
Gus Aziz Jazuli Soroti Dugaan Kemiripan Kitab Alfathatur Rabbaniyah Karya KH Miftahul Ahyar dengan Karya Ibnu Ajibah
WARTA BATAVIA – JAKARTA — Gus Aziz Jazuli menyoroti dugaan kemiripan teks dalam kitab Alfathatur Rabbaniyah fi Syarhil Muqaddimah Al-Jurumiyah karya KH Miftahul Ahyar dengan karya Imam Ibnu Ajibah yang membahas Al-Ajrumiyah. Sorotan tersebut disampaikan Gus Aziz Jazuli melalui kanal Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 29 September 2026.
Dalam penjelasannya, Gus Aziz menyebut menemukan bagian teks yang menurutnya memiliki kemiripan sangat kuat dengan teks dalam kitab karya Imam Ibnu Ajibah. Namun, ia beberapa kali menegaskan bahwa dirinya belum membaca kitab karya KH Miftahul Ahyar secara keseluruhan.
Karena itu, Gus Aziz menyatakan belum dapat memastikan apakah kemiripan tersebut merupakan plagiasi atau merupakan kutipan yang memiliki sumber rujukan tetapi belum terlihat dari potongan teks yang diperolehnya.
Menurut Gus Aziz, persoalan tersebut perlu ditabayunkan dengan memeriksa kitab secara utuh, terutama bagian pendahuluan, isi, serta bagian akhir kitab. Ia menyebut pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui apakah penulis mencantumkan sumber atau referensi terhadap teks yang digunakan.
Dugaan Kemiripan Teks Menjadi Sorotan
Gus Aziz mengawali pembahasannya dengan mengangkat sebuah unggahan media sosial yang menyoroti kitab Alfathatur Rabbaniyah. Dalam unggahan yang dibacakan Gus Aziz, disebutkan adanya dugaan bahwa sebagian teks kitab tersebut memiliki kesamaan dengan karya Imam Ibnu Ajibah.
Potongan yang menjadi perhatian berada pada pembahasan mengenai masdar dari perspektif tasawuf.
Gus Aziz menyampaikan bahwa dalam potongan yang diperolehnya, terdapat teks yang menurutnya sama dengan bagian dalam kitab Al-Futuhatul Qudsiyah fi Syarhil Muqaddimah Al-Jurumiyah karya Imam Ibnu Ajibah.
Namun, ia menekankan bahwa bahan yang tersedia kepadanya hanya berupa potongan halaman. Kondisi tersebut membuat dirinya belum dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Saya tawakuf untuk menentukan apakah kitab ini plagiat atau tidak.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Gus Aziz membedakan antara menemukan kemiripan teks dan menyimpulkan adanya plagiasi.
Ia menyebut, kemiripan tersebut memang menjadi sebuah indikasi yang perlu diperiksa lebih lanjut, tetapi keputusan mengenai status plagiasi membutuhkan pemeriksaan terhadap keseluruhan kitab.
Kitab Alfathatur Rabbaniyah dan Pembahasan Al-Ajrumiyah
Dalam penjelasannya, Gus Aziz menyebut Alfathatur Rabbaniyah sebagai karya yang membahas Al-Muqaddimah Al-Jurumiyah, sebuah kitab yang dikenal dalam pembelajaran ilmu nahwu.
Menurut Gus Aziz, karya KH Miftahul Ahyar tidak hanya menghadirkan pembahasan gramatika bahasa Arab, tetapi juga memiliki nuansa tasawuf atau pendekatan isyari.
Hal tersebut terlihat ketika pembahasan istilah dalam ilmu nahwu diberikan pemaknaan sufistik.
Gus Aziz kemudian mengambil contoh pembahasan al-masdar.
Dalam ilmu nahwu, masdar merupakan salah satu bentuk pembahasan tata bahasa Arab. Namun, pada bagian yang menjadi sorotan, istilah tersebut diberikan pemaknaan dari perspektif tasawuf.
Gus Aziz menjelaskan bahwa pembahasan tersebut mengaitkan masdar dengan cahaya tajalli dan rahasia Allah.
