Perbincangan Kanal Gus Aziz Jazuli Soal Ziarah, Haul Solo, dan Catatan tentang Muawiyah

WARTA BATAVIA – BANTEN — Perbincangan di kanal Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 20 Januari 2026 membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan tradisi ziarah, haul, pencarian keberkahan, serta sejumlah catatan mengenai tokoh-tokoh yang disebut dalam literatur keagamaan dan sejarah.
Dalam perbincangan tersebut, pembicara menyoroti pengalaman menghadiri kegiatan haul di Solo yang dikaitkan dengan Habib Ali Al-Habsyi, pengarang Simtud Duror. Pembahasan kemudian berkembang pada pertanyaan mengenai latar belakang tradisi haul, bagaimana masyarakat mengenal tokoh yang diziarahi, serta sejauh mana informasi mengenai biografi dan sejarah tokoh menjadi pertimbangan ketika seseorang menghadiri kegiatan tersebut.
Selain persoalan haul dan ziarah, perbincangan juga menyinggung sejumlah nama yang disebut berkaitan dengan sikap terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan. Dalam dialog itu disebut adanya sejumlah tokoh dari kalangan habib yang menurut pembicara memiliki catatan mengenai pelaknatan terhadap Muawiyah.
Pembahasan tersebut merujuk antara lain pada kitab Al-Bayan li Waqi’ Asad Al Abi Alawi min Muawiyah bin Abi Sufyan dan An-Nashaihul Kafiyah. Para pembicara membedakan antara istilah “tidak mencintai” dan “melaknat”, karena menurut penjelasan dalam dialog, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda.
Perbincangan juga memuat pengalaman salah seorang narasumber yang sejak masa sekolah dasar mengikuti pembacaan Simtud Duror, kemudian ketika kuliah ikut menghadiri haul Habib Ali Al-Habsyi di Solo. Narasumber mengatakan, keputusan tersebut pada masa itu dilakukan karena mengikuti guru dan lingkungan pengajian.
Pembahasan tentang Tradisi Haul dan Pencarian Keberkahan
Salah satu bagian awal perbincangan membahas kebiasaan masyarakat mendatangi makam tokoh agama untuk mencari keberkahan. Dalam dialog tersebut muncul anjuran agar masyarakat juga mengingat makam guru-guru ngaji yang mengajarkan dasar-dasar membaca Al-Quran.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks pembahasan mengenai perjalanan menuju Solo untuk menghadiri kegiatan haul. Pembicara menyebut, daripada melakukan perjalanan jauh, masyarakat dapat berziarah ke makam guru ngaji yang telah mengajarkan dasar-dasar ilmu agama.
Dalam transkrip, pembicara mengatakan bahwa membeli bunga dalam jumlah banyak dan menaburkannya di makam guru ngaji dapat menjadi pilihan dibanding melakukan perjalanan jauh ke Solo untuk mencari keberkahan. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari percakapan mengenai pengalaman pribadi dan evaluasi terhadap kegiatan ziarah yang pernah dilakukan.
Pembahasan kemudian beralih kepada sejarah serta figur yang menjadi pusat kegiatan haul.
Salah satu nama yang disebut adalah Habib Ali Al-Habsyi, yang dikenal dalam perbincangan sebagai pengarang Simtud Duror. Narasumber menceritakan bahwa sejak sekolah dasar dirinya telah terbiasa membaca kitab atau maulid tersebut setiap pekan.
Kebiasaan membaca Simtud Duror itu kemudian menjadi salah satu alasan dirinya memiliki ketertarikan terhadap haul Habib Ali Al-Habsyi.
Enam Tokoh yang Disebut dalam Pembahasan Muawiyah
Bagian lain dalam dialog membahas sejumlah tokoh yang menurut pembicara memiliki pandangan terkait pelaknatan terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan.
Dalam perbincangan disebut setidaknya enam nama, yaitu Habib Ali Al-Habsyi, Muhammad bin Aqil bin Yahya, Abu Bakar bin Syihab, Muhammad bin Ahmad Muhzar, Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf, serta Ali bin Abdurrahman bin Sahal.
