invisible hit counter
Nasional

Lia Pediati Bahas Dakwah Rhoma Irama dalam Polemik Nasab Ba’Alawi di Tesis S2 UIN Jakarta

WARTA BATAVIAJAKARTA – Mahasiswi Program Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Lia Pediati, membahas keterlibatan Rhoma Irama dalam polemik nasab Ba’Alawi melalui sebuah penelitian tesis. Pembahasan tersebut disampaikan dalam perbincangan bersama Rhoma Irama di kanal YouTube Rhoma Irama Official pada 29 November 2024.

Dalam perbincangan tersebut, Lia menjelaskan bahwa tesisnya mengambil tema dakwah Rhoma Irama mengenai polemik nasab Ba’Alawi di kanal YouTube Bisikan Rhoma dari perspektif komunikasi Islam. Penelitian tersebut, menurut Lia, tidak berfokus untuk menentukan benar atau tidaknya suatu klaim nasab, melainkan melihat aspek dakwah Rhoma Irama dan komunikasi yang berlangsung melalui konten digital.

Lia merupakan mahasiswa program magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Jakarta. Ia juga memperkenalkan dirinya sebagai alumni Pondok Pesantren Ummul Quro yang dipimpin KH Syarif Rahmad.

Kehadiran Lia dalam tayangan tersebut awalnya dimaksudkan untuk melakukan wawancara dengan Rhoma Irama. Namun, format pertemuan kemudian berkembang menjadi percakapan yang ditayangkan kepada publik.

Lia Pediati Teliti Dakwah Rhoma Irama tentang Polemik Nasab Ba’Alawi

Lia mengatakan, topik tesis yang dibawanya mengalami perubahan sebelum akhirnya berfokus pada dakwah Rhoma Irama mengenai polemik nasab Ba’Alawi.

Sebelumnya, ia berencana meneliti komunikasi aktif audiens dan penerimaan aktif audiens terhadap konten yang berkaitan dengan polemik tersebut. Namun, karena sejumlah kendala, fokus penelitian kemudian diarahkan pada aktivitas dakwah Rhoma Irama.

Judul yang disebutkan Lia dalam perbincangan tersebut adalah “Dakwah Haji Rhoma Irama tentang Polemik Nasab Ba’Alawi dalam YouTube Bisikan Rhoma Perspektif Komunikasi Islam.”

Menurut Lia, penelitian tersebut berangkat dari fenomena polemik nasab yang berkembang secara masif di media sosial. Ia menyebut isu tersebut telah berlangsung selama sekitar dua tahun pada saat penelitian dilakukan dan menurut pengamatannya belum menghasilkan penyelesaian yang mempertemukan pihak-pihak yang berseberangan.

Lia menggambarkan kondisi masyarakat yang mengikuti polemik tersebut seperti penonton pertandingan tinju tanpa wasit. Menurut dia, masyarakat menyaksikan perdebatan antara berbagai pihak, tetapi tidak selalu memiliki rujukan untuk menentukan kesimpulan.

“Polemik nasab ini sebenarnya sudah menjadi isu nasional,” ujar Lia dalam perbincangan tersebut.

Ia menilai media sosial membuat pembahasan tersebut dapat dikonsumsi oleh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari tingkat literasi yang berbeda hingga lintas generasi.

Lia juga menjelaskan alasan dirinya tertarik melihat aktivitas dakwah Rhoma Irama melalui media sosial

Generasi Milenial dan Gen Z Menjadi Bagian dari Audiens

Lia juga menjelaskan alasan dirinya tertarik melihat aktivitas dakwah Rhoma Irama melalui media sosial.

Menurutnya, Rhoma selama ini lebih dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai seniman dan penyanyi. Sementara itu, jejak dakwah Rhoma Irama telah berlangsung dalam waktu yang panjang.

Lia menyebut dirinya mengikuti perjalanan dakwah Rhoma Irama, termasuk melalui karya musik dan film. Ia juga mengatakan telah membaca buku mengenai perjalanan Rhoma Irama.

