KH Nur Ikhyak Hadinegoro Bahas Riwayat Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih

KH Nur Ikhyak Hadinegoro Soroti Riwayat Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dan Makam Boto Putih
WARTA BATAVIA – KH Nur Ikhyak Hadinegoro membahas riwayat Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih yang dikenal terkait dengan kompleks makam Boto Putih, Pegirian, Surabaya. Pembahasan tersebut disampaikan melalui kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 14 Januari 2026.
Dalam penjelasannya, KH Nur Ikhyak Hadinegoro mengajak pendengar melihat seorang tokoh agama tidak hanya melalui penghormatan atau citra yang berkembang di masyarakat, tetapi juga dengan menelusuri asal-usul, perilaku, dan biografinya.
Ia mengatakan, pengenalan terhadap latar belakang seorang tokoh diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengambil kesimpulan berdasarkan prasangka maupun husnuzan. Menurut dia, penelusuran tidak harus selalu dilakukan secara keseluruhan, tetapi dapat dimulai dari sejumlah poin penting dalam biografi dan sumber sejarah.
Pembahasan tersebut kemudian diarahkan kepada buku Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara yang disebutnya sebagai salah satu rujukan dalam melihat sejarah masyarakat Arab Hadrami di Nusantara serta tokoh-tokoh yang hidup pada masa kolonial.
KH Nur Ikhyak menyebut pembahasan mengenai Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dilakukan dari sudut pandang sumber yang menurutnya berbeda dengan narasi yang selama ini dikenal sebagian masyarakat.
Mengapa Riwayat Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Dibahas?
Menurut KH Nur Ikhyak, Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih merupakan tokoh yang makamnya berada di Boto Putih, Pegirian, Surabaya. Makam tersebut, menurut penjelasannya, selama ini ramai diziarahi dan dikaitkan dengan berbagai kisah mengenai tokoh tersebut.
Ia tidak mempersoalkan masyarakat yang memiliki keyakinan atau pandangan tertentu mengenai tokoh tersebut. Namun, ia menekankan pentingnya mengetahui latar belakang tokoh sebelum memberikan penilaian terhadapnya.
Dalam konteks itu, ia mengutip dan membahas keterangan dari karya L.W.C. van den Berg mengenai masyarakat Hadramaut dan koloni Arab di Nusantara. Buku tersebut disebut menjadi bahan untuk melihat sejarah orang-orang Arab di Nusantara, termasuk hubungan mereka dengan pusat-pusat kekuasaan lokal.
Pembahasan ini menjadi bagian utama dalam kajian KH Nur Ikhyak pada malam tersebut. Ia menyatakan bahwa sumber yang digunakannya memberikan gambaran berbeda mengenai Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dibandingkan dengan citra yang berkembang di tengah masyarakat.
Boto Putih dan Pangeran Lanang Dangiran
Salah satu bagian yang disoroti KH Nur Ikhyak adalah identitas tokoh yang dikaitkan dengan Boto Putih.
Ia menyebut bahwa Pangeran Lanang Dangiran merupakan tokoh yang menurutnya lebih tepat dikaitkan dengan sebutan Sunan Boto Putih. Selain itu, ia menyebut terdapat makam Sultan Banten di kompleks tersebut.
Dalam penjelasannya, KH Nur Ikhyak mengatakan bahwa masyarakat yang datang dari Banten maupun Cirebon dan melakukan ziarah ke kawasan makam Sunan Ampel dapat menyempatkan diri berziarah ke makam Sultan Banten yang berada di Boto Putih.
Ia juga menyatakan bahwa masyarakat yang hendak berziarah ke makam Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih tidak harus melakukannya. Menurut dia, hal yang lebih penting adalah mengetahui sejarah dan latar belakang tokoh yang diziarahi.
Pembahasan mengenai identitas makam tersebut kemudian dikaitkan dengan buku Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara yang dibacanya dalam siaran.
Sultan Paku Notingrat dan Kehadiran Cendekiawan Arab di Sumenep
Dalam penjelasannya, KH Nur Ikhyak mengutip bagian buku yang membahas situasi Sumenep pada masa Sultan Paku Notingrat.
Menurut uraian yang ia sampaikan, para cendekiawan Arab mendapat ruang di Sumenep pada masa pemerintahan Sultan Paku Notingrat. Ia menyebut Sultan tersebut memerintah mulai sekitar 1812 dan memiliki ketertarikan terhadap kesusastraan Jawa serta Arab.
KH Nur Ikhyak juga menyampaikan bahwa Sultan Paku Notingrat disebut mampu berbahasa Arab dan sejak masa muda telah mempelajari bahasa Arab serta ilmu pengetahuan Islam dari Sayid Abdurrahman Albaiti.
Menurut penjelasan yang dibacakan dari sumber tersebut, Sultan Paku Notingrat memberikan kemudahan kepada orang-orang Arab untuk masuk dan beraktivitas di Sumenep. Kalangan cendekiawan disebut mendapatkan tunjangan, sedangkan masyarakat Arab lainnya menjalankan aktivitas perdagangan.
Beberapa bentuk perdagangan yang disebut dalam siaran antara lain perdagangan kain dan minyak. Selain itu, Sultan Paku Notingrat juga digambarkan memiliki perpustakaan yang menyimpan naskah berbahasa Arab serta menjalin hubungan surat-menyurat dengan sejumlah tokoh.
Dalam konteks tersebut, nama Sayid Umar Baharun juga disebut sebagai astrolog Arab yang bekerja untuk Sultan. KH Nur Ikhyak kemudian mengaitkan pembahasan itu dengan keberadaan marga Baharun di Sumenep.
Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih Disebut sebagai Guru Asuh Putra Sultan
Bagian penting lain dalam penjelasan KH Nur Ikhyak berkaitan dengan posisi Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih di lingkungan keluarga Sultan Paku Notingrat.
Berdasarkan sumber yang dibacanya, Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih disebut sebagai guru asuh putra Sultan. Dalam penjelasan KH Nur Ikhyak, posisi tersebut lebih berkaitan dengan aktivitas pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak Sultan.
Ia menyebut Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih sebagai guru yang mengajar putra-putra Sultan Paku Notingrat. Karena itu, menurut penjelasannya, posisi Habib Syekh dalam lingkungan kerajaan Sumenep perlu dilihat dalam konteks hubungan pendidikan tersebut.
Keterangan itu menjadi salah satu dasar bagi KH Nur Ikhyak untuk menjelaskan perjalanan hidup Habib Syekh sebelum akhirnya dikenal luas berkaitan dengan makam Boto Putih di Surabaya.
Riwayat Perjalanan Habib Syekh Menurut Sumber yang Dibahas
KH Nur Ikhyak menyampaikan bahwa Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih disebut lahir di Asy-Syikh Sihir. Setelah itu, ia disebut pernah menetap di Surabaya sebelum berpindah ke Ambon.
Pada fase tersebut, ia digambarkan sebagai seorang saudagar. Namun, menurut keterangan yang dibaca KH Nur Ikhyak, aktivitas perdagangan yang dilakukan Habib Syekh tidak berkembang dengan baik.
Pertemuannya dengan Sultan Sumenep kemudian menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Sultan Paku Notingrat disebut mempercayakan pendidikan putra-putranya kepada Habib Syekh. Dari hubungan tersebut, ia kemudian bekerja di lingkungan Sultan Sumenep.
KH Nur Ikhyak menjelaskan bahwa Habib Syekh berada di Sumenep selama kurang lebih 25 tahun. Dalam periode tersebut, ia mendapatkan penghasilan yang bersumber dari beberapa desa.
Setelah Sultan Paku Notingrat wafat, posisi Habib Syekh mengalami perubahan. Menurut uraian sumber yang dibahas, tunjangan yang diterimanya kemudian tidak lagi mencukupi kebutuhan hidupnya.
Perpindahan dari Sumenep ke Batavia
Setelah meninggalkan Sumenep, Habib Syekh disebut berpindah ke Batavia atau Jakarta.
KH Nur Ikhyak menyampaikan bahwa Habib Syekh tinggal di Batavia selama kurang lebih 10 tahun. Dalam periode tersebut, ia disebut mengajar di sekolah dan memperoleh penghidupan dari bantuan sahabat serta aktivitas investasi yang ditempatkan pada sejumlah rumah dagang Eropa.
Menurut keterangan yang dibacakan, persoalan utang kembali muncul ketika Habib Syekh berada di Batavia. Ia disebut pernah berurusan dengan pihak berwajib karena persoalan tersebut dan kemudian dibebaskan setelah mendapat bantuan dari sahabat-sahabatnya.
Setelah itu, Habib Syekh disebut meninggalkan Batavia dan menuju Semarang.
Perpindahan tersebut menjadi bagian berikutnya dari perjalanan hidup tokoh yang dibahas KH Nur Ikhyak.
Habib Syekh di Semarang
Dalam penjelasan tersebut, Habib Syekh disebut menetap di Semarang setelah meninggalkan Batavia.
KH Nur Ikhyak menyampaikan adanya keterangan mengenai hubungan Habib Syekh dengan KH Saleh Darat. Ia juga menyebut adanya riwayat yang mengaitkan KH Saleh Darat dengan sejumlah ulama Indonesia setelahnya.
Namun, dalam siaran tersebut, KH Nur Ikhyak menyatakan bahwa bagian tersebut akan dibahas lebih lanjut agar pembahasan mengenai Habib Syekh tidak melebar terlalu jauh.
Sementara itu, van den Berg disebut mengenal Habib Syekh ketika berada di Semarang pada 1870 dan 1871. Dalam penjelasan KH Nur Ikhyak, periode tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa terdapat sumber yang menyaksikan langsung kehidupan Habib Syekh pada masa tersebut.
Perbedaan Penilaian terhadap Habib Syekh
Salah satu pokok yang paling banyak ditekankan KH Nur Ikhyak adalah adanya perbedaan penilaian terhadap Habib Syekh.
Menurut uraian yang dibacakan, terdapat pihak yang berhubungan sebagai kreditur yang memberikan penilaian negatif terhadap Habib Syekh. Pada sisi lain, terdapat masyarakat pribumi, santri, dan kalangan keagamaan yang memberikan penghormatan tinggi kepadanya.
KH Nur Ikhyak menggunakan perbedaan tersebut untuk menjelaskan pentingnya melihat suatu tokoh melalui berbagai sumber.
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa van den Berg memiliki pengalaman berinteraksi langsung dengan Habib Syekh. Karena itu, KH Nur Ikhyak menganggap keterangan tersebut sebagai sumber yang perlu diperhatikan dalam pembahasan sejarah tokoh tersebut.
Namun, seluruh penilaian mengenai Habib Syekh dalam bagian tersebut merupakan uraian yang disampaikan KH Nur Ikhyak berdasarkan sumber yang ia baca dalam siaran. Artikel ini tidak melakukan verifikasi independen terhadap seluruh keterangan sejarah yang disebutkan dalam siaran.
Tiga Kali Berurusan dengan Penjara
Dalam pemaparannya, KH Nur Ikhyak menyebut Habib Syekh mengalami persoalan hukum yang berujung pada penahanan sebanyak tiga kali dalam perjalanan hidupnya.
Menurut uraian tersebut, persoalan pertama terjadi ketika berada di Sumenep. Setelah berpindah ke Batavia, persoalan serupa kembali terjadi. Setelah itu, ia pindah ke Semarang dan kembali mengalami persoalan hukum.
KH Nur Ikhyak kemudian mempertanyakan bagaimana riwayat tersebut dapat ditempatkan berdampingan dengan citra Habib Syekh sebagai tokoh yang oleh sebagian masyarakat dipandang sangat suci.
Ia menyampaikan hal tersebut sebagai bagian dari argumentasinya mengenai perlunya membandingkan citra keagamaan dengan catatan sejarah.
Setelah berada di Semarang, Habib Syekh kemudian disebut kembali ke Surabaya dan wafat beberapa tahun kemudian.
Makam Batu Putih di Surabaya
KH Nur Ikhyak juga memberikan penjelasan mengenai penyebutan lokasi makam tersebut.
Dalam siaran, ia membedakan istilah Boto Putih dengan Batu Putih atau Watu Putih. Menurut penjelasannya, kawasan tersebut merupakan makam yang berkaitan dengan keluarga bupati Surabaya yang memiliki hubungan dengan keturunan Sunan Ampel.
Ia juga menyebut bahwa terdapat makam Sultan Banten di kawasan yang sama.
Menurut penjelasan yang disampaikan, keberadaan makam-makam tersebut menjadi bagian dari sejarah kawasan Boto Putih dan perlu dibedakan antara makam Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dengan makam Pangeran Lanang Dangiran maupun Sultan Banten.
Tradisi Ziarah di Boto Putih
Dalam siaran tersebut, KH Nur Ikhyak juga membahas tradisi ziarah ke kawasan Boto Putih.
Ia menyebut adanya masyarakat yang datang pada malam Jumat dan berdoa di sekitar makam. Ia juga menyampaikan adanya cerita mengenai waktu tertentu untuk berziarah serta keyakinan sebagian masyarakat mengenai keberadaan tokoh yang telah wafat.
Keterangan tersebut disampaikan sebagai bagian dari gambaran mengenai tradisi yang berkembang di sekitar makam. KH Nur Ikhyak kemudian mengkritisi cara sebagian masyarakat memahami cerita mengenai karamah dan keberkahan.
Ia menekankan perlunya membedakan antara informasi sejarah, keyakinan masyarakat, dan cerita yang berkembang secara turun-temurun.
Karamah dan Branding Tokoh
Dalam pembahasan yang lebih luas, KH Nur Ikhyak menyoroti penggunaan istilah karamah dalam menggambarkan seorang tokoh.
Ia mengatakan bahwa citra atau branding seorang tokoh dapat berkembang kuat setelah tokoh tersebut meninggal dunia. Menurut dia, masyarakat perlu membedakan antara reputasi yang dibangun melalui cerita dengan informasi yang dapat ditelusuri dari sumber sejarah.
Dalam konteks Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, ia menyebut bahwa terdapat kelompok masyarakat yang menghormatinya sebagai orang suci, sementara terdapat pula pihak lain yang memberikan penilaian berbeda.
KH Nur Ikhyak kemudian mengajak masyarakat menggunakan sumber sejarah untuk melihat persoalan tersebut.
Menurutnya, keberadaan sumber yang disebut berasal dari orang yang bertemu langsung dengan Habib Syekh menjadi salah satu alasan mengapa catatan tersebut layak diperhatikan dalam kajian.
Kumpulan Khutbah Disebut sebagai Karya Habib Syekh
Selain membahas perjalanan hidup, KH Nur Ikhyak menyebut adanya karya tulis yang dikaitkan dengan Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih.
Ia mengatakan karya tersebut berupa kumpulan khutbah sepanjang tahun. Menurut penjelasan dalam siaran, koleksi khutbah tersebut masih digunakan di sejumlah masjid di Batavia.
Keterangan mengenai karya tulis itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai Habib Syekh tidak hanya menyangkut makam dan cerita tentang kewalian, tetapi juga mencakup aktivitas keagamaan dan karya yang dikaitkan dengannya.
Pentingnya Membandingkan Sumber Sejarah
Dari pembahasan mengenai Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, KH Nur Ikhyak menekankan pentingnya membaca sumber dari berbagai sudut pandang.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak seharusnya hanya mengandalkan satu jenis informasi. Dalam konteks sejarah, sebuah tokoh dapat memiliki penilaian yang berbeda dari kelompok masyarakat yang berbeda pula.
Menurut KH Nur Ikhyak, sumber dari pihak yang berinteraksi langsung dengan tokoh perlu diperhatikan. Ia juga menilai bahwa masyarakat perlu membandingkan sumber primer dengan informasi yang berkembang kemudian.
Pendekatan tersebut menjadi dasar dari pembahasan yang ia lakukan terhadap riwayat Habib Syekh.
KH Nur Ikhyak Juga Soroti Cara Memahami Tokoh Agama
Selain tema utama mengenai Habib Syekh, KH Nur Ikhyak membahas pentingnya sikap kritis dalam memahami tokoh agama.
Dalam sesi tanya jawab, ia mengatakan bahwa masyarakat pada masa sekarang perlu memiliki sikap kritis. Menurutnya, sikap kritis tidak sama dengan suudzon, tetapi dapat dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan.
Ia juga mengatakan bahwa generasi muda perlu diberi ruang untuk bertanya dan berpikir kritis. Dalam pandangannya, perkembangan ilmu pengetahuan menuntut masyarakat untuk terus memperbarui pengetahuan.
Ia kemudian menghubungkan hal tersebut dengan perlunya membedakan antara keyakinan keagamaan dan cerita yang belum diverifikasi.
Pandangan tentang Tarekat dan Belajar Agama
Dalam sesi pertanyaan berikutnya, KH Nur Ikhyak menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan menjalani tarekat yang berbeda.
Menurut penjelasannya, seseorang dapat menjalani tarekat yang berbeda sepanjang tidak menimbulkan pertentangan dan tidak membuat pelaksanaan agama menjadi terlalu berat. Ia menekankan bahwa tarekat merupakan metode dan sanad keilmuan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Ia menyebut pentingnya memastikan bahwa tarekat tersebut muktabarah serta memiliki sanad keilmuan yang bersambung kepada pendiri tarekat.
KH Nur Ikhyak juga menekankan prinsip kemudahan dalam menjalankan agama. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya mengambil beban amalan yang menyebabkan kewajiban lain, termasuk pekerjaan dan tanggung jawab kehidupan, terabaikan.
Makrifatullah dan Keterbukaan terhadap Ilmu
Dalam pertanyaan mengenai tarekat, hakikat, dan makrifat, KH Nur Ikhyak menjelaskan bahwa menurutnya kewajiban pertama seorang Muslim adalah mengenal Allah atau makrifatullah.
Ia menyebut pemahaman mengenai sifat-sifat Allah sebagai bagian dari pengetahuan dasar keagamaan. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu fanatik terhadap kelompok atau tarekat tertentu.
Menurut KH Nur Ikhyak, seseorang perlu tetap belajar dan membuka diri terhadap kajian ilmu pengetahuan selama kajian tersebut tidak menutup akal sehat.
Ia juga menekankan pentingnya menjalankan rukun Islam, meyakini rukun iman, dan mengamalkan ihsan serta akhlak yang baik kepada Tuhan, manusia, dan alam.
Pesan tentang Sikap Kritis terhadap Cerita Spiritual
Pembahasan mengenai Habib Syekh kemudian berkembang ke pertanyaan tentang penampakan tokoh masa lalu.
KH Nur Ikhyak mengatakan bahwa masyarakat perlu berhati-hati ketika menemukan seseorang yang mengaku menampakkan diri sebagai tokoh tertentu. Menurut penjelasannya, dalam pengalaman spiritual yang dikisahkan masyarakat, identitas sosok yang muncul belum tentu dapat dipastikan.
Ia menyebut beberapa kemungkinan berdasarkan penjelasan yang ia kaitkan dengan literatur tasawuf, termasuk kemungkinan jin, qarin, atau bentuk pengalaman spiritual lainnya. Karena itu, ia menganjurkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai suatu cerita tanpa bertanya kepada pihak yang dianggap ahli.
Hal tersebut kembali menunjukkan garis besar pesan yang disampaikan dalam kajian, yakni perlunya membedakan antara pengalaman personal, keyakinan, cerita masyarakat, dan data sejarah.
KH Nur Ikhyak Sebut Tidak Semua Branding Tokoh Harus Diterima
Dalam bagian lain, KH Nur Ikhyak menyatakan bahwa citra seorang tokoh tidak selalu identik dengan keseluruhan fakta mengenai kehidupannya.
Ia menggunakan kisah Habib Syekh sebagai contoh pembahasan mengenai perbedaan antara reputasi keagamaan dengan catatan sejarah yang ia baca. Menurut dia, terdapat perbedaan penilaian antara masyarakat yang menganggap seorang tokoh sebagai orang suci dan pihak lain yang menilai tokoh tersebut berdasarkan pengalaman interaksi atau hubungan sosial.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk membaca sumber sejarah dan melakukan kajian secara lebih luas.
Sumber Sejarah Menjadi Bagian Penting dalam Kajian
Buku Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara menjadi salah satu sumber yang secara khusus diperlihatkan dan dibahas dalam siaran KH Nur Ikhyak.
Ia menggunakan buku tersebut untuk menelusuri kehidupan masyarakat Arab Hadrami di Nusantara serta hubungan sejumlah tokoh dengan penguasa lokal. Pembahasan kemudian difokuskan pada Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih yang disebut memiliki hubungan dengan Sultan Paku Notingrat di Sumenep.
Menurut uraian yang disampaikan, perjalanan tokoh tersebut kemudian meliputi Sumenep, Batavia, Semarang, dan akhirnya Surabaya.
Dalam penyajiannya, KH Nur Ikhyak juga menyampaikan bahwa dirinya memilih melihat tokoh tersebut dari sumber yang menurutnya berbeda dengan narasi populer yang berkembang.
Perjalanan Habib Syekh dari Sumenep hingga Surabaya
Jika dirangkum berdasarkan penjelasan KH Nur Ikhyak, perjalanan Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dalam sumber yang dibahas berlangsung melalui sejumlah wilayah.
Pertama, ia disebut pernah menetap di Surabaya sebelum pergi ke Ambon. Setelah itu, ia bertemu Sultan Paku Notingrat dan dipercaya mengajar putra-putranya di Sumenep.
Ia disebut menjalani aktivitas tersebut selama sekitar 25 tahun. Setelah Sultan wafat, kondisi kehidupannya berubah dan ia kemudian pindah ke Batavia.
Di Batavia, ia disebut tinggal sekitar 10 tahun, sebelum akhirnya pindah ke Semarang. Setelah menjalani aktivitas keagamaan di Semarang, ia kembali ke Surabaya dan kemudian wafat.
Rangkaian perjalanan tersebut menjadi salah satu aspek utama yang disampaikan KH Nur Ikhyak dalam upaya menggambarkan Habib Syekh melalui catatan biografis.
Perbedaan antara Sejarah, Tradisi, dan Keyakinan
Pembahasan mengenai makam Boto Putih juga memperlihatkan adanya tiga aspek yang muncul secara bersamaan, yakni sejarah, tradisi ziarah, dan keyakinan keagamaan.
Sejarah berkaitan dengan catatan mengenai siapa tokoh yang dimakamkan, kapan ia hidup, di mana ia tinggal, dan apa aktivitasnya.
Tradisi berkaitan dengan kebiasaan masyarakat yang melakukan ziarah dan doa di suatu tempat.
Sementara itu, keyakinan berkaitan dengan cara seseorang memahami keberadaan tokoh yang telah wafat serta hubungan antara doa, keberkahan, dan makam.
Dalam siarannya, KH Nur Ikhyak berusaha menempatkan ketiga hal tersebut sebagai bagian yang perlu dibedakan ketika masyarakat melakukan kajian.
Ia berulang kali menekankan pentingnya memeriksa sumber dan tidak hanya bergantung pada citra atau cerita yang berkembang di masyarakat.
Kajian Sejarah Didorong Menggunakan Banyak Referensi
KH Nur Ikhyak juga menyampaikan bahwa kajian mengenai tokoh keagamaan perlu dilakukan secara komprehensif.
Menurut penjelasannya, pembaca dapat membandingkan berbagai literatur, termasuk karya sejarah, catatan kolonial, buku keagamaan, dan sumber lain yang relevan.
Dalam konteks Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, ia menjadikan karya van den Berg sebagai salah satu rujukan yang menurutnya memiliki nilai penting karena memuat informasi mengenai masyarakat Arab di Nusantara.
Namun, informasi yang disampaikan dalam siaran tersebut tetap merupakan pembacaan dan interpretasi KH Nur Ikhyak terhadap sumber yang digunakannya. Artikel ini tidak menyatakan bahwa seluruh detail dalam buku tersebut telah diverifikasi melalui penelitian sejarah independen.
Pesan KH Nur Ikhyak tentang Belajar Sepanjang Hayat
Selain tema sejarah, KH Nur Ikhyak beberapa kali menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat.
Ia menyampaikan gagasan thalabul ilmi dari masa muda hingga akhir kehidupan. Dalam konteks kajian agama, ia mendorong masyarakat agar tidak berhenti membaca dan mempelajari berbagai sumber.
Sikap tersebut, menurut penjelasannya, diperlukan agar umat tidak mudah terjebak dalam informasi yang hanya berasal dari satu pihak.
Dalam sesi mengenai tarekat, ia juga mendorong masyarakat tetap belajar dan tidak menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Kesimpulan
Penjelasan KH Nur Ikhyak Hadinegoro pada 14 Januari 2026 di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menyoroti riwayat Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, tokoh yang dikenal berkaitan dengan kawasan makam Boto Putih, Pegirian, Surabaya.
Dalam kajiannya, KH Nur Ikhyak menggunakan buku Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara sebagai salah satu rujukan untuk membahas perjalanan hidup Habib Syekh. Berdasarkan uraian yang dibacakan, Habib Syekh disebut pernah berada di Surabaya, Ambon, Sumenep, Batavia, Semarang, dan kemudian kembali ke Surabaya.
Ia juga menyoroti hubungan Habib Syekh dengan Sultan Paku Notingrat di Sumenep. Dalam sumber yang dibahas, Habib Syekh disebut menjadi guru asuh putra-putra Sultan dan menjalankan aktivitas tersebut selama sekitar 25 tahun.
Perjalanan berikutnya disebut berlangsung di Batavia dan Semarang sebelum akhirnya kembali ke Surabaya. Dalam pembahasan tersebut juga muncul keterangan mengenai persoalan utang dan penahanan yang dialami Habib Syekh sebagaimana disampaikan dari sumber yang dibaca.
Pada bagian lain, KH Nur Ikhyak membedakan antara makam Habib Syekh dengan makam Pangeran Lanang Dangiran serta makam Sultan Banten di kawasan Boto Putih. Ia juga menyoroti tradisi ziarah dan berbagai cerita mengenai karamah yang berkembang di masyarakat.
Di luar pembahasan sejarah Habib Syekh, KH Nur Ikhyak menyampaikan pentingnya sikap kritis, keterbukaan terhadap ilmu, serta kehati-hatian dalam menerima cerita spiritual.
Ia menekankan bahwa masyarakat perlu memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan tidak semata-mata mengambil kesimpulan berdasarkan branding seorang tokoh. Menurut penjelasannya, kajian sejarah membutuhkan pembacaan terhadap berbagai sumber agar gambaran mengenai seorang tokoh dapat dipahami secara lebih lengkap.
FAQ
Siapa KH Nur Ikhyak Hadinegoro?
KH Nur Ikhyak Hadinegoro merupakan narasumber dalam kajian di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro yang pada 14 Januari 2026 membahas sejumlah persoalan sejarah, keagamaan, tradisi, dan tokoh yang berkaitan dengan sejarah Islam di Nusantara.
Siapa Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih yang dibahas KH Nur Ikhyak?
Dalam materi yang disampaikan, Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih merupakan tokoh yang dikaitkan dengan makam Boto Putih, Pegirian, Surabaya. KH Nur Ikhyak membahas perjalanan hidupnya berdasarkan sumber yang ia baca, termasuk buku Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara.
Di mana makam Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih?
Menurut materi yang disampaikan KH Nur Ikhyak, makam Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih berada di kawasan Boto Putih, Pegirian, Surabaya.
Siapa Pangeran Lanang Dangiran?
Dalam penjelasan KH Nur Ikhyak, Pangeran Lanang Dangiran disebut sebagai tokoh yang dikaitkan dengan sebutan Sunan Boto Putih. Ia membedakannya dengan makam Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih.
Apa hubungan Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dengan Sultan Paku Notingrat?
Berdasarkan sumber yang dibahas KH Nur Ikhyak, Habib Syekh disebut menjadi guru asuh atau pengajar putra-putra Sultan Paku Notingrat di Sumenep. Ia disebut menjalankan peran tersebut selama sekitar 25 tahun.
Apa buku yang digunakan KH Nur Ikhyak dalam pembahasan tersebut?
Salah satu buku yang digunakan dalam pembahasan adalah Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, karya yang disebut dalam siaran sebagai karya L.W.C. van den Berg. Buku tersebut digunakan untuk membahas masyarakat Arab Hadrami dan sejumlah tokoh Arab di Nusantara.
Mengapa KH Nur Ikhyak menekankan pentingnya sumber sejarah?
Karena menurut penjelasannya, citra seorang tokoh dapat berbeda dengan catatan yang terdapat dalam sumber sejarah. Ia mendorong masyarakat untuk membandingkan informasi dan membaca sumber dari berbagai sudut pandang.
Apa yang disampaikan KH Nur Ikhyak tentang tarekat?
Ia menyampaikan bahwa menjalani tarekat yang berbeda dapat dilakukan selama tidak menimbulkan pertentangan dan tidak membuat pelaksanaan agama menjadi terlalu berat. Ia juga menekankan pentingnya sanad keilmuan serta keberadaan mursyid yang memiliki hubungan keilmuan yang jelas.
Apa pesan KH Nur Ikhyak tentang sikap kritis?
KH Nur Ikhyak menyatakan bahwa sikap kritis penting pada masa sekarang. Menurutnya, sikap kritis tidak identik dengan suudzon, tetapi dapat menjadi bentuk kewaspadaan ketika seseorang menerima informasi atau cerita mengenai tokoh agama.
Apakah seluruh informasi sejarah dalam artikel ini sudah diverifikasi secara independen?
Tidak. Artikel ini disusun berdasarkan penjelasan KH Nur Ikhyak Hadinegoro dalam materi yang diberikan. Keterangan sejarah, kutipan sumber, serta penilaian terhadap tokoh yang muncul dalam siaran diposisikan sebagai pernyataan atau pembacaan sumber oleh narasumber dan tidak dinyatakan sebagai hasil verifikasi independen oleh artikel ini.
Apa inti pembahasan KH Nur Ikhyak mengenai Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih?
Inti pembahasannya adalah ajakan untuk melihat riwayat seorang tokoh berdasarkan sumber sejarah, biografi, dan catatan yang tersedia, bukan hanya berdasarkan citra atau cerita yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks tersebut, ia menggunakan riwayat Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih dan kawasan Boto Putih sebagai bahan pembahasan sejarah.
Sumber berita:







