imamat.
Ia kemudian membandingkannya dengan tradisi Hindu melalui kisah Manu. Dalam penjelasannya, Menachem Ali menyebut adanya kisah banjir besar dalam tradisi tersebut dan menghubungkannya dengan kisah Nabi Nuh dalam tradisi Islam dan Yahudi.
Perbandingan tersebut digunakan untuk menjelaskan apa yang ia sebut sebagai mata rantai dalam sejarah teks dan tradisi agama.
Perbedaan Teks dan Interpretasi
Salah satu bagian panjang dalam dialog membahas persoalan larangan babi dalam tradisi Kristen.
Rhoma Irama mengangkat persoalan mengenai teks yang berkaitan dengan pengalaman Paulus dan pemaknaan terhadap makanan yang sebelumnya dianggap terlarang.
Menachem Ali menjelaskan bahwa teks mengenai hal tersebut memang ada, tetapi interpretasi di antara denominasi Kristen tidak selalu sama. Ia menekankan pentingnya membedakan antara teks dan interpretasi terhadap teks.
Menurut penjelasannya, ada kelompok dalam tradisi kekristenan yang tetap mengikuti larangan makanan tertentu, sementara denominasi lain memiliki pemahaman berbeda.
Ia juga membahas perbedaan terjemahan terhadap istilah yang digunakan dalam teks mengenai babi.
Menachem Ali menyatakan bahwa dalam kajian filologi, persoalan tidak cukup berhenti pada terjemahan. Teks asli dan cara penerjemahan juga perlu diperhatikan.
Filologi sebagai Cara Membaca Manuskrip
Dalam konteks akademik, perhatian Menachem Ali terhadap manuskrip memang telah terdokumentasi sebelum wawancara tersebut.
Universitas Airlangga pernah memberitakan kegiatannya dalam mengoleksi manuskrip dan buku langka. Ia disebut memiliki program untuk mengumpulkan manuskrip warisan Indonesia, khususnya yang berasal dari Jawa Timur. (Universitas Airlangga)
Koleksinya tidak terbatas pada satu tradisi agama. Dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa ia mengoleksi kitab dan manuskrip berbagai agama dalam berbagai bahasa. (Universitas Airlangga)
Dalam wawancara dengan Rhoma Irama, pendekatan tersebut tampak ketika Menachem Ali membandingkan kata, istilah, struktur bahasa, serta pesan dalam teks yang berasal dari tradisi berbeda.
Dengan demikian, filologi dalam dialog tersebut diposisikan sebagai salah satu perangkat untuk membaca sejarah teks dan memahami hubungan antara bahasa dan tradisi.
Menachem Ali Mengaku Pilihannya Berhenti pada Islam
Salah satu pertanyaan yang secara langsung diajukan Rhoma Irama adalah apakah Menachem Ali sudah benar-benar menjadi seorang Muslim atau masih dalam tahap pencarian.
Menachem Ali memberikan jawaban bahwa dirinya masih merasa melakukan pencarian, tetapi pencarian tersebut telah berhenti pada Islam karena ia tidak menemukan alternatif lain yang menurutnya dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menjelaskan bahwa pilihannya tersebut merupakan hasil proses pencarian yang panjang.
Dalam wawancara itu, ia juga mengatakan bahwa Islam tidak dipahaminya hanya sebagai nama atau identitas, tetapi sebagai substansi yang menurutnya berkaitan dengan ajaran-ajaran sebelumnya.
Ia menggambarkan proses membaca Al-Quran, Taurat, Injil, dan Zabur sebagai bagian dari perjalanan literasi keagamaannya.
Keterangan mengenai perjalanan masuk Islam Menachem Ali juga pernah diberitakan media pada September 2024. SINDOnews melaporkan bahwa ia memutuskan menjadi mualaf pada 2005 setelah melalui perjalanan pencarian yang panjang. (SINDOnews Kalam)
Al-Quran dan Validasi terhadap Teks Sebelumnya
Menachem Ali kemudian memberikan contoh mengenai ayat Al-Quran yang menurutnya menyebut sesuatu yang telah tertulis dalam kitab sebelumnya.
Ia mengacu pada ayat yang menyebut bahwa bumi akan diwarisi oleh orang-orang saleh. Menurut penjelasannya, kata-kata yang digunakan dalam ayat tersebut menunjukkan adanya rujukan kepada sesuatu yang telah tertulis sebelumnya.
Ia kemudian mencari padanan pesan tersebut dalam kitab Mazmur atau Zabur.
Dalam wawancara, Menachem Ali menyebut adanya teks berbahasa Ibrani yang menurut pembacaannya memiliki pesan mengenai orang-orang benar yang akan mewarisi bumi.
Ia kemudian memperluas perbandingan tersebut dengan Bhagavad Gita dalam tradisi Hindu. Dalam penjelasannya, ia menyebut pesan mengenai kebenaran yang tertindas dan datangnya pertolongan ketika ketidakbenaran merajalela.
Pembahasan itu kemudian dikaitkan dengan pandangan bahwa orang-orang saleh pada akhirnya akan memperoleh kemenangan.
Perjalanan Mualaf yang Tidak Berhenti pada Identitas
Menachem Ali juga menjelaskan bahwa menjadi Muslim tidak serta-merta membuat proses pencariannya berhenti.
Ia menyebut masih adanya pertanyaan mengenai bagaimana memahami keragaman yang terdapat di dalam umat Islam sendiri.
Dalam dialog itu, ia menyinggung hadis tentang perpecahan umat menjadi sejumlah kelompok. Dari pembahasan tersebut, ia menyampaikan bahwa pencariannya kemudian berlanjut pada pertanyaan mengenai kelompok mana yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan dasar ajaran Islam.
Rhoma Irama kemudian menjelaskan lima Rukun Islam dan enam Rukun Iman sebagai dasar yang menurutnya menjadi ciri utama umat Islam.
Pembahasan tersebut membawa dialog kepada persoalan mazhab, organisasi Islam, dan perbedaan dalam persoalan cabang atau furu’.
Rukun Islam dan Rukun Iman sebagai Dasar
Dalam dialog tersebut, Menachem Ali menyebut lima Rukun Islam, yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji.
Ia juga menyebut enam Rukun Iman, yakni iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi, hari akhir, serta takdir baik dan buruk.
Ia kemudian membedakan antara prinsip pokok atau ushul dengan persoalan cabang atau furu’.
Menurut penjelasan yang disampaikan dalam dialog, perbedaan seperti qunut, tahlil, Yasin, atau Maulid ditempatkan sebagai persoalan cabang, bukan prinsip utama keimanan.
Ia juga menyebut empat mazhab fikih Sunni, yaitu Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali, serta organisasi keislaman seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari keragaman umat Islam.
Perbedaan Mazhab Tidak Dipandang sebagai Perbedaan Pokok
Menachem Ali mengatakan bahwa perbedaan dalam persoalan furu’ tidak seharusnya disamakan dengan perbedaan dalam prinsip dasar agama.
Ia mencontohkan perbedaan cara membaca atau melafalkan ayat Al-Quran sebagai bagian dari keragaman yang dapat ditemukan dalam tradisi Islam.
Dalam dialog tersebut, ia menyebut contoh pelafalan nama Ibrahim yang dapat terdengar berbeda dalam dialek tertentu, tetapi tetap merujuk kepada tokoh yang sama.
Karena itu, menurut penjelasan dalam wawancara, persoalan utama yang perlu diperhatikan adalah prinsip dasar ajaran, sementara perbedaan cabang dapat menjadi bagian dari keragaman.
Menachem Ali Membahas Perdebatan tentang Musik
Topik lain yang muncul dalam dialog adalah hukum musik.
Rhoma Irama, yang dikenal sebagai musisi dan pendakwah, mengangkat perdebatan mengenai apakah musik secara keseluruhan haram atau tidak.
Menachem Ali menjelaskan bahwa persoalan musik berada pada wilayah yang memiliki perbedaan pendapat. Ia menyebut bahwa tidak ada keseragaman pandangan mengenai status hukum musik.
Menurut penjelasannya, musik dapat dilihat dari penggunaannya dan tujuan yang menyertainya.
Ia memberikan analogi dengan benda yang dapat digunakan untuk tujuan berbeda. Menurutnya, sesuatu yang secara asal diperbolehkan dapat menjadi terlarang apabila digunakan untuk tujuan yang dilarang.
Dalam konteks musik, ia mengatakan bahwa persoalan niat, isi, serta penggunaannya perlu diperhatikan.
