Islah Bahrawi Paparkan Pandangannya tentang Sejarah Kedatangan Imigran Yaman, Kolonial Belanda, dan Pentingnya Akhlak

WARTA BATAVIA – Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, memaparkan pandangannya mengenai sejarah kedatangan imigran Yaman, peran Snouck Hurgronje, kolonial Belanda, hingga pentingnya akhlak dibanding nasab dalam podcast Rhoma Irama Official.
Islah Bahrawi Paparkan Pandangannya tentang Sejarah Kedatangan Imigran Yaman, Kolonial Belanda, dan Pentingnya Akhlak dalam Podcast Rhoma Irama
Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, menjadi narasumber dalam podcast Rhoma Irama Official yang tayang pada 1 November 2024. Dalam perbincangan tersebut, Islah menyampaikan pandangannya mengenai sejarah kedatangan orang-orang dari Timur Tengah ke Nusantara, kebijakan kolonial Belanda, sosok orientalis Christiaan Snouck Hurgronje, hingga pembahasan mengenai posisi nasab, akhlak, dan penghormatan kepada ilmu.
Dialog berlangsung lebih dari 50 menit dengan format bincang santai. Rhoma Irama membuka pembicaraan dengan menjelaskan alasan dirinya menghadirkan berbagai narasumber dari berbagai bidang, mulai dari ahli nasab, filologi, DNA, hingga sejarah, sebagai bagian dari upaya menghadirkan informasi kepada masyarakat.
Menurut Rhoma Irama, podcast yang ia lakukan merupakan bagian dari upaya menyampaikan informasi yang menurutnya penting bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan tanpa motif politik maupun kepentingan kelompok tertentu.
Setelah memperkenalkan Islah Bahrawi, pembahasan kemudian diarahkan kepada sejarah kedatangan masyarakat Timur Tengah ke Indonesia serta berbagai catatan sejarah yang, menurut Islah, berkaitan dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda.
Islah Bahrawi Menjelaskan Awal Pembahasan Sejarah Kedatangan Orang Timur Tengah
Mengawali penjelasannya, Islah Bahrawi menyampaikan bahwa dirinya tidak mengklaim sebagai ahli sejarah. Ia mengatakan lebih banyak membaca berbagai literatur sehingga memiliki ketertarikan terhadap sejumlah kajian sejarah.
Menurut Islah, ketika membahas sejarah kedatangan masyarakat dari Timur Tengah, khususnya Yaman, pembahasan tidak dapat dilepaskan dari dinamika kolonialisme Belanda di Indonesia. Ia menyebut bahwa kajian mengenai orientalis Belanda, terutama Christiaan Snouck Hurgronje, menjadi salah satu bagian penting dalam memahami kebijakan kolonial saat itu.
Dalam penjelasannya, Islah juga menyinggung nama Ignaz Goldziher, seorang orientalis yang menurutnya memiliki pengaruh terhadap pemikiran Snouck Hurgronje. Ia menyampaikan bahwa berbagai karya Goldziher menjadi salah satu referensi yang kemudian berkembang dalam kajian orientalisme terhadap Islam.
Menurut Islah, Goldziher melakukan penelitian mengenai hadis dan tradisi Islam, sedangkan Snouck Hurgronje kemudian melanjutkan penelitian lapangan di Makkah pada akhir abad ke-19. Ia menyebut bahwa penelitian tersebut berkaitan dengan kepentingan pemerintah kolonial Belanda pada masa itu.
Penjelasan Mengenai Snouck Hurgronje di Makkah
Dalam dialog tersebut, Rhoma Irama menanyakan mengenai informasi yang selama ini berkembang bahwa Snouck Hurgronje pernah mempelajari Islam di Makkah.
Menjawab pertanyaan tersebut, Islah menjelaskan bahwa Snouck Hurgronje memang pernah berada di Makkah sekitar tahun 1885. Menurut penjelasannya, Snouck memperoleh akses melalui hubungan dengan sejumlah pihak sehingga dapat mempelajari kehidupan masyarakat Muslim secara langsung.
Ia menyebut bahwa selama berada di wilayah Hijaz, Snouck menjalin hubungan dengan kalangan ulama dan jamaah haji, termasuk masyarakat asal Hindia Belanda yang menetap sementara di sana. Menurut Islah, pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari bahan penelitian yang dibawa Snouck ketika kembali ke Belanda.
Islah juga menyampaikan pandangannya bahwa Snouck tidak benar-benar memeluk Islam, melainkan menggunakan identitas tersebut untuk kepentingan penelitian dan strategi politik kolonial. Pernyataan itu disampaikan sebagai bagian dari interpretasi Islah terhadap perjalanan sejarah Snouck Hurgronje.
Pandangan Islah Mengenai Kesimpulan Penelitian Snouck Hurgronje
Dalam pemaparannya, Islah menjelaskan bahwa berdasarkan bacaan yang ia pelajari, Snouck Hurgronje membuat sejumlah kesimpulan mengenai masyarakat Hindia Belanda.
Salah satu hal yang ia soroti adalah penilaian Snouck terhadap hubungan masyarakat Nusantara dengan orang Arab. Menurut Islah, Snouck beranggapan bahwa sebagian masyarakat Indonesia memiliki penghormatan yang tinggi terhadap masyarakat Arab sehingga muncul sikap yang dianggap lebih rendah dibandingkan mereka.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam catatan Snouck disebutkan hanya sedikit ulama asal Nusantara yang tampil sebagai pengajar di Makkah pada masa itu. Islah mencontohkan nama Ustaz Zainal Abidin dari Sumbawa sebagai salah satu tokoh yang disebut dalam pembahasan tersebut.
Menurut Islah, berbagai pengamatan tersebut kemudian menjadi bagian dari laporan yang disampaikan Snouck kepada pemerintah kolonial Belanda setelah kembali ke Leiden.
Rekomendasi yang Disampaikan kepada Pemerintah Kolonial Belanda
Dalam dialog bersama Rhoma Irama, Islah memaparkan tiga poin yang menurutnya menjadi rekomendasi utama Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda.
Pertama, menurut Islah, pemerintah kolonial tidak disarankan memusatkan perlawanan terhadap para raja atau sultan, melainkan memperhatikan pengaruh ulama lokal yang memiliki kedekatan dengan masyarakat.
Kedua, ia menyebut adanya pandangan bahwa pemerintah kolonial perlu membangun tokoh-tokoh baru yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat.
Ketiga, Islah menjelaskan bahwa kebudayaan lokal yang berpadu dengan ajaran Islam dinilai memiliki peran penting dalam membangun semangat perlawanan masyarakat terhadap kolonialisme. Oleh karena itu, menurut penjelasannya, aspek budaya juga menjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda.
Islah mengatakan bahwa rekomendasi-rekomendasi tersebut kemudian menjadi bagian dari strategi kolonial Belanda dalam menghadapi berbagai bentuk perlawanan di Nusantara.
Pembatasan Jamaah Haji Menurut Penjelasan Islah
Selain membahas rekomendasi tersebut, Islah juga menjelaskan bahwa pemerintah kolonial Belanda, menurutnya, menerapkan pembatasan terhadap keberangkatan jamaah haji.
Ia mengatakan bahwa kebijakan tersebut dimaksudkan agar masyarakat Hindia Belanda tidak mudah terpengaruh oleh berbagai gagasan politik dan gerakan yang berkembang di Timur Tengah pada masa itu.
Islah menilai kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi kolonial dalam mengendalikan perkembangan gerakan perlawanan di Indonesia.
Islah Bahrawi Mengaitkan Migrasi dari Timur Tengah dengan Strategi Kolonial Belanda
Melanjutkan pemaparannya, Islah Bahrawi menyampaikan pandangannya mengenai migrasi masyarakat dari Timur Tengah ke Nusantara. Menurutnya, perpindahan penduduk dari kawasan tersebut telah berlangsung sejak lama, namun pada masa kolonial Belanda terjadi proses yang disebutnya sebagai percepatan atau penguatan arus migrasi dalam konteks kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda.
Dalam dialog tersebut, Islah menyampaikan bahwa pemerintah kolonial, berdasarkan rekomendasi yang menurutnya berasal dari hasil penelitian Snouck Hurgronje, berusaha menghadirkan kelompok-kelompok yang memiliki pengaruh sosial di tengah masyarakat. Ia menyebut bahwa dalam pandangannya, sebagian kelompok tersebut kemudian memperoleh posisi yang dihormati oleh masyarakat karena dianggap memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan pribadi Islah dalam podcast.
Menurut Islah, kondisi tersebut menciptakan struktur sosial baru yang dinilainya memberi ruang bagi munculnya tokoh-tokoh dengan pengaruh keagamaan yang besar di tengah masyarakat Indonesia pada masa kolonial.
Penjelasan Mengenai Utsman bin Yahya dalam Dialog
Salah satu tokoh sejarah yang disebut dalam pembahasan adalah Utsman bin Yahya, yang menurut Islah pernah diangkat sebagai Mufti Betawi pada masa Hindia Belanda.
Dalam penjelasannya, Islah menyebut nama Utsman bin Yahya ketika menguraikan bagaimana pemerintah kolonial, menurut pandangannya, memanfaatkan figur-figur keagamaan dalam menjalankan kebijakan politik kolonial.
Ia juga menyinggung adanya fatwa yang dikaitkan dengan perlawanan masyarakat Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Menurut Islah, fatwa tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi kolonial dalam meredam gerakan perlawanan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai penafsiran Islah terhadap peristiwa sejarah yang dibahas dalam podcast.
Rhoma Irama kemudian meminta penjelasan lebih lanjut mengenai latar belakang sejarah tersebut, sehingga diskusi berlanjut pada strategi kolonial Belanda dalam menghadapi perlawanan masyarakat Indonesia.
Islah Menilai Politik Pecah Belah Menjadi Bagian dari Strategi Kolonial
Dalam podcast tersebut, Islah menjelaskan pandangannya bahwa pemerintah kolonial Belanda tidak hanya mengandalkan kekuatan militer untuk menguasai Nusantara.
Menurutnya, pemerintah kolonial juga menjalankan strategi politik yang bertujuan memecah hubungan antara ulama, santri, dan masyarakat. Ia menyebut strategi tersebut sebagai bagian dari operasi intelijen yang dirancang agar masyarakat tidak lagi memiliki kekuatan yang terpusat dalam menghadapi penjajah.
Islah mengatakan bahwa dalam pandangannya, tokoh-tokoh tertentu digunakan sebagai patron baru yang memiliki pengaruh keagamaan sehingga dapat memengaruhi masyarakat. Ia menyampaikan bahwa strategi tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari kebijakan kolonial sebagaimana ia pahami dari berbagai literatur sejarah yang dibacanya.
Menurut Islah, tujuan akhirnya adalah melemahkan jaringan ulama lokal yang selama itu menjadi salah satu kekuatan utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Pembahasan Mengenai Wali Songo
Rhoma Irama kemudian mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara kedatangan imigran dari Yaman dengan keberadaan Wali Songo.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Islah menyampaikan pandangannya bahwa penyebaran Islam oleh Wali Songo telah berlangsung lebih dahulu dibandingkan gelombang migrasi yang sedang dibahas dalam dialog.
Ia mengatakan bahwa menurut catatan sejarah yang ia pelajari, Wali Songo berasal dari jalur sejarah yang berbeda dan tidak berkaitan dengan kelompok imigran yang menurutnya datang pada masa kebijakan kolonial Belanda.
Dalam penjelasannya, Islah menyebut bahwa sebagian tokoh yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo dikaitkan dengan kawasan Asia Tengah dan Asia Tenggara, termasuk wilayah Champa, serta perpindahan masyarakat akibat konflik politik pada masa awal sejarah Islam. Ia menilai proses migrasi tersebut berlangsung secara alamiah sebagai dampak dari situasi politik di kawasan asal mereka.
Menurut Islah, proses tersebut berbeda dengan perpindahan masyarakat yang menurut pandangannya berkaitan dengan kepentingan kolonial Belanda.
Akulturasi Budaya Menjadi Bagian Penting dalam Penyebaran Islam
Dalam pembahasan berikutnya, Islah menyoroti pendekatan budaya yang menurutnya digunakan oleh Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara.
Ia menyampaikan bahwa berbagai bentuk kesenian lokal, seperti gamelan dan tradisi masyarakat, menjadi media dakwah yang efektif karena mampu diterima oleh masyarakat pada masa itu.
Menurut Islah, pemerintah kolonial Belanda melihat kuatnya hubungan antara Islam dan budaya lokal sebagai salah satu faktor yang memperkuat solidaritas masyarakat. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa terjadi upaya untuk menggeser budaya-budaya lokal tersebut melalui berbagai kebijakan yang berkembang pada masa kolonial.
Sebagai contoh, Islah menceritakan pengalaman masa kecilnya di Madura. Ia menyebut adanya kesenian tradisional bernama Sandur yang, menurut pengalamannya, pernah dipersepsikan secara negatif di lingkungan tertentu, sementara kesenian lain memperoleh penerimaan yang berbeda.
Cerita tersebut disampaikan Islah sebagai ilustrasi mengenai bagaimana ia melihat perubahan pandangan terhadap budaya lokal dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia.
Penghormatan kepada Ilmu Menurut Islah Bahrawi
Memasuki bagian berikutnya, pembicaraan bergeser pada penghormatan terhadap tokoh agama dan ukuran kemuliaan seseorang.
Rhoma Irama menyampaikan bahwa dirinya menghormati orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Menanggapi hal tersebut, Islah menjelaskan bahwa dirinya juga pernah belajar kepada seorang guru yang bergelar habib dan tetap menaruh hormat karena keilmuan serta akhlaknya.
Menurut Islah, penghormatan yang ia berikan kepada seseorang didasarkan pada ilmu, ibadah, dan akhlak, bukan semata-mata karena penyebutan nasab atau garis keturunan. Ia menyampaikan bahwa pengalaman belajar kepada gurunya menjadi salah satu alasan mengapa dirinya tetap menghargai individu berdasarkan kapasitas pribadi masing-masing.
Pada bagian ini, Islah juga menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan prinsip pribadi yang ia pegang dalam memandang seseorang.
Islah Bahrawi Menekankan Pentingnya Akhlak Dibanding Garis Keturunan
Memasuki bagian berikutnya, pembahasan dalam podcast bergeser dari sejarah menuju persoalan akhlak, nasab, dan penghormatan terhadap seseorang. Rhoma Irama mengawali topik tersebut dengan menyinggung pandangan yang berkembang di masyarakat mengenai penghormatan kepada orang-orang yang disebut sebagai habib.
Menanggapi hal itu, Islah Bahrawi menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati setiap orang yang memiliki ilmu dan akhlak, tanpa memandang garis keturunannya. Ia menceritakan bahwa salah satu guru yang pernah mengajarinya adalah seorang habib yang menurutnya memiliki keluasan ilmu dan akhlak yang baik.
Menurut Islah, penghormatan yang ia berikan kepada gurunya lahir karena kualitas keilmuan, ibadah, dan akhlaknya, bukan semata-mata karena penyebutan nasab. Ia menyampaikan bahwa pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya membedakan penghormatan terhadap pribadi seseorang dengan pembahasan mengenai silsilah keturunan.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menggeneralisasi seseorang hanya berdasarkan identitas keluarga atau gelar yang disandang.
Pengalaman Pribadi Menjadi Bagian dari Penjelasan
Dalam dialog tersebut, Islah turut menceritakan pengalaman pribadinya ketika masih muda. Ia mengatakan bahwa pada masa itu dirinya memiliki penghormatan yang sangat besar kepada orang-orang yang dikenal sebagai habib.
Menurut penuturannya, penghormatan tersebut membuat dirinya beberapa kali mengalami pengalaman yang menurutnya kurang menyenangkan. Islah menyampaikan kisah tersebut sebagai refleksi pribadi mengenai pentingnya membedakan antara penghormatan kepada ilmu dan penilaian terhadap perilaku individu.
Ia kemudian menegaskan bahwa pengalaman tersebut membuat dirinya semakin meyakini bahwa ukuran penghormatan kepada seseorang sebaiknya didasarkan pada akhlak dan integritas pribadi.
Pembahasan Mengenai Nasab dalam Perspektif Islah Bahrawi
Setelah membahas pengalaman pribadinya, Islah menjelaskan bahwa dirinya tidak menempatkan nasab sebagai ukuran utama dalam menilai seseorang.
Menurutnya, dalam ajaran Islam yang ia pahami, keselamatan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan, melainkan oleh ketakwaan dan amal perbuatannya.
Dalam dialog tersebut, ia mengutip sejumlah kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an mengenai keluarga para nabi. Islah menyebut bahwa terdapat anggota keluarga nabi yang tidak memperoleh keselamatan hanya karena hubungan kekerabatan, sehingga menurutnya hal tersebut menunjukkan bahwa nasab bukan satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah.
Rhoma Irama kemudian menanggapi dengan menyampaikan pandangannya bahwa dalam berbagai kesempatan ia juga sering mengingatkan mengenai pentingnya ketakwaan dibandingkan faktor keturunan.
Rhoma Irama Menyampaikan Pandangannya
Dalam percakapan tersebut, Rhoma Irama mengatakan bahwa menurut pandangannya, kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak bergantung pada nasab.
Ia mengutip sejumlah contoh dari kisah para nabi sebagai ilustrasi bahwa hubungan keluarga tidak secara otomatis menjadi jaminan keselamatan seseorang. Menurut Rhoma Irama, ukuran utama tetap berada pada ketakwaan dan amal yang dilakukan setiap individu.
Pembahasan tersebut kemudian menjadi pengantar bagi dialog mengenai hubungan antara penghormatan kepada ilmu, akhlak, dan garis keturunan dalam kehidupan masyarakat.
Dialog Berlanjut pada Pembahasan Asal-usul Imigran dari Yaman
Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama kembali mengarahkan diskusi kepada persoalan sejarah kedatangan masyarakat dari Timur Tengah.
Ia menanyakan penjelasan Islah mengenai penggunaan istilah “Arab” dan “Yaman” dalam konteks sejarah migrasi ke Indonesia.
Menjawab pertanyaan tersebut, Islah menjelaskan bahwa dalam pandangannya, istilah Arab pada masa itu lebih merujuk pada asal kawasan di Timur Tengah secara umum. Ia mengatakan bahwa kajian genetika modern belum dikenal pada masa penelitian Snouck Hurgronje sehingga identifikasi yang digunakan lebih banyak berdasarkan asal wilayah.
Menurut Islah, kawasan Hadramaut di Yaman dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki tradisi merantau yang kuat karena faktor sosial dan ekonomi. Ia menyebut bahwa masyarakat dari kawasan tersebut kemudian banyak bermigrasi ke berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara dan Amerika Selatan.
Sebagai ilustrasi, Islah menyebut beberapa tokoh keturunan Timur Tengah di Amerika Latin yang menurutnya memiliki leluhur dari kawasan Yaman. Contoh-contoh tersebut ia gunakan untuk menggambarkan luasnya diaspora masyarakat Hadramaut ke berbagai negara.
Diskusi Mengenai Peran Utsman bin Yahya Kembali Diangkat
Percakapan kemudian kembali menyinggung nama Utsman bin Yahya.
Rhoma Irama meminta penjelasan Islah mengenai pandangannya terhadap fatwa yang dikaitkan dengan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Menanggapi hal tersebut, Islah menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, fatwa tersebut muncul dalam konteks tuduhan pemerintah kolonial terhadap kelompok-kelompok yang melakukan perlawanan bersenjata.
Ia juga mengutip pandangan Ibnu Khaldun mengenai konsep pemerintahan yang sah. Berdasarkan penafsiran Islah terhadap pemikiran Ibnu Khaldun, ia berpendapat bahwa pemerintahan yang memperoleh legitimasi masyarakat berbeda dengan pemerintahan kolonial yang hadir melalui penjajahan.
Dalam penjelasannya, Islah menyampaikan bahwa pandangan tersebut menjadi dasar dirinya menilai konteks sejarah fatwa yang dibahas dalam podcast.
Pandangan Islah Mengenai Strategi Kolonial dalam Memanfaatkan Agama
Melanjutkan pembahasannya, Islah kembali menyinggung strategi pemerintah kolonial Belanda yang menurutnya memanfaatkan pengaruh tokoh-tokoh agama.
Ia menyampaikan pandangan bahwa pemerintah kolonial berusaha memisahkan hubungan antara ulama dan masyarakat melalui berbagai pendekatan sosial maupun keagamaan.
Menurut Islah, strategi tersebut didasarkan pada kesimpulan bahwa kekuatan utama perlawanan masyarakat Indonesia berada pada jaringan ulama dan murid-muridnya. Oleh sebab itu, ia menilai pemerintah kolonial lebih memilih melakukan pendekatan politik dibandingkan konfrontasi militer secara langsung.
Dalam penjelasannya, Islah juga mengatakan bahwa migrasi masyarakat Arab ke Indonesia sebenarnya telah berlangsung sebelum masa kolonial. Namun menurutnya, pada era Hindia Belanda arus tersebut mengalami percepatan dan memperoleh dimensi politik tertentu sesuai dengan kepentingan pemerintah kolonial. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan Islah berdasarkan referensi yang ia pelajari.
