
Gus Abbas: Keluarga Kesultanan Cirebon Diwarisi Tarekat Syattariyah dan Tradisi Tasawuf Sunan Gunung Jati
KH Muhammad Abbas Billy Yachsi atau Gus Abbas menjelaskan hubungan keluarga Kesultanan Cirebon dengan tradisi Tarekat Syattariyah yang menurut pemaparannya diwariskan oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kepada keturunannya.
Penjelasan tersebut disampaikan Gus Abbas dalam sebuah acara zikir bersama di lingkungan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Ceramah itu ditayangkan melalui kanal YouTube Tarekat Kita pada 2 Januari 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Abbas menguraikan sejumlah aspek warisan keislaman keluarga Kesultanan Cirebon. Pembahasannya meliputi Tarekat Syattariyah, pendekatan dakwah melalui tasawuf, hubungan Islam dengan kebudayaan lokal, tradisi selawat, pembelajaran kitab-kitab keagamaan, hingga silsilah sejumlah tarekat yang berkembang di Nusantara.
Gus Abbas juga menjelaskan pentingnya mempertahankan tradisi zikir dan selawat yang telah berkembang di lingkungan masyarakat Cirebon. Menurut dia, tradisi tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai keislaman dan perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.
Selain membahas tradisi Kesultanan Cirebon, Gus Abbas menyampaikan uraian mengenai ajaran tauhid dalam zikir Lailahaillallah, konsep tasawuf, serta hubungan antara beberapa tokoh ulama yang berperan dalam perkembangan tarekat di Indonesia.
Warisan Tarekat Syattariyah dalam Keluarga Kesultanan Cirebon
Dalam ceramahnya, Gus Abbas menyampaikan bahwa keluarga Kesultanan Cirebon memiliki warisan keagamaan berupa Tarekat Syattariyah.
Ia mengaitkan keberadaan tarekat tersebut dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang disebut membawa dan mengajarkannya kepada putra-putra serta keturunannya.
Gus Abbas menjelaskan bahwa keturunan Sunan Gunung Jati memiliki kewajiban menjaga hubungan dengan tradisi tarekat yang diwariskan tersebut.
Ia menyebut Tarekat Syattariyah sebagai tarekat yang memiliki kedudukan khusus bagi keluarga keturunan Sunan Gunung Jati.
Dalam penjelasannya, Gus Abbas juga menyebut sejumlah tarekat lain, seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Tijaniyah, dan tarekat lainnya.
Namun, ia membedakan kedudukan Tarekat Syattariyah dalam lingkungan keluarga Kesultanan Cirebon dengan tarekat-tarekat lain yang dapat dipelajari oleh masyarakat secara umum.
Penjelasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan mengenai identitas spiritual keluarga Kesultanan Cirebon.
Sunan Gunung Jati dan pendekatan dakwah melalui tasawuf
Gus Abbas kemudian menghubungkan warisan Tarekat Syattariyah dengan pendekatan dakwah Islam yang dilakukan para Wali Songo.
Menurut dia, pendekatan Islam yang diwariskan Sunan Gunung Jati tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum atau aktivitas politik, tetapi juga menekankan pembentukan akhlak melalui tasawuf.
Ia menjelaskan perbedaan antara istilah politik Islam dan Islam politik.
Politik Islam, sebagaimana diterangkan Gus Abbas, merupakan penggunaan nilai-nilai dan akhlak Islam dalam kehidupan politik. Sementara itu, Islam politik merujuk pada gerakan politik yang menggunakan nama Islam, tetapi menurut penjelasannya belum tentu menerapkan nilai-nilai Islam dalam praktiknya.
Gus Abbas mengaitkan pendekatan tersebut dengan prinsip kebinekaan yang dibangun oleh para Wali Songo.
Dalam pandangannya, nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat tanpa harus selalu menonjolkan simbol atau penyebutan nama Islam.
Pembahasan ini menjadi bagian dari uraian mengenai pendekatan dakwah yang mengedepankan akhlak, tasawuf, dan kemampuan berinteraksi dengan kebudayaan masyarakat setempat.
Tradisi Selawat dan Zikir sebagai Warisan Budaya Islam Cirebon
Selain menjelaskan Tarekat Syattariyah, Gus Abbas memberikan perhatian khusus terhadap tradisi selawat dan zikir yang berkembang di lingkungan Kesultanan Kasepuhan.
Ia menyampaikan bahwa tradisi tersebut tidak seharusnya dihilangkan karena mengandung nilai-nilai ajaran Islam yang diwariskan oleh para pendahulu.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas mengajak masyarakat untuk mempertahankan kebiasaan membaca selawat, berzikir, membaca istigfar, serta mengamalkan wirid setelah melaksanakan salat.
Ia menyebut kebiasaan membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah.
Tradisi tersebut juga tercermin dalam kegiatan pembacaan marhaban, Barzanji, dan berbagai kidung keagamaan yang berkembang dalam kebudayaan Cirebon.
Selawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah
Gus Abbas menjelaskan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dapat diwujudkan melalui dua bentuk.
Pertama, al-mahabbatu bil-ittiba, yakni mencintai Rasulullah dengan cara mengikuti dan meneladani ajarannya.
Kedua, kecintaan melalui pujian kepada Rasulullah, yang salah satu bentuknya diwujudkan dengan membaca selawat.
Ia mengutip pembagian tersebut dalam penjelasannya mengenai ajaran Imam Al-Ghazali.
Menurut Gus Abbas, kedua bentuk kecintaan itu memiliki hubungan dalam kehidupan umat Islam.
Membaca selawat merupakan salah satu cara mengungkapkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, mengikuti ajaran dan perilaku Rasulullah menjadi bentuk kecintaan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gus Abbas juga mengingatkan bahwa umat Islam tidak cukup hanya menyatakan cinta kepada Rasulullah, tetapi perlu berusaha mengikuti keteladanan beliau.
Tradisi Barzanji dan marhaban di lingkungan Kesultanan Cirebon
Dalam ceramah tersebut, Gus Abbas turut menyinggung tradisi pembacaan Barzanji dan marhaban yang masih dipertahankan masyarakat Cirebon.
Ia menjelaskan bahwa pembacaan selawat tidak selalu harus dipahami hanya dari sisi kemampuan seseorang menerjemahkan seluruh lafaz yang dibaca.
Menurut dia, tradisi tersebut juga berkaitan dengan kecintaan, kebersamaan, dan penghormatan kepada Rasulullah.
Gus Abbas menyinggung kebiasaan masyarakat yang mengikuti irama pembacaan selawat secara bersama-sama meskipun tidak seluruh peserta memahami setiap kata dalam bahasa Arab.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam penyampaian ajaran agama dapat membantu masyarakat memahami pesan keagamaan.
Dalam konteks Cirebon, bahasa daerah menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan tradisi keagamaan kepada masyarakat.
Gus Abbas kemudian mengingatkan agar tradisi seperti itu tidak dihilangkan dan tetap diteruskan kepada anak cucu.
Ia menyebut masyarakat yang ikut melestarikan tradisi keagamaan tersebut sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan warisan para pendahulu.
Gus Abbas Mengajak Masyarakat Mempertahankan Kearifan Lokal
Salah satu pesan penting dalam ceramah Gus Abbas adalah ajakan untuk menjaga kebudayaan lokal yang memiliki kandungan nilai keislaman.
Ia menilai tradisi yang diwariskan para wali tidak dapat diukur hanya menggunakan nilai materi.
Menurutnya, kegiatan seperti zikir bersama, selawat, pembacaan kidung, dan tradisi keagamaan lainnya merupakan bagian dari warisan yang memiliki nilai spiritual.
Gus Abbas secara khusus menyampaikan penghargaan kepada masyarakat, termasuk kaum perempuan, yang ikut mempertahankan tradisi tersebut.
Ia mengingatkan bahwa kebudayaan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya perlu diperkenalkan kepada anak-anak dan keturunan berikutnya.
Pelestarian tradisi itu, menurut pemaparannya, merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan ajaran keagamaan yang berkembang di lingkungan masyarakat Cirebon.
Budaya lokal dan penyebaran Islam oleh Wali Songo
Gus Abbas menghubungkan tradisi budaya Cirebon dengan pendekatan dakwah Wali Songo.
Ia menjelaskan bahwa penyebaran Islam di Nusantara memiliki hubungan erat dengan kebudayaan masyarakat setempat.
Pendekatan tasawuf yang disampaikan dalam ceramahnya menjadi salah satu bagian dari pembahasan tersebut.
Melalui pendekatan itu, nilai-nilai keislaman dapat disampaikan dengan memanfaatkan tradisi yang telah dikenal masyarakat.
Gus Abbas mencontohkan tradisi selawat dan kidung yang berkembang di lingkungan Kesultanan Cirebon.
Menurut dia, keberadaan tradisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan keagamaan.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak meninggalkan tradisi yang mengandung nilai-nilai Islam.
Membahas Kitab Syamail Muhammadiyah dan Keteladanan Nabi
Dalam ceramahnya, Gus Abbas juga mengajak jamaah mengenal lebih jauh kepribadian Nabi Muhammad SAW melalui kitab Syamail Muhammadiyah.
Kitab tersebut dikaitkan dengan nama Imam Abu Isa At-Tirmidzi.
Gus Abbas menjelaskan bahwa umat Islam perlu mempelajari kehidupan Rasulullah agar memiliki pemahaman lebih baik mengenai sosok yang dicintainya.
Pembahasan mengenai kitab tersebut disampaikan bersamaan dengan penjelasan tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ia mengingatkan bahwa seseorang yang menyatakan mencintai Rasulullah perlu berusaha mengenal ajaran, perilaku, dan kehidupan beliau.
Dalam ceramah tersebut, Gus Abbas juga menyinggung keterbatasan manusia dalam meneladani seluruh kehidupan Rasulullah.
Ia menyampaikan bahwa mengikuti Rasulullah merupakan perkara yang membutuhkan kesungguhan.
Karena itu, membaca selawat dan mempelajari riwayat kehidupan Nabi menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan spiritual seorang Muslim dengan Rasulullah.
Kisah kehidupan sederhana Nabi Muhammad SAW
Gus Abbas juga menyampaikan kisah mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW yang dikaitkan dengan doa tentang kemiskinan.
Ia mengutip doa:
Allahumma ahyini miskinan wa amitni miskinan wahsyurni fi zumratil masakin.
Dalam penjelasannya, doa tersebut diterangkan sebagai permohonan agar seseorang diberikan kehidupan dalam keadaan sederhana, diwafatkan dalam keadaan demikian, dan dikumpulkan bersama golongan orang-orang miskin.
Gus Abbas kemudian menghubungkan kisah itu dengan penjelasan mengenai kehidupan akhirat.
Ia menyampaikan riwayat yang menggambarkan bahwa banyak penghuni surga berasal dari kalangan umat yang hidup dalam kemiskinan.
Pembahasan tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antara kesederhanaan hidup, ketakwaan, dan kehidupan akhirat.
Gus Abbas juga menyampaikan bahwa kekayaan dan kemiskinan bukan satu-satunya ukuran seseorang dalam menjalani kehidupan beragama.
Kisah Makanan yang Mencukupi 200 Orang dalam Ceramah Gus Abbas
Dalam bagian lain ceramahnya, Gus Abbas menceritakan sebuah riwayat mengenai peristiwa pada masa Nabi Muhammad SAW.
Kisah tersebut menggambarkan keadaan pasukan Muslim yang terdiri dari sekitar 200 orang dan belum mendapatkan makanan selama empat hari empat malam.
Dalam cerita yang disampaikan Gus Abbas, Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian menyampaikan persoalan tersebut kepada Rasulullah.
Persoalan muncul karena makanan yang tersedia hanya satu nampan, sehingga dianggap tidak akan mencukupi kebutuhan seluruh pasukan.
Namun, Rasulullah meminta agar makanan tersebut dibawa ke hadapannya.
Gus Abbas kemudian menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW membaca basmalah dan mempersilakan para sahabat untuk makan.
Dalam kisah tersebut, makanan yang semula hanya tersedia dalam satu nampan dapat dinikmati oleh seluruh anggota pasukan.
Bahkan, setelah semua orang makan, makanan tersebut masih tersisa.
Gus Abbas menggunakan cerita itu untuk menjelaskan keistimewaan Rasulullah dan keterbatasan manusia dalam meniru seluruh kemampuan beliau.
Ia kemudian menghubungkan kisah tersebut dengan pesan agar umat Islam tetap memperbanyak selawat dan menjaga hubungan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Gus Abbas Menguraikan Silsilah Keilmuan Tarekat dalam Tradisi Tasawuf
Bagian penting lainnya dalam ceramah Gus Abbas adalah penjelasan mengenai hubungan sejumlah ulama dalam perkembangan tarekat.
