invisible hit counter
Nasional

Suparman Abdul Karim Soroti Sejarah Perjuangan Ulama dan Polemik Nasab

Ustadz Suparman Abdul Karim Soroti Sejarah Perjuangan Ulama, Santri, dan Polemik Klaim Nasab

WARTA BATAVIA – Ustadz Suparman Abdul Karim menyoroti pentingnya sejarah, jasa ulama dan santri dalam perjuangan Indonesia, serta menyampaikan sejumlah klaim mengenai tokoh dan nasab dalam ceramahnya.

Ustadz Suparman Abdul Karim Tekankan Pentingnya Tidak Melupakan Sejarah

Ustadz Suparman Abdul Karim dalam ceramah yang diunggah melalui kanal Ustadz Suparman Abdul Karim pada 22 Agustus 2026 menyampaikan sejumlah pandangan mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Dalam ceramah tersebut, ia mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan sekaligus mengingat jasa ulama serta santri dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Ia menggunakan dua istilah yang disebut sebagai pengingat, yakni “jas merah” dan “jas hijau”. Menurut penjelasannya, “jas merah” merujuk pada pesan untuk tidak melupakan sejarah, sedangkan “jas hijau” dimaknai sebagai ajakan untuk tidak menghilangkan jasa ulama.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia membahas peran ulama, kiai, santri, dan jamaah tarekat dalam berbagai fase perjuangan di Nusantara.

Ia juga menyinggung sejumlah klaim mengenai sejarah Wali Songo, garis keturunan sejumlah tokoh, hingga kisah perjuangan melawan kolonialisme Belanda.

Dalam ceramahnya, Ustadz Suparman juga menyampaikan sejumlah tudingan dan klaim mengenai beberapa tokoh yang disebutnya berkaitan dengan pihak kolonial. Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan isi ceramah yang disampaikan oleh Ustadz Suparman Abdul Karim dan perlu ditempatkan sebagai klaim narasumber.

Seruan Menjaga Persatuan dan Kesatuan

Pada bagian awal ceramah, Ustadz Suparman Abdul Karim mengajak masyarakat untuk tidak bersikap terlalu lunak maupun terlalu keras.

Ia menyampaikan ungkapan yang bermakna bahwa seseorang tidak seharusnya terlalu lembut karena dapat diinjak, tetapi juga tidak boleh terlalu keras karena dapat dipatahkan.

Menurut dia, sikap tersebut berkaitan dengan karakter yang ia gambarkan sebagai sikap moderat atau wasathiyah.

Ia kemudian mengajak masyarakat untuk bersatu dengan menggunakan ungkapan Jawa, “rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas, cancut tali wondo”.

Seruan persatuan tersebut dilanjutkan dengan ungkapan “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

Ia juga mengajak masyarakat untuk bergandengan tangan, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.

Dalam ceramahnya, seruan tersebut kemudian dikaitkan dengan identitas kebangsaan melalui penyebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila.

“Jas Merah” dan “Jas Hijau” Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah

“Jas Merah” dan “Jas Hijau”

Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah

Ustadz Suparman Abdul Karim kemudian mengangkat istilah “jas merah” yang dikaitkan dengan pesan Soekarno agar masyarakat tidak melupakan sejarah.

Dalam ceramah tersebut, ia menekankan pentingnya mempelajari sejarah bangsa dan menjaga agar sejarah tidak dilupakan.

Ia kemudian menambahkan istilah “jas hijau” sebagai pengingat agar jasa ulama tidak dihilangkan dari sejarah.

Menurut Ustadz Suparman, kedua hal tersebut penting terutama dalam pembahasan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kekhawatiran terhadap Penulisan Ulang Sejarah

Dalam ceramahnya, Ustadz Suparman juga menyampaikan kekhawatiran mengenai penulisan ulang sejarah.