Seni dan Dakwah
Pembahasan mengenai musik kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai seni.
Menachem Ali menyampaikan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk merasakan keindahan atau sense of art. Menurutnya, seni dapat menjadi bagian dari cara pesan disampaikan kepada masyarakat.
Ia menggunakan contoh penyampaian nasihat tentang menghormati ibu. Pesan yang sama, menurut gambaran dalam dialog, dapat terasa berbeda ketika disampaikan dengan bentuk artistik seperti lagu dibandingkan hanya diucapkan secara biasa.
Rhoma Irama kemudian menyatakan persetujuannya terhadap penjelasan tersebut.
Dalam percakapan itu, keduanya membahas hubungan antara agama, seni, komunikasi, dan cara sebuah pesan diterima oleh masyarakat.
Agama sebagai Way of Life
Menjelang akhir wawancara, Menachem Ali menyampaikan pesan mengenai cara memahami agama.
Ia mengatakan bahwa agama tidak semestinya hanya diposisikan sebagai aksesori atau identitas, tetapi sebagai way of life atau jalan hidup.
Ia juga menekankan pentingnya beragama secara bijak dan menjadikan Al-Quran sebagai panduan.
Ia menyampaikan agar perbedaan tetap diterima ketika memang terdapat perbedaan.
Dalam pernyataan penutupnya, ia merumuskan prinsip bahwa hal yang sama tidak perlu dibuat berbeda, sedangkan hal yang memang berbeda tidak perlu dipaksakan menjadi sama.
Pernyataan tersebut menjadi bagian akhir dari pembahasan panjang mengenai agama, filologi, teks suci, perbedaan denominasi, mazhab, seni, dan pencarian kebenaran.
Jejak Akademik Menachem Ali dalam Kajian Manuskrip
Perhatian Menachem Ali terhadap manuskrip bukan hanya muncul dalam wawancara tersebut.
Universitas Airlangga mencatat bahwa ia mulai berburu manuskrip dan buku langka sejak 2009 ketika mengajar di Fakultas Ilmu Budaya. Ia secara khusus memberikan perhatian pada manuskrip pesantren dan warisan literasi Indonesia. (Universitas Airlangga)
Dalam koleksinya terdapat berbagai kitab suci dan teks keagamaan dari berbagai tradisi.
Pendekatan lintas bahasa tersebut relevan dengan cara Menachem Ali menjelaskan pencarian intelektualnya dalam wawancara dengan Rhoma Irama. Dalam dialog tersebut, ia menggunakan bahasa sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami hubungan teks dan sejarah agama.
Universitas Airlangga juga pernah memberitakan keinginannya untuk mendorong keberadaan pusat penelitian manuskrip di Jawa Timur. Ia menilai wilayah tersebut memiliki kekayaan warisan naskah yang besar. (Universitas Airlangga)
Filologi, Manuskrip, dan Perbandingan Agama
Filologi dalam konteks pembicaraan Menachem Ali menjadi bagian dari metode untuk membaca teks secara lebih mendalam.
Kajian terhadap manuskrip memungkinkan peneliti melihat teks berdasarkan bahasa, bentuk tulisan, sejarah penyebaran, dan konteks penggunaannya.
Dalam wawancara, Menachem Ali tidak hanya membaca teks dalam bahasa Indonesia. Ia menyebut penggunaan bahasa Arab, Ibrani, Suryani, Sanskerta, dan bahasa lainnya sebagai bagian dari kajiannya.
Pendekatan tersebut membuat pembicaraan mengenai agama tidak hanya berada pada wilayah doktrin, tetapi juga menyentuh bahasa dan sejarah teks.
Ia berkali-kali menekankan pentingnya membandingkan teks asli dengan terjemahan serta memperhatikan interpretasi dari komunitas yang menggunakan teks tersebut.
Pentingnya Membedakan Teks dan Interpretasi
Salah satu pesan metodologis yang muncul dari wawancara tersebut adalah pembedaan antara teks dan interpretasi.
Menachem Ali menyebut bahwa satu teks dapat dipahami secara berbeda oleh kelompok yang berbeda.
Contoh yang dibahas adalah pemahaman terhadap larangan makanan dalam tradisi Kristen. Ia menyebut adanya kelompok yang mempertahankan larangan tertentu dan kelompok lain yang memahami teks secara berbeda.
