
Mantan Anggota FPI Rosbian Rimba Ungkap Pengalaman di FPI, Akui Pernah Melatih Bela Diri hingga Memilih Bergabung dengan PWI-LS
Rosbian Rimba, seorang mantan anggota Front Pembela Islam (FPI) asal Lampung, menceritakan perjalanan panjang keterlibatannya dalam organisasi tersebut, mulai dari aktivitas pada masa Pam Swakarsa, mengikuti berbagai kegiatan di Jakarta, hingga menjadi pelatih bela diri di lingkungan FPI.
Dalam wawancara bersama Bahril Ulum di kanal YouTube TV Alwah pada 3 November 2026, Rosbian yang memiliki nama asli Ruspianto itu mengungkapkan sejumlah pengalaman selama menjadi bagian dari FPI. Ia juga menjelaskan alasan meninggalkan organisasi tersebut dan kemudian bergabung dengan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS).
Dalam perbincangan yang berlangsung di Balai Latihan Kerja Kabupaten Pemalang tersebut, Rosbian mengungkapkan bahwa keputusannya meninggalkan FPI berkaitan dengan perubahan pandangan keagamaan, pengalaman pribadi, serta pengaruh lingkungan keluarga.
Ia menyebut nasihat istrinya menjadi salah satu faktor yang mendorong dirinya mengevaluasi kembali pemahaman dan aktivitas keagamaannya ketika masih aktif di FPI.
Rosbian juga mengungkapkan bahwa selama berada di lingkungan FPI, dirinya pernah mengikuti berbagai kegiatan organisasi, membawa rombongan dari Lampung dan Banten ke Jakarta, serta mengajarkan bela diri kepada anggota.
Setelah pindah ke Pemalang, ia mengaku masih sempat bergabung dengan FPI setempat dan menjalankan aktivitas sebagai pelatih bela diri selama sekitar dua hingga tiga tahun.
Kini, Rosbian menyatakan telah meninggalkan FPI dan memilih bergabung dengan PWI-LS. Dalam wawancara tersebut, ia juga menyampaikan ajakan kepada mantan rekan-rekannya di FPI maupun anggota Banser dan masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) untuk bergabung dalam organisasi tersebut.
Awal Perjalanan Rosbian Rimba dari Lampung hingga Pemalang
Rosbian Rimba memperkenalkan dirinya sebagai Ruspianto. Nama Rosbian Rimba merupakan nama yang lebih dikenal dalam aktivitas kesehariannya.
Ia menjelaskan bahwa dirinya berasal dari keluarga dengan latar belakang Sumatera dan Banten. Ibunya merupakan orang Lampung, sedangkan ayahnya berasal dari Banten.
Perjalanan Rosbian hingga menetap di Pemalang berawal dari pertemuannya dengan perempuan asal daerah tersebut ketika masih berada di Jakarta.
Dalam wawancara itu, ia menjelaskan bahwa dirinya telah menjadi anggota FPI ketika masih belum menikah. Dengan demikian, aktivitasnya di organisasi tersebut sudah berlangsung sebelum ia membangun keluarga.
Setelah menikah, Rosbian kemudian menjalani kehidupan di Pemalang, mengikuti perjalanan keluarganya.
Perpindahan tempat tinggal tersebut tidak langsung membuatnya meninggalkan aktivitas organisasi. Ia mengaku masih melanjutkan keterlibatannya dalam FPI, termasuk ketika mulai berinteraksi dengan jaringan organisasi di wilayah Pemalang.
Rosbian Mengaku Terlibat dalam Gerakan Sebelum FPI
Salah satu bagian penting dalam wawancara tersebut adalah pengakuan Rosbian mengenai perjalanan organisasinya sebelum menjadi anggota FPI.
Ia menyebut keterlibatannya dalam gerakan sudah dimulai sekitar 1996. Dalam penuturannya, ia menyebut organisasi atau gerakan yang dikenal dengan istilah Promek.
Rosbian kemudian menghubungkan perjalanan tersebut dengan situasi politik menjelang dan sesudah Reformasi 1998.
Ia mengaku menjadi salah seorang yang mengikuti aksi pada 1998. Bahkan, dalam wawancara tersebut, Rosbian secara terbuka menyatakan pernah terlibat dalam aksi yang berujung pada kerusuhan dan perusakan.