Ia kemudian membandingkannya dengan teks dalam karya Imam Ibnu Ajibah.
Perbandingan dengan Karya Imam Ibnu Ajibah
Gus Aziz menyebut karya Imam Ibnu Ajibah yang menjadi pembanding adalah Al-Futuhatul Quddusiyah fi Syarhil Muqaddimah Al-Jurumiyah.
Menurut penjelasannya, kitab tersebut juga membahas Al-Ajrumiyah dan memiliki bagian yang memberikan penjelasan dengan pendekatan isyari.
Pada bagian yang dibandingkan, Gus Aziz menyebut terdapat teks yang sangat mirip dengan potongan teks dalam kitab karya KH Miftahul Ahyar.
Ia mengatakan bahwa pada bagian tertentu, redaksinya disebut sama atau sangat mirip.
Namun, Gus Aziz juga menunjukkan bahwa tidak seluruh teks yang dibandingkan mempunyai kesamaan.
Ia menemukan adanya bagian yang berbeda sebelum teks yang dianggap sama.
Dengan demikian, menurut penjelasan Gus Aziz, pemeriksaan tidak dapat hanya dilakukan terhadap satu potongan halaman.
Ada Bagian yang Berbeda
Dalam pemaparannya, Gus Aziz menunjukkan bahwa terdapat bagian tertentu dalam teks yang tidak ditemukan dalam kitab karya Imam Ibnu Ajibah.
Ia juga menyebut adanya beberapa bait atau bagian tambahan yang tidak terdapat dalam teks pembanding.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Gus Aziz tidak langsung memberikan kesimpulan mengenai dugaan plagiasi.
Menurutnya, apabila hanya satu halaman atau potongan yang diperiksa, kesimpulan menyeluruh akan sulit diberikan.
Ia berulang kali menyatakan bahwa dirinya membutuhkan kitab lengkap karya KH Miftahul Ahyar untuk mengetahui konteks penulisan.
Gus Aziz: Belum Bisa Memastikan Plagiasi
Salah satu poin penting dalam penjelasan Gus Aziz adalah pengakuannya bahwa ia belum memiliki dan membaca kitab Alfathatur Rabbaniyah secara keseluruhan.
Ia mengatakan bahan yang diperolehnya hanya berupa potongan-potongan teks.
Karena itu, Gus Aziz memilih untuk tawaqquf, atau tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Menurutnya, kaidah dalam memberikan penilaian mengharuskan seseorang memahami objek yang akan dinilai secara memadai.
Dalam konteks tersebut, Gus Aziz menyatakan bahwa pemeriksaan harus mencakup bagian awal kitab, bagian isi, dan bagian akhir kitab.
Salah satu hal yang ingin diketahui adalah apakah terdapat keterangan mengenai sumber kutipan pada bagian lain dari kitab.
Gus Aziz menyebut kemungkinan bahwa penulis telah mencantumkan rujukan pada bagian tertentu, meskipun hal tersebut belum terlihat dari potongan yang ia terima.
Dengan demikian, status dugaan tersebut menurut pemaparannya masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Persoalan Referensi dalam Tradisi Kitab Turats
Pembahasan Gus Aziz kemudian berkembang pada persoalan etika penulisan kitab turats.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi penulisan karya keislaman klasik terdapat berbagai cara untuk menunjukkan bahwa suatu pernyataan merupakan nukilan dari ulama atau kitab sebelumnya.
Menurut Gus Aziz, penyebutan sumber tidak selalu harus menggunakan format akademik modern seperti sistem sitasi APA atau Harvard.
Dalam tradisi turats, terdapat pula frasa tertentu yang berfungsi sebagai penanda bahwa sebuah pernyataan merupakan kutipan atau nukilan.
Ia memberikan contoh seperti “qala al-aslaf”, yang bermakna “ulama terdahulu berkata”, serta beberapa ungkapan lain yang digunakan dalam karya ulama.
