invisible hit counter
Nasional

Ceramah Gus Abbas: Makna Nahdlatul Ulama, Peran Ulama, hingga Kritik terhadap Pengurus NU (Bagian 1)

Gus Abbas Jelaskan Makna Nahdlatul Ulama dalam Perspektif Para Pendiri

Warta BataviaPATI – Gus Abbas menyampaikan penjelasan panjang mengenai makna Nahdlatul Ulama (NU), posisi ulama dalam organisasi, serta hubungan antara warga NU dan para pengurus organisasi dalam sebuah pengajian yang dihadiri para ulama, kiai, santri, dan masyarakat.

Pada awal ceramahnya, Gus Abbas mengawali dengan salam, pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian menyampaikan penghormatan kepada para ulama, kiai, keluarga pondok pesantren, serta seluruh jamaah yang hadir.

Ia juga meminta maaf kepada para hadirin karena memilih menyampaikan ceramah sambil duduk di kursi. Menurutnya, kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih setelah menjalani aktivitas selama sepekan tanpa istirahat yang cukup.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Abbas turut mengapresiasi pondok pesantren tempat berlangsungnya pengajian. Ia menyebut pesantren tersebut memiliki keunikan karena menggunakan nama Tarekat Syadziliyah yang memiliki sanad keilmuan.

Menurutnya, keberadaan sanad menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan ajaran keilmuan Islam.

Menjelaskan Arti Nahdlatul Ulama

Memasuki materi utama, Gus Abbas mengajak jamaah memahami kembali arti nama Nahdlatul Ulama.

Ia menjelaskan bahwa kata “Nahdlat” berarti kebangkitan, sedangkan “Ulama” berarti para ulama.

Menurutnya, pemahaman terhadap nama organisasi tersebut penting agar warga NU tidak kehilangan arah dalam memahami cita-cita para pendiri organisasi.

Ia mengatakan bahwa pada masa sekarang sering muncul berbagai polemik yang melibatkan pengurus NU. Namun menurutnya, masyarakat perlu membedakan antara organisasi NU dengan individu yang menjadi pengurusnya.

Menurut Gus Abbas, yang menjadi perdebatan selama ini lebih banyak berkaitan dengan pengurus, bukan terhadap organisasi Nahdlatul Ulama itu sendiri.

Ia menyampaikan bahwa warga NU tidak seharusnya mencampuradukkan antara nilai-nilai yang dibangun organisasi dengan tindakan individu yang sedang menjabat sebagai pengurus.

Membedakan NU dengan Pengurus Organisasi

Dalam ceramahnya, Gus Abbas menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang dibangun di atas ideologi Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana diwariskan para pendiri seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Khalil Bangkalan, KH Wahab Hasbullah, dan para ulama pesantren lainnya.

Menurutnya, ideologi tersebut berbeda dengan perilaku atau kebijakan individu yang sedang menjadi pengurus.

Ia mengatakan bahwa pengurus belum tentu selalu benar, sementara nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi tetap harus dihormati.

Karena itu, menurut Gus Abbas, kritik terhadap pengurus tidak otomatis berarti kritik terhadap Nahdlatul Ulama sebagai organisasi.

Ia juga menyampaikan bahwa mengkritik organisasi secara keseluruhan dapat dianggap sebagai bentuk ketidaksantunan apabila tidak dibedakan dengan kritik terhadap kebijakan pengurus.

Mengapa Bukan Nahdlatul Islam?

Dalam ceramah tersebut, Gus Abbas kemudian mengangkat pertanyaan mengenai alasan para pendiri memilih nama Nahdlatul Ulama, bukan Nahdlatul Islam maupun Nahdlatul Quran.

Ia menjelaskan bahwa organisasi tersebut didirikan bukan sekadar mengangkat nama Islam sebagai simbol, melainkan untuk menempatkan para ulama sebagai pembimbing umat.

Menurutnya, para ulama memiliki tugas membimbing masyarakat dalam memahami akidah, syariat, dan ajaran Islam berdasarkan ilmu.

