invisible hit counter
Aqidah

Zahwa Anjelia Tanggapi Penjelasan Ajir Ubaidillah soal Kisah Mikraj Faqih Muqaddam

Ustaz di Kanal Zahwa Anjelia Tanggapi Penjelasan Ajir Ubaidillah soal Kisah Mikraj Faqih Muqaddam, Soroti Perbedaan Penafsiran Kitab

WARTA BATAVIA – Seorang ustaz melalui kanal YouTube Zahwa Anjelia mengunggah sebuah video yang berisi tanggapan terhadap penjelasan Ustaz Ajir Ubaidillah mengenai kisah mikraj Syekh Muhammad bin Ali bin Abi Alawi atau yang dikenal sebagai Faqih Muqaddam. Dalam video tersebut, narasumber membahas sejumlah rujukan kitab yang menurutnya berkaitan dengan kisah tersebut serta menyampaikan pandangannya terhadap argumentasi yang disampaikan Ustaz Ajir Ubaidillah.

Pada bagian awal video, narasumber menjelaskan bahwa pembahasannya merupakan respons terhadap video Ustaz Ajir Ubaidillah yang telah dipublikasikan beberapa waktu sebelumnya. Menurutnya, video tersebut mengulas kisah yang menyebut Faqih Muqaddam mengalami mikraj hingga puluhan kali dalam sehari semalam serta berusaha meninjau sumber-sumber yang menjadi dasar penyampaian kisah tersebut.

Penjelasan Ajir Ubaidillah yang Dikutip

Dalam videonya, narasumber terlebih dahulu memutar cuplikan penjelasan Ustaz Ajir Ubaidillah. Berdasarkan cuplikan tersebut, Ajir Ubaidillah menjelaskan bahwa kisah mengenai Faqih Muqaddam perlu dipahami dengan memverifikasi sumber rujukannya.

Menurut penjelasan yang dikutip, teks yang sering dinukil berasal dari manuskrip kitab Jauharus Syafa, yang disebut sebagai surat-menyurat antara Faqih Muqaddam dengan gurunya, Syekh Sa’ad. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Faqih Muqaddam menceritakan pengalaman spiritual yang dialaminya ketika beribadah dan meminta penjelasan kepada gurunya mengenai pengalaman tersebut.

Masih menurut cuplikan video tersebut, Ajir Ubaidillah menyatakan bahwa Faqih Muqaddam tidak pernah menyampaikan pengalaman tersebut kepada masyarakat luas. Ia juga menyebut bahwa gurunya menganjurkan agar tetap berpegang kepada syariat serta tidak terpengaruh oleh pengalaman spiritual yang dialami.

Selain itu, Ajir Ubaidillah menjelaskan adanya perbedaan antara mikraj Nabi Muhammad SAW dengan pengalaman spiritual para wali. Dalam penjelasan yang dikutip, ia menyebut bahwa mikraj Nabi Muhammad SAW bersifat khusus, sedangkan pengalaman para wali dipahami dalam makna ruhani. Ia mengutip kitab Tazkiratul Auliya karya Syekh Fariduddin Athar sebagai salah satu rujukan mengenai pembahasan tersebut.

Tanggapan Narasumber Kanal Zahwa Anjelia

Tanggapan Narasumber Kanal Zahwa Anjelia

Setelah menampilkan cuplikan tersebut, narasumber menyampaikan tanggapannya. Ia menyebut bahwa menurut pemahamannya, persoalan utama bukan terletak pada apakah kisah itu dipublikasikan secara langsung oleh Faqih Muqaddam atau tidak, melainkan pada keberadaan kisah tersebut di dalam sejumlah kitab yang menurutnya banyak dijadikan rujukan di kalangan Baalawi.

Dalam penjelasannya, narasumber mengutip dua kitab yang menurutnya memuat kisah mengenai Faqih Muqaddam, yakni Jauharus Syafa halaman 79 dan Syarhul Ainiyah halaman 158. Ia membacakan bagian yang menurutnya menyebut adanya riwayat mengenai pengalaman menuju Sidratul Muntaha dengan beberapa versi jumlah kejadian, yakni tujuh kali, dua puluh tujuh kali, dan tujuh puluh kali.

Perbedaan Penafsiran Mengenai Makna Mikraj

Dalam video tersebut, narasumber kemudian menyampaikan bahwa ia memiliki penafsiran berbeda terhadap istilah yang terdapat dalam teks kitab yang dibacakannya. Menurutnya, penggunaan istilah tertentu dalam teks tersebut menunjukkan makna yang berbeda dengan penafsiran yang disampaikan Ajir Ubaidillah.

Sebaliknya, Ajir Ubaidillah dalam cuplikan video yang diputar sebelumnya menjelaskan bahwa pengalaman para wali dipahami sebagai pengalaman ruhani dan tidak disamakan dengan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan penafsiran terhadap istilah yang terdapat dalam kitab inilah yang menjadi salah satu fokus utama pembahasan narasumber dalam videonya.

Rujukan Kitab Tambahan

Selain dua kitab yang telah disebutkan, narasumber juga mengutip kitab As-Sufiyah fi Hadramaut yang menurutnya mengutip isi Ar-Risalah An-Nafi’ah. Dalam bagian tersebut ia menyampaikan bahwa terdapat kisah lain mengenai seorang tokoh yang disebut mengalami pengalaman spiritual serupa.

Menurut penjelasan narasumber, kutipan tersebut dijadikan sebagai bahan penguat terhadap pandangan yang ia sampaikan mengenai penafsiran kisah-kisah yang terdapat dalam sejumlah kitab tersebut.

Ajakan Mengkaji Berbagai Sumber

Menjelang akhir video, narasumber mengajak Ustaz Ajir Ubaidillah untuk mengkaji lebih banyak kitab yang menurutnya berasal dari tradisi Baalawi agar memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kisah Faqih Muqaddam.

Ia juga menyatakan bahwa terdapat sejumlah kitab lain yang menurutnya memuat tambahan narasi mengenai kisah tersebut dibandingkan dengan kitab yang disebut sebagai sumber awal. Menurutnya, tambahan-tambahan narasi itulah yang menjadi dasar kritik yang disampaikannya dalam video tersebut.

Pada bagian penutup, narasumber kembali menegaskan bahwa pandangan yang ia sampaikan didasarkan pada pembacaan terhadap kitab-kitab yang ia sebutkan sepanjang video. Ia mengulangi kesimpulan yang menjadi pandangannya serta mengakhiri tayangan dengan salam penutup.

Ajir Ubaidillah Bela Kesesatan Khurafat Baialwi

Perbedaan Pandangan Masih Menjadi Pokok Pembahasan

Berdasarkan isi video tersebut, pembahasan berfokus pada perbedaan penafsiran terhadap sejumlah kitab yang dijadikan rujukan mengenai kisah Faqih Muqaddam.

Di satu sisi, cuplikan penjelasan Ustaz Ajir Ubaidillah sebagaimana ditampilkan dalam video menekankan pentingnya verifikasi sumber serta membedakan pengalaman spiritual para wali dengan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Sementara itu, narasumber kanal Zahwa Anjelia menyampaikan penafsiran yang berbeda berdasarkan pembacaan terhadap sejumlah kitab yang ia kutip.

Lebih jelas dan detail simak langsung di sumber beritanya: 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button