Karena itu, menurut pendekatan yang dijelaskan dalam wawancara, membaca sebuah teks keagamaan tidak cukup hanya dengan melihat satu terjemahan.
Teks asli, sejarah penerjemahan, serta tradisi interpretasi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Perjalanan Intelektual dan Pilihan Beragama
Perjalanan yang diceritakan Menachem Ali dalam wawancara menunjukkan bahwa keputusan beragama yang ia ceritakan berkaitan dengan proses pencarian yang panjang.
Ia menjelaskan bahwa dirinya pernah mempelajari beberapa tradisi agama dan membandingkan unsur ketuhanan, ibadah, serta hubungan sosial dalam agama-agama tersebut.
Rhoma Irama dalam dialog tersebut menyebut proses itu sebagai pencarian yang tidak sederhana.
Menachem Ali sendiri mengatakan bahwa ia pernah mempelajari tiga unsur dari sejumlah agama, yaitu konsep ketuhanan, tata cara ibadah, serta muamalah atau hubungan sosial.
Ia menyampaikan bahwa setelah proses tersebut, dirinya meyakini Islam sebagai pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan penelitian yang dilakukannya.
Data Akademik tentang Aktivitas Menachem Ali
Sumber Universitas Airlangga memperlihatkan bahwa Menachem Ali memang memiliki aktivitas akademik yang berkaitan dengan filologi dan manuskrip.
Pada 2016, UNAIR menyebutnya sebagai dosen filologi Program Studi Sastra Indonesia FIB UNAIR dan mencatat aktivitasnya mengoleksi manuskrip serta buku langka. (Universitas Airlangga)
Ia juga disebut memiliki koleksi manuskrip dari beragam bahasa dan tradisi keagamaan.
Data tersebut memberikan konteks terhadap pernyataan dalam wawancara mengenai kebiasaan membaca berbagai teks agama.
Sementara itu, laporan media pada 2024 menyebut perjalanan masuk Islam Menachem Ali terjadi pada 2005 setelah melalui proses pencarian panjang. (SINDOnews Kalam)
Dialog Rhoma Irama dan Menachem Ali Membahas Banyak Aspek
Wawancara di kanal Rhoma Irama Official tersebut berlangsung sekitar satu jam lebih dan mencakup sejumlah tema.
Pembahasan dimulai dari perjalanan pencarian kebenaran, konsep Tuhan Yang Esa, hubungan agama-agama, bahasa Ibrani dan Arab, teks keagamaan, larangan babi, posisi Al-Quran, perbedaan denominasi, mazhab, Rukun Islam, Rukun Iman, hingga persoalan musik dan seni.
Rhoma Irama berperan sebagai pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan terhadap penjelasan Menachem Ali.
Sementara itu, Menachem Ali memberikan penjelasan berdasarkan pengalaman akademik dan pembacaan yang ia ceritakan dalam dialog tersebut.
Kesimpulan
Wawancara Prof. Menachem Ali bersama Rhoma Irama pada 13 September 2024 membahas perjalanan pencarian agama melalui pendekatan intelektual, filologi, bahasa, dan kajian manuskrip.
Dalam dialog tersebut, Menachem Ali menjelaskan bahwa proses pencarian yang ia lakukan tidak berhenti pada tradisi yang diwariskan, melainkan melibatkan pembacaan terhadap berbagai teks keagamaan.
Ia membandingkan sejumlah istilah dalam bahasa Arab, Ibrani, Suryani, Sanskerta, dan bahasa lainnya. Ia juga membahas konsep ketuhanan, sejarah teks, larangan makanan, perbedaan interpretasi, serta hubungan antara tradisi agama.
Menachem Ali menyampaikan bahwa pilihan terhadap Islam merupakan hasil dari pencarian panjang yang menurutnya berhenti pada Islam karena ia tidak menemukan alternatif lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, sumber Universitas Airlangga mengonfirmasi latar akademiknya sebagai dosen filologi dan ketertarikannya terhadap manuskrip serta buku-buku langka dari berbagai bahasa dan tradisi. (Universitas Airlangga)
Pada bagian akhir wawancara, Menachem Ali menekankan pemahamannya bahwa agama merupakan jalan hidup dan bahwa perbedaan perlu ditempatkan secara proporsional.
Ia juga menyampaikan prinsip agar sesuatu yang memang sama tidak dibuat berbeda, sementara sesuatu yang memang berbeda tidak dipaksakan menjadi sama.
FAQ
Siapa Prof. Menachem Ali?
Prof. Menachem Ali adalah akademisi yang memiliki perhatian pada bidang filologi, bahasa, manuskrip, dan kajian keagamaan. Universitas Airlangga pernah memberitakan aktivitasnya sebagai dosen filologi dan kolektor manuskrip serta buku langka. (Universitas Airlangga)
Apa yang dibahas Menachem Ali bersama Rhoma Irama?
Dialog tersebut membahas perjalanan pencarian agama, konsep ketuhanan, hubungan Islam dengan tradisi agama sebelumnya, bahasa Arab dan Ibrani, manuskrip, teks agama, interpretasi, Rukun Islam, Rukun Iman, mazhab, serta musik dan seni.
Bagaimana Menachem Ali menjelaskan proses menemukan Islam?
Dalam wawancara tersebut, Menachem Ali menjelaskan bahwa ia melakukan pencarian melalui penelitian dan pembacaan berbagai tradisi agama. Ia mengatakan bahwa pencariannya akhirnya berhenti pada Islam karena menurutnya pilihan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Apa hubungan filologi dengan kajian agama yang dijelaskan Menachem Ali?
Filologi berkaitan dengan penelitian terhadap teks dan manuskrip. Dalam wawancara tersebut, Menachem Ali menggunakan pendekatan bahasa dan teks untuk membandingkan istilah serta pesan dalam berbagai tradisi keagamaan.
Apakah Menachem Ali membahas manuskrip dalam wawancara?
Ya. Pembahasan mengenai manuskrip dan teks menjadi bagian penting dari penjelasannya, terutama ketika ia menjelaskan bagaimana membaca dan membandingkan teks dari berbagai tradisi agama.
Apakah Menachem Ali membahas bahasa Ibrani dan Arab?
Ya. Ia menjelaskan hubungan kebahasaan antara bahasa Ibrani dan Arab serta menggunakan sejumlah istilah dari kedua bahasa tersebut untuk menjelaskan perbandingan teks agama.
Apa yang dikatakan Menachem Ali tentang perbedaan mazhab?
Dalam dialog tersebut, ia membedakan antara persoalan pokok atau ushul dan persoalan cabang atau furu’. Ia menyebut sejumlah perbedaan dalam praktik keagamaan sebagai bagian dari persoalan cabang.
Apa pandangan Menachem Ali mengenai musik?
Ia menjelaskan bahwa musik merupakan persoalan yang memiliki perbedaan pendapat. Menurut penjelasannya, penggunaan, isi, dan niat dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam menentukan hukum suatu aktivitas.
Apa pesan terakhir Menachem Ali dalam wawancara?
Ia menyampaikan agar agama dipahami sebagai way of life, dijalankan secara bijak, dan menjadikan Al-Quran sebagai panduan. Ia juga menekankan penerimaan terhadap perbedaan serta pentingnya membedakan sesuatu yang memang sama dan sesuatu yang memang berbeda.
Kapan Menachem Ali menjadi mualaf?
Sumber media yang terbit pada September 2024 menyebut Menachem Ali memutuskan masuk Islam pada 2005 setelah melalui perjalanan pencarian yang panjang. (SINDOnews Kalam)
Mengapa manuskrip penting dalam kajian Menachem Ali?
Manuskrip menyediakan sumber primer atau sumber historis yang dapat dikaji berdasarkan bahasa, bentuk tulisan, konteks, dan sejarah teks. Dalam aktivitas akademiknya, Menachem Ali memang diketahui memiliki perhatian khusus terhadap manuskrip pesantren dan buku-buku langka. (Universitas Airlangga)
Apa yang membedakan pendekatan Menachem Ali dalam dialog tersebut?
Dalam dialog bersama Rhoma Irama, Menachem Ali banyak menggunakan pendekatan kebahasaan dan perbandingan teks. Ia tidak hanya membahas isi ajaran, tetapi juga istilah, bahasa asli, terjemahan, serta perbedaan interpretasi di antara komunitas keagamaan.
Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan wawancara Prof. Menachem Ali bersama Rhoma Irama yang menjadi sumber utama.







