invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Bahas Polemik Nasab Bersama Gus Aziz Jazuli, Soroti Cerita Khurafat dan Pentingnya Menjaga Akidah

Warta BataviaJAKARTA – Musisi sekaligus dai Rhoma Irama kembali mengangkat pembahasan mengenai polemik nasab Baalawi dalam tayangan terbaru di kanal Rhoma Irama Official. Pada episode tersebut, Rhoma menghadirkan Muhammad Abdul Aziz Jazuli, Lc., MH. sebagai narasumber untuk membahas sejumlah persoalan yang menurut keduanya berkaitan dengan diskursus nasab, ajaran khurafat, serta pentingnya menjaga akidah umat Islam.

Pada pembukaan podcast, Rhoma Irama menjelaskan bahwa pembahasan mengenai polemik nasab dilakukan bukan atas dasar kebencian terhadap kelompok tertentu. Ia mengatakan tujuan diskusi tersebut adalah sebagai bagian dari upaya menjaga kemurnian ajaran Islam.

Menurut Rhoma Irama, pembahasan tersebut diarahkan untuk menjaga akidah dari berbagai bentuk khurafat, menjaga nama Nabi Muhammad SAW, menjaga sejarah Nahdlatul Ulama (NU), sejarah Wali Songo, sejarah bangsa Indonesia, hingga mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan Pancasila.

Masalah polemik nasab ini memang harus kita tuntaskan tanpa tendensi apa pun, tanpa kebencian sedikit pun,” ujar Rhoma Irama dalam pembukaan podcast.

Rhoma Irama Perkenalkan Gus Aziz Jazuli

Dalam kesempatan tersebut, Rhoma Irama memperkenalkan Muhammad Abdul Aziz Jazuli sebagai seorang ulama muda yang aktif mengikuti perkembangan diskursus mengenai polemik nasab Baalawi.

Rhoma menyebut keduanya memiliki tujuan yang sama dalam mengikuti pembahasan tersebut, yaitu demi kemaslahatan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Sebelum memasuki materi utama, Rhoma meminta Gus Aziz memperkenalkan latar belakang pendidikan dan perjalanan akademiknya.

Gus Aziz menjelaskan bahwa dirinya lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada tahun 1989.

Ia mengatakan pendidikan pesantren pertamanya ditempuh di Pondok Pesantren Mambaul A’la, Grobogan, yang diasuh oleh almarhum KH Hamzah Matni.

Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan di sana, ia melanjutkan pendidikan Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa), Pasuruan, yang saat itu dipimpin oleh Habib Zain Baharun.

Menurut penuturannya, ia menempuh pendidikan sekitar empat tahun di pesantren tersebut.

“Saya pertama mondok di Pondok Pesantren Mambaul A’la di Grobogan. Setelah itu melanjutkan Madrasah Aliyah di Darullughah Wadda’wah Pasuruan,” kata Gus Aziz.

Melanjutkan Kuliah Selama Enam Tahun di Tarim

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren di Indonesia, Gus Aziz mengungkapkan bahwa dirinya melanjutkan studi ke Tarim, Hadramaut, Yaman.

Ia menyebut menjalani pendidikan sekitar enam setengah tahun di Universitas Al-Ahqaf, Tarim.

Menurutnya, saat itu universitas dipimpin oleh Habib Abdullah Baharun.

Rhoma Irama menilai latar belakang pendidikan tersebut membuat Gus Aziz memiliki pengalaman yang cukup luas dalam memahami berbagai literatur yang berkaitan dengan Baalawi maupun tradisi keilmuan di Tarim.

Dalam dialog tersebut, Rhoma juga menyinggung bahwa Gus Aziz pernah belajar di lingkungan pesantren yang dipimpin seorang habib.

Menanggapi hal tersebut, Gus Aziz mengatakan dirinya justru mengikuti pembahasan polemik nasab karena rasa sayangnya kepada para habib.

“Karena itu saking sayangnya saya,” ujar Gus Aziz.

Pernyataan tersebut kemudian disambut Rhoma Irama yang menegaskan bahwa menurut pandangannya, pembahasan polemik nasab tidak dimaksudkan untuk membenci para habib maupun para muhibbin.

Menurut Rhoma, pembahasan tersebut bertujuan membuka diskusi secara ilmiah agar persoalan yang diperdebatkan dapat menjadi jelas.

Ia mengatakan apabila terdapat kekeliruan, maka diharapkan dapat dilakukan koreksi sehingga semua pihak memperoleh kejelasan berdasarkan kajian yang dilakukan.

Rhoma Irama Bahas Polemik Nasab Bersama Gus Aziz Jazuli, Soroti Cerita Khurafat

Menulis Buku dan Tahkik Manuskrip

Dalam dialog berikutnya, Rhoma Irama menanyakan karya tulis yang telah diterbitkan oleh Gus Aziz.

Gus Aziz menjelaskan bahwa dirinya telah menyusun sejumlah karya ilmiah, terutama berupa tahkik atau penyuntingan manuskrip kitab klasik.

Ia menyebut di antaranya melakukan tahkik terhadap Syarah Al-Hikam karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani yang diterbitkan dalam bahasa Arab.

Selain itu, ia juga mengerjakan tahkik Syarah Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, yang juga merupakan karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Menurut Gus Aziz, penggunaan bahasa Arab membuat jumlah pembacanya menjadi lebih terbatas.

Sementara untuk tema yang berkaitan dengan Baalawi, ia mengatakan baru menerbitkan satu buku.

Menulis Buku Bersama KRT KH Nur Ihya Hadinegoro

Rhoma Irama kemudian menanyakan buku yang disusun Gus Aziz bersama KRT KH Nur Ihya Hadinegoro.

Gus Aziz menjelaskan bahwa keduanya menyusun buku berjudul “Membongkar Ajaran Khurafat Habaib Baalawi.”

Menurut penjelasannya, buku tersebut secara khusus membahas dan mengulas berbagai hal yang disebutnya sebagai khurafat yang terdapat dalam sejumlah kitab yang menjadi objek kajian mereka.

Rhoma Irama kemudian memperlihatkan buku tersebut kepada pemirsa podcast.

Dalam kesempatan itu, Rhoma bertanya mengenai alasan penyusunan buku tersebut.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gus Aziz mengatakan alasan utama penyusunan buku adalah karena menurutnya isi yang dibahas memiliki dampak terhadap akidah umat Islam.

Selain itu, ia juga menyebut penyusunan buku dimaksudkan untuk menjaga kemurnian ajaran tasawuf dari berbagai hal yang menurutnya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip tasawuf sebagaimana dipahami dalam literatur ulama yang menjadi rujukannya.

Penjelasan Gus Aziz Mengenai Istilah Khurafat

Pada bagian awal pembahasan isi buku, Rhoma Irama meminta penjelasan mengenai makna istilah khurafat.

Gus Aziz menjelaskan bahwa kata khurafah dalam bahasa Arab diartikan sebagai kisah atau cerita yang tidak benar.

Menurut penjelasannya, khurafat merupakan kisah yang dinisbatkan sebagai karamah para wali, padahal menurut kajiannya merupakan cerita yang tidak memiliki dasar kebenaran.

Rhoma Irama kemudian menambahkan bahwa apabila hal-hal tersebut diyakini masyarakat sebagai bagian dari ajaran agama, maka menurut pandangannya dapat memengaruhi pemahaman akidah.

Selanjutnya, Gus Aziz mulai menjelaskan sejumlah contoh yang menurutnya terdapat dalam berbagai literatur yang menjadi objek kajiannya. Pembahasan mengenai contoh-contoh tersebut menjadi bagian utama dialog yang berlangsung dalam podcast dan berlanjut pada penjelasan mengenai konsep karamah, tasawuf, serta sejumlah klaim yang disebutkan terdapat dalam beberapa kitab yang dibahas.

Rhoma Irama Bahas Polemik Nasab Bersama Gus Aziz Jazuli, Soroti Cerita Khurafat dan Pentingnya Menjaga Akidah

Pembahasan Buku, Definisi Khurafat, dan Contoh-contoh yang Disampaikan Narasumber

Gus Aziz Sebut Buku Memuat Ratusan Temuan yang Dikategorikan sebagai Khurafat

Memasuki pembahasan isi buku, Rhoma Irama meminta Gus Aziz menjelaskan lebih rinci mengenai alasan penyusunan buku Membongkar Ajaran Khurafat Habaib Baalawi.

Menurut Gus Aziz, buku tersebut disusun berdasarkan telaah terhadap sejumlah kitab yang menjadi objek kajiannya. Ia mengatakan tujuan penyusunan buku adalah untuk menyampaikan hasil kajian mengenai berbagai kisah yang menurutnya tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam dialog tersebut, Gus Aziz menyebut buku yang ia susun bersama KRT KH Nur Ihya Hadinegoro memuat 455 temuan yang dikategorikannya sebagai khurafat.

Ia mengatakan jumlah tersebut belum mencakup seluruh temuan yang diperoleh selama proses penelitian.

“Dalam buku ini terdapat 455 khurafat,” ujar Gus Aziz dalam podcast.

Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa apabila seluruh isi buku dibacakan dalam podcast, pembahasan akan berlangsung sangat panjang.

Narasumber Menjelaskan Pengertian Khurafat

Rhoma Irama kemudian meminta Gus Aziz menjelaskan kembali pengertian istilah khurafat agar mudah dipahami pemirsa.

Menurut Gus Aziz, istilah tersebut berasal dari kata Arab khurafah, yang ia artikan sebagai cerita atau dongeng yang tidak benar.

Ia menjelaskan bahwa dalam kajiannya, khurafat merupakan kisah yang dinisbatkan sebagai karamah para wali, tetapi menurutnya tidak memiliki dasar yang dapat dibuktikan.

Rhoma Irama kemudian menambahkan bahwa kisah-kisah semacam itu, apabila diterima sebagai bagian dari ajaran agama, menurut pandangannya dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap akidah Islam.


Contoh Kisah yang Disebutkan dalam Podcast

Dalam penjelasannya, Gus Aziz menyampaikan sejumlah contoh yang menurutnya terdapat dalam kitab-kitab yang menjadi objek penelitiannya.

Beberapa contoh yang disebutkan antara lain kisah mengenai tokoh yang disebut mampu:

  • menurunkan hujan susu dari langit;
  • menurunkan rantai emas dari langit;
  • memiliki berbagai kemampuan luar biasa yang dinisbatkan sebagai karamah.

Menurut Gus Aziz, contoh-contoh tersebut disebutkan dalam beberapa kitab manaqib yang ia pelajari.

Rhoma Irama beberapa kali meminta penjelasan lebih lanjut mengenai sumber kisah-kisah tersebut, sementara Gus Aziz menjawab bahwa contoh-contoh tersebut berasal dari kitab-kitab yang menjadi bagian dari kajiannya.

Podcast kemudian berlanjut dengan pembahasan mengenai jumlah kisah serupa yang menurut Gus Aziz masih banyak terdapat dalam literatur yang ia teliti.

Tujuan Penyusunan Buku Menurut Gus Aziz

Selain membahas isi buku, Gus Aziz menjelaskan alasan lain yang mendorongnya menyusun karya tersebut.

Ia mengatakan terdapat dua tujuan utama.

Pertama, menurutnya, untuk mengingatkan masyarakat terhadap ajaran-ajaran yang ia nilai dapat memengaruhi pemahaman akidah.

Kedua, untuk menjaga nama baik tasawuf.

Menurut Gus Aziz, tasawuf merupakan disiplin ilmu yang bertujuan membersihkan hati manusia dari berbagai penyakit batin.

Karena itu, ia mengatakan dirinya ingin membedakan antara ajaran tasawuf yang dipelajari dalam kitab-kitab ulama dengan berbagai kisah yang menurutnya tidak sesuai dengan prinsip tasawuf.

Rhoma Irama menanggapi penjelasan tersebut dengan menyatakan bahwa tasawuf seharusnya mengarahkan seseorang kepada penyucian hati dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Pembahasan Mengenai Tasawuf

Dalam dialog tersebut, Gus Aziz menjelaskan bahwa selama mempelajari berbagai kitab tasawuf karya ulama seperti Imam Al-Ghazali maupun Abul Hasan Asy-Syadzili, ia menemukan adanya perbedaan dengan sejumlah isi kitab yang menjadi objek penelitiannya.

Menurutnya, tasawuf mengajarkan seseorang untuk menghilangkan sifat sombong, riya, ujub, dan penyakit hati lainnya.

Ia mengatakan tujuan utama tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui penyucian jiwa.

Namun, menurut hasil kajiannya terhadap kitab-kitab yang ditelitinya, terdapat penekanan yang berbeda.

Ia menyebut dalam sejumlah kitab yang dikajinya terdapat penjelasan panjang mengenai nasab tokoh-tokoh tertentu serta penyebutan berbagai gelar seperti wali, imam, dan wali kutub.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari hasil kajian yang dipaparkan oleh narasumber selama podcast berlangsung.

Pembahasan Mengenai Gelar Wali Kutub

Gus Aziz kemudian menjelaskan istilah wali kutub yang beberapa kali muncul dalam pembahasan.

Menurutnya, istilah tersebut merujuk kepada kedudukan wali tertinggi dalam tradisi tasawuf.

Dalam podcast, ia menyebut terdapat sejumlah kutipan dari literatur yang menurutnya menjelaskan adanya banyak tokoh yang disebut sebagai wali kutub.

Rhoma Irama kemudian menanggapi penjelasan tersebut dengan beberapa pertanyaan lanjutan mengenai sumber-sumber yang digunakan.

Dialog berlangsung dalam bentuk tanya jawab, dengan Gus Aziz menjelaskan bahwa seluruh pembahasan tersebut berasal dari kitab-kitab yang menjadi objek kajian dalam penyusunan bukunya.

Klaim yang Dibahas dalam Podcast

Pada bagian berikutnya, pembahasan bergeser kepada sejumlah klaim yang menurut Gus Aziz ditemukan dalam berbagai kitab.

Di antaranya mengenai:

  • penyebutan tokoh-tokoh tertentu sebagai wali kutub;
  • penyebutan kemampuan luar biasa yang dikategorikan sebagai karamah;
  • berbagai ungkapan yang menurut narasumber digunakan untuk menguatkan kedudukan tokoh tertentu.

Rhoma Irama beberapa kali meminta contoh dari setiap klaim tersebut, sementara Gus Aziz menjelaskan bahwa contoh-contohnya terdapat dalam literatur yang ia teliti.

Ia mengatakan tujuan pemaparan tersebut adalah menjelaskan isi kajian yang telah dihimpun dalam bukunya.

Diskusi Mengenai Muhibbin dan Polemik Nasab

Dalam bagian lain podcast, Rhoma Irama menegaskan bahwa menurut pandangannya, pembahasan polemik nasab tidak ditujukan kepada para muhibbin sebagai sasaran permusuhan.

Ia menyampaikan bahwa tujuan diskusi adalah memberikan penjelasan berdasarkan kajian yang dilakukan narasumber.

Gus Aziz juga menyampaikan pandangan bahwa banyak muhibbin merupakan pihak yang menerima berbagai informasi dari literatur yang mereka pelajari.

Karena itu, menurutnya diperlukan ruang diskusi dan kajian agar masyarakat dapat memahami berbagai persoalan secara lebih luas.

Pengalaman Berdialog di Media Sosial

Rhoma Irama kemudian bertanya apakah Gus Aziz pernah berdialog secara langsung dengan pihak yang memiliki pandangan berbeda.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gus Aziz mengatakan dirinya kini lebih sering berdiskusi melalui media sosial, terutama TikTok.

Menurutnya, pembahasan yang ia lakukan di media sosial umumnya berkaitan dengan polemik nasab maupun pembahasan mengenai khurafat sebagaimana terdapat dalam buku yang disusunnya.

Ia juga menyebut bahwa tanggapan yang muncul di media sosial lebih banyak berasal dari kalangan muhibbin.

Rhoma Irama kembali menegaskan bahwa menurut pandangannya, para muhibbin tidak seharusnya diposisikan sebagai pihak yang dibenci.

Dialog Berlanjut ke Pembahasan Klaim-klaim dalam Literatur

Menjelang akhir bagian kedua podcast, pembahasan beralih kepada sejumlah klaim lain yang menurut Gus Aziz ditemukan dalam berbagai kitab yang ia teliti.

Topik tersebut mencakup pembahasan mengenai beberapa tokoh, kisah-kisah yang disebut sebagai karamah, serta pandangan narasumber mengenai hubungan antara klaim-klaim tersebut dengan konsep akidah dan tasawuf.

Seluruh penjelasan disampaikan dalam format dialog antara Rhoma Irama dan Gus Aziz, dengan Rhoma mengajukan pertanyaan dan Gus Aziz menjelaskan hasil kajiannya berdasarkan sumber-sumber yang disebutkan selama podcast.

Gus Aziz Jazuli LC MH

Pembahasan Klaim dalam Literatur, Diskursus Nasab, dan Penutup Podcast

Narasumber Paparkan Contoh-contoh Lain dari Literatur yang Dikaji

Memasuki paruh akhir podcast, Rhoma Irama kembali meminta Gus Aziz Jazuli menjelaskan sejumlah contoh lain yang menurutnya ditemukan dalam kitab-kitab yang menjadi objek penelitiannya.

Dalam penjelasannya, Gus Aziz menyebut terdapat berbagai riwayat dan kisah yang menurutnya dinisbatkan sebagai karamah tokoh-tokoh tertentu. Ia menyampaikan beberapa contoh yang menurutnya terdapat dalam literatur tersebut, termasuk kisah mengenai tokoh yang disebut dapat bermusyawarah dengan Allah sebelum melakukan perjalanan, kisah yang menurutnya berisi perintah meminta pertolongan kepada tokoh tertentu di makam, hingga berbagai kisah lain yang ia kategorikan sebagai khurafat.

Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa pembahasan tersebut, menurut pandangannya, berkaitan dengan persoalan akidah sehingga perlu dikaji secara hati-hati.

Dalam dialog tersebut, Gus Aziz menjelaskan bahwa seluruh contoh yang dipaparkannya merupakan hasil telaah terhadap kitab-kitab yang ia pelajari dan menjadi bagian dari penelitian yang dilakukan dalam penyusunan bukunya.

Pembahasan Mengenai Konsep Karamah

Selanjutnya, pembicaraan beralih kepada konsep karamah dalam tradisi Islam.

Gus Aziz menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, karamah memiliki syarat-syarat tertentu dan tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.

Ia mengutip pandangan sejumlah ulama tasawuf, termasuk Imam Al-Ghazali, yang menurutnya menjelaskan bahwa suatu peristiwa luar biasa tetap harus selaras dengan Al-Qur’an dan sunah.

Rhoma Irama kemudian memberikan penjelasan bahwa mukjizat merupakan anugerah Allah kepada para nabi, sedangkan karamah merupakan anugerah kepada para wali. Menurutnya, karamah tidak dapat melampaui mukjizat para nabi.

Dialog tersebut berlangsung dalam bentuk saling melengkapi penjelasan mengenai perbedaan antara mukjizat, karamah, dan kisah-kisah yang oleh narasumber dikategorikan sebagai khurafat.

Pengalaman Belajar di Tarim

Rhoma Irama juga menanyakan apakah ajaran yang menurut Gus Aziz dikategorikan sebagai khurafat pernah diajarkan ketika dirinya belajar di pesantren maupun saat menempuh pendidikan di Tarim.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gus Aziz mengatakan bahwa selama belajar di pesantren dan di Universitas Al-Ahqaf Tarim, materi yang dipelajari merupakan ilmu-ilmu keislaman secara umum.

Ia menyebut bahwa pembahasan mengenai berbagai kisah yang kemudian ia teliti justru dilakukan setelah muncul diskursus mengenai polemik nasab.

Menurutnya, sejak saat itu ia mulai mempelajari berbagai kitab secara lebih mendalam bersama rekan-rekannya hingga akhirnya menghimpun ratusan temuan yang kemudian dimasukkan ke dalam bukunya.

Diskursus Nasab dan Kajian Ilmiah

Pada bagian berikutnya, pembahasan beralih kepada diskursus mengenai nasab Baalawi.

Rhoma Irama menyampaikan bahwa dirinya mengikuti berbagai kajian yang berkaitan dengan persoalan tersebut, termasuk kajian yang disebut berasal dari tesis KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, pembahasan filologi, serta informasi mengenai DNA yang disebutkan dalam podcast.

Menurut Rhoma Irama, ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari materi yang ia pelajari dalam mengikuti perkembangan polemik nasab.

Sementara itu, Gus Aziz menyatakan bahwa kajian ilmiah menurutnya penting untuk membuka ruang diskusi sehingga setiap pihak dapat melakukan telaah terhadap berbagai sumber yang digunakan.

Dalam percakapan tersebut, keduanya beberapa kali menyinggung pentingnya penelitian, kajian dokumen, serta pembahasan akademik dalam melihat persoalan nasab.

Pembahasan Mengenai DNA

Rhoma Irama juga menyinggung pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan oleh Muhammad Rizieq Shihab mengenai tes DNA sebagai salah satu cara untuk mendukung pembuktian nasab.

Ia mengatakan bahwa pernyataan tersebut disampaikan sebelum polemik nasab berkembang luas.

Dalam podcast, Rhoma menyebut tes DNA sebagai salah satu unsur yang menurutnya dapat menjadi bahan pendukung dalam pembahasan mengenai garis keturunan.

Pembahasan kemudian berkembang pada pertanyaan mengapa isu tersebut masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Seluruh penyampaian mengenai DNA dalam podcast tersebut merupakan bagian dari pandangan yang disampaikan oleh narasumber dan pembawa acara selama diskusi berlangsung.

Tujuan Diskusi Menurut Narasumber

Menjelang akhir podcast, Rhoma Irama kembali menegaskan bahwa menurut pandangannya diskusi mengenai polemik nasab tidak didorong oleh kebencian terhadap kelompok tertentu.

Ia mengatakan tujuan pembahasan adalah mengajak masyarakat untuk melihat persoalan berdasarkan kajian yang menurutnya tersedia.

Senada dengan hal tersebut, Gus Aziz menyampaikan bahwa dirinya mengajak masyarakat untuk menjaga akidah dan memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam.

Ia mengingatkan agar setiap informasi yang berkaitan dengan agama dipelajari secara hati-hati dan dibandingkan dengan Al-Qur’an, sunah, serta pendapat para ulama yang menjadi rujukan.

Selain itu, ia juga mengajak umat Islam untuk terus mempelajari ajaran agama agar mampu membedakan informasi yang menurutnya sesuai dengan ajaran Islam dan yang tidak.

Ajakan Menjaga Akidah dan Persatuan

Pada penutupan podcast, Gus Aziz menyampaikan harapannya agar umat Islam terus menjaga kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, agama Islam, bangsa, dan negara.

Ia juga mengajak masyarakat memperdalam ilmu agama sehingga memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi berbagai persoalan keagamaan.

Rhoma Irama kemudian menyampaikan apresiasi kepada narasumber atas penjelasan yang diberikan selama podcast.

Menurutnya, pembahasan tersebut diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi para pemirsa.

Podcast kemudian ditutup dengan doa agar seluruh pihak memperoleh petunjuk dari Allah SWT, dilanjutkan dengan ucapan terima kasih kepada penonton yang telah mengikuti tayangan hingga selesai.

Penutup

Podcast Rhoma Irama Official bersama Muhammad Abdul Aziz Jazuli membahas berbagai topik yang berkaitan dengan polemik nasab Baalawi, kajian mengenai khurafat, konsep karamah, tasawuf, serta pentingnya menjaga akidah menurut perspektif yang disampaikan kedua pembicara.

Sepanjang dialog, Rhoma Irama berperan sebagai pewawancara yang mengajukan berbagai pertanyaan, sementara Gus Aziz memaparkan latar belakang pendidikan, karya tulis, serta hasil kajiannya terhadap sejumlah literatur yang menjadi objek penelitian.

Seluruh pembahasan dalam podcast disampaikan dalam bentuk dialog dan pemaparan pandangan narasumber sebagaimana terekam dalam tayangan yang dipublikasikan di kanal Rhoma Irama Official.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button