invisible hit counter
Nasional

KH Nur Ihyak Soroti Redaksi Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad

KH Nur Ihyak Soroti Redaksi Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad, Minta Perubahan Ditunjukkan Secara Rinci

WARTA BATAVIAKUDUS — KH Nur Ihyak Hadinegoro membahas pertanyaan mengenai perubahan redaksi dalam Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad dalam penjelasannya yang disampaikan melalui kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, 10 September 2026.

Pembahasan tersebut bermula dari pertanyaan yang disebut dititipkan oleh Kiai Mas’ud dari Kudus, Jawa Tengah. Dalam pertanyaan itu, KH Nur Ihyak diminta menjelaskan secara rinci bagian-bagian dalam naskah Simtud Duror yang mengalami perubahan, termasuk halaman dan nomor barisnya.

Permintaan serupa juga disampaikan terkait Ratib Al-Haddad. Pertanyaan tersebut meminta bagian mana saja yang mengalami perubahan beserta keterangan halaman dan nomor baris agar persoalan yang dipertanyakan dapat diketahui secara jelas.

KH Nur Ihyak kemudian mengatakan pembahasan mengenai Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad perlu ditempatkan dalam tema yang fokus. Ia menjelaskan secara sekilas perbedaan keduanya, dengan menyebut Simtud Duror sebagai kitab maulid, sedangkan Ratib Al-Haddad berkaitan dengan zikir atau wirid.

Pertanyaan tentang Perubahan Redaksi Simtud Duror

Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak mengatakan bahwa persoalan Simtud Duror tidak semata-mata menurutnya perlu dilihat dari ada atau tidaknya perubahan redaksi. Ia menyebut aspek yang perlu diperhatikan adalah asbabul wurud atau latar belakang munculnya suatu riwayat atau cerita.

Ia kemudian menyampaikan kritik terhadap cerita mengenai pembacaan Simtud Duror yang dikaitkan dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW.

Menurut KH Nur Ihyak, terdapat cerita yang menyebut Nabi Muhammad SAW membaca Maulid Simtud Durar karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Dalam cerita yang ia paparkan, pembacaan tersebut disebut berlangsung hingga bagian tertentu, kemudian Nabi Muhammad SAW membaca doa dan menyerahkan kelanjutannya kepada tokoh lain.

KH Nur Ihyak mempertanyakan dasar cerita tersebut. Ia juga menyoroti penggunaan istilah mimpi dan yaqazah dalam narasi mengenai pertemuan seseorang dengan Nabi Muhammad SAW.

Menurut dia, dalam cerita yang beredar, pengalaman mimpi dan yaqazah terkadang ditempatkan dalam posisi yang berbeda. Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan klaim tentang kehadiran Nabi Muhammad SAW ketika Simtud Duror dibacakan.

Cerita tentang Kehadiran Nabi Saat Maulid Dibacakan

Cerita tentang Kehadiran Nabi Saat Maulid Dibacakan

Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak juga mengutip sebuah cerita yang menurutnya berkaitan dengan pendapat Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki mengenai pembacaan maulid.

Ia menyebut adanya klaim bahwa Nabi Muhammad SAW hadir ketika maulid dibacakan. Untuk menggambarkan cerita tersebut, KH Nur Ihyak mengisahkan sebuah majelis yang disebut menyediakan tempat kosong dan menutupnya dengan pasir.

Setelah pembacaan maulid selesai, menurut cerita yang disampaikan KH Nur Ihyak, tempat tersebut dibuka dan ditemukan bekas injakan kaki pada pasir. Bekas tersebut kemudian diklaim sebagai jejak Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

KH Nur Ihyak juga menyebut praktik serupa dalam konteks mahalul qiyam, yakni penyediaan tempat kosong yang ditutup kain dan kemudian diperiksa setelah pembacaan selesai.

Ia kemudian mengkritik cerita tersebut sebagai bagian dari hal yang menurutnya perlu diperiksa secara serius. Dalam transkrip, KH Nur Ihyak menggunakan istilah “khurafat” ketika menyampaikan kritik terhadap cerita tersebut.

Ia bahkan menggambarkan kemungkinan berkembangnya cerita tersebut pada generasi berikutnya, misalnya dengan penambahan bentuk-bentuk cerita lain. Pernyataan itu disampaikan untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap berkembangnya cerita yang menurutnya tidak memiliki dasar yang jelas.

KH Nur Ihyak Kaitkan dengan Polemik Demonstrasi

Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak juga menyinggung aksi demonstrasi dan meminta pihak yang terlibat agar tidak mudah terprovokasi.

Ia menyebut nama Kiai Ahmad atau Ustaz Ahmad dari Cipayung, Depok, yang menurutnya pernah didatangi atau digeruduk masyarakat akibat adanya provokasi. Ia kemudian mengatakan bahwa situasi semacam itu dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan.

Menurut KH Nur Ihyak, persoalan yang berkaitan dengan ajaran keagamaan seharusnya terlebih dahulu dicermati informasinya. Dalam konteks pembahasan Simtud Duror, ia mengarahkan perhatian kepada isi cerita yang menurutnya berkembang di tengah masyarakat.

Pembahasan Ratib Al-Haddad

Selain Simtud Duror, KH Nur Ihyak membahas Ratib Al-Haddad. Ia kembali menyinggung pertanyaan dari Kiai Mas’ud Kudus mengenai bagian-bagian dalam Ratib Al-Haddad yang mengalami perubahan.

KH Nur Ihyak mengatakan bahwa menurut penjelasannya, sebagian besar redaksi Ratib Al-Haddad memiliki kemiripan dengan redaksi wirid atau bacaan lain yang ia sebut berkaitan dengan Imam Ahmad ar-Rifa’i.

Ia kemudian memberikan contoh bentuk pembacaan yang menurutnya dapat digunakan apabila seseorang tetap ingin membaca Ratib Al-Haddad. Dalam video, ia menyebut pembacaan tersebut dapat disertai penyebutan tokoh-tokoh tertentu sebagai wasilah.

Namun, KH Nur Ihyak mengatakan dirinya tidak memilih cara tersebut. Ia kemudian membandingkannya dengan membaca Surat Al-Waqi’ah dan menyebut keutamaan membaca Al-Qur’an dalam penjelasannya.

Klaim tentang Redaksi yang Mengalami Penambahan

Pertanyaan utama dari Kiai Mas’ud, sebagaimana disampaikan di awal penjelasan, adalah bagian mana dari Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad yang mengalami perubahan, lengkap dengan halaman dan nomor baris.

Dalam jawabannya, KH Nur Ihyak menyatakan bahwa persoalan tersebut menurutnya berkaitan dengan adanya tambahan dan pengurangan redaksi. Ia menyebut perubahan atau penambahan itu dalam konteks narasi yang menghubungkan bacaan tersebut dengan Nabi Muhammad SAW.

Namun, dalam potongan penjelasan yang menjadi dasar artikel ini, KH Nur Ihyak tidak menyajikan daftar halaman dan nomor baris dari edisi tertentu Simtud Duror maupun Ratib Al-Haddad. Karena itu, keterangan mengenai halaman, baris, dan bentuk perubahan tekstual secara rinci belum dapat dicantumkan sebagai hasil pemeriksaan naskah dalam artikel ini.

Perdebatan tentang Hadis dan Yaqazah

KH Nur Ihyak selanjutnya memperluas pembahasannya pada klaim mengenai pertemuan dengan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan yaqazah.

Ia menyinggung sejumlah cerita mengenai tokoh yang disebut dapat bertemu Nabi Muhammad SAW dalam keadaan tidak sedang bermimpi. Salah satu nama yang disebut adalah Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilqih dari Malang.

Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak menyampaikan secara kritis cerita mengenai seseorang yang disebut bertemu Nabi Muhammad SAW setiap hari. Ia bahkan menghubungkan cerita tersebut dengan kemungkinan seseorang menerima hadis melalui pertemuan semacam itu.

Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan pembahasan mengenai jumlah hadis yang dihafalkan oleh sejumlah tokoh.

KH Nur Ihyak Soroti Sebutan Al-Hafizh

Nama Habib Umar bin Hafidz juga muncul dalam pembahasan KH Nur Ihyak.

Ia mempertanyakan penyebutan “al-hafizh” yang dikaitkan dengan Habib Umar bin Hafidz. Menurut KH Nur Ihyak dalam penjelasannya, istilah tersebut tidak otomatis berarti seseorang menghafal 100.000 hadis.

Ia mengatakan Habib Umar bin Hafidz memiliki hadis yang banyak, tetapi menurutnya terdapat pula hadis atau riwayat yang masuk dalam kategori yang ia persoalkan. KH Nur Ihyak kemudian meminta agar klaim mengenai gelar atau kapasitas tersebut dibuktikan melalui kitab yang jelas.

Pembahasan itu kemudian dikaitkan dengan perdebatan keagamaan antara kelompok yang disebut Salafi-Wahabi dan tokoh-tokoh lainnya. KH Nur Ihyak menekankan pentingnya penggunaan kitab sebagai dasar argumentasi dalam perdebatan.

Kritik terhadap Cerita yang Dikaitkan dengan Nabi

Pada bagian lain, KH Nur Ihyak menyinggung cerita tentang tangan Nabi Muhammad SAW yang disebut keluar dari makam dan disaksikan oleh banyak orang.

Ia menyebut jumlah saksi dalam berbagai versi cerita tersebut berbeda-beda, termasuk angka puluhan ribu hingga jutaan orang. Menurut KH Nur Ihyak, perbedaan angka tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dipertanyakan karena menurutnya cerita tersebut tidak disertai dasar yang jelas dalam penjelasan yang ia sampaikan.

Pembahasan itu kembali diarahkan pada persoalan pentingnya sumber dan dasar sebuah cerita keagamaan.

Simtud Duror dan Pembahasan Ilmu Keagamaan

Menjelang akhir penjelasan, KH Nur Ihyak juga membahas pengarang Simtud Duror, yang dalam transkrip disebut sebagai Habib Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi.

Ia menyampaikan secara satiris sebuah cerita mengenai Nabi Muhammad SAW, Sayidina Ali, dan Sayidina Hasan yang disebut terburu-buru belajar nahwu kepada pengarang Simtud Duror.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari kritik terhadap narasi yang menurutnya menempatkan tokoh-tokoh tertentu dalam hubungan dengan Nabi Muhammad SAW secara tidak masuk akal.

KH Nur Ihyak kemudian mengaitkan pembahasan itu dengan sejumlah kitab dan menyebut adanya ajaran yang menurutnya menyimpang dari syariat, hakikat, tarekat, dan makrifat.

Pentingnya Memeriksa Naskah dan Sumber

Pentingnya Memeriksa Naskah dan Sumber

Dari keseluruhan penjelasan, terdapat dua persoalan utama yang menjadi perhatian KH Nur Ihyak.

Pertama, ia menanggapi pertanyaan mengenai perubahan redaksi Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad. Pertanyaan awal meminta identifikasi secara spesifik berupa bagian, halaman, dan nomor baris.

Kedua, ia mempersoalkan sejumlah cerita yang dikaitkan dengan pembacaan maulid, kehadiran Nabi Muhammad SAW, yaqazah, serta klaim-klaim keagamaan lainnya.

Dalam transkrip yang menjadi sumber artikel ini, pembahasan mengenai halaman dan nomor baris belum disertai perbandingan langsung antara beberapa edisi kitab. Karena itu, pembaca yang ingin memeriksa perubahan tekstual secara akademis tetap memerlukan naskah atau edisi kitab yang dibandingkan.

Hal tersebut penting karena pernyataan mengenai perubahan teks membutuhkan identifikasi naskah, edisi, penerbit, tahun terbit, halaman, serta kutipan bagian yang dibandingkan.

FAQ

Apa yang dibahas KH Nur Ihyak Hadinegoro pada 10 September 2026?

KH Nur Ihyak membahas pertanyaan mengenai perubahan redaksi Simtud Duror dan Ratib Al-Haddad, sekaligus menyoroti sejumlah cerita mengenai pembacaan maulid, kehadiran Nabi Muhammad SAW, yaqazah, dan persoalan hadis.

Siapa yang disebut mengajukan pertanyaan kepada KH Nur Ihyak?

Dalam pembukaan penjelasan, KH Nur Ihyak menyebut pertanyaan tersebut dititipkan oleh Kiai Mas’ud dari Kudus, Jawa Tengah.

Apa permintaan utama Kiai Mas’ud terkait Simtud Duror?

Pertanyaannya meminta penjelasan rinci mengenai bagian dalam Simtud Duror yang mengalami perubahan, lengkap dengan halaman dan nomor baris.

Bagaimana dengan Ratib Al-Haddad?

Pertanyaan yang sama diajukan mengenai Ratib Al-Haddad, yakni bagian yang mengalami perubahan beserta halaman dan nomor barisnya.

Apakah KH Nur Ihyak dalam transkrip memberikan daftar halaman dan nomor baris?

Dalam materi transkrip yang menjadi sumber artikel ini, daftar halaman dan nomor baris secara rinci tidak ditampilkan. Yang disampaikan adalah penjelasan umum dan kritik terhadap sejumlah redaksi serta cerita yang dikaitkan dengan kedua bacaan tersebut.

Apa yang dimaksud Simtud Duror dalam pembahasan ini?

KH Nur Ihyak menjelaskan Simtud Duror sebagai maulid, sementara Ratib Al-Haddad disebutnya sebagai zikir atau wirid.

Mengapa perbandingan edisi kitab diperlukan?

Karena untuk memastikan ada atau tidaknya perubahan teks, diperlukan pemeriksaan terhadap naskah atau edisi yang berbeda, termasuk membandingkan redaksi, halaman, nomor baris, penerbit, dan tahun penerbitannya.

Apa kesimpulan dari penjelasan KH Nur Ihyak?

Pokok penjelasan KH Nur Ihyak adalah ajakan untuk memeriksa sumber dan dasar cerita keagamaan yang berkembang, khususnya yang dikaitkan dengan Simtud Duror, Ratib Al-Haddad, Nabi Muhammad SAW, serta klaim-klaim mengenai hadis dan yaqazah. Ia juga menanggapi pertanyaan mengenai perubahan redaksi kedua teks tersebut.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button