Ia meminta pemerintah berhati-hati dalam melakukan penulisan sejarah, terutama apabila proses tersebut berpotensi mengurangi atau menghilangkan peran ulama dan pesantren.

Ia mengatakan dirinya khawatir terhadap munculnya pemberitaan yang menurutnya memberikan kesan negatif terhadap kiai dan pondok pesantren.

Ustadz Suparman menyebut bahwa terdapat kesan seolah-olah peran ulama dalam perjuangan memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan kurang mendapatkan perhatian.

Karena itu, ia meminta agar kontribusi ulama, santri, dan pesantren tetap dicatat dalam sejarah Indonesia.

Klaim Mengenai Silsilah Wali Songo

Salah satu bagian ceramah membahas sejarah dan silsilah Wali Songo.

Ustadz Suparman Abdul Karim menyampaikan klaim bahwa terdapat perubahan atau penulisan ulang mengenai silsilah Wali Songo.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan manuskrip yang menurutnya menjadi rujukan, silsilah Wali Songo berkaitan dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Ia juga menyebut adanya klaim lain yang menghubungkan silsilah tersebut dengan Ba’al dan kemudian Imam Husein.

Dalam ceramahnya, Ustadz Suparman menyatakan bahwa dirinya berpendapat silsilah tersebut seharusnya dikaitkan dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan mengenai sejarah dan nasab yang disampaikan dalam ceramah.

Manuskrip Disebut sebagai Dasar

Ustadz Suparman menegaskan bahwa pembicaraan mengenai silsilah Wali Songo menurutnya berkaitan dengan manuskrip.

Ia menyebut bahwa berdasarkan manuskrip yang dimaksud, terdapat garis keturunan yang ia hubungkan dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Namun, dalam transkrip ceramah tersebut tidak disertakan reproduksi manuskrip, identitas lengkap naskah, lokasi penyimpanan, tanggal penulisan, maupun kajian akademik yang memverifikasi klaim tersebut.

Karena itu, bagian tersebut merupakan pernyataan narasumber sebagaimana disampaikan dalam ceramah.

Pesantren dan Klaim Garis Keturunan

Ustadz Suparman kemudian menyinggung sejumlah pesantren yang menurutnya memiliki hubungan dengan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Ia menyebut Pesantren Al-Kahfi Somalangu sebagai salah satu pesantren tua yang menurutnya memiliki usia sekitar lima setengah abad.

Ia juga menyebut Pesantren Sidogiri dan mengaitkan pendirinya, Sayyid Sulaiman, dengan garis keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Menurut ceramah tersebut, terdapat klaim berbeda mengenai nama ayah Sayyid Sulaiman.

Ia kemudian menyebut hasil tes DNA dan proses isbat oleh sebuah naqabah internasional di Maroko sebagai dasar untuk mendukung klaim garis keturunan tertentu.

Transkrip tidak memuat dokumen hasil tes DNA, laporan laboratorium, atau dokumen isbat yang dimaksud.

Karena itu, informasi tersebut dalam artikel ini disampaikan sebagai keterangan yang berasal dari ceramah Ustadz Suparman Abdul Karim.

Ustadz Suparman Bahas Peran Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan

Ustadz Suparman Bahas Peran Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan

Pembahasan kemudian beralih pada perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan.

Ustadz Suparman menyampaikan bahwa perjuangan merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan melibatkan ulama, santri, serta jamaah.

Ia menekankan bahwa pembentukan sejumlah institusi negara terjadi setelah fase-fase awal perjuangan kemerdekaan.

Dalam ceramahnya, ia menyebut TNI dibentuk pada 5 Oktober 1945 dan kepolisian memperingati Hari Bhayangkara setiap 1 Juli.

Dari kronologi tersebut, ia menyampaikan kesimpulan bahwa perjuangan sebelum pembentukan institusi-institusi tersebut melibatkan berbagai kelompok masyarakat, termasuk kiai dan santri.

Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa

Perang Jawa 1825-1830

Ustadz Suparman kemudian mengangkat Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.

Ia menyebut Pangeran Diponegoro bukan hanya sebagai bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta, tetapi juga sebagai kiai dan ulama.

Menurut ceramah tersebut, Pangeran Diponegoro berjuang bersama para santrinya melawan Belanda dalam perang yang berlangsung pada 1825 hingga 1830.

Ustadz Suparman menyebut Perang Jawa sebagai salah satu perang yang memberikan kerugian besar bagi Belanda.

Klaim tentang Habib Ibrahim Baabud

Dalam bagian berikutnya, Ustadz Suparman menyampaikan tudingan mengenai tokoh yang disebutnya sebagai Habib Ibrahim Baabud.

Ia mengaitkan tokoh tersebut dengan penangkapan Pangeran Diponegoro.

Menurut versi yang disampaikan dalam ceramah, Habib Ibrahim Baabud membujuk Pangeran Diponegoro untuk bertemu dengan Jenderal Van Kock.

Ustadz Suparman mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro akhirnya turun gunung dan kemudian ditangkap.

Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk pengkhianatan.

Klaim mengenai peran Habib Ibrahim Baabud tersebut merupakan pernyataan yang disampaikan Ustadz Suparman dalam ceramah dan tidak disertai dokumentasi sumber primer dalam transkrip.

Perlawanan di Lampung dan Raden Intan

Pembahasan sejarah kemudian diarahkan ke Lampung.

Ustadz Suparman menceritakan perlawanan terhadap Belanda yang berkaitan dengan Keratuan Pugung serta tokoh-tokoh seperti Raden Imba Kesuma dan Raden Intan.

Ia menyebut Raden Imba Kesuma memimpin pasukan bersama mertuanya, Kiai Arya Nata Braja.

Menurut ceramah tersebut, Kiai Arya Nata Braja merupakan seorang kiai dan disebut memiliki hubungan dengan Kesultanan Banten.

Ia kemudian menceritakan bahwa Raden Intan lahir ketika ibunya masih dalam keadaan hamil setelah Raden Imba ditangkap dan dibuang oleh Belanda.

“Apa Obatnya Malu?”

Ustadz Suparman juga mengutip dialog yang dikaitkan dengan Raden Intan.

Dalam ceramahnya, Raden Intan disebut pernah bertanya kepada ibunya mengenai obat rasa malu.

Jawaban ibunya, sebagaimana dikisahkan dalam ceramah, adalah bahwa obat malu adalah mati daripada bekerja sama dengan Belanda dan mengkhianati rakyat Nusantara.

Ustadz Suparman kemudian menyebut Raden Intan gugur dalam pertempuran dan saat ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional dari Lampung.

Geger Cilegon dan Kiai Wasid

Perlawanan Banten 1888

Peristiwa berikutnya yang dibahas adalah Geger Cilegon pada 1888.

Ustadz Suparman menyebut masyarakat Jawa Barat dan Banten melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Dalam ceramahnya, kepemimpinan perlawanan tersebut dikaitkan dengan Kiai Wasid.

Ia menyebut Kiai Wasid sebagai murid Syekh Abdul Karim Tanara.

Syekh Abdul Karim Tanara kemudian disebut sebagai kerabat Syekh Nawawi Al-Bantani.

Klaim mengenai Habib Utsman bin Yahya

Pada bagian ini, Ustadz Suparman menyebut Habib Utsman bin Yahya sebagai tokoh yang menurutnya melakukan pengkhianatan dalam konteks Geger Cilegon.

Ia menyebut kitab Manhajul Istiqamah sebagai salah satu sumber yang menurutnya dapat digunakan untuk mendukung tudingan tersebut.

Menurut Ustadz Suparman, dalam kitab tersebut terdapat pandangan yang ia tafsirkan sebagai penolakan terhadap perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Ia juga menyebut adanya surat kepada pemerintah Belanda yang menurutnya berkaitan dengan gerakan tarekat yang melawan Belanda.

Dalam transkrip ceramah, Ustadz Suparman menyatakan bahwa fatwa tersebut digunakan Belanda sebagai alasan untuk memerangi kiai dan jamaah tarekat.

Klaim tersebut disampaikan sebagai argumentasi narasumber dalam ceramah. Transkrip yang tersedia tidak memuat kutipan lengkap dokumen primer, konteks keseluruhan kitab, maupun tanggapan dari pihak yang disebut.

Perlawanan Aceh dan Habib Abdurrahman Az-Zahir

Ustadz Suparman juga membahas Perang Aceh.

Ia mengatakan bahwa Aceh menjadi salah satu wilayah yang paling lama ditaklukkan Belanda dan menyebut tahun 1903 sebagai tahun penaklukan Aceh.

Dalam ceramahnya, ia kemudian menyebut Habib Abdurrahman Az-Zahir dalam konteks pengkhianatan.

Ustadz Suparman mengaitkan tokoh tersebut dengan klaim keturunan Nabi dan kedatangan ke Nusantara.

Ia juga menyampaikan tudingan bahwa tokoh-tokoh yang disebutnya tidak berjuang merebut kemerdekaan dan justru dibawa Belanda untuk kepentingan kolonial.

Pernyataan tersebut merupakan bagian dari ceramah Ustadz Suparman Abdul Karim.

Kritik terhadap Klaim Keturunan Nabi

Salah satu tema yang cukup menonjol dalam ceramah adalah sikap kritis terhadap klaim seseorang sebagai keturunan Nabi.

Ustadz Suparman mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai seseorang hanya karena penampilan fisik atau pengakuan mengenai garis keturunan.

Ia secara khusus menyebut contoh ciri fisik seperti hidung mancung dalam konteks candaan yang disampaikan kepada jamaah.

Pesan yang disampaikan adalah agar klaim mengenai keturunan tidak diterima hanya berdasarkan penampilan.

Pembahasan tersebut kemudian kembali dihubungkan dengan pentingnya sejarah dan sumber.

Menurut Ustadz Suparman, klaim sejarah seharusnya memiliki sumber dan referensi yang dapat diperiksa.

Peran Ulama dan Santri dalam Proklamasi dan Mempertahankan Kemerdekaan

Ustadz Suparman kemudian kembali menekankan hubungan antara ulama, santri, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ia membahas situasi setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.

Dalam ceramahnya, ia menyebut peristiwa penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta oleh kelompok pemuda ke Rengasdengklok sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, kedatangan pasukan Sekutu bersama administrasi sipil Belanda atau NICA menjadi bagian dari konteks yang kemudian dibahas.

Ustadz Suparman mengatakan Presiden Soekarno kemudian meminta pandangan KH Hasyim Asy’ari mengenai kondisi tersebut.

Fatwa Jihad 22 Oktober 1945

Pertemuan Para Ulama di Surabaya

Menurut ceramah Ustadz Suparman, para ulama kemudian berkumpul di Surabaya.

Ia menyebut KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, KH Abbas Buntet, KH Sator Satori, KH Amin Babakan Caringin, serta sejumlah kiai lainnya sebagai bagian dari pertemuan tersebut.

Pertemuan itu menurutnya berlangsung pada Oktober 1945.

Resolusi Jihad

Ustadz Suparman menyebut bahwa fatwa jihad ditandatangani pada 22 Oktober 1945.

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks yang ia sampaikan, kewajiban tersebut berlaku bagi laki-laki dewasa dan sehat dalam jarak dua marhalah.

Ia menyebut jarak dua marhalah dalam mazhab Syafi’i sebagai sekitar 94 kilometer.

Sementara mereka yang berada di luar jarak tersebut disebut memiliki kewajiban yang bersifat fardu kifayah.

Menurut ceramah tersebut, seruan itu kemudian mendorong banyak masyarakat, terutama santri, untuk terlibat dalam perjuangan menghadapi pasukan Sekutu dan NICA.

Pertempuran Surabaya dan 10 November

Ustadz Suparman kemudian membahas rangkaian pertempuran di Surabaya.

Ia menyebut pertempuran dimulai pada akhir Oktober 1945 dan kemudian mencapai puncaknya pada 10 November.

Ia juga menyebut tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945 sebagai salah satu peristiwa yang kemudian memicu reaksi militer Inggris.

Mengenai jumlah korban Indonesia, Ustadz Suparman menyebut terdapat berbagai angka, mulai sekitar 10.000 hingga lebih dari 20.000 korban.

Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa banyak pejuang yang gugur tidak tercatat namanya dalam sejarah.

Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Penghormatan kepada Pejuang yang Tidak Tercatat

Ustadz Suparman mengatakan bahwa banyak orang yang gugur dalam perjuangan tidak memiliki catatan sejarah yang lengkap.

Bahkan, menurut dia, terdapat kemungkinan makam sebagian pejuang sudah tidak diketahui.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menghormati para pejuang yang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaan.

Persatuan sebagai Kekuatan Bangsa

Selain sejarah, ceramah tersebut juga membahas pentingnya persatuan dalam membangun kekuatan sebuah negara.

Ustadz Suparman memberikan contoh Amerika Serikat dan China sebagai negara yang menurutnya dapat berkembang karena kekuatan jumlah penduduk, persatuan, dan kemajuan teknologi.

Ia membandingkan perkembangan teknologi kedua negara tersebut dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Dalam bagian ini, ia menggunakan humor dan kritik sosial untuk menyampaikan pentingnya meninggalkan ketergantungan terhadap hal-hal yang menurutnya menghambat kemajuan.

Kritik terhadap Santet, Pelet, dan Ngepet

Dalam ceramahnya, Ustadz Suparman juga menggunakan istilah santet, pelet, dan ngepet sebagai bagian dari kritik sosial.

Ia menyampaikan bagian tersebut dengan gaya humor kepada jamaah.

Ia kemudian mengaitkan keyakinan terhadap kemampuan mengambil nyawa, hati, atau uang dari jarak jauh dengan kondisi masyarakat yang menurutnya perlu diarahkan kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembahasan tersebut tidak menjadi fokus utama ceramah, tetapi digunakan untuk memperkuat pesan mengenai pentingnya kemajuan.

Ajakan Menghindari Konflik Internal

Ustadz Suparman mengingatkan agar masyarakat tidak saling menjatuhkan.

Ia menggunakan sejumlah peribahasa seperti “duri dalam daging”, “bara dalam sekam”, “menjegal kawan seiring”, dan “menggunting dalam lipatan”.

Menurutnya, masyarakat tidak akan maju apabila energi dihabiskan untuk saling menyikut.

Pesan tersebut kembali dihubungkan dengan ajakan mempertahankan persatuan dan kesatuan.

Ia juga menekankan sikap wasathiyah, yakni tidak terlalu keras dan tidak terlalu lemah.

Hari Santri sebagai Momentum Mengingat Sejarah

Hari Santri sebagai Momentum Mengingat Sejarah

Pada bagian akhir ceramah yang tersedia dalam transkrip, Ustadz Suparman Abdul Karim menyampaikan apresiasi kepada pemerintah karena telah menetapkan Hari Santri Nasional.

Menurut dia, penetapan tersebut dapat menjadi momentum untuk mengingat kembali kontribusi kiai, ulama, santri, dan jamaah tarekat dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Ia menilai peran kelompok tersebut perlu terus dibicarakan dalam konteks perjuangan merebut kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan.

Dalam ceramahnya, ia kembali menghubungkan pesan tersebut dengan istilah “jas hijau”, yakni ajakan untuk tidak menghilangkan jasa ulama.

FAQ

Apa yang disampaikan Ustadz Suparman Abdul Karim dalam ceramah 22 Agustus 2026?

Ustadz Suparman Abdul Karim membahas pentingnya menjaga persatuan, tidak melupakan sejarah, serta mengingat jasa ulama dan santri dalam perjuangan bangsa Indonesia. Ia juga membahas sejumlah peristiwa sejarah dan menyampaikan klaim mengenai nasab serta beberapa tokoh yang berkaitan dengan sejarah Nusantara.

Apa yang dimaksud dengan “jas merah” dalam ceramah tersebut?

Dalam ceramah tersebut, “jas merah” digunakan untuk mengingat pesan agar masyarakat tidak sekali-kali melupakan sejarah.

Apa yang dimaksud dengan “jas hijau”?

“Jas hijau” digunakan Ustadz Suparman Abdul Karim sebagai ungkapan agar masyarakat tidak menghilangkan jasa ulama.

Apa yang disampaikan tentang Wali Songo?

Ustadz Suparman menyampaikan klaim mengenai silsilah Wali Songo. Ia mengatakan terdapat manuskrip yang menurutnya menunjukkan hubungan silsilah Wali Songo dengan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Transkrip tidak memuat dokumen manuskrip yang dimaksud.

Apa yang disampaikan tentang Pangeran Diponegoro?

Ustadz Suparman menyebut Pangeran Diponegoro sebagai bangsawan sekaligus kiai atau ulama yang memimpin Perang Jawa bersama para santri pada 1825-1830.

Apa yang dibahas mengenai Geger Cilegon?

Ia membahas perlawanan masyarakat Banten pada 1888 yang dikaitkan dengan Kiai Wasid dan Syekh Abdul Karim Tanara. Dalam ceramah tersebut, ia juga menyampaikan tudingan terhadap Habib Utsman bin Yahya.

Apa yang dibahas mengenai Fatwa Jihad 22 Oktober 1945?

Ustadz Suparman menyebut pertemuan para ulama di Surabaya yang kemudian menghasilkan fatwa jihad pada 22 Oktober 1945. Ia mengaitkannya dengan mobilisasi masyarakat dan santri dalam menghadapi Sekutu dan NICA.

Apa pesan utama Ustadz Suparman mengenai sejarah?

Pesan yang berulang dalam ceramah adalah agar masyarakat tidak melupakan sejarah, menjaga persatuan, serta memberikan perhatian terhadap kontribusi ulama, kiai, santri, dan masyarakat dalam perjuangan Indonesia.

Penutup

Ceramah Ustadz Suparman Abdul Karim pada 22 Agustus 2026 menempatkan sejarah, persatuan, serta kontribusi ulama dan santri sebagai tema utama.

Ia mengajak masyarakat mengingat sejarah perjuangan bangsa melalui istilah “jas merah” sekaligus menekankan pentingnya “jas hijau” untuk mengingat jasa ulama.

Dalam ceramah tersebut, ia juga membahas berbagai episode sejarah, mulai dari Perang Jawa, perjuangan di Lampung, Geger Cilegon, Perang Aceh, Proklamasi Kemerdekaan, hingga Pertempuran Surabaya.

Selain itu, terdapat sejumlah pernyataan mengenai silsilah tokoh, klaim keturunan Nabi, serta tudingan terhadap sejumlah tokoh yang disebut dalam konteks sejarah kolonial.

Keseluruhan informasi mengenai klaim tersebut dalam artikel ini disampaikan berdasarkan materi ceramah sebagaimana terdapat dalam transkrip. Dengan demikian, pernyataan yang belum disertai sumber primer atau verifikasi independen tetap diposisikan sebagai keterangan dan klaim yang disampaikan oleh narasumber.

Pada akhirnya, pesan yang paling sering diulang dalam ceramah tersebut adalah pentingnya persatuan dan kesatuan serta ajakan untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button