invisible hit counter
Nasional

Muktamar NU 35, Warga Nahdliyin Kaget Saat KH Miftahul Ahyar Jadi Rais Aam

Muktamar NU 35, KH Ubaidillah Tamam Munji Ungkap Warga Nahdliyin Kaget Saat KH Miftahul Ahyar Jadi Rais Aam

WARTA BATAVIAMuktamar NU ke-35 di Tambakberas menjadi perhatian luas warga Nahdliyin. Setelah sembilan nama masuk dalam Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dan keputusan mengenai Rais Aam diumumkan, muncul berbagai respons dari warga NU yang mengikuti jalannya muktamar.

KH Ubaidillah Tamam Munji dalam penjelasan yang disampaikan melalui kanal UBAIDILLAH TAMAM MUNJI pada 2 September 2026 mengungkapkan bahwa sebagian warga Nahdliyin sempat merasa lega dan optimistis setelah nama-nama anggota Ahwa diumumkan.

Namun, suasana tersebut berubah ketika hasil keputusan mengenai Rais Aam diketahui. Ubaidillah menyebut warga Nahdliyin mengalami rasa kaget karena sosok yang kemudian menjadi Rais Aam berada di luar perkiraan yang sebelumnya berkembang.

Dalam penjelasannya, Ubaidillah menyebut KH Miftahul Ahyar sebagai Rais Aam yang muncul dari kesepakatan Ahwa.

Sebelumnya, menurut Ubaidillah, terdapat ekspektasi terhadap sosok yang memperoleh suara terbanyak dari Ahwa maupun tokoh yang dinilai memiliki keleluasaan untuk bergerak secara fisik, intelektual, dan pemikiran.

Muktamar NU 35 Dipantau Banyak Warga Nahdliyin

Menurut KH Ubaidillah Tamam Munji, perhatian terhadap Muktamar NU ke-35 tidak hanya datang dari peserta yang berada di dalam forum.

Warga Nahdliyin yang berada di luar forum juga disebut terus mengikuti perkembangan muktamar. Sebagian lainnya bahkan mengikuti rangkaian perkembangan dari rumah masing-masing.

Ubaidillah mengatakan bahwa kecintaan warga Nahdliyin terhadap Nahdlatul Ulama membuat perkembangan Muktamar NU mendapatkan perhatian khusus.

“Karena memang harus diakui memang yang mencintai NU ini banyak. Semua mencintai NU dari warga Nahdliin,” kata Ubaidillah.

Ia juga menyebut perhatian terhadap NU tidak hanya datang dari warga Nahdliyin.

Menurutnya, umat Islam dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama turut menyimak jalannya Muktamar NU ke-35 di Tambakberas.

Perhatian Tidak Hanya Datang dari Struktur NU

Ubaidillah membagi warga yang mengikuti perkembangan Muktamar NU ke-35 dalam beberapa kelompok, termasuk warga NU struktural dan kultural.

Selain itu, terdapat pula masyarakat yang bersifat partisipatif terhadap perkembangan Nahdlatul Ulama.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat keputusan yang dihasilkan dalam Muktamar NU ke-35 menjadi perhatian banyak pihak.

Pengumuman Sembilan Nama Ahwa Membuat Warga Lega

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam penjelasan Ubaidillah adalah pengumuman sembilan nama yang masuk dalam Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa.

Ubaidillah mengatakan bahwa ketika sembilan nama tersebut diumumkan, muncul keyakinan di kalangan sebagian warga mengenai kemungkinan sosok yang akan menjadi Rais Aam.

Menurut dia, terdapat dua kemungkinan yang menjadi perhatian.

Pertama, Rais Aam diperkirakan berasal dari sosok yang mendapatkan suara terbanyak dalam Ahwa.

Kedua, terdapat kemungkinan sosok yang mempunyai keleluasaan untuk menjalankan peran secara fisik, intelektual maupun pemikiran.

Ubaidillah kemudian menyebut KH Said Aqil Siradj dalam konteks kemungkinan kedua tersebut.

KH Said Aqil Siradj Disebut Memiliki Keleluasaan

Menurut Ubaidillah, KH Said Aqil Siradj merupakan salah satu tokoh yang dinilai mempunyai keleluasaan dalam ruang gerakan, transformasi, pembebasan, dan pencerahan.

Ia juga mengaitkan keleluasaan tersebut dengan kemampuan menggerakkan masyarakat sipil, demokrasi, turats, serta historisitas Nahdlatul Ulama.

Karena itu, menurut Ubaidillah, apabila sosok dengan karakter tersebut menjadi Rais Aam, terdapat harapan terjadinya sinergi dengan jajaran tanfidziyah.

Ia menyebut nama Gus Kikin dan Gus Rozin dalam konteks kemungkinan sinergi tersebut.

Ada yang Disebut Sampai Sujud Syukur

Ubaidillah mengatakan pengumuman sembilan nama Ahwa sempat membuat warga Nahdliyin merasa sangat senang.

Bahkan, ia menyebut terdapat pihak yang melakukan sujud syukur setelah pengumuman tersebut.

“Jadi praktis sembilan nama di Ahwa ketika sudah diumumkan itu semua senang sekali. Bahkan ada yang sudah sujud syukur,” ujar Ubaidillah.

Perasaan tersebut, menurut dia, berkaitan dengan munculnya keyakinan bahwa Rais Aam nantinya akan berasal dari sosok yang memperoleh suara terbanyak atau tokoh yang dinilai mempunyai keleluasaan dalam menjalankan gerakan NU.

Hasil Rais Aam Disebut di Luar Perkiraan Sebagian Warga

Situasi kemudian berubah setelah keputusan mengenai Rais Aam diketahui.

Ubaidillah mengatakan sebagian warga Nahdliyin merasa kaget ketika KH Miftahul Ahyar muncul sebagai Rais Aam berdasarkan kesepakatan Ahwa.

Menurut Ubaidillah, rasa kaget tersebut dirasakan oleh warga NU yang berada di dalam struktur, warga NU secara kultural, maupun masyarakat yang mengikuti perkembangan NU secara partisipatif.

“Oh, itu sudah lega sekali ketika diumumkan sembilan nama dan kemungkinan dua pilihan tadi itu. Tapi menjadi kaget ketika yang keluar Rais Aam dari kesepakatan Ahwa itu ternyata KH Miftahul Ahyar,” kata Ubaidillah.

Ia kemudian menegaskan bahwa istilah “kaget” digunakan untuk menggambarkan perbedaan antara ekspektasi sebagian warga dengan hasil yang kemudian diketahui.

Mengapa Warga Nahdliyin Disebut Kaget?

Dalam penjelasannya, Ubaidillah menerangkan bahwa rasa kaget tersebut berkaitan dengan harapan yang sebelumnya telah terbentuk setelah pengumuman sembilan nama Ahwa.

Sebagian warga, menurut dia, sebelumnya telah memperkirakan dua kemungkinan.

Salah satunya adalah sosok yang memperoleh suara terbanyak. Kemungkinan lainnya adalah tokoh yang dianggap memiliki keleluasaan dalam menjalankan aktivitas gerakan NU.

Ubaidillah kembali menyebut KH Said Aqil Siradj dalam konteks tersebut.

Ia mengatakan KH Said Aqil Siradj dinilai mempunyai keleluasaan dalam menggerakkan masyarakat sipil, demokrasi, turats, serta historisitas Nahdlatul Ulama.

Karena itulah, ketika hasil yang muncul berbeda dari perkiraan tersebut, sebagian warga disebut mengalami rasa kaget.

Ubaidillah Gunakan Istilah “Kena Prank”

Untuk menggambarkan kondisi tersebut, Ubaidillah menggunakan istilah “kena prank”.

Ia mengatakan warga Nahdliyin sebelumnya telah merasa senang ketika melihat nama-nama dalam Ahwa.

Menurut Ubaidillah, keberadaan tokoh-tokoh yang dianggap kredibel dalam daftar tersebut membentuk keyakinan tertentu mengenai kemungkinan hasil pemilihan Rais Aam.

“Warga Nahdin ini sedang kena prank dari keyakinannya sendiri yang sudah terlanjur senang,” ujar Ubaidillah.

Ia kemudian memberikan contoh bahwa warga sebelumnya melihat nama KH Said Aqil Siradj, sosok yang ia sebut sebagai “Mbah”, serta sejumlah kiai sepuh lainnya dalam komposisi Ahwa.

Hal tersebut, menurut Ubaidillah, membuat sebagian warga memiliki ekspektasi terhadap hasil yang kemudian berbeda dengan keputusan mengenai Rais Aam.

Harapan Agar Visi dan Marwah NU Tetap Terjaga

Meski membahas rasa kaget sebagian warga, Ubaidillah kemudian menekankan pentingnya menjaga Nahdlatul Ulama.

Ia berharap terdapat solusi yang tetap membawa NU menuju visi dan misinya.

Menurut Ubaidillah, marwah Nahdlatul Ulama juga perlu tetap dijaga.

“Semoga ada solusi. Solusinya seperti apa yang jelas menuju visi misi Nahdatul Ulama dan marwah Nahdatul Ulama tetap terjaga,” katanya.

Ubaidillah juga menegaskan bahwa warga Nahdliyin tidak akan meninggalkan NU dalam kondisi apa pun.

“NU Bukan Hanya Sekadar Organisasi”

Pada bagian akhir penjelasannya, Ubaidillah menyampaikan mengenai makna NU bagi warga Nahdliyin.

Menurutnya, NU tidak hanya dipandang sebagai sebuah organisasi.

“NU bukan hanya sekadar sebuah organisasi, tapi NU adalah sebuah rumah Ahlussunah wal Jamaah,” ujarnya.

Ia juga menyebut NU sebagai rumah kebangkitan untuk pembebasan dan pencerahan.

Selain itu, Ubaidillah menggambarkan NU sebagai rumah kalimatun sawa, yaitu ruang untuk menyatukan perspektif yang berbeda-beda dari berbagai latar belakang sosial, budaya, dan keyakinan.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah ia membahas respons warga terhadap hasil Muktamar NU ke-35, khususnya keputusan mengenai Rais Aam.

Muktamar NU 35 dan Respons Warga Setelah Pemilihan Rais Aam

Muktamar NU 35 dan Respons Warga Setelah Pemilihan Rais Aam

Muktamar NU ke-35 di Tambakberas menjadi salah satu momentum yang mendapatkan perhatian dari warga Nahdliyin, baik secara struktural maupun kultural.

Dalam penjelasan KH Ubaidillah Tamam Munji, pengumuman sembilan nama Ahwa sempat menimbulkan rasa lega dan optimisme di kalangan sebagian warga.

Perkiraan mengenai sosok Rais Aam kemudian berkembang berdasarkan suara terbanyak maupun pertimbangan mengenai keleluasaan tokoh dalam menjalankan gerakan NU.

KH Said Aqil Siradj disebut Ubaidillah sebagai salah satu tokoh yang dinilai memiliki keleluasaan tersebut.

Namun, keputusan yang kemudian menetapkan KH Miftahul Ahyar sebagai Rais Aam disebut membuat sebagian warga Nahdliyin kaget.

Ubaidillah menutup penjelasannya dengan harapan agar terdapat solusi yang tetap mengarah pada visi dan misi Nahdlatul Ulama serta menjaga marwah organisasi.

Ia juga menegaskan bahwa NU akan tetap menjadi rumah bagi warga Nahdliyin dan tidak akan ditinggalkan dalam berbagai kondisi.

FAQ Muktamar NU 35

Apa yang dibahas KH Ubaidillah Tamam Munji terkait Muktamar NU 35?

KH Ubaidillah Tamam Munji membahas respons warga Nahdliyin terhadap dinamika Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, terutama setelah pengumuman sembilan nama Ahwa dan keputusan mengenai Rais Aam.

Siapa yang disebut sebagai Rais Aam dalam penjelasan KH Ubaidillah?

KH Ubaidillah Tamam Munji menyebut KH Miftahul Ahyar sebagai sosok yang keluar sebagai Rais Aam berdasarkan kesepakatan Ahwa.

Mengapa sebagian warga Nahdliyin disebut kaget?

Menurut Ubaidillah, sebagian warga sebelumnya telah memiliki ekspektasi terhadap sosok yang memperoleh suara terbanyak atau tokoh yang dinilai mempunyai keleluasaan dalam menjalankan gerakan NU. Ketika hasilnya berbeda dari perkiraan tersebut, muncul rasa kaget.

Siapa KH Said Aqil Siradj dalam penjelasan tersebut?

KH Said Aqil Siradj disebut Ubaidillah sebagai salah satu tokoh yang menurutnya memiliki keleluasaan untuk bergerak dalam aspek fisik, intelektual, pemikiran, masyarakat sipil, demokrasi, turats, dan historisitas NU.

Apa yang terjadi setelah sembilan nama Ahwa diumumkan?

Menurut Ubaidillah, sebagian warga Nahdliyin merasa lega dan senang setelah sembilan nama Ahwa diumumkan. Ia bahkan menyebut ada pihak yang melakukan sujud syukur.

Apa harapan KH Ubaidillah Tamam Munji setelah Muktamar NU 35?

Ia berharap terdapat solusi yang tetap mengarah pada visi dan misi Nahdlatul Ulama serta menjaga marwah NU.

Apakah KH Ubaidillah mengatakan warga akan meninggalkan NU?

Tidak. Dalam penjelasannya, Ubaidillah justru menyatakan bahwa NU tidak akan ditinggalkan dalam berbagai kondisi dan keadaan.

Bagaimana Ubaidillah menggambarkan NU?

Ubaidillah menyebut NU sebagai rumah Ahlussunnah wal Jamaah, rumah kebangkitan untuk pembebasan dan pencerahan, serta rumah kalimatun sawa yang menyatukan perspektif berbeda dari berbagai latar belakang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button