invisible hit counter
Nasional

KH Nur Ihyak Hadinegoro Ungkap Perkembangan Laporan Makam Sunan Ampel

KH Nur Ihyak Hadinegoro Ungkap Perkembangan Laporan Makam Sunan Ampel dan Diskusi Nasab di Kalimantan Selatan

WARTA BATAVIASURABAYA — KH Nur Ihyak Hadinegoro bersama KH Ir. Purna H. Kunarto dari PWI-LS Kabupaten Kudus serta sejumlah tamu dari Kalimantan Selatan membahas perkembangan laporan terkait kondisi makam Sunan Ampel di Surabaya, dinamika diskusi nasab, manuskrip sejarah, hingga pendekatan dakwah dalam sebuah tayangan di kanal KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 24 April 2026.

Dalam pertemuan tersebut, KH Nur Ihyak Hadinegoro menerima kedatangan Khairul Anwar dan Fahrul Rozi dari Kalimantan Selatan. Diskusi disebut berlangsung secara alami tanpa naskah atau pengarahan khusus.

Salah satu pokok pembahasan adalah perkembangan laporan yang menurut KH Nur Ihyak Hadinegoro diperjuangkan oleh KH Ir. Purna H. Kunarto melalui PWI-LS Kabupaten Kudus. Dalam tayangan itu disebutkan bahwa laporan tersebut berkaitan dengan kondisi batu nisan di kompleks makam Sunan Ampel Surabaya.

Menurut penjelasan yang disampaikan dalam tayangan, pihak kepolisian telah memberikan jawaban atas laporan tersebut dan menyatakan adanya tindak lanjut untuk kepentingan penyelidikan.

KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyampaikan bahwa persoalan cagar budaya perlu ditempatkan dalam kerangka hukum dan perlindungan sejarah. Ia menekankan bahwa perubahan terhadap situs atau makam yang dianggap memiliki nilai sejarah perlu diperhatikan karena berkaitan dengan dokumentasi sejarah bagi generasi berikutnya.

Perkembangan Laporan Terkait Makam Sunan Ampel

Dalam pembahasan tersebut, KH Nur Ihyak Hadinegoro menyebut telah menerima jawaban dari Polres Tanjung Perak Surabaya pada 21 April 2026.

Ia kemudian membacakan bagian dari dokumen yang menurutnya telah diterima sebagai bukti tindak lanjut laporan. Dalam penjelasannya, disebutkan adanya penunjukan unit penyelidik untuk melakukan penyelidikan dan memanggil pihak-pihak terkait.

Nama Anton Andri dan Artian Fani Irwan disebut dalam tayangan sebagai bagian dari tim penyelidik yang ditunjuk. Selain itu, pimpinan Yayasan Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya disebut akan dimintai keterangan.

KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyebut bahwa Kepala Kantor Pemerintahan Kota Surabaya bidang kebudayaan dan pariwisata akan dipanggil dalam rangka tindak lanjut tersebut.

Namun, keseluruhan proses tersebut dalam tayangan masih ditempatkan sebagai proses penyelidikan. Dengan demikian, pemanggilan atau pemeriksaan pihak tertentu tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kesalahan atau pelanggaran yang telah terbukti.

PWI-LS Kabupaten Kudus Disebut Terus Mengawal

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyebut perjuangan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga kemurnian makam yang berada dalam kawasan yang dianggap memiliki nilai cagar budaya.

Ia mengatakan bahwa PWI-LS Kabupaten Kudus tetap mengawal persoalan tersebut meskipun prosesnya membutuhkan waktu. Dalam tayangan juga dibahas pengalaman laporan lain yang berkaitan dengan kawasan makam Sunan Bonang di Tuban.

Menurut penjelasan yang disampaikan, pihaknya sebelumnya telah memperoleh jawaban dari instansi terkait mengenai renovasi di sekitar makam dan cagar budaya Sunan Bonang. Pernyataan mengenai status renovasi tersebut merupakan bagian dari penjelasan narasumber dalam tayangan dan tidak disertai dokumen lengkap dalam transkrip yang menjadi dasar artikel ini.

Perlindungan Cagar Budaya Disebut sebagai Persoalan Sejarah

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyatakan bahwa perhatian terhadap makam dan situs cagar budaya tidak hanya berkaitan dengan bentuk fisik bangunan atau batu nisan.

Menurutnya, perubahan terhadap bentuk sebuah situs sejarah dapat berpengaruh terhadap cara generasi berikutnya memahami sejarah.

Ia mencontohkan bahwa apabila perubahan sejarah tidak dicatat dengan baik, generasi mendatang dapat menerima informasi yang berbeda dari kondisi sejarah sebelumnya.

Dalam tayangan tersebut, ia juga menegaskan bahwa jalur yang ditempuh dalam persoalan makam adalah jalur hukum. Ia menyatakan pihaknya tidak ingin mengambil tindakan secara langsung terhadap bangunan atau makam, melainkan menggunakan mekanisme hukum yang berlaku.

Khairul Anwar Ceritakan Perkembangan Diskusi Nasab di Kalimantan Selatan

Selain persoalan makam, diskusi juga membahas perkembangan perdebatan mengenai nasab di Kalimantan Selatan.

Khairul Anwar menjelaskan bahwa informasi mengenai kajian nasab disebut mulai tersebar di tingkat masyarakat. Namun, menurutnya, sebagian masyarakat masih memilih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan secara terbuka karena ingin menghindari konflik.

Ia menyebut bahwa situasi di Kalimantan Selatan berbeda dengan dinamika diskusi yang berkembang di Jawa.

Dalam penjelasannya, Khairul Anwar mengatakan pendekatan yang dilakukan di Kalimantan lebih mengutamakan diskusi dan komunikasi daripada konfrontasi.

Ia juga menegaskan bahwa pembahasan tersebut menurutnya tidak ditujukan untuk menimbulkan kebencian.

Pendekatan Diskusi dan Silaturahmi

Khairul Anwar mengatakan bahwa pihaknya memilih pendekatan persuasif ketika menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan nasab.

Menurut dia, pembahasan sering kali bermula dari pertanyaan masyarakat. Setelah pertanyaan muncul, pihaknya memberikan penjelasan berdasarkan pemahaman dan kajian yang mereka miliki.

Keputusan akhir mengenai pandangan yang akan diterima, menurutnya, dikembalikan kepada masing-masing orang.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan semacam itu dilakukan dalam pertemuan informal, termasuk ketika berbincang di warung kopi. Menurutnya, orang yang memiliki pertanyaan justru lebih mudah diajak berdiskusi karena mereka datang dengan pengetahuan atau pertanyaan sebelumnya.

Perbedaan Pandangan Tidak Harus Menghentikan Silaturahmi

Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam diskusi adalah penjelasan Khairul Anwar mengenai hubungan sosial dengan orang yang memiliki pandangan berbeda.

Ia mengatakan bahwa perbedaan pandangan tidak selalu menyebabkan hubungan sosial terputus. Dalam contoh yang disampaikannya, orang-orang yang berbeda pendapat masih dapat duduk bersama dan berbincang.

Pendekatan tersebut disebut sebagai salah satu karakter komunikasi yang ingin dipertahankan dalam kegiatan mereka.

Khairul Anwar menekankan pentingnya mencari persamaan di tengah perbedaan. Ia menyebut perbedaan suku, daerah, dan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap satu kelompok lebih tinggi dibanding kelompok lain.

Dalam konteks tersebut, ia menyebut masyarakat Jawa, Banjar, Madura, maupun kelompok masyarakat lainnya tetap berada dalam satu kehidupan kebangsaan Indonesia.

Khairul Anwar Sebut Pentingnya Akhlak dalam Menyampaikan Pandangan

Dalam diskusi mengenai nasab, Khairul Anwar juga menekankan pentingnya akhlak.

Ia mengatakan bahwa seseorang tidak harus terus-menerus menunjukkan dokumen atau catatan nasab untuk mendapatkan penghormatan dari masyarakat. Menurutnya, perilaku dan akhlak seseorang juga menjadi bagian penting dalam hubungan sosial.

Ia bahkan menyampaikan bahwa dirinya merasa kurang nyaman ketika pembicaraan diarahkan kepada nasab pribadi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks pembicaraan mengenai cara seseorang menempatkan diri di tengah masyarakat.