Ia menguraikan beberapa jalur keilmuan yang berkaitan dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Imam Abul Hasan Asy-Syadzili, serta ulama-ulama lain yang disebut memiliki peran dalam perkembangan tasawuf.
Hubungan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan Tarekat Syadziliyah
Gus Abbas menyebut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai salah satu tokoh besar dalam tradisi tasawuf.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan sejumlah nama ulama yang menjadi bagian dari mata rantai hubungan keilmuan para tokoh tarekat.
Di antara nama yang disebut adalah:
-
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
-
Imam Abu Said Mubarak Al-Makhzumi.
-
Imam Abu Husain Al-Hukari.
-
Imam Abul Faraj At-Tartusi.
-
Imam Abu Bakar Asy-Syibli.
-
Imam Abul Hasan Asy-Syadzili.
-
Imam Abu Abbas Al-Mursi.
-
Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari.
Gus Abbas kemudian menjelaskan hubungan Imam Abul Hasan Asy-Syadzili dengan perkembangan Tarekat Syadziliyah.
Ia menyebut kitab Al-Mafakhirul Aliyah fi Thabaqat Syadziliyah ketika membahas sejarah dan jaringan ulama dalam tarekat tersebut.
Nama Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari juga disebut dalam ceramah tersebut melalui pembahasan mengenai kitab Syarhul Hikam.
Kitab tersebut dijelaskan sebagai salah satu karya yang digunakan dalam lingkungan pembelajaran tasawuf.
Pembahasan tentang Wahdatul Wujud
Gus Abbas kemudian membahas konsep Wahdatul Wujud, sebuah istilah yang berkaitan dengan pembahasan tasawuf.
Ia menjelaskan bahwa istilah Wahdatul Wujud tidak boleh disamakan dengan Wahdatuz Zat.
Menurut penjelasan Gus Abbas, kedua istilah tersebut memiliki pengertian berbeda.
Ia mengutip pembahasan Imam Muhammad At-Tijani dalam kitab Ahlul Haq Al-Arifuna Billah mengenai perbedaan antara Wahdatul Wujud dan Wahdatuz Zat.
Gus Abbas menegaskan bahwa pembahasan tentang Wahdatul Wujud perlu dipahami secara hati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap istilah yang digunakan dalam tradisi tasawuf.
Ia juga menjelaskan bahwa pembahasan mengenai keberadaan Allah harus dibedakan dari pembahasan mengenai zat Allah.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas menyampaikan bahwa Allah tidak membutuhkan tempat maupun waktu.
Ia menggunakan sejumlah perumpamaan untuk menjelaskan bagaimana keberadaan sesuatu dapat memberikan pengaruh terhadap manusia tanpa harus menampilkan zat benda tersebut.
Perumpamaan itu digunakan untuk membantu jamaah memahami penjelasan mengenai hubungan antara wujud, sifat, dan pengaruh sesuatu dalam pembahasan tasawuf.
Sejarah Tarekat Syattariyah dan Perkembangannya di Nusantara
Gus Abbas secara khusus menguraikan jalur perkembangan Tarekat Syattariyah yang dikaitkannya dengan sejumlah ulama di berbagai wilayah.
Ia menyebut Syekh Abdullah Asy-Syattari sebagai tokoh yang berkaitan dengan pembentukan tarekat tersebut.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas kemudian menyebut sejumlah nama yang menurut pemaparannya menjadi bagian dari jaringan keilmuan Tarekat Syattariyah.
Beberapa nama yang disebut antara lain:
-
Syekh Abdullah Asy-Syattari.
-
Imam Wajihuddin.
-
Imam Muhammad Al-Guts.
-
Sibghatullah bin Ruhullah Al-Makki.
-
Imam Shafiuddin Al-Qushashi.
-
Maulana Ibrahim Al-Qurani.
-
Syekh Abdur Rauf As-Singkili.
Syekh Abdur Rauf As-Singkili dan penyebaran Syattariyah
Gus Abbas menyebut Syekh Abdur Rauf As-Singkili sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan Tarekat Syattariyah di Nusantara.
Ia menghubungkan tokoh tersebut dengan jaringan ulama yang berkembang di kawasan Aceh dan wilayah lainnya.