Gus Aziz mengatakan bahwa pembaca yang memahami tradisi turats dapat mengenali penggunaan frasa tersebut sebagai penanda adanya pengambilan pendapat atau teks dari sumber sebelumnya.
Meski demikian, menurut penjelasannya, sumber tetap perlu dapat dilacak.
Ia menyoroti pentingnya penyebutan kitab, penulis, atau sumber yang digunakan ketika seseorang mengambil suatu teks.
Contoh Penulisan Referensi dalam Karya Ulama
Gus Aziz kemudian memberikan contoh dari karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani.
Ia menjelaskan bahwa dalam tafsir karya Syekh Nawawi Al-Bantani terdapat berbagai rujukan kepada kitab tafsir sebelumnya.
Menurut Gus Aziz, sumber-sumber tersebut dapat diketahui melalui keterangan yang terdapat pada bagian pendahuluan atau khutbatul kitab.
Ia menyebut sejumlah kitab yang dijadikan sumber, di antaranya karya Fakhruddin Ar-Razi, As-Siraj Al-Munir, serta sejumlah kitab tafsir lainnya.
Dalam penjelasannya, hal tersebut menunjukkan bahwa seorang penulis dapat menggunakan berbagai sumber terdahulu sepanjang terdapat keterangan yang memungkinkan pembaca mengetahui sumber yang digunakan.
Dengan pendekatan tersebut, pembaca dapat membedakan antara karya penulis sendiri dengan bagian yang merupakan ringkasan, nukilan, atau pengambilan dari karya sebelumnya.
Kode Etik Penulisan dalam Kitab Turats
Gus Aziz menyebut persoalan utama yang perlu diperhatikan bukan semata-mata bentuk sitasi modern, melainkan transparansi sumber.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi turats, rujukan dapat ditampilkan dengan berbagai bentuk.
Selain mencantumkan judul kitab dan nama penulis, terdapat pula istilah atau ungkapan tertentu yang berfungsi sebagai penanda bahwa suatu teks merupakan nukilan.
Menurut penjelasan Gus Aziz, hal tersebut merupakan bagian dari etika penulisan.
Ia juga memberikan contoh ketika seseorang mengutip karya tertentu dan kemudian menyebut nama penulis serta kitab yang menjadi sumbernya.
Dalam pandangannya, pembaca harus dapat mengetahui dari mana sebuah pernyataan atau teks berasal.
Nisbatul Qaul dan Persoalan Menisbatkan Pernyataan
Gus Aziz kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan istilah nisbatul qaul, yakni menisbatkan suatu ucapan atau pernyataan kepada pihak tertentu.
Ia menyampaikan bahwa menisbatkan ucapan kepada orang yang bukan pemiliknya merupakan persoalan yang serius dalam tradisi keilmuan.
Dalam konteks dugaan kemiripan teks yang sedang dibahas, Gus Aziz memberikan ilustrasi bahwa apabila sebuah teks sebenarnya berasal dari Imam Ibnu Ajibah, maka teks tersebut semestinya dapat dinisbatkan kepada Imam Ibnu Ajibah apabila memang merupakan kutipan.
Sebaliknya, apabila teks tersebut berasal dari penulis lain, sumbernya juga perlu dijelaskan.
Gus Aziz menegaskan bahwa bagian tersebut masih harus diperiksa melalui kitab secara lengkap.
Perlu Pemeriksaan terhadap Kitab Secara Utuh
Gus Aziz menyebut dirinya belum memiliki keseluruhan kitab Alfathatur Rabbaniyah sehingga belum dapat memeriksa apakah sumber-sumber yang digunakan telah dijelaskan pada bagian lain.
Menurutnya, pemeriksaan terhadap kitab tidak cukup berdasarkan satu halaman.
Pendahuluan kitab menjadi salah satu bagian penting karena dapat memuat keterangan mengenai sumber yang digunakan penulis.
Bagian akhir juga penting untuk diperiksa karena dapat memberikan informasi tambahan mengenai referensi.
Demikian pula bagian-bagian lain dalam kitab perlu dilihat untuk mengetahui apakah terdapat catatan, kutipan, atau penanda yang menghubungkan teks dengan karya ulama terdahulu.
Gus Aziz Mendorong Tabayun
Dalam pembahasan tersebut, Gus Aziz beberapa kali menggunakan pendekatan tabayun.
Ia mengatakan bahwa tuduhan atau dugaan mengenai sebuah karya perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum diberikan kesimpulan.
Hal tersebut juga berkaitan dengan pernyataannya bahwa ia tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan potongan teks.
Menurut Gus Aziz, apabila ternyata terdapat keterangan sumber pada bagian lain kitab, maka informasi tersebut perlu dipertimbangkan dalam membaca persoalan.
Sebaliknya, apabila seluruh kitab telah diperiksa dan ternyata terdapat teks yang sama tanpa keterangan sumber, maka temuan tersebut dapat menjadi bahan pembahasan lebih lanjut.
Tuduhan Plagiasi Belum Dapat Dipastikan dari Potongan Teks
Berdasarkan penjelasan Gus Aziz dalam materi tersebut, terdapat dua hal yang perlu dibedakan.
Pertama, adanya kemiripan atau kesamaan teks antara potongan Alfathatur Rabbaniyah dengan bagian tertentu dari karya Imam Ibnu Ajibah.
Kedua, kesimpulan mengenai apakah kesamaan tersebut memenuhi kriteria plagiasi.
Gus Aziz sendiri menyatakan belum dapat memastikan hal kedua karena belum membaca keseluruhan kitab karya KH Miftahul Ahyar.
Ia menyebut bahwa yang dapat diidentifikasi dari bahan yang dimilikinya baru berupa indikasi kemiripan.
Karena itu, pemeriksaan terhadap sumber asli, konteks kutipan, dan keseluruhan struktur kitab menjadi bagian penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Konteks Perdebatan Keilmuan KH Miftahul Ahyar
Pembahasan Gus Aziz juga menyinggung posisi KH Miftahul Ahyar dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.
Ia menyebut KH Miftahul Ahyar pernah menjadi Rais Aam PBNU periode 2022–2026 dan kemudian terpilih kembali dalam konteks Muktamar NU ke-35 di Tambakberas sebagaimana disebut dalam materi yang dibahas.
Gus Aziz juga mengutip pandangan KH Asep Saifuddin Halim yang pernah mengenal dan mengajak KH Miftahul Ahyar masuk dalam kepengurusan NU.
Dalam materi tersebut, Gus Aziz membacakan pernyataan KH Asep Saifuddin Halim yang mempertanyakan kapasitas KH Miftahul Ahyar untuk menduduki posisi Rais Aam.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan KH Asep Saifuddin Halim sebagaimana dikutip Gus Aziz, bukan kesimpulan independen dari materi ini.
Kritik terhadap Kemampuan Bahasa Arab
Selain persoalan kitab, materi Gus Aziz juga menyinggung kritik terhadap penggunaan bahasa Arab dalam sebuah sambutan yang dikaitkan dengan KH Miftahul Ahyar.
Gus Aziz membahas penyebutan angka tahun Hijriah dan menilai terdapat persoalan dalam cara penyebutannya.
Namun, bagian tersebut merupakan interpretasi dan kritik yang disampaikan dalam materi Gus Aziz, sehingga perlu dibedakan dari pemeriksaan akademik tersendiri terhadap tata bahasa Arab.
Pembahasan itu kemudian digunakan Gus Aziz untuk mempertanyakan kemampuan seseorang dalam menyusun karya berbahasa Arab.
Meski demikian, persoalan tersebut berada di luar pemeriksaan langsung terhadap dugaan kesamaan teks kitab Alfathatur Rabbaniyah dengan karya Imam Ibnu Ajibah.
Kesimpulan Pembahasan Gus Aziz Jazuli
Gus Aziz Jazuli pada dasarnya menyoroti adanya dugaan kemiripan teks dalam kitab Alfathatur Rabbaniyah fi Syarhil Muqaddimah Al-Jurumiyah karya KH Miftahul Ahyar dengan bagian tertentu dari karya Imam Ibnu Ajibah.
Ia menyebut kemiripan tersebut cukup kuat pada potongan yang dibandingkan, khususnya dalam pembahasan masdar dan pendekatan isyari.
Namun, Gus Aziz juga memberikan batasan terhadap kesimpulannya sendiri.
Ia mengaku belum membaca kitab karya KH Miftahul Ahyar secara utuh dan hanya memperoleh potongan teks. Karena itu, ia belum dapat memastikan apakah kitab tersebut melakukan plagiasi.
Menurut Gus Aziz, pemeriksaan harus dilakukan terhadap keseluruhan kitab, termasuk pendahuluan, isi, dan bagian akhir, untuk mengetahui apakah sumber kutipan sebenarnya telah dicantumkan.
Persoalan tersebut kemudian dikaitkan dengan tradisi penulisan kitab turats yang memiliki mekanisme tersendiri dalam menunjukkan sumber nukilan. Menurut penjelasan Gus Aziz, meskipun sistem sitasi tradisional tidak selalu menggunakan format akademik modern, sumber suatu kutipan tetap perlu dapat diketahui.
Dengan demikian, isu mengenai Alfathatur Rabbaniyah dalam materi Gus Aziz masih berada pada tahap identifikasi dan dugaan berdasarkan potongan teks. Kepastian mengenai status kutipan maupun dugaan plagiasi memerlukan pemeriksaan terhadap kitab secara lengkap serta perbandingan langsung dengan sumber yang disebut sebagai pembanding.
FAQ
Apa kitab yang dibahas Gus Aziz Jazuli?
Kitab yang dibahas adalah Alfathatur Rabbaniyah fi Syarhil Muqaddimah Al-Jurumiyah yang dalam materi tersebut disebut sebagai karya KH Miftahul Ahyar.
Apa yang menjadi persoalan dalam kitab tersebut?
Gus Aziz menyoroti adanya potongan teks yang menurutnya memiliki kemiripan dengan bagian dalam karya Imam Ibnu Ajibah yang membahas Al-Muqaddimah Al-Jurumiyah.
Apakah Gus Aziz Jazuli memastikan kitab tersebut plagiat?
Tidak. Dalam penjelasannya, Gus Aziz secara eksplisit menyatakan belum dapat memastikan karena belum membaca kitab secara keseluruhan dan hanya memperoleh potongan-potongan teks.
Kitab Imam Ibnu Ajibah apa yang menjadi pembanding?
Dalam materi tersebut disebut Al-Futuhatul Quddusiyah fi Syarhil Muqaddimah Al-Jurumiyah karya Imam Ibnu Ajibah.
Bagian apa yang dibandingkan?
Salah satu bagian yang dibahas adalah pembahasan mengenai al-masdar, khususnya penjelasan yang menggunakan pendekatan tasawuf atau isyari.
Mengapa Gus Aziz belum memberikan kesimpulan?
Karena ia belum memiliki dan membaca keseluruhan kitab karya KH Miftahul Ahyar. Menurutnya, bagian awal, tengah, dan akhir kitab perlu diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat keterangan sumber atau referensi.
Apa yang dimaksud tradisi turats dalam konteks pembahasan ini?
Dalam materi Gus Aziz, tradisi turats merujuk pada tradisi penulisan karya-karya keilmuan Islam klasik yang memiliki cara tersendiri dalam menyebutkan atau menandai sumber kutipan, termasuk penggunaan frasa tertentu sebagai penanda nukilan.
Apa pentingnya mencantumkan sumber dalam sebuah karya?
Pencantuman sumber memungkinkan pembaca mengetahui asal sebuah gagasan, pendapat, atau teks sehingga dapat membedakan karya penulis dengan kutipan atau nukilan dari karya ulama sebelumnya.
Apa sikap Gus Aziz terhadap dugaan plagiasi tersebut?
Gus Aziz menyatakan memilih tawaqquf atau tidak memberikan kepastian sebelum memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai isi kitab dan sumber-sumber yang digunakan.








One Comment