invisible hit counter
Nasional

Nasehat Rhoma Irama di Kanal YouTube: Polemik Nasab Ba’alawi Bukan Persoalan Sederhana

WARTA BATAVIAJakarta – Polemik nasab Ba’alawi kembali menjadi sorotan publik setelah musisi dangdut sekaligus dai, Rhoma Irama, menyampaikan nasehat panjang lebar melalui kanal YouTube Rhoma Irama Official pada 9 Mei 2025. Dalam paparannya, Rhoma Irama merespons pernyataan Ustaz Rizik Syihab dalam sebuah podcast yang dinilainya telah meremehkan persoalan polemik nasab keturunan Nabi Muhammad SAW.

Rhoma Irama menegaskan bahwa persoalan nasab Ba’alawi bukanlah masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan sikap “yang percaya silakan, yang tidak percaya silakan”. Menurutnya, ada dimensi yang jauh lebih kompleks dan berbahaya di balik polemik ini, mulai dari pendangkalan akidah hingga isu penguasaan ekonomi dan sejarah.

Latar Belakang Polemik Nasab Ba’alawi di Indonesia

Polemik nasab Ba’alawi menjadi topik hangat yang diperbincangkan di berbagai platform media sosial, termasuk kanal YouTube Bisikan Rhoma yang merupakan salah satu wadah utama diskusi ini. Rhoma Irama sebagai podcaster sekaligus da’i dalam Bisikan Rhoma bermaksud memediasi dua kubu yang tengah bersengketa.

Persoalan ini berawal dari tesis yang dikemukakan oleh KH Imaduddin Utsman al-Bantani, pengasuh Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, yang menyatakan bahwa nasab Ba’alawi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan historis.

Kritik Kiai Imaduddin Utsman terhadap Nasab Ba’alawi

Kiai Imaduddin Utsman menyatakan bahwa seluruh metode isbat (penetapan) nasab tidak bisa menetapkan Ba’alawi sebagai cucu Nabi. Menurutnya, nasab dari kalangan Ba’alawi keberadaannya tidak tercatat selama 500 tahun, tepatnya dari abad ke-4 hingga ke-9 Hijriah.

“Seluruh metode isbat nasab tidak bisa untuk mengisbat (menetapkan) Ba’alawi sebagai cucu nabi. Kita buktikan,” ujar Imaduddin dalam sebuah video yang diunggah di YouTube.

Ia menjelaskan bahwa isbat nasab harus dilakukan melalui *birruq’ah* dengan adanya kitab. Namun syarat kitab itu tidak boleh berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. “Sedangkan apa yang dikatakan oleh kitab-kitab yang mengisbat Ba’alawi mulai dari abad 9 sampai hari ini, yang katanya itu berjumlah 180 kitab, semuanya itu berbeda dengan kitab-kitab nasab dari mulai abad ke-4 sampai abad ke-9,” ucapnya.

Pada abad ke-10, baru ada kitab nasab yang menyatakan bahwa Ubaid atau Ubaidillah adalah putra Ahmad bin Isa sebagaimana klaim keluarga habib Ba’alwi. Namun sebelum abad itu, tidak ada satu pun selama 550 tahun yang menyatakan hal tersebut.

Selain metode kitab, metode yang disepakati oleh mayoritas ulama untuk menangani masalah nasab adalah *syuhroh wal istifadloh* (ketenaran dan persebaran). “Apakah nasab mengalami syuhroh dan istifadloh? Tidak. Buktinya, dari mulai abad ke-4 sampai ke-9, sama sekali tidak ada yang menyebutkan,” tegas Imaduddin.

Respons Rhoma Irama terhadap Pernyataan Ustaz Rizik Syihab

Dalam video berdurasi lebih dari 30 menit tersebut, Rhoma Irama merespons secara khusus pernyataan Ustaz Rizik Syihab yang disebutnya telah meremehkan persoalan polemik nasab ini. Rhoma menilai pernyataan Ustaz Rizik yang mengatakan bahwa “yang percaya silakan, yang tidak percaya silakan” adalah penyederhanaan yang tidak tepat atas masalah yang kompleks.

Tuduhan Tidak Fair terhadap Pengkritik Nasab

Rhoma Irama menyoroti bahwa Ustaz Rizik Syihab dalam podcastnya dinilai telah membuat pernyataan yang tidak fair dan meremehkan persoalan polemik nasab ini. Menurut Rhoma, pernyataan tersebut bisa menimbulkan tuduhan yang tidak fair terhadap orang-orang yang mengkritisi kebenaran nasab Ba’alawi.

