invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Hadirkan KH Nur Ihyak Hadinegoro, Bahas Klaim Keabsahan Nasab Ba’alawi Berdasarkan Manuskrip dan Kitab Klasik

WARTA BATAVIA – Podcast Rhoma Irama Official menghadirkan KH Nur Ihyak Hadinegoro yang memaparkan pandangannya mengenai klaim keabsahan nasab Ba’alawi dengan mengacu pada manuskrip, kitab klasik, dan penelitian sejarah.

Rhoma Irama Hadirkan KH Nur Ihyak Hadinegoro, Bahas Klaim Keabsahan Nasab Ba’alawi Berdasarkan Manuskrip dan Kitab Klasik

Dalam sebuah episode podcast di kanal Rhoma Irama Official yang tayang pada 5 Oktober 2024, Rhoma Irama menghadirkan KRT. KH. Nur Ihyak Hadinegoro sebagai narasumber untuk membahas polemik mengenai klaim keabsahan nasab Ba’alawi.

Percakapan yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut berisi pemaparan mengenai sejumlah manuskrip, kitab nasab, serta referensi sejarah yang menurut KH Nur Ihyak menjadi dasar penelitian yang selama ini ia lakukan. Di sepanjang dialog, Rhoma Irama beberapa kali meminta penjelasan mengenai berbagai klaim yang berkembang terkait nasab Ba’alawi, termasuk mengenai penyebutan ratusan ulama yang disebut mengakui keabsahan nasab tersebut.

Pada awal pembicaraan, Rhoma Irama menjelaskan alasan mengangkat kembali tema nasab. Menurutnya, masih terdapat sejumlah hal yang perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

Ia mengatakan bahwa setelah sebelumnya muncul pernyataan yang menyebut Ba’alawi bukan merupakan zuriyah Nabi Muhammad SAW, polemik justru terus berlanjut karena hadir berbagai tanggapan dari sejumlah pihak.

Rhoma Irama kemudian memperkenalkan KH Nur Ihyak Hadinegoro sebagai salah satu tokoh yang menurutnya konsisten melakukan kajian mengenai persoalan tersebut.

Menurut Rhoma Irama, tujuan pembahasan itu bukan untuk memunculkan kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan untuk membahas persoalan berdasarkan data yang tersedia sebagaimana disampaikan narasumber.

KH Nur Ihyak: Kajian Dilakukan Berdasarkan Data dan Referensi

KH Nur Ihyak: Kajian Dilakukan Berdasarkan Data dan Referensi

Dalam pemaparannya, KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan bahwa penelitian yang ia lakukan didasarkan pada referensi tertulis dan manuskrip yang berhasil dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Ia mengatakan pembahasan tersebut tidak didorong oleh rasa kebencian maupun kepentingan tertentu.

Menurutnya, seluruh kesimpulan yang ia sampaikan merupakan hasil penelusuran terhadap berbagai sumber sejarah yang tersedia.

KH Nur Ihyak juga menyampaikan bahwa saat memenuhi undangan podcast tersebut, dirinya membawa sejumlah referensi yang menurutnya dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut.

Ia menyebut bahwa selama ini banyak kitab yang sulit diakses oleh masyarakat maupun para ulama Indonesia sehingga berbagai informasi mengenai isi kitab tersebut lebih banyak diterima berdasarkan penyebutan judulnya tanpa dilakukan pemeriksaan langsung terhadap isi naskah.

Mengaku Mengumpulkan Ratusan Kitab dan Manuskrip

Dalam dialog tersebut, KH Nur Ihyak mengatakan bahwa saat ini dirinya telah mengumpulkan lebih dari 200 kitab beserta manuskrip yang berkaitan dengan pembahasan nasab.

Menurutnya, seluruh dokumen tersebut menjadi dasar ketika menyampaikan pandangan mengenai persoalan yang sedang diperdebatkan.

Ia juga menyampaikan bahwa setiap kesimpulan yang disampaikan harus memiliki dasar berupa data, bukan hanya berdasarkan dugaan maupun penafsiran semata.

Di hadapan Rhoma Irama, KH Nur Ihyak menyatakan akan menyerahkan beberapa salinan manuskrip sebagai bahan kajian.

Ia menyebut di antaranya adalah manuskrip As-Suluk versi Berlin dan Jerman, serta kitab Ar-Raud al-Jali karya Sayyid Murtadha Az-Zabidi yang menurutnya sering dijadikan rujukan dalam pembahasan mengenai nasab Ba’alawi.

Menurut KH Nur Ihyak, keberadaan manuskrip asli menjadi penting agar setiap klaim dapat diperiksa langsung berdasarkan sumber primer.

Ia juga mengatakan bahwa sebagian besar dokumen tersebut nantinya akan dibagikan dalam bentuk PDF kepada masyarakat melalui kanal yang dikelolanya, meskipun menurutnya masih ada sebagian isi manuskrip yang belum akan dipublikasikan.

Penjelasan Mengenai Klaim 140 Ulama

Salah satu pembahasan utama dalam podcast tersebut adalah mengenai klaim yang menyebut sekitar 140 ulama telah mengisbat atau mengakui keabsahan nasab Ba’alawi.

Rhoma Irama meminta penjelasan kepada KH Nur Ihyak mengenai dasar pandangannya terhadap klaim tersebut.

Menanggapi pertanyaan itu, KH Nur Ihyak mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya, angka tersebut perlu diverifikasi kembali melalui sumber-sumber awal.

Ia menjelaskan bahwa menurut penelusurannya, terdapat kitab yang hanya mencantumkan nama pengarang atau tokoh tertentu, tetapi isi kitabnya menurut dia tidak memuat penyebutan sebagaimana yang diklaim.

KH Nur Ihyak juga menjelaskan bahwa sebagian referensi yang disebut-sebut mendukung klaim tersebut menurutnya merupakan hasil penafsiran terhadap karya ulama sebelumnya.

Dalam penjelasannya, ia mencontohkan kitab Tabaqat Asyraf Ath-Thalibiyyin yang menurutnya hanya memuat sekitar 70 ulama nasab.

Ia mengatakan bahwa setelah dilakukan verifikasi terhadap berbagai kitab tersebut, sebagian besar di antaranya menurut hasil penelitiannya tidak memuat penyebutan sebagaimana yang selama ini diklaim.

Menurut KH Nur Ihyak, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia terus mendorong agar masyarakat maupun kalangan akademik memeriksa langsung manuskrip-manuskrip yang dijadikan dasar dalam berbagai pembahasan mengenai nasab.

Rhoma Irama Menilai Kajian Perlu Didasarkan pada Pemeriksaan Sumber

Selama dialog berlangsung, Rhoma Irama beberapa kali menyampaikan bahwa setiap klaim sejarah sebaiknya ditelaah kembali melalui data dan sumber yang tersedia.

Ia menilai pentingnya melakukan verifikasi terhadap kitab maupun manuskrip yang dijadikan dasar suatu pendapat.

Rhoma Irama juga menyampaikan bahwa menurut pemahamannya, keberadaan banyak pendapat tidak otomatis menutup ruang untuk dilakukan penelitian ulang apabila ditemukan sumber-sumber baru.

Karena itu, ia meminta KH Nur Ihyak menjelaskan secara rinci metode yang digunakan dalam meneliti berbagai manuskrip yang disebutkan sepanjang dialog tersebut.

KH Nur Ihyak menjelaskan secara rinci metode yang digunakan dalam meneliti berbagai manuskrip

Penelusuran Manuskrip dan Kitab Menjadi Dasar Kajian

Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak Hadinegoro mengatakan bahwa penelitian mengenai nasab tidak cukup dilakukan dengan mengutip pendapat ulama pada masa berikutnya. Menurut dia, sebuah kesimpulan perlu dikembalikan kepada sumber paling awal yang dapat diverifikasi.

Ia menjelaskan bahwa setiap kitab yang dijadikan rujukan perlu dibandingkan dengan manuskrip asli apabila masih tersedia. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan isi antara manuskrip dengan versi cetak yang beredar.

KH Nur Ihyak mengatakan bahwa selama melakukan penelitian, dirinya menemukan sejumlah perbedaan yang menurutnya perlu menjadi perhatian para peneliti sejarah maupun ilmu nasab.

Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya mengetahui judul kitab, tetapi juga perlu memahami isi naskah secara menyeluruh agar tidak terjadi kesalahan dalam menarik kesimpulan.

Menurutnya, penelitian terhadap manuskrip membutuhkan proses yang panjang karena harus dilakukan dengan membandingkan berbagai salinan yang berasal dari perpustakaan maupun koleksi berbeda.

Penjelasan Mengenai Kitab As-Suluk

Dalam dialog tersebut, KH Nur Ihyak memberikan penjelasan cukup panjang mengenai kitab As-Suluk fi Thabaqat al-Ulama wa al-Muluk.

Menurutnya, kitab tersebut sering dijadikan salah satu rujukan dalam pembahasan sejarah tokoh-tokoh di Yaman.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan pembacaan terhadap manuskrip yang dimilikinya, terdapat bagian yang menurutnya kemudian dipahami secara berbeda oleh penulis-penulis setelahnya.

KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa menurut hasil penelitiannya, sejumlah penulis berikutnya mengutip pemahaman yang sama sehingga pandangan tersebut terus berulang dalam berbagai karya sesudahnya.

Ia mengibaratkan proses itu seperti sebuah lokomotif yang menarik gerbong-gerbong di belakangnya. Dalam analoginya, apabila pemahaman awal keliru, maka kutipan yang mengikuti sumber tersebut berpotensi mengulang kesalahan yang sama.

Menurut dia, karena itulah verifikasi terhadap sumber pertama menjadi bagian penting dalam penelitian sejarah.

Pandangan Mengenai Klaim yang Bersumber dari Kitab-Kitab Berikutnya

KH Nur Ihyak mengatakan bahwa berbagai kitab yang muncul setelahnya menurut hasil penelitiannya banyak mengutip referensi sebelumnya.

Ia menyebut beberapa karya yang menurutnya memiliki hubungan kutipan satu sama lain sehingga perlu dipahami dalam konteks kronologi penulisannya.

Menurut penjelasannya, peneliti tidak cukup hanya membaca kitab yang terbit belakangan, melainkan juga harus menelusuri dari mana informasi tersebut pertama kali berasal.

Ia menilai metode seperti itu dapat membantu mengetahui apakah suatu informasi merupakan data primer atau hanya pengulangan dari sumber sebelumnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rhoma Irama kembali menanyakan mengenai klaim yang menyebut adanya dukungan ratusan ulama terhadap keabsahan nasab Ba’alawi.

KH Nur Ihyak menjawab bahwa menurut pandangannya, para ulama yang disebut dalam klaim tersebut belum tentu melakukan pemeriksaan terhadap sumber awal yang menjadi dasar informasi.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat terjadi karena keterbatasan akses terhadap manuskrip pada masa lalu.

Menilai Perlu Verifikasi terhadap Sumber Awal

KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa menurut hasil penelitiannya, tokoh yang pertama kali dijadikan rujukan dalam sejumlah pembahasan bukan merupakan pakar ilmu nasab.

Ia mengatakan bahwa hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia menilai penting untuk membedakan karya yang ditulis oleh ahli nasab dengan karya yang berasal dari bidang keilmuan lain.

Menurutnya, dalam kajian ilmu nasab terdapat syarat tertentu mengenai otoritas penulis yang dapat dijadikan rujukan.

Karena itu, ia menyampaikan bahwa proses verifikasi terhadap penulis, waktu penulisan, serta konteks penyusunan kitab menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penelitian.

Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa penjelasan tersebut memberikan gambaran mengenai pentingnya menelusuri sumber awal sebelum menerima suatu klaim sebagai kesimpulan.

Pembahasan Mengenai Lima Kitab Sejarah Yaman

Pada bagian lain dialog, KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa dirinya menaruh perhatian pada sejumlah kitab sejarah dan biografi ulama Yaman.

Ia menyebut beberapa judul kitab yang menurutnya menjadi bahan penelitian, antara lain As-Suluk fi Thabaqat al-Ulama wa al-Muluk, Tuhfatuz Zaman fi Tarikh Sadat al-Yaman, Thabaqat Shulaha al-Yaman, Thabaqat Khawas Ahl ash-Shidq wal Ikhlas, serta kitab-kitab sejarah Yaman lainnya.

Menurut KH Nur Ihyak, kelima kitab tersebut dipelajari karena dianggap memuat informasi mengenai tokoh-tokoh dan perkembangan masyarakat Yaman pada berbagai periode.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya terhadap manuskrip yang dimiliki, dirinya tidak menemukan penyebutan tertentu sebagaimana yang menurutnya selama ini diklaim dalam polemik tersebut.

Dalam podcast itu, KH Nur Ihyak bahkan menyampaikan bahwa apabila ditemukan data dalam kitab-kitab tersebut yang sesuai dengan klaim dimaksud, dirinya menyatakan bersedia menerima hasil tersebut.

Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk keyakinannya terhadap metode penelitian yang menurutnya berlandaskan pemeriksaan manuskrip dan sumber primer.

Rhoma Irama Menanyakan Awal Mula Penelitian

Rhoma Irama kemudian menanyakan kapan KH Nur Ihyak mulai melakukan penelitian mengenai persoalan nasab.

Menjawab pertanyaan tersebut, KH Nur Ihyak mengatakan bahwa penelitian itu telah dilakukan sebelum polemik mengenai nasab ramai diperbincangkan di ruang publik.

Menurutnya, selama bertahun-tahun ia memilih tidak menyampaikan hasil penelitiannya secara terbuka karena merasa masih ada keraguan untuk berbicara mengenai isu yang sensitif tersebut.

Ia mengatakan bahwa pada waktu itu pandangan yang berkembang di masyarakat sudah cukup kuat sehingga dirinya merasa perlu berhati-hati sebelum menyampaikan hasil penelitian.

Namun setelah polemik mulai muncul di ruang publik, ia memutuskan untuk ikut menyampaikan hasil kajian yang selama ini telah dilakukan.

Rhoma Irama menilai kemunculan sejumlah peneliti yang membahas tema serupa menunjukkan bahwa kajian mengenai nasab menjadi perhatian lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Ia juga menyampaikan bahwa menurut pengamatannya, para narasumber yang hadir dalam berbagai podcast umumnya berusaha menyampaikan argumentasi berdasarkan data yang mereka miliki.

perbedaan hasil penelitian antara KH Nur Ihyak Hadinegoro dengan peneliti lain yang juga mengkaji persoalan nasab

Pembahasan Mengenai Perbedaan Hasil Penelitian

Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama menyinggung adanya perbedaan hasil penelitian antara KH Nur Ihyak Hadinegoro dengan peneliti lain yang juga mengkaji persoalan nasab.

Menanggapi hal tersebut, KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pada estimasi periode yang menurut hasil penelitiannya menjadi titik terputusnya data nasab.

Ia mengatakan bahwa perbedaan tersebut muncul karena masing-masing peneliti menggunakan dasar rujukan manuskrip yang berbeda.

Menurut KH Nur Ihyak, dirinya mengacu pada sejumlah manuskrip yang dibandingkan dengan versi cetakan sehingga ditemukan adanya tambahan maupun perubahan pada beberapa bagian naskah.

Ia menilai bahwa proses membandingkan manuskrip asli dengan edisi cetak menjadi langkah penting dalam penelitian sejarah.

Dalam dialog tersebut, ia juga mengingatkan agar setiap kitab yang telah mengalami proses penyalinan ataupun tahkik tetap dibandingkan kembali dengan manuskrip awal apabila memungkinkan.

Menyoroti Pentingnya Membandingkan Manuskrip dan Edisi Cetak

KH Nur Ihyak menjelaskan bahwa selama penelitian, dirinya menemukan sejumlah perbedaan antara manuskrip dengan versi cetak beberapa kitab.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan mengapa penelitian terhadap naskah kuno memerlukan kehati-hatian.

Ia mengatakan bahwa peneliti tidak cukup hanya membaca edisi yang telah dicetak, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana isi manuskrip sebelum mengalami proses penyalinan atau penyuntingan.

Dalam penjelasannya, ia mencontohkan beberapa kitab yang menurutnya perlu dikembalikan kepada manuskrip asli agar dapat diketahui bagian-bagian yang mengalami perubahan.

Menurut KH Nur Ihyak, langkah tersebut merupakan bagian dari metode penelitian filologi yang bertujuan memperoleh bacaan sedekat mungkin dengan naskah awal.

Pembahasan Mengenai Konsistensi Data Sejarah

Percakapan kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai konsistensi data sejarah yang terdapat dalam berbagai kitab.

KH Nur Ihyak menyampaikan bahwa selama melakukan penelitian, dirinya menemukan sejumlah perbedaan mengenai tahun kelahiran, tahun wafat, maupun urutan silsilah tokoh yang disebut dalam berbagai referensi.

Menurut dia, adanya variasi data tersebut perlu dikaji lebih lanjut sebelum dijadikan dasar penetapan suatu kesimpulan.

Ia menambahkan bahwa penelitian sejarah memerlukan proses pencocokan antara satu sumber dengan sumber lain sehingga dapat diketahui mana informasi yang saling mendukung dan mana yang berbeda.

Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa penelitian seperti itu memerlukan ketelitian tinggi karena berkaitan dengan dokumen sejarah yang tersebar di berbagai tempat.

Penjelasan Mengenai Manuskrip yang Diserahkan kepada Rhoma Irama

Menjelang akhir podcast, KH Nur Ihyak menyerahkan sejumlah salinan manuskrip kepada Rhoma Irama.

Ia menjelaskan bahwa dokumen tersebut berasal dari koleksi manuskrip yang menurutnya tersimpan di perpustakaan luar negeri, termasuk Berlin.

Selain manuskrip tersebut, ia juga menyerahkan kitab yang menurutnya dapat digunakan sebagai bahan kajian lebih lanjut oleh para ulama maupun peneliti.

Menurut KH Nur Ihyak, tujuan penyerahan dokumen itu agar kajian mengenai persoalan nasab dapat dilakukan secara langsung berdasarkan sumber yang tersedia.

Rhoma Irama menerima dokumen tersebut dan menyampaikan harapannya agar bahan-bahan tersebut dapat dipelajari lebih lanjut oleh kalangan akademisi maupun ulama.

KH Nur Ihyak menyampaikan harapan agar pembahasan mengenai sejarah dan nasab dilakukan melalui penelitian ilmiah yang terbuka

Ajakan Melakukan Kajian Secara Terbuka

Dalam penutupan dialog, KH Nur Ihyak menyampaikan harapan agar pembahasan mengenai sejarah dan nasab dilakukan melalui penelitian ilmiah yang terbuka.

Ia mengatakan bahwa perbedaan pendapat sebaiknya disikapi dengan mengedepankan data, manuskrip, dan referensi yang dapat diperiksa bersama.

Menurutnya, proses penelitian akan terus berkembang seiring ditemukannya sumber-sumber baru maupun manuskrip yang sebelumnya sulit diakses.

Ia juga menyampaikan harapan agar para peneliti, ulama, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap kajian sejarah dapat terus melakukan verifikasi terhadap berbagai referensi yang digunakan.

Sementara itu, Rhoma Irama menutup perbincangan dengan menyampaikan apresiasi kepada KH Nur Ihyak atas kesediaannya hadir dalam podcast tersebut.

Rhoma Irama mengatakan bahwa dialog tersebut diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan pembahasan mengenai nasab dan sejarah.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Rhoma Irama kepada KH Nur Ihyak, disusul penyerahan salinan manuskrip dari KH Nur Ihyak kepada Rhoma Irama sebagai simbol berbagi bahan kajian untuk penelitian lebih lanjut.

FAQ

Apa yang dibahas dalam podcast Rhoma Irama Official bersama KH Nur Ihyak Hadinegoro?

Podcast tersebut membahas polemik mengenai klaim keabsahan nasab Ba’alawi berdasarkan pemaparan KH Nur Ihyak Hadinegoro yang mengacu pada manuskrip, kitab klasik, dan hasil penelitian yang ia sampaikan selama dialog berlangsung.

Kapan podcast tersebut ditayangkan?

Dialog antara Rhoma Irama dan KH Nur Ihyak Hadinegoro ditayangkan melalui kanal Rhoma Irama Official pada 5 Oktober 2024.

Apa fokus utama penjelasan KH Nur Ihyak Hadinegoro?

Fokus utama penjelasan KH Nur Ihyak adalah pemaparan mengenai hasil penelusuran manuskrip, kitab-kitab sejarah, dan referensi ilmu nasab yang menurutnya perlu diverifikasi secara langsung melalui sumber primer.

Apakah dalam podcast dibahas mengenai klaim 140 ulama?

Ya. Rhoma Irama meminta penjelasan mengenai klaim bahwa sekitar 140 ulama disebut mengakui keabsahan nasab Ba’alawi. KH Nur Ihyak kemudian menyampaikan pandangannya berdasarkan hasil penelitian yang ia paparkan dalam dialog tersebut.

Apa pesan penutup dalam podcast?

Di akhir acara, kedua narasumber sama-sama menekankan pentingnya kajian yang didasarkan pada penelitian, penelusuran referensi, dan pemeriksaan manuskrip sebagai bagian dari proses memahami sejarah dan ilmu nasab.

Kesimpulan

Podcast Rhoma Irama Official edisi 5 Oktober 2024 menghadirkan diskusi panjang mengenai polemik nasab Ba’alawi dengan menghadirkan KRT. KH. Nur Ihyak Hadinegoro sebagai narasumber. Selama dialog, KH Nur Ihyak memaparkan pandangan dan hasil penelitiannya mengenai berbagai manuskrip, kitab nasab, serta referensi sejarah yang menurutnya menjadi dasar kajiannya.

Sementara itu, Rhoma Irama berperan sebagai pewawancara dengan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait klaim-klaim yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk mengenai penyebutan ratusan ulama, penggunaan manuskrip klasik, hingga pentingnya melakukan verifikasi terhadap sumber-sumber sejarah. Dialog ditutup dengan penyerahan salinan manuskrip kepada Rhoma Irama sebagai bahan kajian lanjutan serta ajakan agar penelitian mengenai sejarah dan nasab dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang terbuka berdasarkan sumber-sumber yang dapat ditelusuri.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button