invisible hit counter
Nasional

Muktamar NU ke-35 Disorot, AW Kertapati dan Tubagus Mogi Dorong Bahtsul Masail Tetap Jadi Jantung Keilmuan

WARTA BATAVIA –  Perbincangan AW Kertapati dan Tubagus Mogi Nurfadhil menyoroti Muktamar NU ke-35, pentingnya Bahtsul Masail, serta seruan menjaga tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama dari pragmatisme politik.

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 kembali menjadi perhatian publik setelah berbagai pembahasan mengenai dinamika internal organisasi ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satu topik yang paling banyak disorot adalah kekhawatiran sebagian kalangan terhadap bergesernya fokus Muktamar dari forum keilmuan menuju perebutan kepemimpinan yang diwarnai isu politik transaksional.

Isu tersebut menjadi tema utama dalam perbincangan antara AW Kertapati dan Tubagus Mogi Nurfadhil yang ditayangkan melalui kanal AW Kertapati Channel pada 23 Agustus 2026. Dalam dialog tersebut, keduanya membahas posisi Bahtsul Masail sebagai tradisi ilmiah NU sekaligus menyampaikan harapan agar Muktamar tetap berpegang pada nilai-nilai yang diwariskan para pendiri organisasi.

Muktamar NU ke-35 Dinilai Menjadi Momentum Penentu Arah Organisasi

Pada awal diskusi, AW Kertapati menyampaikan bahwa pembahasan mengenai Muktamar NU ke-35 telah berkembang luas di berbagai platform media sosial. Menurutnya, banyak kiai sepuh, ustaz, maupun aktivis NU telah menyuarakan pandangan mengenai munculnya isu money politics dalam dinamika menjelang Muktamar.

Ia kemudian membacakan sebuah narasi yang beredar di tengah masyarakat. Narasi tersebut menekankan bahwa apabila agenda Bahtsul Masail sebagai jantung tradisi keilmuan NU dikerdilkan oleh perebutan kursi dan politik transaksional, maka organisasi dikhawatirkan kehilangan kompas keilmuannya.

Dalam narasi yang dibacakan itu juga terdapat ajakan untuk mengembalikan Muktamar NU menjadi forum ilmiah serta menjaga warisan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama.

Pertanyaan tentang Bahtsul Masail Menjadi Pembuka Diskusi

Setelah membacakan narasi tersebut, AW Kertapati mengajukan pertanyaan kepada Tubagus Mogi Nurfadhil mengenai apakah bergesernya Bahtsul Masail oleh pragmatisme perebutan jabatan dapat dimaknai sebagai tanda bahwa nilai-nilai Khittah 1926 sedang menghadapi tantangan.

Menanggapi hal itu, Tubagus Mogi menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi sehingga suara mayoritas menjadi bagian penting dalam proses politik. Karena NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menurutnya organisasi tersebut juga menjadi perhatian berbagai pihak yang memiliki kepentingan politik.

Ia menjelaskan bahwa besarnya jumlah warga NU menjadikan organisasi tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan sosial maupun politik nasional.

Tubagus Mogi: NU Adalah Organisasi Ulama, Bukan Partai Politik

Dalam penjelasannya, Tubagus Mogi menegaskan perbedaan mendasar antara Nahdlatul Ulama dengan organisasi politik. Ia menyatakan bahwa NU lahir sebagai organisasi kebangkitan ulama sehingga orientasi utamanya adalah ilmu, dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada umat.

Menurutnya, apabila terdapat dinamika politik dalam proses pemilihan kepemimpinan, maka warga NU tetap perlu mengedepankan nilai-nilai keilmuan yang menjadi identitas organisasi sejak berdiri pada tahun 1926.

Ia mengatakan bahwa para ulama memiliki tanggung jawab sebagai pengayom masyarakat, pendidik umat, sekaligus pemberi nasihat kepada pemimpin. Karena itu, proses memilih kepemimpinan di lingkungan NU dinilai perlu menjaga marwah ulama dan tidak sekadar mengikuti kepentingan duniawi.

“NU adalah kebangkitan ulama. Tanggung jawab ulama adalah mengayomi, mendidik, dan memimpin umat,” demikian pokok pandangan yang disampaikan Tubagus Mogi dalam dialog tersebut.

Pasted text.txt

Warisan KH Hasyim Asy’ari Kembali Diangkat dalam Perbincangan

Dalam diskusi itu, Tubagus Mogi juga mengulas kembali sejarah perjuangan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Ia menyebut bahwa pendirian Nahdlatul Ulama tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan, tetapi juga memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia menyinggung sikap KH Hasyim Asy’ari pada masa pendudukan Jepang serta Resolusi Jihad yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, warisan tersebut menunjukkan bahwa NU dibangun di atas semangat perjuangan keagamaan dan kemaslahatan umat.

Karena alasan itu, ia mengajak warga NU untuk menjaga amanat para pendiri organisasi agar kepemimpinan tetap berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat.

Money Politics Menjadi Kekhawatiran Menjelang Muktamar

Salah satu tema yang paling banyak mendapat perhatian dalam dialog adalah dugaan praktik money politics dalam kontestasi kepemimpinan organisasi. Tubagus Mogi menyatakan bahwa sebagai negara demokrasi, potensi adanya kepentingan politik memang tidak dapat dihindari.

Namun ia membedakan antara kebutuhan operasional organisasi dengan praktik membeli dukungan politik. Menurutnya, bantuan dana kepada kegiatan organisasi seharusnya dipahami sebagai bentuk sedekah atau dukungan terhadap kemaslahatan umat, bukan sebagai sarana membeli keputusan para ulama.

Ia juga mengimbau agar para calon pemimpin maupun para pemilih di lingkungan NU meluruskan niat sehingga proses Muktamar tetap menjadi bagian dari ibadah dan amanah perjuangan.

Bahtsul Masail Disebut Sebagai Tradisi Ilmiah NU

AW Kertapati kemudian mengarahkan pembahasan pada harapan warga NU akar rumput agar Bahtsul Masail benar-benar menjadi agenda utama dalam Muktamar ke-35. Ia menyampaikan bahwa banyak Nahdliyin menginginkan forum tersebut membahas persoalan-persoalan sosial secara ilmiah, termasuk berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat.

Menanggapi hal itu, Tubagus Mogi menjelaskan bahwa makna Nahdlatul Ulama sendiri berkaitan erat dengan kebangkitan ulama yang berilmu. Oleh karena itu, menurutnya setiap persoalan semestinya dikaji melalui pendekatan ilmu, dalil, dan hujah, bukan semata-mata berdasarkan prasangka.

Ia menegaskan bahwa Bahtsul Masail merupakan mekanisme pembahasan masalah keagamaan yang berpijak pada argumentasi ilmiah dan tradisi kitab, sehingga forum tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas intelektual NU.

Muktamar NU ke 35 Disorot, AW Kertapati dan Tubagus Mogi Dorong Bahtsul Masail Tetap Jadi Jantung Keilmuan

Isu Nasab dan Bahtsul Masail

Pembahasan kemudian berlanjut pada persoalan yang disebut Tubagus Mogi Nurfadhil berkaitan dengan isu nasab Ba’alawi. Dalam dialog tersebut, ia menyampaikan pandangan bahwa persoalan nasab semestinya ditempatkan sebagai bagian dari kajian ilmiah apabila telah menjadi persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Tubagus Mogi, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan klaim seseorang mengenai garis keturunan. Ia mengaitkannya dengan dugaan adanya penggunaan klaim nasab untuk kepentingan tertentu. Karena itu, ia menilai persoalan tersebut perlu dibahas melalui mekanisme Bahtsul Masail apabila dianggap memenuhi kriteria sebagai persoalan yang membutuhkan kajian keilmuan.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam memilih pemimpin NU, warga NU seharusnya memperhatikan argumentasi dan dasar keilmuan yang disampaikan calon, bukan semata-mata berdasarkan siapa tokoh yang menyampaikannya.

“Jangan melihat siapa yang menyampaikan, tapi apa hujahnya,” kata Tubagus Mogi dalam perbincangan tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia menjelaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menyikapi persoalan nasab.

Kitab Nasab dan Bukti Ilmiah Disebut dalam Diskusi

Tubagus Mogi kemudian mengacu pada kajian yang menurutnya telah dilakukan oleh sejumlah pihak, termasuk KH Imaduddin Utsman Al-Bantani. Ia menyebut adanya kitab-kitab nasab dari rentang abad ke-4 hingga abad ke-8 Hijriah yang menurutnya perlu dikaji dalam pembahasan mengenai nasab Ba’alawi.

Ia juga menyampaikan klaim bahwa terdapat persoalan dalam dokumentasi nasab yang dibahasnya. Dalam dialog tersebut, ia menyebut bahwa menurut kajian yang menjadi rujukannya, nasab Ba’alawi tidak terkonfirmasi melalui sejumlah sumber terdahulu yang dibicarakan dalam kajian tersebut.

Namun, pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan Tubagus Mogi dalam dialog, bukan hasil verifikasi independen dalam artikel ini. Transkrip yang menjadi sumber tulisan tidak memuat tanggapan dari pihak yang disebut maupun hasil pemeriksaan akademik independen terhadap seluruh klaim tersebut.

Selain sumber tertulis, Tubagus Mogi juga membawa persoalan tes DNA ke dalam pembahasan. Ia menyebut bahwa hasil penelitian DNA menjadi salah satu hal yang menurutnya perlu dikaji lebih lanjut dalam persoalan nasab.

Menurutnya, pembahasan tersebut relevan dengan keputusan Bahtsul Masail NU sebelumnya yang, sebagaimana ia sampaikan dalam dialog, pernah membahas penggunaan tes DNA dalam persoalan nasab.

Perdebatan mengenai Tes DNA

Dalam perbincangan itu, Tubagus Mogi menyebut adanya perbedaan pandangan mengenai posisi tes DNA sebagai bukti dalam persoalan nasab.

Ia mengatakan bahwa pada satu sisi pernah terdapat pandangan bahwa tes DNA dapat digunakan sebagai bukti pendukung. Pada sisi lain, ia menyebut muncul pandangan yang mempertanyakan atau menolak penggunaan tes DNA dalam persoalan tersebut setelah hasil tertentu menjadi bahan perdebatan.

Karena adanya perbedaan pandangan tersebut, Tubagus Mogi mendorong agar persoalan tes DNA dan nasab dibahas kembali melalui forum keilmuan NU.

Dalam konteks Muktamar NU ke-35, ia menyampaikan bahwa persoalan yang berkembang di masyarakat semestinya dapat menjadi bahan kajian apabila memenuhi ketentuan Bahtsul Masail.

Muktamar NU ke 35 Disorot, AW Kertapati dan Tubagus Mogi Dorong Bahtsul Masail Tetap Jadi Jantung Keilmuan

Bahtsul Masail Dinilai Perlu Mengedepankan Ilmu dan Hujah

Tubagus Mogi beberapa kali menekankan bahwa tradisi keilmuan NU harus bertumpu pada ilmu dan hujah. Menurutnya, sikap husnuzan atau berprasangka baik tidak dapat menggantikan proses pemeriksaan ilmiah ketika sebuah persoalan sudah masuk dalam ranah kajian keilmuan.

Ia mengatakan bahwa ulama perlu memeriksa dalil, bukti, dan argumentasi yang digunakan dalam suatu persoalan. Dalam pandangannya, identitas atau posisi orang yang menyampaikan sebuah pendapat tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menerima pendapat tersebut.

Pernyataan itu kemudian dikaitkan dengan harapan agar Muktamar NU ke-35 tidak hanya membahas persoalan kepemimpinan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi forum keilmuan.

Harapan Warga NU Akar Rumput

AW Kertapati dalam dialog tersebut menyampaikan kegelisahan yang disebutnya berasal dari kalangan Nahdliyin akar rumput. Salah satu harapan yang disampaikan adalah agar persoalan yang berkaitan dengan perilaku sosial dan klaim nasab yang menjadi perdebatan dapat memperoleh ruang pembahasan dalam Bahtsul Masail.

Menurut AW Kertapati, persoalan tersebut dinilai perlu mendapatkan kejelasan agar tidak terus menjadi perdebatan di luar forum keilmuan.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa konflik mengenai money politics dapat menggeser substansi persoalan lain yang dianggap penting oleh sebagian warga NU. Dalam dialog tersebut, ia meminta agar isu-isu yang berkembang tetap memperoleh ruang pembahasan dalam Muktamar.

Tubagus Mogi menyatakan bahwa hubungan kekerabatan antara sebagian tokoh NU dengan kelompok yang menjadi objek kritik dalam dialog disebut menjadi salah satu faktor yang menurutnya membutuhkan proses panjang untuk diselesaikan. Pernyataan tersebut juga menjadi bagian dari pandangannya mengenai pentingnya menjaga independensi forum keilmuan NU.

Money Politics dan Dana Operasional Organisasi

Selain isu Bahtsul Masail dan nasab, dialog juga membahas persoalan pendanaan dalam organisasi.

AW Kertapati dan Tubagus Mogi menyatakan bahwa dukungan dana untuk kegiatan organisasi pada dasarnya dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas. Namun, keduanya membedakan antara bantuan operasional dan pemberian dana yang dimaksudkan untuk memengaruhi pilihan atau keputusan dalam kontestasi kepemimpinan.

Tubagus Mogi mengatakan bahwa pihak yang memberikan bantuan sebaiknya menempatkannya sebagai bentuk sedekah atau dukungan bagi kegiatan yang memberikan manfaat kepada umat.

Ia juga menyampaikan bahwa para ulama yang menerima dukungan tersebut perlu menjaga niat agar dana yang diterima digunakan untuk kepentingan organisasi dan umat, bukan sebagai imbalan atas dukungan politik tertentu.

Menurutnya, perbedaan antara dana operasional dan money politics perlu diperjelas melalui niat serta tujuan pemberian dana.

Seruan Menjaga Amanah Ulama

Pada bagian akhir dialog, Tubagus Mogi kembali menyampaikan seruan kepada para ulama NU yang akan terlibat dalam Muktamar NU ke-35.

Ia meminta agar proses musyawarah tetap diarahkan pada kepentingan umat. Para calon pemimpin maupun pemilih di lingkungan NU disebut perlu menjaga amanah serta tidak menjadikan jabatan organisasi sebagai tujuan duniawi semata.

Ia juga mengajak warga NU agar menunggu kiprah para ulama dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. Dalam dialog tersebut, ia menekankan kembali pentingnya ilmu, hujah, dan Bahtsul Masail sebagai bagian dari tradisi organisasi.

Muktamar NU ke-35 Diharapkan Menjadi Forum Keilmuan

Muktamar NU ke-35 Diharapkan Menjadi Forum Keilmuan

AW Kertapati kemudian menutup dialog dengan menyampaikan harapan agar Muktamar NU ke-35 menjadi ajang yang mempertemukan kepentingan umat dan ulama.

Ia mengatakan bahwa Muktamar yang berlangsung pada Agustus 2026 diharapkan tidak menjadi arena kepentingan kelompok tertentu, melainkan menjadi forum yang mengutamakan kepentingan warga NU.

Dalam pernyataan penutupnya, AW Kertapati menyebut Muktamar NU ke-35 sebagai momentum pembuktian bahwa NU merupakan organisasi milik umat dan ulama.

Catatan atas Klaim dalam Perbincangan

Sejumlah pernyataan dalam dialog AW Kertapati dan Tubagus Mogi menyangkut individu, organisasi, sejarah, nasab, politik, serta dugaan keterlibatan berbagai pihak.

Tulisan ini menyajikan pernyataan tersebut sebagai isi perbincangan dan pandangan narasumber, bukan sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen. Transkrip yang menjadi dasar artikel tidak menyediakan tanggapan dari seluruh pihak yang disebut dalam dialog. Karena itu, setiap tuduhan atau dugaan yang muncul dalam perbincangan perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi.

Hal tersebut terutama berlaku untuk pernyataan mengenai dugaan money politics, dugaan intervensi kelompok tertentu, dugaan keterlibatan pihak asing, persoalan sejarah, serta klaim mengenai nasab.

FAQ

Apa yang dibahas AW Kertapati dan Tubagus Mogi?

Perbincangan membahas Muktamar NU ke-35, Bahtsul Masail, money politics, kepemimpinan NU, serta isu nasab Ba’alawi yang menjadi bagian dari pandangan Tubagus Mogi dalam dialog tersebut.

Mengapa Bahtsul Masail menjadi perhatian?

Dalam dialog tersebut, Bahtsul Masail disebut sebagai bagian penting dari tradisi keilmuan NU. Narasumber mendorong agar persoalan yang berkembang di masyarakat dikaji berdasarkan ilmu, dalil, dan hujah.

Apa yang disampaikan tentang tes DNA?

Tubagus Mogi menyebut tes DNA sebagai salah satu aspek yang menurutnya perlu dikaji dalam persoalan nasab. Ia juga menyebut adanya perbedaan pandangan mengenai kedudukan tes DNA sebagai bukti pendukung.

Apakah klaim tentang nasab dalam dialog sudah terverifikasi?

Transkrip yang menjadi dasar artikel hanya memuat pernyataan Tubagus Mogi dan tidak menyediakan verifikasi independen maupun tanggapan seluruh pihak yang disebut. Karena itu, klaim tersebut dalam artikel ini ditempatkan sebagai pernyataan narasumber.

Apa pesan utama Tubagus Mogi mengenai Muktamar NU ke-35?

Ia mendorong agar warga NU dan para ulama mengedepankan ilmu, hujah, amanah, serta kepentingan umat dalam menghadapi Muktamar NU ke-35.

Kapan perbincangan tersebut berlangsung?

Perbincangan AW Kertapati bersama Tubagus Mogi Nurfadhil ditayangkan melalui kanal AW Kertapati Channel pada 23 Agustus 2026, berdasarkan transkrip yang menjadi sumber artikel ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button