Pengakuan tersebut disampaikan ketika Bahril Ulum menanyakan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa pada masa itu.
Rosbian mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang ikut serta dalam gerakan-gerakan tersebut.
Pengalaman pada masa Pam Swakarsa
Setelah membicarakan peristiwa 1998, pembicaraan berlanjut pada Pam Swakarsa.
Rosbian mengaku perjalanan keterlibatannya dalam organisasi yang kemudian membawanya ke FPI berawal dari lingkungan Pam Swakarsa.
Ia menjelaskan bahwa pada masa tersebut, aktivitas Pam Swakarsa berkaitan dengan situasi keamanan dan stabilitas di Jakarta.
Menurut penuturannya, pada awalnya kegiatan tersebut memiliki tujuan menjaga stabilitas, khususnya di wilayah Jakarta.
Namun, dalam wawancara itu, Rosbian juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah pihak yang menurut pandangannya memanfaatkan situasi politik pada masa tersebut.
Ketika ditanya mengenai siapa yang membentuk Pam Swakarsa, Rosbian tidak menyebutkan nama tertentu secara langsung.
Ia mengatakan bahwa orang-orang sudah mengetahui pihak yang dimaksud, tetapi dirinya memilih tidak menyebutkannya dalam wawancara.
Dari pengalaman tersebut, Rosbian kemudian menceritakan perjalanan organisasi yang menurutnya berlanjut dari lingkungan Pam Swakarsa menuju pembentukan FPI.
Pernah Menjadi Wakil Ketua Satgas FPI di Batuceper Tangerang
Rosbian mengungkapkan bahwa ketika masih aktif di FPI, dirinya pernah berdomisili di Jakarta dan terlibat dalam aktivitas organisasi di wilayah Tangerang.
Ia menyebut pernah menjabat sebagai wakil ketua satuan tugas (Satgas) di Kecamatan Batuceper, Tangerang.
Posisi tersebut menjadi salah satu pengalaman organisasinya selama berada di lingkungan FPI.
Rosbian juga mengatakan pernah mengikuti sejumlah kegiatan bersama anggota lainnya. Ia mengaku cukup mengetahui aktivitas dan pola pergerakan organisasi karena terlibat langsung di dalamnya.
Ketika ditanya apakah dirinya termasuk orang dekat Rizieq Shihab, Rosbian memberikan penjelasan bahwa dirinya memang pernah mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tokoh tersebut.
Namun, ia membedakan antara pernah mengikuti kegiatan bersama dan memiliki hubungan kedekatan secara pribadi.
Rosbian juga mengungkapkan bahwa sebagian bukti atau atribut keanggotaannya di FPI sudah tidak lagi dimilikinya karena telah dibakar setelah memutuskan keluar dari organisasi tersebut.
Membawa sekitar 100 orang dari Lampung dan Banten ke Jakarta
Dalam wawancara itu, Rosbian juga menceritakan pengalamannya membawa rombongan dari Lampung dan Banten menuju Jakarta.
Ia menyebut pernah membawa sekitar 75 orang dari Lampung dan 25 orang dari Banten.
Dengan demikian, jumlah rombongan yang dibawanya mencapai sekitar 100 orang.
Ketika Bahril Ulum menanyakan latar belakang para anggota yang dibawa tersebut, Rosbian menjelaskan bahwa mereka bukan seluruhnya berasal dari lingkungan pesantren.
Ia bahkan menyatakan dirinya sendiri bukan berasal dari latar belakang pendidikan pesantren.
Rosbian juga menyampaikan bahwa keberangkatan rombongan tersebut dibiayai oleh pusat organisasi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan keterlibatannya dalam kegiatan FPI di Jakarta.
Mengakui FPI Pernah Melakukan Kegiatan Kemanusiaan di Aceh
Dalam wawancara tersebut, Rosbian juga membicarakan salah satu aktivitas FPI yang menurutnya pernah mendapatkan perhatian masyarakat, yakni kegiatan kemanusiaan di Aceh.
Ia menyatakan tidak memungkiri adanya kontribusi FPI dalam kegiatan tersebut, termasuk upaya membantu penanganan jenazah korban bencana.
Rosbian menyebut angka sekitar 6.000 jenazah dalam pembicaraan mengenai kegiatan kemanusiaan itu.
Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak ikut langsung dalam kegiatan di Aceh tersebut.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa dalam menceritakan pengalaman masa lalunya, Rosbian tetap menyebut sejumlah kegiatan organisasi yang menurutnya memiliki kontribusi positif.
Ia membedakan pengalaman pribadi yang pernah dijalaninya dengan kegiatan organisasi lain yang diketahuinya melalui informasi dan aktivitas FPI.
Alasan Rosbian Rimba Meninggalkan FPI
Rosbian mengatakan keputusan meninggalkan FPI merupakan bagian dari perjalanan perubahan pandangan hidup dan keagamaannya.
Ia menyebut perubahan tersebut sebagai hidayah.
Menurut Rosbian, salah satu faktor penting yang memengaruhi perubahan pandangannya adalah kehidupan rumah tangga, terutama nasihat dari istrinya.
Ia menceritakan bahwa istrinya memiliki pemahaman agama yang dinilainya lebih baik dibandingkan dirinya pada masa itu.
Selain itu, istrinya juga memiliki latar belakang Nahdlatul Ulama.
Rosbian mengaku bahwa sebelum meninggalkan FPI, dirinya sering mengalami perbedaan pandangan dengan sang istri.
Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan pemahaman keagamaan dan cara memandang hubungan antara kecintaan kepada tokoh agama dengan pelaksanaan ibadah.
Nasihat istri membuatnya mengevaluasi pemahaman keagamaan
Dalam wawancara bersama Bahril Ulum, Rosbian menceritakan bahwa istrinya pernah mempertanyakan pemahaman yang berkembang dalam lingkungan pergaulannya di FPI.
Salah satu hal yang dipertanyakan adalah anggapan bahwa mencintai para habib dan membela mereka dapat menjadi jaminan seseorang masuk surga.
Rosbian mengaku bahwa ketika masih aktif di FPI, dirinya pernah menerima doktrin yang menempatkan kecintaan dan pembelaan terhadap para habib sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan beragama.
Ia bahkan menceritakan pengalaman pribadinya ketika memahami bahwa kecintaan kepada para habib menjadi hal utama, sementara pelaksanaan ibadah seperti salat dan puasa tidak selalu mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya.
Dalam penuturannya, Rosbian menggambarkan bahwa pada masa itu dirinya sering kali harus diingatkan istrinya untuk melaksanakan salat.
Ia kemudian mulai mempertanyakan pemahaman yang selama ini diterimanya.
Istrinya juga pernah mempertanyakan apakah seseorang bisa begitu saja mendapatkan jaminan surga hanya karena mencintai tokoh tertentu.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian dari proses evaluasi yang kemudian memengaruhi pandangan Rosbian.
Mengaku pernah kesulitan membela Gus Dur ketika dihina
Selain persoalan pemahaman mengenai para habib, Rosbian juga menceritakan pengalamannya ketika masih berada di FPI dan menyaksikan sikap yang menurutnya merendahkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Rosbian mengaku dirinya merupakan pengagum Gus Dur, bahkan sebelum meninggalkan FPI.
Ia mengatakan banyak menyerap pemikiran dan ilmu dari tokoh yang pernah menjabat sebagai Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.
Namun, ketika masih berada dalam lingkungan FPI, ia merasa tidak mampu memberikan pembelaan ketika Gus Dur dihina.
Rosbian mengaitkan kondisi tersebut dengan kuatnya keyakinan dan doktrin yang diterimanya pada masa itu.
Dalam wawancara tersebut, ia mengungkapkan penyesalannya karena tidak bisa membela Gus Dur ketika masih menjadi anggota FPI.
Ia mengatakan sekarang merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki pandangan dan sikapnya terhadap tokoh yang selama ini dikaguminya.
Mengaku Mengagumi KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur
Rosbian secara terbuka menyebut dirinya sebagai pecinta Nahdlatul Ulama meskipun bukan anggota NU secara struktural.
Ia menggambarkan dirinya lebih dekat dengan NU secara kultural.
Dua tokoh yang secara khusus disebutnya adalah KH Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Menurut Rosbian, kedua tokoh tersebut merupakan figur penting yang menjadi rujukan kekagumannya terhadap NU.
Ia juga menyebut dirinya sebagai Gusdurian karena banyak menyerap pemikiran Gus Dur.
Kecintaannya kepada pemikiran Gus Dur, menurut pengakuannya, sudah ada ketika dirinya masih aktif di FPI.
Namun, pada masa tersebut, Rosbian mengaku tidak selalu mampu menjalankan sikap yang sesuai dengan pandangannya sendiri karena pengaruh lingkungan organisasi.
Setelah meninggalkan FPI, ia menyatakan lebih leluasa mengekspresikan pandangan dan kecintaannya terhadap pemikiran Gus Dur.
Mengaku Membakar Atribut FPI Setelah Memutuskan Keluar
Keputusan Rosbian meninggalkan FPI tidak hanya ditunjukkan melalui pernyataan lisan.
Ia menceritakan bahwa dirinya bersama istri juga melakukan perubahan terhadap sejumlah benda dan atribut yang berkaitan dengan organisasi tersebut.
Salah satunya adalah foto Rizieq Shihab yang sebelumnya dipajang di rumah.
Rosbian mengatakan foto tersebut diturunkan dan bingkainya kemudian diganti dengan foto anaknya.
Selain itu, atribut-atribut FPI yang masih dimilikinya juga dibakar.
Ia menyebut tindakan tersebut dilakukan bersama istrinya sebagai bagian dari keputusan meninggalkan masa lalu organisasi.
Rosbian menggambarkan keputusan itu dengan istilah talak 10 terhadap FPI.
Istilah tersebut digunakan sebagai ungkapan bahwa dirinya benar-benar tidak ingin kembali terikat dengan organisasi yang pernah diikutinya.
Ia juga menyebut ingin menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran untuk perjalanan hidup berikutnya.
Pengalaman Rosbian sebagai Pelatih Bela Diri FPI
Selain pernah menjadi anggota dan mengikuti kegiatan organisasi, Rosbian mengungkapkan bahwa dirinya juga pernah menjadi pelatih bela diri di lingkungan FPI.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas tersebut berlangsung ketika dirinya sudah menetap di Pemalang.
Sebelumnya, ia pernah bergabung dengan jaringan FPI pusat. Setelah berada di Pemalang, ia kemudian mengikuti aktivitas FPI di tingkat daerah.
Rosbian memperkirakan dirinya menjalankan aktivitas sebagai pelatih selama sekitar dua hingga tiga tahun.
Namun, karena pekerjaannya sebagai pelaut, aktivitasnya tidak berlangsung setiap waktu.
Ia mengatakan biasanya baru aktif kembali ketika pulang dari pekerjaan sebagai pelaut.
Mengajarkan bela diri untuk perlindungan diri dan menghadapi kerusuhan
Dalam percakapan dengan Bahril Ulum, Rosbian menjelaskan bahwa materi bela diri yang diajarkannya tidak hanya berkaitan dengan perlindungan diri.
Ia mengakui bahwa teknik-teknik yang diajarkan juga berkaitan dengan persiapan menghadapi bentrokan dan kerusuhan.
Pengakuan tersebut muncul ketika Bahril Ulum menanyakan apakah latihan bela diri yang diberikan hanya ditujukan untuk kepentingan pribadi atau juga digunakan dalam situasi konflik.
Rosbian menjawab bahwa keduanya menjadi bagian dari materi yang diajarkan.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya mengetahui sebagian orang yang tergabung dalam FPI Pemalang karena pernah berada di lingkungan tersebut.
Ketika ditanya mengenai peristiwa kerusuhan yang menjadi pembicaraan dalam wawancara, Rosbian mengatakan bahwa orang-orang yang terlihat dalam video yang dimaksud menurut pengamatannya bukan anggota FPI Pemalang.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian pribadi Rosbian berdasarkan pengalamannya mengenal anggota organisasi di wilayah tersebut.
Rosbian Menjelaskan Perubahan Pandangannya terhadap Banser
Salah satu bagian yang cukup panjang dalam wawancara tersebut membahas hubungan FPI dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser).
Rosbian mengaku bahwa ketika masih berada di FPI, dirinya mendapatkan pemahaman bahwa Banser merupakan pihak yang harus dipandang sebagai lawan.
Ia mengatakan bahwa pandangan tersebut merupakan bagian dari pendidikan dan doktrin yang diterimanya ketika masih menjadi anggota.
Namun, setelah meninggalkan FPI, Rosbian menyatakan pandangannya berubah.
Ia bahkan secara terbuka mengajak anggota Banser untuk bergabung dengan PWI-LS.
Mengaku pernah mendapat doktrin bahwa Banser merupakan musuh
Rosbian menceritakan bahwa dalam lingkungan FPI, Banser pernah diposisikan sebagai musuh utama.
Ia juga menyampaikan bahwa terdapat pandangan yang merendahkan bangsa Indonesia dalam doktrin yang menurut pengakuannya diterima oleh anggota.
Dalam wawancara tersebut, Rosbian menggunakan istilah yang keras ketika mengingat materi yang pernah diajarkan kepadanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sekarang tidak lagi memandang Banser sebagai musuh.
Menurut penuturannya, perubahan pandangan itu merupakan bagian dari proses meninggalkan pemahaman yang sebelumnya diterima ketika aktif di FPI.
Rosbian menyampaikan bahwa dirinya ingin mengajak anggota Banser dan warga NU untuk bersama-sama memperjuangkan penghormatan terhadap ulama dan menjaga kemuliaan Rasulullah.
Rosbian Mengungkap Dugaan Strategi Perekrutan dan Penggunaan Atribut Organisasi
Dalam pembicaraan berikutnya, Rosbian menyampaikan pandangannya mengenai situasi hubungan antara FPI dan PWI-LS.
Ia mengklaim bahwa saat ini terdapat perubahan dalam cara pihak-pihak tertentu menghadapi PWI-LS.
Menurut Rosbian, pendekatan yang sebelumnya dilakukan secara terbuka kini dapat berlangsung melalui orang-orang yang masuk ke lingkungan organisasi.
Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya mengenai penggunaan seragam PWI-LS oleh orang-orang yang belum tentu merupakan anggota resmi organisasi.
Rosbian menyebut seragam organisasi dapat dibeli melalui toko daring.
Karena itu, menurutnya, penggunaan seragam saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa seseorang merupakan anggota resmi PWI-LS.
Pentingnya KTA sebagai identitas anggota
Rosbian menekankan pentingnya kartu tanda anggota (KTA) untuk memastikan identitas seseorang dalam organisasi.
Ia menilai KTA merupakan bagian dari kehormatan dan identitas organisasi.
Dalam wawancara tersebut, ia mencontohkan situasi ketika seseorang menggunakan seragam PWI-LS dalam kegiatan tertentu, tetapi tidak memiliki identitas keanggotaan yang dapat diverifikasi.
Menurut Rosbian, keadaan seperti itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila orang tersebut melakukan tindakan yang merugikan nama organisasi.
Ia berharap kepengurusan PWI-LS dapat memperhatikan persoalan identitas anggota, termasuk penerbitan KTA bagi mereka yang telah resmi bergabung.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pengalamannya setelah meninggalkan FPI dan masuk ke lingkungan organisasi baru.
Rosbian Mengajak Mantan Rekan FPI Bergabung dengan PWI-LS
Dalam wawancara tersebut, Rosbian secara terbuka menyampaikan ajakan kepada orang-orang yang masih berada di FPI untuk mempertimbangkan bergabung dengan PWI-LS.
Ia juga menyampaikan ajakan serupa kepada anggota Banser dan warga NU.
Menurut Rosbian, PWI-LS merupakan organisasi yang dipilihnya sebagai tempat melanjutkan aktivitas perjuangan setelah meninggalkan FPI.
Ia mengaitkan pilihannya dengan keinginan untuk menjaga kehormatan Rasulullah, kemuliaan ulama, dan penghormatan kepada para kiai.
Rosbian menyebut bahwa ajakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang yang sudah dikenalnya, tetapi juga masyarakat yang memiliki perhatian terhadap persoalan keagamaan dan organisasi.
Mengajak melalui pendekatan personal
Rosbian menjelaskan bahwa upaya mengajak mantan anggota FPI untuk bergabung dengan PWI-LS telah dilakukannya melalui pendekatan personal.
Ia menyebut salah seorang temannya di wilayah Bodeh, Pemalang, yang sebelumnya menjadi ketua pengajian.
Rosbian menceritakan bahwa temannya tersebut akhirnya memutuskan bergabung dengan PWI-LS setelah melalui komunikasi melalui telepon.
Dalam kesempatan itu, Rosbian juga memperkenalkan aktivitasnya sebagai Ketua Barisan Relawan Prabowo Nusantara (BPN) Jawa Tengah.
Ia menyebut orang yang sebelumnya memimpin pengajian tersebut kemudian menjadi sekretarisnya.
Menurut pengakuannya, proses pendekatan dilakukan secara pribadi, bukan melalui kegiatan perekrutan massal.
Mengajak Banser dan Warga NU Membaca Pemikiran KH Imaduddin Utsman
Dalam bagian akhir wawancara, Rosbian menyampaikan pesan kepada anggota Banser dan masyarakat NU agar mempelajari berbagai persoalan keagamaan melalui bacaan dan pertimbangan rasional.
Ia secara khusus menyebut kitab yang diterbitkan atau dikaitkan dengan KH Imaduddin Utsman Al-Bantani.
Rosbian menyarankan agar masyarakat membaca terlebih dahulu sebelum menentukan sikap.
Ia mengatakan dirinya sendiri berusaha membaca dan menggunakan nalar untuk memahami persoalan yang sedang dibicarakan.
Ajakan tersebut disampaikan dalam konteks pembicaraan mengenai kecintaan kepada Rasulullah, penghormatan kepada ulama, dan persoalan pemahaman keagamaan.
Rosbian juga menegaskan bahwa seseorang sebaiknya tidak hanya mengikuti pandangan kelompok tanpa melakukan proses pembelajaran dan pertimbangan.
Rosbian Rimba Menyebut Keputusannya Bergabung dengan PWI-LS sebagai Hijrah
Ketika ditanya mengenai perjalanan dari FPI menuju PWI-LS, Rosbian menyebutnya sebagai hijrah.
Ia menganggap perpindahan tersebut bukan sekadar perubahan keanggotaan organisasi, melainkan juga perubahan cara pandang dan pemahaman keagamaan.
Rosbian mengatakan bahwa dirinya berharap pengalaman dan kesalahan pada masa lalu dapat diperbaiki melalui kegiatan yang dijalaninya sekarang.
Ia juga berharap amal kebaikan yang dilakukan setelah bergabung dengan PWI-LS dapat menjadi bagian dari perbaikan perjalanan hidupnya.
Dalam wawancara tersebut, ia beberapa kali menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin mengulangi kesalahan yang menurutnya pernah dilakukan ketika masih aktif di FPI.
Rosbian juga mengakui bahwa perubahan pandangan tersebut tidak terjadi begitu saja.
Ia menghubungkannya dengan nasihat istri, pengalaman organisasi, proses membaca, dan keinginan pribadi untuk memperoleh petunjuk dalam menjalankan kehidupan beragama.
Membuka Perguruan Bela Diri Harimau Sumatera di Pemalang
Selain membahas perjalanan organisasi, Rosbian juga menceritakan aktivitasnya dalam bidang bela diri.
Ia dikenal dengan sebutan Ros Rimba yang menurut penjelasan dalam wawancara berkaitan dengan kecintaannya terhadap hutan Sumatera dan satwa harimau.
Dalam percakapan tersebut, Rosbian menjelaskan bahwa dirinya memiliki ketertarikan terhadap seni bela diri Harimau Sumatera.
Ia menyebut telah membuka perguruan bela diri di Kalirandu, Pemalang.
Perguruan tersebut menggunakan nama Jaladunda Harimau Sumatera sebagaimana terdengar dalam rekaman wawancara.
Rosbian menjelaskan bahwa istilah harimau dalam perguruan tersebut berkaitan dengan seni bela diri dan bukan berarti seseorang dapat berubah menjadi harimau.
Ia menyebut hal yang dipelajari adalah seni bela diri yang mengambil identitas Harimau Sumatera.
Aktivitas tersebut menjadi salah satu kegiatan yang dijalaninya setelah menetap di Pemalang.
