Prof Ustadz Menachem Ali Soroti Klaim “Jawa Bintu Tarim”

WARTA BATAVIA – Prof Ustadz Menachem Ali menjelaskan klaim “Jawa bintu Tarim”, sejarah nama Jawa, manuskrip Jawa, Prabu Sarkil, serta kajian filologi dalam dialog bersama Edy Prayitno.
Prof Ustadz Menachem Ali Soroti Klaim “Jawa Bintu Tarim”, Ungkap Kajian Filologi dan Jejak Prabu Sarkil
JAKARTA — Pernyataan mengenai Pulau Jawa yang disebut sebagai “bintu Tarim” menjadi salah satu topik yang dibahas Prof Ustadz Menachem Ali dalam dialog bersama Edy Prayitno di kanal Edy Prayitno pada 21 Agustus 2025.
Dalam pembahasan tersebut, Menachem Ali menyoroti penggunaan istilah Arab bintu Tarim sekaligus mengaitkannya dengan kajian filologi, sejarah tertulis, manuskrip Jawa, serta sejumlah dokumen dari tradisi di luar Jawa.
Menurut penjelasan yang disampaikan dalam dialog tersebut, istilah bintu Tarim secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “anak perempuan Tarim”. Ia kemudian mempertanyakan maksud penggunaan istilah tersebut apabila diterapkan untuk menyebut Pulau Jawa.
Pembahasan itu selanjutnya diarahkan pada sejumlah sumber yang disebut dalam dialog, antara lain teks Ramayana, karya Claudius Ptolemy, manuskrip beraksara Jawa dan Pegon, karya Raden Ngabe Ronggowarsito, serta sejumlah teks yang berkaitan dengan tradisi Arab dan Semitik.
Menachem Ali juga membahas nama Prabu Sarkil, yang dalam penjelasannya dikaji melalui pendekatan filologi dan etimologi. Ia mengaitkan nama tersebut dengan unsur bahasa Arab syarq dan il.
Namun, dalam dialog itu sendiri, Menachem Ali menyatakan bahwa sejumlah bagian dari pembahasan tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut dan meminta para pengkaji untuk meneliti dokumen yang berkaitan secara lebih komprehensif.
Klaim “Jawa Bintu Tarim” Dipersoalkan dari Sisi Bahasa
Dalam percakapan dengan Edy Prayitno, Menachem Ali terlebih dahulu menjelaskan makna istilah bintu Tarim berdasarkan bahasa Arab.
Ia mengatakan bahwa bintu Tarim secara harfiah berarti “anak perempuan Tarim”. Dari pemaknaan tersebut, ia kemudian mempertanyakan posisi Pulau Jawa apabila istilah tersebut digunakan sebagai sebuah klaim mengenai hubungan antara Jawa dan Tarim.
Menurut Menachem Ali, istilah tersebut perlu dicermati secara kritis dan tidak cukup hanya dipahami secara literal tanpa melihat konteks historis serta sumber yang digunakan.
Ia kemudian membandingkan klaim tersebut dengan dokumen-dokumen yang menurutnya menunjukkan bahwa nama dan keberadaan Pulau Jawa telah disebut dalam sumber yang jauh lebih awal.
Salah satu sumber yang dibahas adalah Ramayana yang dikaitkan dengan Walmiki. Menurut penjelasan Menachem Ali, istilah Yawa Dwipa telah muncul dalam bagian Kiskindhakanda dan dikaitkan dengan penyebutan Pulau Jawa.
Dalam dialog itu disebutkan pula adanya frasa yang ditransliterasikan sebagai yatna fanto yawadwipam saptarajopitam. Menachem Ali menjelaskan frasa tersebut sebagai keterangan yang mengarahkan pada Pulau Jawa dan menyebut tujuh kerajaan besar.
Penyebutan Yawa Dwipa dalam Pembahasan
Menurut Menachem Ali, keberadaan istilah Yawa Dwipa dalam teks yang disebutnya sebagai karya Walmiki menunjukkan bahwa kawasan yang sekarang dikenal sebagai Jawa telah dikenal dalam tradisi kesastraan India pada periode yang ia sebut sekitar abad kedua Masehi.
Ia kemudian menghubungkan penyebutan tersebut dengan sumber lain yang ditulis dalam tradisi Yunani.
Sumber yang dimaksud adalah karya Claudius Ptolemy atau Claudius Ptolemaeus yang dalam dialog disebut Geographia. Menachem Ali menyebut karya tersebut bertanggal sekitar 150 Masehi.
Ia menjelaskan bahwa dalam karya tersebut terdapat istilah Yabadiu, yang menurut penjelasannya merupakan bentuk pelafalan dalam tradisi Yunani terhadap istilah Yawa Dwipa.
Pembahasan tersebut digunakan untuk menunjukkan adanya perbandingan data lintas bahasa, yakni antara tradisi Sanskerta dan tradisi Yunani.
Jawa dalam Sumber Sanskerta dan Yunani
Menachem Ali kemudian menjelaskan bahwa kajian terhadap nama tempat tidak dapat hanya dilakukan berdasarkan satu bahasa.
Ia menggunakan pendekatan filologi dan linguistik untuk membandingkan bentuk-bentuk kata yang muncul dalam tradisi berbeda.
Dalam penjelasannya, perubahan bentuk Yawa Dwipa menjadi Yabadiu dikaitkan dengan karakteristik transliterasi bahasa Yunani. Ia menyampaikan bahwa bentuk tulisan Yunani yang digunakan dalam sumber tersebut menyebabkan perubahan representasi bunyi.
Menurutnya, perbandingan semacam itu dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk melakukan cross-check terhadap data yang ditemukan dalam sumber berbeda.
Dalam konteks dialog tersebut, penyebutan Jawa dalam dua tradisi tertulis tersebut menjadi salah satu dasar yang digunakan Menachem Ali untuk mempertanyakan klaim bahwa Jawa merupakan bintu Tarim.
Ia menyatakan bahwa pembahasan sejarah Jawa perlu memperhatikan sumber lintas bahasa dan lintas tradisi, bukan hanya sumber berbahasa Arab.
Manuskrip Jawa Menjadi Bagian Penting Pembahasan
Selain sumber dari masa awal, Menachem Ali juga menyoroti keberadaan manuskrip Jawa.
Ia memperlihatkan kepada Edy Prayitno sebuah manuskrip yang disebut menggunakan huruf Jawa dan bahasa Jawa. Menurutnya, manuskrip tersebut menjadi salah satu contoh tradisi tulis masyarakat Jawa.
Ia juga menjelaskan adanya manuskrip yang menggunakan lebih dari satu sistem tulisan.
Dalam dialog tersebut, Menachem Ali menyebut tiga bentuk yang menurutnya dapat ditemukan dalam satu tradisi manuskrip, yakni:
- Huruf Arab dengan bahasa Arab.
- Huruf Arab dengan bahasa Jawa atau Pegon.
- Huruf Jawa dengan bahasa Jawa atau Hanacaraka.
Ia menggunakan contoh tersebut untuk menjelaskan bahwa tradisi tulis Jawa memiliki keragaman bentuk dan tidak hanya terbatas pada satu sistem aksara.
Pegon dan Hanacaraka dalam Tradisi Tulis Jawa
Menurut penjelasan Menachem Ali, Pegon merupakan penggunaan huruf Arab untuk menuliskan bahasa Jawa.
Ia memberikan contoh kalimat yang menggunakan aksara Arab tetapi memiliki struktur bahasa Jawa. Salah satu contoh yang disebut dalam dialog adalah ungkapan yang diterjemahkan sebagai “utawi sakabehe puji” dan dikaitkan dengan makna Alhamdulillah.
Dalam contoh lainnya, bahasa Arab dan bahasa Jawa disebut hadir dalam satu manuskrip.
Menachem Ali mengatakan bahwa keberadaan manuskrip semacam itu menunjukkan kemampuan literasi yang menurutnya perlu dilihat sebagai bagian dari perkembangan tradisi intelektual Jawa.
Selain Pegon, ia juga menyebut aksara Jawa atau Hanacaraka sebagai bagian lain dari tradisi tulis Jawa.
Ia menyampaikan bahwa sebuah manuskrip dapat memperlihatkan penggunaan huruf Arab, bahasa Arab, huruf Arab dengan bahasa Jawa, serta huruf Jawa dengan bahasa Jawa.
Manuskrip Jawa dan Catatan yang Dibahas Menachem Ali
Dalam dialog itu, Menachem Ali juga menyinggung penelitian yang dikaitkannya dengan Profesor Peter Carey.
Ia mengatakan bahwa sejumlah manuskrip Jawa pernah dibawa ke Eropa pada masa kolonial dan sebagian mengalami kerusakan atau kehilangan dalam proses pengangkutan.
Menurut penuturannya, sebagian manuskrip masih dapat diakses di Inggris, termasuk melalui koleksi British Library.
Penyebutan manuskrip tersebut digunakan untuk memperlihatkan bahwa kajian mengenai sejarah Jawa tidak hanya bersumber dari tradisi lisan, tetapi juga dapat dilakukan melalui dokumen tertulis.
Menachem Ali kemudian mendorong masyarakat, terutama orang Jawa, untuk mempelajari kembali berbagai bentuk aksara dan bahasa yang terdapat dalam tradisi tersebut.
Ia menyebut penguasaan bahasa Arab dan aksara Arab, Pegon, serta aksara Jawa sebagai bagian yang menurutnya perlu dilestarikan.
Perdebatan tentang Identitas Jawa dan Tradisi Islam
Pembahasan kemudian bergeser pada hubungan antara kebudayaan Jawa dan Islam.
Menachem Ali mengatakan bahwa Jawa yang dimaksud dalam pembahasannya tidak diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan tradisi Islam.
Ia juga menyinggung anggapan mengenai masyarakat Jawa masa lalu yang dikaitkan dengan animisme atau penyembahan terhadap benda-benda tertentu.
Menurut Menachem Ali, anggapan tersebut perlu dikaji kembali dengan memperhatikan dokumen dan tradisi pemikiran Jawa yang ada.
Dalam dialog itu, ia mengaitkan tradisi filsafat Jawa dengan konsep ketuhanan yang menurutnya memiliki kemiripan dengan cara pengungkapan dalam Al-Quran.
Ia memberikan contoh ungkapan Jawa:
“Sang Kawekas iku cedak tanpo senggolan, adoh tanpo wewangenan.”
Ungkapan tersebut dijelaskan sebagai gambaran mengenai kedekatan dan kejauhan Tuhan dalam bahasa filosofis.
Pembahasan ini kemudian dikaitkan dengan ayat Al-Quran mengenai Tuhan yang lebih dekat daripada urat leher, dengan catatan bahwa ungkapan tersebut dipahami sebagai bahasa filosofis dan bukan pengertian fisik.
Prabu Sarkil Menjadi Fokus Kajian Filologi
Setelah membahas sejarah tertulis Jawa, Menachem Ali kembali pada tokoh yang menjadi fokus pembahasan, yakni Prabu Sarkil.
Ia mengatakan bahwa nama Sarkil perlu dianalisis melalui kajian filologi.
Dalam dialog tersebut, ia merujuk pada karya Raden Ngabe Ronggowarsito yang disebut memuat keterangan mengenai Prabu Sarkil.
Salah satu bagian yang dibacakan berbunyi:
“Sang Prabu Sarkil wau terahipun Kanjeng Nabi Ismail.”
Dalam penjelasan Menachem Ali, kalimat tersebut dipahami sebagai keterangan bahwa Prabu Sarkil disebut memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Ismail.
Ia kemudian memperhatikan bentuk penulisan nama Sarkil dalam aksara Jawa. Menurutnya, bentuk tertentu dalam penulisan nama tersebut menjadi petunjuk bahwa nama itu dianggap sebagai nama asing yang telah mengalami proses “penjawaan”.
Sarkil Disebut sebagai Raja dan Pedagang
Selain hubungan keturunan yang disebut dalam teks, Menachem Ali juga menyoroti keterangan mengenai profesi dan posisi Prabu Sarkil.
Menurut pembacaan yang disampaikan dalam dialog, Prabu Sarkil disebut sebagai seorang raja dan pedagang.
Ia juga menyebut adanya istilah Ratu Alit, yang dijelaskan sebagai raja kecil.
Keterangan lain dalam pembahasan tersebut menghubungkan Prabu Sarkil dengan kawasan Najran.
Menurut Menachem Ali, keberadaan nama Najran dalam teks Jawa kemudian dibandingkan dengan keberadaan nama Najran dalam sumber geografis yang ia tampilkan dalam dialog.
Asal Nama Sarkil Dikaitkan dengan Bahasa Arab
Menachem Ali kemudian menawarkan analisis etimologis terhadap nama Sarkil.
Ia membaginya menjadi dua unsur, yaitu syarq dan il.
Dalam penjelasannya, syarq dalam bahasa Arab berarti “timur”, sedangkan il dikaitkan dengan istilah ketuhanan yang juga ditemukan dalam rumpun bahasa Semitik.
Dari analisis tersebut, ia menjelaskan Sarkil sebagai bentuk yang menurutnya berkaitan dengan makna “Tuhan yang berada atau bertahta di kawasan timur” atau “Tuhan orang-orang Timur”.
Ia menegaskan bahwa analisis tersebut merupakan kajian bahasa dan dikaitkan dengan konteks geografis yang disebut dalam kisah mengenai Prabu Sarkil.
Dalam dialog, ia juga menghubungkan bentuk tersebut dengan kata Arab masyriq, yang berarti timur.
Peta Ptolemy dan Nama-Nama Kawasan
Pembahasan selanjutnya menggunakan peta yang dikaitkan dengan Claudius Ptolemy.
Menachem Ali menyebut beberapa nama kawasan yang menurutnya dapat dibandingkan dengan nama-nama geografis yang dikenal dalam sejarah Timur Tengah.
Salah satunya adalah Makoraba atau bentuk yang ia sebut Makoraba/Makuraba.
Menurut penjelasannya, istilah tersebut dikaitkan oleh sebagian ahli dengan Makkah.
Ia juga menyebut istilah lain yang dikaitkan dengan Yathrib, yaitu kawasan yang sekarang dikenal sebagai Madinah.
Dalam dialog tersebut, nama Najran juga kembali disebut.
Rangkaian nama geografis tersebut digunakan sebagai bagian dari metode yang disebut Menachem Ali sebagai validasi silang terhadap data dari sumber yang berbeda.
Sarakeni dan Perdebatan Asal-Usul Istilah
Nama lain yang menjadi perhatian dalam pembahasan adalah Sarakeni.
Menachem Ali mengaitkan istilah tersebut dengan sejumlah teori mengenai asal-usul kata Saracen atau Saraceni.
Ia mengutip pembahasan yang disebut berasal dari buku Rekonstruksi Islam Historis, Pergumulan Kesarjanaan Mutakhir karya Profesor Mun’in Sirry.
Menurut kutipan yang disampaikan dalam dialog, asal-usul kata Saracen masih menjadi perdebatan di kalangan sarjana.
Salah satu pendapat yang disebut dalam dialog mengaitkan istilah tersebut dengan kata Arab sarraqun, yang bermakna pencuri atau perampok.
Menachem Ali kemudian mempertanyakan dasar dokumenter dari pendapat tersebut.
Menurutnya, dalam manuskrip Arab Kristen yang ia kaji, ia tidak menemukan bukti yang mendukung penggunaan sarraqun sebagai penanda identitas kaum Ismail. Ia justru menyebut bentuk lain yang menurutnya berkaitan dengan istilah Sarayin.
Tiga Pendapat Mengenai Sarakeni
Dalam penjelasannya, Menachem Ali menyebut adanya beberapa teori mengenai asal-usul istilah Sarakeni.
Pendapat pertama mengaitkannya dengan kata sarraqun.
Pendapat kedua, yang dalam dialog dikaitkan dengan sarjana bernama Andre Louth, menyebut kemungkinan hubungan dengan bentuk saraqiyin atau sarqiyin, yang dikaitkan dengan makna “orang-orang Timur”.
Pendapat ketiga menghubungkannya dengan bentuk Yunani Sarakenos.
Menachem Ali kemudian menjelaskan bahwa teori mengenai sarqiyin dianggap lebih sesuai dengan analisis bahasa Arab karena unsur syarq berarti timur.
Sementara itu, teori mengenai sarraqun menurutnya tidak memiliki validasi dokumenter yang cukup berdasarkan manuskrip yang ia sebutkan.
Hubungan Sarkil dengan Istilah Timur
Dari pembahasan mengenai Sarakeni, Menachem Ali kembali menghubungkannya dengan nama Sarkil.
Menurut analisis yang ia sampaikan, apabila sarqiyin berasal dari syarq, yang berarti timur, maka nama Sarkil yang terdiri dari unsur syarq dan il memiliki bentuk yang menurutnya bercorak Semitik.
Dari sana ia menyatakan bahwa nama Sarkil bukan berasal dari bahasa Jawa asli, melainkan merupakan nama dari bahasa Arab yang mengalami proses penjawaan.
Kesimpulan tersebut menjadi salah satu pokok utama argumentasinya dalam dialog mengenai Prabu Sarkil.
Nama Kedema dan Kaitannya dengan Timur
Pembahasan kemudian beralih kepada nama salah satu keturunan Nabi Ismail yang disebut dalam kitab Kejadian.
Menachem Ali menyebut nama Kedema sebagai salah satu dari nama anak-anak Ismail yang tercantum dalam daftar tersebut.
Menurut penjelasannya, kedem dalam bahasa Ibrani berkaitan dengan makna “timur”.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan apakah Prabu Sarkil yang dalam analisis sebelumnya dikaitkan dengan makna “timur” memiliki hubungan dengan Kedema.
Namun, pada bagian ini Menachem Ali memberikan batasan terhadap pernyataannya.
Ia secara eksplisit mengatakan bahwa dirinya belum berani memastikan hubungan tersebut karena dokumen yang diperlukan belum ditemukan dan belum dikaji secara mendalam.
Ia kemudian menyerahkan kemungkinan penelitian lebih lanjut kepada para pengkaji atau masyarakat yang berminat melakukan kajian terhadap dokumen Jawa.
Ronggowarsito dan Validasi Dokumen
Raden Ngabe Ronggowarsito menjadi salah satu tokoh penting dalam pembahasan tersebut.
Menachem Ali menyebut Ronggowarsito sebagai pujangga Jawa yang memiliki karya-karya yang menjadi bahan kajian dalam diskusi tersebut.
Salah satu karya yang dibahas adalah Serat Paramayoga, yang digunakan untuk membaca keterangan mengenai Prabu Sarkil.
Menurut Menachem Ali, data dalam karya Ronggowarsito perlu dibandingkan dengan sumber lain agar dapat diketahui hubungan antara tradisi Jawa dan dokumen dari kawasan lain.
Ia menekankan bahwa kajian tersebut sebaiknya tidak berhenti pada satu dokumen, tetapi dilanjutkan dengan penelitian lintas sumber.
Pada bagian akhir dialog, Menachem Ali bahkan meminta para pengkaji untuk meneliti persoalan tersebut secara lebih komprehensif.
Jawa, Ismail dan Mata Rantai Dokumen
Menachem Ali kemudian menyebut adanya sumber lain yang menurutnya memiliki kaitan dengan pembahasan mengenai Jawa dan keturunan Ibrahim.
Ia menyebut karya Ibnu al-Athir, Al-Kamil fi al-Tarikh.
Menurut penjelasan dalam dialog, istilah ashabul jawiyyin disebut sebagai salah satu istilah yang dikaitkan dengan orang-orang Nusantara, orang Jawa, atau Bani Jawi.
Menachem Ali kemudian menyatakan bahwa sumber tersebut menurutnya menghubungkan orang-orang Jawa dengan keturunan Ibrahim.
Sementara itu, menurut pembacaannya terhadap karya Ronggowarsito, jalur keturunan tersebut kemudian disebut melalui Nabi Ismail dan dikaitkan lebih lanjut dengan Prabu Sarkil.
Ia menggambarkan rangkaian tersebut sebagai sebuah mata rantai yang menghubungkan dokumen dari tradisi Arab, tradisi Islam, dan tradisi Jawa.
Menachem Ali Mendorong Penelitian Lebih Lanjut
Di bagian penutup, Menachem Ali kembali menegaskan bahwa pembahasan yang disampaikannya dimaksudkan sebagai bahan untuk dikaji.
Ia mengatakan bahwa dirinya “melempar bola” kepada para pengkaji agar penelitian terhadap tradisi Jawa dilakukan secara lebih cermat.
Menurutnya, kajian tersebut dapat dikembangkan dengan memperhatikan manuskrip, bahasa, filologi, sejarah, serta perbandingan dokumen dari berbagai tradisi.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena sejumlah hubungan yang dibahas dalam dialog masih disampaikan sebagai pertanyaan atau hipotesis yang memerlukan penelitian lanjutan.
Salah satu contohnya adalah kemungkinan hubungan antara Prabu Sarkil dan Kedema. Dalam dialog tersebut, Menachem Ali tidak menyatakan hubungan itu sebagai kesimpulan final karena dokumen pendukung yang menurutnya diperlukan belum ditemukan.
Mengapa Kajian Filologi Digunakan?
Filologi menjadi salah satu istilah yang paling sering muncul dalam pembahasan Menachem Ali.
Dalam konteks dialog tersebut, filologi digunakan untuk membaca teks lama, menelusuri bentuk kata, membandingkan bahasa, serta melihat perubahan sebuah nama ketika masuk ke dalam tradisi bahasa yang berbeda.
Pendekatan tersebut digunakan untuk menganalisis nama seperti Ismail dan Sarkil.
Menachem Ali juga menggunakan perbandingan antara bahasa Arab, Ibrani, Yunani, Sanskerta, dan Jawa untuk menjelaskan bagaimana sebuah istilah dapat berubah bentuk ketika ditulis atau dilafalkan dalam tradisi berbeda.
Dengan pendekatan tersebut, ia menilai bahwa kajian sejarah tidak cukup hanya berdasarkan kesamaan bunyi sebuah nama. Dokumen, bentuk tulisan, konteks geografis, serta tradisi bahasa juga perlu diperhatikan.
Klaim Sejarah Perlu Dibandingkan dengan Sumber
Dalam pembahasan mengenai “Jawa bintu Tarim”, Menachem Ali menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap sumber.
Ia membandingkan klaim mengenai hubungan Jawa dan Tarim dengan dokumen yang menyebut Jawa dalam tradisi Sanskerta dan Yunani.
Ia juga membandingkan nama-nama geografis seperti Najran, Yathrib, dan Makoraba dengan sumber-sumber yang dibahas dalam dialog.
Metode yang digunakan dalam penjelasan tersebut pada dasarnya berupa perbandingan lintas dokumen.
Namun, sebagaimana terlihat dari pernyataan Menachem Ali sendiri, tidak semua hubungan yang dibahas telah diposisikan sebagai kesimpulan akhir.
Karena itu, pembaca perlu membedakan antara data yang disebut dalam sebuah teks, interpretasi terhadap data, dan kesimpulan yang masih membutuhkan penelitian lanjutan.
Kesimpulan Pembahasan
Dialog Prof Ustadz Menachem Ali dengan Edy Prayitno pada 21 Agustus 2025 membahas sejumlah persoalan yang saling berkaitan, mulai dari klaim “Jawa bintu Tarim”, sejarah penyebutan Yawa Dwipa, manuskrip Jawa, Pegon dan Hanacaraka, hingga analisis nama Prabu Sarkil.
Menachem Ali mempertanyakan penggunaan istilah bintu Tarim untuk Pulau Jawa dengan merujuk pada makna harfiahnya dalam bahasa Arab.
Ia kemudian mengemukakan sejumlah sumber yang menurutnya menunjukkan bahwa Jawa telah dikenal dalam dokumen dan tradisi tertulis jauh sebelum periode yang dibahas dalam konteks hubungan Jawa-Tarim.
Pembahasan juga menyoroti Ramayana dan istilah Yawa Dwipa, karya Claudius Ptolemy dengan istilah yang disebut Yabadiu, serta berbagai manuskrip Jawa.
Pada bagian lain, Menachem Ali menganalisis nama Prabu Sarkil melalui pendekatan filologi dan mengaitkannya dengan unsur syarq dan il dalam bahasa Arab.
Ia juga membahas nama Kedema dalam konteks keturunan Nabi Ismail dan mengajukan kemungkinan hubungan dengan Prabu Sarkil. Namun, ia menegaskan bahwa hubungan tersebut belum dapat dipastikan karena dokumen pendukung yang diperlukan belum ditemukan dan belum diteliti secara mendalam.
Dengan demikian, inti pembahasan tersebut adalah dorongan untuk mengkaji sejarah Jawa melalui sumber tertulis, manuskrip, filologi, linguistik, dan perbandingan lintas tradisi.
FAQ
Apa arti “Jawa bintu Tarim”?
Dalam dialog tersebut, Prof Ustadz Menachem Ali menjelaskan bahwa secara harfiah bintu Tarim dalam bahasa Arab berarti “anak perempuan Tarim”. Ia kemudian mempertanyakan penggunaan istilah tersebut untuk menyebut Pulau Jawa dan meminta agar klaim itu dikaji berdasarkan konteks dan data historis.
Siapa yang membahas klaim “Jawa bintu Tarim”?
Klaim tersebut dibahas oleh Prof Ustadz Menachem Ali dalam dialog bersama Edy Prayitno yang ditayangkan di kanal Edy Prayitno pada 21 Agustus 2025.
Apa yang dimaksud dengan Yawa Dwipa?
Dalam dialog tersebut, Yawa Dwipa disebut sebagai istilah yang terdapat dalam tradisi Sanskerta dan dikaitkan dengan Pulau Jawa. Menachem Ali menyebut teks Ramayana sebagai salah satu sumber yang dibahas dalam konteks tersebut.
Apa hubungan Yawa Dwipa dengan Claudius Ptolemy?
Menurut penjelasan Menachem Ali, karya Claudius Ptolemy yang disebut Geographia memuat istilah yang ditransliterasikan sebagai Yabadiu. Ia membandingkan istilah tersebut dengan Yawa Dwipa dalam tradisi Sanskerta sebagai bagian dari kajian lintas bahasa.
Apa itu tulisan Pegon?
Dalam pembahasan tersebut, Pegon dijelaskan sebagai penggunaan huruf Arab untuk menuliskan bahasa Jawa. Menachem Ali memperlihatkan contoh manuskrip yang menurutnya menggunakan huruf Arab tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa.
Apa itu Hanacaraka dalam pembahasan tersebut?
Hanacaraka atau aksara Jawa disebut sebagai salah satu bentuk tradisi tulis Jawa. Menachem Ali membandingkannya dengan penggunaan huruf Arab untuk bahasa Arab dan huruf Arab untuk bahasa Jawa atau Pegon.
Siapa Prabu Sarkil menurut penjelasan Menachem Ali?
Dalam dialog tersebut, Prabu Sarkil dibahas sebagai tokoh yang disebut dalam karya Raden Ngabe Ronggowarsito. Teks yang dibacakan menyebut “Sang Prabu Sarkil wau terahipun Kanjeng Nabi Ismail”, yang oleh Menachem Ali dipahami sebagai keterangan mengenai hubungan keturunan dengan Nabi Ismail.
Dari mana nama Sarkil menurut analisis Menachem Ali?
Menachem Ali menganalisis nama Sarkil sebagai gabungan syarq dan il. Dalam penjelasannya, syarq berarti timur, sedangkan il dikaitkan dengan istilah Tuhan dalam rumpun bahasa Semitik.
Apakah hubungan Prabu Sarkil dengan Kedema sudah dipastikan?
Belum. Dalam dialog tersebut, Menachem Ali secara eksplisit mengatakan belum berani memastikan kemungkinan hubungan Sarkil dengan Kedema karena dokumen yang diperlukan belum ditemukan dan belum dikaji secara mendalam.
Mengapa filologi digunakan dalam pembahasan Prabu Sarkil?
Filologi digunakan dalam dialog tersebut untuk menganalisis teks, bentuk nama, bahasa, perubahan penulisan, dan hubungan antara berbagai tradisi tertulis. Pendekatan tersebut digunakan untuk membahas apakah nama Sarkil merupakan nama Jawa atau nama dari bahasa lain yang mengalami proses penjawaan.
Apa yang diminta Menachem Ali kepada para pengkaji?
Pada bagian penutup, Menachem Ali meminta agar persoalan tradisi Jawa dan dokumen yang berkaitan dengannya diteliti secara lebih komprehensif. Ia menyatakan bahwa pembahasan yang disampaikannya menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut.
Catatan Sumber
Artikel ini disusun berdasarkan penjelasan Prof Ustadz Menachem Ali kepada Edy Prayitno dalam materi yang ditranskripsikan dari kanal Edy Prayitno pada 21 Agustus 2025. Artikel mempertahankan posisi pernyataan sebagai penjelasan dan analisis narasumber, terutama pada bagian-bagian yang masih berupa dugaan, interpretasi filologis, atau pertanyaan penelitian.










One Comment