Pembahasan Mengenai Budaya Lokal
Menjelang bagian akhir dialog, Islah kembali menyoroti pentingnya budaya lokal dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara.
Ia berpendapat bahwa berbagai bentuk kesenian tradisional, seperti wayang, gamelan, dan bentuk budaya lainnya, pernah menjadi media dakwah yang efektif. Menurut Islah, perubahan cara pandang terhadap budaya lokal merupakan salah satu isu yang perlu dipahami dalam konteks sejarah perkembangan Islam di Indonesia.
Pembahasan ini menjadi penghubung menuju sesi penutup, ketika Rhoma Irama kembali mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara berbagai gerakan keagamaan yang sempat disebutkan dalam dialog.
Islah Bahrawi Menanggapi Perbedaan Pandangan Mengenai Baalawi dan Wahabi
Pada bagian akhir dialog, Rhoma Irama mengangkat pertanyaan mengenai perbedaan antara kelompok Baalawi dan Wahabi. Ia menilai keduanya memiliki karakteristik yang berbeda sehingga meminta penjelasan Islah Bahrawi mengenai apakah terdapat hubungan tertentu di antara keduanya dalam konteks sejarah maupun perkembangan pemikiran keagamaan.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Islah menjelaskan bahwa menurut pandangannya kedua kelompok tersebut memiliki latar belakang, metode, dan konteks sejarah yang berbeda. Meski demikian, ia berpendapat bahwa keduanya sama-sama pernah menjadi bagian dari dinamika yang menurutnya berdampak pada munculnya perbedaan dan polarisasi di tengah masyarakat.
Islah menyampaikan bahwa pendapat tersebut merupakan hasil pembacaan dan analisis pribadinya terhadap sejumlah literatur sejarah serta perkembangan sosial-keagamaan di Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak membahas persoalan nasab secara teknis karena mengaku bukan ahli dalam bidang tersebut.
Islah Mengaku Lebih Memusatkan Perhatian pada Persoalan Akhlak
Dalam kesempatan itu, Islah kembali menegaskan bahwa fokus utamanya bukan pada pembuktian silsilah keturunan, melainkan pada perilaku seseorang.
Ia mengatakan bahwa ukuran penghormatan terhadap seseorang menurut pandangannya adalah akhlak, keilmuan, dan ketakwaan. Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa identitas keturunan tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam memberikan penghormatan kepada seseorang.
Islah juga menjelaskan bahwa dirinya tetap membaca karya-karya sejumlah ulama dari kalangan habib dan menghormati guru-gurunya yang memiliki kapasitas keilmuan. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pandangan mengenai isu tertentu tidak mengurangi penghormatannya kepada orang-orang yang dinilai memiliki ilmu dan akhlak yang baik.
Rhoma Irama Menyimpulkan Pentingnya Akhlak sebagai Ukuran Kemuliaan
Menjelang penutupan podcast, Rhoma Irama memberikan tanggapan atas penjelasan Islah Bahrawi.
Ia menyampaikan bahwa dalam pandangannya, akhlak merupakan indikator penting dalam menilai seseorang. Rhoma kemudian mengutip analogi yang disampaikan salah seorang tokoh yang ia sebut, yakni bahwa perilaku seseorang akan menunjukkan karakter dan jati dirinya.
Menurut Rhoma Irama, pembahasan mengenai nasab tidak dapat dipisahkan dari teladan akhlak Nabi Muhammad SAW. Ia menyampaikan bahwa apabila seseorang mengaku memiliki hubungan keturunan dengan Nabi, maka akhlak yang baik menjadi salah satu aspek yang sering dijadikan ukuran dalam pandangan masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan Rhoma Irama dalam dialog tersebut.
Islah Bahrawi Menyebut Sejumlah Referensi Akademik
Sebelum mengakhiri perbincangan, Islah Bahrawi menyampaikan bahwa sejumlah pandangan sejarah yang ia paparkan merujuk pada berbagai publikasi akademik.
Ia menyebut salah satu karya yang menurutnya dapat dijadikan rujukan untuk memahami pembahasan mengenai diaspora Arab dan kebijakan kolonial Belanda. Islah mengajak masyarakat yang ingin mempelajari tema tersebut untuk membaca langsung literatur yang ia sebutkan sehingga dapat melihat konteks pembahasannya secara lebih lengkap.
Dalam kesempatan itu, Islah kembali menegaskan bahwa dirinya tidak membahas persoalan nasab secara mendalam karena menganggap bidang tersebut memiliki disiplin keilmuan tersendiri. Ia mengatakan bahwa fokus pembahasannya lebih banyak berkaitan dengan sejarah, relasi sosial, dan dinamika kolonialisme berdasarkan referensi yang telah dipelajarinya.
Pesan Penutup tentang Kesetaraan Manusia
Sebagai penutup, Islah Bahrawi menyampaikan pesan mengenai pentingnya memandang seluruh manusia sebagai makhluk yang memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.
Menurut Islah, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul keluarga, suku, ataupun faktor genetik, melainkan oleh ketakwaan, ilmu, dan akhlak.
Ia berharap masyarakat dapat lebih mengedepankan penghormatan kepada kualitas pribadi seseorang dibandingkan identitas keturunannya. Islah juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang menurutnya terus mengembangkan diskusi ilmiah dari berbagai sudut pandang mengenai tema-tema sejarah dan keagamaan.
Rhoma Irama kemudian menutup podcast dengan mengutip makna Surah Al-Hujurat ayat 13 yang menekankan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, sementara ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber dan pemirsa, podcast diakhiri dengan doa penutup.
FAQ
Apa tema utama podcast Rhoma Irama bersama Islah Bahrawi?
Podcast membahas pandangan Islah Bahrawi mengenai sejarah kedatangan masyarakat dari Timur Tengah ke Indonesia, kebijakan kolonial Belanda, pembahasan tentang Snouck Hurgronje, dinamika budaya Islam di Nusantara, serta pandangannya mengenai hubungan antara nasab, ilmu, akhlak, dan ketakwaan.
Siapa Islah Bahrawi?
Dalam podcast tersebut, Islah Bahrawi diperkenalkan sebagai Direktur Jaringan Moderat Indonesia dan dihadirkan sebagai narasumber untuk menjelaskan pandangannya mengenai sejarah dan berbagai isu yang dibahas dalam dialog.
Apa yang disampaikan Islah Bahrawi mengenai Snouck Hurgronje?
Islah memaparkan pandangannya mengenai aktivitas penelitian Snouck Hurgronje di Makkah, pengaruh pemikiran orientalis terhadap kebijakan kolonial Belanda, serta sejumlah rekomendasi yang menurutnya diberikan kepada pemerintah Hindia Belanda. Seluruh pemaparan tersebut disampaikan sebagai penjelasan dan interpretasi Islah dalam podcast.
Bagaimana pandangan Islah Bahrawi mengenai penghormatan kepada seseorang?
Menurut Islah, penghormatan kepada seseorang sebaiknya didasarkan pada ilmu, ketakwaan, dan akhlak, bukan semata-mata pada garis keturunan atau identitas keluarga. Ia menyampaikan pandangan tersebut beberapa kali sepanjang dialog.
Apa pesan yang disampaikan pada penutupan podcast?
Pada akhir podcast, Islah Bahrawi menegaskan pentingnya kesetaraan manusia di hadapan Allah berdasarkan ketakwaan, ilmu, dan akhlak. Rhoma Irama kemudian menutup acara dengan mengutip makna Surah Al-Hujurat ayat 13 serta menyampaikan doa untuk pemirsa.
Ringkasan
Dialog antara Rhoma Irama dan Islah Bahrawi berisi pembahasan mengenai pandangan Islah tentang sejarah kedatangan masyarakat Timur Tengah ke Indonesia, peran Snouck Hurgronje dalam kebijakan kolonial Belanda, dinamika penyebaran Islam dan budaya lokal, hingga pembahasan mengenai nasab, akhlak, dan ketakwaan. Sepanjang podcast, Islah menyampaikan bahwa paparan yang ia sampaikan merupakan hasil pembacaan dan pemahamannya terhadap berbagai referensi sejarah, sementara Rhoma Irama menutup diskusi dengan penekanan bahwa kemuliaan manusia menurut ajaran Islam bertumpu pada ketakwaan, bukan asal-usul keturunan.
Sumber berita:









