invisible hit counter
BERITANasional

Pidato Rhoma Irama di Tegal: Pancasila Disebut Memiliki Nilai-Nilai Islami

WARTA BATAVIA – TEGAL – Musisi sekaligus tokoh publik Rhoma Irama menyampaikan pidato mengenai Pancasila, nilai-nilai Islam, persatuan Indonesia, dan peran Perjuangan Wali Laskar Sabilillah (PWLS) dalam sebuah kegiatan di Tegal. Pidato tersebut diunggah di kanal YouTube Ummatina pada 3 Oktober 2026.

Dalam pidatonya, Rhoma Irama menyapa sejumlah ulama dan tokoh yang hadir, di antaranya KH Imaduddin Utsman serta Gus Abbas Buntet selaku Ketua Umum PWLS. Ia juga menyapa sejumlah organisasi dan komunitas yang disebut hadir dalam kegiatan tersebut.

Salah satu bagian utama pidato Rhoma Irama membahas hubungan antara Pancasila dan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran Islam. Ia mengatakan bahwa sejumlah prinsip dalam Pancasila memiliki nilai yang menurutnya sejalan dengan ajaran Islam.

Rhoma juga mengaitkan Pancasila dengan keberagaman masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, budaya, dan agama.

Rhoma Irama Sapa Ulama dan Peserta Acara di Tegal

Pada awal pidatonya, Rhoma Irama menyampaikan salam dan penghormatan kepada para ulama yang hadir.

Ia secara khusus menyebut KH Imaduddin Utsman yang dalam pidatonya disebut sebagai ulama dan mujadid. Rhoma kemudian meminta peserta memberikan tepuk tangan untuk KH Imaduddin.

Rhoma juga menyebut Gus Abbas Buntet sebagai Ketua Umum PWLS.

Selain itu, Rhoma menyampaikan penghormatan kepada para ulama dan kiai lainnya yang hadir dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, ia menyapa sejumlah unsur dan organisasi yang disebut hadir, antara lain Pimpinan Daerah Kota Tegal, Forum Silaturahmi Takmir Masjid dan Musala Indonesia atau Fahmi Tamami, Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (PAMD), serta komunitas Claners Indonesia.

Rhoma Irama Bicara tentang Forsa

Sebelum masuk ke materi mengenai Pancasila, Rhoma Irama berinteraksi dengan peserta mengenai komunitas penggemarnya.

Ia menanyakan apakah di Tegal terdapat penggemar Rhoma Irama dan Soneta. Peserta kemudian memberikan respons dengan sorakan.

Rhoma menjelaskan bahwa komunitas penggemar Rhoma Irama dan Soneta disebut Forsa, singkatan dari Fans of Rhoma and Soneta.

Menurut Rhoma, Forsa terdiri atas unsur struktural dan kultural.

Ia menjelaskan bahwa Forsa struktural memiliki aturan organisasi dan harus menjalankan empat prinsip yang disebut sebagai 4B, yaitu beriman, bertakwa, berakhlakul karimah, dan berloyalitas.

Sementara itu, Rhoma mengatakan bahwa orang yang menjadi penggemar Rhoma Irama dan Soneta tetapi tidak menjadi bagian dari struktur organisasi tetap dapat disebut sebagai Forsa dalam konteks kultural.

Rhoma Irama Nyanyikan Lagu di Hadapan Peserta

Dalam pidatonya, Rhoma Irama juga sempat menyanyikan sejumlah bagian lagu untuk menghidupkan suasana acara.

Ia mengatakan bahwa waktu pelaksanaan kegiatan sudah memasuki sore sehingga dirinya mempertimbangkan untuk menyanyi sebelum memberikan kesempatan kepada KH Imaduddin Utsman menyampaikan tausiah.

Rhoma kemudian menyanyikan bagian lagu yang mendapat respons dari peserta.

Setelah itu, ia kembali mengarahkan pembicaraan kepada PWILS dan materi mengenai Pancasila.

Jama'ah Antusias Menyimak Pidato Rhoma Irama di Tegal, Pancasila Disebut Memiliki Nilai Nilai Islami

Rhoma Irama Jelaskan Tiga Makna PWILS

Dalam pidatonya, Rhoma Irama meminta peserta mengikuti penyebutan PWILS dengan sejumlah frasa.

Ia menyebut tiga gagasan yang dikaitkannya dengan PWILS, yakni perjuangan untuk kejayaan umat Islam dan agama Islam, perjuangan untuk kejayaan Indonesia dan bangsa Indonesia, serta penyebaran rahmatan lil alamin.

Rhoma menyampaikan bahwa PWILS didirikan untuk kejayaan umat Islam dan agama Islam.

Pernyataan tersebut kemudian diikuti respons peserta.

Selanjutnya, ia menyebut PWILS sebagai organisasi yang didirikan untuk kejayaan Indonesia dan bangsa Indonesia.

Poin ketiga yang disampaikan Rhoma adalah peran PWILS sebagai penyebar rahmatan lil alamin atau kasih sayang kepada seluruh manusia.

Lagu “Pembaharuan” dan Latar Belakang Pembuatannya

Bagian penting lainnya dalam pidato Rhoma Irama adalah penjelasannya mengenai lagu “Pembaharuan”.

Rhoma mengatakan lagu tersebut dibuat ketika di Indonesia muncul gerakan-gerakan yang dikaitkannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ia juga menyebut munculnya gerakan untuk mendirikan negara Islam sebagai salah satu latar belakang pembuatan lagu tersebut.

Menurut Rhoma, lagu itu dibuat dengan latar pemikiran mengenai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia kemudian menjelaskan pandangannya mengenai hubungan nilai-nilai dalam Pancasila dengan ajaran Islam.

Rhoma Sebut Sila Pertama Berkaitan dengan Tauhid

Dalam pidatonya, Rhoma Irama menjelaskan sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ia mengaitkan sila tersebut dengan konsep tauhid dalam Islam.

Rhoma menyebut bahwa prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa menurutnya dapat dikaitkan dengan kandungan Surah Al-Ikhlas, khususnya ayat yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Ia kemudian melanjutkan penjelasan terhadap sila-sila berikutnya.

Sila Kemanusiaan dan Prinsip Keadilan

Rhoma juga membahas sila kedua Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Dalam penjelasannya, ia mengaitkan prinsip tersebut dengan ajaran Al-Quran mengenai keadilan.

Rhoma mengutip makna ayat yang memerintahkan umat Islam agar tidak berlaku tidak adil terhadap suatu kaum meskipun terdapat ketidaksukaan terhadap kaum tersebut.

Dengan demikian, dalam pidatonya Rhoma menempatkan prinsip kemanusiaan dan keadilan sebagai salah satu nilai yang memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam.

Sila Persatuan Indonesia dan Keberagaman

Pembahasan berikutnya beralih kepada sila ketiga, yaitu Persatuan Indonesia.

Rhoma mengaitkan sila persatuan dengan ayat Al-Quran yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian berkembang menjadi bangsa-bangsa dan suku-suku.

Ia menyampaikan bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Menurut Rhoma, Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan latar budaya yang berbeda.

Dalam pidatonya, ia menyebut angka sekitar 700 suku bangsa di Indonesia.

Keragaman tersebut, menurut Rhoma dalam pidatonya, dapat dipersatukan melalui Pancasila.

Ia kemudian menyebut sejumlah kelompok etnis yang terdapat di Indonesia, seperti Sunda, Jawa, Aceh, dan Batak.

Musyawarah Mufakat dalam Pidato Rhoma Irama

Rhoma Irama juga menyinggung sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Ia mengaitkan prinsip musyawarah dengan konsep dalam Islam.

Dalam pidatonya, Rhoma menyebut istilah “wasyawirhum fil amr” sebagai salah satu rujukan yang dikaitkannya dengan prinsip musyawarah.

Pembahasan tersebut ditempatkan Rhoma dalam rangkaian penjelasannya mengenai nilai-nilai Pancasila yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan ajaran Islam.

Keadilan Sosial dan Konsep Sedekah

Sila kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga menjadi bagian dari pembahasan Rhoma.

Ia mengaitkan konsep keadilan sosial dengan sejumlah ajaran dalam Islam, termasuk sedekah dan infak.

Rhoma menyebut konsep tersebut sebagai bagian dari nilai sosial dalam Islam.

Dalam konteks pidatonya, pembahasan sila kelima menjadi bagian dari argumentasi Rhoma mengenai hubungan antara nilai Pancasila dan nilai-nilai keislaman.

Rhoma Irama Kaitkan Pancasila dengan Piagam Madinah

Rhoma Irama Kaitkan Pancasila dengan Piagam Madinah

Selain menghubungkan setiap sila Pancasila dengan nilai-nilai Islam, Rhoma Irama juga menyebut Piagam Madinah.

Ia mengatakan bahwa Pancasila setidaknya memiliki kemiripan atau keterkaitan nilai dengan Piagam Madinah yang dikaitkannya dengan Rasulullah SAW di Madinah.

Dalam pidatonya, Rhoma menggunakan istilah “copy paste” untuk menggambarkan pandangannya mengenai hubungan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan ketika ia menjelaskan mengenai prinsip kehidupan bersama yang melibatkan masyarakat dengan latar belakang berbeda.

Piagam Madinah sendiri dalam pidato Rhoma ditempatkan sebagai bagian dari pembahasan mengenai tata kehidupan masyarakat yang beragam.

Keberagaman Indonesia dalam Perspektif Rhoma Irama

Rhoma kemudian kembali menekankan kondisi Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama.

Ia menyebut bahwa masyarakat Indonesia berasal dari berbagai latar belakang.

Keberagaman tersebut, menurut penjelasan Rhoma dalam pidatonya, membutuhkan suatu prinsip yang dapat menjadi titik temu bersama.

Dalam konteks itulah Rhoma menempatkan Pancasila sebagai dasar yang dapat mempersatukan masyarakat Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara yang juga dihadiri sejumlah ulama, tokoh masyarakat, serta komunitas pendukung Rhoma Irama dan Soneta.

Rhoma Irama Persilakan KH Imaduddin Utsman Berikan Tausiah

Menjelang akhir pidatonya, Rhoma Irama menyampaikan bahwa KH Imaduddin Utsman akan memberikan tausiah.

Ia menyebut materi yang akan disampaikan berkaitan dengan Pancasila.

Rhoma kemudian mengatakan bahwa dirinya akan kembali bernyanyi setelah KH Imaduddin menyampaikan tausiah.

Dalam bagian penutup tersebut, Rhoma kembali mengarahkan perhatian peserta kepada KH Imaduddin.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan agenda berikutnya.

Isi Pidato Rhoma Irama di Tegal

Isi Pidato Rhoma Irama di Tegal

Secara umum, pidato Rhoma Irama dalam kegiatan tersebut mencakup beberapa pokok pembahasan, yakni:

  1. Penghormatan kepada ulama dan tokoh yang hadir.
  2. Penjelasan mengenai Forsa sebagai komunitas penggemar Rhoma Irama dan Soneta.
  3. Penyebutan empat prinsip Forsa struktural, yaitu beriman, bertakwa, berakhlakul karimah, dan berloyalitas.
  4. Penjelasan mengenai tiga gagasan yang dikaitkan dengan PWLS.
  5. Latar belakang pembuatan lagu “Pembaharuan”.
  6. Hubungan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Islam menurut penjelasan Rhoma.
  7. Keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia.
  8. Penyebutan Piagam Madinah dalam pembahasan mengenai Pancasila.
  9. Penyerahan agenda tausiah berikutnya kepada KH Imaduddin Utsman.

Pidato tersebut berlangsung dalam suasana interaktif. Rhoma beberapa kali mengajak peserta merespons dengan sorakan dan bernyanyi bersama.

FAQ

Siapa yang menyampaikan pidato dalam acara tersebut?

Pidato tersebut disampaikan oleh Rhoma Irama. Materi pidato diunggah di kanal YouTube Ummatina pada 3 Oktober 2026.

Di mana kegiatan tersebut berlangsung?

Dalam pidatonya, Rhoma Irama secara eksplisit menyapa dan menyebut peserta serta unsur yang berada di Tegal. Materi yang diberikan tidak mencantumkan nama lengkap lokasi atau gedung kegiatan secara spesifik.

Siapa tokoh yang disebut Rhoma Irama?

Rhoma secara khusus menyebut KH Imaduddin Utsman dan Gus Abbas Buntet. Ia juga menyapa para ulama, kiai, serta sejumlah organisasi dan komunitas yang disebut hadir.

Apa yang dibahas Rhoma Irama mengenai Pancasila?

Rhoma membahas hubungan antara lima sila Pancasila dengan nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran Islam. Ia mengaitkan Ketuhanan Yang Maha Esa dengan tauhid, kemanusiaan dengan prinsip keadilan, persatuan dengan keberagaman manusia, musyawarah dengan ajaran Islam, serta keadilan sosial dengan konsep seperti sedekah dan infak.

Apa yang dikatakan Rhoma tentang keberagaman Indonesia?

Rhoma menyebut Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan beragam budaya dan agama. Ia mengatakan keberagaman tersebut dapat dipersatukan melalui Pancasila.

Apa yang dimaksud Forsa dalam pidato Rhoma Irama?

Forsa merupakan singkatan yang digunakan untuk menyebut Fans of Rhoma and Soneta. Rhoma menjelaskan adanya Forsa struktural dan kultural.

Apa yang dikatakan Rhoma mengenai lagu “Pembaharuan”?

Rhoma mengatakan lagu “Pembaharuan” dibuat ketika menurutnya terdapat gerakan-gerakan yang berkaitan dengan PKI dan gerakan untuk mendirikan negara Islam. Lagu tersebut kemudian dikaitkannya dengan pembahasan mengenai Pancasila.

Apa kaitan Piagam Madinah dengan pidato Rhoma?

Rhoma menyebut Piagam Madinah dalam pembahasannya mengenai nilai-nilai Pancasila dan kehidupan masyarakat yang beragam. Ia menyampaikan pandangannya mengenai adanya keterkaitan nilai antara Pancasila dan Piagam Madinah.

Penutup

Pidato Rhoma Irama di Tegal yang diunggah kanal Ummatina pada 3 Oktober 2026 membahas sejumlah tema, mulai dari Forsa, PWLS, Pancasila, keberagaman Indonesia, nilai-nilai Islam, hingga Piagam Madinah.

Dalam pidato tersebut, Rhoma menjelaskan pandangannya mengenai keterkaitan nilai-nilai Pancasila dengan ajaran Islam. Ia juga menekankan keberagaman masyarakat Indonesia dan menyebut Pancasila sebagai prinsip yang dapat mempersatukan masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, budaya, dan agama.

Setelah menyampaikan pidatonya, Rhoma Irama mempersilakan KH Imaduddin Utsman untuk melanjutkan acara dengan tausiah mengenai Pancasila.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button