“Kalau kita bicara soal nasab, ini kan bagian daripada ilmu yang memang di dalamnya tidak lepas dari ijtihad, dari catatan-catatan sejarah dan seterusnya yang tentunya dalam ijtihad maupun dalam catatan sejarah ada perbedaan-perbedaan di antara ulama-ulama ahlinya,” ujar Rhoma Irama.

Hak untuk Percaya dan Tidak Percaya

Rhoma Irama mengakui bahwa setiap orang memiliki hak untuk percaya atau tidak percaya terhadap klaim nasab Ba’alawi sebagai keturunan Nabi. “Kalau ada kelompok yang enggak percaya habaib itu turunan Nabi, enggak ada masalah. Itu hak dia,” katanya.

Namun, Rhoma menegaskan bahwa yang menjadi masalah adalah ketika ada pihak yang melontarkan hal-hal yang tidak elok kepada para habaib, seperti menyebut habaib penipu, pembohong, penumpang gelap, penjahat, atau nasabnya palsu, dan menjadikannya sebagai propaganda yang membuat gaduh.

“Yang jadi masalah pada saat dia melontarkan hal-hal yang enggak elok kepada para habaib. Habaib penipu, habaib pembohong, habaib ini penumpang gelap, habaib ini penjahat, habaib ini nasabnya palsu dan lain sebagainya. Dan itu dijadikan propaganda, kampanye ini yang bikin gaduh,” tegas Rhoma.

Tiga Ancaman dari Gerakan Ba’alawi Menurut Rhoma Irama

Dalam nasehatnya, Rhoma Irama menguraikan tiga ancaman besar yang ditimbulkan oleh gerakan Ba’alawi, yang menjadi alasan mengapa para ulama seperti Kiai Imaduddin Utsman dan lainnya angkat bicara.

1. Pendangkalan Akidah melalui Khurafat

Rhoma Irama menyoroti adanya praktik-praktik yang dinilainya sebagai khurafat (dongeng atau cerita tidak masuk akal) yang disebarluaskan oleh sebagian kalangan Ba’alawi. Contohnya adalah klaim bahwa Fiqih Muqaddam bisa mikraj 70 kali dalam sehari, ada yang bisa memadamkan api neraka, menurunkan hujan susu, hingga menurunkan rantai emas.

“Ini khurafat-khurafat yang bisa merusak akidah umat. Tujuannya untuk membuat pendengar yang tidak menggunakan akal sehat akan begitu terpengaruh dan akhirnya tunduk patuh taat karena kehebatan leluhur mereka,” ujar Rhoma.

Ia juga menyoroti bahwa mereka disebut-sebut tidak pernah mengagung-agungkan Rasulullah dan para sahabat, melainkan selalu mengagung-agungkan leluhur mereka sendiri. “Ini pembodohan, penyesatan secara akidah,” tegasnya.

2. Penjajahan Spiritual

Ancaman kedua yang disebutkan Rhoma adalah terjadinya penjajahan spiritual. Ia melihat bagaimana umat diajarkan untuk menyembah-nyembah para habaib, bahkan ada pernyataan bahwa seorang habib yang bodoh sekalipun, kakinya lebih mulia daripada tujuh ulama yang alim.

“Ini kan namanya pendangkalan akidah,” kata Rhoma mengutip pernyataan tersebut.

3. Penjajahan Ekonomi

Dari pembodohan dan penjajahan spiritual, Rhoma menyebut terjadi penjajahan ekonomi. Ia menyebut adanya praktik *dawir* (pungutan atau sumbangan paksa) yang menyengsarakan umat.

“Banyak kita dengar keluhan-keluhan umumnya kiai-kiai yang memang muhibbin mereka itu. Puluhan, ratusan, mungkin ribuan sudah kita dengar. Bagaimana mereka memeras mendawir para muhibin ini dengan dalih kalau tidak ngasih saya enggak dapat syafaat dari Nabi. Bahkan saya tidak akan beri syafaat,” ungkap Rhoma.

Ia mencontohkan praktik di mana para muhibin dimintai sejumlah uang dengan dalih untuk Rasulullah, yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu.

Isu Kuburan Palsu dan Ambisi Penguasaan Indonesia

Salah satu poin paling kontroversial yang disampaikan Rhoma Irama adalah tentang adanya ribuan kuburan palsu yang dibuat oleh kalangan Ba’alawi di Indonesia. Menurut Rhoma, praktik ini memiliki kemiripan dengan strategi yang digunakan oleh bangsa Israel-Yahudi sebelum menguasai Palestina.

