Riset Papazara Insight: Mayoritas Responden Minta Klaim Nasab Nabi Diuji Secara Ilmiah, 52,7 Persen Akui Ada Tekanan Sosial

Warta Batavia – Charly Al-Jaelani melalui kanal Papazara Insight memaparkan hasil riset yang menurutnya menunjukkan kecenderungan mayoritas responden menghendaki setiap klaim keturunan Nabi Muhammad SAW ditempatkan dalam kerangka kajian ilmiah dan verifikasi yang hati-hati.
Dalam pemaparannya, Charly menyebut hasil survei tersebut berasal dari riset yang melibatkan 501 responden yang terdiri atas pengurus NU struktural, NU kultural, nonpengurus NU, santri, hingga masyarakat umum.
Mayoritas Tidak Menolak Konsep Keturunan Nabi
Pada awal pemaparannya, Charly menegaskan bahwa mayoritas responden tidak menolak konsep adanya keturunan Nabi Muhammad SAW.
Namun, menurutnya, responden menginginkan agar setiap klaim nasab tetap diuji melalui pendekatan ilmiah.
Ia menyebut hanya sekitar 0,5 persen responden yang menerima klaim keturunan Nabi tanpa mempertanyakan asal-usul atau klan yang mengajukannya.
Sementara itu, sekitar 51,8 persen responden menghendaki adanya penelitian atau pemeriksaan ilmiah terhadap setiap klaim tersebut.
Menurut Charly, temuan tersebut menunjukkan adanya pemisahan antara penghormatan terhadap tokoh agama dengan penerimaan terhadap klaim genealogi.
Penghormatan kepada Habib Disebut Tetap Ada
Dalam penjelasannya, Charly mengatakan mayoritas responden tetap menghormati figur habib secara sosial.
Namun, ia menyatakan penghormatan tersebut tidak otomatis diikuti dengan penerimaan terhadap klaim nasab tanpa proses verifikasi.
Ia menyebut hasil riset menunjukkan responden membedakan penghormatan kepada individu dengan pembuktian ilmiah mengenai garis keturunan.
Menurutnya, responden tetap menghormati habib sebagai bagian dari adab dalam kehidupan sosial dan keagamaan, tetapi persoalan nasab ditempatkan dalam ranah penelitian.
Sebanyak 52,7 Persen Mengaku Ada Tekanan Sosial
Salah satu temuan yang paling disoroti dalam pemaparan tersebut adalah mengenai adanya tekanan sosial.
Charly mengatakan sebanyak 52,7 persen responden mengaku terdapat tekanan sosial yang memengaruhi sikap masyarakat dalam polemik mengenai nasab.
Menurutnya, angka tersebut berasal dari jawaban atas pertanyaan survei mengenai apakah tekanan sosial memengaruhi pemikiran responden.
Ia merinci terdapat 14,4 persen responden yang menyatakan sangat setuju dan 38,3 persen menyatakan setuju bahwa tekanan sosial memengaruhi sikap umat terhadap polemik nasab.
Berdasarkan hasil tersebut, Charly menyatakan polemik nasab tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya bebas karena menurut responden terdapat faktor tekanan sosial.
Membandingkan Riset Media Sosial dan Lapangan
Selain survei lapangan, Charly juga memaparkan hasil pengamatannya terhadap aktivitas media sosial selama sekitar tiga bulan.
Ia menyebut pengamatan dilakukan terhadap komentar-komentar yang muncul pada berbagai konten mengenai polemik nasab.
Menurutnya, komentar yang diamati berasal dari akun-akun yang menunjukkan pemahaman cukup mendalam mengenai organisasi NU dan pembahasan nasab.
Charly mengatakan terdapat pola komentar yang menurutnya konsisten selama periode Juli hingga September.
Ia menyebut sebagian komentar menggunakan akun anonim, namun memiliki narasi panjang dan argumentasi yang dinilai menunjukkan pemahaman terhadap isu yang dibahas.
Berdasarkan pengamatannya, ia kemudian mengembangkan hipotesis mengenai adanya perbedaan sikap seseorang di ruang publik dan di media sosial.
Hasil Riset Lapangan
Dalam riset lapangan yang dipaparkan, Charly menyebut sebanyak 86,5 persen responden menyatakan tidak percaya terhadap klaim nasab yang menjadi objek penelitian.
Sementara itu, sekitar 3,1 persen responden disebut masih mempercayainya, sedangkan sisanya berada pada posisi netral.
Menurut Charly, angka tersebut menunjukkan mayoritas responden tidak menerima klaim nasab secara langsung tanpa kajian.
Pengaruh Kajian Ilmiah
Paparan tersebut juga menyinggung pengaruh kajian akademik terhadap perubahan pandangan responden.
Charly mengatakan sekitar 89,9 persen responden mengaku pandangannya dipengaruhi oleh kajian ilmiah yang membahas persoalan nasab.
Menurutnya, berbagai kajian yang beredar membuat sebagian responden mempelajari kembali isu tersebut sebelum menentukan sikap.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam kajian filsafat terdapat konsep tesis, antitesis, dan sintesis sebagai bagian dari proses pengujian suatu gagasan.
Dalam konteks tersebut, ia menyebut sebuah tesis akan memperoleh pengujian melalui antitesis sebelum menghasilkan sintesis.
Kritik Nasab Dinilai Tidak Selalu Dianggap Tidak Beradab
Dalam hasil surveinya, Charly juga menyampaikan bahwa 78,6 persen responden menolak anggapan bahwa kritik terhadap persoalan nasab merupakan tindakan yang tidak beradab.
Menurutnya, responden tetap membedakan antara penghormatan terhadap seseorang dengan pembahasan ilmiah mengenai silsilah.
Ia menyatakan hasil tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan responden untuk menempatkan persoalan nasab dalam ruang kajian akademik.
Empat Temuan Utama
Dalam penutup pemaparannya, Charly merangkum empat angka utama yang menurutnya saling berkaitan, yaitu:
- 52,7 persen responden mengakui adanya tekanan sosial.
- 86,5 persen responden menyatakan tidak percaya terhadap klaim nasab yang menjadi objek penelitian.
- 78,6 persen responden menolak anggapan bahwa kritik terhadap nasab merupakan tindakan yang tidak beradab.
- 89,9 persen responden menyatakan pandangannya dipengaruhi oleh kajian ilmiah yang dibahas dalam penelitian.
Menurut Charly, keempat temuan tersebut menjadi dasar hipotesis yang ia sampaikan mengenai adanya perbedaan antara sikap sosial di ruang publik dan pandangan pribadi sebagian responden terhadap polemik nasab.
Melibatkan 501 Responden
Di akhir pemaparannya, Charly menyampaikan apresiasi kepada seluruh responden yang telah berpartisipasi dalam riset.
Ia menyebut survei tersebut melibatkan 501 responden yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kiai, ulama, santri, pengurus NU, maupun masyarakat umum.
Menurutnya, hasil riset tersebut masih terbuka untuk diuji kembali melalui penelitian lanjutan maupun pengujian hipotesis yang lebih mendalam.
Referensi berita:





2 Comments