invisible hit counter
Nasional

Kiai Abdul Ghalib Syakhuri Soroti Kisah-Kisah Karamah dalam Tradisi Habaib, Sebut Banyak Cerita Berpotensi Khurafat

WARTA BATAVIA – SAMPANG – Kiai Abdul Ghalib Syakhuri dari Sampang, Madura, memberikan tanggapan terhadap sejumlah kisah mengenai karamah tokoh-tokoh Habaib yang beredar dalam berbagai ceramah. Dalam sebuah video yang beredar, ia mengawali komentarnya setelah diperdengarkan rangkaian cerita mengenai tokoh-tokoh dari kalangan Ba’Alawi yang disebut memiliki berbagai keistimewaan luar biasa.

Menurut Kiai Abdul Ghalib, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyikapi berbagai kisah tersebut dan tidak menerima seluruhnya tanpa kajian yang mendalam berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama.

Berbagai Kisah Karamah Dipaparkan Sebelum Tanggapan Kiai Abdul Ghalib

Sebelum komentar Kiai Abdul Ghalib disampaikan, video tersebut menampilkan rangkaian ceramah yang berisi berbagai kisah mengenai tokoh-tokoh Habaib terdahulu.

Dalam ceramah tersebut diceritakan berbagai riwayat, di antaranya mengenai tokoh yang disebut mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat sejak usia tujuh tahun, tidak tidur selama puluhan tahun karena selalu menyaksikan surga dan neraka, hingga kisah pesawat yang disebut kembali mendarat karena menunggu seorang habib.

Selain itu, terdapat pula cerita mengenai:

  • seseorang yang diklaim masuk surga sebelum wafat;
  • tangan Rasulullah yang disebut keluar dari makam untuk dicium seorang ulama di hadapan ribuan saksi;
  • bau rumput surga yang dikisahkan terbawa ke dunia;
  • doa yang disebut selalu dikabulkan di Kota Tarim;
  • wali yang diklaim mampu menghidupkan orang yang telah meninggal;
  • hujan susu yang disebut turun sebagai bentuk karamah;
  • seseorang yang dikisahkan mampu memadamkan api neraka apabila Allah mengizinkannya;
  • hingga berbagai kisah lain mengenai kemampuan bertemu Nabi Muhammad dalam keadaan sadar (yaqazhah), terbang, maupun berbagai bentuk karamah lainnya.

Ceramah tersebut juga menyebut sejumlah tokoh dari kalangan Ba’Alawi serta berbagai riwayat mengenai kehidupan mereka.

Kiai Abdul Ghalib Syakhuri Soroti Kisah-Kisah Karamah dalam Tradisi Habaib, Sebut Banyak Cerita Berpotensi Khurafat

Kiai Abdul Ghalib Menilai Banyak Kisah Tidak Pernah Terjadi

Menanggapi berbagai cerita tersebut, Kiai Abdul Ghalib menyatakan bahwa banyak kisah yang menurutnya merupakan cerita khurafat.

Ia mengatakan bahwa berbagai cerita tersebut “tidak terjadi tetapi ditulis-tulis” sehingga kemudian berkembang luas di tengah masyarakat.

Menurutnya, masyarakat perlu mempertanyakan tujuan munculnya berbagai kisah tersebut.

Pertanyakan Tujuan Pengangkatan Kisah Para Tokoh

Dalam komentarnya, Kiai Abdul Ghalib mempertanyakan maksud di balik penyebaran cerita-cerita tersebut.

Ia mengajukan pertanyaan apakah kisah-kisah tersebut dimaksudkan untuk meninggikan kedudukan tokoh-tokoh tertentu hingga disejajarkan dengan Nabi Muhammad SAW ataupun bahkan memberikan kesan memiliki kewenangan yang hanya dimiliki Allah SWT.

Menurutnya, sejumlah riwayat yang beredar bahkan menggambarkan tokoh-tokoh tertentu memiliki kemampuan yang sangat luar biasa sehingga perlu dikaji kembali sumber dan validitasnya.

Singgung Klaim tentang Pengelolaan Alam Semesta

Kiai Abdul Ghalib juga menyinggung adanya cerita yang menurutnya menyebut Allah menyerahkan sebagian urusan alam semesta kepada salah satu tokoh yang dihormati dalam tradisi tersebut.

Ia menyebut klaim seperti itu sebagai bentuk penyimpangan yang menurutnya perlu disampaikan kepada masyarakat agar tidak diterima begitu saja.

Menurutnya, terdapat pula kisah-kisah yang dinilai memberikan gambaran kemampuan tokoh tertentu yang bahkan melebihi apa yang dikenal dari riwayat mengenai Nabi Muhammad SAW.

Kisah-Kisah Karamah dalam Tradisi Habaib, Sebut Banyak Cerita Berpotensi Khurafat

Soroti Isi Kitab Karya Habib Umar bin Hafidz

Dalam penjelasannya, Kiai Abdul Ghalib kemudian merujuk kepada kitab As-Saadah Ali Abi Alawi karya Habib Umar bin Hafidz.

Ia menyebut bahwa pada halaman 43 terdapat keterangan mengenai perbuatan para pendahulu keluarga Ali Abi Alawi yang disebut sebagai hujah.

Menurutnya, bagian tersebut perlu dicermati secara ilmiah karena berkaitan dengan konsep hujah dalam ilmu usul fikih.

Bandingkan dengan Pendapat Ulama Usul Fikih

Kiai Abdul Ghalib kemudian mengutip pendapat para ulama usul fikih yang menurutnya menyatakan bahwa perbuatan para sahabat Nabi sendiri tidak otomatis menjadi hujah yang mengikat.

Ia menyebut pendapat yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i mengenai posisi perkataan maupun perbuatan sahabat dalam istinbath hukum.

Menurutnya, mayoritas ulama memandang bahwa perbuatan sahabat menunjukkan kebolehan (jawaz) atau menjadi contoh praktik, namun tidak otomatis berkedudukan sebagai hujah yang mengikat seluruh umat.

Kiyai Abdul Ghalib Komentari Karomah Palsu (khurafat) klan Habaib Ba'alwi

Berikan Contoh Perbedaan Fatwa Sahabat

Sebagai ilustrasi, Kiai Abdul Ghalib mengutip contoh perbedaan pendapat antara Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar mengenai hukum seseorang yang berhubungan suami istri setelah tahallul sebelum melaksanakan tawaf ifadah ketika berhaji.

Ia menjelaskan bahwa adanya perbedaan fatwa di antara para sahabat menunjukkan bahwa pendapat mereka tidak seluruhnya bersifat mengikat sebagaimana nash syariat.

Karena itu, menurutnya, menjadikan seluruh tindakan atau perkataan tokoh-tokoh setelah generasi sahabat sebagai hujah perlu dikaji secara hati-hati.

Ajak Mengkaji Berdasarkan Dalil

Di akhir komentarnya, Kiai Abdul Ghalib mengajak masyarakat agar tidak menerima setiap kisah karamah hanya karena berasal dari tokoh yang dihormati.

Ia menilai seluruh riwayat semestinya ditimbang menggunakan Al-Qur’an, hadis, serta metodologi para ulama dalam ilmu usul fikih sehingga masyarakat dapat membedakan antara riwayat yang memiliki dasar kuat dengan cerita yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Komentar tersebut disampaikan sebagai tanggapan terhadap berbagai kisah mengenai tokoh-tokoh Habaib yang sebelumnya dipaparkan dalam video dan hingga kini masih menjadi bahan diskusi di kalangan masyarakat.

sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button