KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Bahas Kitab Al-Khulasah An-Nafisah, Ajak Publik Mengkaji Referensi Nasab Secara Terbuka

WARTA BATAVIA – KRT Nur Ikhyak Hadinegoro dalam tayangan di kanal YouTube miliknya pada 5 Agustus 2026 mengulas kitab Al-Khulasah An-Nafisah fi Nisbati Abnai Ahmad bin Isa Asyarifah serta mengajak masyarakat mengkaji referensi nasab melalui perbandingan berbagai manuskrip.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Bahas Kitab Al-Khulasah An-Nafisah, Ajak Publik Mengkaji Referensi Nasab Secara Terbuka
Perbincangan mengenai kajian nasab kembali menjadi pembahasan dalam sebuah tayangan di kanal YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro yang disiarkan pada 5 Agustus 2026. Dalam kesempatan tersebut, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menyampaikan uraian panjang mengenai kitab Al-Khulasah An-Nafisah fi Nisbati Abnai Ahmad bin Isa Asyarifah yang disusun oleh Kiai Suprianto bin Kiai Harjo Aljawi atau yang dalam tayangan tersebut juga disebut sebagai Mbah Rian.
Pembahasan diawali dengan salam pembuka dan doa agar seluruh umat manusia memperoleh petunjuk serta rahmat dari Allah SWT. Rhoma Irama juga menyampaikan harapan agar manusia senantiasa diberikan kemampuan untuk memahami kebenaran dan hidup berdampingan dalam kedamaian.
Setelah pembukaan, ia langsung menjelaskan bahwa pembahasan malam itu difokuskan pada isi kitab Al-Khulasah An-Nafisah yang mulai beredar sejak tahun 2023. Menurutnya, kajian tersebut dilakukan secara terbuka dengan tujuan membandingkan isi kitab bersama berbagai referensi lain yang disebutkannya telah dibagikan kepada publik.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Menyebut Kajian Dilakukan Secara Terbuka
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro mengatakan bahwa pembahasannya bukan dimaksudkan untuk menyerang pribadi penulis kitab. Ia justru menyampaikan penghargaan kepada Kiai Suprianto sebagai sosok yang dinilainya memiliki kemampuan dalam bidang keilmuan.
Menurutnya, yang menjadi perhatian adalah kemungkinan isi kitab tersebut digunakan oleh pihak-pihak tertentu sebagai dasar dalam polemik mengenai nasab.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu memperoleh kesempatan melihat langsung referensi yang digunakan sehingga dapat melakukan perbandingan secara mandiri.
Dalam tayangan tersebut, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menyebut bahwa salinan kitab Al-Khulasah An-Nafisah telah disertakan bersama beberapa kitab lain yang menurutnya menjadi bahan pembanding dalam kajian.
Ia mengatakan pembahasan dilakukan secara terbuka agar siapa pun dapat menilai sendiri kesesuaian antara kutipan yang dicantumkan dalam kitab dengan naskah rujukan yang digunakan.
Menyoroti Perbedaan Penulisan pada Referensi
Salah satu pokok pembahasan yang disampaikan KRT Nur Ikhyak Hadinegoro berkaitan dengan adanya perbedaan redaksi antara kitab yang sedang dibahas dengan manuskrip yang dijadikan referensi.
Menurut penjelasannya, terdapat bagian yang dalam manuskrip tertentu menggunakan redaksi “fil Yaman”, sedangkan dalam kitab yang dikaji tertulis “fi Hadramaut.”
Perbedaan tersebut, menurut KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, menjadi alasan mengapa proses penelitian manuskrip harus dilakukan secara sangat hati-hati.
Ia menjelaskan bahwa seorang peneliti atau pentahkik kitab memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap kutipan benar-benar sesuai dengan naskah asli yang dijadikan sumber.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga mengaitkan hal tersebut dengan prinsip dalam ilmu periwayatan, yakni pentingnya menjaga ketelitian ketika menyampaikan sebuah riwayat agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam pemahaman.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Mengulas Latar Belakang Penyusunan Kitab
Dalam pembahasannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro kemudian mengutip bagian mukadimah kitab Al-Khulasah An-Nafisah.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan pengantar kitab tersebut, penulis menjelaskan proses penyusunannya bermula dari permintaan sejumlah rekan yang menginginkan adanya pembahasan mengenai polemik nasab yang berkembang di tengah masyarakat.
