KH Nur Ihyak Soroti Persekusi Abah Setu di Bekasi dan Ustaz Ahmad di Depok

WARTA BATAVIA – KH Nur Ihyak Hadinegoro menyoroti peristiwa yang disebutnya sebagai persekusi terhadap Abah Setu di Bekasi dan Ustaz Ahmad di Depok. Ia meminta tabayun dan klarifikasi.
KH Nur Ihyak Soroti Persekusi Abah Setu di Bekasi dan Ustaz Ahmad di Depok, Minta Kedepankan Tabayun
KH Nur Ihyak Hadinegoro menyoroti peristiwa yang disebutnya sebagai aksi penggerudukan atau persekusi terhadap Abah Setu di Bekasi. Pernyataan tersebut disampaikan KH Nur Ihyak melalui kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 9 September 2026.
Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak mengatakan dirinya telah berkomunikasi langsung dengan Abah Setu terkait peristiwa tersebut. Ia menyebut persoalan bermula dari beredarnya selebaran, tulisan, dan potongan video di media sosial yang menurutnya memunculkan tudingan bahwa Abah Setu melecehkan Nabi Muhammad SAW.
KH Nur Ihyak menilai persoalan tersebut perlu dilihat secara utuh dan tidak hanya berdasarkan potongan video.
Ia juga menyampaikan bahwa dirinya tidak bermaksud membela Abah Setu secara mutlak. Menurut dia, jika terdapat kesalahan dalam penyampaian Abah Setu, hal tersebut tetap perlu diluruskan melalui proses saling mengingatkan.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks pembahasan mengenai hubungan antara syariat dan hakikat serta pentingnya memahami suatu pernyataan secara lengkap.
KH Nur Ihyak juga menyebut adanya rencana mediasi dan klarifikasi di Polres Bekasi. Dalam siarannya, ia mengatakan dirinya akan mendampingi Abah Setu dalam proses tersebut.
Polemik Berawal dari Potongan Video
Menurut KH Nur Ihyak, materi yang beredar di media sosial mengenai Abah Setu merupakan video yang telah dipotong. Ia menyebut potongan tersebut kemudian disertai narasi atau provokasi lain sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Ia mengaitkan persoalan itu dengan pernyataan Abah Setu mengenai syafaat Nabi Muhammad SAW. Dalam penjelasannya, KH Nur Ihyak mengatakan bahwa Abah Setu menyampaikan Rasulullah Muhammad SAW tidak dapat memberikan syafaat kecuali dengan izin Allah.
KH Nur Ihyak menilai pernyataan tersebut perlu dipahami dalam konteks pembahasan keagamaan yang lebih luas.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan pernyataan.
Menurut dia, sebuah penjelasan harus didengarkan sampai selesai agar maksud pembicara dapat diketahui secara utuh.
KH Nur Ihyak: Jika Salah Tetap Perlu Diluruskan
Dalam siaran tersebut, KH Nur Ihyak menegaskan bahwa dirinya tidak membela Abah Setu secara keseluruhan.
Ia menyampaikan bahwa Abah Setu sendiri, menurut penuturannya, bersedia diingatkan apabila melakukan kesalahan.
KH Nur Ihyak kemudian mengaitkan hal itu dengan prinsip bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Karena itu, perbedaan pemahaman semestinya diselesaikan melalui saling mengingatkan dan komunikasi.
Ia juga menyoroti persoalan privasi karena peristiwa penggerudukan disebut berlangsung di sekitar rumah pada waktu malam. Menurut KH Nur Ihyak, apabila seseorang hendak meminta penjelasan, sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik dan memperhatikan waktu serta kondisi pihak yang hendak ditemui.
Ustaz Ahmad di Cipayung Depok Juga Disebut Mengalami Penggerudukan
Selain peristiwa di Bekasi, KH Nur Ihyak membahas peristiwa lain yang disebutnya terjadi di Cipayung, Depok.
