invisible hit counter
Nasional

Dzuriyah Mbah Sambu Lasem Ungkap Penelusuran Sejarah Keluarga

Dzuriyah Mbah Sambu Lasem Ungkap Penelusuran Sejarah Keluarga, Manuskrip, dan Sejumlah Versi Silsilah

WARTA BATAVIA – Lasem — Dzuriyah Mbah Sambu Lasem menjelaskan penelusuran sejarah keluarga, silsilah, manuskrip, penghulu Lasem, serta sejumlah versi asal-usul Mbah Sambu.

Penelusuran mengenai sejarah keluarga dan silsilah Mbah Sambu Lasem kembali menjadi perhatian. Dalam penjelasan yang disampaikan oleh salah seorang dzuriyah Mbah Sambu di kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 3 Juli 2025, sejumlah riwayat keluarga, manuskrip, catatan sejarah daerah, serta hubungan antartokoh ulama dibahas untuk menelusuri sejarah Mbah Sambu dan keturunannya.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukan dengan menelusuri berbagai hubungan keluarga yang sebelumnya hanya diketahui secara turun-temurun.

Menurut dia, keluarga tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah tokoh ulama di Jawa, antara lain Mbah Kiai Makruf Kedung, Mbah Sendang Duwur Nganjuk, Mbah Kiai Saleh Langitan, Syekh Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, serta sejumlah tokoh pesantren lainnya.

Penelusuran kemudian diarahkan secara lebih khusus kepada Maulana Sambu dan putra-putranya.

Narasumber menyebut Mbah Kiai Raden Abdul Alim bin Maulana Sambu sebagai sosok yang dalam riwayat keluarga dikenal sebagai penghulu pertama Lasem.

Ia juga menjelaskan bahwa penelitian dilakukan dengan membandingkan silsilah dengan sumber-sumber lain. Menurutnya, silsilah tidak cukup berdiri sendiri, tetapi perlu dibandingkan dengan data sejarah, manuskrip, maupun catatan mengenai tokoh dan wilayah yang bersangkutan.

Penelusuran Dimulai dari Hubungan Kekerabatan

Menurut penjelasan narasumber, proses penelitian bermula dari upaya menghubungkan berbagai keluarga yang selama ini diketahui memiliki hubungan kekerabatan.

Ia mengatakan bahwa sebelumnya hubungan tersebut hanya diketahui secara umum. Ada anggota keluarga yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain, tetapi belum dilakukan penelitian secara detail.

Proses penelitian kemudian dilakukan dengan menelusuri nama-nama leluhur, hubungan keluarga, silsilah, manuskrip, serta catatan sejarah yang berkaitan dengan tokoh-tokoh tersebut.

Salah satu titik penting dalam penelusuran tersebut adalah keluarga Maulana Sambu di Lasem.

Narasumber menyebut Mbah Kiai Raden Abdul Alim bin Maulana Sambu sebagai penghulu pertama Lasem.

Dalam pemaparannya, Maulana Sambu disebut mempunyai lima putra yang dikenal dalam riwayat keluarga, yakni Mbah Abdul Alim, Mbah Mahyadin atau Muhyidin, Mbah Ahmad Yusuf, Mbah Imam, dan Mbah Ahmad Nursam.

Dari lima putra tersebut, menurut penjelasan narasumber, empat orang memiliki keturunan. Sementara Mbah Ahmad Nursam disebut meninggal ketika masih bujang.

Lima Putra Maulana Sambu

Narasumber menyebut empat putra Maulana Sambu yang mempunyai keturunan menjadi bagian penting dalam penelusuran sejarah keluarga.

Keempatnya adalah Mbah Abdul Alim, Mbah Mahyadin atau Muhyidin, Mbah Ahmad Yusuf, dan Mbah Imam.

Sementara Mbah Ahmad Nursam disebut meninggal ketika belum menikah.

Narasumber juga mengatakan belum menemukan sumber berupa manuskrip atau riwayat kuat yang menunjukkan adanya putra Maulana Sambu lainnya yang dimakamkan di Lasem atau daerah sekitar.

