invisible hit counter
Nasional

Mantan Muhibbin Hilmi Yunan Ceritakan Perjalanan Perubahan Pandangan Terhadap Habaib di Kanal KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro

WARTA BATAVIA SURABAYA, 28 Januari 2026 — KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro berbincang dengan Hilmi Yunan Andriawan, seorang mantan muhibbin asal Blitar, Jawa Timur, dalam sebuah pertemuan yang disiarkan melalui kanal KRT Nur Ihyak Hadinegoro.

Dalam perbincangan tersebut, Hilmi Yunan menceritakan perjalanan hidup dan perubahan pandangannya setelah bertahun-tahun bergaul dengan lingkungan yang mengidentifikasi diri sebagai Habaib. Ia juga mengungkap sejumlah pengalaman pribadi yang menurutnya menjadi bagian dari proses perubahan pemikiran yang dijalaninya.

Hilmi Yunan Mengaku Sejak Kecil Bergaul dengan Lingkungan Habaib

Hilmi Yunan menjelaskan bahwa dirinya lahir di Surabaya dan memiliki hubungan keluarga dengan wilayah tersebut. Ia juga memiliki hubungan keluarga dari pihak istrinya dengan daerah Blitar.

Menurut Hilmi, sejak masih kecil dirinya kerap menghabiskan waktu di kawasan Ampel, Surabaya. Ia menyebut lingkungan pergaulannya sejak masa remaja banyak berasal dari kalangan yang ia sebut sebagai habaib.

Pengalaman tersebut membuat Hilmi mengaku memahami sejumlah kebiasaan dan pola pikir yang berkembang di lingkungan tersebut.

Ia mengatakan, sejak sekitar 2007, dirinya mulai mengalami sejumlah pengalaman yang kemudian memunculkan pertanyaan dalam pikirannya. Salah satunya berkaitan dengan perbedaan antara klaim keturunan Nabi dan perilaku sebagian orang yang ditemuinya.

Dalam perbincangan tersebut, Hilmi mengungkapkan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuatnya merasa tidak nyaman. Namun, pada periode berikutnya, ia masih tetap mengikuti kegiatan majelis zikir dan lingkungan keagamaan yang dipimpin oleh seorang tokoh yang disebutnya sebagai Habib A.

Mengikuti Majelis Zikir Selama Bertahun-tahun

Hilmi menyampaikan bahwa dirinya pernah mengikuti majelis zikir selama beberapa tahun. Ia mengatakan, sejumlah anggota keluarganya juga pernah berada dalam lingkungan yang sama.

Menurut pengakuannya, pada masa tersebut dirinya belum melakukan penelaahan secara mendalam terhadap berbagai ajaran dan keyakinan yang berkembang di lingkungan tersebut.

Hilmi kemudian mengatakan bahwa perubahan pandangannya mulai terjadi sekitar 2024 setelah seorang temannya memperkenalkan sejumlah video dan pembahasan mengenai hal-hal terkait nasab habaib di YouTube.

Ia menyebut beberapa nama tokoh yang kemudian ia ikuti pembahasannya, di antaranya KH Imaduddin Utsman Al-Bantani dan sejumlah tokoh lain yang membahas persoalan nasab serta berbagai ajaran yang dikaitkan dengan kelompok Habaib Ba’lawi.

Dari proses tersebut, Hilmi mengaku mulai menelaah kembali keyakinan dan pemikiran yang sebelumnya ia pegang.

Mantan Muhibbin Hilmi Yunan Ceritakan Perjalanan Perubahan Pandangan Terhadap Habaib di Kanal KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro

Mengaku Mengalami Perubahan Pandangan

Hilmi Yunan menyebut perubahan pandangan itu berlangsung secara bertahap. Ia mengaku sebelumnya memiliki keyakinan yang kuat terhadap klaim keturunan Nabi yang berkembang di lingkungan tempatnya bergaul.

Namun, setelah mendengar berbagai kajian dan melakukan penelusuran terhadap sejumlah materi, ia mengaku mulai memiliki keraguan hingga akhirnya mengambil sikap berbeda.

Dalam dialog tersebut, Hilmi menyebut bahwa dirinya kini berusaha menyampaikan pengalamannya kepada orang-orang yang masih berada dalam lingkungan yang sama seperti yang pernah ia jalani.

Ia menekankan pentingnya setiap orang melakukan penelaahan dan berpikir secara kritis terhadap berbagai informasi yang diterima.

KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro Menyoroti Pengaruh Doktrin Keluarga

Dalam perbincangan tersebut, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan pandangannya bahwa keyakinan seseorang terhadap suatu identitas atau klaim nasab dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak melalui keluarga dan lingkungan.

Ia menyebut cerita yang disampaikan secara turun-temurun dari orang tua, kakek, dan leluhur dapat membentuk keyakinan yang kuat pada diri seseorang.

Menurutnya, ketika seseorang sejak kecil terus-menerus diberi pemahaman bahwa dirinya memiliki status tertentu, keyakinan tersebut dapat menjadi bagian dari cara pandang yang sulit dipertanyakan.

KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyampaikan bahwa perubahan pemikiran dapat terjadi ketika seseorang mulai menemukan informasi atau kajian yang dianggap berbeda dengan keyakinan sebelumnya.

Memberikan Buku Membongkar Ajaran Khurafat Mantan Muhibbin Hilmi Yunan Ceritakan Perjalanan Perubahan Pandangan Terhadap Habaib di Kanal KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro

Membahas Buku yang Mengkritisi Sejumlah Ajaran Khurafat

Dalam kesempatan tersebut, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga memberikan sebuah buku mengenai Ajaran Khurafat kepada Hilmi Yunan.

Buku tersebut disebut berisi pembahasan dan kritik terhadap sejumlah ajaran yang dikaitkan dengan Habaib Ba’lawi. Dalam dialog itu disebutkan bahwa materi buku tersebut disusun berdasarkan rujukan dari berbagai kitab karya habaib Ba’alwi sendiri.

KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyatakan bahwa buku tersebut menggunakan banyak referensi yang menurutnya berasal dari berbagai sumber, termasuk karya-karya yang dikaitkan dengan kalangan habaib Ba’lawi.

Ia juga menyampaikan bahwa buku tersebut disusun sebagai bahan kajian bagi masyarakat yang ingin menelaah berbagai ajaran dan referensi yang dibahas di dalamnya.

Menyinggung Perdebatan tentang Nasab

Salah satu tema utama dalam perbincangan tersebut adalah perdebatan mengenai nasab habaib Ba’alwi dan klaim keterhubungan dengan keturunan Nabi Muhammad SAW.

KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyatakan bahwa persoalan tersebut telah menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Ia juga mengaitkannya dengan berbagai pembahasan mengenai kitab, sejarah, silsilah, dan ajaran yang berkembang di kalangan tertentu.

Dalam dialog itu, ia menyampaikan bahwa masyarakat perlu mempelajari sumber-sumber yang menjadi dasar dari sebuah klaim sebelum mengambil kesimpulan.

Sementara itu, Hilmi Yunan menceritakan bahwa dirinya pernah memiliki kekhawatiran untuk mengubah pandangan karena adanya anggapan mengenai kualat atau konsekuensi tertentu jika tidak meyakini Habaib keturunan Rasulullah Saw.

Namun, berdasarkan pengakuannya, kekhawatiran tersebut kemudian berkurang setelah ia mempelajari berbagai materi dan mendengarkan kajian yang membahas persoalan tersebut.

Mengajak Masyarakat Mencintai Budaya dan Identitas Bangsa

Pada bagian akhir perbincangan, Hilmi Yunan menyampaikan pesan agar masyarakat lebih mencintai budaya dan identitasnya sendiri.

Ia menggunakan istilah uri-uri budaya sebagai salah satu hal yang menurutnya penting untuk dilakukan. Menurutnya, kecintaan terhadap budaya dan identitas sendiri dapat mendorong seseorang untuk lebih menghargai dirinya dan lingkungannya.

Hilmi juga mengajak orang-orang yang masih memiliki keraguan untuk melakukan penelaahan secara mandiri.

Ia menganalogikan perubahan pandangan dengan seseorang yang menyadari bahwa dirinya berada di jalan yang salah, kemudian memilih untuk berbalik dan mengambil jalan lain setelah menemukan keyakinan baru.

Menyerukan Agar Tidak Mengabaikan Orang Tua

Dalam perbincangan tersebut, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyoroti pentingnya berbakti kepada orang tua.

Ia menyampaikan bahwa penghormatan kepada tokoh agama maupun siapa pun tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan orang tua kandungnya.

Menurutnya, persoalan penghormatan kepada orang tua merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan dalam kehidupan beragama.

Hilmi Yunan kemudian mengaku bahwa salah satu penyesalan dalam perjalanan hidupnya adalah pernah menempatkan penghormatan kepada seorang tokoh agama (Habai Ba’alwi) di atas penghormatan kepada orang tuanya.

Perbincangan Berlangsung Hampir Satu Jam

Pertemuan antara KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Hilmi Yunan Andriawan berlangsung dalam suasana dialog dan berbagi pengalaman.

Hilmi hadir dari Blitar, Jawa Timur, untuk bersilaturahmi dan berbagi pengalaman secara langsung. Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas pengalaman pribadi, lingkungan sosial, perubahan pandangan, persoalan nasab habaib yang dicatolkan ke Rasulullah Saw, kitab-kitab yang menjadi rujukan, serta pentingnya melakukan kajian terhadap berbagai informasi keagamaan.

Di akhir acara, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan doa untuk Hilmi Yunan dan keluarganya.

Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan ucapan salam.

Sumber berita: 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button