invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama: Makna Idul Adha Adalah Belajar Mencintai Allah di Atas Segalanya

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama menjelaskan makna Idul Adha melalui kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ia menekankan pentingnya mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala sesuatu serta mengamalkan amar makruf nahi mungkar.

Perayaan Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai momentum penyembelihan hewan kurban, tetapi juga sebagai pelajaran tentang ketundukan kepada Allah SWT. Hal tersebut disampaikan musisi sekaligus dai Rhoma Irama dalam tayangan di kanal YouTube Rhoma Irama Official yang dipublikasikan pada 13 Juni 2025.

Dalam ceramahnya, Rhoma menjelaskan bahwa Idul Adha berakar pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, inti dari peristiwa tersebut adalah pendidikan keimanan agar manusia tidak mencintai siapa pun maupun apa pun melebihi kecintaannya kepada Allah SWT.

Selain mengulas makna Idul Adha, Rhoma juga membahas implementasi cinta kepada Allah melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW serta pentingnya menjalankan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan umat Islam.

Idul Adha Berasal dari Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Rhoma Irama membuka ceramahnya dengan mengingatkan bahwa umat Islam masih berada dalam suasana Idul Adha atau Hari Raya Kurban.

Ia menjelaskan bahwa Idul Adha merupakan hari raya yang berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Menurut Rhoma, seluruh makna tersebut tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Ia mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim sejak lama memohon kepada Allah agar dikaruniai seorang anak yang saleh. Doa tersebut kemudian dikabulkan dengan lahirnya Nabi Ismail AS dari Siti Hajar.

Namun setelah Ismail beranjak dewasa, Nabi Ibrahim memperoleh perintah melalui mimpi agar menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Rhoma mengutip dialog yang terdapat dalam Al-Qur’an ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail.

Menurut penjelasannya, Nabi Ismail menerima perintah tersebut dengan penuh kesabaran dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah.

Ketika proses penyembelihan hendak dilakukan, Allah kemudian menghentikan ujian tersebut dan mengganti Ismail dengan seekor kibas sebagai hewan sembelihan.

Rhoma menyebut peristiwa itu sebagai sejarah dramatis yang menjadi dasar pelaksanaan ibadah kurban setiap tahun.

Hakikat Idul Adha Menurut Rhoma Irama

Dalam ceramahnya, Rhoma mengatakan bahwa inti dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan semata-mata mengenai penyembelihan hewan kurban.

Menurut dia, pelajaran terbesar yang dapat diambil adalah bahwa manusia tidak boleh mencintai siapa pun maupun apa pun melebihi Allah SWT.

Rhoma kemudian mengutip Surah At-Taubah ayat 24 yang menjelaskan bahwa orang tua, anak, pasangan, keluarga, harta, perdagangan maupun tempat tinggal tidak boleh lebih dicintai daripada Allah, Rasul-Nya, serta perjuangan di jalan Allah.

Ia menjelaskan bahwa seluruh hal yang dimiliki manusia bersifat sementara.

“Harta, jabatan, keluarga, semuanya fana, semuanya akan berakhir,” ujar Rhoma dalam ceramah tersebut.

Menurutnya, manusia pasti akan berpisah dengan seluruh yang dimiliki, baik karena kematian maupun karena kehilangan.

Sementara itu, Allah merupakan Zat Yang Maha Kekal sehingga kecintaan tertinggi seharusnya hanya diberikan kepada-Nya.

Cinta kepada Allah Diwujudkan dengan Taat kepada Rasulullah

Rhoma kemudian menjelaskan bagaimana seseorang dapat membuktikan kecintaannya kepada Allah SWT.

Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Katakanlah, jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”

Menurut Rhoma, ayat tersebut menunjukkan bahwa implementasi cinta kepada Allah dilakukan melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW.

Ia menjelaskan bahwa Rasulullah adalah manusia yang menerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia.

Karena itu, menurut Rhoma, menjalankan perintah Nabi sama dengan menjalankan perintah Allah.

Sebaliknya, meninggalkan larangan Rasulullah juga merupakan bentuk menaati larangan Allah.

Dalam penjelasannya, Rhoma menegaskan bahwa hubungan antara Allah dan Rasulullah tercermin dalam dua kalimat syahadat yang menjadi dasar keimanan umat Islam.

Makna Berjuang di Jalan Allah

Selain membahas kecintaan kepada Allah dan Rasulullah, Rhoma juga menyinggung makna berjihad di jalan Allah.

Menurut dia, jihad tidak semata dipahami dalam konteks peperangan, melainkan perjuangan untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebut umat Islam sebagai umat terbaik karena menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Rhoma menjelaskan bahwa amar makruf berarti mengajak masyarakat melakukan berbagai bentuk kebaikan.