Karena itu, penggunaan nama “Ulama” memiliki makna bahwa umat diarahkan untuk mengikuti bimbingan para ulama dalam menjalankan agama.

Ia menambahkan bahwa keberadaan ulama bukan untuk mengejar kepentingan pribadi maupun popularitas, melainkan sebagai pembimbing masyarakat menuju kehidupan beragama yang benar.

Ceramah Gus Abbas, Makna Nahdlatul Ulama, Peran Ulama, hingga Kritik pengurus NU

Gus Abbas Singgung Fenomena Politik yang Membawa Nama Islam

Dalam salah satu bagian ceramahnya, Gus Abbas juga menyinggung fenomena penggunaan nama Islam dalam dunia politik.

Ia menyampaikan contoh mengenai partai politik yang menggunakan identitas Islam namun kemudian menghadapi persoalan hukum.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menimbulkan persepsi negatif masyarakat terhadap Islam apabila identitas agama digunakan sebagai alat politik.

Karena itu, menurut Gus Abbas, para ulama pendiri NU memilih menggunakan nama Nahdlatul Ulama agar perjuangan organisasi tetap berfokus pada pembinaan umat melalui ilmu, bukan menjadikan nama Islam sebagai alat kepentingan tertentu.

Ulama Berjuang Demi Islam

Gus Abbas mengatakan bahwa para ulama NU tidak menjual nama Islam.

Sebaliknya, menurutnya, para ulama berjuang demi Islam melalui dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat.

Ia kemudian mengutip sebuah hadis yang menjelaskan kecintaan kepada ulama sebagai bagian dari kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Melalui penjelasan tersebut, ia menyampaikan bahwa pencantuman kata “ulama” dalam nama organisasi memiliki tujuan untuk menunjukkan pentingnya posisi ulama sebagai pembimbing umat.

Menurutnya, ulama menjadi penghubung masyarakat dalam memahami ajaran agama berdasarkan ilmu yang benar.

Nahdlatul Ulama Dibangun di Atas Ilmu

Selanjutnya Gus Abbas menjelaskan bahwa kata “ulama” merupakan bentuk jamak dari kata “alim”, yaitu orang yang memiliki ilmu.

Ia mengatakan bahwa sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama dibangun sebagai gerakan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah yang bertumpu pada ilmu.

Menurutnya, perjuangan organisasi bukan didasarkan pada emosi maupun permusuhan.

Ia juga menyatakan bahwa NU tidak memiliki konsep memerangi sesama umat Islam.

Meski demikian, ia menyebut bahwa para ulama NU tetap dapat bersikap kritis terhadap berbagai kelompok atau pemikiran yang dinilai perlu dikritisi.

Namun, menurutnya, kritik tersebut tidak menghilangkan pandangan bahwa sesama Muslim tetap merupakan saudara.

Definisi Ulama Menurut Al-Qur’an

Pada bagian berikutnya, Gus Abbas mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebut bahwa orang yang benar-benar takut kepada Allah adalah para ulama.

Berdasarkan ayat tersebut, ia menjelaskan bahwa ukuran seseorang disebut ulama bukan karena kekayaan, jabatan, popularitas, maupun kemampuan luar biasa.

Menurutnya, ukuran utama seorang ulama adalah rasa takut kepada Allah SWT.

Ia juga membedakan antara sebutan “kiai” dan “ulama”.

Dalam penjelasannya, seseorang dapat disebut kiai karena dihormati masyarakat, namun belum tentu memenuhi kriteria ulama sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

Sebaliknya, seorang ulama menurutnya adalah orang yang ilmunya membimbing masyarakat kepada akidah, syariat, dan akhlak yang benar serta menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai landasan hidupnya. (Qodrat Arispati)

Bersambung ke Bagian 2, yang akan membahas:

  • Penjelasan mengenai karamah dan ukuran seorang ulama.
  • Kisah Nabi Adam dan Iblis sebagai pelajaran tentang ilmu dan kesombongan.
  • Mengapa ilmu disebut sebagai anugerah Allah.
  • Hubungan kisah Nabi Adam dengan konsep keilmuan dalam Nahdlatul Ulama.

Referensi berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button