6 Makam Tua di Semarang Diklaim Mendapat Penambahan Nama “Habib bin Yahya”, Kanal YouTube Pada Sebuah Koma Paparkan Versinya

Kanal YouTube Pada Sebuah Koma Bahas Enam Makam Tua di Semarang
Warta Batavia – Kanal YouTube Pada Sebuah Koma merilis sebuah video yang membahas enam makam tua di Kota Semarang, Jawa Tengah, yang menurut mereka belakangan mendapat penambahan nama bergelar Habib dengan marga bin Yahya.
Dalam video tersebut, pengelola kanal menyampaikan sejumlah klaim mengenai identitas tokoh yang dimakamkan di lokasi-lokasi tersebut. Mereka juga mengaitkan pembahasan dengan berbagai sumber sejarah seperti serat, babad, hingga pendapat sejumlah peneliti dan akademisi.
Video tersebut merupakan penyampaian pandangan dari pengelola kanal dan memuat sejumlah klaim mengenai sejarah serta silsilah tokoh-tokoh yang dibahas.
Klaim Mengenai Makam Sunan Terboyo
Makam pertama yang dibahas adalah makam Sunan Terboyo yang berada di Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.
Dalam video disebutkan bahwa tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut adalah Raden Mas Haji Muhammad Saleh Notoningrat bergelar Suroadimanggala V, yang disebut sebagai Bupati Semarang ke-23.
Pengelola kanal menyatakan terdapat klaim yang mengaitkan Sunan Terboyo dengan nama Habib Muhammad Al-Qadhi bin Yahya. Menurut mereka, klaim tersebut tidak sesuai dengan catatan sejarah yang mereka jadikan rujukan.
Mereka juga menyoroti bahwa di lokasi makam tersebut, menurut pengamatan mereka, tidak terdapat papan nama yang menyebut Sunan Terboyo sebagai Habib Muhammad Al-Qadhi bin Yahya.
Pembahasan Mengenai Makam Mbah Depok
Lokasi kedua yang dibahas adalah makam Mbah Depok di Jalan Depok, Kembangsari, Kota Semarang.
Dalam video dijelaskan bahwa makam tersebut kemudian dikaitkan dengan nama Habib Thaha bin Muhammad Al-Qadhi bin Yahya.
Pengelola kanal juga menyinggung adanya klaim yang menyebut tokoh tersebut sebagai ayah dari KRT Sumodiningrat.
Menurut mereka, berbagai sumber sejarah seperti Serat Kekancingan dan Babad Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyebut ayah KRT Sumodiningrat adalah Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat, bukan tokoh sebagaimana disebut dalam klaim tersebut.
Makam Syekh Keramat Jati dan KRT Sumodiningrat
Video tersebut juga mengulas makam yang berada di Jalan Duku, Lamper Kidul, Semarang, yang sebelumnya dikenal sebagai makam Syekh Keramat Jati.
Pengelola kanal menyebut lokasi tersebut kemudian dikaitkan dengan nama Habib Hasan bin Thaha bin Yahya, sekaligus dihubungkan dengan sosok KRT Sumodiningrat.
Menurut mereka, berbagai serat dan babad justru menyebut makam KRT Sumodiningrat berada di kawasan Pesarean Astana Gedong, Jejeran, Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam video tersebut juga dikutip pendapat yang dinisbatkan kepada Dr. Yaser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menjelaskan pentingnya menggunakan sumber sejarah primer, termasuk babad yang ditulis oleh pelaku atau saksi peristiwa.
Selain itu, pengelola kanal juga menyebut nama sejarawan Peter Carey yang menurut mereka pernah menyampaikan bahwa KRT Sumodiningrat atau Singo Barong dimakamkan di Pleret, Bantul.
Video tersebut juga menampilkan kutipan yang diklaim berasal dari Gusti Yudaningrat, adik Sri Sultan Hamengku Buwono, mengenai lokasi makam KRT Sumodiningrat.
Polemik Makam Simbah Genuk
Pembahasan berikutnya adalah makam Simbah Genuk yang berada di kawasan Taman Wonderia, Jalan Sriwijaya, Tegalsari, Kota Semarang.
Menurut pengelola kanal, makam tersebut sempat diberi nama Bendoro Sayid Aal Al Habib Aud bin Syamsudin Hasan bin Yahya Al Husaini Baalawi.
Mereka menyebut perubahan nama tersebut memunculkan pro dan kontra di masyarakat.
Dalam video dijelaskan bahwa papan nama tersebut kemudian diganti kembali menggunakan nama lama, yakni Wali Agung Semarang Simbah Genuk.
Pengelola kanal juga menyampaikan bahwa setelah penggunaan nama lama kembali diterapkan, berbagai kegiatan kebudayaan disebut semakin sering dilaksanakan di kawasan makam tersebut, mulai dari kirab budaya, pengobatan gratis, hingga pertemuan rutin para pegiat budaya.
Klaim Mengenai Makam di Meteseh
Lokasi berikutnya berada di kawasan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
Dalam video disebutkan bahwa makam tersebut dibangun kembali sekitar tahun 2017 dan dikaitkan dengan nama Habib Alwi bin Hasan bin Thaha bin Yahya.
Pengelola kanal mengatakan terdapat klaim yang menyebut tokoh tersebut sebagai putra keempat KRT Sumodiningrat.
Namun, menurut mereka, berbagai serat keraton dan babad yang dijadikan rujukan hanya mencatat bahwa KRT Sumodiningrat memiliki seorang putra bernama Tumenggung Sumonegoro.
Makam di Gunungpati
Makam terakhir yang dibahas berada di kawasan Bukit Rajolangu, Kampung Malon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Dalam video disebutkan makam tersebut dikaitkan dengan nama Habib Abdullah Baffaqih, yang disebut dalam suatu klaim sebagai kakak dari KRT Sumodiningrat.
Pengelola kanal menyatakan bahwa menurut sumber sejarah yang mereka gunakan, KRT Sumodiningrat merupakan anak pertama dari Kanjeng Raden Tumenggung Jayaningrat, sehingga mereka mempertanyakan klaim tersebut.
Klaim Berdasarkan Serat, Babad, dan Pendapat Sejarawan
Sepanjang video, pengelola kanal berulang kali menyatakan bahwa pendapat mereka didasarkan pada berbagai dokumen sejarah, antara lain:
- Serat Keraton.
- Serat Kekancingan.
- Babad Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
- Babad Sapehi.
- Pendapat sejumlah akademisi dan sejarawan yang disebut dalam video.
Mereka menyatakan berbagai sumber tersebut dijadikan dasar dalam menyusun pandangan mengenai identitas tokoh-tokoh yang dimakamkan di sejumlah lokasi di Semarang.
Tegaskan Tetap Menyuarakan Pelurusan Sejarah
Menutup video, pengelola kanal menyatakan akan terus membahas isu yang mereka sebut sebagai upaya pelurusan sejarah.
Mereka mengaku tetap melanjutkan aktivitas edukasi meskipun, menurut pengakuannya, menerima berbagai bentuk intimidasi, hujatan, maupun kritik.
Pengelola kanal juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga sikap saling menghormati di tengah perbedaan pandangan mengenai sejarah dan silsilah tokoh-tokoh yang menjadi pembahasan.
Sumber berita:





One Comment