“Ini sejarah membuktikan bahwa bangsa Israel Yahudi mau menguasai Palestina sebelumnya dibuat dulu tuh kuburan-kuburan palsu. Untuk apa? Hei, ini leluhur tanah ini dulu milik leluhur kami. Lihat kuburan-kuburan orang-orang Yahudi Israel. Ini tanah leluhur kami. Ternyata tujuan kuburan palsu itu persis. Ribuan kuburan palsu di Indonesia yang alhamdulillah sekarang sudah banyak dibongkar walaupun belum semua,” paparnya.

Rhoma mengutip narasi yang disebarkan oleh kalangan Ba’alawi bahwa merekalah yang mengislamkan Indonesia. “Kaum Baalawi datang dulu untuk mengislamkan antum Indonesia. Kalau kita enggak datang, ente masih menyembah pohon. Kalau aneh enggak datang, ente masih dijajah Belanda. Kamilah yang mengislamkan Anda,” kutip Rhoma.

Ia kemudian mengaitkan hal ini dengan klaim bahwa “Indonesia milik Aulia Tarim” (Tarim adalah markas besar Ba’alawi di Yaman). “Setelah dibuatnya kubur-kubur palsu, dia berani mengatakan Indonesia milik Aulia Tarim. Apakah ini soal biasa-biasa saja?” tanya Rhoma retoris.

Tantangan Tes DNA dan Pembuktian Ilmiah

Rhoma Irama juga menyoroti isu tes DNA yang menjadi salah satu alat pembuktian dalam polemik nasab ini. Menurutnya, para habib seharusnya bersedia melakukan tes DNA untuk membuktikan klaim mereka sebagai keturunan Nabi.

“Data sejarah, data DNA, kemudian data-data manuskrip filologi ini semuanya enggak terpenuhi. Kenapa ini dikejar oleh para ulama yang peduli terhadap umat dan bangsa Indonesia? Kalau enggak ini bahaya,” tegas Rhoma.

Ia menambahkan bahwa Ustaz Rizik Syihab sendiri pernah menyerukan agar umat Islam yang mengaku keturunan Nabi memeriksakan DNA. “Mestinya sebelum ngomong begitu tes DNA dulu ente ustaz. Karena itu perintah antum kepada seluruh umat Islam yang ngaku-ngaku turunan Nabi diperintah oleh Habibana Rizq Syihab. Ayo periksa DNA,” kata Rhoma.

Hasil Tes DNA Klan Ba’alawi

Menurut Kiai Imaduddin Utsman, klan Ba’alawi sudah banyak yang melakukan tes DNA, sekitar 180 orang berdasarkan informasi dari Dr. Sugeng. Hasil tes DNA tersebut dapat diunduh di situs familytree dan berbagai situs lainnya.

Namun demikian, Rabithah Alawiyah memiliki pandangan berbeda mengenai efektivitas tes DNA untuk melacak nasab yang jauh. Dalam sebuah diskusi yang digelar di gedung Rabithah Alawiyah, pakar biomedis Dr. dr. Zen Hafy Shahb menjelaskan bahwa tes DNA untuk jalur nasab yang jauh akan semakin terdelusi.

“Karena pertama masih 50-50, kedua 25-25. Makin ke bawah makin berkurang,” jelasnya.

Sayyid Muhammad Assegaf, anggota tim peneliti Rabithah Alawiyah, juga mengkritisi kemungkinan menentukan nasab jauh dengan tes DNA, terkait dengan pengelompokan haplogrup.

Fakta-Fakta Seputar Polemik Nasab Ba’alawi

Pertanyaan Kiai Imaduddin yang Belum Terjawab

Rhoma Irama menyebut bahwa 12 pertanyaan Kiai Imaduddin Utsman sampai sekarang belum terjawab oleh kalangan Ba’alawi. “Dari data sejarah enggak mampu melakukan antitesis 12 pertanyaan Kiai Imaduddin sampai sekarang enggak terjawab ya. Kemudian tes DNA tidak dilaksanakan sampai sekarang,” ujarnya.

Tuduhan Begal Nasab

Rhoma juga menanggapi tuduhan dari kalangan Ba’alawi yang menyebut Kiai Imaduddin CS sebagai “begal nasab” (perampok nasab). Menurut Rhoma, istilah begal berarti mengambil sesuatu yang bukan haknya.

“Begal itu adalah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bukan turunan Nabi ngaku turunan Nabi. Nah, siapa yang sebenarnya mengambil,” tegas Rhoma.

Perubahan Sikap Ustaz Rizik Syihab

Rhoma Irama melihat adanya perubahan sikap dari Ustaz Rizik Syihab yang dinilainya mulai menurun tensinya. Dari sebelumnya frontal dengan caci maki dan ajakan perang, kini sikapnya lebih moderat.

“Dari sisi positifnya ini oke ya. Nah, kita berharap ini terus berkembang dari tensi yang turun. Kita berharap satu saat, oh ternyata memang benar kita bukan turunan Nabi,” harap Rhoma.

Landasan Al-Qur’an dan Hadis tentang Nasab

Dalam nasehatnya, Rhoma Irama juga mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menegaskan bahwa nasab atau keturunan tidak menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Kemuliaan di Sisi Allah adalah Takwa

Rhoma mengutip firman Allah dalam Surat Al-Hujurat ayat 13: *”Inna akromakum ‘indallahi atqokum”* (Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu).

“Ketinggian derajat manusia di sisi Allah adalah takwamu. Kemuliaan manusia takwa,” ujar Rhoma.

Nasab Tidak Berlaku di Akhirat

Rhoma juga mengutip ayat tentang hari kiamat di mana nasab tidak lagi memiliki arti. “Sampai Allah menegaskan, *fa idza nufikha fis suri fala ansaba bainahum* (Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu). Enggak ada artinya nasab,” jelasnya.

Hadis tentang Surga bagi Orang Bertakwa

Rhoma mengutip hadis Rasulullah SAW: *”Aljannatu lil muttaqina walau ana abdan habasyiyan, walau ana abdan li qurasyiyin hasyimiyan”* (Surga itu tempat orang-orang bertakwa, walaupun dia budak dari bangsa Habsyi, walaupun dia anak dari Bani Quraisy atau Bani Hasyim).

“Nabi menyebutkan *walau ana sayyidan* (walaupun dia sayid/turunan Nabi), *sayyidan qurasyiyan hasyimiyan* (termasuk Bani Quraisy dan Bani Hasyim, turunan Nabi). Enggak masuk surga, dia masuk neraka kalau tidak bertakwa,” tegas Rhoma.

Harapan Rhoma Irama untuk Perdamaian

Meskipun menyampaikan kritik tajam, Rhoma Irama mengakhiri nasehatnya dengan harapan akan terciptanya perdamaian dan ukhuwah Islamiyah. Ia berharap agar kalangan Ba’alawi mau introspeksi dan melakukan muhasabah.

“Ngeri ya Allah, ngeri kalau kita enggak periksa keberadaan kita ini dengan benar. Sementara ada polemik kita betul-betul menutup kebenaran dengan ego yang akan merugikan kita sendiri,” ujarnya.

Rhoma berharap suatu saat akan ada pengakuan dari kalangan Ba’alawi bahwa mereka bukan turunan Nabi, disusul dengan permintaan maaf kepada bangsa Indonesia dan kepada Kiai Imaduddin Utsman.

“Yuk kita dekatkan ukhuwah Islamiah. Ini keren,” pungkas Rhoma.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa itu polemik nasab Ba’alawi?

Polemik nasab Ba’alawi adalah perdebatan mengenai klaim keturunan dari kalangan Ba’alawi atau habaib yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Polemik ini dipicu oleh tesis KH Imaduddin Utsman al-Bantani yang menyatakan bahwa nasab Ba’alawi tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan historis.

Siapa Kiai Imaduddin Utsman?

KH Imaduddin Utsman al-Bantani adalah pengasuh dan pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum di Kresek, Tangerang, Banten. Ia dikenal sebagai peneliti yang membatalkan nasab Ba’alawi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW berdasarkan kajian kitab-kitab nasab dari abad ke-4 hingga ke-9 Hijriah.

Apa yang dimaksud dengan tes DNA dalam polemik ini?

Tes DNA menjadi salah satu alat pembuktian yang ditantangkan oleh Rhoma Irama dan Kiai Imaduddin Utsman untuk membuktikan klaim nasab Ba’alawi sebagai keturunan Nabi. Menurut Rhoma, hasil tes DNA bersifat final dan ilmiah. Namun Rabithah Alawiyah berpendapat bahwa tes DNA untuk jalur nasab yang jauh akan semakin terdelusi.

Mengapa Rhoma Irama peduli dengan polemik nasab ini?

Rhoma Irama, sebagai musisi dangdut sekaligus dai, mengaku peduli karena melihat adanya bahaya dari gerakan Ba’alawi yang dinilainya dapat merusak akidah umat, melakukan penjajahan spiritual, dan penjajahan ekonomi. Ia juga menyoroti isu kuburan palsu dan ambisi penguasaan Indonesia.

Apa harapan Rhoma Irama terkait polemik ini?

Rhoma Irama berharap agar kalangan Ba’alawi mau melakukan introspeksi dan muhasabah, serta bersedia melakukan tes DNA untuk membuktikan klaim nasab mereka. Ia juga berharap terciptanya perdamaian dan ukhuwah Islamiyah di antara semua pihak.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button