Dalam pandangannya, generasi milenial dan generasi Z yang mengakses media sosial dapat mengenal Rhoma terutama sebagai musisi. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Lia menaruh perhatian pada posisi Rhoma sebagai pendakwah ketika membahas isu keagamaan melalui YouTube.

Lia kemudian menyinggung istilah “Nada dan Dakwah” yang dikaitkan dengan Rhoma Irama dan almarhum KH Zainuddin MZ.

Menurut Lia, perjalanan tersebut menjadi bagian dari latar belakang untuk melihat kapasitas Rhoma Irama dalam menyampaikan pesan dakwah kepada masyarakat.

Media Sosial Dinilai Menjadi Ruang Pembentukan Opini Publik

Dalam perbincangan, Lia juga mengaitkan penelitian terhadap kanal Bisikan Rhoma dengan kajian mengenai media sosial sebagai ruang perdebatan publik.

Ia menyebut sejumlah penelitian terdahulu yang membahas fenomena penerimaan aktif audiens terhadap isu-isu kontroversial di media sosial.

Lia menjelaskan, media sosial dapat menjadi ruang munculnya berbagai respons masyarakat terhadap suatu isu. Hal tersebut juga ia lihat dalam konten Bisikan Rhoma yang membahas polemik nasab.

Menurut Lia, komentar pengguna YouTube dapat menjadi salah satu indikator keterlibatan audiens. Pengguna yang memberikan komentar atau tanggapan dinilai telah menunjukkan perhatian terhadap konten yang diunggah.

Ia juga mengingatkan pentingnya melihat konten secara utuh, bukan hanya potongan video.

Dalam perbincangan tersebut, Lia menyebut komentar masyarakat sebagai salah satu bagian dari fenomena penerimaan audiens terhadap konten yang berkaitan dengan polemik nasab.

Lia Membandingkan dengan Penelitian Dakwah di YouTube

Untuk mendukung penelitiannya, Lia menyampaikan bahwa dirinya menelusuri sejumlah penelitian tentang dakwah melalui media sosial.

Salah satu penelitian yang disebut adalah kajian Dawa Multazami mengenai kanal YouTube Santri Gayeng dan perkembangan pendakwah tradisionalis di media sosial.

Lia menjelaskan bahwa Santri Gayeng merupakan kanal yang menampilkan kumpulan dakwah Gus Baha. Materi dakwah yang banyak disampaikan menggunakan bahasa Jawa kemudian diberi subtitle sehingga dapat dipahami oleh audiens yang lebih luas.

Selain itu, Lia menyebut penelitian mengenai YouTube sebagai media dakwah dan pemersatu umat Islam dengan objek kajian kanal YouTube Ustaz Abdul Somad.

Kajian-kajian tersebut menjadi bagian dari referensi yang digunakan Lia untuk melihat bagaimana media digital dapat menjadi ruang penyampaian pesan keagamaan.

Lia Pediati mengatakan kanal Bisikan Rhoma memiliki sejumlah video yang membahas polemik nasab Ba'Alawi

Tiga Video Bisikan Rhoma Menjadi Fokus Perhatian

Lia mengatakan kanal Bisikan Rhoma memiliki sejumlah video yang membahas polemik nasab Ba’Alawi.

Dari sejumlah video tersebut, ia memilih tiga video yang menurutnya memiliki tingkat perhatian audiens paling besar sebagai bagian dari bahan penelitian.

Video pertama menghadirkan KH Imaduddin Utsman. Dalam perbincangan, Lia menyebut video tersebut memperoleh sekitar 2,2 juta penayangan. (Red: pada saat berita ini dibuat 9 Agustus 2026, video KH Imaduddin Utsmanini sudah 2,9 jt x ditonton dan 29.709 Komentar).

Video berikutnya menghadirkan Prof Anhar Gonggong. Lia menyebut video tersebut memperoleh sekitar 952.703 penayangan dan sekitar 11.000 komentar.

Sementara video ketiga menghadirkan KH Syarif Rahmad yang menurut Lia memperoleh sekitar 921.590 penayangan. Angka-angka tersebut merupakan data yang disebut Lia dalam perbincangan dan tidak diverifikasi secara terpisah dalam artikel ini.

Menurut Lia, tingginya perhatian terhadap video tersebut menunjukkan adanya respons audiens terhadap pembahasan polemik nasab di kanal Bisikan Rhoma.

Alumni Ummul Quro dan Pengalaman Lia Mengikuti Pembahasan Nasab

Lia juga mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren Ummul Quro telah membicarakan isu nasab sejak sebelum dirinya menyusun tesis.

Ia menyebut pernah ada seminar nasional yang membahas isu tersebut pada 2015. Ia juga menyebut kegiatan serupa pada 2022 yang ditayangkan secara langsung melalui YouTube.

Saat masih menjadi mahasiswa S1, Lia mengaku pernah menghadiri seminar yang salah satu pembicaranya adalah KH Syarif Rahmad. Ia juga menyebut almarhum Ridwan Saidi sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan yang dihadirinya.

Menurut Lia, pada saat mengikuti seminar tersebut dirinya belum memberikan perhatian penuh terhadap materi yang disampaikan. Namun, setelah kembali menemukan rekaman atau informasi mengenai pembahasan tersebut, ia kemudian menghubungkannya dengan penelitian tesis yang sedang disusun.

Ketertarikan tersebut semakin kuat setelah Lia melihat video KH Syarif Rahmad bersama Rhoma Irama di Bisikan Rhoma. Ia kemudian menonton sejumlah video mengenai polemik nasab di kanal tersebut dan menjadikannya inspirasi penelitian.

Menggunakan Teori Komunikasi Islam

Dalam penelitian tesisnya, Lia mengatakan menggunakan teori komunikasi Islam dari Prof Andi Faisal Bakti.

Menurut penjelasan Lia, teori tersebut melihat keberhasilan dakwah melalui empat konsep.

Tabligh

Konsep pertama adalah tabligh, yang dalam penjelasan Lia berkaitan dengan tabayyun dan taaruf dalam proses dakwah.

Tagyir atau Perubahan Sosial

Konsep kedua adalah tagyir, yakni perubahan sosial. Dakwah dipandang memiliki sasaran perubahan di tengah masyarakat, termasuk melihat kemampuan dan kemauan individu untuk mengalami perubahan.

Kepuasan Mad’u

Konsep ketiga berkaitan dengan kepuasan mad’u terhadap pesan dakwah yang diterima. Lia menghubungkannya dengan terpenuhinya kebutuhan atau dahaga masyarakat terhadap pesan yang ingin mereka peroleh.

Takwinul Ummah

Konsep keempat adalah takwinul ummah, yaitu pengembangan masyarakat yang dalam penjelasan Lia dilihat dari partisipasi mad’u dalam proses dakwah.

Lia kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan respons audiens terhadap Bisikan Rhoma. Ia mencontohkan adanya permintaan dari penonton agar Rhoma menghadirkan sejumlah narasumber tertentu.

Rhoma Irama Jelaskan Alasan Membahas Polemik Nasab

Dalam sesi tanya jawab, Lia meminta Rhoma menjelaskan strategi dakwahnya ketika membahas polemik nasab, terutama karena muncul hujatan dan penolakan.

Rhoma menjawab bahwa sebelum terlibat dalam pembahasan tersebut, ia terlebih dahulu mempertanyakan niat dirinya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa keterlibatannya didorong oleh pandangan bahwa ada hal-hal yang perlu disampaikan dan diluruskan kepada umat terkait polemik tersebut.

Rhoma juga menceritakan proses awal ketika dirinya mulai memperhatikan penelitian KH Imaduddin Utsman mengenai nasab kelompok Ba’alawi.

Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut penelitian tersebut menggunakan sumber sejarah dan manuskrip yang menurut KH Imaduddin menghasilkan kesimpulan tertentu mengenai silsilah Ahmad bin Isa dan munculnya nama Ubaidillah dalam sumber yang lebih belakangan.

Pernyataan tersebut merupakan penjelasan Rhoma dalam tayangan dan merupakan bagian dari polemik yang sedang dibahas, bukan kesimpulan independen artikel ini.

Rhoma Irama Mengundang Sejumlah Pihak untuk Membahas Polemik

 

Rhoma Mengundang Sejumlah Pihak untuk Membahas Polemik

Rhoma mengatakan dirinya pada awalnya berusaha menempatkan diri sebagai mediator atau fasilitator.

Ia mengundang sejumlah pihak yang dianggap dapat memberikan pandangan berbeda mengenai polemik tersebut. Dalam perbincangan, Rhoma menyebut antara lain Gus Romel, Guru Gembul, KH Imaduddin Utsman, serta pihak Rabithah Alawiyah.

Rhoma mengatakan dirinya juga pernah mengundang Ustaz Taufiq Assegaf yang disebutnya sebagai ketua Rabithah Alawiyah dalam konteks tayangan tersebut. Namun, menurut Rhoma, undangan tersebut tidak dipenuhi.

Ia juga menyebut pernah mengundang Mbah Luthfi bin Yahya, tetapi tidak mendapatkan respons sebagaimana yang diharapkannya.

Rhoma kemudian menghadirkan Dr Sugeng dan Prof Minahim Ali untuk membahas aspek biologi, DNA, dan filologi yang menurutnya berkaitan dengan polemik nasab.

Perdebatan Nasab Dibahas dari Sejumlah Perspektif Keilmuan

Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut tiga pendekatan yang menurutnya muncul dalam pembahasan di Bisikan Rhoma, yakni ilmu nasab dan sejarah, biologi atau DNA, serta filologi.

Ia mengaitkan pendekatan pertama dengan KH Imaduddin Utsman, pendekatan DNA dengan Dr Sugeng Subiharto, dan pendekatan filologi dengan Prof Minahim Ali.

Rhoma kemudian menyampaikan bahwa setelah mendengarkan berbagai penjelasan tersebut, pandangannya terhadap polemik berubah.

Namun, perlu ditegaskan bahwa berbagai kesimpulan mengenai hubungan genealogis, DNA, maupun asal-usul suatu kelompok yang disampaikan dalam percakapan tersebut merupakan klaim dan argumentasi para pembicara dalam tayangan. Artikel ini tidak melakukan verifikasi ilmiah atas klaim tersebut.

Rhoma Irama Mengaku Berada di Tengah Konflik dengan Sejumlah Sahabat

Rhoma Mengaku Berada di Tengah Konflik dengan Sejumlah Sahabat

Rhoma juga menceritakan bahwa sejumlah orang yang memiliki hubungan pertemanan dengannya berada di lingkungan yang terkait dengan polemik tersebut.

Ia menyebut Muhammad Rizieq Shihab sebagai salah satu sahabatnya. Rhoma mengatakan situasi tersebut membuatnya harus menentukan sikap ketika berhadapan dengan persoalan yang menurutnya berkaitan dengan kebenaran.

Ia mengutip prinsip yang dipahaminya sebagai dorongan untuk menyampaikan kebenaran meskipun terasa pahit.

Rhoma berulang kali menegaskan dalam perbincangan bahwa keterlibatannya dalam polemik tersebut menurut dirinya dilakukan tanpa kebencian dan tanpa kepentingan pribadi.

Seruan Rhoma untuk Penyelesaian Polemik

Dalam perbincangan tersebut, Rhoma menyampaikan harapan agar polemik nasab dapat diselesaikan melalui mekanisme yang melibatkan pihak-pihak yang berkompeten.

Ia menyebut tiga jalur yang menurutnya dapat menjadi rujukan penyelesaian, yakni institusi pendidikan atau universitas, forum Bahtsul Masail, dan introspeksi dari pihak-pihak yang terlibat.

Rhoma juga menyebut UIN Jakarta sebagai salah satu institusi pendidikan yang menurutnya telah melakukan pembahasan mengenai persoalan tersebut. Ia kemudian menyinggung UIN Semarang yang menurutnya tidak melanjutkan proses sebagaimana yang ia harapkan.

Selain itu, ia mengaitkan pembahasan dengan hasil Musyawarah Nasional NU ke-30 di Solo mengenai penggunaan tes DNA dalam konteks nasab. Pernyataan tersebut disampaikan Rhoma berdasarkan pemahamannya terhadap keputusan yang ia sebut dalam tayangan.

Rhoma Mendorong Muhasabah

Salah satu istilah yang berulang dalam perbincangan adalah muhasabah.

Rhoma mengatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam polemik perlu melakukan introspeksi untuk melihat kembali klaim dan posisi masing-masing.

Ia juga menyampaikan bahwa apabila seseorang memiliki status atau kedudukan tertentu, hal tersebut menurutnya harus diikuti sikap yang sesuai dengan ketakwaan, keilmuan, dan keimanan.

Rhoma mengajak masyarakat untuk menggunakan akal sehat, sportivitas, dan kejujuran dalam melihat polemik.

Ia juga mengatakan bahwa apabila suatu klaim keturunan Nabi dapat dibuktikan, masyarakat harus menghormatinya. Sebaliknya, apabila klaim tersebut tidak terbukti, menurut Rhoma penghormatan tetap dapat diberikan berdasarkan ketakwaan, ilmu, dan keimanan seseorang.

Strategi Dakwah Rhoma: Hikmah dan Argumentasi

Ketika ditanya Lia mengenai strategi untuk mengajak masyarakat keluar dari tradisi yang telah mengakar, Rhoma menjawab bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang bijaksana.

Ia menyebut pentingnya hikmah, argumentasi, ilmu, serta cara penyampaian yang baik.

Menurut Rhoma, dakwah tidak dilakukan dengan kekerasan atau kebencian. Jika diperlukan perdebatan, ia mengatakan perdebatan harus dilakukan dengan cara yang terbaik.

Lia kemudian menghubungkan jawaban tersebut dengan konsep dakwah dalam Surah An-Nahl ayat 125.

Rhoma Bicara Pembentukan Umat dan Kesetaraan

Dalam pembahasan mengenai pembentukan umat, Rhoma mengatakan masyarakat Islam harus kembali pada prinsip bahwa manusia diciptakan berbeda-beda.

Perbedaan suku, bangsa, bahasa, budaya, dan agama menurutnya menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Ia menekankan pentingnya saling mengenal dan menghormati.

Dalam konteks polemik nasab, Rhoma menyampaikan bahwa ukuran kemuliaan seseorang menurut pandangannya adalah ketakwaan, bukan nasab atau bangsa.

Harapan Rhoma kepada Nahdlatul Ulama

Lia kemudian bertanya mengenai kondisi Nahdlatul Ulama yang menurutnya memiliki anggota atau kelompok dengan pandangan berbeda mengenai hubungan terhadap habaib.

Rhoma menjawab bahwa dirinya bukan bagian dari NU struktural. Namun, ia menyebut dirinya sebagai pecinta NU nonstruktural (NU Kultural).

Ia berharap para tokoh NU yang sedang mendapat amanah kepemimpinan dapat bersikap objektif, ilmiah, dan rasional dalam menyikapi polemik.

Menurut Rhoma, NU memiliki perangkat Bahtsul Masail yang dapat menjadi salah satu jalur pembahasan masalah tersebut.

Rhoma Irama Berharap Ada Forum yang Mempertemukan Berbagai Pakar

Rhoma Berharap Ada Forum yang Mempertemukan Berbagai Pakar

Lia juga menanyakan upaya lain yang telah dilakukan Rhoma untuk mempertemukan pihak-pihak yang berbeda pandangan.

Rhoma mengatakan dirinya berharap dapat bertemu dengan pihak yang memiliki pandangan berbeda dalam satu forum lengkap yang menghadirkan para ahli.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memosisikan diri sebagai ahli nasab, ahli genetika, ataupun filolog.

Menurut Rhoma, dirinya lebih ingin berada dalam forum yang menghadirkan para ahli dari berbagai bidang sehingga dirinya dapat memberikan pandangan sebagai bagian dari proses dialog.

Lia Tegaskan Penelitian Tesisnya Bersifat Netral

Menjelang akhir perbincangan, Rhoma bertanya kepada Lia mengenai motivasinya memilih isu nasab sebagai topik tesis.

Lia menjelaskan bahwa dirinya memang menemukan kegelisahan terhadap sejumlah fenomena yang berkaitan dengan habaib. Namun, ia menegaskan bahwa dalam konteks penelitian akademiknya, dirinya menempatkan diri secara netral.

Lia mengatakan penelitian tersebut harus menghasilkan temuan yang objektif.

Ia juga menegaskan bahwa tesisnya tidak berfokus pada pembuktian atau penolakan nasab, melainkan pada dakwah Rhoma Irama mengenai polemik tersebut.

Lia Pediati Ceritakan Fenomena Tradisi dalam Acara Solawat

Lia Ceritakan Fenomena Tradisi dalam Acara Solawat

Dalam perbincangan, Lia juga menceritakan pengalaman tidak langsung yang diperolehnya dari keluarga mengenai sejumlah fenomena dalam acara selawat.

Ia mengatakan pernah mendengar cerita mengenai adanya penonton yang memperebutkan air yang sebelumnya diminum atau digunakan oleh tokoh yang hadir dalam acara tersebut karena dianggap memiliki keberkahan.

Lia menyampaikan cerita itu sebagai salah satu alasan dirinya memiliki pertanyaan mengenai praktik keberkahan dan penghormatan terhadap tokoh agama.

Ia kemudian membandingkannya dengan pengalaman di lingkungan pesantren. Menurut Lia, di pesantren juga terdapat praktik mengambil keberkahan dari makanan atau buah yang sebelumnya disuguhkan kepada guru. Namun, ia membedakan hal tersebut dengan praktik yang dilakukan terhadap seseorang yang status kewaliannya atau kedudukannya masih dipertanyakan.

Rhoma dan Lia Membahas Tradisi yang Mengakar

Lia mengatakan menurut pengamatannya, sebagian masyarakat yang disebutnya sebagai muhibin memiliki keterikatan kuat dengan tradisi yang telah berlangsung lama.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat argumentasi ilmiah atau logis sulit diterima oleh sebagian orang yang telah memiliki keyakinan tertentu.

Rhoma kemudian menanggapi bahwa perubahan terhadap tradisi yang telah berlangsung sangat lama membutuhkan waktu.

Ia menggunakan perumpamaan karat pada besi untuk menggambarkan bahwa sesuatu yang telah mengakar selama ratusan tahun tidak dapat berubah hanya dalam satu atau dua tahun.

Rhoma mengatakan perubahan tersebut membutuhkan proses dan menurutnya dakwah dengan hikmah serta nasihat yang baik menjadi bagian dari proses tersebut.

Lia Pediati Akan Melanjutkan Analisis Tesis

Lia Akan Melanjutkan Analisis Tesis

Pada bagian penutup, Lia mengatakan sesi wawancara dengan Rhoma telah menjawab sejumlah pertanyaan yang disusun berdasarkan teori yang digunakan dalam tesisnya.

Ia mengatakan tahap berikutnya adalah melakukan analisis terhadap temuan wawancara.

Lia juga berencana mewawancarai komunitas yang menonton podcast Bisikan Rhoma mengenai polemik nasab Alawi.

Menurut Lia, hasil analisis tersebut nantinya akan digunakan untuk menyusun kesimpulan penelitian.

Ia menyampaikan harapan agar penelitian tersebut dapat memberikan manfaat bagi Bisikan Rhoma, Rhoma Irama, masyarakat, serta menambah khazanah keilmuan dalam bidang dakwah dan komunikasi.

Rhoma kemudian menutup perbincangan dengan mendoakan agar tesis Lia dapat diselesaikan dan lulus program S2.

FAQ

Siapa Lia Pediati?

Lia Pediati dalam tayangan tersebut memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa Program Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga menyebut dirinya sebagai alumni Pondok Pesantren Ummul Quro.

Apa judul tesis Lia Pediati?

Dalam perbincangan bersama Rhoma Irama, Lia menyebut judul penelitiannya adalah “Dakwah Haji Rhoma Irama tentang Polemik Nasab Ba’Alawi dalam YouTube Bisikan Rhoma Perspektif Komunikasi Islam.”

Apa fokus penelitian Lia Pediati?

Lia menjelaskan bahwa penelitian tersebut berfokus pada dakwah Rhoma Irama dalam membahas polemik nasab Alawi melalui kanal YouTube Bisikan Rhoma dari perspektif komunikasi Islam. Ia menegaskan penelitian tersebut tidak berfokus pada pembuktian nasab.

Mengapa Lia tertarik meneliti Bisikan Rhoma?

Lia mengatakan dirinya menemukan video KH Syarif Rahmad bersama Rhoma Irama yang membahas nasab. Setelah itu, ia menonton sejumlah video terkait polemik nasab di Bisikan Rhoma dan memperoleh inspirasi untuk menjadikannya objek penelitian.

Teori apa yang digunakan dalam penelitian Lia?

Lia mengatakan menggunakan teori komunikasi Islam dari Prof Andi Faisal Bakti. Ia menjelaskan empat konsep yang digunakan, yakni tabligh, tagyir atau perubahan sosial, kepuasan mad’u, dan takwinul ummah.

Apa strategi dakwah Rhoma Irama dalam polemik nasab?

Rhoma mengatakan strategi dakwah yang digunakan adalah menyeru masyarakat dengan cara yang bijaksana, menggunakan hikmah, ilmu, argumentasi, dan cara yang baik. Ia juga mengatakan bahwa perdebatan, jika diperlukan, harus dilakukan dengan cara terbaik dan bukan dengan kekerasan maupun kebencian.

Apa yang diharapkan Rhoma dari penyelesaian polemik nasab?

Rhoma menyampaikan harapan agar pihak-pihak yang berbeda pandangan dapat bertemu dalam forum yang menghadirkan para ahli dari berbagai bidang. Ia juga menyebut universitas, Bahtsul Masail, dan proses muhasabah sebagai bagian dari mekanisme yang menurutnya dapat membantu penyelesaian polemik.

Apakah tesis Lia membuktikan nasab Alawi?

Tidak. Berdasarkan penjelasan Lia dalam tayangan tersebut, penelitian tesisnya berfokus pada dakwah Rhoma Irama mengenai polemik nasab dari perspektif komunikasi Islam, bukan melakukan pembuktian atau penolakan nasab.

Apa rencana Lia setelah wawancara dengan Rhoma?

Lia mengatakan akan menganalisis hasil wawancara tersebut dan berencana melakukan wawancara dengan komunitas yang menonton podcast Bisikan Rhoma mengenai polemik nasab Alawi.

Kesimpulan

Perbincangan Rhoma Irama dan Lia Pediati di kanal Rhoma Irama Official pada 29 November 2024 membahas hubungan antara dakwah, media sosial, dan polemik nasab Alawi.

Lia datang sebagai mahasiswa S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang menyusun tesis mengenai dakwah Rhoma Irama dalam polemik tersebut. Penelitiannya menggunakan perspektif komunikasi Islam dan teori yang diperkenalkan oleh Prof Andi Faisal Bakti.

Dalam percakapan itu, Lia menjelaskan latar belakang penelitian, penggunaan media sosial sebagai ruang komunikasi publik, respons audiens terhadap konten Bisikan Rhoma, serta sejumlah konsep dakwah yang menjadi dasar analisis.

Sementara itu, Rhoma menjelaskan alasan dirinya membahas polemik nasab, proses menghadirkan berbagai narasumber, serta pandangannya mengenai strategi dakwah. Ia menekankan penggunaan hikmah, ilmu, argumentasi, musyawarah, dan cara penyampaian yang baik.

Rhoma juga menyampaikan harapan agar polemik tersebut dapat dibahas melalui forum yang melibatkan berbagai pihak dan pakar sesuai bidang keilmuannya.

Adapun berbagai klaim mengenai sejarah nasab, DNA, filologi, Wali Songo, maupun pihak-pihak yang disebut dalam perbincangan merupakan bagian dari pernyataan dan argumentasi narasumber dalam tayangan. Artikel ini menyajikan isi perbincangan tersebut tanpa melakukan verifikasi independen terhadap klaim-klaim tersebut.

Dengan demikian, inti penelitian Lia Pediati sebagaimana dijelaskan dalam tayangan adalah melihat dakwah Rhoma Irama dalam membahas polemik nasab Ba’Alawi melalui YouTube dari perspektif komunikasi Islam.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button