Karena itu, menurut penjelasan tersebut, nama Mbah Abdul Alim menjadi salah satu tokoh yang paling banyak muncul dalam silsilah yang ditelusuri.

Ia menyebut nama Abdul Alim juga ditemukan dalam silsilah Mbah Jawahir dan silsilah Mbah Syekh yang dibacanya.

Abdul Alim dan Abdul Adim

Dalam penelusuran tersebut muncul pula variasi nama Abdul Alim dan Abdul Adim.

Narasumber menjelaskan adanya kemungkinan bahwa Abdul Alim dan Abdul Adim merupakan orang yang sama.

Ia mengaitkan perubahan nama tersebut dengan kebiasaan pada masa lalu ketika seseorang telah menunaikan ibadah haji.

Sebagai contoh, ia menyebut nama Mbah Abdurrahman yang setelah berhaji disebut memiliki nama Abdul Ghaffar.

Penjelasan tersebut digunakan narasumber untuk menerangkan kemungkinan adanya variasi nama dalam dokumen atau silsilah lama.

Abdul Alim Disebut sebagai Penghulu Pertama Lasem

Salah satu bagian utama dalam penjelasan tersebut adalah sejarah jabatan penghulu di Lasem.

Menurut narasumber, Mbah Abdul Alim memperoleh gelar Kiai Raden berkaitan dengan kedudukannya sebagai penghulu.

Ia juga mengaitkan gelar Raden tersebut dengan garis keturunan dari pihak ibunya yang disebut sebagai putri Mbah Raden Temenggung Tejo Kusumo I.

Narasumber menyampaikan bahwa jabatan penghulu di Lasem menurut riwayat yang ia telusuri bermula dari Mbah Abdul Alim.

Setelah itu, jabatan tersebut disebut diteruskan kepada beberapa tokoh berikutnya.

Salah satu nama yang disebut adalah Mbah Husein, meskipun narasumber mengaku belum mengetahui secara pasti lokasi makam tokoh tersebut karena belum menemukan riwayat yang didukung manuskrip.

Rangkaian Penghulu Lasem

Tokoh lain yang disebut dalam penjelasan tersebut adalah Mbah Kiai Raden Imam Mahali.

Menurut narasumber, Imam Mahali merupakan keturunan dari Mbah Muhammad Surgi dan Mbah Ahmad Sidopati.

Imam Mahali disebut sebagai penghulu ketiga Lasem dan makamnya disebut berada di lokasi yang dibahas dalam penjelasan tersebut.

Imam Mahali kemudian disebut mempunyai seorang putra bernama Mbah Kiai Imam Yahya.

Imam Yahya dan Gelar Temenggung

Mbah Imam Yahya disebut pernah menjadi Temenggung di Lasem.

Dalam sumber sejarah yang disebut narasumber, Imam Yahya juga dikenal dengan nama Kiai Puspo Yudo atau Kiai Amyah Puspoyudo.

Menurut penjelasan tersebut, masa jabatannya sebagai Temenggung tidak berlangsung lama, diperkirakan sekitar dua tahun.

Keturunannya kemudian disebut tersebar ke sejumlah wilayah, antara lain Madiun, Ngawi, dan Magetan.

Setelah itu, jabatan penghulu disebut berlanjut kepada Mbah Ibrahim.

Keterlibatan Keluarga dalam Pengelolaan Masjid Lasem

Penelusuran yang disampaikan narasumber juga menyentuh hubungan antara keluarga penghulu dengan pengelolaan sejumlah aset keagamaan di Lasem.

Ia menyebut adanya hubungan dengan Masjid Lasem, makam, dan rumah gedong.

Menurut cerita yang ia peroleh, sejumlah penghulu dari keturunan Mbah Sambu memiliki keterlibatan dalam pengelolaan kawasan tersebut.

Narasumber juga menyebut nama Mbah Kiai Raden Ibrahim Joyo Ulomo sebagai salah satu penghulu yang berada dalam rangkaian tersebut.

Ia kemudian melakukan pengecekan terhadap cerita tersebut dengan mendatangi balai desa.

Menurutnya, pengecekan dilakukan karena terdapat sejumlah informasi mengenai keluarga dan sejarah Lasem yang masih dapat ditelusuri melalui hubungan dengan para sesepuh.