Organisasi di Kalimantan Disebut Memilih Jalan Tengah

Khairul Anwar menjelaskan bahwa organisasi yang disebutnya Rabitah Hasaniyin Kalimantan tidak mengambil posisi untuk memutlakkan seluruh persoalan nasab.

Menurut dia, terdapat orang-orang yang memiliki catatan nasab secara turun-temurun. Catatan tersebut, menurutnya, tidak ingin langsung dinafikan.

Sebaliknya, ia menawarkan diskusi mengenai cara mempelajari dan menelusuri catatan tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa pihaknya terbuka apabila ada masyarakat yang ingin mendiskusikan sejarah keluarga dan penelusuran nasab.

Dalam tayangan itu disebutkan bahwa pusat kegiatan yang dimaksud berada di kawasan Cempaka, Banjarbaru.

Perdebatan Mengenai Nasab Tidak Disebut Berlaku Sama untuk Semua Orang

Pembahasan kemudian berkembang pada persoalan pencatatan nasab dan kemungkinan adanya perbedaan antara catatan dengan sejarah keluarga.

Khairul Anwar menyampaikan bahwa berdasarkan pengalaman yang ia ceritakan, ia menemukan orang-orang yang mempunyai catatan nasab tertentu tetapi terdapat perbedaan pada bagian atas silsilah.

Karena alasan tersebut, ia mengatakan tidak ingin membuat kesimpulan secara mutlak terhadap seluruh pihak.

Ia memilih pendekatan yang disebutnya sebagai jalan tengah dan diskusi. Menurutnya, seseorang yang memiliki catatan nasab sebaiknya diberi ruang untuk menjelaskan dan menelusuri catatan tersebut.

Ia juga menyatakan bahwa organisasinya tidak ingin menafikan nasab seseorang secara sembarangan.

Klaim Angka 30 Persen Disebut dalam Diskusi

Dalam pembahasan tersebut muncul pula angka sekitar 30 persen terkait catatan nasab.

Khairul Anwar menyebut bahwa angka tersebut pernah disampaikan oleh seorang pengurus yang ia sebut sebagai Agus Muhsin. Menurut penjelasan Khairul Anwar, angka tersebut berkaitan dengan orang-orang yang tercatat sebagai keturunan tertentu, tetapi kemungkinan terdapat persoalan dalam pencatatannya.

Khairul Anwar sendiri menegaskan bahwa ia tidak berani menyimpulkan seseorang secara individual berdasarkan informasi tersebut.

Angka 30 persen dalam konteks ini merupakan angka yang disebut oleh narasumber dalam tayangan, bukan hasil survei independen yang disertakan dalam transkrip.

Manuskrip Cilacap dan Giri Ikut Dibahas

Pertanyaan dari penonton kemudian mengarah pada manuskrip yang disebut ditemukan di Cilacap serta manuskrip Giri.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menjelaskan bahwa berdasarkan pemahaman yang ia sampaikan dalam tayangan, manuskrip-manuskrip tersebut memiliki kaitan dengan pembahasan mengenai jalur Wali Songo.

Ia menyebut adanya perbedaan dengan versi silsilah yang menghubungkan jalur tertentu dengan Baalawi.

Dalam penjelasan tersebut, KH Nur Ihyak Hadinegoro menyoroti nama Muhammad Al-Baqir sebagai salah satu titik yang menurutnya penting untuk diteliti.

Ia menyatakan bahwa dalam manuskrip tua yang ia maksud, terdapat nama yang berbeda setelah Ali Zainal Abidin.

Menurutnya, persoalan tersebut menjadi salah satu bagian yang perlu dikaji dalam pembahasan sejarah nasab.

Pernyataan Mengenai Jalur Wali Songo

Dalam tayangan, KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan pandangan bahwa jalur Wali Songo tidak identik dengan satu jalur nasab tertentu.

Ia menyebut adanya kemungkinan jalur yang berkaitan dengan keturunan Hasan maupun Husain.

Namun, pernyataan tersebut merupakan bagian dari argumentasi yang disampaikan narasumber dalam diskusi dan tidak disertai keseluruhan manuskrip atau kajian akademik pembanding dalam materi yang menjadi dasar artikel ini.

Karena itu, isi manuskrip dan kesimpulan mengenai silsilah tersebut masih perlu dibaca berdasarkan dokumen aslinya serta dibandingkan dengan penelitian sejarah dan filologi yang relevan.

DNA dan Nasab Turut Menjadi Topik Pembahasan

Pembicaraan mengenai nasab juga menyentuh persoalan DNA.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan bahwa jika hasil tes DNA seseorang yang dikaitkan dengan jalur tertentu ternyata tidak menunjukkan haplogroup yang diharapkan oleh sebagian pihak, hal tersebut menurutnya perlu dilihat bersama dengan jalur keturunan perempuan.

Ia menekankan bahwa pembahasan keturunan dalam konteks tertentu tidak hanya dapat dilihat dari jalur laki-laki.

Pernyataan mengenai DNA tersebut disampaikan sebagai bagian dari pandangan narasumber dalam diskusi. Transkrip tidak memuat hasil tes DNA, data laboratorium, ukuran sampel, metode penelitian, maupun laporan ilmiah yang dapat digunakan untuk memverifikasi kesimpulan tersebut.

Perjalanan Ahmad Al-Muhajir ke Hadramaut Diperdebatkan

Topik lain yang dibahas adalah pertanyaan mengenai apakah Imam Ahmad Al-Muhajir benar-benar melakukan hijrah ke Hadramaut.

KH Nur Ihyak Hadinegoro dalam tayangan memberikan jawaban yang berlawanan dengan keyakinan yang selama ini berkembang menurut versinya.

Ia kemudian menyampaikan argumen kronologis dengan membandingkan sejumlah nama dan tahun wafat yang disebut dalam pembicaraan.

Salah satu nama yang disebut adalah Muhammad bin Sulaiman dari Bani Ahdal, yang menurut penjelasan narasumber wafat pada 540 Hijriah. Ia membandingkannya dengan tahun wafat Imam Ahmad Al-Muhajir yang disebutnya 345 Hijriah.

Menurut KH Nur Ihyak Hadinegoro, perbedaan kronologi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sinkronisasi perjalanan sejarah yang sedang dibahas.

Klaim Sejarah Disebut Perlu Diuji dengan Kronologi

Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa kronologi menjadi salah satu dasar yang digunakan KH Nur Ihyak Hadinegoro untuk mempertanyakan sebuah cerita sejarah.

Dalam tayangan, ia menilai bahwa apabila tahun kehidupan tokoh yang berbeda tidak sesuai secara kronologis, hubungan sejarah antartokoh perlu diteliti kembali.

Namun, kesimpulan mengenai status suatu kisah sebagai fakta, fiksi, atau hasil perkembangan tradisi sejarah membutuhkan pemeriksaan terhadap sumber primer, manuskrip, catatan sejarah, dan penelitian akademik.

Transkrip yang menjadi dasar artikel ini hanya memuat pernyataan narasumber dan tidak memuat seluruh dokumen pembanding.

Pembahasan Sejarah Hubungan Baalawi dan Al-Irsyad

KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyinggung sejarah perdebatan antara kelompok Baalawi dan Al-Irsyad di Indonesia.

Ia menyatakan bahwa persoalan tersebut pernah menjadi perdebatan dalam sejarah organisasi Islam di Indonesia dan disebut pernah diberitakan melalui sejumlah media dan majalah.

Dalam tayangan, ia menyebut majalah Al-Manar dari Mesir serta sejumlah terbitan Belanda sebagai bagian dari sumber yang menurutnya memuat perdebatan tersebut.

Ia kemudian menyampaikan pandangan mengenai pengakuan status sayid atau keturunan dalam konteks sejarah tersebut.

Pernyataan itu merupakan klaim narasumber yang perlu dibandingkan dengan dokumen sejarah asli dan kajian akademik mengenai hubungan Baalawi, Al-Irsyad, dan organisasi keagamaan pada masa tersebut.

Pesan untuk Mengedepankan Data dalam Perbedaan Pendapat

Dalam diskusi, KH Nur Ihyak Hadinegoro beberapa kali menyampaikan pentingnya data ketika seseorang hendak menentukan sebuah pendapat.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengikuti keyakinan awal ketika menyaksikan sebuah tayangan atau membaca sebuah kajian.

Menurutnya, masyarakat sebaiknya mengosongkan terlebih dahulu prasangka dan kemudian melihat data yang disampaikan.

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat dapat membandingkan penjelasan dari berbagai pihak sebelum menentukan sikap.

Kritik dan Koreksi Disebut sebagai Bagian dari Kajian

Pada bagian akhir tayangan, KH Nur Ihyak Hadinegoro mengatakan bahwa dirinya terbuka terhadap kritik dan koreksi.

Ia menyatakan bahwa apabila data yang disampaikannya kurang tepat atau kurang terbuka, orang lain dipersilakan memberikan koreksi.

Menurutnya, proses belajar melalui diskusi tidak harus menghasilkan pihak yang menang atau kalah.

Ia menggunakan prinsip bahwa pembelajaran bersama dapat menghasilkan pemahaman yang lebih baik bagi semua pihak.

Perbedaan Sikap KH Nur Ihyak dan Khairul Anwar

Dalam tayangan, terlihat adanya perbedaan pendekatan antara KH Nur Ihyak Hadinegoro dan Khairul Anwar.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan pandangan yang lebih tegas terhadap persoalan yang sedang dibahas. Sementara itu, Khairul Anwar menjelaskan bahwa pendekatan di Kalimantan Selatan lebih berhati-hati dan mengutamakan dialog.

KH Nur Ihyak bahkan mengatakan bahwa Khairul Anwar tidak perlu mengikuti cara yang ia gunakan.

Menurutnya, pendekatan yang lebih moderat diperlukan agar hubungan antara kelompok yang memiliki perbedaan pandangan mengenai nasab tetap harmonis.

Khairul Anwar juga menyampaikan bahwa dirinya memilih untuk tidak memutlakkan kesimpulan terhadap seluruh orang yang mempunyai catatan nasab tertentu.

Kekhawatiran terhadap Persekusi dalam Diskusi Nasab

Dalam pembahasan tersebut, kedua pihak juga menyinggung persekusi dan konflik di media sosial.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyebut adanya berbagai tuduhan dan konten media sosial yang menurutnya diarahkan kepada orang-orang yang terlibat dalam kajian tersebut.

Ia menyebut nama sejumlah tokoh dalam konteks pembicaraan mengenai konten media sosial.

Namun, transkrip tidak menyertakan verifikasi independen atas seluruh tuduhan yang disebutkan.

Karena itu, informasi tersebut dalam artikel ini ditempatkan sebagai pernyataan narasumber, bukan sebagai kesimpulan faktual mengenai pihak-pihak yang disebut.

Fenomena Penggalangan Dana Juga Dibahas

Diskusi kemudian melebar pada persoalan pembiayaan kegiatan keagamaan dan organisasi.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan pandangan mengenai pentingnya dana dalam menjalankan kegiatan sosial, organisasi, media, dan perjuangan yang mereka lakukan.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya praktik meminta uang dengan menggunakan simbol atau klaim keagamaan.

Contoh yang digunakan dalam tayangan adalah seseorang yang meminta sejumlah uang dengan membawa klaim tertentu mengenai keberkahan, keturunan Nabi, atau ancaman kualat.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai ilustrasi dalam diskusi. Tidak ada identitas lengkap mengenai orang yang dimaksud dalam transkrip.

Ajakan Menyalurkan Dana kepada Pihak yang Membutuhkan

Dalam konteks pembicaraan mengenai kebebasan finansial, KH Nur Ihyak Hadinegoro mengajak para kiai yang memperoleh dukungan finansial untuk mengarahkan sebagian sumber daya tersebut kepada santri, fakir miskin, dan masyarakat sekitar.

Ia juga menekankan bahwa pemberian uang sebaiknya tidak menciptakan ketergantungan.

Menurutnya, bantuan kepada masyarakat perlu mempertimbangkan manfaat jangka panjang.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai hubungan antara agama, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan sosial.

Kalimantan Selatan Disebut Memiliki Kekayaan Sumber Daya Alam

KH Nur Ihyak Hadinegoro dalam diskusi juga menyebut potensi ekonomi Kalimantan Selatan, khususnya batu bara dan sawit.

Ia menghubungkan potensi ekonomi tersebut dengan pembiayaan berbagai kegiatan keagamaan yang menurutnya berlangsung di sejumlah wilayah.

Namun, pembicaraan mengenai besaran biaya kegiatan yang muncul dalam tayangan merupakan ilustrasi atau pernyataan lisan narasumber dan bukan laporan keuangan yang diverifikasi.

Dalam konteks yang lebih luas, pembahasan tersebut menunjukkan bagaimana diskusi keagamaan dalam tayangan kemudian bersinggungan dengan persoalan ekonomi dan pembiayaan kegiatan.

Cerita Saranjana dan Banul Jan

Bagian lain dari tayangan membahas cerita Saranjana, Banul Jan, dan fenomena yang oleh narasumber dikaitkan dengan dimensi berbeda.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan pandangan mengenai Saranjana dan menyebut nama Solomon Muller serta peta yang dibuat pada era kolonial dalam pembahasan mengenai nama tempat tersebut.

Ia kemudian menghubungkan cerita tersebut dengan konsep Banul Jan dan keberadaan makhluk atau masyarakat yang menurut penjelasannya berada dalam dimensi berbeda.

Pernyataan ini merupakan bagian dari narasi dan keyakinan yang disampaikan dalam percakapan, bukan fakta ilmiah yang diverifikasi dalam transkrip.

Hubungan dengan Konsep Jin dan Ifrit

Pembahasan kemudian dikaitkan dengan kisah dalam Al-Qur’an mengenai jin dan ifrit pada masa Nabi Sulaiman.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menggunakan kisah tersebut untuk menjelaskan pandangannya mengenai fenomena yang dianggap tidak biasa.

Ia menyebut kemampuan berpindah dalam waktu singkat sebagai contoh fenomena yang menurutnya dapat dikaitkan dengan kemampuan makhluk tertentu.

Dalam transkrip, pembahasan tersebut tidak disertai penelitian fisika, antropologi, atau studi empiris yang dapat menguji klaim mengenai dimensi tersebut.

Karena itu, bagian ini perlu dibaca sebagai penjelasan narasumber dalam tayangan.

Morotai dan Cerita Perang Dunia II

Tayangan juga membahas Pulau Morotai di Maluku Utara dan sejarah Perang Pasifik.

Dalam pembicaraan tersebut disebut adanya bekas kendaraan perang, peluru, dan perlengkapan militer yang masih dapat ditemukan di wilayah Morotai.

Bagian tersebut kemudian dikaitkan dengan pembahasan mengenai dimensi dan energi.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan pandangan bahwa energi tidak dapat dihancurkan, melainkan berpindah dari satu bentuk ke bentuk lain.

Namun, pengaitan konsep fisika tersebut dengan fenomena supranatural merupakan interpretasi narasumber dan tidak dapat dianggap sebagai kesimpulan ilmiah berdasarkan transkrip ini.

Perjuangan Demang Lehman Disebut dalam Diskusi

Nama Demang Lehman juga muncul dalam pembahasan mengenai masyarakat Banjar.

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyebut Demang Lehman sebagai tokoh perjuangan rakyat Banjar dalam melawan penjajahan.

Ia mengajak masyarakat Banjar untuk mengingat perjuangan tersebut.

Pembicaraan itu kemudian digunakan sebagai konteks untuk menjelaskan bahwa masyarakat lokal memiliki sejarah dan identitas sendiri yang perlu dihargai.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai agama, nasab, maupun sejarah.

Pesan Persaudaraan untuk Masyarakat Banjar

Khairul Anwar pada bagian akhir kembali menyampaikan pesan mengenai pentingnya persaudaraan.

Ia mengatakan bahwa diskusi keilmuan sebaiknya tidak dilakukan dengan emosi.

Menurutnya, apabila setelah diskusi seseorang mengalami perubahan keyakinan karena menemukan data yang dianggap lebih kuat, keputusan tersebut merupakan pilihan pribadi.

Namun, apabila seseorang belum menemukan keyakinan baru, ia tetap memiliki hak untuk mempertahankan pandangannya.

Khairul Anwar juga menyatakan bahwa Rabitah Hasaniyin Kalimantan terbuka untuk berdiskusi dengan siapa saja.

Ia menempatkan akhlakul karimah sebagai salah satu prinsip yang harus dikedepankan.

KH Nur Ihyak Minta Data Dikritik Jika Keliru

KH Nur Ihyak Minta Data Dikritik Jika Keliru

KH Nur Ihyak Hadinegoro kemudian menyampaikan pesan bahwa dirinya tidak menganggap pendapat pribadi sebagai sesuatu yang tidak boleh dikoreksi.

Ia meminta apabila terdapat data yang kurang tepat untuk dibenarkan.

Menurutnya, kajian harus dilakukan dengan membaca sumber dan membuka ruang perdebatan ilmiah.

Ia juga menyinggung persoalan tafsir dan bahasa Arab sebagai contoh bahwa sebuah istilah harus dipahami berdasarkan konteks bahasa dan sumbernya.

Dalam pandangannya, pembelajaran agama tidak cukup berhenti pada pembacaan teks, tetapi perlu disertai kajian, penelitian, dan pengembangan pemahaman.

Penutup: Laporan Makam dan Ajakan Menempuh Jalur Hukum

Menjelang akhir tayangan, KH Nur Ihyak Hadinegoro kembali menegaskan perkembangan laporan terkait makam Sunan Ampel.

Ia mengatakan bahwa pihak yang disebut dalam dokumen kepolisian akan dipanggil untuk kepentingan penyelidikan.

Ia juga menyebut pihak yang menangani urusan kebudayaan dan pariwisata di Surabaya dalam konteks tindak lanjut tersebut.

Menurutnya, perjuangan mengenai cagar budaya harus ditempuh melalui prosedur hukum.

Ia menolak pendekatan berupa tindakan langsung seperti merobohkan atau merusak bangunan.

Sebaliknya, ia menyatakan bahwa pihaknya ingin menggunakan jalur hukum yang berlaku karena menganggap dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang taat aturan.

Asta Tinggi Sumenep Disebut dalam Pembahasan

Selain makam Sunan Ampel dan Sunan Bonang, pembicaraan juga menyebut Asta Tinggi di Sumenep.

KH Nur Ihyak Hadinegoro mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, kawasan tersebut tetap aman.

Ia kemudian menyampaikan kekhawatiran agar situs-situs sejarah lainnya juga tetap dijaga.

Dalam penjelasannya, perlindungan situs sejarah diposisikan sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Khairul Anwar: Cinta terhadap Keyakinan Jangan Buta

Sebagai penutup, Khairul Anwar kembali mengajak masyarakat untuk mengutamakan diskusi.

Ia menyampaikan pesan agar kecintaan terhadap keyakinan tidak membuat seseorang menutup diri terhadap data atau perbedaan pendapat.

Menurutnya, setiap orang berhak menarik kesimpulan setelah mengikuti proses diskusi dan mempelajari sumber yang tersedia.

Ia juga mengajak masyarakat mengedepankan akhlak dan tidak menggunakan emosi dalam menghadapi perbedaan.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penutup posisi yang disampaikan Khairul Anwar dalam tayangan 24 April 2026.

Kesimpulan

Tayangan KH Nur Ihyak Hadinegoro bersama KH Ir. Purna H. Kunarto dan Khairul Anwar pada 24 April 2026 membahas sejumlah isu yang saling berkaitan, mulai dari perkembangan laporan mengenai makam Sunan Ampel, perlindungan cagar budaya, dinamika diskusi nasab di Kalimantan Selatan, manuskrip Cilacap dan Giri, persoalan sejarah Baalawi, hingga pembahasan DNA.

Dalam konteks laporan makam Sunan Ampel, narasumber menyampaikan bahwa telah ada jawaban dari kepolisian tertanggal 21 April 2026 dan disebut adanya rencana pemanggilan sejumlah pihak untuk kepentingan penyelidikan.

Sementara dalam persoalan nasab, Khairul Anwar menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan di Kalimantan Selatan lebih menekankan dialog, silaturahmi, dan keterbukaan terhadap penelusuran catatan keluarga.

Kedua pihak juga menyampaikan bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya berujung pada permusuhan atau persekusi.

Adapun berbagai klaim sejarah, nasab, manuskrip, DNA, serta fenomena supranatural yang muncul dalam tayangan merupakan materi pernyataan narasumber. Transkrip yang menjadi dasar artikel ini tidak menyediakan seluruh dokumen primer, hasil penelitian laboratorium, atau verifikasi independen untuk memastikan seluruh klaim tersebut.

Karena itu, pembaca yang ingin mendalami persoalan tersebut tetap perlu membandingkan pernyataan dalam tayangan dengan sumber primer, manuskrip asli, kajian sejarah, penelitian filologi, penelitian genetika, serta dokumen resmi dari lembaga yang berwenang.

FAQ

Apa yang dibahas KH Nur Ihyak Hadinegoro pada 24 April 2026?

Pembahasan mencakup perkembangan laporan terkait makam Sunan Ampel di Surabaya, perlindungan cagar budaya, diskusi nasab, manuskrip Cilacap dan Giri, sejarah Baalawi, DNA, serta dinamika sosial keagamaan di Kalimantan Selatan.

Apa perkembangan laporan makam Sunan Ampel yang disampaikan dalam tayangan?

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyebut telah menerima jawaban dari Polres Tanjung Perak Surabaya tertanggal 21 April 2026. Dalam penjelasannya disebutkan adanya tindak lanjut penyelidikan dan rencana pemanggilan sejumlah pihak.

Siapa yang disebut akan dipanggil dalam proses penyelidikan?

Dalam tayangan disebutkan pimpinan Yayasan Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya serta pejabat bidang kebudayaan dan pariwisata Pemerintah Kota Surabaya. Pemanggilan tersebut disebut berkaitan dengan kepentingan penyelidikan.

Apa posisi Khairul Anwar dalam diskusi nasab?

Khairul Anwar menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan di Kalimantan Selatan lebih mengutamakan diskusi, silaturahmi, dan penelusuran data. Ia mengatakan pihaknya tidak ingin memutlakkan kesimpulan mengenai nasab seseorang.

Apakah seluruh klaim nasab dalam tayangan sudah terbukti?

Transkrip yang menjadi dasar artikel tidak memuat seluruh dokumen primer atau verifikasi independen. Karena itu, klaim mengenai nasab perlu dipahami sebagai pernyataan narasumber dan dibandingkan dengan sumber sejarah, manuskrip, dan penelitian terkait.

Apa yang dibahas mengenai manuskrip Cilacap?

KH Nur Ihyak Hadinegoro menyebut manuskrip Cilacap dalam konteks pembahasan jalur Wali Songo dan silsilah. Ia menyoroti perbedaan nama dalam sejumlah manuskrip yang menurutnya berkaitan dengan pembahasan nasab.

Apakah DNA juga dibahas?

Ya. DNA dibahas dalam konteks penelusuran nasab dan jalur keturunan. Namun, transkrip tidak mencantumkan laporan laboratorium atau data penelitian genetika yang dapat digunakan untuk memverifikasi klaim tersebut.

Apa pendekatan yang ditawarkan terhadap perbedaan pandangan?

Khairul Anwar menekankan dialog, silaturahmi, diskusi keilmuan, dan akhlakul karimah. Ia menyatakan bahwa hasil akhir dari sebuah diskusi dapat berbeda bagi setiap orang.

Mengapa cagar budaya menjadi perhatian dalam tayangan?

Menurut KH Nur Ihyak Hadinegoro, perubahan terhadap situs atau makam bersejarah dapat berdampak terhadap pemahaman sejarah generasi mendatang. Karena itu, ia menyatakan persoalan tersebut perlu ditempuh melalui jalur hukum dan aturan yang berlaku.

Apa pesan utama Khairul Anwar?

Khairul Anwar mengajak masyarakat mengedepankan diskusi keilmuan, tidak menggunakan emosi, serta tetap menjaga persaudaraan meskipun terdapat perbedaan pandangan. Ia juga menekankan pentingnya akhlakul karimah.

Sumber: PROSES DUGAAN MERUBAH CAGAR BUDAYA SUNAN AMPEL MASIH BERLANJUT

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button