Pembicara menegaskan bahwa penyebutan nama-nama tersebut dilakukan dalam konteks pembahasan sumber atau referensi yang sedang dikaji.
Ia juga mengatakan bahwa pembahasan tersebut tidak sedang masuk pada persoalan akidah atau mengklasifikasikan apakah tokoh-tokoh tersebut termasuk Syiah atau bukan. Menurut penjelasan dalam dialog, fokus pembahasan adalah keberadaan catatan yang dikaitkan dengan sikap terhadap Muawiyah.
“Setidak-tidaknya ada enam tokoh dari kalangan Habib yang memperbolehkan pelaknatan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan,” demikian substansi pernyataan dalam perbincangan tersebut.
Pembicaraan selanjutnya mengarah pada perbedaan makna antara “tidak mencintai” dan “melaknat”.
Perbedaan Makna “Tidak Mencintai” dan “Melaknat”
Dalam dialog tersebut, salah seorang pembicara mengutip pernyataan yang disebut terdapat dalam sebuah buku pada halaman 229.
Pernyataan itu dinisbatkan kepada Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, yang disebut sebagai wali kutub. Kutipan yang dibahas berbunyi bahwa setiap Alawi atau habaib “tidak mencintai Muawiyah dan sahabat-sahabatnya”.
Dari kutipan tersebut muncul pertanyaan apakah “tidak mencintai” memiliki makna yang sama dengan “melaknat”.
Pembicara kemudian menjelaskan bahwa kedua istilah tersebut berbeda.
Menurut penjelasan dalam dialog, seseorang yang tidak menyukai tokoh tertentu tidak secara otomatis berarti orang tersebut melaknat tokoh yang tidak disukainya.
Dalam konteks yang dibicarakan, “tidak mencintai” dipahami sebagai sikap yang berbeda dari tindakan melaknat. Pembicara memberikan ilustrasi bahwa seseorang dapat tidak menyukai orang lain tanpa harus menyebut atau mencacinya di hadapan publik maupun secara internal.
Sementara itu, melaknat dinilai sebagai tindakan yang lebih jauh daripada sekadar tidak menyukai.
Pembicara kemudian kembali merujuk pada redaksi yang disebut terdapat dalam sumber yang sama, yaitu la yuhibbu Muawiyata wa ashabahu, yang diterjemahkan dalam perbincangan sebagai tidak mencintai Muawiyah dan para sahabatnya.
Menurut dialog tersebut, redaksi itu tidak dapat langsung disamakan dengan tindakan melaknat.
Rujukan kepada Kitab An-Nashaihul Kafiyah
Perbedaan tersebut kemudian dikaitkan dengan sumber lain yang disebut dalam dialog, yakni An-Nashaihul Kafiyah.
Pembicara menyebut bahwa dalam kitab tersebut terdapat catatan yang dikaitkan dengan Habib Ali Al-Habsyi kepada muridnya, Abu Bakar bin Syihab, kemudian kepada Muhammad bin Aqil bin Yahya.
Menurut penjelasan yang disampaikan, sumber tersebut menggunakan redaksi yang berkaitan dengan tindakan melaknat sehingga dianggap berbeda dari redaksi “tidak mencintai”.
Dialog kemudian membahas beberapa nama lain yang disebut memiliki catatan serupa.
Salah satu nama yang dibicarakan adalah Habib Ali bin Hasan Al-Attas. Ia disebut memiliki sejumlah karya yang kemudian dijadikan bahan rujukan dalam pembahasan.
Pembicara menyebut karya yang namanya terdengar dalam transkrip sebagai Al-Qirthas atau Al-Qiras, serta karya lain yang berkaitan dengan manaqib Habib Umar bin Abdurrahman.
Pernyataan tentang Muawiyah dan Sayyidina Ali
Dalam pembahasan mengenai karya Habib Ali bin Hasan Al-Attas, narasumber mengutip bagian yang menurutnya menyatakan bahwa Muawiyah berada dalam keadaan celaka karena memusuhi pihak yang mendapatkan petunjuk, yang dalam dialog disebut sebagai Sayyidina Ali.
Pembicara kemudian menghubungkan istilah “celaka” dengan penafsiran tertentu terhadap kata yang digunakan dalam sumber tersebut.