Penutup Wawancara: Perjalanan dari FPI Menuju PWI-LS
Wawancara Bahril Ulum bersama Rosbian Rimba di kanal TV Alwah pada 3 November 2026 memperlihatkan perjalanan seorang mantan anggota FPI yang menceritakan pengalamannya selama berada di lingkungan organisasi tersebut.
Rosbian mengungkapkan berbagai pengalaman, mulai dari keterlibatan dalam gerakan sebelum FPI, aktivitas pada masa Pam Swakarsa, pengalaman membawa rombongan ke Jakarta, hingga menjadi pelatih bela diri di Pemalang.
Ia juga menceritakan perubahan pandangan yang membuatnya memutuskan meninggalkan FPI.
Nasihat istri, kekaguman terhadap KH Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, serta evaluasi terhadap pemahaman keagamaan menjadi sejumlah hal yang disebutnya berperan dalam perjalanan tersebut.
Setelah meninggalkan FPI, Rosbian memilih bergabung dengan PWI-LS dan mengajak mantan rekan-rekannya untuk mengikuti langkah yang sama.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak anggota Banser dan warga NU untuk memperkuat penghormatan kepada ulama serta mempelajari persoalan keagamaan melalui bacaan dan pertimbangan yang matang.
FAQ: Pertanyaan Seputar Rosbian Rimba Mantan Anggota FPI
1. Siapa Rosbian Rimba?
Rosbian Rimba merupakan nama yang dikenal dari Ruspianto, seorang pria asal Lampung yang pernah menjadi anggota FPI. Ia kemudian menetap di Pemalang dan bergabung dengan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS).
2. Mengapa Rosbian Rimba keluar dari FPI?
Rosbian menyebut keputusannya keluar dari FPI berkaitan dengan perubahan pandangan keagamaan. Ia mengaku mendapat banyak nasihat dari istrinya yang berlatar belakang NU dan mulai mengevaluasi pemahaman yang diterimanya ketika masih aktif di FPI.
3. Apakah Rosbian Rimba pernah menjadi pengurus FPI?
Dalam wawancara bersama Bahril Ulum, Rosbian mengaku pernah menjadi wakil ketua Satgas FPI di Kecamatan Batuceper, Tangerang.
4. Berapa orang yang pernah dibawa Rosbian dari Lampung dan Banten ke Jakarta?
Rosbian mengaku pernah membawa sekitar 75 orang dari Lampung dan 25 orang dari Banten. Total rombongan tersebut mencapai sekitar 100 orang.
5. Apakah Rosbian pernah menjadi pelatih bela diri FPI?
Ya. Rosbian mengaku pernah menjadi pelatih bela diri di lingkungan FPI Pemalang selama sekitar dua hingga tiga tahun. Ia mengatakan latihan yang diberikan mencakup perlindungan diri dan teknik menghadapi kerusuhan.
6. Apa alasan Rosbian menyebut dirinya hijrah?
Rosbian menggunakan istilah hijrah untuk menggambarkan perubahan perjalanan hidup dan pandangan keagamaannya setelah meninggalkan FPI dan bergabung dengan PWI-LS.
7. Siapa tokoh NU yang dikagumi Rosbian Rimba?
Rosbian secara khusus menyebut KH Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai dua tokoh NU yang dikaguminya. Ia juga menyebut dirinya sebagai Gusdurian.
8. Apa organisasi yang diikuti Rosbian setelah keluar dari FPI?
Setelah meninggalkan FPI, Rosbian menyatakan bergabung dengan Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS).
9. Apa pesan Rosbian kepada anggota Banser dan mantan anggota FPI?
Rosbian mengajak mantan anggota FPI, anggota Banser, dan warga NU untuk bergabung dengan PWI-LS. Ia juga mendorong masyarakat membaca dan mempelajari persoalan keagamaan sebelum menentukan sikap.
10. Apa aktivitas Rosbian Rimba di Pemalang selain organisasi?
Selain aktivitas organisasi, Rosbian mengaku membuka perguruan seni bela diri Harimau Sumatera di Kalirandu, Pemalang.
Catatan redaksional: Artikel ini disusun berdasarkan keterangan Rosbian Rimba dalam wawancara Bahril Ulum di kanal TV Alwah pada 3 November 2026.











