Bersihkan Sejarah dari Benalu Perusak – Renungan Hari Kemerdekaa RI 2026

Guru, Bangsa, dan Orang-Orang yang Selalu Datang Terlambat
Aku belajar agama darimu begitu lama.
Begitu lama hingga aku lupa menghitung umurku sendiri. Yang masih kuingat hanya wajahmu ketika mengajar: wajah yang tak pernah meminta dihormati, hanya meminta kami belajar. Kau tak banyak bicara tentang dirimu. Kau hanya bertanya, “Siapa Tuhanmu?” Dan pertanyaan itu, anehnya, lebih panjang usianya daripada semua pidato.
Aku juga masih ingat saat kau marah karena aku terlambat mengaji, atau tak ikut salat Subuh berjamaah. Dulu aku mengira kemarahan itu hukuman. Kini aku tahu, ia adalah bentuk kasih sayang yang tak pandai mencari kata-kata.
Guru, sekarang aku hidup di negeri yang juga seperti murid: mudah lupa.
Lupa kepada orang-orang yang membangun rumahnya, tetapi hafal nama tamu yang baru datang.
Lupa kepada mereka yang menanam padi, tetapi berebut mengaku memiliki sawah.
Lupa kepada mereka yang gugur tanpa sempat difoto, tetapi sibuk memoles wajah orang-orang yang datang ketika perang telah selesai.
Sejarah rupanya bukan lagi cermin. Ia menjadi panggung.
Dan di atas panggung itu, siapa yang paling keras berteriak sering kali dianggap paling berjasa.
Bangsa ini memang memiliki bakat yang aneh: lebih mudah percaya pada suara yang lantang daripada jejak yang panjang.
Padahal kemerdekaan tidak lahir dari mikrofon.
Ia lahir dari keringat, darah, doa, dan kesunyian.
Ada para kiai yang mengajar di surau reyot. Ada guru ngaji yang rumahnya lebih dekat ke kandang sapi daripada ke istana. Ada santri yang bahkan tak sempat menuliskan namanya sendiri sebelum tubuhnya jatuh di medan perjuangan.
Mereka tak meninggalkan baliho.
Tak meninggalkan slogan.
Apalagi siaran langsung.
Yang mereka tinggalkan hanya republik.
Lalu waktu berjalan.
Datanglah orang-orang yang gemar menulis ulang masa lalu.
Mereka tidak mengubah langit. Mereka hanya mengubah keterangan pada peta.
Mereka tidak memindahkan gunung. Mereka hanya mengganti papan nama.
Sejarah diperlakukan seperti rumah kosong: siapa yang lebih dulu membawa palu merasa berhak menjadi pemiliknya.
Begitulah ingatan perlahan diperdagangkan.
Hari ini ada yang mengaku pewaris semua jasa. Besok ada yang mengaku leluhur semua perjuangan. Lusa, mungkin akan ada yang mengaku menciptakan matahari.
Yang lebih mengherankan adalah para penonton.
Mereka bertepuk tangan.
Mungkin karena lupa.
Atau karena takut dianggap tidak ikut bertepuk tangan.
Fanatisme memang selalu dimulai dari kalimat sederhana: “Jangan bertanya.”
Padahal agama justru tumbuh dari pertanyaan.
Ilmu lahir dari keraguan yang jujur.
Dan iman tidak pernah takut diperiksa oleh akal.
Ironinya, semakin banyak orang mengutip langit, semakin sedikit yang mau membumi.
Mereka fasih menyebut surga, tetapi enggan membersihkan halaman rumah.
Mereka sibuk memuliakan silsilah, tetapi lupa memuliakan akhlak.
Seolah-olah darah lebih penting daripada perbuatan.
Seolah-olah pakaian lebih suci daripada hati.
Seolah-olah gelar dapat menggantikan kejujuran.
Guru, mungkin inilah zaman ketika simbol dipuja lebih tinggi daripada makna.
Orang berlomba memakai tanda kesalehan, tetapi malas memikul beban kesalehan.
Yang keras bukan lagi nurani, melainkan pengeras suara.
Yang ramai bukan lagi ilmu, melainkan pengikut.
Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan kemenangan.
Padahal sejarah memiliki kebiasaan buruk.
Ia sabar.
Ia diam.
Tetapi suatu hari ia selalu membuka arsipnya kembali.
Dan ketika itu terjadi, nama-nama yang dahulu berteriak mungkin tinggal gema. Sementara mereka yang bekerja dalam diam akan kembali ditemukan.
Aku lalu teringat kepadamu.
Guru yang tak pernah meminta dipanggil wali.
Tak pernah meminta dipuja.
Tak pernah menyuruh murid mencintai dirimu.
Kau hanya mengajarkan satu hal: jika agama membuatmu merasa lebih tinggi daripada orang lain, mungkin yang tumbuh bukan iman, melainkan kesombongan yang sedang memakai sorban.
Barangkali bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Yang kurang hanyalah orang yang bersedia jujur.
Dan mungkin, di situlah pelajaranmu belum selesai.
Sebab yang paling sulit dipelajari bukanlah kitab.
Melainkan keberanian untuk tidak berdusta kepada sejarah.
Dan kepada diri sendiri. (Qodrat Arispati)