Ia memberi contoh seperti mengajak salat, berpuasa, bersedekah, serta berakhlak mulia.

Sementara nahi mungkar dimaknai sebagai upaya mencegah berbagai bentuk perbuatan yang menurut ajaran Islam dipandang merusak manusia maupun kehidupan sosial.

Menurut Rhoma, kedua konsep tersebut tidak dapat dipisahkan.

Amar Makruf dan Nahi Mungkar Diibaratkan Dua Sisi Mata Uang

Amar Makruf dan Nahi Mungkar Diibaratkan Dua Sisi Mata Uang

Rhoma mengibaratkan amar makruf dan nahi mungkar sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Menurut dia, mengajak kepada kebaikan tanpa mencegah kemungkaran tidak akan menghasilkan perubahan yang utuh.

Untuk menjelaskan analogi tersebut, Rhoma menggunakan contoh seorang petani.

Ia mengatakan bahwa tanaman yang dipupuk dan disiram setiap hari tetap dapat rusak apabila hama dibiarkan berkembang.

Karena itu, menurut Rhoma, selain menanam dan merawat tanaman, petani juga harus membasmi hama agar hasil panen dapat tumbuh dengan baik.

Analogi tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa dakwah tidak hanya berisi ajakan kepada kebaikan, tetapi juga pencegahan terhadap hal-hal yang dipandang sebagai kemungkaran.

Rhoma menilai kedua aspek tersebut merupakan bagian dari konsep amar makruf nahi mungkar yang diajarkan dalam Islam.

Ceramah Berlanjut pada Polemik yang Disebut Rhoma Berkaitan dengan Amar Makruf Nahi Mungkar

Setelah menjelaskan dasar-dasar mengenai Idul Adha, kecintaan kepada Allah, serta konsep amar makruf nahi mungkar, Rhoma kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan polemik yang menurutnya telah berlangsung selama hampir tiga tahun.

Dalam bagian selanjutnya ceramah, ia menyampaikan pandangannya mengenai polemik nasab Baalawi, praktik keagamaan yang ia kritik, serta alasan dirinya mengambil sikap terhadap persoalan tersebut.

Seluruh pernyataan tersebut disampaikan Rhoma sebagai bagian dari penjelasan yang ia tempatkan dalam konteks amar makruf nahi mungkar menurut pandangannya.

Rhoma Irama Mengaitkan Amar Makruf Nahi Mungkar dengan Polemik Nasab Baalawi

Rhoma Irama Mengaitkan Amar Makruf Nahi Mungkar dengan Polemik Nasab Baalawi

Setelah menjelaskan makna Idul Adha dan konsep amar makruf nahi mungkar, Rhoma Irama mengaitkan pembahasannya dengan polemik mengenai nasab Baalawi yang, menurutnya, telah berlangsung selama hampir tiga tahun.

Dalam ceramah tersebut, Rhoma menyatakan bahwa dirinya telah menentukan sikap terkait polemik tersebut. Ia mengatakan pandangannya didasarkan pada keinginan menjaga kemuliaan nama Nabi Muhammad SAW agar, menurutnya, tidak digunakan untuk kepentingan pribadi oleh pihak-pihak tertentu.

Rhoma menyampaikan bahwa sikap tersebut merupakan bagian dari implementasi amar makruf nahi mungkar sebagaimana yang sebelumnya ia jelaskan kepada para penonton.

Rhoma Menyampaikan Kritik terhadap Praktik yang Diklaim Mengatasnamakan Nabi

Dalam bagian ceramah berikutnya, Rhoma menyampaikan kritik terhadap sejumlah praktik dan kisah yang menurutnya berkembang di tengah sebagian kalangan.

Ia mencontohkan adanya cerita-cerita yang, menurutnya, mengaitkan tokoh-tokoh tertentu dengan berbagai peristiwa luar biasa yang tidak ditemukan dalam riwayat mengenai mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Menurut Rhoma, kisah-kisah seperti itu justru dapat merendahkan kedudukan Nabi Muhammad karena menggambarkan tokoh lain memiliki keistimewaan yang, menurutnya, melebihi mukjizat Rasulullah.

Ia juga mengutip contoh cerita yang menurutnya pernah disampaikan di ruang publik mengenai tokoh-tokoh dalam sejarah Islam yang digambarkan menghadiri majelis ilmu tertentu. Rhoma menyatakan kisah tersebut sebagai contoh narasi yang ia nilai tidak semestinya disampaikan kepada masyarakat.

Dalam ceramahnya, ia menyebut berbagai contoh tersebut sebagai bagian dari praktik yang menurut pandangannya perlu dikritisi.

Menyinggung Pernyataan Politik yang Pernah Viral

Rhoma juga menyinggung sebuah pernyataan yang, menurutnya, pernah berkembang menjelang kontestasi politik di Jawa Barat.

Dalam ceramah itu, ia menyebut adanya narasi yang mengaitkan seorang tokoh politik dengan tuduhan akan menyebarkan kemusyrikan apabila terpilih memimpin daerah tersebut.

Rhoma kemudian menyebut nama Dedi Mulyadi sebagai tokoh yang dimaksud dalam narasinya.

Ia mengutip pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan oleh pihak tertentu mengenai kekhawatiran terhadap kepemimpinan Dedi Mulyadi apabila menjadi Gubernur Jawa Barat.

Pernyataan tersebut disampaikan Rhoma sebagai contoh narasi yang menurutnya berkembang dalam polemik yang sedang dibahasnya.

Rhoma Mengkritik Praktik yang Menurutnya Mengandung Unsur Kemusyrikan

Rhoma Mengkritik Praktik yang Menurutnya Mengandung Unsur Kemusyrikan

Selain membahas polemik nasab, Rhoma juga mengkritik sejumlah praktik keagamaan yang menurutnya berkembang di sebagian kalangan.

Dalam ceramah tersebut, ia mencontohkan praktik meminta pertolongan melalui foto seorang tokoh agama maupun berziarah ke makam tokoh tertentu dengan harapan memperoleh solusi atas berbagai persoalan hidup.

Rhoma mengatakan bahwa praktik-praktik tersebut, menurut pandangannya, merupakan bentuk kemusyrikan.

Ia juga mengutip sejumlah kisah yang menurutnya beredar mengenai keyakinan bahwa makam tokoh tertentu dapat menjadi perantara terkabulnya berbagai hajat.

Selain itu, Rhoma menyebut adanya narasi yang menurutnya mengajarkan jawaban tertentu ketika seseorang menghadapi pertanyaan malaikat di alam kubur. Ia menyatakan pandangannya bahwa ajaran tersebut bertentangan dengan akidah Islam menurut pemahamannya.

Seluruh contoh tersebut dipaparkan Rhoma sebagai bagian dari alasan mengapa, menurutnya, amar makruf nahi mungkar masih perlu terus dilakukan.

Menyebut Perjuangan Belum Berakhir

Rhoma mengatakan bahwa perjuangan amar makruf nahi mungkar yang ia kaitkan dengan polemik Baalawi belum selesai.

Menurutnya, persoalan tersebut masih harus terus dibahas demi menjaga akidah umat Islam.

Ia kemudian mengutip Surah At-Taubah ayat 128 mengenai sifat Rasulullah SAW yang penuh kasih sayang kepada umatnya.

Rhoma menjelaskan bahwa Rasulullah sangat menginginkan keselamatan umat dan memiliki sifat lemah lembut terhadap orang-orang beriman.

Membandingkan Akhlak Rasulullah dengan Pihak yang Dikritiknya

Dalam lanjutan ceramah, Rhoma membandingkan akhlak Rasulullah sebagaimana dipahami dalam Al-Qur’an dengan perilaku pihak-pihak yang ia kritik.

Ia mengatakan bahwa Rasulullah dikenal memiliki sifat santun, penyayang, serta mendoakan orang-orang yang menentangnya.

Sebaliknya, Rhoma menilai pihak yang ia kritik sering memberikan cap negatif kepada orang-orang yang berbeda pendapat.

Ia juga menyebut bahwa menurutnya terdapat penggunaan berbagai sebutan yang bernada menghina terhadap pihak yang mengkritik kelompok tersebut.

Rhoma kemudian mengutip hadis yang berisi peringatan agar tidak berdusta atas nama Rasulullah SAW.

Menurutnya, hadis tersebut menjadi pengingat agar setiap umat Islam berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW.

Kembali Mengingatkan Prioritas Cinta kepada Allah

Setelah mengulas kritik-kritiknya, Rhoma kembali menghubungkan pembahasan tersebut dengan tema utama ceramah mengenai Idul Adha.

Ia mengatakan bahwa kecintaan kepada Allah, Rasulullah, serta perjuangan di jalan Allah harus ditempatkan di atas kecintaan terhadap keluarga, jabatan, harta, maupun kepentingan dunia.

Menurut Rhoma, prinsip tersebut menjadi pelajaran utama yang dapat diambil dari peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang diperingati setiap Hari Raya Idul Adha.

Rhoma Mengajak Masyarakat Mendukung Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah

Pada bagian selanjutnya, Rhoma menyampaikan ajakan kepada masyarakat yang menurutnya masih belum memahami polemik tersebut.

Ia mengajak umat Islam untuk memperhatikan perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS).

Menurut Rhoma, organisasi tersebut berupaya mengembalikan marwah Walisongo, menjaga akidah umat Islam, serta menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai bentuk ancaman yang menurut pandangannya bersifat spiritual, ekonomi, maupun politik.

Rhoma menyatakan bahwa perjuangan organisasi tersebut, menurutnya, layak memperoleh dukungan dari masyarakat.

Di sisi lain, ia juga menyampaikan pandangannya mengenai adanya agenda yang menurutnya dilakukan secara sistematis oleh kelompok yang ia kritik. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pendapat pribadi Rhoma dalam ceramah tersebut dan tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi dalam tayangan.

Pada bagian berikutnya, Rhoma memaparkan alasan yang menurutnya menjadi dasar sikapnya terhadap polemik nasab, termasuk penjelasan mengenai tesis akademik, DNA, filologi, serta tanggapannya terhadap sejumlah tokoh yang ia sebut dalam ceramah.

Rhoma Irama Menyinggung Kajian DNA, Filologi, dan Tesis dalam Polemik Nasab

Rhoma Irama Menyinggung Kajian DNA, Filologi, dan Tesis dalam Polemik Nasab

Memasuki bagian akhir ceramahnya, Rhoma Irama menjelaskan alasan yang menurutnya menjadi dasar sikapnya dalam polemik mengenai nasab Baalawi.

Ia menyebut terdapat tiga bidang yang, menurut pandangannya, menjadi landasan dalam melihat persoalan tersebut, yakni kajian tesis akademik, penelitian DNA, dan filologi.

Dalam ceramah itu, Rhoma mengatakan bahwa selama hampir tiga tahun polemik berlangsung, menurutnya belum ada bantahan ilmiah yang mampu menggugurkan kajian-kajian yang ia rujuk.

Rhoma juga menyebut nama KH Imaduddin Utsman Al-Bantani sebagai salah satu tokoh yang menurutnya menyusun kajian mengenai persoalan nasab tersebut.

Selain itu, ia merujuk pada klaim mengenai hasil pemeriksaan DNA terhadap sejumlah individu yang dikaitkan dengan kelompok Baalawi. Menurut Rhoma, hasil yang ia sebutkan menunjukkan haplogroup yang berbeda dengan haplogroup yang menurutnya dikaitkan dengan garis keturunan Arab Quraisy.

Rhoma juga menyampaikan bahwa kajian filologi yang ia rujuk mendukung kesimpulan yang sama. Seluruh pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangan Rhoma dalam ceramahnya dan bukan merupakan temuan yang diverifikasi secara independen dalam tayangan tersebut.

Menyinggung Sikap Sejumlah Tokoh terhadap Tes DNA

Rhoma kemudian menyinggung sikap sejumlah tokoh yang menurutnya pernah mendukung pemeriksaan DNA sebelum polemik berkembang, namun belakangan disebut menolak atau tidak lagi mendukung langkah tersebut.

Dalam bagian ini, ia menyebut nama Rizieq Shihab dan menyampaikan penilaiannya mengenai perubahan sikap terhadap isu pemeriksaan DNA.

Rhoma juga mengemukakan pandangannya mengenai penggunaan istilah habib, sayyid, dan syarif dalam konteks polemik nasab.

Menurut Rhoma, istilah-istilah tersebut menjadi bagian dari perdebatan yang hingga kini masih berlangsung di tengah masyarakat.

Rhoma Mengajak Pihak yang Berbeda Pandangan untuk Berdamai

Dalam lanjutan ceramahnya, Rhoma menyampaikan ajakan kepada pihak-pihak yang menurutnya masih mempertahankan klaim nasab yang diperdebatkan.

Ia mengimbau agar persoalan tersebut diselesaikan dengan kembali kepada ajaran agama dan, menurutnya, menerima hasil kajian yang diyakininya.

Rhoma juga mengajak seluruh umat Islam untuk tidak lagi membangun perbedaan berdasarkan kasta sosial ataupun garis keturunan.

Menurut dia, seluruh umat Islam memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT dalam menjalankan ajaran agama.

Menyinggung Peristiwa yang Dikaitkan dengan Mubahalah

Menyinggung Peristiwa yang Dikaitkan dengan Mubahalah

Rhoma kemudian membahas mengenai mubahalah, yaitu tradisi saling memohon agar Allah memberikan keputusan terhadap pihak yang dianggap berada di atas kebenaran.

Dalam ceramah tersebut, ia mengaitkan sejumlah peristiwa meninggalnya beberapa tokoh dengan mubahalah yang menurutnya pernah dilakukan dalam polemik nasab.

Rhoma menyebut beberapa contoh peristiwa yang menurutnya terjadi setelah adanya pernyataan terbuka mengenai polemik tersebut.

Ia juga menyebut nama beberapa tokoh, termasuk KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, KH Nur Ihya, KH Marzuki Mustamar, Gus Abbas, dan Fuad Pleret, dalam konteks perjuangan yang menurutnya dilakukan untuk menjaga akidah umat Islam.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Rhoma sebagaimana disampaikan dalam ceramahnya. Tayangan tersebut tidak menyertakan bukti yang dapat memverifikasi hubungan sebab-akibat antara peristiwa yang disebutkan dengan konsep mubahalah.

Menutup Ceramah dengan Pesan Idul Adha

Menjelang akhir ceramah, Rhoma kembali mengingatkan pesan utama yang disampaikannya sejak awal.

Ia mengajak umat Islam agar tidak mencintai siapa pun maupun apa pun melebihi kecintaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, dan perjuangan di jalan Allah.

Rhoma juga menyampaikan ucapan selamat Idul Adha kepada masyarakat Indonesia serta berharap umat Islam memperoleh keberkahan.

Ceramah tersebut ditutup dengan doa agar umat Islam diberikan hidayah, keteguhan iman, dan kemampuan untuk menempatkan kecintaan kepada Allah sebagai prioritas utama dalam kehidupan.

FAQ

Apa tema utama ceramah Rhoma Irama pada 13 Juni 2025?

Tema utama ceramah adalah makna Idul Adha, keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, implementasi cinta kepada Allah melalui ketaatan kepada Rasulullah, serta pembahasan amar makruf nahi mungkar yang kemudian dikaitkan Rhoma dengan polemik nasab Baalawi.

Mengapa Rhoma Irama mengangkat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail?

Menurut Rhoma, kisah tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak boleh mencintai keluarga, harta, jabatan, maupun dunia melebihi kecintaan kepada Allah SWT.

Bagaimana Rhoma menjelaskan implementasi cinta kepada Allah?

Rhoma mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa kecintaan kepada Allah diwujudkan dengan mengikuti dan menaati Rasulullah SAW.

Apa yang dimaksud amar makruf nahi mungkar menurut Rhoma?

Dalam ceramahnya, Rhoma menjelaskan amar makruf sebagai mengajak kepada kebaikan, sedangkan nahi mungkar adalah mencegah kemungkaran. Menurutnya, keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Apa yang disampaikan Rhoma mengenai polemik nasab Baalawi?

Rhoma menyampaikan pandangan dan penilaiannya mengenai polemik nasab Baalawi, termasuk merujuk pada kajian tesis, DNA, dan filologi yang menurutnya mendukung sikap yang diambilnya. Pernyataan tersebut merupakan isi ceramah Rhoma dan tidak diverifikasi secara independen dalam tayangan.

Siapa saja tokoh yang disebut dalam ceramah tersebut?

Dalam ceramahnya, Rhoma menyebut sejumlah tokoh, antara lain KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, Rizieq Shihab, KH Nur Ihya, KH Marzuki Mustamar, Gus Abbas, Fuad Pleret, serta Dedi Mulyadi dalam konteks pembahasan yang berbeda-beda.

Kesimpulan

Ceramah Rhoma Irama yang disiarkan melalui kanal Rhoma Irama Official pada 13 Juni 2025 diawali dengan penjelasan mengenai makna Idul Adha sebagai momentum untuk menempatkan kecintaan kepada Allah SWT di atas segala bentuk kecintaan terhadap dunia.

Ia kemudian menjelaskan implementasi cinta kepada Allah melalui ketaatan kepada Rasulullah serta pentingnya menjalankan amar makruf nahi mungkar dalam kehidupan umat Islam.

Pada bagian berikutnya, Rhoma mengaitkan konsep tersebut dengan polemik nasab Baalawi, menyampaikan kritik terhadap sejumlah praktik keagamaan yang menurut pandangannya bertentangan dengan akidah Islam, serta memaparkan alasan yang menurutnya menjadi dasar sikapnya dengan merujuk pada kajian tesis, filologi, dan DNA.

Ceramah ditutup dengan ajakan agar umat Islam menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai prioritas utama dalam kehidupan serta menjaga persatuan umat berdasarkan ajaran Islam menurut pemahamannya.

Sumber Berita

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button