invisible hit counter
Nasional

Gus Aziz Jazuli Ungkap Latar Belakang Kajian Nasab Ba’alawi di Podcast Rhoma Irama, Ceritakan Pendidikan hingga Alasan Menulis Buku

Pembahasan Polemik Nasab Ba’alawi Dibuka dengan Ajakan Menjaga Akidah dan Persatuan

WARTA BATAVIA – Polemik mengenai nasab Ba’alawi kembali menjadi pembahasan dalam tayangan kanal Rhoma Irama Official yang dipublikasikan pada 30 Januari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Rhoma Irama menghadirkan Muhammad Abdul Aziz Jazuli, Lc., M.H., atau yang akrab disapa Gus Aziz Jazuli, sebagai narasumber untuk menjelaskan pandangannya mengenai isu tersebut berdasarkan kajian yang telah dilakukannya.

Pada pembukaan acara, Rhoma Irama menegaskan bahwa pembahasan polemik nasab dilakukan bukan karena kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai bagian dari upaya menjaga akidah Islam, menjaga kemurnian nama Nabi Muhammad SAW, menjaga sejarah Nahdlatul Ulama (NU), sejarah Wali Songo, serta menjaga persatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Rhoma Irama, pembahasan tersebut diharapkan mampu memberikan kejelasan terhadap berbagai persoalan yang selama ini berkembang di tengah masyarakat sehingga dapat menjadi bahan kajian secara ilmiah.

Profil Gus Aziz Jazuli: Lahir di Grobogan dan Menempuh Pendidikan Pesantren

Dalam sesi awal wawancara, Rhoma Irama meminta Gus Aziz memperkenalkan latar belakang pendidikannya.

Gus Aziz menjelaskan bahwa dirinya bernama lengkap Muhammad Abdul Aziz Jazuli. Nama Jazuli, menurutnya, berasal dari nama sang ayah, Ahmad Jazuli. Ia lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada tahun 1989.

Pendidikan agama pertama ditempuh di Pondok Pesantren Mambaul A’la, Grobogan, yang diasuh almarhum KH Hamzah Matni.

Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Tsanawiyah, ia melanjutkan pendidikan Aliyah di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (DALWA), Pasuruan, Jawa Timur.

Pesantren tersebut dipimpin oleh Habib Zain Baharun. Gus Aziz menyebut dirinya menempuh pendidikan sekitar empat tahun di sana, terdiri atas pendidikan formal Madrasah Aliyah serta pendalaman ilmu agama.

Rhoma Irama kemudian menyoroti fakta bahwa Gus Aziz pernah menempuh pendidikan di pesantren yang dipimpin seorang habib.

Menanggapi hal tersebut, Gus Aziz menyatakan bahwa keterlibatannya dalam pembahasan polemik nasab justru didorong oleh rasa sayang kepada para habaib dan para muhibbin.

Ia menegaskan bahwa pembahasan tersebut bukan bertujuan memusuhi atau membenci kelompok tertentu, melainkan agar persoalan yang dipandang benar maupun keliru dapat dibahas secara ilmiah sehingga dapat memberikan kejelasan kepada masyarakat.

Melanjutkan Studi ke Tarim Selama Enam Tahun

Selain belajar di Indonesia, Gus Aziz juga menjelaskan bahwa dirinya melanjutkan pendidikan ke Tarim, Hadramaut, Yaman.

Ia mengatakan menempuh studi sekitar enam setengah tahun di Universitas Al-Ahqaf, Tarim.

Menurut penjelasannya, rektor universitas saat itu adalah Habib Abdullah Baharun.

Selama belajar di Tarim, materi pendidikan yang dipelajari, menurut Gus Aziz, pada dasarnya masih berkaitan dengan kitab-kitab klasik yang juga banyak dipelajari di berbagai pesantren di Indonesia.

Rhoma Irama kemudian menyimpulkan bahwa Gus Aziz memiliki pengalaman belajar di tiga lingkungan pendidikan yang berbeda, yaitu:

  • Pesantren yang diasuh kiai pribumi.
  • Pesantren yang dipimpin habib.
  • Perguruan tinggi di Tarim, Yaman.

Menurut Rhoma Irama, latar belakang pendidikan tersebut membuat Gus Aziz memiliki pengalaman yang luas dalam mempelajari berbagai literatur keislaman.

Menulis Buku dan Melakukan Tahqiq Manuskrip

Dalam wawancara tersebut, Rhoma Irama juga menanyakan karya-karya yang telah ditulis Gus Aziz.

Gus Aziz menjelaskan bahwa khusus mengenai tema Ba’alawi, dirinya baru menyusun satu buku.

Selain itu, ia mengaku lebih banyak melakukan tahqiq atau penyuntingan ilmiah terhadap manuskrip kitab berbahasa Arab.

Di antaranya ialah:

  • Syarah Al-Hikam karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani.
  • Syarah Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang juga merupakan karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Menurutnya, karena kedua karya tersebut masih menggunakan bahasa Arab, jumlah pembacanya relatif terbatas.

Pembahasan Polemik Nasab Ba'alawi Dibuka dengan Ajakan Menjaga Akidah dan Persatuan

Menyusun Buku Bersama KRT KH Nur Ihya Hadinegoro

Dalam kesempatan itu Rhoma Irama juga memperlihatkan sebuah buku yang disusun Gus Aziz bersama KRT KH Nur Ihya Hadinegoro.

Menurut penjelasan Gus Aziz, buku tersebut berjudul Membongkar Ajaran Khurafat Habaib Ba’alawi.

Ia menjelaskan bahwa buku tersebut secara khusus membahas berbagai hal yang menurutnya merupakan khurafat yang terdapat dalam sejumlah kitab yang dikaitkan dengan kalangan habaib.

Rhoma Irama kemudian menanyakan alasan penyusunan buku tersebut.

Gus Aziz Menjelaskan Alasan Menulis Buku

Gus Aziz mengatakan bahwa alasan utama penyusunan buku tersebut adalah karena menurutnya isi yang dibahas di dalamnya berkaitan dengan persoalan akidah.

Selain itu, ia menyebut adanya tujuan untuk menjaga kemurnian ajaran tasawuf dari berbagai hal yang menurutnya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip tasawuf yang diajarkan para ulama.

Rhoma Irama kemudian meminta penjelasan mengenai istilah khurafat.

Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa khurafat dipahami sebagai kisah-kisah yang dianggap tidak benar atau bersifat dongeng, kemudian dinisbatkan sebagai karamah para wali.

Menurut penjelasan Gus Aziz, kisah-kisah tersebut kemudian diyakini oleh sebagian pengikut sebagai kebenaran dan dipakai untuk mengagungkan tokoh-tokoh tertentu.

Contoh yang Disebutkan dalam Buku

Sebagai contoh isi buku, Gus Aziz menyebut adanya kisah mengenai tokoh yang disebut mampu menurunkan hujan susu dari langit.

Ia mengatakan kisah tersebut disebut berasal dari sebuah kitab manaqib.

Selain itu, ia juga menyebut adanya kisah mengenai turunnya rantai emas dari langit.

Menurut Gus Aziz, contoh-contoh tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan materi yang dibahas dalam bukunya.

Ia menyebut bahwa buku tersebut memuat sekitar 455 contoh yang dikategorikannya sebagai khurafat.

Rhoma Irama menanggapi jumlah tersebut dengan mengatakan bahwa apabila seluruh isi buku dibacakan satu per satu, pembahasan akan berlangsung sangat panjang.

Tujuan Menurut Gus Aziz

Gus Aziz kembali menjelaskan bahwa penyusunan buku tersebut memiliki dua tujuan utama.

Pertama, menurutnya untuk mengingatkan umat Islam terhadap hal-hal yang dianggap dapat memengaruhi akidah.

Kedua, untuk menjaga nama baik tasawuf agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan tasawuf.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan kajiannya terhadap sejumlah kitab, terdapat berbagai klaim yang menurutnya berbeda dengan ajaran tasawuf yang dipelajari dari karya ulama seperti Imam Al-Ghazali maupun Abul Hasan Asy-Syadzili.

Menurut penjelasannya, tasawuf bertujuan membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin agar seorang muslim semakin mengenal Allah SWT.

Namun menurut Gus Aziz, sejumlah literatur yang dikajinya justru lebih banyak menonjolkan pembahasan mengenai nasab dan kedudukan tokoh tertentu.

Pembahasan Berlanjut pada Kajian Tasawuf dan Klaim Karamah

Pada bagian selanjutnya dalam wawancara, pembahasan mulai memasuki penjelasan lebih rinci mengenai pandangan Gus Aziz terhadap berbagai klaim yang disebutnya sebagai khurafat, termasuk penjelasan mengenai konsep karamah, tasawuf, sejumlah kutipan dari kitab-kitab yang dikajinya, hingga pandangannya mengenai hubungan isu tersebut dengan polemik nasab Ba’alawi yang berkembang di ruang publik.

Gus Aziz Jazuli Jelaskan Pandangannya tentang Khurafat, Tasawuf, dan Polemik Nasab dalam Dialog Bersama Rhoma Irama

Gus Aziz Jazuli Jelaskan Pandangannya tentang Khurafat, Tasawuf, dan Polemik Nasab dalam Dialog Bersama Rhoma Irama

Pembahasan Berlanjut pada Konsep Tasawuf dan Klaim Karamah

Memasuki bagian berikutnya dalam podcast Rhoma Irama Official, pembahasan berfokus pada penjelasan Gus Aziz Jazuli mengenai sejumlah materi yang menurutnya terdapat dalam beberapa kitab yang ia teliti. Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut menjadi dasar penyusunan bukunya mengenai ajaran yang disebutnya sebagai khurafat.

Dalam dialog tersebut, Gus Aziz mengatakan bahwa menurut hasil kajiannya terdapat berbagai kisah yang dinisbatkan sebagai karamah tokoh tertentu. Menurutnya, kisah-kisah tersebut kemudian diyakini sebagian pengikut sebagai bagian dari keutamaan para tokoh yang diceritakan.

Ia menyampaikan bahwa berbagai kisah tersebut menjadi salah satu alasan dirinya melakukan penelitian terhadap sejumlah kitab yang berkaitan dengan tema tersebut.

Menurut Gus Aziz, Tasawuf Berorientasi pada Penyucian Hati

Gus Aziz kemudian menjelaskan pandangannya mengenai tujuan utama tasawuf.

Menurutnya, tasawuf merupakan ilmu yang bertujuan membersihkan hati manusia dari berbagai penyakit batin seperti iri hati, dengki, kesombongan, dan merasa diri lebih baik daripada orang lain.

Ia menjelaskan bahwa seseorang yang mempelajari tasawuf seharusnya diarahkan untuk semakin mengenal Allah SWT melalui proses penyucian diri.

Dalam dialog itu ia juga menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pembandingannya terhadap karya-karya ulama tasawuf seperti Imam Al-Ghazali dan Abul Hasan Asy-Syadzili, ia menemukan adanya perbedaan dengan sebagian literatur yang sedang dibahas dalam podcast tersebut.

Menurut Gus Aziz, sebagian kitab yang dikajinya justru banyak diawali dengan pembahasan mengenai nasab tokoh-tokoh yang diceritakan.

Pembahasan Mengenai Nasab dalam Sejumlah Kitab

Dalam penjelasannya, Gus Aziz mengatakan bahwa beberapa kitab yang ia pelajari mengawali pembahasannya dengan penjelasan mengenai silsilah keturunan yang disebut bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Ia menyebut bahwa menurut isi kitab tersebut, nasab tersebut digambarkan sebagai nasab yang suci serta disebut telah diakui oleh para ulama.

Menurut Gus Aziz, apabila kajian tersebut benar-benar berorientasi pada tasawuf, maka pembahasan mengenai nasab seharusnya bukan menjadi fokus utama.

Ia menyampaikan pandangan tersebut sebagai bagian dari hasil pembacaannya terhadap literatur yang dibahas selama penelitian.

Pembahasan Mengenai Gelar Wali dan Wali Kutub

Rhoma Irama kemudian meminta Gus Aziz melanjutkan penjelasannya mengenai isi sejumlah kitab tersebut.

Dalam kesempatan itu Gus Aziz mengatakan bahwa berdasarkan kajiannya terdapat penyebutan berbagai gelar seperti wali, wali kutub, hingga Sultanul Auliya kepada sejumlah tokoh.

Ia menjelaskan bahwa wali kutub dipahami sebagai tingkatan wali tertinggi dalam sebagian literatur tasawuf.

Selanjutnya, ia menyebut adanya kutipan dari salah satu tokoh yang menurutnya menyatakan bahwa di Tarim pada abad ke-9 Hijriah terdapat puluhan wali kutub yang dimakamkan di kawasan tertentu.

Rhoma Irama kemudian memberikan tanggapan terhadap penjelasan tersebut dalam bentuk dialog yang berlangsung santai selama podcast.

Menurut Gus Aziz, Kisah-Kisah Tersebut Menjadi Bagian Penelitiannya

Dalam lanjutan pembicaraan, Gus Aziz mengatakan bahwa berbagai kisah tersebut menjadi bagian dari penelitian yang ia lakukan terhadap kitab-kitab yang berkaitan dengan Ba’alawi.

Ia menambahkan bahwa menurut hasil penelitiannya, sejumlah kisah tersebut kemudian dijadikan dasar untuk memperkuat penghormatan para pengikut kepada tokoh-tokoh tertentu.

Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa pembahasan tersebut merupakan bagian dari alasan mengapa polemik mengenai nasab masih terus menjadi diskusi di ruang publik.

Dialog Mengenai Muhibbin

Pembahasan kemudian beralih kepada istilah muhibbin.

Dalam dialog tersebut Rhoma Irama menyampaikan bahwa menurut pandangannya para muhibbin bukanlah pihak yang perlu dibenci.

Gus Aziz juga menyampaikan pandangan serupa.

Ia mengatakan bahwa menurutnya para muhibbin merupakan orang-orang yang selama ini menerima doktrin tertentu sehingga diperlukan penjelasan melalui kajian ilmiah.

Menurutnya, diskusi yang dilakukan bertujuan memberikan penjelasan terhadap berbagai materi yang selama ini berkembang.

Penjelasan Mengenai Karamah

Selanjutnya Rhoma Irama meminta penjelasan lebih jauh mengenai konsep karamah.

Gus Aziz menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, karamah merupakan anugerah Allah kepada para wali.

Namun ia juga mengatakan bahwa menurut hasil kajiannya terdapat berbagai kisah yang dinilai bertentangan dengan pengertian karamah sebagaimana dijelaskan dalam literatur tasawuf yang dipelajarinya.

Ia menyampaikan bahwa sejumlah kisah tersebut kemudian dikategorikannya sebagai khurafat.

Dalam dialog tersebut Rhoma Irama juga memberikan sejumlah tanggapan terhadap contoh-contoh yang disampaikan Gus Aziz.

Menjelaskan Perbedaan Karamah dan Khurafat

Dalam podcast tersebut, Gus Aziz menjelaskan bahwa menurutnya karamah tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.

Ia kemudian mengutip penjelasan sejumlah ulama tasawuf yang menurutnya menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa tetap harus diukur berdasarkan kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan sunah.

Menurutnya, apabila suatu perbuatan bertentangan dengan syariat, maka hal tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyebutnya sebagai karamah.

Penjelasan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan utama dalam dialog bersama Rhoma Irama.

Pengalaman Berdialog Melalui Media Sosial

Rhoma Irama kemudian menanyakan apakah Gus Aziz pernah berdialog secara langsung dengan pihak-pihak yang berbeda pandangan.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gus Aziz mengatakan bahwa saat ini dirinya lebih banyak berdiskusi melalui media sosial, termasuk TikTok.

Menurutnya, pembahasan yang dilakukan di media sosial umumnya berkaitan dengan isu khurafat maupun polemik nasab.

Ia juga menyampaikan bahwa respons yang paling banyak datang justru berasal dari kalangan muhibbin.

Rhoma Irama Kembali Menegaskan Tujuan Diskusi

Menjelang akhir bagian ini, Rhoma Irama kembali menegaskan bahwa tujuan pembahasan yang dilakukan dalam podcast bukan untuk memusuhi kelompok tertentu.

Ia mengatakan bahwa diskusi tersebut bertujuan memberikan pencerahan kepada masyarakat agar dapat memahami berbagai informasi berdasarkan kajian yang disampaikan narasumber.

Dalam dialog itu, Rhoma Irama juga kembali menyampaikan bahwa menurut pandangannya para muhibbin merupakan pihak yang perlu diberikan penjelasan sehingga dapat memahami berbagai persoalan yang sedang diperdebatkan.

Pembahasan Berlanjut ke Contoh-Contoh yang Disebut dalam Penelitian

Setelah membahas konsep tasawuf, karamah, dan tujuan penelitian, dialog kemudian berlanjut pada pembahasan berbagai contoh yang menurut Gus Aziz ditemukan dalam kitab-kitab yang ditelitinya. Ia juga menjelaskan pandangannya mengenai sejumlah kutipan yang berkaitan dengan tokoh-tokoh tertentu, pembahasan mengenai syirik, penghormatan kepada makam, berbagai kisah yang disebut sebagai khurafat, hingga penjelasan mengenai penelitian sejarah dan nasab yang menjadi bagian akhir podcast.

Polemik Nasab Ba'alawi dalam Podcast Rhoma Irama: Gus Aziz Bahas Penelitian Kitab, DNA, Filologi, dan Pesan Menjaga Akidah

Polemik Nasab Ba’alawi dalam Podcast Rhoma Irama: Gus Aziz Bahas Penelitian Kitab, DNA, Filologi, dan Pesan Menjaga Akidah

Pembahasan Berlanjut pada Penelitian terhadap Kitab-Kitab yang Dikaji

Memasuki bagian akhir podcast, pembahasan berlanjut pada hasil penelitian yang dilakukan Gus Aziz Jazuli terhadap sejumlah kitab yang menurutnya berkaitan dengan polemik nasab Ba’alawi. Dalam dialog bersama Rhoma Irama, ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukan dengan membaca dan membandingkan berbagai literatur yang menurutnya menjadi rujukan dalam diskursus yang sedang berkembang.

Gus Aziz menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya terdapat berbagai kisah yang menurutnya dikategorikan sebagai khurafat. Ia mengatakan jumlah temuan yang telah dihimpunnya mencapai sekitar 455 contoh, dan menurutnya jumlah tersebut masih merupakan sebagian kecil dari keseluruhan materi yang sedang diteliti.

Rhoma Irama menanggapi bahwa apabila seluruh materi tersebut dibahas satu per satu, pembahasan akan berlangsung sangat panjang.

Penjelasan Mengenai Perbedaan Mukjizat dan Karamah

Dalam sesi berikutnya, dialog beralih kepada pembahasan mengenai mukjizat para nabi dan karamah para wali.

Gus Aziz menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, mukjizat merupakan tanda yang diberikan Allah SWT kepada para nabi untuk menguatkan risalah yang mereka bawa kepada umat.

Sementara itu, ia menyampaikan bahwa karamah merupakan anugerah Allah kepada para wali.

Menurutnya, karamah tidak dapat ditempatkan melebihi mukjizat para nabi.

Rhoma Irama kemudian memberikan contoh bahwa mukjizat Nabi Musa AS membelah lautan dan mukjizat Nabi Isa AS menghidupkan orang mati merupakan bagian dari bukti kerasulan yang diberikan Allah SWT.

Dalam dialog tersebut, keduanya menyampaikan bahwa karamah menurut pemahaman mereka tidak boleh bertentangan dengan syariat Islam.

Pengalaman Belajar di Pesantren dan Tarim

Rhoma Irama kemudian kembali menanyakan pengalaman Gus Aziz selama belajar di pesantren maupun ketika menempuh pendidikan di Tarim.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gus Aziz mengatakan bahwa selama belajar di pesantren yang pernah diikutinya maupun ketika kuliah di Tarim, materi yang diajarkan merupakan ilmu-ilmu keislaman secara umum.

Menurutnya, berbagai pembahasan yang kemudian menjadi objek penelitiannya justru dipelajari setelah polemik mengenai nasab Ba’alawi mulai berkembang.

Ia menjelaskan bahwa diskursus tersebut mendorong dirinya bersama sejumlah rekan untuk mulai membuka berbagai kitab yang berkaitan dengan tema tersebut.

Mengaku Terkejut Setelah Melakukan Kajian

Dalam dialog itu Gus Aziz mengatakan bahwa ketika mulai mempelajari berbagai literatur tersebut, dirinya mengaku terkejut dengan sejumlah isi yang ditemukannya.

Menurutnya, berbagai materi tersebut kemudian dikumpulkan sebagai bagian dari penelitian yang akhirnya melahirkan buku mengenai khurafat yang sebelumnya telah diperlihatkan dalam podcast.

Ia juga menjelaskan bahwa selama ini sebagian kalangan menganggap berbagai kisah tersebut sebagai karamah.

Namun menurut pandangannya, terdapat perbedaan antara sesuatu yang luar biasa karena karamah dengan kisah yang menurutnya tidak dapat dikategorikan sebagai karamah.

Penjelasan Mengenai Definisi Karamah

Dalam kesempatan itu Gus Aziz menjelaskan bahwa menurut definisi yang ia gunakan, karamah merupakan sesuatu yang berada di luar kebiasaan manusia (khawariqul ‘adah).

Ia membedakan pengertian tersebut dengan sesuatu yang menurutnya bertentangan dengan akal.

Menurut penjelasannya, tidak semua kisah yang sulit dipahami dapat langsung disebut sebagai karamah.

Ia menyampaikan bahwa hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dirinya melakukan penelitian terhadap berbagai literatur yang menjadi objek pembahasannya.

Menyebut Kajian Sejarah Hadramaut

Pada bagian selanjutnya, Gus Aziz juga menyebut karya seorang sejarawan bernama Saleh Al-Bakri yang menurutnya menulis mengenai sejarah politik Hadramaut.

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan buku tersebut terdapat uraian mengenai perkembangan kelompok Ba’alawi dari masa ke masa.

Menurut penjelasannya, buku tersebut menggambarkan bagaimana otoritas keagamaan dibangun melalui dua aspek yang disebutkan dalam dialog, yakni nasab serta kedudukan spiritual.

Rhoma Irama kemudian menanggapi bahwa menurut pandangannya dua aspek tersebut dapat memberikan pengaruh yang besar di tengah masyarakat.

Pembahasan Mengenai Polemik Nasab dan Kajian DNA

Menjelang akhir podcast, pembahasan bergeser kepada polemik nasab yang selama beberapa waktu menjadi perhatian publik.

Rhoma Irama menjelaskan bahwa dirinya mengikuti berbagai kajian mengenai persoalan tersebut, termasuk penelitian filologi dan pembahasan mengenai DNA yang berkembang di ruang publik.

Dalam dialog tersebut ia menyebut tesis yang disusun KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, pembahasan DNA oleh Dr. Sugeng Sugiharto, serta kajian filologi yang menurutnya ikut menjadi bahan pertimbangan dalam memahami polemik tersebut.

Gus Aziz menyampaikan bahwa menurut pandangannya, berbagai kajian tersebut perlu dipelajari secara serius oleh masyarakat.

Ia mengatakan bahwa tujuan utama diskusi bukan untuk membenci pihak tertentu, melainkan agar berbagai persoalan dapat dibahas berdasarkan data yang tersedia.

Rhoma Irama Menyinggung Ajakan Tes DNA

Dalam sesi yang sama, Rhoma Irama juga menyinggung pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan Habib Rizieq Shihab mengenai tes DNA.

Ia mengatakan bahwa ajakan tersebut menjadi bagian dari diskusi mengenai pembuktian nasab yang berkembang di tengah masyarakat.

Pembahasan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penutup dalam dialog mengenai polemik nasab yang dibahas sepanjang podcast.

Gus Aziz Menyampaikan Pesan Penutup

Pada akhir wawancara, Gus Aziz mengajak umat Islam untuk menjaga akidah dari berbagai hal yang menurutnya dapat merusak keimanan.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menerima setiap kisah yang disebut sebagai karamah tanpa melakukan kajian terlebih dahulu.

Menurutnya, setiap informasi yang berkaitan dengan persoalan akidah perlu dipelajari berdasarkan Al-Qur’an, sunah, serta penjelasan para ulama yang menjadi rujukan.

Ia juga menyampaikan bahwa tujuan pembahasan yang dilakukan bukan untuk menumbuhkan kebencian terhadap kelompok tertentu, melainkan sebagai bentuk penyampaian hasil kajian yang telah dilakukan.

Gus Aziz Jazuli Ungkap Latar Belakang Kajian Nasab Ba’alawi di Podcast Rhoma Irama, Ceritakan Pendidikan hingga Alasan Menulis Buku

Rhoma Irama Menutup Podcast dengan Ajakan Mengedepankan Kajian Ilmiah

Menutup podcast, Rhoma Irama menyampaikan apresiasi kepada Gus Aziz Jazuli atas penjelasan yang diberikan selama wawancara.

Ia berharap pembahasan tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi masyarakat yang mengikuti polemik nasab Ba’alawi.

Rhoma Irama kembali menegaskan bahwa menurut pandangannya diskusi mengenai persoalan tersebut perlu dilakukan secara ilmiah dan berdasarkan data, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai isu yang sedang berkembang.

FAQ

Siapa narasumber dalam podcast Rhoma Irama Official ini?

Narasumber dalam podcast tersebut adalah Muhammad Abdul Aziz Jazuli, Lc., M.H. atau Gus Aziz Jazuli.

Kapan podcast tersebut dipublikasikan?

Berdasarkan keterangan pada transkrip, podcast tersebut dipublikasikan pada 30 Januari 2026.

Apa tema utama pembahasan?

Pembahasan berfokus pada polemik nasab Ba’alawi, hasil penelitian Gus Aziz terhadap sejumlah kitab, pembahasan mengenai khurafat dan karamah, serta diskusi mengenai kajian sejarah, filologi, dan DNA sebagaimana disampaikan dalam dialog.

Apa pesan utama yang disampaikan pada akhir podcast?

Pada penutup podcast, Gus Aziz mengajak umat Islam menjaga akidah, mempelajari persoalan keagamaan berdasarkan kajian yang dilakukan, serta berhati-hati dalam menerima informasi yang berkaitan dengan keyakinan. Rhoma Irama juga menegaskan pentingnya pembahasan secara ilmiah berdasarkan data dan kajian yang tersedia.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button