invisible hit counter
Nasional

Kronologi Habib Saleh Alhadad Diusir dari Panti Asuhan di Kalimantan Timur, Mertua Habib Ungkap Alasan

WARTA BATAVIA – Kronologi Habib Saleh Alhadad diusir dari sebuah panti asuhan di Kalimantan Timur diungkap Ustaz Arifin. Ia menceritakan permintaan mobil dan uang Rp15 juta hingga proses pengantaran ke bandara.

Sebuah video yang diunggah kanal TV Alwaha pada 2 Januari 2026 mengangkat kesaksian mengenai kronologi pengusiran seorang pria yang disebut sebagai Habib Saleh Alhadad dari sebuah panti asuhan di Kalimantan Timur.

Dalam video tersebut, narator TV Alwaha mewawancarai seorang warga yang disebut bernama Ustaz Arifin. Ia menceritakan rangkaian kejadian yang menurut keterangannya berlangsung sekitar 20 hari sebelum wawancara dilakukan.

Kisah tersebut bermula ketika Habib Saleh Alhadad disebut datang ke panti asuhan setelah memperoleh rekomendasi dari seorang kenalan. Menurut kesaksian yang disampaikan dalam video, pihak panti pada awalnya tidak mengenal Habib Saleh secara langsung.

Dalam perkembangannya, menurut Ustaz Arifin, muncul persoalan setelah Habib Saleh berada di panti selama beberapa hari. Ia disebut meminta sejumlah kebutuhan, termasuk makanan, rokok, kendaraan, hingga uang.

Kesaksian itu juga menyebut adanya permintaan kendaraan dan kemudian permintaan uang sebesar Rp15 juta. Pihak warga akhirnya mendatangi panti dan meminta Habib Saleh meninggalkan lokasi.

Transkrip video menyebut bahwa proses pengusiran berlangsung sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Habib Saleh kemudian mengambil barang-barangnya dan diantar menggunakan kendaraan menuju bandara.

Namun, video tersebut tidak memuat verifikasi independen terhadap seluruh tuduhan yang disampaikan. Karena itu, kronologi berikut merupakan rangkuman berdasarkan keterangan narasumber dalam video TV Alwaha.

Awal Mula Habib Saleh Alhadad Datang ke Panti Asuhan

Menurut Ustaz Arifin, dirinya memperoleh informasi mengenai keberadaan Habib Saleh Alhadad setelah mendapat cerita dari salah seorang tetangga.

Saat itu, Ustaz Arifin disebut sedang berada di lingkungan tempat tinggalnya dan berbincang dengan warga lain. Ia kemudian mendapatkan informasi bahwa terdapat seorang Habib di panti asuhan yang disebut sudah berada di sana selama beberapa hari dan belum meninggalkan lokasi.

Dalam percakapan tersebut, muncul informasi mengenai permintaan kendaraan dan uang.

Ustaz Arifin kemudian menyebut bahwa dirinya dan beberapa warga belum mengetahui persoalan secara lengkap. Karena itu, mereka memutuskan untuk terlebih dahulu menemui pihak panti asuhan.

Pertemuan kemudian berlangsung pada malam hari di sebuah warung. Dalam pertemuan itu, pihak panti turut hadir dan menceritakan kronologi dari sisi mereka.

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, pemilik panti asuhan saat itu sedang mengalami kondisi kesehatan yang kurang baik akibat stroke. Meski demikian, ia masih menjalani terapi dan dapat berjalan.

Dari pertemuan tersebut, warga mulai memperoleh informasi lebih lengkap mengenai bagaimana Habib Saleh bisa berada di panti asuhan.

Habib Disebut Datang Berdasarkan Rekomendasi Kenalan

Dalam wawancara, Ustaz Arifin mengatakan bahwa pihak panti pada awalnya tidak mengenal Habib Saleh Alhadad.

Menurut keterangannya, Habib Saleh menghubungi pemilik panti melalui telepon dan meminta dijemput dari bandara.

Permintaan tersebut kemudian diterima karena Habib Saleh disebut datang berdasarkan rekomendasi dari seseorang yang mengenal pihak panti.

Pihak panti, menurut kesaksian tersebut, pada awalnya mengira kedatangan Habib hanya berkaitan dengan silaturahmi atau kemungkinan membantu kegiatan panti asuhan.

Karena itu, pihak panti disebut bersedia menjemput Habib Saleh dari bandara.

Setelah tiba di panti, Habib Saleh kemudian tinggal di lokasi tersebut bersama seorang pendamping yang disebut dalam wawancara sebagai abdi atau pengikutnya.

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, persoalan baru mulai diketahui setelah beberapa hari.

Tinggal Selama Lima Hari di Panti Asuhan

Dalam wawancara tersebut disebutkan bahwa Habib Saleh berada di panti sekitar lima hari sebelum persoalan mencuat.

Ustaz Arifin menyebut bahwa pihak panti kemudian menceritakan adanya sejumlah permintaan selama Habib berada di sana.

Permintaan tersebut antara lain berkaitan dengan makanan dan rokok.

Menurut kesaksian yang disampaikan, Habib Saleh disebut meminta makanan yang dianggap lebih enak serta rokok dengan jenis atau harga tertentu.

Situasi kemudian berkembang ketika muncul pembicaraan mengenai kendaraan.

Pihak panti disebut terkejut karena mereka merupakan pengelola panti asuhan yang memiliki keterbatasan kemampuan finansial. Bahkan, dalam wawancara disebutkan bahwa kendaraan yang digunakan pihak panti sendiri masih dalam status kredit.

Ustaz Arifin menceritakan bahwa pihak panti kemudian menyampaikan ketidakmampuan mereka memenuhi permintaan kendaraan.

Ustadz Bahril Ulum: Permintaan Mobil Disebut Menjadi Persoalan
Ustadz Bahril Ulium- Kanal TV Alwha

Permintaan Mobil Disebut Menjadi Persoalan

Salah satu bagian penting dalam kesaksian tersebut adalah mengenai permintaan mobil.

Dalam video, Ustaz Arifin menyebut pihak panti menerima permintaan kendaraan dari Habib Saleh. Dalam narasi awal video, kendaraan yang disebut adalah mobil Pajero, sementara dalam kesaksian juga muncul penyebutan Fortuner dan kendaraan lainnya.

Karena terdapat ketidakjelasan akibat transkrip otomatis, jenis kendaraan tersebut sebaiknya tidak dipastikan sebagai satu merek tertentu tanpa melihat rekaman asli secara langsung.

Menurut Ustaz Arifin, pihak panti menyampaikan bahwa mereka tidak mampu memberikan kendaraan karena kondisi ekonomi mereka.

Ia juga menyebut kendaraan milik pihak panti sendiri masih dalam proses kredit.

Permintaan tersebut kemudian disebut tidak berhenti pada kendaraan.

Setelah pihak panti tidak mampu memenuhi permintaan mobil, muncul pembicaraan mengenai uang.

Muncul Permintaan Uang Rp15 Juta

Menurut keterangan Ustaz Arifin, setelah permintaan kendaraan tidak terpenuhi, muncul permintaan uang.

Dalam transkrip wawancara disebutkan angka Rp15 juta.

Ustaz Arifin mengatakan bahwa pihak panti kemudian kebingungan karena jumlah uang tersebut dianggap besar bagi kemampuan mereka.

Menurut kesaksiannya, Habib Saleh disebut belum bersedia meninggalkan panti apabila permintaan uang tersebut belum dipenuhi.

Dalam salah satu bagian wawancara, narasumber menyebut adanya pernyataan bahwa Habib tidak mau pergi apabila tidak mendapatkan uang.

Pihak panti, menurut keterangan tersebut, akhirnya berada dalam situasi sulit.

Mereka disebut tidak mampu memberikan kendaraan maupun uang sebesar yang diminta.

Persoalan kemudian diketahui oleh sejumlah warga sekitar.

Warga Mulai Membahas Persoalan di Lingkungan Setempat

Setelah memperoleh informasi dari pihak panti, Ustaz Arifin bersama beberapa warga membicarakan masalah tersebut.

Menurutnya, warga ingin mengetahui persoalan secara langsung sebelum mengambil tindakan.

Mereka kemudian mengumpulkan informasi dari pihak panti dan mempertimbangkan langkah yang akan dilakukan.

Dalam wawancara disebutkan bahwa ketua RT yang baru terpilih juga ikut mengetahui persoalan tersebut.

Warga kemudian bersepakat untuk mendatangi panti asuhan.

Sebelum datang, mereka disebut menghubungi seorang kiai dari lingkungan PWNU Balikpapan.

Nama dan identitas lengkap kiai tersebut tidak disebutkan dalam video karena narasumber meminta agar informasi tertentu mengenai wilayah dan nama tidak dibuka.

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, kiai tersebut menyarankan agar Habib Saleh meninggalkan panti.

Warga Mendatangi Panti pada Malam Hari

Setelah pembicaraan dengan pihak yang disebut sebagai kiai dari PWNU Balikpapan, sejumlah warga mendatangi panti asuhan.

Menurut Ustaz Arifin, kedatangan berlangsung sekitar pukul 23.00.

Dalam rombongan tersebut terdapat pihak panti dan sejumlah warga. Narasumber menyebut sekitar lima orang warga datang ke lokasi.

Mereka kemudian berbicara langsung dengan Habib Saleh.

Menurut kesaksian tersebut, warga tidak langsung melakukan tindakan kekerasan. Mereka memilih menyampaikan persoalan secara lisan.

Salah satu hal yang disampaikan kepada Habib Saleh adalah bahwa keberadaannya di lokasi tidak pernah dilaporkan kepada RT maupun warga setempat.

Warga juga mempermasalahkan lamanya Habib berada di panti.

Menurut keterangan dalam video, saat itu Habib Saleh sudah berada di panti selama sekitar lima malam hingga memasuki hari keenam.

Habib Saleh Diminta Meninggalkan Panti

Dalam pertemuan tersebut, warga akhirnya menyampaikan bahwa Habib Saleh harus meninggalkan lokasi pada malam itu.

Menurut Ustaz Arifin, salah seorang warga menyampaikan permintaan secara langsung agar Habib Saleh keluar dari panti.

Dalam transkrip disebutkan bahwa Habib Saleh tidak melakukan perlawanan.

Ia kemudian naik ke tempat penginapannya untuk mengambil barang-barangnya.

Setelah barang dikumpulkan, warga memanggil kendaraan untuk mengantarkan Habib Saleh keluar dari lokasi.

Kendaraan yang digunakan disebut sebagai Maksim, yaitu layanan transportasi daring dengan kendaraan mobil.

Menurut penjelasan dalam wawancara, biaya perjalanan menuju bandara sekitar Rp50 ribu.

Habib Diantar Menuju Bandara

Setelah meninggalkan panti, Habib Saleh disebut diantar ke bandara.

Ustaz Arifin menjelaskan bahwa warga tidak membeli tiket pesawat untuk Habib Saleh.

Mereka hanya mengantarkannya sampai kawasan bandara dan kemudian menyerahkan urusan selanjutnya kepada yang bersangkutan.

Jarak antara lokasi panti dan bandara dalam wawancara disebut sekitar 20 kilometer atau perjalanan sekitar 25 menit, meskipun pada bagian lain percakapan muncul angka berbeda mengenai jarak.

Karena terdapat perbedaan angka dalam transkrip, jarak perjalanan tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan teks hasil transkripsi.

Setelah tiba di kawasan bandara, rombongan kemudian meninggalkan Habib Saleh.

Warga Memilih Tidak Membawa Persoalan ke Polisi

Dalam wawancara, Ustaz Arifin juga ditanya mengapa Habib Saleh tidak dibawa ke kantor polisi.

Ia menjawab bahwa warga masih menghargai yang bersangkutan karena tidak melakukan perlawanan ketika diminta meninggalkan panti.

Menurut kesaksiannya, warga mempertimbangkan situasi tersebut dan memilih menyelesaikan persoalan dengan meminta Habib meninggalkan lokasi.

Ia juga menyebut bahwa sebelum Habib pergi, warga meminta identitas dari dua orang yang berada di lokasi.

Kedua identitas tersebut disebut diberikan kepada warga.

Salah satu orang disebut sebagai pendamping atau abdi Habib Saleh, bukan orang yang juga mengaku sebagai Habib.

Pihak Panti Disebut Memberikan Uang Sebelum Berpisah

Meskipun menurut kesaksian pihak panti tidak memenuhi permintaan Rp15 juta, Ustaz Arifin mengatakan bahwa pihak panti tetap memberikan sejumlah uang ketika Habib Saleh meninggalkan lokasi.

Dalam transkrip disebutkan jumlahnya sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

Uang tersebut diberikan sebagai bentuk bantuan sebelum yang bersangkutan meninggalkan panti.

Keterangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah uang yang disebut diminta dengan jumlah yang akhirnya diberikan.

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, pihak panti tidak memberikan uang sebesar Rp15 juta.

Ustaz Arifin Mengaku Memiliki Menantu Bermarga Al-Habsyi

Bagian lain yang menjadi sorotan dalam video adalah pengakuan Ustaz Arifin mengenai hubungan keluarganya dengan seseorang yang disebut Habib.

Dalam wawancara, Ustaz Arifin menyatakan bahwa dirinya memiliki menantu yang bermarga Al-Habsyi.

Ia juga menyebut dirinya memiliki besan dari keluarga tersebut.

Namun, ia mengatakan bahwa hubungan keluarga tersebut tidak membuatnya mengubah pandangannya mengenai persoalan nasab.

Menurut Ustaz Arifin, penghormatan kepada seseorang semestinya diberikan berdasarkan ilmu dan perilakunya, bukan semata-mata berdasarkan klaim keturunan.

Ia menyatakan bahwa dirinya tetap berhubungan baik dengan keluarga besannya.

Ustaz Arifin Mengaku Tidak Taklid Buta

Dalam wawancara, Ustaz Arifin berkali-kali menekankan bahwa dirinya tidak ingin melakukan taklid buta kepada seseorang hanya karena status sosial, gelar, atau nasab.

Ia menyebut bahwa seseorang tetap harus menggunakan akal dan mempertimbangkan apakah suatu pernyataan benar atau salah.

Menurutnya, memiliki hubungan keluarga dengan seorang Habib tidak otomatis membuat dirinya harus menerima seluruh pandangan yang berkaitan dengan nasab.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan yang menurutnya sedang dibicarakan bukan kebencian terhadap individu.

Ustaz Arifin membedakan antara hubungan sosial dengan persoalan asal-usul nasab.

Pernyataan Mengenai Tesis KH Imaduddin Utsman

Dalam wawancara, Ustaz Arifin menyatakan bahwa pandangannya mengenai klaim nasab Habib berubah setelah mengetahui tesis KH Imaduddin Utsman Al-Bantani.

Ia mengatakan bahwa sebelum mengetahui tesis tersebut pun dirinya telah memiliki sejumlah pertanyaan mengenai klaim keturunan Nabi.

Namun, menurut pengakuannya, pembahasan mengenai tesis tersebut semakin menguatkan keraguannya.

Pernyataan mengenai tesis tersebut merupakan bagian dari pandangan pribadi narasumber dalam wawancara.

Transkrip video tidak memberikan penjelasan lengkap mengenai isi tesis, metodologi penelitian, maupun respons dari pihak-pihak yang berbeda pandangan mengenai persoalan tersebut.

Karena itu, pembaca perlu membedakan antara pernyataan Ustaz Arifin dalam video dengan kesimpulan akademik yang telah diverifikasi secara independen.

Ustaz Arifin Menegaskan Tidak Membenci Habib

Dalam percakapan tersebut, Ustaz Arifin juga menolak anggapan bahwa sikap kritis terhadap klaim nasab berarti membenci orang yang menyandang gelar Habib.

Ia mengatakan bahwa dirinya tetap memiliki teman yang disebut Habib.

Menurutnya, hubungan pertemanan dan silaturahmi tetap dapat dilakukan tanpa harus menyetujui semua klaim mengenai nasab.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak bermasalah dengan seseorang sebagai individu apabila orang tersebut memiliki perilaku baik.

Persoalan yang ia soroti, menurut keterangannya, adalah klaim asal-usul atau nasab.

Dengan demikian, Ustaz Arifin membedakan antara sikap terhadap individu dengan sikap terhadap sebuah klaim genealogis.

Hubungan Keluarga Tidak Mengubah Sikap Ustaz Arifin

Ketika ditanya mengenai alasan dirinya menerima seorang Habib sebagai menantu, Ustaz Arifin mengatakan bahwa pada awalnya dirinya tidak mengetahui secara jelas mengenai status tersebut.

Dalam cerita yang disampaikan, ia mengetahui bahwa anak perempuannya memiliki hubungan dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi suaminya.

Ia menyebut bahwa dirinya baru mengetahui keberadaan status Habib tersebut ketika acara akad berlangsung.

Pada saat itu, menurut pengakuannya, tesis yang disebutnya belum menjadi rujukan dalam pandangannya.

Meski demikian, setelah mengetahui dan mempelajari informasi yang menurutnya berkaitan dengan nasab, ia menyatakan tidak mengubah hubungan keluarganya.

Ia tetap menganggap yang bersangkutan sebagai menantu.

Ustaz Arifin: Persoalan Nasab Berbeda dengan Persoalan Pertemanan

Salah satu pernyataan utama dalam wawancara adalah bahwa seseorang tidak perlu membenci individu hanya karena mempertanyakan klaim nasabnya.

Ustaz Arifin menyatakan bahwa ia tetap dapat berteman dan bersilaturahmi.

Namun, untuk persoalan nasab, ia mengaku tidak dapat menerima sesuatu yang menurutnya tidak memiliki dasar yang cukup.

Ia juga mengatakan bahwa apabila seseorang melakukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak harus dibenarkan hanya karena pelakunya memiliki gelar atau status tertentu.

Pernyataan tersebut menjadi dasar bagi sikapnya dalam menghadapi persoalan di panti asuhan.

Menurutnya, pengusiran Habib Saleh tidak berkaitan dengan status nasab, tetapi dengan perilaku yang menurut kesaksiannya telah menimbulkan persoalan bagi pihak panti.

Pengusiran Disebut Berkaitan dengan Perilaku di Panti

Ketika ditanya apakah pengusiran tersebut dilakukan karena warga tidak mengakui status keturunan Nabi, Ustaz Arifin menjawab bahwa persoalannya bukan itu.

Ia menyatakan bahwa tindakan tersebut berkaitan dengan apa yang menurut pihak warga terjadi selama Habib Saleh tinggal di panti.

Dalam kesaksian tersebut, persoalan utamanya adalah permintaan kendaraan dan uang serta keengganan meninggalkan panti sebelum permintaan uang tersebut dipenuhi.

Karena itu, menurut keterangan narasumber, status Habib bukan dasar utama tindakan warga.

Ustaz Arifin juga mengatakan bahwa dirinya tidak mengusir orang tersebut karena marga atau klaim keturunannya.

Pesan kepada Kiai yang Memiliki Menantu Habib

Pada bagian akhir wawancara, Ustaz Arifin diminta memberikan pesan kepada para kiai atau pengasuh pesantren yang memiliki menantu atau besan yang disebut Habib.

Ia menyampaikan agar hubungan keluarga tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bersikap kritis.

Menurutnya, seseorang harus tetap mempertimbangkan ilmu dan perilaku.

Ia menyatakan bahwa iman dan takwa merupakan hal yang lebih penting daripada kebanggaan terhadap nasab.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi salah satu pesan utama dalam wawancara.

Ustaz Arifin Menyinggung Kisah Nabi dan Anak-anaknya

Dalam penjelasannya, Ustaz Arifin juga mengaitkan pandangannya dengan kisah Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

Ia menekankan bahwa menurut pemahamannya, ukuran kemuliaan tidak semata-mata berasal dari hubungan keturunan.

Ia kemudian menggunakan kisah tentang Iblis yang menolak perintah Allah karena merasa lebih tinggi berdasarkan asal penciptaannya.

Dalam transkrip, Ustaz Arifin mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya tidak membanggakan asal-usul secara berlebihan.

Pernyataan ini merupakan penafsiran keagamaan narasumber yang disampaikan dalam wawancara.

Video TV Alwaha Menyebut Kisah Ini sebagai Pelajaran

Setelah wawancara berakhir, narator TV Alwaha kembali memberikan tanggapan terhadap kisah tersebut.

Narator menyebut pengalaman Ustaz Arifin sebagai contoh bahwa hubungan keluarga dengan seseorang yang disebut Habib tidak harus membuat seseorang kehilangan sikap kritis.

Narator juga mengaitkan kisah tersebut dengan perdebatan mengenai nasab yang sedang menjadi perhatian dalam video.

Namun, penting dicatat bahwa bagian penutup video juga memuat sejumlah klaim dan penilaian dari narator yang tidak disertai verifikasi independen dalam materi yang tersedia.

Karena itu, informasi tersebut perlu ditempatkan sebagai pendapat atau pernyataan pihak yang membuat dan menyiarkan video.

Tidak Ada Verifikasi Independen dalam Materi yang Dilampirkan

Transkrip yang menjadi dasar artikel ini merupakan rekaman percakapan dan narasi dari kanal TV Alwaha.

Materi tersebut tidak memuat wawancara dengan Habib Saleh Alhadad mengenai tuduhan yang disampaikan.

Tidak terdapat pula keterangan langsung dari pengelola panti asuhan dalam bentuk wawancara tersendiri yang dapat dibandingkan secara independen.

Demikian pula, tidak tersedia dalam transkrip ini keterangan dari pihak keluarga Habib Saleh, saksi lain, aparat kepolisian, atau lembaga resmi terkait.

Oleh sebab itu, kronologi yang disajikan dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai penetapan bahwa seluruh tuduhan tersebut telah terbukti.

Informasi mengenai permintaan mobil, permintaan uang Rp15 juta, keberadaan selama lima hari, hingga proses pengantaran ke bandara seluruhnya berasal dari kesaksian yang disampaikan Ustaz Arifin dalam video.

Kronologi Singkat Berdasarkan Kesaksian

Jika diringkas berdasarkan keterangan dalam video, rangkaian peristiwa tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Habib Saleh Alhadad disebut datang ke sebuah panti asuhan di Kalimantan Timur.
  2. Kedatangannya disebut berdasarkan rekomendasi dari seorang kenalan.
  3. Pihak panti awalnya tidak mengenal Habib Saleh secara langsung.
  4. Habib Saleh disebut tinggal di panti bersama seorang pendamping.
  5. Setelah beberapa hari, pihak panti disebut menerima sejumlah permintaan.
  6. Permintaan tersebut antara lain makanan dan rokok.
  7. Kemudian muncul permintaan kendaraan.
  8. Pihak panti disebut menyatakan tidak mampu memenuhi permintaan kendaraan.
  9. Setelah itu disebut muncul permintaan uang sebesar Rp15 juta.
  10. Habib Saleh disebut belum bersedia meninggalkan panti.
  11. Persoalan kemudian diketahui sejumlah warga.
  12. Warga menghubungi pihak yang disebut sebagai kiai dari PWNU Balikpapan.
  13. Warga kemudian mendatangi panti pada malam hari.
  14. Habib Saleh diminta meninggalkan lokasi.
  15. Menurut Ustaz Arifin, tidak terjadi perlawanan.
  16. Habib mengambil barang-barangnya.
  17. Warga memesan kendaraan Maksim.
  18. Habib Saleh kemudian diantar menuju bandara.
  19. Warga menyebut tidak membawa persoalan tersebut ke kantor polisi.
  20. Pihak panti disebut memberikan sejumlah uang sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu sebelum Habib meninggalkan lokasi.

Perdebatan Nasab Tidak Menjadi Dasar Pengusiran Menurut Narasumber

Salah satu poin penting dalam wawancara adalah penegasan bahwa persoalan nasab dan pengusiran merupakan dua hal yang berbeda.

Ustaz Arifin mengaku memiliki hubungan keluarga dengan seseorang yang disebut Habib melalui pernikahan anaknya.

Meski demikian, ia menyatakan tetap berani bersikap kritis.

Menurutnya, hubungan keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan tindakan yang dianggap salah.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak membenci orang yang menyandang sebutan Habib.

Pernyataan tersebut penting karena menjadi bagian dari penjelasan narasumber mengenai alasan dirinya bersikap tegas dalam persoalan di panti.

Pentingnya Konfirmasi dari Semua Pihak

Dalam pemberitaan mengenai sebuah tuduhan terhadap seseorang, informasi dari satu pihak perlu dibedakan dari fakta yang telah terkonfirmasi.

Transkrip TV Alwaha memberikan keterangan cukup panjang dari Ustaz Arifin, tetapi belum menyediakan jawaban dari Habib Saleh Alhadad.

Karena itu, apabila peristiwa tersebut hendak dikembangkan menjadi pemberitaan lebih lanjut, diperlukan konfirmasi kepada Habib Saleh mengenai beberapa hal.

Di antaranya adalah alasan kedatangannya ke panti, siapa yang merekomendasikan kedatangannya, tujuan tinggal di panti, apakah benar terdapat permintaan kendaraan, apakah benar terdapat permintaan uang Rp15 juta, serta bagaimana versinya mengenai proses keberangkatan dari panti.

Konfirmasi juga diperlukan dari pihak pengelola panti untuk memastikan kronologi dari sudut pandang mereka.

Selain itu, keterangan warga yang hadir saat kejadian dan pihak yang disebut sebagai pengurus RT juga dapat menjadi sumber pembanding.

Kesaksian Ustaz Arifin Menjadi Fokus Video

Video TV Alwaha pada 2 Januari 2026 menempatkan kesaksian Ustaz Arifin sebagai sumber utama mengenai peristiwa tersebut.

Dalam video, narator memperkenalkan Ustaz Arifin sebagai warga yang mengirimkan video terkait peristiwa di Kalimantan Timur.

Hal lain yang dianggap menarik oleh narator adalah hubungan keluarga Ustaz Arifin dengan seseorang yang disebut Habib.

Narator menyebut bahwa Ustaz Arifin memiliki menantu dari keluarga Al-Habsyi, tetapi tetap menyatakan sikap kritis mengenai klaim nasab.

Ustaz Arifin sendiri dalam wawancara mengatakan bahwa ia tidak menggunakan hubungan keluarga sebagai alasan untuk menerima sebuah klaim.

Ia mengaku lebih mengutamakan ilmu dan pertimbangan rasional.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Masih Memerlukan Konfirmasi

Berdasarkan materi yang tersedia, beberapa bagian kronologi masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Pertama, belum terdapat keterangan langsung dari Habib Saleh Alhadad mengenai alasan ia berada di panti.

Kedua, belum terdapat dokumen atau bukti transaksi yang memperkuat informasi mengenai permintaan Rp15 juta.

Ketiga, jenis kendaraan yang disebut dalam transkrip tidak konsisten karena muncul beberapa penyebutan berbeda.

Keempat, belum terdapat keterangan resmi mengenai apakah persoalan tersebut pernah dilaporkan kepada kepolisian.

Kelima, belum terdapat konfirmasi dari pihak pengelola panti mengenai seluruh pernyataan yang disampaikan Ustaz Arifin.

Karena itu, informasi tersebut masih berada pada tingkat kesaksian yang disampaikan dalam sebuah video.

FAQ

Siapa Habib Saleh Alhadad yang disebut dalam video TV Alwaha?

Habib Saleh Alhadad adalah sosok yang disebut dalam video TV Alwaha sebagai orang yang berada di sebuah panti asuhan di Kalimantan Timur. Dalam kesaksian Ustaz Arifin, ia disebut tinggal di panti selama sekitar lima hari sebelum muncul persoalan mengenai permintaan kendaraan dan uang.

Mengapa Habib Saleh Alhadad disebut diusir dari panti asuhan?

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, Habib Saleh diminta meninggalkan panti setelah muncul persoalan terkait sejumlah permintaan selama berada di lokasi. Dalam video disebut adanya permintaan kendaraan dan kemudian uang sebesar Rp15 juta. Namun, tuduhan tersebut belum disertai konfirmasi dari Habib Saleh dalam materi yang tersedia.

Benarkah Habib Saleh meminta uang Rp15 juta?

Angka Rp15 juta disebut beberapa kali dalam kesaksian Ustaz Arifin. Menurutnya, Habib Saleh disebut tidak mau meninggalkan panti sebelum mendapatkan uang tersebut. Namun, artikel ini menyajikannya sebagai klaim narasumber karena tidak terdapat verifikasi independen atau tanggapan Habib Saleh dalam sumber yang dilampirkan.

Apakah Habib Saleh meminta mobil?

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, Habib Saleh disebut meminta kendaraan kepada pihak panti. Dalam transkrip terdapat beberapa penyebutan jenis kendaraan yang berbeda sehingga jenis kendaraan tertentu tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan hasil transkripsi.

Berapa lama Habib Saleh berada di panti?

Menurut Ustaz Arifin, Habib Saleh berada di panti sekitar lima hari dan memasuki hari keenam ketika warga datang meminta yang bersangkutan meninggalkan lokasi.

Siapa Ustaz Arifin?

Dalam video TV Alwaha, Ustaz Arifin disebut sebagai warga yang mengetahui dan mengirimkan video mengenai peristiwa tersebut. Dalam wawancara, ia juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki hubungan keluarga dengan keluarga yang disebut Habib melalui pernikahan anaknya.

Apakah Ustaz Arifin membenci Habib?

Dalam wawancara, Ustaz Arifin secara tegas membedakan antara hubungan sosial dengan persoalan klaim nasab. Ia mengatakan tetap memiliki teman yang disebut Habib dan tetap dapat bersilaturahmi. Ia menyatakan persoalan yang dipermasalahkan adalah klaim nasab, bukan kebencian terhadap individu.

Apakah Ustaz Arifin memiliki menantu Habib?

Ya. Berdasarkan keterangannya dalam video, Ustaz Arifin menyebut memiliki menantu yang disebut Habib dan memiliki hubungan besan dengan keluarga tersebut.

Mengapa Ustaz Arifin tetap menerima menantu Habib jika ia meragukan nasab?

Menurut pengakuannya, saat anak perempuannya menikah, ia tidak mengetahui secara jelas mengenai status Habib tersebut. Ia menyatakan baru mengetahui keberadaan status tersebut ketika akad. Ia juga menegaskan bahwa hubungan keluarga tetap berjalan meskipun dirinya memiliki pandangan berbeda mengenai persoalan nasab.

Apakah pengusiran tersebut dilakukan karena persoalan nasab?

Menurut Ustaz Arifin, bukan. Ia mengatakan persoalan pengusiran berkaitan dengan perilaku dan permintaan yang menurutnya terjadi selama Habib berada di panti, bukan karena status atau marga.

Apakah Habib Saleh dibawa ke polisi?

Tidak. Menurut Ustaz Arifin, warga memilih mengantar Habib Saleh ke bandara dan tidak membawanya ke kantor polisi.

Bagaimana Habib Saleh meninggalkan panti?

Menurut kesaksian tersebut, setelah diminta pergi, Habib Saleh mengambil barang-barangnya. Warga kemudian memesan kendaraan Maksim dan mengantarkannya menuju kawasan bandara.

Apakah Habib Saleh melawan ketika diminta pergi?

Menurut Ustaz Arifin, Habib Saleh tidak melakukan perlawanan dan kemudian mengambil barang-barangnya untuk meninggalkan lokasi.

Apakah pihak panti memberikan uang kepada Habib Saleh?

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, pihak panti tidak memberikan uang Rp15 juta yang disebut dalam permintaan. Namun, pihak panti disebut memberikan uang sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu ketika Habib meninggalkan lokasi.

Apa kaitan KH Imaduddin Utsman dengan cerita ini?

Dalam wawancara, Ustaz Arifin menyebut tesis KH Imaduddin Utsman Al-Bantani sebagai salah satu hal yang memengaruhi pandangannya mengenai persoalan nasab. Namun, transkrip yang tersedia tidak menjelaskan secara lengkap isi tesis tersebut.

Apakah seluruh cerita dalam video sudah terbukti?

Belum dapat disimpulkan demikian berdasarkan materi yang tersedia. Artikel ini hanya merangkum kesaksian dan narasi dalam video TV Alwaha. Tidak terdapat konfirmasi dari Habib Saleh Alhadad maupun bukti independen yang cukup dalam sumber yang dilampirkan untuk memastikan seluruh tuduhan tersebut.


Penutup

Kisah mengenai Habib Saleh Alhadad di Kalimantan Timur yang disampaikan melalui kanal TV Alwaha pada 2 Januari 2026 memuat sejumlah persoalan, mulai dari kedatangan ke panti asuhan, tinggal selama beberapa hari, munculnya permintaan kendaraan dan uang, hingga keputusan warga meminta yang bersangkutan meninggalkan lokasi.

Menurut kesaksian Ustaz Arifin, persoalan tersebut berakhir ketika Habib Saleh mengambil barang-barangnya dan kemudian diantar menuju bandara menggunakan kendaraan layanan transportasi daring.

Hal lain yang menjadi perhatian dalam video adalah pengakuan Ustaz Arifin bahwa dirinya memiliki menantu yang disebut Habib. Meskipun demikian, ia menyatakan tidak menjadikan hubungan keluarga tersebut sebagai alasan untuk menerima semua klaim mengenai nasab.

Ustaz Arifin juga menegaskan bahwa kritik terhadap klaim nasab tidak sama dengan kebencian terhadap individu. Ia menyatakan masih dapat berteman dan bersilaturahmi dengan orang yang disebut Habib, tetapi tetap mempertahankan sikap kritis terhadap persoalan asal-usul keturunan.

Sumber utama artikel: video kanal TV Alwaha yang diunggah pada 2 Januari 2026:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button