Tubagus Mogi Nurfadhil Bahas Asal-Usul Wali Songo

Tubagus Mogi Nurfadhil Soroti Sejarah Wali Songo dan Silsilah Pangeran Benowo dalam Pidato di Pemalang
WARTA BATAVIA – Tubagus Mogi Nurfadhil menyampaikan pandangannya mengenai asal-usul Wali Songo, silsilah Pangeran Benowo, sejarah Pemalang, dan peran PWI-LS dalam pidato yang disiarkan kanal Ummatina pada 22 September 2026.
Tubagus Mogi Nurfadhil Bahas Asal-Usul Wali Songo dan Sejarah Pemalang
Tubagus Mogi Nurfadhil menyampaikan sejumlah pandangan mengenai sejarah Wali Songo, silsilah Pangeran Benowo, serta pentingnya menjaga sejarah lokal dalam sebuah pidato yang disiarkan melalui kanal YouTube Ummatina pada 22 September 2026.
Dalam pidatonya, Mogi menyoroti perbedaan pandangan mengenai asal-usul Wali Songo. Ia juga menguraikan hubungan genealogis yang menurut penuturannya menghubungkan Pangeran Benowo dengan sejumlah tokoh dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon, Banten, hingga keluarga yang disebutnya berkaitan dengan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Selain membicarakan sejarah dan nasab, ia menjelaskan tujuan perjuangan Perjuangan Walisongo Indonesia–Laskar Sabilillah (PWI-LS). Menurut Mogi, organisasi tersebut berupaya meneruskan perjuangan ulama Nusantara dan mengajak masyarakat menjaga identitas sejarah daerah.
Pidato itu juga memuat kritik terhadap kelompok yang disebutnya Ba’alawi, pandangannya mengenai kepemimpinan NU, serta seruan kepada masyarakat agar memperhatikan persoalan nasab, akhlak, dan hubungan sosial.
Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan Mogi dalam pidatonya. Uraian mengenai silsilah, asal-usul tokoh, dan tuduhan terhadap pihak tertentu memerlukan pemeriksaan tersendiri melalui sumber sejarah, dokumen genealogis, dan bukti yang relevan.
Mogi Menolak Pengaitan Wali Songo dengan Ba’alawi Yaman
Salah satu pokok pidato Mogi adalah tanggapannya terhadap pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenai hubungan Wali Songo dengan keturunan Ba’alawi.
Mogi menyatakan tidak sependapat dengan pengaitan tersebut. Ia menegaskan bahwa menurut pandangannya, Wali Songo bukan keturunan Ba’alawi dari Yaman.
Dalam penjelasannya, ia menyebut dua asal kedatangan tokoh yang dikaitkannya dengan Wali Songo, yakni Maghribi atau Maroko dan Samarkand yang sekarang berada di Uzbekistan.
Ia menghubungkan penyebutan Maulana Maghribi dengan kawasan Maroko. Sementara itu, ia menyebut Ibrahim As-Samarkandi sebagai ayah Sunan Ampel dan mengaitkan nama Samarkand dengan Uzbekistan.
Mogi kemudian menyebut sejumlah nama yang dikenal sebagai Wali Songo, antara lain Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.
Ia juga mengatakan bahwa para wali menggunakan gelar yang berkembang di Nusantara dan membaur dengan masyarakat setempat.
Pernyataan tentang gelar dan marga
Dalam pidato tersebut, Mogi menyatakan bahwa Wali Songo tidak menggunakan gelar Habib dan tidak bermarga bin Yahya, Assegaf, ataupun Al-Idrus.
Pernyataan itu menjadi bagian dari argumennya untuk membedakan tradisi penamaan dan silsilah yang ia kaitkan dengan Wali Songo dari kelompok Ba’alawi.
Namun, pidato tersebut tidak menyertakan pemaparan dokumen primer atau kajian akademik lengkap yang dapat digunakan untuk menguji seluruh klaim mengenai asal-usul, gelar, dan hubungan genealogis tersebut. Karena itu, klaim-klaim tersebut perlu dipahami sebagai pendapat narasumber, bukan sebagai hasil verifikasi sejarah yang telah disajikan dalam pidato.
Pangeran Benowo dan Hubungannya dengan Sejarah Pemalang
Bagian lain yang mendapat perhatian dalam pidato Mogi adalah penjelasannya mengenai Pangeran Benowo. Ia menghubungkan tokoh tersebut dengan sejarah Pemalang dan sejumlah garis keturunan di Jawa.
Mogi mengatakan bahwa berdasarkan bacaan dan data yang dimilikinya, Pangeran Benowo merupakan putra Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dari Pajang.
Ia menyebut bahwa Pangeran Benowo pernah berada di Pemalang. Menurutnya, hubungan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya masyarakat setempat mempelajari dan menjaga sejarah daerah.
Mogi juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang dibacanya di situs Pemerintah Kabupaten Pemalang, kabupaten tersebut didirikan pada 1575. Dengan demikian, ia menyebut tahun 2026 sebagai peringatan 451 tahun Pemalang.
Angka dan penanggalan tersebut disampaikan sebagai bagian dari pidatonya. Untuk memastikan kronologi hari jadi daerah, diperlukan pemeriksaan terhadap dokumen resmi pemerintah daerah dan sumber sejarah yang menjadi dasar penetapan tanggal tersebut.
Silsilah Pangeran Benowo menurut penuturan Mogi
Dalam pidatonya, Mogi menguraikan silsilah yang menghubungkan Pangeran Benowo dengan Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pengging Kebo Kenanga, serta tokoh yang disebutnya sebagai Prabu Handingrat.
Ia juga menyebut hubungan perkawinan dengan Dewi Kaniraras Retna Pembayun, yang dalam pidatonya dikaitkan dengan keluarga kerajaan Majapahit.
Mogi kemudian menghubungkan keturunan Pangeran Benowo dengan sejumlah keluarga dan tokoh di berbagai daerah. Ia menyebut Pangeran Alif atau Pangeran Benowo II sebagai salah satu jalur keturunan yang menurut datanya berkaitan dengan Syekh Hasyim Asy’ari, Gus Dur, dan Bani Mutamakin.
Penjelasan itu disampaikan untuk menekankan hubungan kekerabatan lintas daerah. Meski demikian, silsilah tersebut tetap perlu ditelusuri melalui sumber genealogis dan sejarah yang dapat diperiksa secara independen.
Silsilah sebagai Sarana Menyambung Silaturahmi
Mogi berulang kali menekankan bahwa silsilah keluarga seharusnya digunakan untuk menyambung hubungan kekerabatan, bukan sebagai dasar untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain.
Ia mengutip sebuah ungkapan berbahasa Arab yang dalam pidatonya diterjemahkan sebagai ajakan mempelajari nasab untuk membantu menyambung silaturahmi.
Menurut Mogi, hubungan keturunan dapat menjadi sarana untuk mengenali persaudaraan di antara masyarakat dari berbagai wilayah Nusantara.
Ia menyebut warga Pemalang, Surabaya, Cirebon, Banten, Tasikmalaya, Pekalongan, Mojokerto, dan daerah lain sebagai bagian dari jaringan persaudaraan yang, menurut penuturannya, dapat ditelusuri melalui hubungan sejarah dan keluarga.
Dalam konteks tersebut, ia mengaitkan Pangeran Benowo dengan sejumlah tokoh dan keluarga yang disebutnya memiliki hubungan dengan wilayah-wilayah tersebut.
Hubungan dengan Rhoma Irama dan keluarga dari berbagai daerah
Mogi juga menyebut Rhoma Irama dalam penjelasan mengenai garis keturunan Pangeran Benowo.
Ia menyampaikan bahwa menurut data yang dimilikinya, Rhoma Irama memiliki hubungan keturunan melalui jalur keluarga dari Tasikmalaya dan Banten. Ia kemudian menyimpulkan bahwa hubungan tersebut menjadikan Rhoma Irama sebagai saudara dalam pengertian kekerabatan dengan masyarakat Pemalang.
Selain itu, Mogi menyebut Ratu Diah Banowati, yang dalam pidatonya dikaitkan dengan Sultan Agung Mataram, serta Raden Ayu Adipati Galuh yang disebutnya berhubungan dengan garis keturunan di Jawa Barat.
Ia turut menyebut Nyai Mas Ampok Glangroros dan Ratu Mas Hartati dalam rangkaian silsilah yang dipaparkannya.
Seluruh hubungan tersebut merupakan penjelasan berdasarkan data yang diklaim dimiliki Mogi. Untuk memastikan ketepatan setiap mata rantai keturunan, diperlukan pencocokan nama, periode kehidupan, dokumen keluarga, dan sumber sejarah yang relevan.
PWI-LS dan Seruan Menjaga Sejarah Nusantara
Dalam pidato itu, Mogi menjelaskan bahwa PWI-LS bukan organisasi yang bertujuan menolak pengajian atau kegiatan selawatan. Ia menyatakan organisasi tersebut berupaya meneruskan perjuangan Wali Songo dan ulama Nusantara.
Ia juga menyampaikan bahwa PWI-LS mengajak masyarakat untuk menjaga sejarah daerah agar tidak mengalami perubahan atau penafsiran yang dianggapnya tidak sesuai dengan sumber sejarah.
Mogi mengaitkan seruan tersebut dengan peringatan terhadap klaim nasab dan penggunaan identitas keturunan dalam kehidupan sosial. Ia menyampaikan kritik keras terhadap kelompok Ba’alawi, termasuk tuduhan mengenai perilaku dan sikap sebagian orang yang disebutnya dalam pidato.
Tuduhan-tuduhan tersebut merupakan pernyataan Mogi dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti hanya berdasarkan rekaman pidato. Penilaian terhadap individu atau kelompok tertentu membutuhkan bukti yang dapat diuji serta kesempatan bagi pihak yang disebut untuk memberikan tanggapan.
Yel-yel dan nilai yang disampaikan PWI-LS
Mogi juga memimpin penyampaian yel-yel organisasi. Ia menyebut tiga seruan, yaitu:
- “Izul Islam wal Muslimin.”
- “Izul Indonesia wal Indonesiin.”
- “Rahmatan lil alamin.”
Ia menjelaskan seruan tersebut sebagai doa bagi kejayaan Islam dan umat Islam, Indonesia dan rakyat Indonesia, serta pengingat untuk meneruskan perjuangan yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dalam pidato yang sama, ia menyampaikan seruan “Indonesia jaya” dan “Pancasila jaya”, serta menekankan pentingnya persatuan di antara anggota organisasi.
Pandangan Mogi tentang NU dan Kepemimpinan Organisasi
Mogi menyebut PWI-LS sebagai “NU plus” dalam pengertian yang ia jelaskan sebagai upaya menyadarkan umat mengenai persoalan yang menurutnya perlu mendapat perhatian.
Ia menghubungkan sejarah NU dengan perjuangan ulama dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk perdebatan keagamaan dan kolonialisme Belanda.
Dalam pandangannya, PWI-LS berupaya melanjutkan perjuangan tersebut melalui perhatian terhadap sejarah Nusantara, nasab, serta apa yang ia sebut sebagai kemungkaran.
Mogi juga menyampaikan pandangan mengenai kepemimpinan PBNU. Ia menyerukan agar warga NU memperhatikan latar belakang dan sikap calon pemimpin organisasi, serta menyampaikan penolakannya terhadap keterlibatan tokoh yang ia sebut sebagai bagian dari kelompok Ba’alawi dalam kepengurusan NU.
Pernyataan tersebut merupakan sikap politik-organisasional yang disampaikan Mogi dalam pidatonya. Ia tidak memaparkan secara lengkap mekanisme pemilihan atau tanggapan dari pihak-pihak yang menjadi sasaran kritiknya.
Seruan tentang Akhlak, Perempuan, dan Hubungan Sosial
Pidato Mogi juga memuat pesan mengenai akhlak dan perlindungan perempuan. Ia menyampaikan imbauan kepada orang tua agar memperhatikan calon pasangan anak-anak mereka dan menilai seseorang berdasarkan perilaku, bukan penampilan atau klaim keturunan.
Dalam menyampaikan pesan itu, Mogi mengemukakan tuduhan terhadap sejumlah individu yang disebutnya. Ia juga menyampaikan klaim mengenai perkawinan, mahar, dan dugaan perlakuan terhadap perempuan.
Klaim mengenai individu tertentu tersebut tidak disertai pembuktian lengkap dalam materi pidato yang tersedia. Oleh karena itu, tuduhan tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati dan tidak digeneralisasi kepada seluruh anggota kelompok atau komunitas tertentu.
Mogi turut mengkritik sikap yang menurutnya merendahkan ulama dan kiai Nusantara. Ia menyatakan bahwa ukuran kemuliaan seseorang seharusnya tidak semata-mata didasarkan pada keturunan.
Dalam pidatonya, ia mengutip prinsip bahwa kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan. Ia menghubungkan pesan tersebut dengan seruannya agar masyarakat tidak menggunakan silsilah sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Mubahalah dan Penolakan terhadap Kekerasan
Menjelang bagian akhir pidato, Mogi membahas mubahalah sebagai bentuk doa untuk menyerahkan persoalan kebenaran kepada Allah.
Ia menyebut mubahalah sebagai cara yang menurutnya lebih halus dibandingkan kekerasan fisik. Ia juga menyatakan bahwa PWI-LS tidak mengajak anggotanya membawa senjata tajam.
Mogi mengkritik seruan kekerasan yang menurutnya muncul dalam konflik tertentu dan menekankan bahwa perjuangan organisasi harus dilakukan tanpa menggunakan senjata tajam.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari penjelasannya mengenai cara organisasi menjalankan perjuangan dan menyikapi perbedaan.
Pesan Persatuan dan Identitas Indonesia
Mogi mengakhiri rangkaian pemikirannya dengan menyinggung Sumpah Pemuda 1928 dan identitas kebangsaan Indonesia.
Ia menekankan bahwa masyarakat dari berbagai daerah memiliki hubungan sebagai sesama warga Indonesia. Ia juga menyampaikan bahwa perbedaan bahasa, asal-usul, dan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan kelompok lain.
Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa ajaran Islam ditujukan bagi seluruh umat manusia dan bukan hanya masyarakat Arab. Ia juga menyinggung penggunaan bahasa Arab dalam ibadah serta menyatakan bahwa hal tersebut tidak berarti orang Arab secara otomatis lebih mulia daripada bangsa lain.
Mogi turut menyampaikan pandangannya mengenai toleransi antarumat beragama dan dasar negara, termasuk prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kesimpulan
Pidato Tubagus Mogi Nurfadhil di kanal Ummatina pada 22 September 2026 memuat sejumlah tema, mulai dari asal-usul Wali Songo, silsilah Pangeran Benowo, sejarah Pemalang, hubungan kekerabatan lintas daerah, hingga peran PWI-LS dan pandangannya terhadap NU.
Mogi menggunakan uraian sejarah dan genealogis untuk menyampaikan pesan mengenai persaudaraan serta pentingnya menjaga identitas Nusantara. Pada saat yang sama, pidatonya juga memuat kritik dan tuduhan terhadap kelompok maupun individu tertentu yang memerlukan verifikasi dan tanggapan dari pihak terkait.
Pemaparan tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami pandangan narasumber. Namun, kepastian mengenai silsilah, kronologi sejarah, dan tuduhan yang disampaikan perlu ditentukan melalui pemeriksaan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
FAQ
1. Siapa Tubagus Mogi Nurfadhil?
Tubagus Mogi Nurfadhil adalah narasumber dalam pidato yang disiarkan kanal Ummatina pada 22 September 2026. Dalam pidato tersebut, ia membahas sejarah Wali Songo, nasab, Pangeran Benowo, Pemalang, dan PWI-LS.
2. Apa pandangan Mogi mengenai asal-usul Wali Songo?
Mogi menyatakan bahwa Wali Songo bukan keturunan Ba’alawi Yaman. Ia mengaitkan sebagian tokoh dengan Maghribi atau Maroko dan Samarkand yang sekarang berada di Uzbekistan. Pernyataan ini merupakan pandangannya dalam pidato dan memerlukan pemeriksaan sejarah tersendiri.
3. Siapa Pangeran Benowo menurut penjelasan Mogi?
Mogi menyebut Pangeran Benowo sebagai putra Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Ia menghubungkan Pangeran Benowo dengan sejarah Pemalang dan sejumlah garis keturunan di berbagai wilayah Nusantara.
4. Apa tujuan PWI-LS menurut Mogi?
Menurut Mogi, PWI-LS berupaya meneruskan perjuangan Wali Songo dan ulama Nusantara, menjaga sejarah daerah, serta menyampaikan seruan keagamaan dan kebangsaan.
5. Apa pesan Mogi mengenai silsilah?
Mogi menekankan bahwa silsilah seharusnya digunakan untuk menyambung silaturahmi dan mengenali hubungan kekerabatan, bukan untuk menyombongkan diri atau merendahkan orang lain.
6. Apakah seluruh klaim sejarah dalam pidato telah terverifikasi?
Tidak dapat disimpulkan demikian dari materi pidato saja. Klaim mengenai asal-usul Wali Songo, silsilah Pangeran Benowo, dan hubungan keturunan tokoh-tokoh tertentu memerlukan pemeriksaan terhadap dokumen dan sumber sejarah yang relevan.
Sumber: pidato Tubagus Mogi Nurfadhil, kanal Ummatina, 22 September 2026.