Dalam penjelasannya, Gus Abbas juga menyebut Syekh Ali Al-Fansuri dan Syekh Hamzah Al-Fansuri ketika membahas hubungan perkembangan tasawuf di wilayah Sumatera.
Ia kemudian menyebut Syekh Burhanuddin dari Sumatera Barat sebagai salah satu murid Syekh Abdur Rauf As-Singkili.
Nama Syekh Burhanuddin dikaitkan dengan perkembangan tradisi tarekat di wilayah Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Gus Abbas juga menyebut sejumlah tokoh lain yang berhubungan dengan jaringan keilmuan tarekat di berbagai daerah.
Perkembangan Qadiriyah dan Naqsyabandiyah
Selain Syattariyah, Gus Abbas membahas perkembangan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.
Ia menyebut Imam Ahmad Khatib bin Abdul Latif Al-Minangkabawi sebagai salah satu tokoh yang memiliki hubungan dengan jaringan tarekat tersebut.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas menjelaskan bahwa Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah merupakan perpaduan dua jalur tarekat.
Ia menghubungkan perkembangan tarekat tersebut dengan Syekh Ahmad Khatib Sambas.
Menurut pemaparan Gus Abbas, penyebutan nama Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berkaitan dengan sikap tawaduk Syekh Ahmad Khatib Sambas yang tidak ingin menggunakan namanya sendiri sebagai nama tarekat.
Ia juga menyebut Imam Muhammad Sulaiman Ar-Rasuli dalam pembahasan mengenai jaringan ulama yang mempelajari ilmu fikih dan tasawuf.
Selain itu, Gus Abbas menghubungkan pembelajaran fikih dengan Syekh Junaid Al-Batawi.
Tokoh tersebut disebut memiliki jaringan murid dari berbagai wilayah, termasuk Makkah, Madinah, Mesir, Pakistan, India, dan Afrika.
Hubungan Tarekat dengan Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah
Dalam ceramahnya, Gus Abbas juga menjelaskan hubungan tradisi tarekat dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia menyebut Imam Abul Qasim Al-Junaidi Al-Baghdadi dalam pembahasan mengenai jaringan ulama tasawuf.
Menurut pemaparannya, ajaran Imam Al-Junaidi memiliki kedudukan penting dalam tradisi keagamaan yang berkembang di Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Gus Abbas kemudian menyampaikan hubungan sejumlah tokoh dalam mata rantai keilmuan tasawuf.
Nama-nama yang disebut dalam bagian tersebut meliputi:
-
Imam Abul Qasim Al-Junaidi Al-Baghdadi.
-
Imam Ma’ruf Al-Karkhi.
-
Imam Abdul Wahid At-Tamimi.
-
Imam Abul Husain Ali bin Musa Ar-Ridha.
-
Sayidina Musa Al-Kazim.
-
Sayidina Ja’far Ash-Shadiq.
-
Sayidina Muhammad Al-Baqir.
-
Sayidina Ali Zainal Abidin.
-
Sayidina Husain bin Ali.
-
Sayidina Ali bin Abi Thalib.
Gus Abbas kemudian menghubungkan jalur tersebut dengan Rasulullah SAW.
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa tradisi tarekat yang berkembang di Indonesia dan Nusantara memiliki hubungan dengan jaringan keilmuan para ulama terdahulu.
Ia juga kembali mengaitkan pembahasan itu dengan tradisi keluarga Kesultanan Cirebon.
Makna Zikir Lailahaillallah dalam Tarekat Syattariyah
Menjelang bagian akhir ceramah, Gus Abbas memberikan penjelasan mengenai zikir Lailahaillallah.
Ia menguraikan bahwa kalimat tauhid tersebut memiliki dua bagian utama, yakni Lailaha dan Illallah.
Dalam penjelasannya, bagian pertama berkaitan dengan penafian atau pengosongan hati dari segala sesuatu selain Allah.
Sementara itu, bagian kedua merupakan penetapan bahwa Allah menjadi satu-satunya tujuan penghambaan.
Lailaha sebagai proses membersihkan hati
Gus Abbas menjelaskan bagian Lailaha sebagai kalimat yang berkaitan dengan penafian segala sesuatu selain Allah.
Ia menggunakan istilah tajrid untuk menerangkan proses mengosongkan hati dari keterikatan kepada selain Allah.
Menurut penjelasannya, zikir tersebut mengajarkan seseorang untuk membersihkan hati agar tidak dipenuhi oleh hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah.
Illallah sebagai penetapan tauhid
Sementara itu, bagian Illallah dijelaskan sebagai penetapan bahwa Allah menjadi satu-satunya tujuan dalam kehidupan spiritual seorang Muslim.
Gus Abbas menerangkan bahwa proses tersebut merupakan bagian dari pemurnian hati.
Ia menyampaikan bahwa zikir tidak hanya berkaitan dengan pengucapan kalimat secara lisan, tetapi juga harus dihubungkan dengan kesadaran batin.
Dalam penjelasannya, ia menggambarkan bagaimana seseorang berusaha mengosongkan hati dari selain Allah dan menetapkan kecintaan serta penghambaan hanya kepada-Nya.
Praktik zikir dalam tradisi Syattariyah
Gus Abbas kemudian menghubungkan penjelasan tersebut dengan praktik zikir Tarekat Syattariyah yang dikaitkan dengan warisan Sunan Gunung Jati.
Ia menerangkan bahwa pengucapan kalimat tauhid dalam tradisi tarekat memiliki tata cara dan penghayatan tersendiri.
Penjelasan tersebut juga dikaitkan dengan kisah Nabi Adam AS dan cahaya Nabi Muhammad SAW yang disampaikan dalam ceramah.
Gus Abbas menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan bagian dari pemahaman spiritual yang diajarkan dalam lingkungan tarekat.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak sekadar mengikuti gerakan atau pengucapan zikir tanpa memahami makna yang disampaikan oleh guru.
Karena itu, pembelajaran dan pemahaman terhadap ajaran tarekat menjadi bagian penting dalam menjalankan tradisi zikir.
Tafsir Jalalain dan Tradisi Keilmuan di Keraton Cirebon
Selain membahas tarekat, Gus Abbas juga menyinggung tradisi pengajaran kitab di lingkungan Keraton Cirebon.
Ia menyebut bahwa Sunan Gunung Jati memiliki tradisi pengajaran kitab tafsir kepada keluarga dan lingkungan keraton.
Salah satu kitab yang disebut adalah Tafsir Jalalain.
Gus Abbas menjelaskan bahwa pengajaran kitab tersebut menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang diteruskan di lingkungan pesantren.
Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat yang ingin mempelajari Tafsir Jalalain dapat meneruskan tradisi pembelajaran tersebut.
Dalam ceramah itu, Gus Abbas menghubungkan tradisi pengajaran kitab dengan kesinambungan warisan keilmuan yang berkembang di lingkungan keluarga Kesultanan Cirebon dan pesantren.
Pembahasan ini memperlihatkan bahwa warisan keagamaan yang disampaikan dalam ceramah tidak hanya mencakup praktik ritual, tetapi juga kegiatan pengajaran dan pembelajaran kitab-kitab Islam.
Pelestarian Warisan Sunan Gunung Jati kepada Generasi Berikutnya
Menjelang penutupan ceramah, Gus Abbas kembali menekankan pentingnya mempertahankan warisan keagamaan dan kebudayaan yang berkembang di lingkungan Kesultanan Cirebon.
Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi selawat, zikir, pembacaan marhaban, serta berbagai kegiatan keagamaan yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Menurut dia, tradisi tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang memiliki hubungan dengan pendekatan dakwah para wali.
Gus Abbas juga mengingatkan bahwa pelestarian tradisi harus dilakukan dengan meneruskannya kepada anak dan cucu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memahami ajaran yang terkandung dalam tradisi tersebut agar pelaksanaannya tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Dalam konteks keluarga Kesultanan Cirebon, pembahasan mengenai Tarekat Syattariyah menjadi bagian dari upaya menjelaskan identitas spiritual yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati.
Ceramah tersebut kemudian ditutup dengan ajakan untuk terus mengamalkan zikir, menjaga selawat, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
FAQ: Pertanyaan Seputar Ceramah Gus Abbas tentang Tarekat Syattariyah
1. Siapa KH Muhammad Abbas Billy Yachsi atau Gus Abbas?
KH Muhammad Abbas Billy Yachsi, yang dikenal sebagai Gus Abbas, merupakan penceramah yang dalam tayangan kanal Tarekat Kita pada 2 Januari 2025 menyampaikan penjelasan mengenai Tarekat Syattariyah, tradisi tasawuf, dan warisan keagamaan keluarga Kesultanan Cirebon.
2. Apa hubungan Tarekat Syattariyah dengan Sunan Gunung Jati?
Dalam ceramahnya, Gus Abbas menjelaskan bahwa Tarekat Syattariyah merupakan salah satu warisan spiritual yang dikaitkan dengan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dan diajarkan kepada keturunannya.
3. Mengapa Tarekat Syattariyah memiliki kedudukan khusus bagi keluarga Kesultanan Cirebon?
Menurut penjelasan Gus Abbas, Tarekat Syattariyah merupakan tarekat yang diwariskan oleh Sunan Gunung Jati kepada putra dan keturunannya. Karena itu, ia menyebutnya sebagai tarekat yang wajib dijaga oleh keluarga keturunan Sunan Gunung Jati.
4. Apa hubungan tasawuf dengan dakwah Wali Songo?
Dalam ceramah tersebut, Gus Abbas menjelaskan bahwa pendekatan tasawuf merupakan salah satu cara penyampaian Islam yang berkaitan dengan pembentukan akhlak dan interaksi dengan kebudayaan masyarakat setempat.
5. Apa makna selawat dalam tradisi Kesultanan Cirebon?
Selawat dijelaskan sebagai salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi pembacaan selawat, marhaban, dan Barzanji juga menjadi bagian dari kegiatan keagamaan yang dipertahankan masyarakat Cirebon.
6. Apa perbedaan Wahdatul Wujud dan Wahdatuz Zat?
Gus Abbas menjelaskan bahwa Wahdatul Wujud dan Wahdatuz Zat merupakan dua istilah yang berbeda dalam pembahasan tasawuf. Ia mengingatkan agar keduanya tidak disamakan, khususnya ketika membahas keberadaan Allah dan zat-Nya.
7. Siapa Syekh Abdur Rauf As-Singkili?
Dalam ceramah Gus Abbas, Syekh Abdur Rauf As-Singkili disebut sebagai salah satu tokoh penting dalam jaringan perkembangan Tarekat Syattariyah di Nusantara.
8. Apa makna zikir Lailahaillallah dalam penjelasan Gus Abbas?
Gus Abbas membagi kalimat tersebut menjadi dua bagian. Lailaha dijelaskan sebagai penafian segala sesuatu selain Allah, sedangkan Illallah merupakan penetapan bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan.
9. Mengapa tradisi budaya Islam Cirebon perlu dilestarikan?
Menurut Gus Abbas, tradisi seperti selawat, zikir, marhaban, dan kidung keagamaan merupakan bagian dari kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai Islam dan perlu diteruskan kepada generasi berikutnya.
10. Apa kitab yang dianjurkan Gus Abbas untuk mengenal kehidupan Nabi Muhammad SAW?
Dalam ceramahnya, Gus Abbas menyebut kitab Syamail Muhammadiyah karya Imam Abu Isa At-Tirmidzi sebagai salah satu rujukan untuk mengenal kehidupan dan kepribadian Rasulullah SAW.
Informasi SEO Tambahan untuk WordPress
| Elemen SEO | Keterangan |
|---|---|
| SEO Title | |
| Focus Keyword | Tarekat Syattariyah Sunan Gunung Jati |
| Slug | gus-abbas-tarekat-syattariyah-warisan-sunan-gunung-jati |
| Meta Description | Gus Abbas menjelaskan warisan Tarekat Syattariyah Sunan Gunung Jati, ajaran tasawuf, tradisi selawat, zikir, dan budaya Islam Kesultanan Cirebon. |
| Search Intent | Informational |
| Kategori | Sejarah Islam, Cirebon, Tasawuf |
| Tags | Gus Abbas, Sunan Gunung Jati, Tarekat Syattariyah, Kesultanan Cirebon, Tasawuf, Wali Songo |
Catatan redaksional: Artikel ini disusun berdasarkan transkrip ceramah Gus Abbas di kanal Tarekat Kita pada 2 Januari 2025.
Sumber: THORIQOHNYA SUNAN GUNUNG JATI ■ GUS ABBAS BUNTET ■ KERATON KASEPUHAN CIREBON





