Mbah Sambu Lasem dalam Penelitian Dzuriyah: Mengulas Sejarah, Manuskrip, dan Peran Penyebaran Islam di Lasem

WARTA BATAVIA – Lasem, REMBANG, Dzuriyah Mbah Sambu Lasem, Gus Abdul Wahid, memaparkan hasil penelusuran sejarah mengenai Syekh Maulana Sambu Asmorokondi, perannya dalam perkembangan Islam di Lasem, serta pentingnya penelitian berbasis manuskrip dan data ilmiah.
Mbah Sambu Lasem dalam Penelitian Dzuriyah: Mengulas Sejarah, Manuskrip, dan Peran Penyebaran Islam di Lasem Menurut Penuturan Gus Abdul Wahid
Seorang dzuriyah Mbah Sambu Lasem, Gus Abdul Wahid, menyampaikan penjelasan panjang mengenai sejarah Syekh Maulana Sambu Asmorokondi, perkembangan Islam di Kadipaten Lasem, hingga berbagai versi silsilah yang berkembang di masyarakat. Penjelasan tersebut disampaikan dalam wawancara bersama Rembang TV pada 22 Juli 2025 di kompleks makam Kiai Raden Abdul Alim atau Mbah Abdul Azim di Desa Tuyuhan, Lasem, Kabupaten Rembang.
Dalam pemaparannya, Gus Abdul Wahid menegaskan bahwa penelitian sejarah sebaiknya dilakukan secara ilmiah dengan mengedepankan manuskrip, sumber primer, peninggalan sejarah, serta data yang dapat diverifikasi. Ia menyebut keberadaan berbagai versi mengenai Mbah Sambu merupakan sesuatu yang wajar dalam kajian sejarah, namun menurutnya setiap versi perlu diuji berdasarkan kekuatan sumber yang mendukungnya.
Lasem Disebut Memiliki Peran Penting dalam Awal Penyebaran Islam di Jawa
Pada awal wawancara dijelaskan bahwa Lasem merupakan salah satu kawasan penting dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa.
Menurut penjelasan narasumber, Kadipaten Lasem disebut telah mengakui Islam sebagai agama resmi bahkan sebelum berdirinya Kesultanan Demak. Dalam penuturan tersebut dikisahkan bahwa Adipati Wirobojro memiliki putra bernama Pangeran Wironegoro yang kemudian menikah dengan Nyai Ageng Maloka, putri tertua Sunan Ampel.
Setelah masa pemerintahan Pangeran Wironegoro, perkembangan Islam di Lasem disebut berlangsung semakin pesat.
Selanjutnya, pada masa Adipati Tejo Kusumo atau yang juga dikenal sebagai Mbah Sripet, dibangun Masjid Jami Lasem pada tahun 1588 Masehi. Dalam kesempatan itu pula disebutkan bahwa Syekh Maulana Sambu Asmorokondi diangkat sebagai wali negara sekaligus menjadi menantu keluarga adipati.
Mbah Abdul Alim Disebut Sebagai Penghulu Pertama Lasem
Wawancara dilakukan di kompleks makam Kiai Raden Abdul Alim atau Mbah Abdul Azim.
Dalam penjelasan pembawa acara disebutkan bahwa Abdul Alim merupakan putra tertua Mbah Sambu sekaligus penghulu pertama di wilayah Lasem.
Keberadaan makam tersebut dijadikan titik awal pembahasan mengenai perjalanan keluarga Mbah Sambu beserta kontribusinya terhadap perkembangan Islam di kawasan pesisir utara Jawa.
Gus Abdul Wahid menyampaikan apresiasi kepada Rembang TV yang melakukan peliputan mengenai sejarah perjuangan Mbah Sambu, Mbah Tejo Kusumo I, serta keturunannya. Ia berharap sejarah tersebut semakin dikenal masyarakat luas.

Gus Abdul Wahid: Banyak Versi Sejarah Mbah Sambu Perlu Diteliti Secara Ilmiah
Salah satu pokok utama dalam wawancara tersebut adalah pembahasan mengenai beragam versi sejarah Mbah Sambu.
Menurut Gus Abdul Wahid, keberadaan berbagai versi sejarah tidak bisa langsung dinilai benar ataupun salah.
Ia menilai setiap riwayat harus dipahami berdasarkan kualitas sumber yang digunakan.
Dalam penuturannya ia mengatakan bahwa dirinya sedang melakukan penelitian terhadap sejarah Mbah Sambu dengan meminta izin serta restu para sesepuh keluarga.
Penelitian tersebut, menurutnya, dilakukan secara ilmiah sehingga hasilnya dapat diuji maupun diverifikasi oleh pihak lain.
Ia menjelaskan bahwa penelitian sejarah memerlukan proses pencocokan antara manuskrip, peninggalan sejarah, sumber keluarga, hingga sumber eksternal yang saling menguatkan.
Versi Riwayat Keluarga Mengenai Asal Usul Mbah Sambu
Dalam pemaparannya, Gus Abdul Wahid menyampaikan salah satu riwayat keluarga mengenai asal-usul Mbah Sambu.
Ia menjelaskan bahwa menurut cerita keluarga, Mbah Sambu berasal dari kawasan Sambu di wilayah Dukun, Gresik.
Wilayah tersebut, menurutnya, berada tidak jauh dari daerah yang juga bernama Lasem.
Ia kemudian menghubungkan kisah tersebut dengan sejumlah cerita mengenai masa Kerajaan Kediri, Dharmawangsa, hingga kawasan Sedayu di Gresik.
Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari latar belakang sejarah yang menurutnya masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Ia juga menguraikan sejumlah kisah mengenai Narotama, pertapaan di Wonogiri, hingga perkembangan kerajaan pada masa tersebut sebagai bagian dari narasi sejarah keluarga.
Penafsiran Mengenai “Pagebluk” dalam Babat Carita Lasem
Gus Abdul Wahid kemudian menjelaskan pandangannya mengenai istilah “pagebluk” yang terdapat dalam Babat Carita Lasem.
Menurutnya, dalam riwayat keluarga, istilah tersebut tidak semata-mata dipahami sebagai wabah penyakit.
Ia menyampaikan dugaan bahwa istilah pagebluk kemungkinan merupakan bentuk penyamaran terhadap peristiwa pemberontakan yang dipimpin tokoh bernama Pusponegoro.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemberontakan tersebut berlangsung cukup lama dan berkaitan dengan situasi politik di Lasem pada masa Mbah Tejo Kusumo.
Menurutnya, penggunaan istilah pagebluk kemungkinan dipilih karena Pusponegoro masih memiliki hubungan kekerabatan sehingga penyebutan langsung sebagai pemberontak dihindari dalam riwayat tertentu.
Ia menekankan bahwa pandangan tersebut merupakan bagian dari hasil penelusuran sejarah yang masih terus dikaji.
Babat Carita Lasem Disebut Menggambarkan Sosok Mbah Sambu
Dalam wawancara tersebut, Gus Abdul Wahid juga mengutip isi Babat Carita Lasem.
Menurut penjelasannya, manuskrip tersebut menggambarkan Syekh Maulana Sambu Asmorokondi sebagai seorang wali yang memiliki kemampuan mendalam dalam syariat maupun hakikat Islam.
Ia mengatakan bahwa Babat Carita Lasem menggambarkan Mbah Sambu sebagai sosok yang memahami ajaran Nabi Muhammad, menguasai ilmu agama, serta tetap menghargai budaya Jawa.
Dalam penuturannya disebutkan pula bahwa naskah tersebut memberikan apresiasi kepada Mbah Sambu, sementara di sisi lain mengkritik kelompok yang dinilai hanya mengagungkan budaya luar tanpa memperhatikan tradisi leluhur.
Menurut Gus Abdul Wahid, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sosok Mbah Sambu memperoleh posisi penting dalam sejarah Lasem sebagaimana tercantum dalam manuskrip tersebut.
Jabatan Mbah Sambu di Kadipaten Lasem
Masih berdasarkan penjelasan narasumber, Mbah Sambu disebut diundang ke Lasem untuk membantu pengembangan kehidupan keagamaan.
Ia menggambarkan posisi tersebut sebagai wali negara yang mengurusi persoalan agama di Kadipaten Lasem.
Menurut analogi yang digunakan dalam wawancara, jabatan tersebut dapat dipahami sebagai pemimpin urusan keagamaan atau mufti pada masa sekarang.
Selain itu, jabatan tersebut disebut kemudian diteruskan kepada keturunan Mbah Sambu yang memegang posisi kepenghuluan di Lasem pada generasi-generasi berikutnya.
Gus Abdul Wahid juga menjelaskan bahwa keturunan laki-laki Mbah Tejo Kusumo tetap memegang jabatan adipati hingga masa tertentu sebelum kemudian terjadi berbagai perubahan struktur pemerintahan di wilayah Lasem.
Penelitian Dzuriyah Mbah Sambu Mengulas Peran dalam Sejarah Politik dan Penyebaran Islam di Lasem
Dalam lanjutan wawancara tersebut, Gus Abdul Wahid menguraikan hasil penelusurannya mengenai posisi Mbah Sambu dalam dinamika sejarah Kadipaten Lasem. Ia menjelaskan bahwa menurut riwayat keluarga yang sedang ditelitinya, kehadiran Mbah Sambu di Lasem tidak hanya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam, tetapi juga memiliki hubungan dengan situasi politik yang berkembang pada masa pemerintahan Adipati Tejo Kusumo.
Ia menegaskan bahwa berbagai informasi tersebut masih menjadi bagian dari penelitian sejarah yang terus dikembangkan melalui penelusuran manuskrip, dokumen keluarga, dan sumber-sumber sejarah lainnya.
Riwayat Keluarga Menyebut Mbah Sambu Berperan Menumpas Pemberontakan
Dalam penjelasannya, Gus Abdul Wahid menyampaikan bahwa berdasarkan riwayat yang ia terima dari keluarganya, Mbah Sambu disebut ikut berperan dalam mengatasi pemberontakan yang dikaitkan dengan tokoh bernama Pusponegoro.
Menurutnya, kisah tersebut selama ini tidak selalu muncul secara eksplisit dalam berbagai naskah karena berkaitan dengan hubungan kekerabatan di masa lampau.
Ia menjelaskan bahwa dalam riwayat keluarga, istilah “pagebluk” yang dikenal masyarakat dipahami sebagai bentuk penyamaran terhadap konflik politik pada masa itu.
Gus Abdul Wahid mengatakan bahwa dirinya masih terus menelusuri identitas Pusponegoro melalui berbagai catatan sejarah yang berkaitan dengan masa pemerintahan Mataram hingga era Sultan Agung.
Ia menyampaikan bahwa pencarian tersebut dilakukan dengan membandingkan berbagai nama tokoh yang muncul dalam sumber-sumber sejarah agar memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Tanah Perdikan Disebut Sebagai Bentuk Penghargaan
Masih berdasarkan penuturan narasumber, Mbah Sambu disebut memperoleh tanah perdikan sebagai bentuk penghargaan atas jasanya.
Menurut Gus Abdul Wahid, wilayah tersebut membentang dari kawasan sekitar Masjid Agung hingga sejumlah daerah lain yang disebut dalam wawancara.
Ia menggambarkan kawasan tersebut memiliki luas mencapai ratusan hektare.
Dalam penuturannya disebutkan bahwa kawasan Tuyuan pada masa itu berfungsi sebagai pesanggrahan atau tempat beristirahat.
Ia menambahkan bahwa wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas keluarga Mbah Sambu beserta keturunannya.
Kiai Raden Abdul Alim Disebut Menjadi Penghulu Pertama Lasem
Gus Abdul Wahid kemudian menjelaskan mengenai kedudukan Kiai Raden Abdul Alim sebagai putra tertua Mbah Sambu.
Menurut penuturannya, Abdul Alim memperoleh amanah sebagai penghulu pertama Lasem.
Ia menjelaskan bahwa pada masa berikutnya terjadi penataan kembali jabatan kepenghuluan di lingkungan kerajaan sehingga posisi tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya.
Dalam wawancara disebutkan bahwa Masjid di Desa Tuyuan pada awalnya berfungsi sebagai balai nikah.
Pelaksanaan salat Jumat, menurut penjelasan narasumber, tetap dipusatkan di Masjid Jami Lasem, sedangkan masjid di Tuyuan digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat di wilayah sekitarnya.
Silsilah Anak-anak Mbah Sambu Versi Manuskrip Keluarga
Salah satu bagian penting dalam wawancara adalah pemaparan mengenai silsilah keluarga Mbah Sambu.
Gus Abdul Wahid menjelaskan bahwa berdasarkan manuskrip keluarga yang digunakannya sebagai rujukan, Mbah Sambu memiliki beberapa putra.
Nama-nama yang disebutkan antara lain:
- Kiai Raden Abdul Alim atau Abdul Azim.
- Mbah Mahyadin atau Muhyidin.
- Mbah Ahmad Yusuf.
- Mbah Imam.
- Mbah Ahmad Nur Sam yang disebut meninggal ketika masih bujang.
Ia menjelaskan bahwa menurut manuskrip yang digunakannya, garis keturunan diteruskan oleh empat putra pertama.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Abdul Wahid juga menyampaikan bahwa dirinya belum menerima sejumlah silsilah yang beredar di luar keluarga, termasuk penyebutan nama Abdullah sebagai putra Mbah Sambu.
Menurutnya, hingga saat ini manuskrip yang berada di Tuyuan masih memiliki kesesuaian dengan manuskrip keluarga lain di Sedan maupun Bangilan sehingga dianggap saling mengonfirmasi.
Ia menegaskan bahwa penelitian tersebut tetap terbuka untuk pengkajian lebih lanjut apabila ditemukan sumber sejarah baru yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berbagai Versi Nasab Mbah Sambu Menurut Gus Abdul Wahid
Dalam sesi berikutnya, pembahasan beralih pada berbagai versi nasab Mbah Sambu yang berkembang di masyarakat.
Menurut Gus Abdul Wahid, perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika penelitian sejarah.
Ia menyampaikan bahwa setiap versi harus diuji melalui pendekatan ilmiah, terutama dengan melihat kesesuaian antara manuskrip, kronologi waktu, serta sumber-sumber eksternal.
Ia menegaskan bahwa penelitian sejarah tidak cukup hanya mengandalkan tradisi lisan, tetapi juga memerlukan pembanding dari dokumen lain yang berasal dari periode yang sama atau memiliki keterkaitan dengan tokoh yang sedang diteliti.
Versi Jalur Pangeran Benowo
Menurut Gus Abdul Wahid, salah satu versi yang cukup dikenal di masyarakat adalah jalur Pangeran Benowo.
Ia menyebut bahwa versi tersebut telah diyakini oleh banyak pihak.
Namun demikian, menurut hasil penelusurannya masih terdapat sejumlah bagian yang menurutnya memerlukan penelitian lanjutan, terutama mengenai posisi Mbah Sambu dalam silsilah tersebut.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak menolak sepenuhnya versi tersebut, tetapi masih melihat adanya beberapa bagian yang perlu dicocokkan kembali dengan kronologi sejarah yang tersedia.
Penelitian Mengenai Jalur Pangeran Drajat
Selain itu, Gus Abdul Wahid juga menyampaikan adanya temuan yang menurutnya menarik untuk diteliti lebih jauh.
Ia menyebut adanya manuskrip yang menghubungkan Mbah Sambu dengan Pangeran Drajat, putra Sunan Drajat.
Menurutnya, versi tersebut dinilai lebih sesuai dengan sejumlah keterangan dalam Babat Carita Lasem, terutama yang menyebut asal kedatangan Mbah Sambu dari wilayah Tuban.
Namun demikian, ia kembali menegaskan bahwa temuan tersebut masih berada dalam tahap penelitian.
Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak bermaksud menyatakan versi tersebut sebagai yang paling benar, melainkan sebagai salah satu hasil penelusuran yang masih perlu diuji melalui penelitian lanjutan.
Penilaian terhadap Versi Lain
Dalam wawancara tersebut, Gus Abdul Wahid juga menyinggung versi lain mengenai Mbah Sambu yang menurutnya memiliki tingkat dukungan sumber yang berbeda.
Ia menjelaskan bahwa dalam pandangannya, setiap riwayat sejarah perlu memperoleh dukungan dari manuskrip kuno maupun sumber eksternal.
Menurutnya, tokoh besar pada zamannya umumnya akan tercatat dalam berbagai sumber sejarah sehingga dapat dilakukan proses verifikasi silang.
Ia menyampaikan bahwa pendekatan tersebut menjadi dasar penelitian yang sedang dilakukannya agar hasil kajian tidak hanya bertumpu pada satu sumber semata, tetapi memperoleh penguatan dari berbagai data sejarah yang tersedia.
Pentingnya Penelitian Berbasis Manuskrip dan Data Pendukung
Pada bagian akhir sesi ini, Gus Abdul Wahid kembali menegaskan pentingnya penelitian sejarah yang didasarkan pada data ilmiah.
Menurutnya, manuskrip keluarga, naskah kuno, peninggalan sejarah, serta sumber-sumber pembanding merupakan unsur penting dalam proses penulisan sejarah.
Ia juga menyampaikan bahwa setiap versi sejarah sebaiknya disampaikan secara terbuka beserta kekuatan maupun kelemahannya sehingga dapat diuji oleh para peneliti maupun masyarakat.
Baginya, penelitian sejarah merupakan proses yang terus berkembang seiring ditemukannya data-data baru yang dapat memperkuat ataupun mengoreksi temuan sebelumnya.

Pandangan Gus Abdul Wahid tentang Pelestarian Sejarah dan Pentingnya Verifikasi Data
Dalam bagian akhir wawancara, Gus Abdul Wahid kembali menekankan pentingnya menjaga kesejarahan melalui pendekatan ilmiah. Ia menyatakan bahwa perbedaan pandangan dalam penelitian sejarah merupakan hal yang wajar selama setiap pendapat didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, sebuah versi sejarah tidak cukup hanya diyakini karena tradisi lisan atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat, tetapi perlu diuji menggunakan manuskrip, peninggalan sejarah, serta sumber-sumber pembanding yang relevan.
Ia mengatakan bahwa seluruh hasil penelitiannya selalu dibuka untuk diuji oleh peneliti lain sehingga proses kajian sejarah dapat berkembang secara akademis.
Dalam penjelasannya, ia juga menyampaikan bahwa Babat Carita Lasem menjadi salah satu sumber penting karena memuat sejumlah tokoh yang hidup pada masa perkembangan Islam di Lasem. Namun demikian, ia tetap menilai bahwa setiap naskah perlu dibandingkan dengan sumber lain agar memperoleh gambaran sejarah yang lebih lengkap.
Perbedaan Versi Sejarah Dinilai Sebagai Bagian dari Penelitian
Gus Abdul Wahid menjelaskan bahwa perbedaan versi mengenai Mbah Sambu maupun tokoh-tokoh lain tidak seharusnya menjadi alasan munculnya pertentangan.
Menurutnya, setiap peneliti berhak mengajukan argumentasi sepanjang memiliki data pendukung.
Ia menggambarkan penelitian sejarah seperti penyusunan sebuah tesis yang harus siap diuji oleh pihak lain.
Karena itu, ia menyatakan bahwa berbagai versi yang berkembang tetap dicatat dalam penelitiannya, sementara penilaian mengenai kuat atau lemahnya suatu versi didasarkan pada kelengkapan data yang berhasil ditemukan.
Ia menambahkan bahwa manuskrip keluarga, naskah kuno, peninggalan fisik, serta sumber eksternal menjadi unsur penting dalam proses verifikasi sejarah.
Nilai-Nilai yang Disebut Diwariskan Mbah Sambu kepada Generasi Berikutnya
Selain membahas sejarah, wawancara juga menyinggung nilai-nilai yang menurut Gus Abdul Wahid diwariskan oleh Mbah Sambu beserta keturunannya.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan cerita para leluhur di keluarganya, dakwah Islam pada masa itu dilakukan dengan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat sesuai kebutuhan zamannya.
Menurutnya, hubungan antara ulama dan masyarakat dibangun melalui kedekatan sosial.
Ia menuturkan bahwa pada masa lalu para santri tinggal bersama guru tanpa sistem pembiayaan sebagaimana dikenal saat ini.
Dalam pandangannya, hubungan antara guru dan murid ketika itu sangat erat sehingga melahirkan ikatan kekeluargaan yang kuat.
Ia juga mengisahkan bahwa sebagian tanah keluarga pada masa lampau dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian sosial.
Penjelasan tersebut disampaikan sebagai gambaran mengenai nilai-nilai yang menurutnya menjadi bagian dari tradisi dakwah para ulama terdahulu di Lasem.
Penjelasan Mengenai Desa Tuyuan dalam Riwayat Keluarga
Dalam sesi berikutnya, pembahasan beralih pada sejarah Desa Tuyuan.
Menurut Gus Abdul Wahid, terdapat lebih dari satu versi mengenai asal-usul kawasan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa salah satu versi menghubungkan wilayah itu dengan kisah Sunan Bonang, sementara versi lain mengaitkannya dengan aktivitas uzlah, zikir, dan tirakat yang dilakukan para ulama.
Menurut penuturannya, kawasan Tuyuan disebut telah dikenal sejak lama dan dalam beberapa riwayat berfungsi sebagai tempat pesanggrahan maupun lokasi berkhalwat.
Ia juga mengisahkan adanya sejumlah peninggalan yang menurut cerita keluarga pernah berada di kawasan tersebut, meskipun sebagian di antaranya disebut telah rusak atau hilang.
Dalam penjelasannya, Gus Abdul Wahid menyampaikan bahwa seluruh riwayat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.
Tanggapan Mengenai Fenomena Perubahan Nama Makam
Menjelang akhir wawancara, pembawa acara menanyakan pandangan Gus Abdul Wahid mengenai fenomena perubahan nama sejumlah makam yang menurutnya belakangan menjadi pembahasan di masyarakat.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Gus Abdul Wahid mengatakan bahwa masyarakat perlu bersikap kritis dalam menyikapi setiap perubahan informasi sejarah.
Menurutnya, apabila perubahan tersebut memiliki dasar berupa data sejarah yang dapat diverifikasi, maka hal itu dapat diteliti lebih lanjut.
Namun apabila hanya didasarkan pada pengalaman pribadi, mimpi, atau keyakinan individual tanpa dukungan sumber sejarah, menurutnya hal tersebut tidak dapat dijadikan dasar penulisan sejarah.
Ia menegaskan bahwa penulisan sejarah sebaiknya didasarkan pada manuskrip, dokumen, maupun bukti-bukti yang dapat diuji secara ilmiah.
Dalam pandangannya, apabila sebuah kisah masih berupa cerita turun-temurun tanpa dukungan data, maka penyampaiannya sebaiknya dibedakan antara kategori legenda, dongeng, maupun sejarah.
Pesan agar Sejarah Ditulis Berdasarkan Bukti
Masih dalam topik yang sama, Gus Abdul Wahid menyampaikan bahwa sejarah hendaknya ditulis apa adanya sesuai bukti yang tersedia.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah menerima setiap klaim tanpa proses verifikasi.
Menurutnya, manuskrip, peninggalan arkeologis, maupun sumber sejarah yang saling menguatkan menjadi dasar penting dalam penyusunan sejarah.
Ia juga menyampaikan bahwa sejarah tidak seharusnya diubah hanya karena mengikuti perkembangan narasi tertentu apabila tidak disertai data pendukung yang memadai.
Pesan kepada Generasi Muda untuk Menjaga Warisan Sejarah
Pada penutup wawancara, Gus Abdul Wahid menyampaikan pesan kepada generasi muda agar menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.
Menurutnya, ajaran yang diwariskan Mbah Sambu menekankan pentingnya hubungan yang baik kepada Tuhan sekaligus hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak membedakan manusia berdasarkan asal-usul semata, melainkan menempatkan akhlak dan ketakwaan sebagai nilai utama dalam kehidupan.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga peninggalan sejarah yang masih ada.
Menurutnya, apabila suatu peristiwa belum memiliki bukti sejarah yang memadai, maka penyampaiannya sebaiknya dijelaskan sebagai cerita atau riwayat, bukan langsung dinyatakan sebagai fakta sejarah.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat membantu menjaga harmoni sekaligus mendorong berkembangnya penelitian sejarah yang lebih mendalam di masa mendatang.
FAQ
Siapa Mbah Sambu yang dibahas dalam wawancara Rembang TV?
Dalam wawancara tersebut, Mbah Sambu atau Syekh Maulana Sambu Asmorokondi dijelaskan sebagai tokoh yang menurut narasumber memiliki peran dalam perkembangan Islam di Kadipaten Lasem serta disebut pernah menjadi wali negara pada masa Adipati Tejo Kusumo. Penjelasan tersebut merupakan paparan narasumber berdasarkan penelitian dan riwayat yang sedang dikajinya.
Apa fokus penelitian Gus Abdul Wahid?
Gus Abdul Wahid menyatakan bahwa penelitiannya berfokus pada penelusuran sejarah Mbah Sambu melalui manuskrip keluarga, naskah kuno, peninggalan sejarah, dan sumber-sumber pembanding agar setiap versi dapat diuji secara ilmiah.
Mengapa terdapat beberapa versi mengenai Mbah Sambu?
Menurut Gus Abdul Wahid, berbagai versi muncul karena perbedaan sumber dan tradisi yang berkembang di masyarakat. Ia menilai setiap versi perlu dikaji berdasarkan kekuatan data pendukung, bukan hanya berdasarkan cerita lisan.
Apa pesan utama yang disampaikan kepada generasi muda?
Dalam wawancara tersebut, Gus Abdul Wahid mengajak generasi muda menjaga sejarah berdasarkan bukti, melestarikan peninggalan leluhur, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama tanpa mengabaikan nilai-nilai ketakwaan.
Penutup
Wawancara Rembang TV bersama Gus Abdul Wahid menghadirkan paparan panjang mengenai sejarah Mbah Sambu, perkembangan Islam di Lasem, serta berbagai versi silsilah yang menurut narasumber masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Selama wawancara, ia berulang kali menegaskan bahwa sejarah perlu dibangun melalui pendekatan ilmiah dengan mengandalkan manuskrip, peninggalan sejarah, dan sumber-sumber yang dapat diverifikasi.
Selain membahas aspek sejarah, wawancara tersebut juga memuat pesan mengenai pentingnya menjaga warisan budaya, melestarikan peninggalan para leluhur, serta membedakan antara riwayat, legenda, dan fakta sejarah berdasarkan bukti yang tersedia. Dengan demikian, kajian mengenai Mbah Sambu sebagaimana dipaparkan dalam wawancara ini ditempatkan sebagai bagian dari proses penelitian yang menurut narasumber masih terus berkembang dan terbuka untuk diuji melalui data-data sejarah yang baru.