Dzuriyah Mbah Sambu Lasem Ungkap Penelusuran Sejarah Keluarga, Manuskrip, dan Sejumlah Versi Silsilah

Perbedaan Riwayat tentang Makam Mbah Sambu

Salah satu persoalan yang dibahas adalah cerita mengenai makam Mbah Sambu yang disebut pernah hilang dan kemudian ditemukan kembali.

Narasumber mempertanyakan cerita tersebut berdasarkan riwayat keluarga yang diperolehnya.

Menurut dia, terdapat kesaksian dari orang-orang yang masih mendapatkan cerita langsung dari orang tua mereka mengenai keberadaan makam Mbah Sambu.

Ia menyebut nama Kiai Mujtahidi dan Ustaz Zainal Arifin sebagai orang yang menurutnya dapat memberikan keterangan mengenai riwayat tersebut.

Narasumber juga mengaitkan informasi itu dengan nama tanah yang sebelum diwakafkan disebut sebagai tanah Mbah Ibrahim.

Menurutnya, keberadaan nama tersebut menjadi salah satu informasi yang digunakan dalam penelusuran sejarah keluarga.

Makam Mbah Sambu Disebut Pernah Direhabilitasi

Narasumber membedakan istilah “menemukan” dan “merehabilitasi” makam.

Menurut penjelasan yang disampaikannya, Mbah Sayid Husein Al-Wahad dinikahkan oleh Mbah Ibrahim Joyo Ulomo yang ketika itu menjabat sebagai penghulu Lasem.

Ia menyebut Mbah Ibrahim dipanggil berkaitan dengan kegiatan rehabilitasi makam Mbah Sambu.

Menurut narasumber, makam tersebut bukan ditemukan kembali setelah hilang, melainkan bangunannya direhabilitasi.

Ia menjelaskan bahwa bangunan lama di makam tersebut berupa cungkup kayu yang kemudian diperbaiki.

Rujukan Babad Carita Lasem

Narasumber juga menyebut Babad Carita Lasem sebagai salah satu sumber yang digunakan untuk menelusuri lokasi makam Maulana Sambu.

Menurut pemaparannya, Babad Carita Lasem menyebut lokasi sarean Maulana Sambu berada di sebelah barat bagian utara Masjid Agung Lasem, di kawasan Kauman Lasem.

Ia juga mengatakan terdapat silsilah yang menunjuk lokasi tersebut.

Berdasarkan sumber-sumber yang ia gunakan, narasumber berpendapat bahwa keberadaan makam Mbah Sambu tidak dapat begitu saja dianggap pernah hilang tanpa jejak.

Pernikahan Husein Al-Wahad dengan Siti Aminah

Dalam penjelasan tersebut, disebut pula pernikahan Mbah Sayid Husein Al-Wahad dengan Mbah Siti Aminah.

Siti Aminah disebut sebagai putri Mbah Yudo Prawiro bin Mbah Kiai Tubagus Saleh Pano.

Narasumber menyebut Kiai Tubagus Saleh Pano berasal dari Banten dan mengaitkan informasi tersebut dengan manuskrip yang menurutnya tersedia.

Penjelasan tersebut menjadi bagian dari penelusuran jaringan keluarga yang berhubungan dengan Mbah Ibrahim Joyo Ulomo dan lingkungan penghulu Lasem.

Penelitian Silsilah Disebut Memerlukan Sumber Eksternal

Salah satu prinsip yang ditekankan narasumber dalam penjelasannya adalah perlunya membandingkan silsilah dengan sumber sejarah lainnya.

Menurut dia, silsilah tidak seharusnya berdiri sendiri.

Silsilah, menurut penjelasannya, perlu dikonfirmasi dengan manuskrip, sejarah daerah, data kerajaan, atau sumber lain yang dapat membantu memastikan keberadaan tokoh dalam konteks sejarah.

Ia menyebut bahwa apabila seseorang merupakan tokoh penting, keberadaannya semestinya dapat ditemukan dalam sumber sejarah yang berkaitan dengan daerah atau periode kehidupannya.

Dalam konteks tersebut, narasumber menggunakan istilah “cross check” untuk menggambarkan proses membandingkan informasi dari satu sumber dengan sumber lainnya.

Riwayat Tunggal dan Riwayat yang Terkonfirmasi

Narasumber membedakan cerita yang hanya berasal dari satu sumber dengan riwayat yang mempunyai lebih dari satu sumber pendukung.

Menurutnya, apabila tidak tersedia manuskrip, diperlukan lebih dari satu riwayat yang saling menguatkan.

Ia menggunakan istilah “mutawatir” dalam konteks tersebut.

Sebaliknya, menurut narasumber, cerita yang tidak terkonfirmasi oleh data sejarah, manuskrip, atau data kerajaan belum dapat diperlakukan sebagai informasi ilmiah.

Ia juga menekankan bahwa klaim mengenai seseorang harus dapat dibandingkan dengan konteks sejarah pada masa kehidupan tokoh tersebut.

Sejumlah Versi Asal-Usul Mbah Sambu

Dalam pemaparannya, narasumber tidak hanya menyampaikan satu versi mengenai asal-usul Mbah Sambu.

Ia menyebut terdapat beberapa versi silsilah yang beredar.

Salah satu versi yang disebut cukup masyhur adalah hubungan Mbah Sambu dengan Pangeran Benowo.

Menurut versi tersebut, Mbah Sambu disebut sebagai putra Pangeran Benowo, yang juga dikaitkan dengan nama Kiai Abdul Halim.

Narasumber kemudian menjelaskan perjalanan Pangeran Benowo dalam sejumlah riwayat yang dikaitkan dengan Pengging, Pajang, Wonosalam, Jombang, hingga Kendal.

Namun demikian, ia menyatakan bahwa versi tersebut menurut penelitiannya masih belum sahih.

Versi Pangeran Benowo Belum Dianggap Final

Narasumber menyoroti persoalan jarak waktu antartokoh dalam versi tersebut.

Menurutnya, ketika silsilah dibandingkan dengan tahun kehidupan tokoh-tokoh yang tercatat dalam sejarah, terdapat persoalan kronologis yang masih perlu diperdebatkan.

Ia karena itu tidak menetapkan versi Pangeran Benowo sebagai versi final.

Narasumber menegaskan bahwa penilaian mengenai kuat atau lemahnya sebuah jalur silsilah harus didasarkan pada data yang dapat diperiksa, bukan sekadar keyakinan pribadi.

Versi Pangeran Trenggono Sasi

Selain versi Pangeran Benowo, narasumber menyebut adanya versi lain yang menurutnya belum banyak dikenal.

Versi tersebut ditemukan dalam tulisan Mbah Jawahir dan Mbah Syekh Teblawi.

Menurut penelusuran yang disampaikan, Mbah Sambu dikaitkan dengan nama Pangeran Sambuikdiningrat yang memiliki gelar sebelum datang ke Lasem, yaitu Pangeran Trenggono Sasi.

Tokoh tersebut disebut memiliki hubungan saudara dengan Mbah Abdul Jabar atau Pangeran Trenggono.

Narasumber mengatakan informasi itu juga diperoleh dari sejumlah sesepuh keluarga yang disebutnya sebagai Pak D Kiai Mujtahidi, Pak D Masuri, dan Pak Lzen.

Hubungan dengan Pangeran Drajat

Penelusuran kemudian diarahkan kepada nama Pangeran Drajat.

Narasumber mengatakan bahwa manuskrip yang ditemukan dalam kondisi rusak membuat sebagian informasi harus dibandingkan dengan sumber lain.

Karena terdapat nama “Drajat”, ia kemudian menghubungkannya dengan keluarga Sunan Drajat di Paciran, Lamongan.

Ia menyebut telah menghubungi sejumlah pihak untuk menanyakan keberadaan manuskrip yang berkaitan dengan Pangeran Drajat.

Dalam penjelasan tersebut, Pangeran Drajat disebut sebagai putra Sunan Drajat dan memiliki nama lain Maulana Muhammad Arif.

Tokoh tersebut kemudian dikaitkan dengan istilah Sunan Ampel II dalam riwayat yang disampaikan narasumber.

Nama Mbah Sambu Disebut dalam Manuskrip Cirebon

Nama Mbah Sambu Disebut dalam Manuskrip Cirebon

Bagian lain dari penelusuran berkaitan dengan Cirebon.

Narasumber mempertanyakan mengapa nama Mbah Sambu ditemukan dalam manuskrip keraton Cirebon.

Menurut pemaparannya, terdapat manuskrip yang ditulis sekitar tahun 1700-an dan dimiliki oleh Kiai Salim dari garis keluarganya.

Dalam manuskrip tersebut, Pangeran Drajat disebut diambil menantu oleh keluarga Cirebon dan mendapatkan gelar Pangeran Trenggono.

Sementara itu, nama kecil Mbah Sambu disebut sebagai Pangeran Trenggono Sasi.

Narasumber mengatakan temuan tersebut menurut penilaiannya lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan beberapa versi lainnya, tetapi ia tetap menegaskan bahwa penelitian belum selesai dan tidak menyatakan versi tersebut sebagai yang paling sahih.

Versi Tuban dan Ibrahim Asmoro

Riwayat lain yang dibahas berkaitan dengan Tuban.

Menurut narasumber, keluarga Tuyuan memiliki cerita bahwa Maulana Sambu berasal dari daerah Gresik dan ketika kecil dirawat oleh kiai bersama Mbah Abdul Jabar.

Sementara itu, Babad Lasem disebut memberikan keterangan bahwa Mbah Sambu berasal dari Tuban dan memiliki hubungan dengan Ibrahim Asmoro atau Syekh Ibrahim Asmaraqondi yang makamnya berada di Palang, Tuban.

Narasumber menilai adanya kesesuaian antara beberapa sumber tersebut menjadi bagian yang perlu diteliti lebih lanjut.

Rujukan History of Java

Dalam penelusurannya, narasumber juga menyebut karya History of Java yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles.

Ia mengaitkan keterangan dalam karya tersebut dengan asal-usul sejumlah tokoh ulama Jawa.

Nama Kiai Ahmad Mutamakin atau Kiai Cebolek disebut dalam konteks asal-usul Tuban.

Narasumber menggunakan informasi tersebut sebagai salah satu bahan perbandingan terhadap riwayat yang sedang ditelitinya.

Pertanyaan tentang Hubungan Mbah Sambu dan Pangeran Benowo

Narasumber kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan terkait versi Pangeran Benowo.

Salah satunya berkaitan dengan tidak munculnya nama Mbah Sambu dalam bagian tertentu dari riwayat keluarga Keraton yang sedang dibandingkan.

Ia menyebut Kiai Raden Temenggung Tejo Kusumo I sebagai tokoh yang menurut sumber tertentu mempunyai hubungan dengan trah Majapahit dan Pajang.

Menurut narasumber, apabila Mbah Sambu merupakan cucu dari tokoh tertentu, seharusnya terdapat keterangan yang mendukung hubungan tersebut dalam sumber yang relevan.

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses membandingkan berbagai versi sejarah.

Peristiwa Lasem dan Temenggung Suradi Menggolo

Penjelasan berikutnya membahas kondisi Lasem setelah periode konflik yang dikaitkan dengan Trunojoyo.

Narasumber menyebut nama Temenggung Suradi Menggolo dalam kaitannya dengan sejarah Lasem.

Menurut cerita yang ia sampaikan, terdapat pengumpulan manuskrip mengenai bangsawan dan masyarakat Lasem yang kemudian dibakar di alun-alun Lasem di depan masjid.

Keterangan tersebut dikaitkan dengan perubahan sejumlah catatan sejarah Lasem.

Narasumber juga menyebut sejumlah nama yang berkaitan dengan sejarah kawasan Lasem, termasuk Nyai Ageng Maloko dan Pangeran Suryowijoyo.

Ia menggunakan rangkaian informasi tersebut untuk melihat perubahan dan kesinambungan sejarah Lasem dari sumber-sumber berbeda.

Penelusuran Jalur India dan Yaman

Narasumber juga membahas sejumlah versi yang menghubungkan jalur keluarga dengan India atau Yaman.

Ia mengatakan belum menemukan riwayat keluarga yang secara jelas mengarah kepada India atau Yaman.

Menurutnya, apabila sebuah jalur silsilah mengarah ke wilayah tertentu, harus tersedia sumber yang mendukung hubungan tersebut.

Ia kemudian membandingkan sejumlah karya yang berkaitan dengan sejarah ulama dan wali.

Salah satu yang disebut adalah Tarikhul Auliya karya KH Bisri Mustofa.

Selain itu, disebut pula Ahlal Musamarah karya Mbah Kiai Fadol Senori.

Menurut narasumber, sejumlah sumber tersebut tidak menyebut jalur tertentu sebagaimana versi yang sedang dibandingkan.

Pentingnya Manuskrip dari Wilayah Asal

Narasumber menyatakan bahwa klaim hubungan dengan sebuah wilayah sebaiknya disertai sumber dari wilayah tersebut.

Dalam pembahasan mengenai India, ia menyebut pernah berkorespondensi dengan keluarga yang menurut cerita mempunyai hubungan dengan sebuah kerajaan di sana.

Namun, ia mengatakan masih terdapat persoalan mengenai nama keluarga atau marga yang dikaitkan dengan jalur tersebut.

Karena itu, penelitian terhadap jalur tersebut menurutnya masih membutuhkan sumber tambahan.

Perbandingan dengan Riwayat Pangeran Drajat

Penelusuran terhadap Pangeran Drajat kemudian dibandingkan dengan beberapa sumber lainnya.

Narasumber mengatakan bahwa keterangan dalam Tarikhul Auliya dan Ahlal Musamarah memiliki kemiripan dengan manuskrip yang berkaitan dengan Pangeran Drajat.

Namun, setelah dibandingkan dengan sumber dari wilayah lain, terdapat beberapa bagian yang berbeda atau terlewat.

Ia kemudian menyebut adanya pengecekan oleh Kiai Elzamuddin yang menurut penilaiannya membuat versi tersebut lebih kuat.

Narasumber juga menyebut adanya manuskrip mengenai Husein yang dikaitkan dengan ayah Syekh Jumadil Kubra.

Informasi tersebut disebut mendapatkan penguatan dari pihak keluarga Aljailani di Pakistan yang pernah diundang dalam suatu kegiatan.

Jalur Basaiban Disebut Masih Memerlukan Manuskrip

Dalam pemaparannya, narasumber juga membahas versi yang menghubungkan Mbah Sambu dengan jalur Basaiban.

Ia menyatakan tetap mengakomodasi versi tersebut sebagai bagian dari penelitian.

Namun, menurutnya, persoalan utama terletak pada ketersediaan manuskrip yang dapat mendukung jalur tersebut.

Ia menyebut bahwa apabila manuskrip pendukung tidak tersedia, maka jalur tersebut menurut penilaiannya masih lemah.

Narasumber juga memperoleh penjelasan dari Kiai Mujtahidi mengenai cerita orang tua angkat yang merawat Mbah Sambu dan Mbah Abdul Jabar ketika kecil.

Riwayat tersebut kemudian menjadi bagian lain yang dibandingkan dalam penelitian.

Kunjungan ke Ampel dan Batu Ampar

Narasumber juga menceritakan kebiasaan keluarganya mengunjungi sejumlah tempat yang berkaitan dengan ulama dan leluhur.

Ia menyebut perjalanan ke Ampel dan Batu Ampar sebagai bagian dari tradisi keluarga.

Dalam pemaparannya, ia mengatakan keluarganya cukup sering mengunjungi kawasan tersebut.

Keterangan ini digunakan untuk menjelaskan bahwa hubungan keluarga dengan sejumlah pusat keagamaan di Jawa telah menjadi bagian dari cerita dan tradisi keluarga yang diwariskan.

Mbah Sambu dan Sejarah Lasem

Dari keseluruhan penjelasan tersebut, Mbah Sambu ditempatkan sebagai salah satu tokoh yang mempunyai posisi penting dalam sejarah Lasem menurut riwayat yang sedang diteliti.

Mbah Sambu disebut berkaitan dengan jaringan penghulu Lasem melalui putranya, Mbah Abdul Alim.

Rangkaian tokoh setelahnya kemudian dikaitkan dengan Mbah Imam Mahali, Mbah Imam Yahya atau Kiai Puspo Yudo, hingga Mbah Ibrahim Joyo Ulomo.

Penelusuran juga mencakup makam, masjid, tanah wakaf, keluarga bangsawan, serta berbagai manuskrip yang disebut berkaitan dengan Lasem.

Dalam konteks tersebut, penelitian tidak hanya berfokus pada hubungan biologis antargenerasi, tetapi juga pada keberadaan tokoh dalam sejarah sosial dan politik wilayah Lasem.

Babad Carita Lasem sebagai Salah Satu Sumber

Babad Carita Lasem sebagai Salah Satu Sumber

Babad Carita Lasem disebut beberapa kali dalam penjelasan narasumber.

Sumber tersebut digunakan untuk membandingkan berbagai cerita mengenai tokoh-tokoh yang hidup di Lasem.

Dalam penjelasan mengenai Mbah Sambu, Babad Carita Lasem disebut mencatat keberadaan Maulana Sambu dan lokasi sareannya.

Sumber yang sama juga digunakan dalam pembahasan mengenai sejumlah tokoh lain, termasuk Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Nyai Ageng Maloko, Kiai Puspo Yudo, serta tokoh-tokoh yang berhubungan dengan sejarah Lasem.

Narasumber menempatkan Babad Carita Lasem sebagai salah satu sumber awal yang kemudian perlu dibandingkan dengan sumber lainnya.

Mbah Sambu dan Peristiwa Pagebluk

Bagian lain dari penjelasan membahas istilah “pagebluk”.

Menurut narasumber, dalam riwayat yang ia pahami, istilah tersebut berkaitan dengan wabah penyakit sekaligus persoalan sosial yang muncul akibat kondisi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa ketika wabah menyebabkan masyarakat tidak dapat bekerja, dapat muncul persoalan ekonomi dan keamanan.

Dalam konteks sejarah Lasem yang dibahas, narasumber mengaitkan kedatangan Mbah Sambu dengan peristiwa yang dalam cerita orang tua disebut sebagai pagebluk.

Menurut penjelasannya, istilah tersebut digunakan sebagai bahasa penyamaran dalam cerita yang diwariskan oleh para sesepuh.

Penelitian Sejarah Mbah Sambu Masih Berlangsung

Pada bagian akhir pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa penelitian mengenai sejarah Mbah Sambu dan keluarganya masih berlangsung.

Ia tidak menutup kemungkinan adanya kritik maupun masukan dari pihak lain.

Menurutnya, informasi yang telah dikumpulkan masih dapat dilengkapi dengan sumber-sumber baru.

Sikap tersebut terlihat dari beberapa kali penegasan bahwa sejumlah versi yang dibahas belum dinyatakan sebagai versi yang paling sahih.

Dalam penelitian sejarah keluarga, narasumber menekankan pentingnya mempertemukan cerita keluarga dengan manuskrip dan sumber eksternal.

Ia juga menyebut perlunya melakukan pemeriksaan silang terhadap berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan.

Kesimpulan

Penjelasan dzuriyah Mbah Sambu Lasem dalam kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 3 Juli 2025 memuat penelusuran panjang mengenai sejarah keluarga, silsilah, penghulu Lasem, makam Mbah Sambu, serta sejumlah versi asal-usul tokoh tersebut.

Salah satu bagian penting yang disampaikan adalah riwayat mengenai Mbah Abdul Alim bin Maulana Sambu yang disebut sebagai penghulu pertama Lasem. Dari tokoh tersebut kemudian ditelusuri rangkaian keluarga dan tokoh penghulu lainnya.

Penjelasan tersebut juga membahas sejumlah versi mengenai asal-usul Mbah Sambu, termasuk versi yang menghubungkannya dengan Pangeran Benowo, versi Pangeran Trenggono Sasi, hubungan dengan Pangeran Drajat, serta riwayat yang berkaitan dengan Tuban dan Ibrahim Asmaraqondi.

Namun, narasumber tidak menetapkan seluruh versi tersebut sebagai fakta final. Beberapa jalur disebut masih membutuhkan manuskrip dan sumber sejarah tambahan.

Prinsip yang berulang kali ditekankan dalam pemaparan adalah perlunya melakukan cross check terhadap silsilah dengan sumber eksternal. Silsilah, menurut penjelasan tersebut, perlu dibandingkan dengan manuskrip, data sejarah daerah, kerajaan, maupun sumber lain yang relevan.

Dengan demikian, berdasarkan materi yang tersedia, pembahasan mengenai sejarah Mbah Sambu Lasem dalam video tersebut merupakan bagian dari proses penelitian dan penelusuran sumber, bukan sebuah penetapan akhir mengenai seluruh jalur silsilah yang dibahas.

FAQ

Siapa Mbah Sambu Lasem?

Dalam materi yang dibahas, Mbah Sambu atau Maulana Sambu merupakan tokoh yang dikaitkan dengan sejarah Lasem. Salah satu putranya, Mbah Abdul Alim, disebut dalam riwayat sebagai penghulu pertama Lasem.

Siapa putra Maulana Sambu?

Menurut penjelasan narasumber, Maulana Sambu mempunyai lima putra yang dikenal dalam riwayat, yaitu Mbah Abdul Alim, Mbah Mahyadin atau Muhyidin, Mbah Ahmad Yusuf, Mbah Imam, dan Mbah Ahmad Nursam.

Apakah Mbah Ahmad Nursam mempunyai keturunan?

Dalam penjelasan narasumber, Mbah Ahmad Nursam disebut meninggal ketika masih bujang. Karena itu, empat putra Maulana Sambu lainnya disebut sebagai tokoh yang mempunyai keturunan.

Siapa penghulu pertama Lasem?

Berdasarkan riwayat yang disampaikan narasumber, Mbah Kiai Raden Abdul Alim bin Maulana Sambu disebut sebagai penghulu pertama Lasem.

Mengapa Abdul Alim disebut Abdul Adim?

Narasumber menjelaskan adanya variasi nama Abdul Alim dan Abdul Adim dalam beberapa silsilah yang ia baca. Ia menduga variasi tersebut berkaitan dengan perubahan nama setelah seseorang menunaikan ibadah haji.

Apakah makam Mbah Sambu pernah hilang?

Dalam penjelasan narasumber, cerita bahwa makam Mbah Sambu pernah hilang kemudian ditemukan kembali dipersoalkan. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan riwayat yang ditelusurinya, makam tersebut sebenarnya masih diketahui dan kemudian mengalami rehabilitasi bangunan.

Apa saja versi asal-usul Mbah Sambu yang dibahas?

Beberapa versi yang dibahas antara lain hubungan dengan Pangeran Benowo, Pangeran Trenggono Sasi, Pangeran Drajat, serta riwayat yang mengaitkan Mbah Sambu dengan Tuban dan Ibrahim Asmaraqondi.

Apakah versi silsilah Mbah Sambu sudah dinyatakan sahih?

Tidak. Dalam penjelasan tersebut, beberapa versi justru disebut masih dalam penelitian. Narasumber menekankan perlunya manuskrip dan sumber sejarah lain untuk melakukan verifikasi.

Mengapa manuskrip dianggap penting?

Menurut narasumber, manuskrip dapat menjadi salah satu sumber pembanding untuk memeriksa riwayat yang terdapat dalam silsilah atau cerita turun-temurun.

Apa yang dimaksud dengan cross check dalam penelitian tersebut?

Cross check merujuk pada proses membandingkan informasi dari satu sumber dengan sumber lainnya, seperti silsilah, manuskrip, sejarah daerah, catatan kerajaan, dan riwayat keluarga.

Apakah penelitian mengenai sejarah Mbah Sambu sudah selesai?

Berdasarkan pernyataan narasumber dalam materi yang diberikan, penelitian tersebut masih berlangsung dan terbuka terhadap kritik, saran, serta sumber tambahan dari keluarga maupun pihak lain.

Sumber: MBAH SAMBU LASEM

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button