Dalam siaran tersebut, ia menyebut seorang Ustaz Ahmad mengalami aksi demonstrasi atau penggerudukan setelah berlangsungnya sebuah pertemuan yang melibatkan unsur Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), lurah, dan pihak kecamatan.
KH Nur Ihyak mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Ustaz Ahmad mengenai peristiwa tersebut.
Ia menyampaikan adanya dugaan bahwa sejumlah orang yang datang untuk melakukan demonstrasi telah dipengaruhi atau dipersiapkan sebelumnya. Namun, klaim tersebut merupakan bagian dari penuturan KH Nur Ihyak dalam siaran dan tidak disertai pembuktian independen dalam materi yang menjadi dasar artikel ini.
KH Nur Ihyak juga menyebut adanya Majelis Al-Busyro yang berada sekitar 500 meter dari kediaman Ustaz Ahmad dan mengaitkannya dengan polemik tersebut.
Meminta Masyarakat Tidak Mudah Memberi Vonis
KH Nur Ihyak mengatakan perbedaan pemahaman keagamaan seharusnya tidak langsung berujung pada pemberian label sesat.
Ia menekankan pentingnya memahami konteks pembicaraan, termasuk ketika seorang penceramah menggunakan istilah yang dianggap kontroversial.
Menurutnya, apabila masyarakat belum memahami suatu penjelasan, langkah yang dapat ditempuh adalah mencari referensi, bertanya langsung, atau meminta klarifikasi kepada pihak yang menyampaikan.
Ia menilai dialog dua arah dapat membantu menghindari kesalahpahaman.
KH Nur Ihyak juga mengusulkan agar ruang komentar dan tanya jawab dibuka sehingga jamaah dapat menyampaikan pertanyaan sekaligus memperoleh penjelasan.
Perdebatan Syariat, Hakikat dan Pemahaman Tasawuf
Bagian lain dalam penjelasan KH Nur Ihyak berkaitan dengan cara memahami ceramah Abah Setu.
Ia menyebut bahwa sebagian ungkapan Abah Setu perlu ditempatkan dalam konteks tasawuf, terutama ketika membahas istilah seperti Nur Muhammad.
Menurut KH Nur Ihyak, pembahasan Nur Muhammad merupakan bagian dari diskursus tasawuf dan terdapat perbedaan pandangan di antara para ulama atau tokoh yang membahasnya.
Ia menyebut nama Ibnu Arabi sebagai salah satu tokoh yang mempunyai pandangan mengenai Nur Muhammad, sembari mengatakan bahwa dirinya memiliki pandangan berbeda.
Namun, menurut KH Nur Ihyak, perbedaan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk saling memberikan vonis.
Ia mengatakan pembahasan harus disesuaikan dengan tingkat keilmuan dan ranah kajiannya.
Jangan Memotong Pernyataan
KH Nur Ihyak kemudian menggunakan contoh pembacaan Surah Al-Maun untuk menjelaskan pentingnya memahami sebuah pernyataan secara lengkap.
Ia menggambarkan bahwa menghentikan pembacaan pada bagian tertentu dapat menghasilkan pemahaman berbeda jika ayat berikutnya tidak ikut dibaca.
Dari analogi tersebut, ia meminta masyarakat tidak mengambil kesimpulan hanya dari satu potongan pernyataan.
Menurutnya, konteks lengkap diperlukan untuk mengetahui maksud pembicara.
Polemik Simtud Duror dan Ratib Alhaddad
Dalam sesi tanya jawab, KH Nur Ihyak juga menjawab pertanyaan mengenai Simtud Duror dan Ratib Alhaddad.
Pertanyaan tersebut meminta penjelasan mengenai bagian-bagian yang disebut mengalami perubahan, lengkap dengan halaman dan nomor baris.
KH Nur Ihyak mengatakan pembahasan kedua teks tersebut sebaiknya tidak hanya diarahkan pada pertanyaan apakah terjadi perubahan, tetapi juga melihat latar belakang atau asbabul wurud yang berkaitan dengan penggunaannya.
Ia menjelaskan bahwa Simtud Duror merupakan kitab maulid, sedangkan Ratib Alhaddad berkaitan dengan zikir atau wirid.