Rhoma Irama juga mengutip pernyataan penulis yang menyebut dirinya tidak mengikuti secara mendalam perkembangan polemik tersebut.
Selain itu, ia menyebut penulis mengakui bahwa proses penyusunan kitab dilakukan dalam waktu sekitar dua hari.
Menurut KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, pengakuan tersebut menjadi salah satu bagian penting yang kemudian ia soroti selama pembahasan berlangsung.
Ia menilai waktu penyusunan yang relatif singkat dapat menjadi alasan perlunya kajian ulang terhadap isi kitab, terutama apabila menyangkut kutipan dari berbagai referensi sejarah dan nasab.
Meski demikian, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro tetap menyampaikan bahwa setiap karya ilmiah pada dasarnya dapat dikembangkan dan diperbaiki apabila ditemukan kekeliruan.
Ajakan Mengedepankan Verifikasi Data
Sepanjang penjelasannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro berulang kali mengajak masyarakat untuk tidak hanya menerima sebuah pendapat tanpa melakukan pemeriksaan terhadap sumber aslinya.
Ia menyampaikan bahwa setiap kutipan perlu dibandingkan dengan manuskrip yang menjadi rujukan sehingga masyarakat dapat mengetahui apakah redaksi yang digunakan sesuai dengan naskah asal.
Menurutnya, proses verifikasi tersebut merupakan bagian penting dalam penelitian sejarah maupun kajian nasab.
Rhoma Irama juga mengatakan bahwa dirinya telah menyediakan beberapa manuskrip pembanding agar masyarakat dapat membaca langsung isi dokumen yang dimaksud.
Ia menegaskan bahwa publik dipersilakan melakukan pengecekan secara mandiri terhadap data yang dipaparkan sehingga kesimpulan yang diperoleh tidak hanya bergantung pada penjelasan satu pihak.
Menilai Ketelitian Menjadi Syarat Penting dalam Tahkik Manuskrip
Dalam pemaparannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menjelaskan bahwa proses tahkik manuskrip membutuhkan standar akademik yang tinggi.
Ia mengatakan seorang pentahkik harus memastikan setiap kutipan berasal dari manuskrip yang benar serta melakukan perbandingan terhadap berbagai versi naskah apabila tersedia.
Menurutnya, perbedaan satu kata dalam manuskrip dapat memengaruhi pemahaman terhadap isi sebuah karya sejarah maupun nasab.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian sebelum menyimpulkan suatu informasi berdasarkan kitab tertentu.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga menegaskan bahwa pembahasan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghalangi seseorang berkarya.
Sebaliknya, ia berharap setiap karya ilmiah dapat terus disempurnakan melalui proses diskusi dan pemeriksaan referensi secara terbuka sehingga menghasilkan kajian yang lebih kuat secara akademik.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Bandingkan Manuskrip Sikhahul Akhbar Versi Mesir dan India
Melanjutkan pembahasannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro mengajak para pemirsa membuka sejumlah kitab yang menurutnya menjadi rujukan utama dalam mengkaji persoalan nasab. Ia menyebut telah menyediakan salinan beberapa manuskrip agar masyarakat dapat melakukan perbandingan secara langsung tanpa hanya bergantung pada penjelasan lisan.
Menurutnya, salah satu kitab yang perlu dibandingkan ialah Sikhahul Akhbar dalam dua versi cetakan, yakni versi Mesir dan versi India. Kedua naskah tersebut dipaparkan sebagai bahan pembanding terhadap kutipan yang terdapat dalam kitab Al-Khulasah An-Nafisah fi Nisbati Abnai Ahmad bin Isa Asyarifah.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menjelaskan bahwa proses membandingkan beberapa manuskrip merupakan bagian dari metode penelitian yang bertujuan memastikan kesesuaian redaksi dengan sumber yang digunakan.
Menyoroti Perbedaan Redaksi “Fil Yaman” dan “Fi Hadramaut”
Dalam penjelasannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menunjukkan bagian yang menurutnya memiliki perbedaan penulisan.
Ia mengatakan bahwa pada naskah Sikhahul Akhbar versi Mesir maupun versi India, redaksi yang ditemukan berbunyi “fil Yaman”, sedangkan dalam kitab Al-Khulasah An-Nafisah tertulis “fi Hadramaut.”
Menurutnya, perbedaan tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan penyebutan lokasi yang menjadi bagian dari pembahasan sejarah nasab.
Ia kemudian mengajak para pemirsa untuk membuka halaman yang dimaksud pada masing-masing kitab sehingga setiap orang dapat memeriksa langsung isi manuskrip yang dijadikan pembanding.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menegaskan bahwa masyarakat dipersilakan menilai sendiri hasil perbandingan tersebut berdasarkan dokumen yang tersedia.
Menjelaskan Pentingnya Tahkik Manuskrip
Selain membahas isi kitab, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga menjelaskan proses tahkik atau penelitian terhadap manuskrip klasik.
Menurutnya, seorang pentahkik tidak hanya menyalin isi kitab, tetapi juga harus memastikan setiap kutipan berasal dari naskah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menjelaskan bahwa dalam praktik penelitian manuskrip, seorang peneliti biasanya membandingkan beberapa salinan yang berasal dari lokasi berbeda sebelum menetapkan satu redaksi sebagai bacaan yang dianggap paling mendekati naskah asli.
Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa proses tersebut memerlukan ketelitian karena satu kata yang berbeda dapat menghasilkan pemahaman yang berbeda pula.
Mengajak Publik Memeriksa Referensi Secara Mandiri
Sepanjang kajian berlangsung, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro beberapa kali mengajak masyarakat untuk membaca sendiri referensi yang dipaparkan.
Ia mengatakan bahwa seluruh data yang digunakan dalam pembahasan sengaja diperlihatkan agar publik dapat melakukan pengecekan secara langsung.
Menurutnya, kajian ilmiah akan lebih bermanfaat apabila setiap orang memiliki kesempatan membandingkan sumber-sumber primer daripada hanya menerima kesimpulan dari satu pihak.
Karena itu, ia menyampaikan bahwa masyarakat dipersilakan mempelajari kitab-kitab yang telah disebutkan dan melakukan penilaian secara mandiri.
Menilai Diskusi Ilmiah Perlu Berlandaskan Data
Dalam kesempatan tersebut, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga menyinggung pentingnya membangun diskusi berdasarkan data dan referensi.
Ia menyampaikan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang lazim terjadi dalam kajian sejarah maupun nasab.
Namun, menurutnya, setiap argumen perlu disertai rujukan yang dapat diperiksa kembali sehingga pembahasannya tidak hanya bertumpu pada asumsi.
Ia mengatakan bahwa apabila ditemukan kekeliruan dalam sebuah karya, maka hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan pada penelitian berikutnya.
Menggunakan Analogi untuk Menjelaskan Pentingnya Penelitian
Dalam penjelasannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro beberapa kali menggunakan analogi agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami.
Salah satu contoh yang ia gunakan adalah perkembangan teknologi kapal besi.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu banyak orang beranggapan kapal harus dibuat dari kayu agar dapat mengapung di atas air. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan kemudian membuktikan bahwa kapal berbahan besi pun dapat mengapung apabila dirancang sesuai prinsip fisika.
Menurutnya, perubahan pemahaman tersebut menunjukkan pentingnya penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Ia juga mengaitkan analogi tersebut dengan sikap terbuka terhadap hasil penelitian baru selama didukung oleh data dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menyinggung Pentingnya Seminar dan Diskusi Terbuka
Selain mengulas kitab, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga menyampaikan kesediaannya mengikuti forum diskusi terbuka mengenai sejumlah tema yang dibahas dalam kajian tersebut.
Ia mengatakan bahwa forum ilmiah dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan dengan tetap mengedepankan penyampaian data, dalil, maupun referensi yang digunakan masing-masing pihak.
Menurutnya, diskusi semacam itu sebaiknya dilakukan dengan kesepakatan bahwa tidak ada peserta yang sejak awal menganggap dirinya sebagai pihak yang paling benar.
Dengan demikian, pembahasan dapat berlangsung sebagai proses saling menguji argumentasi berdasarkan sumber yang tersedia.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Soroti Pentingnya Memilah Sumber Sejarah
Dalam bagian lain kajiannya, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga membahas perlunya memilah sumber sejarah yang digunakan dalam penelitian.
Ia menyampaikan bahwa tidak seluruh kisah yang beredar dalam berbagai kitab memiliki tingkat validitas yang sama.
Menurutnya, setiap riwayat perlu ditelusuri asal-usulnya, termasuk siapa penulisnya, kapan karya tersebut disusun, serta manuskrip apa yang menjadi dasar penyusunannya.
Ia juga menyinggung adanya perbedaan antara data primer, data sekunder, dan penambahan yang muncul pada sejumlah naskah di masa berikutnya.
Karena itu, menurut KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, penelitian terhadap sejarah maupun nasab memerlukan pemeriksaan yang menyeluruh agar kesimpulan yang dihasilkan memiliki dasar yang jelas.
Pada akhir bagian ini, ia kembali mengingatkan bahwa tujuan kajian yang disampaikannya adalah membuka ruang bagi masyarakat untuk mempelajari berbagai referensi secara langsung, sekaligus mendorong lahirnya diskusi yang didasarkan pada penelitian dan pembacaan manuskrip.
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro Dorong Keterbukaan terhadap Ilmu Pengetahuan dan Kajian Keislaman
Selain membahas persoalan manuskrip dan nasab, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam pemaparannya, ia beberapa kali menggunakan contoh perkembangan teknologi sebagai ilustrasi bahwa suatu pandangan dapat berubah setelah melalui proses penelitian yang panjang. Salah satu contoh yang disampaikan adalah perkembangan kapal berbahan besi yang pada masanya pernah dianggap tidak mungkin dapat mengapung.
Menurut KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, sejarah perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa berbagai teori lahir melalui penelitian, pengujian, dan pembuktian yang berlangsung dalam waktu lama.
Atas dasar itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menutup diri terhadap proses penelitian, baik dalam bidang sejarah, manuskrip, maupun kajian keislaman.
Mengaitkan Kajian Agama dengan Semangat Penelitian
Dalam tayangan tersebut, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga menyampaikan bahwa pembelajaran agama dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak harus dipertentangkan.
Ia menilai keduanya dapat berjalan berdampingan selama dilakukan dengan pendekatan yang bertanggung jawab serta berlandaskan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, kajian sejarah Islam, nasab, hadis, maupun manuskrip klasik memerlukan ketelitian yang sama seperti penelitian pada bidang ilmu lainnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk membiasakan diri membaca berbagai referensi sebelum mengambil kesimpulan terhadap suatu persoalan.
Menyampaikan Ajakan Berdialog Secara Terbuka
Selama penyampaian materi, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro beberapa kali menyatakan kesediaannya mengikuti forum diskusi maupun seminar ilmiah apabila diperlukan.
Ia mengatakan bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang lumrah dalam dunia akademik maupun kajian keagamaan.
Namun demikian, menurutnya, dialog akan lebih bermanfaat apabila setiap peserta membawa data, referensi, serta argumentasi yang dapat diperiksa bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa forum ilmiah sebaiknya tidak dijadikan ruang untuk saling menjatuhkan, melainkan menjadi sarana memperkaya pengetahuan melalui pembahasan yang terbuka.
Menekankan Pentingnya Sikap Rendah Hati dalam Menuntut Ilmu
Pada bagian akhir kajian, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menyampaikan bahwa dirinya tetap memandang proses belajar sebagai perjalanan yang tidak pernah selesai.
Ia mengatakan seseorang perlu bersedia menerima koreksi apabila ditemukan data baru yang lebih kuat maupun referensi yang lebih lengkap.
Menurutnya, sikap terbuka terhadap masukan merupakan bagian penting dalam tradisi keilmuan.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah menganggap suatu pembahasan telah selesai tanpa melalui proses pemeriksaan terhadap sumber-sumber yang digunakan.
Mengingatkan Pentingnya Memeriksa Sumber Asli
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro kembali mengajak para pemirsa untuk membaca langsung kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam kajiannya.
Ia menyebutkan bahwa masyarakat dapat membandingkan isi manuskrip yang berbeda agar memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai suatu persoalan.
Menurutnya, proses tersebut lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan potongan informasi yang beredar di media sosial ataupun cuplikan video yang tidak menampilkan keseluruhan penjelasan.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengimbau agar materi ceramah yang disebarluaskan tetap mempertahankan konteks pembahasannya sehingga tidak menimbulkan salah tafsir di tengah masyarakat.
Kajian Ditutup dengan Ajakan Terus Belajar
Menjelang akhir siaran, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro kembali menegaskan bahwa kajian yang disampaikannya bertujuan membuka ruang pembelajaran bersama.
Ia mempersilakan masyarakat memeriksa sendiri manuskrip yang telah disebutkan, kemudian membandingkan setiap kutipan dengan naskah rujukan yang tersedia.
Menurutnya, masyarakat memiliki kesempatan untuk menilai sendiri argumentasi yang disampaikan berdasarkan data yang dipaparkan dalam kajian tersebut.
Ia kemudian menutup pembahasan dengan harapan agar seluruh materi yang telah disampaikan dapat memberikan manfaat serta menjadi bahan pembelajaran bagi para pemirsa.
Kesimpulan
Kajian yang disampaikan KRT Nur Ikhyak Hadinegoro pada 5 Agustus 2026 berfokus pada pembahasan kitab Al-Khulasah An-Nafisah fi Nisbati Abnai Ahmad bin Isa Asyarifah melalui perbandingan dengan sejumlah manuskrip yang disebut sebagai referensi.
Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya proses tahkik manuskrip, verifikasi kutipan, serta pemeriksaan terhadap sumber-sumber primer sebelum menarik kesimpulan dalam kajian sejarah maupun nasab.
Selain itu, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro juga mengajak masyarakat mengedepankan dialog ilmiah, keterbukaan terhadap penelitian, serta kebiasaan memeriksa data secara langsung agar pembahasan mengenai sejarah dan nasab dilakukan berdasarkan referensi yang dapat diuji.
FAQ
Apa yang dibahas KRT Nur Ikhyak Hadinegoro dalam tayangan 5 Agustus 2026?
KRT Nur Ikhyak Hadinegoro membahas kitab Al-Khulasah An-Nafisah fi Nisbati Abnai Ahmad bin Isa Asyarifah, metode tahkik manuskrip, serta pentingnya membandingkan berbagai referensi dalam kajian nasab.
Mengapa manuskrip Sikhahul Akhbar menjadi perhatian dalam kajian tersebut?
Dalam tayangan itu, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro membandingkan naskah Sikhahul Akhbar versi Mesir dan versi India dengan kutipan yang terdapat dalam kitab Al-Khulasah An-Nafisah untuk menunjukkan adanya perbedaan redaksi yang menurutnya perlu diteliti lebih lanjut.
Apa pesan utama yang disampaikan KRT Nur Ikhyak Hadinegoro?
Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya melakukan penelitian, memeriksa sumber asli, membangun diskusi berdasarkan data, serta bersikap terbuka terhadap koreksi dalam proses pencarian ilmu.
Mengapa verifikasi referensi dianggap penting?
Menurut KRT Nur Ikhyak Hadinegoro, verifikasi referensi diperlukan agar setiap kesimpulan dalam kajian sejarah maupun nasab didasarkan pada manuskrip dan sumber yang dapat diperiksa kembali oleh masyarakat maupun peneliti lain.
Apa tujuan kajian yang disampaikan?
Dalam penutup tayangan, KRT Nur Ikhyak Hadinegoro menyatakan bahwa kajian tersebut dimaksudkan sebagai ruang belajar bersama dengan mengajak masyarakat membaca langsung referensi yang digunakan dan melakukan penilaian berdasarkan data yang tersedia.
Sumber berita:








