Polemik Nasab dalam Perspektif Filologi: Prof. Menachem Ali Paparkan Bukti Manuskrip Lintas Bahasa di Podcast Rhoma Irama

WARTA BATAVIA – Prof. Menachem Ali menjelaskan pendekatan filologi terhadap polemik nasab dalam podcast Rhoma Irama Official. Ia memaparkan manuskrip berbahasa Ibrani, Latin, Yunani, Aramaik, dan Arab sebagai dasar kajian sejarah.
Polemik Nasab dalam Perspektif Filologi: Prof. Menachem Ali Paparkan Bukti Manuskrip Lintas Bahasa di Podcast Rhoma Irama
Pendahuluan
Prof. Menachem Ali kembali menjadi narasumber dalam kanal YouTube Rhoma Irama Official pada tayangan yang dipublikasikan 11 April 2025. Dalam perbincangan tersebut, pembahasan berfokus pada polemik nasab, pendekatan filologi, serta rencana peluncuran buku terbaru yang menurutnya disusun berdasarkan kajian berbagai manuskrip dari beragam tradisi bahasa dan keagamaan.
Pada awal dialog, Rhoma Irama memperkenalkan Prof. Menachem Ali sebagai akademisi yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah, antropologi, filologi, dan kajian keislaman. Ia juga menyampaikan bahwa diskusi kali ini merupakan pertemuan ketiga mereka dalam format podcast.
Rhoma Irama menjelaskan bahwa pembahasan mengenai nasab kembali diangkat karena menurutnya masih menjadi topik yang diperdebatkan di tengah masyarakat. Ia kemudian mempersilakan Prof. Menachem Ali menjelaskan buku yang sedang dipersiapkan dan pendekatan ilmiah yang digunakan dalam penyusunannya.
Prof. Menachem Ali Ungkap Sedang Menyusun Buku Filologi Yudeo-Arab
Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. Menachem Ali mengatakan bahwa dirinya tengah berkonsentrasi menyusun sebuah buku yang diberi tema besar Filologi Yudeo-Arab.
Menurutnya, buku tersebut tidak hanya ditujukan bagi kalangan Muslim, tetapi juga dapat dibaca oleh masyarakat non-Muslim karena pembahasannya berangkat dari dokumen-dokumen sejarah yang berasal dari berbagai tradisi bahasa.
Ia menyebut sumber-sumber yang digunakan berasal dari manuskrip:
- Bahasa Arab
- Bahasa Ibrani
- Bahasa Latin
- Bahasa Yunani
- Bahasa Aramaik atau Suryani
Menurut penjelasannya, seluruh dokumen tersebut dianalisis menggunakan perspektif filologi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran sejarah agama.
Ia mengatakan bahwa tujuan penyusunan buku tersebut adalah menghadirkan dasar-dasar dokumenter mengenai sejarah Islam sehingga keberagamaan tidak hanya dipahami sebagai doktrin, tetapi juga memiliki pertanggungjawaban ilmiah berdasarkan manuskrip yang masih dapat diverifikasi hingga saat ini.
Pendekatan Filologi untuk Memahami Sejarah Islam
Dalam dialog tersebut, Prof. Menachem Ali menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama kajian filologi adalah menghadirkan bukti sejarah melalui dokumen.
Menurutnya, manuskrip yang berasal dari berbagai peradaban memungkinkan peneliti melakukan validasi terhadap informasi yang berkembang dalam tradisi keagamaan.
Ia menyampaikan bahwa keberadaan dokumen-dokumen lintas bahasa menjadi dasar untuk menelusuri kesinambungan sejarah sebelum dan sesudah masa Nabi Muhammad SAW.
Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa keberadaan manuskrip-manuskrip tersebut menunjukkan adanya data sejarah yang tetap terpelihara, termasuk dalam konteks sejarah agama.
Dalam kesempatan itu, Rhoma Irama juga mengaitkan keberadaan manuskrip dengan keyakinan umat Islam mengenai terpeliharanya Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam ayat “Inna nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahu lahafizhun.”
Sementara itu, Prof. Menachem Ali menegaskan bahwa pendekatan ilmiah diperlukan agar praktik keberagamaan memiliki dasar akademik sekaligus tanggung jawab moral.
Manuskrip Latin Disebut Memuat Istilah Sarakenon
Pembahasan kemudian berlanjut pada istilah Sarakenon atau Sarakenorum yang menurut Prof. Menachem Ali ditemukan dalam dokumen Latin dan Yunani yang berasal dari periode sebelum masa Nabi Muhammad SAW.
Ia menjelaskan bahwa terdapat pendapat yang menghubungkan istilah tersebut dengan akar kata Arab yang bermakna perampok atau penjarah.
Namun menurut penjelasannya, hasil penelitian yang ia lakukan menunjukkan data berbeda.
Berdasarkan manuskrip yang ia kaji, istilah Saraken digunakan untuk menyebut keturunan Nabi Ismail yang secara yuridis dikaitkan dengan Sarah.
Ia menerangkan bahwa dalam perspektif tersebut Nabi Ismail memiliki dua hubungan keibuan, yakni secara biologis melalui Hajar dan secara yuridis melalui Sarah.
Karena itu, menurut penjelasannya, istilah Saraken dalam sejumlah manuskrip tidak dipakai dalam pengertian sebagaimana salah satu pendapat yang ia bantah, melainkan berkaitan dengan keturunan Ismail sebagaimana tercantum dalam dokumen sejarah yang disebutkannya.
Prof. Menachem Ali Menyebut Dokumen Non-Islam Mengonfirmasi Tokoh Historis
Masih dalam pembahasan yang sama, Prof. Menachem Ali mengatakan bahwa manuskrip non-Islam yang ia kaji menjadi salah satu dasar untuk memvalidasi keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh historis.
Menurut penjelasannya, data tersebut berasal dari sumber-sumber eksternal yang ditulis di luar tradisi Islam.
Ia menyampaikan bahwa pendekatan seperti ini memungkinkan peneliti melakukan pembandingan antara dokumen internal dan dokumen eksternal sehingga menghasilkan validasi sejarah yang lebih luas.
Rhoma Irama kemudian menilai bahwa pendekatan tersebut memberikan sudut pandang baru mengenai hubungan antara sejarah Islam dengan dokumen-dokumen yang berasal dari komunitas lain.
Istilah Syarif Disebut Memiliki Jejak dalam Tradisi Yahudi
Setelah membahas istilah Saraken, Prof. Menachem Ali melanjutkan penjelasannya mengenai istilah Syarif yang menurutnya telah dikenal jauh sebelum berkembang dalam tradisi Islam.
Dalam podcast tersebut ia menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelusuran filologis, istilah tersebut bukan merupakan istilah yang baru muncul pada masa Islam, melainkan telah ditemukan dalam tradisi Yahudi.
Menurut Prof. Menachem Ali, penggunaan istilah tersebut dapat dilacak melalui manuskrip berbahasa Ibrani maupun terjemahan Arab yang digunakan oleh kalangan Yahudi.
Ia mengatakan bahwa temuan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya menilai istilah “syarif” memiliki akar sejarah yang dapat ditelusuri melalui dokumen-dokumen lintas tradisi.
Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa informasi tersebut menjadi pengetahuan baru karena selama ini masyarakat lebih mengenal istilah syarif sebagai bagian dari tradisi Islam semata.
Prof. Menachem Ali menjelaskan bahwa kajian filologi memungkinkan penelusuran asal-usul suatu istilah melalui manuskrip dari berbagai komunitas sehingga perkembangan maknanya dapat dibandingkan dari masa ke masa.
Mengutip Terjemahan Taurat Berbahasa Arab Karya Rabbi Saad Gaon
Dalam penjelasannya, Prof. Menachem Ali kemudian menunjukkan sebuah manuskrip yang disebutnya sebagai terjemahan Taurat berbahasa Arab karya Rabbi Saad Gaon.
Ia menerangkan bahwa tokoh tersebut hidup pada abad ke-9 hingga awal abad ke-10 Masehi dan sezaman dengan sejumlah tokoh yang juga menjadi bagian dari pembahasan dalam polemik nasab.
Menurut paparannya, manuskrip tersebut memuat ayat mengenai Nabi Ismail yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab versi Yahudi.
Prof. Menachem Ali kemudian membacakan bagian teks tersebut dalam bahasa Yudeo-Arab.
Dalam kutipan yang dibacakannya muncul frasa “syarifan yalid”, yang menurut penjelasannya diterjemahkan sebagai akan lahir dua belas syarif dari keturunan Ismail.
Ia menyampaikan bahwa penggunaan istilah tersebut menjadi salah satu data yang menurutnya menunjukkan bahwa penyebutan “syarif” telah digunakan dalam tradisi Yahudi untuk merujuk kepada keturunan Nabi Ismail.
Rhoma Irama menilai temuan tersebut sebagai informasi penting karena berasal dari dokumen yang menurut penjelasan narasumber bukan disusun oleh kalangan Muslim, melainkan berasal dari tradisi Yahudi.
Perbedaan Istilah Syarif dan Sayyid Menurut Penjelasan Narasumber
Pembahasan kemudian bergeser pada perbedaan istilah syarif dan sayyid.
Rhoma Irama menanyakan apakah kedua istilah tersebut memiliki makna yang sama.
Menjawab pertanyaan itu, Prof. Menachem Ali mengatakan bahwa berdasarkan dokumen Yahudi yang ia teliti, istilah yang ditemukan adalah syarif, sedangkan istilah sayyid tidak muncul dalam manuskrip tersebut.
Menurut penjelasannya, istilah syarif mempunyai makna yang lebih spesifik dibandingkan sayyid.
Ia menjelaskan bahwa syarif, menurut hasil kajian yang dipaparkannya, digunakan untuk menunjukkan identitas keturunan Nabi Ismail.
Sementara itu, istilah sayyid dipahami sebagai bentuk penghormatan yang dapat digunakan secara lebih umum kepada seseorang.
Rhoma Irama kemudian memberikan ilustrasi bahwa dalam bahasa Indonesia kata sayyid dapat dipahami serupa dengan sapaan “tuan”, sedangkan istilah syarif menurut penjelasan narasumber berkaitan dengan identitas keturunan.
Prof. Menachem Ali kembali menegaskan bahwa kesimpulan tersebut disusun berdasarkan penelusuran terhadap dokumen yang ia kaji dalam perspektif filologi.
Kajian Filologi Disebut Menelusuri Sejarah Setiap Kata
Pada bagian berikutnya, Prof. Menachem Ali menjelaskan prinsip dasar kajian filologi.
Ia mengatakan bahwa filologi tidak berhenti pada narasi sejarah semata, tetapi juga menelusuri sejarah perkembangan setiap istilah yang digunakan dalam berbagai dokumen.
Menurutnya, kalangan filolog memiliki prinsip bahwa setiap kata memiliki sejarahnya sendiri.
Melalui pendekatan tersebut, perkembangan makna suatu istilah dapat dilacak berdasarkan manuskrip dari berbagai periode sehingga memungkinkan dilakukan proses validasi terhadap penggunaan istilah tersebut.
Ia mencontohkan kembali penggunaan istilah syarif dan sayyid.
Menurut penjelasannya, hasil kajian terhadap data eksternal menunjukkan bahwa istilah syarif memiliki rujukan yang lebih spesifik, sedangkan penggunaan istilah sayyid bersifat lebih umum.
Rhoma Irama kemudian merangkum penjelasan tersebut dengan menyatakan bahwa syarif dipahami sebagai istilah yang menurut pemaparan narasumber berkaitan dengan keturunan Nabi Ismail, sedangkan sayyid merupakan sapaan penghormatan.
Prof. Menachem Ali menambahkan bahwa dalam penelitian sejarah, dokumen eksternal memiliki fungsi penting sebagai pembanding terhadap dokumen internal sehingga suatu istilah dapat diuji melalui berbagai sumber yang berbeda.
Contoh Kajian Bahasa Persia dalam Penelitian Filologi
Untuk menjelaskan metode filologi lebih lanjut, Prof. Menachem Ali kemudian memperlihatkan contoh lain berupa manuskrip berbahasa Persia.
Ia menunjukkan sebuah kitab yang menurutnya memuat penyebutan nama-nama putra Imam Musa al-Kazhim.
Dalam kesempatan itu ia menjelaskan beberapa istilah Persia seperti Hazrat, hafta, dan dokhtar, kemudian membandingkannya dengan bahasa Arab, Sanskerta, maupun bahasa Inggris.
Menurut penjelasannya, kajian filologi memungkinkan peneliti melihat hubungan antarbahasa melalui perkembangan kosakata, meskipun suatu manuskrip ditulis menggunakan huruf Arab.
Ia juga memberikan contoh bahasa Urdu di Pakistan, bahasa Melayu dalam tulisan Jawi, serta aksara Pegon di Indonesia untuk menunjukkan bahwa satu sistem tulisan belum tentu menunjukkan bahasa yang sama.
Rhoma Irama menilai penjelasan tersebut menggambarkan bagaimana kajian filologi tidak hanya mempelajari isi naskah, tetapi juga perkembangan bahasa dan sejarah istilah yang digunakan dalam berbagai peradaban.
Pembahasan Mengenai Nasab dalam Perspektif Dokumen Filologi
Memasuki bagian berikutnya, Rhoma Irama mengarahkan pembahasan kepada salah satu topik yang menurutnya masih menjadi polemik, yakni persoalan nasab dalam sejumlah komunitas yang menghubungkan garis keturunannya kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam penjelasannya, Prof. Menachem Ali menegaskan bahwa pendekatan yang digunakannya tetap bertumpu pada kajian filologi. Menurutnya, penelitian filologi mengharuskan seluruh kesimpulan dibangun berdasarkan dokumen yang tersedia, bukan hanya pada narasi yang berkembang di masyarakat.
Ia kemudian memberikan contoh mengenai pembahasan tentang tokoh bernama Aun, yang dikaitkan dengan Bani Ahdal.
Menurut Prof. Menachem Ali, berdasarkan manuskrip yang telah ditelitinya, nama tersebut tidak ditemukan dalam sejumlah dokumen yang berasal dari beberapa abad Hijriah yang menjadi objek kajiannya.
Ia menyatakan bahwa apabila suatu silsilah ingin dipastikan secara akademik, maka diperlukan data yang dapat memvalidasi hubungan tersebut melalui dokumen sejarah yang relevan.
Dalam dialog itu, Rhoma Irama beberapa kali meminta penjelasan lanjutan mengenai konteks pembahasan tersebut, sementara Prof. Menachem Ali menegaskan kembali bahwa pendekatan filologi selalu menempatkan dokumen sebagai dasar utama analisis.
Buku Disebut Membahas Polemik Nasab Lintas Tradisi
Rhoma Irama kemudian menanyakan bagian mana dari buku yang sedang disusun Prof. Menachem Ali yang membahas polemik nasab.
Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. Menachem Ali menjelaskan bahwa buku itu tidak hanya membahas polemik nasab dalam tradisi Islam, tetapi juga menyinggung persoalan serupa dalam tradisi Kristen.
Menurutnya, berbagai tradisi keagamaan memiliki persoalan mengenai silsilah tokoh-tokoh penting yang hingga kini masih diperdebatkan.
Ia menyebut, misalnya, perdebatan mengenai garis keturunan Maryam dalam tradisi Kristen yang menurut penjelasannya masih memiliki berbagai pandangan.
Karena itu, ia mengatakan bahwa masyarakat perlu siap menghadapi adanya perbedaan perspektif dalam kajian sejarah.
Prof. Menachem Ali menjelaskan bahwa pembahasan tersebut ditempatkan pada bab kedua buku yang sedang disusunnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan tetap sama, yakni membandingkan berbagai manuskrip dari beragam tradisi agar pembaca memperoleh gambaran mengenai bagaimana suatu polemik berkembang dalam sejarah.
Perbandingan Validasi Dokumen Menjadi Salah Satu Isi Buku
Dalam kesempatan itu, Rhoma Irama kembali menanyakan apakah buku tersebut juga menyajikan penjelasan mengenai berbagai pandangan yang berkembang dalam polemik nasab.
Prof. Menachem Ali menjawab bahwa ia menyusun sebuah bagan perbandingan sebagai salah satu bagian buku.
Menurut penjelasannya, bagan tersebut membandingkan beberapa tokoh berdasarkan sejumlah indikator yang digunakan dalam penelitian sejarah.
Ia menyebut beberapa aspek yang dibandingkan, antara lain:
- keberadaan dokumen primer;
- dokumen yang berasal dari masa sezaman;
- dokumen eksternal;
- kajian tradisional;
- kajian revisionis.
Menurut Prof. Menachem Ali, setiap tokoh yang dibahas kemudian dibandingkan berdasarkan indikator-indikator tersebut sehingga pembaca dapat melihat bagaimana data yang tersedia diposisikan dalam kajian sejarah.
Rhoma Irama kemudian merangkum penjelasan tersebut dengan menyebut bahwa narasumber menyampaikan adanya perbedaan hasil validasi pada tokoh-tokoh yang dibandingkan dalam bagan tersebut.
Prof. Menachem Ali menambahkan bahwa masyarakat perlu menerima data sebagaimana adanya ketika melakukan penelitian sejarah melalui pendekatan filologi.
Rhoma Irama Tekankan Pentingnya Penyampaian Data dan Ukhuwah
Menjelang akhir dialog, Rhoma Irama menyampaikan pandangannya mengenai tujuan pembahasan yang dilakukan dalam podcast tersebut.
Ia mengatakan bahwa menurutnya polemik yang dibahas bukan bertujuan untuk menumbuhkan kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian dari penyampaian pandangan yang dianggap benar berdasarkan data yang dipaparkan narasumber.
Rhoma Irama juga menyampaikan bahwa tujuan akhirnya tetap mengarah pada terwujudnya ukhuwah Islamiyah.
Ia mengutip pentingnya saling menasihati serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog.
Dalam kesempatan itu Rhoma Irama juga menceritakan bahwa sebelumnya ia pernah mengundang Menteri Agama dan memperoleh penjelasan bahwa persoalan akidah bukan merupakan ranah negara.
Menurut Rhoma Irama, pembahasan semacam ini lebih tepat disampaikan dalam forum keagamaan.
Ia kemudian kembali menegaskan bahwa menurutnya tujuan diskusi adalah menghadirkan informasi bagi masyarakat sekaligus menjaga semangat persaudaraan di tengah adanya perbedaan pandangan.
Closing Statement: Generasi Muda Dinilai Membutuhkan Pendekatan Berbasis Data
Pada bagian penutup, Prof. Menachem Ali menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dakwah pada era sekarang.
Menurutnya, generasi muda saat ini cenderung meminta bukti dan data ketika mempelajari agama.
Ia mengatakan bahwa pendekatan tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih mudah menerima penyampaian secara doktrinal.
Karena itu, ia menilai penting menghadirkan penjelasan keagamaan yang disertai pertanggungjawaban ilmiah melalui dokumen, manuskrip, dan penelitian akademik.
Menurut Prof. Menachem Ali, pendekatan seperti itu dapat menjadi salah satu cara untuk menjelaskan berbagai persoalan sejarah kepada masyarakat.
Rhoma Irama kemudian menyoroti kembali pembahasan mengenai istilah syarif, yang menurutnya menjadi salah satu poin penting dalam dialog hari itu.
Podcast kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada narasumber serta harapan agar pembahasan tersebut dapat memberikan tambahan wawasan kepada masyarakat mengenai tema yang dibahas, sekaligus tetap menjaga semangat ukhuwah Islamiyah.
FAQ
Siapa Prof. Menachem Ali?
Dalam podcast Rhoma Irama Official, Prof. Menachem Ali diperkenalkan sebagai akademisi yang menaruh perhatian pada bidang sejarah, filologi, antropologi, dan kajian keagamaan.
Apa tema utama podcast tersebut?
Dialog berfokus pada kajian filologi, manuskrip lintas bahasa, serta pembahasan mengenai polemik nasab sebagaimana dijelaskan oleh narasumber.
Apa yang dimaksud dengan Filologi Yudeo-Arab?
Berdasarkan penjelasan Prof. Menachem Ali dalam podcast, istilah tersebut merujuk pada kajian dokumen dan manuskrip yang berasal dari tradisi Yahudi dan Arab untuk menelusuri perkembangan sejarah serta istilah-istilah keagamaan.
Bahasa apa saja yang disebut menjadi sumber penelitian?
Dalam dialog disebutkan bahwa penelitian menggunakan manuskrip berbahasa Arab, Ibrani, Latin, Yunani, serta Aramaik (Suryani).
Apa pesan penutup yang disampaikan narasumber?
Prof. Menachem Ali menyampaikan bahwa generasi masa kini dinilai membutuhkan pendekatan keagamaan yang disertai bukti dan data sehingga kajian ilmiah melalui manuskrip menjadi penting dalam menjelaskan berbagai persoalan sejarah.
Sumber berita:








