invisible hit counter
BERITANasional

Kenapa Tidak Ikuti Arus Penyambutan Habib Umar bin Hafidz

KH Ubaidillah Tamam: Tak Ikut Arus Penyambutan Habib Umar bin HafidzBukan Berarti Benci

WARTA BATAVIA – KH Ubaidillah Tamam menjelaskan alasan sebagian masyarakat Indonesia tidak mengikuti arus penyambutan Habib Umar bin Hafidz. Menurutnya, perbedaan itu berkaitan dengan latar belakang historis dan kultur.

KH Ubaidillah Tamam Jelaskan Alasan Sebagian Masyarakat Tidak Mengikuti Arus Penyambutan Habib Umar bin Hafidz

KH Ubaidillah Tamam menyampaikan pandangannya mengenai respons sebagian masyarakat Indonesia terhadap kedatangan Habib Umar bin Hafidz. Ia menilai, masyarakat yang tidak turut masuk dalam arus penyambutan tersebut tidak serta-merta dapat dipahami sebagai kelompok yang membenci atau menyimpan dendam.

Penjelasan tersebut disampaikan KH Ubaidillah Tamam melalui kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 23 Oktober 2026. Dalam keterangannya, ia mengaitkan perbedaan respons masyarakat dengan faktor kultur dan latar belakang historis yang berbeda.

Menurut KH Ubaidillah Tamam, tidak semua orang memiliki pengalaman sejarah, pendidikan, lingkungan keagamaan, maupun interaksi sosial yang sama. Karena itu, ia mengatakan tidak tepat apabila setiap orang dianggap harus mengikuti pola penyambutan tertentu ketika Habib Umar bin Hafid datang ke Indonesia.

Ia juga menjelaskan bahwa orang-orang yang memiliki pengalaman belajar di Yaman, berinteraksi dengan kalangan habib, atau memperoleh pendidikan keagamaan tertentu dapat mempunyai latar belakang yang membuat mereka lebih dekat dengan sosok Habib Umar bin Hafid.

Sebaliknya, masyarakat yang tidak mempunyai pengalaman tersebut dinilai memiliki hak untuk menentukan sikap berdasarkan latar belakang historis, prinsip moral, dan etika yang mereka pegang.

Perbedaan Kultur Menjadi Salah Satu Pokok Penjelasan

KH Ubaidillah Tamam menekankan bahwa persoalan tersebut, menurut penjelasannya, berkaitan dengan perbedaan kultur dan perbedaan latar belakang historis.

Ia menyebut, tidak semua masyarakat Indonesia mempunyai hubungan historis yang sama dengan tradisi keagamaan yang berkembang di Hadramaut. Karena itu, kedatangan seorang tokoh dari lingkungan Hadramaut tidak otomatis menghasilkan respons yang seragam dari seluruh masyarakat Indonesia.

Dalam penjelasannya, ia menggambarkan adanya kelompok masyarakat yang memiliki hubungan pendidikan dan sosial dengan Yaman. Ada pula mereka yang pernah belajar di luar negeri, termasuk Mesir, dan memperoleh pemahaman mengenai komunitas atau tokoh tertentu dari guru, syekh, profesor, maupun ustaz yang mereka temui.

Menurut dia, pengalaman tersebut dapat membentuk cara seseorang memandang tokoh dan komunitas tertentu.

Pengalaman Pendidikan Membentuk Perspektif

KH Ubaidillah Tamam menyebut pengalaman pendidikan sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi perspektif seseorang.

Ia mengatakan, seseorang yang pernah belajar di Yaman atau berguru kepada kalangan habib mungkin telah memperoleh informasi tertentu mengenai tradisi dan sejarah komunitas tersebut. Hal serupa, menurut penjelasannya, dapat terjadi pada orang yang menempuh pendidikan di Mesir atau negara lain.

Dengan demikian, perbedaan sikap terhadap kedatangan Habib Umar bin Hafid tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui faktor suka atau tidak suka.

Penjelasan tentang Husnuzan dalam Relasi Keagamaan

Dalam pemaparannya, KH Ubaidillah Tamam juga membahas istilah husnuzan atau prasangka baik dalam hubungan antara kelompok masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa seorang ulama dapat memberikan penghargaan terhadap sebuah komunitas karena pertimbangan hubungan sosial, keberagaman, serta upaya menjaga relasi. Namun, menurut dia, penghargaan tersebut tidak otomatis berarti seluruh pandangan atau klaim komunitas tersebut telah dijadikan dasar pembuktian ilmiah.

KH Ubaidillah Tamam membedakan antara penghargaan dalam hubungan sosial dengan posisi sebuah pernyataan sebagai dasar pembuktian atau isbat.

Ia mengatakan, persoalan dapat muncul ketika pernyataan yang awalnya disampaikan dalam konteks penghargaan atau husnuzan kemudian dipahami sebagai pembuktian terhadap sebuah klaim.

Penghargaan dan Pembuktian Disebut Berbeda

Menurut KH Ubaidillah Tamam, pernyataan seorang ulama dalam konteks menjaga hubungan sosial tidak selalu dapat ditempatkan sebagai data pembuktian.

Ia mencontohkan bahwa ulama yang berada dalam lingkungan keberagamaan mainstream dapat bersentuhan dengan berbagai kelompok yang berada di luar arus utama. Interaksi tersebut, menurut dia, dapat menghasilkan sikap saling menghargai tanpa harus menjadikan seluruh pandangan kelompok yang dihargai sebagai dasar keilmuan.

Ia menyebut hubungan semacam itu sebagai relasi sosiologis dan antropologis.

KH Ubaidillah Tamam Singgung Sejarah Mesir dan Dinasti Fatimiyah

KH Ubaidillah Tamam Singgung Sejarah Mesir dan Dinasti Fatimiyah

Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan sejarah Mesir dan Dinasti Fatimiyah.

Ia menyebut bahwa Mesir pernah menjadi wilayah berkembangnya Dinasti Fatimiyah. Dalam konteks yang ia sampaikan, perkembangan sejarah tersebut ikut membentuk lingkungan pemikiran dan kepercayaan tertentu yang kemudian memiliki pengaruh dalam perjalanan sejarah Islam.

KH Ubaidillah Tamam kemudian menyebut kebijakan Salahuddin al-Ayyubi sebagai bagian dari perubahan sejarah tersebut. Menurut penjelasannya, perubahan kekuasaan dan corak keberagamaan pada masa itu memiliki dampak terhadap perkembangan tradisi keilmuan dan keberagamaan.

Ia juga menyebut adanya komunitas-komunitas kecil yang tetap bertahan di luar struktur kekuasaan dan arus utama keberagamaan. Menurut dia, keberadaan komunitas tersebut tetap dapat memengaruhi perkembangan pengetahuan dan pandangan sejumlah ilmuwan.

Penjelasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari kerangka historis yang digunakan KH Ubaidillah Tamam untuk menerangkan bagaimana sebuah keyakinan dan pandangan dapat bertahan lintas generasi.

Glorifikasi dan Klaim Nasab dalam Penjelasan KH Ubaidillah Tamam

Glorifikasi dan Klaim Nasab dalam Penjelasan KH Ubaidillah Tamam

KH Ubaidillah Tamam kemudian mengarahkan pembahasannya pada persoalan glorifikasi dan klaim nasab yang menurutnya berkembang di sebagian komunitas.

Dalam transkrip tersebut, ia menggunakan istilah “Pak Alwi” ketika menjelaskan sebuah klan dan komunitas yang menurutnya memiliki ikatan tradisi serta kepercayaan terhadap klaim keturunan Nabi.

Ia menyampaikan bahwa klaim tersebut, menurut pandangannya, kemudian dapat memperoleh penguatan ketika bersentuhan dengan pernyataan ulama yang sebenarnya disampaikan dalam konteks husnuzan atau menjaga hubungan sosial.

Menurut KH Ubaidillah Tamam, persoalan muncul apabila pernyataan penghargaan tersebut kemudian digunakan sebagai penguat klaim nasab tanpa disertai riset yang secara langsung menguji klaim tersebut.

Riset Disebut Berbeda dari Kepercayaan

KH Ubaidillah Tamam menegaskan bahwa persoalan yang dibicarakannya bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya.

Ia mengatakan bahwa perdebatan seharusnya diarahkan pada pemaparan hasil riset. Dalam penjelasannya, ia mengkritik penggunaan istilah seperti “kualat” atau anggapan bahwa ilmu seseorang tidak berkah ketika seseorang mempertanyakan hasil atau klaim mengenai nasab.

Menurut dia, penggunaan istilah tersebut dapat menjadi bagian dari glorifikasi yang membuat sebuah klaim dipertahankan melalui mekanisme keyakinan dan doktrin, bukan melalui penelitian.

Fenomena Serupa Disebut Terjadi di Indonesia

KH Ubaidillah Tamam mengatakan bahwa fenomena hubungan antara kelompok minoritas dan masyarakat mayoritas juga terjadi di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa ulama-ulama Indonesia tetap memberikan penghargaan terhadap kelompok tertentu meskipun basis keilmuan mereka berada dalam tradisi keilmuan Islam yang berbeda.

Menurutnya, tradisi keilmuan ulama Nusantara memiliki hubungan dengan sistem pendidikan Islam dan kajian kitab yang berkembang dalam lingkungan masyarakat Sunni. Namun, interaksi sosial dengan berbagai kelompok tetap membuat hubungan antarkomunitas berlangsung secara dinamis.

Dalam konteks tersebut, ia menyebut sikap ulama Indonesia terhadap komunitas yang dibahasnya sebagai bentuk husnuzan.

Perubahan Respons dalam Beberapa Dekade Terakhir

KH Ubaidillah Tamam juga membahas perubahan relasi sosial yang menurutnya terlihat dalam beberapa dekade terakhir.

Ia mengatakan, pada masa tertentu hubungan tersebut berlangsung dalam suasana kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan. Namun, menurut penjelasannya, dalam sekitar 15 hingga 20 tahun terakhir mulai muncul apa yang ia sebut sebagai glorifikasi dan pembentukan ideologi yang kemudian berdampak pada hubungan dengan ulama Nusantara.

Ia menyinggung adanya pernyataan yang menurutnya menempatkan seorang habib lebih tinggi dibandingkan banyak ulama Nusantara.

Dalam konteks tersebut, ia mengatakan bahwa kritik kemudian muncul sebagai respons terhadap perubahan pola hubungan sosial dan keagamaan.

KH Ubaidillah Tamam juga menyebut tesis Kiai Imad sebagai salah satu momentum dalam perkembangan pertanyaan terhadap isu tersebut. Namun, dalam penjelasannya, ia tetap menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka perubahan sosial dan perkembangan diskursus keagamaan.

Kritik Disebut Tidak Ditujukan kepada Pribadi Habib Umar bin Hafidz

Salah satu bagian penting dari penjelasan KH Ubaidillah Tamam adalah penegasannya mengenai sosok Habib Umar bin Hafidz.

Ia menyatakan bahwa dirinya memandang Habib Umar bin Hafidz sebagai sosok yang saleh, baik, muslim, mukmin, muhsin, dan muttaqin. Pernyataan tersebut disampaikan untuk menegaskan bahwa kritik terhadap suatu arus pemikiran tidak otomatis berarti kebencian terhadap pribadi seseorang.

Menurutnya, seseorang dapat menghormati pribadi Habib Umar bin Hafidz sekaligus memilih untuk tidak mengikuti seluruh arus pemikiran yang berkaitan dengan Hadramautisme.

Ia juga mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki hak untuk mempertahankan prinsip dan karakter yang terbentuk dari sejarah Nusantara.

Islam Nusantara dan Hadramautisme

Dalam bagian lain, KH Ubaidillah Tamam menyebut istilah Hadramautisme dan Islam Nusantara sebagai dua kerangka historis yang menurutnya berkembang dari latar belakang berbeda.

Ia mengatakan bahwa Habib Umar bin Hafidz secara historis membawa latar belakang Hadramaut, sementara masyarakat Nusantara memiliki karakter dan prinsip etik yang terbentuk dari perjalanan sejarahnya sendiri.

Menurut dia, perbedaan tersebut tidak harus dipahami sebagai permusuhan.

Ia menyebut pilihan seseorang untuk mengikuti tradisi tertentu sebagai bagian dari historisitas masing-masing.

Karakter Nusantara dalam Perspektif KH Ubaidillah Tamam

KH Ubaidillah Tamam memberikan contoh mengenai standar etika masyarakat Nusantara dalam kehidupan sosial.

Ia menyinggung persoalan bacaan imam dalam salat dan etika dalam hubungan diplomasi dengan pejabat negara. Menurutnya, masyarakat Nusantara memiliki ukuran etik tertentu yang dibentuk oleh pengalaman sosial dan budaya.

Karena itu, sesuatu yang dianggap biasa dalam satu kultur belum tentu dipandang sama dalam kultur lainnya.

Ia menggunakan contoh tersebut untuk menjelaskan bahwa respons masyarakat terhadap sebuah tokoh tidak selalu harus dibaca sebagai bentuk kebencian.

Tidak Mengikuti Arus Penyambutan Bukan Berarti Membenci

KH Ubaidillah Tamam kembali menegaskan bahwa masyarakat yang tidak mengikuti arus penyambutan Habib Umar bin Hafidz tidak dapat langsung dianggap membenci tokoh tersebut.

Menurut dia, masyarakat mempunyai historisitas masing-masing. Ada orang yang memiliki pengalaman belajar di Yaman, pernah berinteraksi dengan habib, atau memperoleh informasi tertentu dari syekh dan guru sehingga memilih ikut menyambut.

Namun, ada pula orang yang tidak pernah memiliki pengalaman tersebut.

Ia mengatakan, orang yang tidak mempunyai interaksi historis semacam itu tidak perlu dipersalahkan apabila tidak ikut masuk dalam arus penyambutan.

Dengan demikian, menurut KH Ubaidillah Tamam, perbedaan respons merupakan konsekuensi dari keberagaman pengalaman sosial dan sejarah.

Pilihan Keberagamaan Disebut sebagai Hak Masing-Masing

KH Ubaidillah Tamam mengatakan bahwa masyarakat yang memilih masuk dalam ideologi Hadramautisme tidak dapat dibenci ataupun dilarang hanya karena pilihan tersebut.

Menurutnya, pilihan tersebut dapat terbentuk dari pengalaman seseorang ketika belajar, tinggal, berinteraksi, atau memperoleh informasi dari lingkungan tertentu.

Ia kemudian menyerukan agar perbedaan pilihan tersebut tetap ditempatkan dalam suasana saling menghargai.

Dalam penjelasannya, ia menyatakan bahwa pilihannya terhadap Islam Nusantara merupakan bagian dari historisitas dirinya. Sementara itu, mereka yang memilih Hadramautisme juga dipersilakan menjalankan pilihan tersebut.

KH Ubaidillah Tamam Serukan Saling Menghargai

KH Ubaidillah Tamam Serukan Saling Menghargai

Di bagian akhir penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam menekankan pentingnya sikap saling menghargai.

Ia menyampaikan bahwa diskusi mengenai perbedaan kultur, sejarah, dan corak keberagamaan masih akan terus berlangsung. Menurutnya, setiap pihak dapat memberikan kontribusi dalam diskursus tersebut selama tetap menjaga penghormatan terhadap pihak lain.

Ia juga mengutip prinsip bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan. Selain itu, ia menyampaikan pentingnya menjadi manusia yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Menurut KH Ubaidillah Tamam, upaya memberikan manfaat kepada masyarakat dapat menghadirkan konsekuensi berupa perbedaan respons dari orang lain. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi kebencian antarmanusia.

Pesan tentang Kemanusiaan dan Kesetaraan

KH Ubaidillah Tamam menutup penjelasannya dengan pesan mengenai kemanusiaan.

Ia menyatakan bahwa seluruh manusia memiliki kemuliaan sebagai anak cucu Adam. Karena itu, perbedaan latar belakang, pilihan keberagamaan, maupun kultur tidak seharusnya menjadi alasan untuk membangun kebencian.

Pesan tersebut menjadi bagian akhir dari penjelasannya mengenai respons masyarakat Indonesia terhadap kedatangan Habib Umar bin Hafid.

Dalam konteks yang ia sampaikan, perbedaan sikap terhadap sebuah tokoh merupakan bagian dari realitas masyarakat yang memiliki sejarah, pengalaman pendidikan, kultur, dan lingkungan sosial yang beragam.

Kesimpulan

Penjelasan KH Ubaidillah Tamam mengenai masyarakat yang tidak mengikuti arus penyambutan Habib Umar bin Hafid berangkat dari persoalan perbedaan kultur dan latar belakang historis.

Ia menilai bahwa masyarakat yang menyambut memiliki alasan dan pengalaman masing-masing, termasuk hubungan pendidikan atau sosial dengan Yaman dan kalangan habib. Sementara masyarakat yang tidak ikut menyambut juga memiliki hak untuk menentukan sikap berdasarkan historisitas, prinsip moral, dan etika yang mereka pegang.

KH Ubaidillah Tamam secara khusus menegaskan bahwa tidak mengikuti arus penyambutan Habib Umar bin Hafid bukan berarti membenci sosok tersebut. Ia bahkan menyebut Habib Umar bin Hafid sebagai sosok yang saleh, baik, muslim, mukmin, muhsin, dan muttaqin.

Pada saat yang sama, ia mempertahankan pilihan terhadap Islam Nusantara sebagai bagian dari historisitasnya dan menyerukan agar masyarakat tetap saling menghargai.

Menurut penjelasan tersebut, perbedaan antara pilihan terhadap Islam Nusantara maupun Hadramautisme seharusnya tidak berkembang menjadi kebencian. Diskusi mengenai sejarah, kultur, dan keberagamaan tetap dapat berlangsung dengan prinsip kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan saling menghormati.

Mengapa sebagian masyarakat Indonesia tidak mengikuti arus penyambutan Habib Umar bin Hafidz?

FAQ

1. Mengapa sebagian masyarakat Indonesia tidak mengikuti arus penyambutan Habib Umar bin Hafidz?

Menurut KH Ubaidillah Tamam, hal tersebut bukan semata-mata karena kebencian atau dendam. Ia mengaitkannya dengan perbedaan kultur dan latar belakang historis masyarakat Indonesia.

2. Apakah KH Ubaidillah Tamam mengatakan Habib Umar bin Hafidz sebagai sosok yang buruk?

Tidak. Dalam penjelasannya, KH Ubaidillah Tamam justru menegaskan bahwa Habib Umar bin Hafid merupakan sosok yang ia pandang saleh, baik, muslim, mukmin, muhsin, dan muttaqin.

3. Apa yang dimaksud dengan perbedaan kultur dalam penjelasan tersebut?

Perbedaan kultur merujuk pada perbedaan pengalaman sosial, pendidikan, sejarah, tradisi, dan prinsip etik yang membentuk cara masyarakat memandang sebuah tokoh atau tradisi keagamaan.

4. Apa hubungan pendidikan di Yaman dengan sikap terhadap Habib Umar bin Hafidz?

KH Ubaidillah Tamam menjelaskan bahwa orang yang pernah belajar di Yaman atau berinteraksi dengan kalangan habib dapat mempunyai pengalaman historis yang membuatnya lebih dekat dengan tradisi dan tokoh dari Hadramaut.

5. Apa yang dimaksud husnuzan dalam penjelasan KH Ubaidillah Tamam?

Dalam konteks penjelasannya, husnuzan merupakan sikap berprasangka baik atau memberikan penghargaan kepada kelompok lain, termasuk untuk menjaga hubungan sosial dan meminimalisasi konflik. Ia membedakannya dari penggunaan sebuah pernyataan sebagai data pembuktian atau isbat.

6. Apa pandangan KH Ubaidillah Tamam mengenai Islam Nusantara?

Ia menyatakan bahwa pilihannya terhadap Islam Nusantara merupakan bagian dari historisitas dirinya. Pada saat yang sama, ia mengatakan bahwa orang yang memilih Hadramautisme juga perlu dihargai.

7. Apakah orang yang memilih Hadramautisme harus dilarang?

Menurut KH Ubaidillah Tamam, masyarakat yang memilih ideologi Hadramautisme tidak perlu dibenci atau dilarang. Ia menyebut pilihan tersebut dapat merupakan bagian dari pengalaman historis seseorang.

8. Apa pesan KH Ubaidillah Tamam di akhir penjelasannya?

Ia menyerukan agar perbedaan tidak berubah menjadi kebencian. Ia juga menekankan pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain serta menjaga kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button