invisible hit counter
Nasional

KH Marzuki Mustamar Tegaskan Pentingnya Menjaga NKRI dan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah

WARTA BATAVIAMalang – Dalam acara puncak silaturahmi dan sarasehan yang digelar di kanal Ummatina pada 29 Juli 2026, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilos Malang, Dr. K.H. Marzuki Mustamar, menyampaikan sejumlah pandangan mendalam mengenai kewajiban menjaga tanah air, ancaman terhadap akidah Ahlussunnah Wal Jamaah, serta kritik terhadap beberapa kelompok yang dinilai memiliki agenda tertentu.

Profil Singkat KH Marzuki Mustamar

KH Marzuki Mustamar merupakan ulama karismatik sekaligus akademisi yang lahir di Blitar pada 22 September 1966. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad (Sabilos) Malang.

Riwayat Pendidikan Formal dan Non-Formal

Pendidikan formal beliau ditempuh mulai dari TK Muslimat Karangsono, Blitar (selesai 1972), Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum (1979), SMP Hasanuddin (1982), MAN Tlogo Blitar (1985), hingga meraih sarjana di IAIN Malang (1990). Gelar Magister diperoleh dari Universitas Islam Lamongan (2004), dan gelar Doktor dari UNISMA Universitas Islam Malang (2023).

Saat ini, beliau juga aktif sebagai dosen di Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam organisasi, beliau pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Malang dua periode, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, serta Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2018-2023.

Karya-karya besar beliau dituangkan melalui berbagai kitab dan buku, termasuk kitab Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat yang berisi sanggahan terhadap paham yang dianggap menyimpang dari Ahlussunnah.

Misi Himayatul Wathon: Menjaga Tanah Air dari Ancaman Asing

Dalam paparannya, KH Marzuki Mustamar menekankan pentingnya **himayatul waton** (menjaga negeri) sebagai salah satu misi yang diemban oleh Nahdlatul Ulama. Menurutnya, negeri ini harus dijaga agar tidak dikuasai, dikendalikan, atau dieksploitasi oleh orang lain.

Landasan Fikih Menjaga Tanah Air

Beliau menjelaskan bahwa menjaga keutuhan wilayah adalah bagian dari pemahaman fikih. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa sah dan diterimanya ibadah salat berkaitan dengan status tanah tempat seseorang melaksanakan salat.

“Salat pun kalau tidak di tanahnya sendiri, tapi fi ardin maghsubah, salatnya sah tapi enggak diterima,” tegasnya.

KH Marzuki Mustamar menjelaskan bahwa salat di tanah air sendiri, di mana pun lokasinya di Nusantara, tetap sah dan diterima karena merupakan hak milik bangsa Indonesia. Membiarkan sejengkal pun tanah hilang berarti membiarkan hilangnya tempat salat umat Islam Indonesia.

Hadis tentang Pembabatan Tanah

Beliau mengutip hadis riwayat Imam Bukhari: “Man ahya ardan mayyitatan fahua ahaqqu biha min ghairik” (Siapa yang membabat tanah mati (tak bertuan) maka dia lebih berhak atas tanah itu dibandingkan orang lain).

Berdasarkan hadis ini, KH Marzuki Mustamar menjelaskan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah membabat dan mendiami wilayah Nusantara sejak ribuan tahun lalu, sehingga tanah air ini sah menjadi milik bangsa Indonesia melalui proses pewarisan turun-temurun.

Meneladani Nabi dalam Menjaga Wilayah

KH Marzuki Mustamar menyoroti bahwa Rasulullah SAW menjaga seluruh wilayah Madinah, termasuk daerah-daerah yang mayoritas penduduknya non-Muslim seperti Khaibar, Bani Quraidah, dan Bani Nadir. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga keutuhan wilayah bukanlah semata-mata perang agama, melainkan perang kepentingan bangsa.

“Nabi memandang negara tidak hanya dipandang yang mayoritas Islam. Yang dijaga, dihimayah oleh Nabi tidak hanya wilayah yang mayoritas Islam, tapi juga wilayah mayoritas nonmuslim,” ujarnya.

Dengan mencontohkan kebijakan Nabi tersebut, beliau menegaskan bahwa kewajiban menjaga Papua sama dengan kewajiban menjaga Lampung yang mayoritas Islam.

Hikmah Menjaga Wilayah Non-Muslim

Beliau menjelaskan dua hikmah penting menjaga seluruh wilayah NKRI:
1. Agar salat umat Islam tidak menjadi salat di tanah gasapan (milik orang lain)
2. Wilayah mayoritas non-Muslim merupakan lahan dakwah yang harus dijaga agar tidak hilang sebagai aset Islam

KH Marzuki Mustamar mencontohkan bahwa dirinya lebih mudah berdakwah ke Papua yang jauh karena memang milik Indonesia, dibandingkan ke negara tetangga yang dekat tetapi milik negara lain.

Ancaman dari Kelompok yang Tidak Nasionalis Sejati

Dalam paparannya, KH Marzuki Mustamar mengingatkan tentang bahaya kelompok yang meskipun telah menjadi warga negara Indonesia, namun hatinya tetap merindukan daerah asal nenek moyangnya. Beliau menyebut kelompok ini berpotensi menggerogoti kekayaan negara jika diberi kekuasaan.

Fenomena Penggerogotan Anggaran

Beliau menyebutkan contoh fenomena di mana yayasan milik kelompok tertentu mendapatkan hibah anggaran daerah dalam jumlah besar, sementara lembaga-lembaga NU setempat mendapat porsi yang jauh lebih kecil. Hal ini dinilainya sebagai bentuk penggerogotan yang terjadi jika kelompok tersebut berkuasa.

Nasab dan Klaim Keistimewaan

KH Marzuki Mustamar juga menyoroti doktrin yang menyatakan bahwa satu orang dari kelompok tertentu yang paling bodoh sekalipun lebih mulia daripada 70 kiai dan ulama. Menurutnya, ini adalah doktrin yang menyimpang dan berbahaya.

“Yang paling top itu sahabat utamanya Khulafaur Rasyid. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali. Kalau sampai punya keyakinan yang paling afdal bukan Abu Bakar, bukan Umar, bukan Utsman, bukan Ali, ente enggak usah jadi pengurus NU,” tegasnya.

Beliau mengingatkan bahwa meragukan kredibilitas sahabat berarti meragukan kebenaran Al-Quran, karena sahabatlah yang mentadwin (mengumpulkan) dan meriwayatkan bacaan Al-Quran.

KH Marzuki Mustamar Tegaskan Pentingnya Menjaga NKRI dan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah

Kritik terhadap Praktik Keagamaan yang Menyimpang

KH Marzuki Mustamar mengkritik beberapa praktik keagamaan yang dinilainya menyimpang dari ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah:

Pernikahan dan Isu Keturunan

Beliau menyoroti adanya aturan yang mengharamkan pernikahan antara kelompok tertentu dengan orang awam (ajam), namun mengecualikan tokoh-tokoh tertentu. Menurutnya, ini bukan hukum fikih atau syariah, melainkan kepentingan yang dibungkus dengan agama.

Doktrin Tobat Setelah Mati

KH Marzuki Mustamar mengkritik doktrin yang menyatakan bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan maksiat tetap bisa bertobat di alam kubur. Beliau menegaskan bahwa tobat hanya diterima selama seseorang belum mengalami sakaratul maut.

“Kalau kamu ikut kami sampai mati tetap maksiat pun enggak apa-apa. Sebab setelah mati di alam kubur, tobat katanya masih diterima. Dalilnya dari mana?” tanyanya.

Klaim Perjalanan Spiritual

Beliau juga menyoroti klaim beberapa tokoh yang mengaku dapat melakukan perjalanan spiritual ke Makkah untuk salat Jumat, padahal secara waktu dan logika hal itu tidak mungkin terjadi.

Pentingnya Tabayun dan Kritik terhadap PBNU

Di akhir paparannya, KH Marzuki Mustamar menyampaikan seruan pentingnya **tabayun** (klarifikasi) dalam menyelesaikan masalah, baik internal NU maupun dengan pihak lain. Beliau mengaku siap duduk bersama dengan PBNU untuk melakukan tabayun atas berbagai persoalan yang muncul.

“Daripada sekedar nuduh-nuduh dari jauh tanpa pernah tabayun,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukanlah upaya memecah belah umat, melainkan dalam rangka menjaga Ahlussunnah Wal Jamaah dan meluruskan doktrin-doktrin yang dinilainya sesat.

Penutup

KH Marzuki Mustamar mengakhiri paparannya dengan seruan untuk bersama-sama menjaga tanah air, menyelamatkan bangsa, dan melindungi akidah dari berbagai ancaman. Beliau juga menegaskan kesiapan PWI Jawa Timur untuk difasilitasi dalam dialog dan tabayun antar pihak.

FAQ

Siapa KH Marzuki Mustamar?

KH Marzuki Mustamar adalah ulama karismatik, pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad (Sabilos) Malang, dan mantan Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2018-2023. Beliau juga merupakan dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Apa itu himayatul waton?

Himayatul waton adalah konsep menjaga negeri yang menjadi salah satu misi Nahdlatul Ulama. Konsep ini menekankan kewajiban menjaga keutuhan wilayah NKRI dari ancaman penguasaan dan eksploitasi pihak asing, serta didasarkan pada landasan fikih dan hadis tentang kepemilikan tanah.

Mengapa KH Marzuki Mustamar menekankan pentingnya menjaga Papua?

Beliau menekankan bahwa menjaga Papua sama wajibnya dengan menjaga wilayah lain di Indonesia karena seluruh wilayah NKRI adalah milik bangsa Indonesia. Papua yang mayoritas non-Muslim merupakan lahan dakwah yang harus dijaga agar tidak hilang sebagai aset Islam.

Apa kritik KH Marzuki Mustamar terhadap kelompok tertentu?

Beliau mengkritik kelompok yang memiliki doktrin bahwa satu orang dari kelompoknya yang paling bodoh lebih mulia daripada 70 kiai, serta kelompok yang mengharamkan pernikahan dengan orang awam namun mengecualikan tokoh-tokoh tertentu. Menurutnya, ini adalah kepentingan yang dibungkus dengan agama.

Apa yang dimaksud dengan tabayun?

Tabayun adalah proses klarifikasi atau verifikasi informasi yang menjadi tradisi dalam Nahdlatul Ulama. KH Marzuki Mustamar menyerukan pentingnya tabayun untuk menyelesaikan berbagai permasalahan internal NU maupun dengan pihak lain, daripada saling menuduh tanpa klarifikasi yang jelas.

Bagaimana sikap KH Marzuki Mustamar terhadap PBNU?

Meskipun pernah diberhentikan dari jabatan Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar menyatakan sikap legowo dan menghormati keputusan organisasi. Beliau juga menyatakan kesiapan untuk duduk bersama dan melakukan tabayun dengan PBNU untuk menyelesaikan berbagai persoalan.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button