Klaim tentang Kehadiran Nabi dalam Pembacaan Maulid
KH Nur Ihyak kemudian mengkritisi sejumlah cerita yang menurut penuturannya berkembang dalam sebagian praktik pembacaan Simtud Duror.
Ia menceritakan adanya kisah tentang kehadiran Nabi Muhammad SAW dalam acara pembacaan maulid, termasuk cerita mengenai penyediaan tempat yang ditutup kain dan diisi pasir untuk membuktikan kehadiran Nabi.
Dalam cerita yang ia sampaikan, setelah pembacaan maulid selesai, disebut terdapat jejak kaki Nabi dan para sahabat.
KH Nur Ihyak mempertanyakan dasar cerita tersebut dan menyebutnya sebagai contoh yang menurut dia perlu dikaji secara kritis.
KH Nur Ihyak Bahas Klaim tentang Habib Umar dan Syekh Al-Albani
Topik lain yang muncul dalam siaran adalah perbandingan antara Habib Umar bin Hafidz dan Syekh Nasiruddin Al-Albani.
KH Nur Ihyak mempertanyakan penggunaan gelar tertentu terhadap Habib Umar bin Hafidz dan meminta agar klaim mengenai gelar keilmuan tersebut dibuktikan melalui sumber tertulis.
Ia juga membahas posisi Syekh Nasiruddin Al-Albani dalam kajian hadis.
Menurut KH Nur Ihyak, Al-Albani disebut sebagai ahli hadis oleh sejumlah kalangan Sunni dan tidak hanya oleh kelompok Salafi atau Wahabi.
Ia juga membedakan posisi Al-Albani dengan para ahli hadis generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan ulama hadis lainnya.
Pentingnya Membaca Lebih dari Satu Referensi
Dalam konteks perdebatan keagamaan, KH Nur Ihyak meminta masyarakat tidak hanya membaca satu kitab atau satu sumber.
Menurut dia, sebuah pendapat perlu dibandingkan dengan sumber lain agar pembaca mendapatkan gambaran yang lebih luas.
Ia juga mendorong masyarakat membaca buku dan literatur berbahasa Indonesia agar lebih mudah memahami berbagai pandangan yang berkembang.
KH Nur Ihyak Soroti Bahaya Persekusi
Salah satu tema utama dalam siaran tersebut adalah penolakan terhadap tindakan penggerudukan dan persekusi.
KH Nur Ihyak menyebut aksi mendatangi rumah seseorang pada malam hari sebagai tindakan yang menurutnya tidak tepat jika tujuan sebenarnya adalah mencari klarifikasi.
Ia menyarankan agar masyarakat menggunakan jalur dialog.
Jika ada perbedaan pandangan, menurut dia, pihak yang berbeda pendapat dapat datang secara resmi, bertanya, dan meminta penjelasan.
Pendekatan tersebut disebutnya sebagai bagian dari tabayun.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga suasana agar tidak berkembang menjadi kekerasan horizontal.
Klarifikasi Sebelum Mengambil Kesimpulan
KH Nur Ihyak berulang kali meminta masyarakat melakukan tabayun terhadap informasi yang beredar di media sosial.
Ia memberikan contoh kemungkinan manipulasi video dengan teknologi digital. Menurut dia, gambar seseorang dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak seolah-olah melakukan tindakan yang sebenarnya tidak dilakukan.
Karena itu, menurut KH Nur Ihyak, masyarakat perlu berhati-hati ketika menerima video atau gambar yang menjadi bahan tuduhan.
Ia menyarankan agar sumber asli dan konteks video diperiksa terlebih dahulu.
Kasus di Pati Juga Dibahas
Selain Bekasi dan Depok, KH Nur Ihyak menyampaikan informasi mengenai seorang tokoh agama di wilayah Pati, Jawa Tengah.
Dalam siaran tersebut, ia menyebut adanya dugaan tindakan asusila terhadap seorang santri oleh seorang pengasuh pondok pesantren.
Namun, KH Nur Ihyak tidak menyebutkan nama lengkap orang yang dimaksud.
Ia hanya menyebut wilayah Pati bagian selatan, Kecamatan Kayen dan Desa Talun, serta mengatakan bahwa tokoh tersebut dikenal dengan panggilan Ustaz Anam.
KH Nur Ihyak menegaskan bahwa informasi tersebut, menurut penuturannya, ditelusuri dan diverifikasi melalui sumber yang ia dapatkan. Akan tetapi, materi siaran yang menjadi dasar artikel ini tidak menyertakan dokumen pemeriksaan, keterangan aparat penegak hukum, atau putusan pengadilan yang dapat digunakan untuk memastikan tuduhan tersebut.
Karena itu, informasi tersebut perlu ditempatkan sebagai klaim yang disampaikan dalam siaran, bukan sebagai fakta hukum yang telah diputuskan.
Kritik terhadap Budaya Main Hakim Sendiri
Dalam pembahasan mengenai berbagai peristiwa tersebut, KH Nur Ihyak menekankan bahwa masyarakat tidak boleh mudah menuduh tanpa bukti.
Ia menyebut klarifikasi dapat dilakukan melalui mekanisme yang lebih tertib, termasuk melibatkan aparat desa atau pihak yang berwenang.
Menurutnya, apabila terdapat dugaan pelanggaran, pihak terkait sebaiknya dipanggil secara resmi dan dimintai keterangan.
Ia menolak penyelesaian masalah melalui tindakan massa.
KH Nur Ihyak juga mengangkat prinsip budaya Sunda silih asah, silih asih, silih asuh. Menurut penjelasannya, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui kebiasaan saling bertanya, saling mengasihi, dan saling membimbing.
Kritik terhadap Fanatisme dan Penggunaan Media Sosial
KH Nur Ihyak juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi di media sosial.
Ia menyebut media dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dan karena itu informasi yang beredar perlu diperiksa.
Dalam konteks peristiwa Abah Setu, ia kembali menekankan pentingnya melihat video secara utuh.
Ia mengingatkan bahwa potongan video dapat menghasilkan persepsi yang berbeda dibandingkan video lengkap.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat manipulasi gambar dan video semakin mudah dilakukan.
Seruan untuk Mengedepankan Ilmu dan Akal Sehat
Pada bagian akhir siaran, KH Nur Ihyak kembali mengajak masyarakat menggunakan akal sehat dan memperluas pengetahuan.
Ia mengatakan proses mencari ilmu tidak berhenti pada usia tertentu. Menurut dia, belajar harus dilakukan sepanjang kehidupan.
Dalam konteks perbedaan pendapat keagamaan, ia meminta masyarakat tidak berhenti pada satu informasi atau satu potongan pernyataan.
Ia juga mendorong adanya komunikasi dua arah antara penceramah dan jamaah.
Pertanyaan, kritik, maupun koreksi, menurut dia, dapat disampaikan melalui cara yang baik.
Dengan mekanisme tersebut, perbedaan pandangan dapat dibicarakan tanpa harus berkembang menjadi konflik terbuka.
Menjaga Kerukunan di Tengah Perbedaan
KH Nur Ihyak juga mengingatkan adanya potensi konflik horizontal apabila perbedaan di tengah masyarakat tidak dikelola dengan baik.
Ia meminta masyarakat melakukan tabayun sebelum mempercayai informasi yang beredar.
Menurutnya, setiap pihak memiliki kesempatan untuk memberikan penjelasan atas pernyataannya.
Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara kritik, klarifikasi, dan tindakan persekusi.
Pesan KH Nur Ihyak kepada Abah Setu dan Ustaz Ahmad
Menjelang akhir siaran, KH Nur Ihyak menyampaikan dukungan moral kepada Abah Setu dan Ustaz Ahmad yang disebutnya menghadapi tekanan.
Ia meminta keduanya tetap tegar dan istikamah.
Sementara kepada masyarakat, ia kembali meminta agar perbedaan pemahaman diselesaikan melalui dialog.
Dalam materi tersebut, KH Nur Ihyak juga mengatakan bahwa dirinya siap menerima perbedaan pandangan selama dilakukan melalui komunikasi yang baik.
Ia menekankan bahwa masyarakat seharusnya tidak mudah memberikan vonis sebelum memahami persoalan secara menyeluruh.
Kesimpulan
Penjelasan KH Nur Ihyak Hadinegoro pada 9 September 2026 menyoroti sejumlah persoalan keagamaan dan sosial, terutama peristiwa yang disebutnya sebagai penggerudukan terhadap Abah Setu di Bekasi serta Ustaz Ahmad di Cipayung, Depok.
Dalam pembahasannya, KH Nur Ihyak mengaitkan polemik tersebut dengan beredarnya potongan video, perbedaan pemahaman mengenai syariat dan hakikat, serta perlunya memahami suatu pernyataan secara utuh.
Ia juga membahas polemik seputar Simtud Duror dan Ratib Alhaddad, klaim mengenai pertemuan dengan Nabi dalam konteks tertentu, posisi Syekh Nasiruddin Al-Albani dalam kajian hadis, serta pentingnya membaca berbagai sumber.
Di luar persoalan keagamaan, KH Nur Ihyak menekankan pentingnya tabayun, klarifikasi, dialog, dan penggunaan jalur resmi ketika muncul tuduhan atau dugaan pelanggaran.
Ia menolak penyelesaian persoalan melalui penggerudukan atau tindakan massa dan meminta masyarakat tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi yang belum diverifikasi.
FAQ
1. Apa yang dibahas KH Nur Ihyak Hadinegoro pada 9 September 2026?
KH Nur Ihyak membahas sejumlah persoalan, antara lain peristiwa yang disebutnya sebagai penggerudukan terhadap Abah Setu di Bekasi, peristiwa terhadap Ustaz Ahmad di Depok, polemik Simtud Duror dan Ratib Alhaddad, serta sejumlah isu keagamaan lainnya.
2. Mengapa Abah Setu disebut digeruduk?
Menurut penjelasan KH Nur Ihyak, peristiwa tersebut berkaitan dengan beredarnya potongan video dan narasi di media sosial yang menimbulkan tudingan bahwa Abah Setu melecehkan Nabi Muhammad SAW. KH Nur Ihyak menyebut perlunya melihat video dan konteks pembicaraan secara utuh.
3. Apa yang diminta KH Nur Ihyak dalam menyikapi perbedaan pendapat?
Ia meminta masyarakat melakukan tabayun, bertanya secara langsung, meminta klarifikasi, dan tidak langsung memberikan vonis sebelum memahami persoalan secara menyeluruh.
4. Apa yang dikatakan KH Nur Ihyak mengenai Simtud Duror?
KH Nur Ihyak membahas Simtud Duror sebagai kitab maulid dan mempertanyakan sejumlah cerita yang berkembang terkait praktik pembacaannya. Ia meminta persoalan tersebut dikaji berdasarkan sumber dan konteksnya.
5. Apa yang dibahas mengenai Ratib Alhaddad?
Dalam siaran tersebut, Ratib Alhaddad dibahas sebagai zikir atau wirid. KH Nur Ihyak menyampaikan pandangannya mengenai redaksi dan cara pengamalannya serta menyarankan agar persoalan tersebut dikaji berdasarkan sumber yang digunakan.
6. Siapa Ustaz Ahmad yang disebut dalam pembahasan?
Dalam siaran tersebut terdapat pembahasan mengenai Ustaz Ahmad dari Cipayung, Depok. KH Nur Ihyak mengatakan tokoh tersebut mengalami aksi penggerudukan setelah muncul persoalan terkait penyampaian keagamaan.
7. Apa pesan utama KH Nur Ihyak?
Pesan yang berulang dalam siaran tersebut adalah pentingnya tabayun, klarifikasi, membaca berbagai sumber, memahami konteks pembicaraan, serta menghindari tindakan main hakim sendiri.






