invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Hadirkan Guru Gembul di Podcast, Bahas Nasab Habaib dan Pentingnya Verifikasi Informasi

Polemik Nasab Ba’alawi Mengemuka, Rhoma Irama dan Guru Gembul Bahas Metodologi Ilmu hingga Tes DNA

WARTA BATAVIAJakarta – Isu seputar nasab keturunan Nabi Muhammad SAW kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Raja Dangdut, Rhoma Irama, melalui kanal YouTube pribadinya, Rhoma Ira Official, mengundang seorang pengajar sekaligus content creator, Guru Gembul, untuk berdiskusi membedah berbagai persoalan aktual, mulai dari metodologi ilmu, etika bermedia sosial, hingga polemik nasab Ba’alawi yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

Podcast yang tayang pada 31 Mei 2024 ini menjadi sorotan karena mengangkat isu sensitif terkait klaim keturunan Nabi yang selama ini dipegang teguh oleh sebagian komunitas di Indonesia. Dalam diskusi yang berlangsung santai namun mendalam tersebut, Rhoma Irama yang akrab disapa Bang Haji dan Guru Gembul menyepakati pentingnya kembali kepada landasan Al-Qur’an dan Hadis serta metode ilmiah dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di tengah masyarakat.

Siapa Guru Gembul? Pengajar Bandung yang Multitalenta

Di awal perbincangan, Rhoma Irama memperkenalkan sosok Guru Gembul sebagai pribadi yang luar biasa dan multitalenta. Guru Gembul mengaku dirinya adalah seorang pengajar di salah satu sekolah di Bandung yang mengajar berbagai macam disiplin ilmu. Meskipun berprofesi sebagai guru, ia mengakui bahwa tantangan terbesarnya saat ini adalah menghadapi murid-murid yang sumber informasinya bukan lagi dari buku teks, melainkan dari Google.

> “Murid-murid saya itu bukan diajari oleh guru, sumber informasi mereka itu dari Google. Saya mendapatkan tantangan setiap saat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada dalam buku teks,” ujar Guru Gembul.

Guru Gembul yang diketahui lahir di Bandung pada tahun 1985 dan merupakan lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini menyatakan bahwa komitmennya sebagai guru adalah harus mampu menjawab pertanyaan apapun yang diajukan muridnya. Hal inilah yang mendorongnya untuk terus membaca dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Meskipun kerap menuai kontroversi, ia meminta agar nama sekolah tempatnya mengajar tidak disebutkan.

Google dan AI sebagai Sumber Informasi, Perlukah Diverifikasi?

Google Bukan Sumber, Melainkan Mesin Pencari

Salah satu poin penting yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah mengenai kecerdasan buatan (AI) dan mesin pencari seperti Google. Menurut Guru Gembul, terdapat kesalahan konsep di masyarakat yang menganggap Google sebagai sumber informasi. Ia menegaskan bahwa Google hanyalah mesin pencari berbasis AI yang mengumpulkan informasi dari manusia.

> “Google itu bukan sumber informasi, Google itu mesin pencari. Jadi yang menuliskannya tetap manusia, yang membuat video di sana tetap manusia,” jelas Guru Gembul.

Bahaya Informasi Tanpa Verifikasi

Meskipun memudahkan, Guru Gembul mengingatkan bahwa Google dan AI memberikan informasi tanpa batas dan tanpa verifikasi. Kondisi ini membuat manusia zaman sekarang sulit membedakan mana informasi yang benar (fakta) dan mana yang hoaks.

> “Manusia zaman sekarang hampir tidak bisa membedakan mana hoaks dan mana yang tidak. Setiap orang memiliki potensi untuk terjebak pada berita-berita bohong,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia sangat menganjurkan masyarakat untuk mempelajari metodologi ilmu, yaitu cara memverifikasi sebuah sumber, apakah itu benar atau tidak. Ia mencontohkan bahwa umat Islam sebenarnya telah diajarkan hal ini sejak zaman dulu melalui ilmu hadis, di mana terdapat sanad dan matan yang harus diverifikasi.

Etika Bermedia Sosial dan Menyikapi Isu Aktual

Memisahkan Kepentingan Publik dan Urusan Pribadi

Guru Gembul juga menekankan pentingnya etika dalam menyikapi informasi yang beredar, terutama di media sosial. Ia menyatakan bahwa setelah memverifikasi sebuah informasi, langkah selanjutnya adalah memastikan apa faedahnya bagi publik.

Ia mengaku sengaja tidak membahas hal-hal yang bersifat gosip atau urusan pribadi, seperti kasus artis bercerai. Ia juga menjelaskan alasannya tidak mau membahas detail pribadi dalam kasus Vina yang sempat viral.

> “Saya tetap pada pendirian saya enggak akan membahas pribadinya orang yang kesurupan dan sebagainya karena itu adalah urusan pribadi yang kalau dibicarakan judulnya gibah, gosip,” tegasnya.

Sebaliknya, ia lebih tertarik membahas isu-isu yang bersifat sosiologis dan fenomenologi, seperti kinerja polisi dalam menangani kasus, fenomena masyarakat yang mencintai horor, atau bagaimana sebuah film diduplikasi dari cerita asli demi kepentingan komersial.

Merujuk pada Al-Qur’an dan Hadis

Rhoma Irama menyambut baik pandangan Guru Gembul tersebut. Ia menekankan bahwa sebagai umat Muslim, segala persoalan harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai otoritas tertinggi. Ia mengutip firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13 yang menyatakan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah ketakwaannya, bukan keturunan atau nasabnya.

> “Inna akramakum ‘indallahi atqokum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa,” kutip Rhoma Irama.

Polemik Nasab Habaib, Antara Produk Budaya dan Klaim Keturunan Nabi

Habib sebagai Produk Budaya

Puncak dari diskusi ini adalah pembahasan mengenai polemik nasab Ba’alawi atau Habaib di Indonesia. Guru Gembul dengan tegas menyatakan bahwa istilah “Habib” beserta sebutan sejenisnya seperti Sayyid dan Syarif adalah produk budaya masyarakat, bukan ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis.

> “Jadi saya sering mengatakan bahwa istilah-istilah Habib itu adalah produk budaya masyarakat. Jadi di dalam Quran di dalam hadis kita tidak menyebut ada yang namanya Habib, dan Habib sama dengan zuriat nabi gitu itu nggak ada,” kata Guru Gembul.

Karena merupakan produk budaya, ia berpendapat bahwa status Habib tidak boleh disakralkan. Hal-hal yang disakralkan dalam agama hanyalah yang benar-benar terkait dengan landasan dasar agama, seperti Al-Qur’an, Hadis, pribadi Nabi, dan nama-nama Allah. Ia juga menegaskan bahwa mempertanyakan kebenaran nasab Habib tidak berimplikasi pada akidah.

> “Kalau misalkan kita bertanya apakah Habib itu benar-benar keturunan Nabi atau bukan, pertanyaan itu sama sekali tidak berimplikasi pada akidah,” ujar Guru Gembul.

Kejanggalan dalam Catatan Sejarah dan Metodologi Ilmiah

Guru Gembul memaparkan sejumlah kejanggalan yang ia temukan terkait catatan nasab Ba’alawi. Ia mengutip penelitian dari Kiai Imaduddin Utsman al-Bantani yang menyatakan bahwa nasab tersebut terputus dan tidak ada catatan yang bisa diverifikasi selama berabad-abad.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan metodologi sejarah, sebuah fakta hanya bisa diakui jika ada catatan.

> “Sejarah tergantung catatan, tidak ada catatan tidak boleh diakui itu metodologinya begitu,” jelasnya.

Beberapa kejanggalan yang disebutkan antara lain:

1. Rentang Generasi: Seharusnya keturunan Nabi saat ini berada pada generasi ke-48, 49, atau 50. Namun, data dari Rabithah Alawiyah menunjukkan bahwa Habaib di Indonesia hanya berada pada generasi ke-37, 38, atau 39. Ini berarti ada sekitar 11 generasi yang hilang.
2. Usia Melahirkan yang Tidak Wajar: Untuk menutupi rentang waktu yang hilang tersebut, catatan menunjukkan adanya jeda usia yang sangat panjang antar generasi, hingga 60 tahun baru memiliki anak. Guru Gembul menilai ini tidak wajar jika terjadi secara terus-menerus selama 1500 tahun.
3. Kejanggalan Angka: Tahun-tahun kelahiran dalam catatan tersebut cenderung bulat dan genap, yang dianggapnya sebagai kejanggalan tersendiri.
4. Penolakan Tes DNA: Guru Gembul menyebut bahwa hanya kalangan Ba’alawi yang tidak mau melakukan tes DNA untuk membuktikan klaim nasabnya, sementara komunitas lain bersedia.

Dampak Sosial dan Ajaran yang Menyimpang

Guru Gembul dan Rhoma Irama menyoroti dampak negatif dari pengkultusan individu berdasarkan nasab. Guru Gembul menceritakan fenomena di mana sebagian masyarakat mengkultuskan Habaib secara berlebihan, seperti mencium jejak kaki atau berebut sisa makanan yang dianggap berkah karena berasal dari “keturunan Nabi”.

Rhoma Irama juga mengaku pernah mendengar doktrin yang menyatakan bahwa seorang Habib, meskipun berbuat dosa besar seperti mabuk atau berzina, tetap ahli surga dan tidak boleh ditegur.

> “Masih saya ingat, itu kalau ada anak habib walaupun dia mabuk-mabukan, walaupun penzina, pencuri, penjudi, jangan kate ape-ape. Dia itu turunan Nabi, jangan disakiti, jangan diomelin, dia itu ahli surga,” ujar Rhoma Irama meniru ucapan yang pernah didengarnya.

Tes DNA sebagai Solusi

Menanggapi polemik ini, Rhoma Irama mengusulkan agar permasalahan nasab ini diselesaikan secara ilmiah melalui tes DNA. Meskipun ia mengaku sebagai seorang “Muhibbin” (pecinta Habaib), ia menegaskan bahwa jika terbukti bukan keturunan Nabi, ia akan tetap menghormati mereka sebagai sesama Muslim.

> “Para Habib misalnya terkonfirmasi bukan Zuriah Rasulullah, saya akan tetap mencintai beliau-beliau sebagai sahabat. Karena sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara,” ungkap Rhoma Irama.

Usulan ini menuai reaksi dari Habib Bahar bin Smith yang menyatakan bersedia menjalani tes DNA dengan satu syarat yang dinilai mustahil, yaitu membongkar makam Nabi Muhammad SAW.

Kritik terhadap Pola Pikir Umat Islam dan Pentingnya Aplikasi Ilmu

Perdebatan Tanpa Aplikasi Nyata

Sepanjang diskusi, Guru Gembul menyoroti kebiasaan umat Islam yang gemar berdebat mengenai teks-teks agama namun enggan mewujudkannya dalam kehidupan nyata. Ia mengkritik fenomena di mana umat Islam menghafal Al-Qur’an dan menafsirkannya hanya untuk berdebat, tanpa memanifestasikannya dalam tindakan.

> “Kebiasaan dari kaum muslimin sekarang itu adalah mereka membaca al-qur’an kemudian menghafalnya, kemudian menafsirkannya, kemudian memperdebatkannya, tapi tidak memanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari,” kritiknya.

Ia memberikan contoh ironis mengenai perdebatan apakah Nabi Muhammad SAW buang air kecil sambil berdiri atau duduk. Menurutnya, perdebatan ini seharusnya mendorong umat Islam untuk menciptakan teknologi tempat buang air kecil yang tidak memantulkan percikan air kencing, sebagaimana yang telah diciptakan oleh negara-negara Non-Muslim.

> “Kaum muslimin yang mewajibkan jangan sampai tetesannya tapi perdebatannya sampai sekarang masih terus, debatnya terus dilestarikan, mewujudkan menjadi teknologi yang tidak memantulkan air pipis tidak pernah dilakukan muslimin,” sesalnya.

Dikotomi Ilmu Dunia dan Akhirat

Guru Gembul juga mengkritik dikotomi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat yang kerap membuat umat Islam terpuruk. Ia mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa suatu ilmu dinilai duniawi atau ukhrawi bukan dari jenis ilmunya, melainkan dari tujuan penggunaannya.

Ilmu ekonomi, misalnya, akan menjadi ilmu akhirat jika digunakan untuk memberikan kemaslahatan kepada manusia, seperti membantu fakir miskin dan anak yatim. Sebaliknya, mempelajari ilmu hadis hanya untuk meraih jabatan justru menjadikannya ilmu duniawi.

Kembali pada Adab Berdebat

Meskipun mengkritik perdebatan yang tidak produktif, Rhoma Irama dan Guru Gembul sepakat bahwa berdebat adalah fitrah manusia dan akan terus terjadi hingga akhir zaman. Namun, keduanya menekankan pentingnya adab dalam berdebat, yaitu dengan cara yang terbaik (*billati hiya ahsan*) sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125.

> “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,”* kutip Rhoma Irama.

Kunci dari perdebatan yang sehat adalah kejujuran dalam mencari kebenaran, bukan mencari pembenaran atas pendapat sendiri. Jika semua pihak ikhlas karena Allah, kebenaran pasti akan ditemukan.

Penutup dan Closing Statement Guru Gembul

Di akhir acara, Rhoma Irama meminta closing statement dari Guru Gembul untuk para pemirsa. Guru Gembul berpesan agar masyarakat tetap berpikir kritis dan menggunakan metodologi ilmu yang dimulai dari sikap skeptis. Namun untuk urusan agama, ia mengajak untuk meyakini sesuatu yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata.

Sebagai tanda penghormatan, Guru Gembul menyerahkan buku pertamanya yang berjudul “50 Muslim Paling Berpengaruh” kepada Rhoma Irama. Buku yang diterbitkan oleh Narasi ini berisi tulisan tentang 50 tokoh muslim paling berpengaruh dalam sejarah peradaban Islam, tidak termasuk Nabi Muhammad SAW yang ditempatkan di atas segalanya.

Dampak dan Tindak Lanjut

Podcast ini memicu gelombang reaksi dari berbagai kalangan, terutama dari komunitas Habaib. Beberapa pihak seperti Habib Bahar bin Smith dan Habib Rizieq Shihab menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap pernyataan Rhoma Irama dan Guru Gembul.

Sementara itu, Rabithah Alawiyah selaku organisasi yang menaungi komunitas Ba’alawi di Indonesia, menggelar acara diskusi untuk membedah tulisan yang dianggap membatalkan nasab Ba’alawi. Acara yang rencananya dihadiri oleh Kiai Imaduddin Utsman, Rhoma Irama, dan Mama Gufron tersebut hanya dihadiri oleh Guru Gembul sebagai perwakilan dari pihak yang kontra.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Siapa itu Guru Gembul?

Guru Gembul adalah seorang guru sejarah, pembuat konten, dan aktivis asal Bandung yang lahir pada tahun 1985. Ia dikenal dengan konten bertema filsafat sosial dan sering membahas isu-isu agama serta sains. Ia adalah lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

2. Apa inti dari polemik nasab Habib yang dibahas dalam podcast tersebut?

Inti polemiknya adalah pertanyaan mengenai apakah Habaib (keturunan Nabi Muhammad SAW) di Indonesia benar-benar memiliki silsilah yang tersambung kepada Rasulullah. Guru Gembul berpendapat bahwa istilah Habib adalah produk budaya dan klaim nasabnya tidak memiliki catatan sejarah yang bisa diverifikasi serta mengandung banyak kejanggalan.

3. Apa usulan Rhoma Irama untuk menyelesaikan polemik nasab ini?

Rhoma Irama mengusulkan agar masalah nasab ini diselesaikan secara ilmiah melalui tes DNA. Ia menyatakan akan tetap menghormati para Habib sebagai sesama Muslim jika terbukti bukan keturunan Nabi.

4. Bagaimana tanggapan Habib Bahar bin Smith terhadap usulan tes DNA?

Habib Bahar bin Smith menyatakan bersedia menjalani tes DNA dengan satu syarat yang dinilai mustahil, yaitu membongkar makam Nabi Muhammad SAW.

5. Apa pesan utama dari diskusi Rhoma Irama dan Guru Gembul?

Pesan utamanya adalah pentingnya berpikir kritis, memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan nyata, bukan hanya memperdebatkannya. Selain itu, keduanya menekankan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan keturunan atau nasab.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button