Dalam penjelasannya, istilah tersebut dikaitkan dengan neraka dan dipahami sebagai gambaran beratnya posisi Muawiyah menurut teks yang sedang dibahas.
Pembicaraan itu ditempatkan dalam konteks konflik antara Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
Namun, dialog tersebut tidak membahas secara panjang seluruh rangkaian sejarah konflik tersebut. Fokus narasumber adalah kutipan-kutipan yang disebut berasal dari karya tokoh-tokoh tertentu.
Nama Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf
Nama lain yang disebut adalah Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf.
Dalam dialog, pembicara menyebut adanya pernyataan yang dikaitkan dengan tokoh tersebut ketika mengenang peristiwa yang berkaitan dengan Ahlul Bait.
Kutipan yang disampaikan dalam perbincangan menggambarkan kesedihan ketika mengingat peristiwa yang berkaitan dengan Ahlul Bait, kemudian diikuti pernyataan mengenai pencacian terhadap musuh-musuh Ali serta permohonan agar mereka mendapatkan laknat Allah.
Pembicara juga menyebut Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf sebagai salah seorang sejarawan yang menulis sejumlah karya.
Di antaranya disebut Idam al-Qud fi Dzikri Buldan Hadramaut, kemudian karya lain yang dalam transkrip terdengar sebagai Balabilut Taghrid dan Al-Udud Hindi.
Dalam dialog, tokoh tersebut disebut sebagai salah satu sejarawan Balawi.
Pembahasan Sumber dan Referensi
Setelah menyampaikan sejumlah kutipan, pembicara menjelaskan bahwa data yang dipaparkan berasal dari beberapa referensi.
Ia menegaskan bahwa pembahasan tersebut tidak hanya didasarkan pada satu kitab.
Nama Muhammad bin Aqil bin Yahya kembali disebut sebagai salah satu sumber catatan. Selain itu, An-Nashaihul Kafiyah juga disebut sebagai referensi.
Pembicara juga mengatakan bahwa dirinya mencoba menelusuri Majmu’ Kalam karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi untuk mengetahui apakah terdapat pembahasan terkait hal yang sedang dikaji.
Namun, pencarian tersebut disebut belum selesai karena karya yang dicari terdiri atas empat jilid.
Dalam dialog, pencarian terhadap sumber tersebut digambarkan sebagai pekerjaan yang membutuhkan waktu.
Pembicaraan mengenai sumber ini menunjukkan bahwa para narasumber sedang berusaha membandingkan sejumlah referensi yang mereka anggap berkaitan dengan tema yang dibahas.
Perdebatan Mengenai Haul Solo
Setelah pembahasan mengenai Muawiyah, percakapan beralih kembali pada kegiatan haul Solo.
Salah seorang pembicara mempertanyakan apakah masyarakat yang menghadiri haul tersebut benar-benar mengetahui sejarah Habib Ali Al-Habsyi dan alasan kegiatan haul diselenggarakan.
Pertanyaan tersebut juga diarahkan kepada kemungkinan bahwa sebagian masyarakat mengikuti kegiatan karena tradisi atau penghormatan kepada lingkungan pengajian.
Dalam perbincangan disebut adanya pertanyaan mengenai apakah masyarakat telah mengkaji sejarah Habib Ali Al-Habsyi sebelum menghadiri haul.
Pembicara juga mempertanyakan sejarah keterkaitan Habib Ali Al-Habsyi dengan Solo.
Dalam dialog disebutkan bahwa Habib Ali Al-Habsyi disebut tidak pernah datang ke Solo. Dari sini kemudian muncul pertanyaan mengenai alasan keturunannya atau pihak lain menyelenggarakan haul Solo.
Pertanyaan tentang Dasar Penyelenggaraan Haul Solo
Pembicara kemudian menyampaikan pandangan bahwa jika seseorang hendak menyelenggarakan haul untuk seorang tokoh, identitas dan peran tokoh tersebut di suatu daerah perlu diketahui.
Dalam dialog disebut bahwa setidaknya seorang tokoh yang dihauli dianggap perlu memiliki peran yang dikenal di daerah tersebut, misalnya dalam pembangunan kota. Seperti Haul Solo,apa peran Habib tersebut di kota Solo?
Pembicaraan itu kemudian mengarah pada pertanyaan mengenai dukungan pemerintah terhadap kegiatan tersebut.
Narasumber menyebut adanya dukungan pemerintah dan mengaitkannya dengan Dinas Pariwisata.
Dalam dalam video terdapat penyebutan angka Rp800 juta yang dipertanyakan sumbernya. Narasumber mengaitkan pertanyaan tersebut dengan data mengenai jumlah penduduk Indonesia.
Mengapa Masyarakat Mengikuti Tradisi Haul?
Salah satu pertanyaan utama dalam dialog adalah mengapa masyarakat dapat mengikuti sebuah tradisi secara luas.
Pembicara mempertanyakan apakah masyarakat sebelumnya mempelajari biografi tokoh yang dihauli, latar belakang kehidupannya, serta sejarah dan keilmuannya.
Dalam jawabannya, narasumber mengatakan bahwa masyarakat Nusantara memiliki kultur yang cenderung polos dalam menerima tradisi.
Pernyataan tersebut digunakan untuk menjelaskan pengalaman pribadinya ketika menghadiri haul Solo.
Ia kemudian menceritakan bahwa dirinya pada waktu itu datang bukan karena melakukan penelitian sejarah mengenai Habib Ali Al-Habsyi, melainkan karena mengikuti guru.
Pengalaman Menghadiri Haul Solo Saat Kuliah
Narasumber menceritakan bahwa ketika kuliah di Malang, ia belajar kepada seorang guru yang merupakan murid seorang habib.
Menurut ceritanya, sang guru sangat takzim kepada gurunya ketika guru tersebut menghadiri haul Solo.
Sebagai murid, narasumber kemudian mengikuti guru tersebut.
Ia mengatakan bahwa dirinya bersama sejumlah orang melakukan urunan kendaraan untuk pergi ke Solo.
Peristiwa itu diperkirakan terjadi sekitar 2009 atau 2010, ketika narasumber masih berada pada masa awal kuliah.
Ia mengingat bahwa uang kuliahnya pada waktu itu sekitar Rp500.000 per bulan. Sementara untuk perjalanan, ia menyebut mengeluarkan sekitar Rp150.000 sebagai bagian dari urunan.
Pengeluaran tersebut dilakukan dengan tujuan mencari keberkahan dari Habib Ali Al-Habsyi, yang dikenal sebagai pengarang Simtud Duror.
Ketertarikan terhadap Simtud Duror Sejak Sekolah Dasar
Narasumber kemudian menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap Habib Ali Al-Habsyi tidak muncul secara tiba-tiba.
Menurut ceritanya, sejak sekolah dasar ia telah membaca Simtud Duror secara rutin.
Ia menyebut setiap malam Senin dirinya membaca maulid tersebut.
Kebiasaan itu juga berlangsung dalam kegiatan keagamaan di Banyuwangi. Menurut narasumber, Simtud Duror sering dibaca dalam kegiatan maulid atau acara keagamaan yang diikutinya.
Karena telah mengenal Simtud Duror sejak kecil, ia kemudian mengaitkan haul Habib Ali Al-Habsyi dengan sosok pengarang kitab yang selama bertahun-tahun dibacanya.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan kuat yang membuatnya bersedia melakukan perjalanan ke Solo.
Pengalaman Ziarah ke Sejumlah Makam
Selain Solo, narasumber juga menceritakan pengalaman mendatangi sejumlah lokasi ziarah.
Ia menyebut pernah datang ke Solo, Gresik, Pasuruan, Tanggul, Surabaya, dan kawasan Sunan Ampel.
Di Pasuruan, ia mengatakan tidak hanya mendatangi makam Kiai Hamid, tetapi juga menyebut nama Abu Ja’far Syihon dan Taufik dalam cerita perjalanannya.
Di Surabaya, ia menyebut pernah berziarah ke Sunan Ampel atau Raden Rahmat.
Namun, dalam pengalaman tersebut, ia juga mengatakan pernah diarahkan oleh gurunya untuk mendatangi makam lain sebelum berziarah ke makam Sunan Ampel.
Ziarah di Kawasan Sunan Ampel
Narasumber menceritakan bahwa gurunya pernah mengatakan bahwa jika hendak berziarah ke Sunan Ampel, ia harus terlebih dahulu mendatangi sebuah makam habib yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Dalam dialog, narasumber menyebut lokasi makam tersebut berada dekat dengan Sunan Ampel dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Pembicara lain kemudian menanyakan apakah makam yang dimaksud adalah makam Habib Syekh bin Ahmad Begi atau makam di Boto Putih.
Namun, narasumber mengatakan dirinya tidak mengetahui secara pasti identitas tokoh yang dimaksud dan menyebut bahwa ia datang ke lokasi yang disebut Boto Putih atau kawasan makam yang dekat dengan Sunan Ampel.
Dialog mengenai lokasi makam tersebut menunjukkan adanya percakapan silang antara para narasumber mengenai identitas tokoh dan tempat yang dimaksud.
Materi yang diberikan tidak memuat verifikasi lebih lanjut mengenai identitas makam tersebut.
Pengalaman Mengikuti Ratib dan Wirid
Narasumber juga menceritakan bahwa keterlibatannya dalam lingkungan pengajian berlangsung selama bertahun-tahun.
Ia menyebut telah membaca Ratibul Haddad, Ratibul Athos, dan Wirdus Sakran.
Bahkan, menurut pengakuannya, beberapa wirid tersebut telah dihafalnya.
Ia juga menyebut wirid yang dikaitkan dengan Habib Ali bin Abu Bakar dan kitab Burqatul Musyiqah.
Cerita tersebut digunakan narasumber untuk menggambarkan lamanya dirinya berada dalam lingkungan pengajian yang memiliki hubungan dengan tradisi habaib.
Pengakuan tentang Masa Mengikuti Tradisi
Salah satu bagian penting dalam perbincangan adalah pengakuan narasumber mengenai lamanya dirinya mengikuti tradisi tersebut.
Ia mengatakan bahwa sejak sekolah dasar hingga masa kuliah dirinya berada dalam lingkungan yang menjalankan tradisi pembacaan maulid, ratib, dan kegiatan ziarah.
Dalam dialog disebut angka lebih dari 27 tahun.
Narasumber mengatakan bahwa dirinya baru menyadari sejumlah hal sekitar empat setengah tahun sebelum perbincangan berlangsung.
Ia menyebut pada saat itu dirinya sudah menyelesaikan pendidikan S1 dan sedang menuju S2.
Cerita tersebut menjadi bagian dari refleksi pribadi narasumber mengenai perubahan pandangan yang dialaminya.
Pengalaman Kehilangan Telepon Saat ke Solo
Narasumber juga menceritakan pengalaman ketika menghadiri haul di Solo.
Ia mengatakan bahwa dalam perjalanan tersebut telepon selulernya hilang.
Kejadian itu kemudian dikenang sebagai salah satu pengalaman yang menurutnya membuat dirinya mempertanyakan kembali perjalanan tersebut.
Ia mengatakan bahwa pada saat itu dirinya bahkan harus kembali menyediakan uang untuk keperluan kuliah.
Menurut narasumber, pengalaman tersebut baru ia tafsirkan beberapa tahun kemudian sebagai sebuah peringatan.
Namun, pernyataan mengenai makna pengalaman tersebut disampaikan sebagai pandangan dan interpretasi pribadi narasumber dalam dialog.
Perubahan Sikap Setelah Bertahun-tahun
Dalam bagian akhir perbincangan, narasumber mengatakan bahwa dirinya baru menyadari sejumlah hal beberapa tahun setelah pengalaman tersebut.
Ia mempertanyakan mengapa kesadaran tersebut tidak muncul sejak awal.
Ia juga menyebut dirinya merasa baru memahami pengalaman masa lalu setelah melalui proses panjang.
Dalam dialog, narasumber menggunakan istilah bahwa dirinya dahulu “bahlul” atau belum memahami hal tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pengakuan pribadi mengenai perjalanan pemikirannya.
Pernyataan tentang Keberanian Menyuarakan Kebenaran
Perbincangan juga menyentuh perubahan sikap narasumber setelah ia menyatakan diri “insaf” dan mulai tampil di media.
Ia menceritakan bahwa setelah tampil di media, dirinya sempat merasa takut ketika kembali datang ke kawasan Ampel.
Rasa takut tersebut dikaitkan dengan kemungkinan mendapatkan reaksi dari pihak tertentu.
Namun, ia kemudian mengatakan bahwa dirinya telah siap menghadapi risiko.
Ia menyatakan bahwa kebenaran menurut pandangannya harus disampaikan meskipun memiliki risiko.
Dalam dialog, narasumber juga menghubungkan hal tersebut dengan perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan kebenaran.
Pernyataan itu disampaikan dalam konteks pengalaman pribadi narasumber setelah berubah sikap dan mulai berbicara secara terbuka melalui media.
Perjalanan dari Tradisi ke Kajian
Jika dilihat berdasarkan rangkaian percakapan, narasumber menceritakan perjalanan panjang dari mengikuti tradisi sejak kecil hingga melakukan peninjauan kembali terhadap sejumlah kegiatan yang pernah diikutinya.
Pada masa sekolah dasar, ia mengaku rutin membaca Simtud Duror.
Ketika kuliah, ia mengikuti guru untuk menghadiri haul Habib Ali Al-Habsyi di Solo.
Setelah bertahun-tahun berada dalam lingkungan tersebut, ia mengatakan mulai melakukan pertanyaan dan kajian ulang.
Pembahasan yang disampaikan di kanal Gus Aziz Jazuli kemudian mempertemukan dua tema utama, yakni pengalaman tradisi ziarah dan haul serta pembahasan sumber-sumber yang berkaitan dengan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Sumber-Sumber yang Disebut dalam Perbincangan
Sejumlah kitab dan karya disebut selama dialog berlangsung.
Beberapa di antaranya adalah:
- Al-Bayan li Waqi’ Asad Al Abi Alawi min Muawiyah bin Abi Sufyan.
- An-Nashaihul Kafiyah.
- Majmu’ Kalam karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
- Karya yang disebut sebagai Al-Qirthas atau Al-Qiras.
- Karya mengenai manaqib Habib Umar bin Abdurrahman.
- Karya sejarah yang dinisbatkan kepada Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf.
Penyebutan sumber-sumber tersebut berlangsung dalam bentuk percakapan dan penelusuran referensi. Materi yang tersedia tidak memuat reproduksi lengkap seluruh teks dari setiap kitab sehingga artikel ini tidak melakukan verifikasi terhadap keseluruhan isi karya tersebut.
Nama-Nama Tokoh yang Muncul dalam Pembahasan
Selain Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Ali, sejumlah tokoh lain disebut dalam perbincangan.
Nama yang muncul antara lain Habib Ali Al-Habsyi, Muhammad bin Aqil bin Yahya, Abu Bakar bin Syihab, Muhammad bin Ahmad Muhzar, Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf, Ali bin Abdurrahman bin Sahal, Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, Habib Ali bin Hasan Al-Attas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Habib Halim, serta sejumlah nama lain yang muncul dalam konteks pengalaman ziarah dan pengajian.
Dalam dialog, penyebutan nama-nama tersebut memiliki konteks yang berbeda. Sebagian dibahas sebagai penulis atau sumber rujukan, sementara lainnya muncul dalam pengalaman pribadi narasumber.
Pentingnya Membedakan Kutipan dan Interpretasi
Perbincangan di kanal tersebut juga memperlihatkan adanya pembedaan antara teks yang disebut berasal dari kitab dan penafsiran terhadap teks tersebut.
Misalnya, ketika membahas istilah “tidak mencintai” dan “melaknat”, narasumber menjelaskan bahwa keduanya tidak otomatis bermakna sama.
Hal yang sama terjadi ketika pembicara menafsirkan istilah tertentu yang disebut berkaitan dengan “celaka” dan menghubungkannya dengan tingkatan neraka.
Dalam konteks pemberitaan, pernyataan tersebut merupakan bagian dari penjelasan narasumber berdasarkan referensi yang sedang mereka bahas.
Artikel ini tidak menambahkan penilaian di luar materi perbincangan.
Haul, Ziarah, dan Pengalaman Pribadi Narasumber
Pengalaman narasumber dalam mengikuti haul di Solo menjadi salah satu bagian paling panjang dalam perbincangan.
Ia menceritakan bahwa perjalanan tersebut dilakukan bersama teman-teman kuliah dari sejumlah daerah, termasuk Madura, Nganjuk, dan Kediri.
Mereka disebut membiayai perjalanan secara mandiri.
Tujuan mereka ketika itu adalah mencari keberkahan dari Habib Ali Al-Habsyi.
Narasumber mengaku sangat bersemangat karena telah mengenal Simtud Duror sejak kecil.
Ia juga mengaku mengalokasikan sebagian uang yang biasanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan kuliah untuk membiayai perjalanan.
Dari Mengikuti Guru hingga Mengkaji Kembali
Cerita tersebut memperlihatkan bahwa keputusan narasumber menghadiri haul pada masa itu berkaitan erat dengan hubungan guru dan murid.
Ia mengatakan bahwa gurunya sangat menghormati gurunya sendiri ketika menghadiri haul.
Sebagai murid, ia kemudian mengikuti.
Dengan demikian, dalam cerita narasumber, keputusan menghadiri haul tidak semata-mata berasal dari hasil penelitian pribadi mengenai sejarah tokoh, melainkan juga dari hubungan pendidikan dan keteladanan guru.
Setelah bertahun-tahun, narasumber kemudian mengatakan bahwa ia mulai meninjau kembali pengalaman tersebut.
Kesimpulan Perbincangan
Perbincangan di kanal Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 20 Januari 2026 memuat dua kelompok pembahasan utama.
Pertama, mengenai tradisi ziarah dan haul, terutama pengalaman menghadiri haul Habib Ali Al-Habsyi di Solo. Narasumber menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap Habib Ali Al-Habsyi berawal dari kebiasaan membaca Simtud Duror sejak sekolah dasar.
Ketika kuliah di Malang sekitar 2009–2010, ia mengikuti gurunya menghadiri haul di Solo. Perjalanan itu dilakukan bersama sejumlah teman dengan biaya yang dikumpulkan secara mandiri.
Kedua, mengenai sejumlah referensi yang disebut memiliki catatan tentang Muawiyah bin Abi Sufyan. Dalam pembahasan tersebut disebut enam nama yang dikaitkan dengan pandangan mengenai pelaknatan terhadap Muawiyah.
Para pembicara juga membedakan antara istilah “tidak mencintai” dan “melaknat”. Perbedaan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan karena terdapat kutipan yang disebut menggunakan istilah “tidak mencintai”, sementara sumber lain disebut menggunakan istilah yang berkaitan dengan laknat.
Di sisi lain, narasumber juga menceritakan perjalanan pribadinya selama puluhan tahun dalam lingkungan tradisi pengajian, maulid, ratib, ziarah, dan haul. Ia mengatakan bahwa setelah bertahun-tahun mengikuti tradisi tersebut, dirinya kemudian melakukan peninjauan kembali terhadap sejumlah pengalaman masa lalu.
Perbincangan tersebut pada akhirnya memperlihatkan bagaimana pengalaman mengikuti guru, kebiasaan membaca Simtud Duror, perjalanan ziarah, serta penelusuran terhadap sejumlah kitab menjadi bagian dari cerita perubahan pemahaman narasumber.
FAQ
Apa yang dibahas dalam kanal Gus Aziz Jazuli pada 20 Januari 2026?
Perbincangan membahas tradisi ziarah dan haul, pengalaman menghadiri haul Habib Ali Al-Habsyi di Solo, kebiasaan membaca Simtud Duror, serta sejumlah referensi yang dibahas terkait Muawiyah bin Abi Sufyan.
Siapa Habib Ali Al-Habsyi yang dibahas dalam perbincangan?
Dalam dialog, Habib Ali Al-Habsyi disebut sebagai pengarang Simtud Duror. Salah seorang narasumber menceritakan bahwa dirinya telah membaca Simtud Duror sejak sekolah dasar dan kemudian menghadiri haul Habib Ali Al-Habsyi di Solo ketika kuliah.
Mengapa narasumber menghadiri haul di Solo?
Narasumber menjelaskan bahwa dirinya mengikuti gurunya. Ia mengatakan gurunya sangat menghormati gurunya ketika menghadiri haul tersebut. Selain itu, sejak kecil ia telah terbiasa membaca Simtud Duror sehingga memiliki ketertarikan terhadap sosok pengarangnya.
Kapan narasumber memperkirakan perjalanan ke Solo dilakukan?
Narasumber memperkirakan perjalanan tersebut terjadi sekitar 2009 atau 2010 ketika dirinya masih kuliah di Malang.
Berapa biaya yang disebut narasumber untuk perjalanan ke Solo?
Narasumber menyebut uang kuliahnya sekitar Rp500.000 per bulan pada masa tersebut dan dirinya ikut urunan sekitar Rp150.000 untuk perjalanan.
Apa yang terjadi dengan telepon seluler narasumber saat menghadiri haul?
Narasumber mengatakan telepon selulernya hilang ketika berada di Solo. Ia kemudian mengenang peristiwa tersebut sebagai salah satu pengalaman yang membuatnya melakukan evaluasi terhadap perjalanan tersebut.
Apa perbedaan “tidak mencintai” dan “melaknat” menurut pembicara?
Dalam perbincangan, pembicara menjelaskan bahwa tidak mencintai atau tidak menyukai seseorang tidak otomatis berarti melaknat. Menurut penjelasan tersebut, melaknat dianggap sebagai tindakan yang lebih jauh daripada sekadar tidak menyukai.
Kitab apa saja yang disebut dalam pembahasan?
Beberapa sumber yang disebut antara lain Al-Bayan li Waqi’ Asad Al Abi Alawi min Muawiyah bin Abi Sufyan, An-Nashaihul Kafiyah, Majmu’ Kalam, serta sejumlah karya yang dinisbatkan kepada tokoh-tokoh yang dibahas.
Siapa saja enam tokoh yang disebut dalam pembahasan mengenai Muawiyah?
Nama yang disebut adalah Habib Ali Al-Habsyi, Muhammad bin Aqil bin Yahya, Abu Bakar bin Syihab, Muhammad bin Ahmad Muhzar, Abdurrahman bin Ubaidillah Al-Aqaf, dan Ali bin Abdurrahman bin Sahal.
Apakah perbincangan membahas apakah tokoh-tokoh tersebut Syiah atau bukan?
Dalam dialog, pembicara secara eksplisit mengatakan bahwa pembahasan tidak diarahkan untuk menentukan apakah tokoh-tokoh tersebut Syiah atau bukan. Fokus yang disampaikan adalah catatan atau referensi yang dikaitkan dengan pandangan mereka mengenai Muawiyah.
Apa yang dimaksud dengan Simtud Duror dalam perbincangan?
Simtud Duror disebut sebagai karya yang dikarang Habib Ali Al-Habsyi dan menjadi bacaan yang rutin diikuti oleh narasumber sejak sekolah dasar.
Apakah narasumber telah lama mengikuti tradisi pengajian?
Ya. Dalam cerita pribadinya, narasumber mengatakan bahwa dirinya telah mengikuti pembacaan maulid, ratib, dan wirid sejak masa sekolah dasar. Ia menyebut telah menjalani kebiasaan tersebut selama lebih dari 27 tahun.
Apa yang dikatakan narasumber mengenai perubahan pemahamannya?
Narasumber mengatakan bahwa dirinya baru menyadari sejumlah hal sekitar empat setengah tahun sebelum perbincangan. Ia menggambarkan proses tersebut sebagai perubahan pemahaman setelah bertahun-tahun mengikuti tradisi dan lingkungan pengajian.
Apakah artikel ini memverifikasi isi kitab-kitab yang disebut?
Tidak. Artikel ini disusun berdasarkan perbincangan di kanal Gus Aziz Jazuli, Lc, MH pada 20 Januari 2026. Isi kutipan, identitas karya, dan penafsiran yang disebut dalam dialog disajikan sebagai materi perbincangan dan tidak ditambahkan dengan verifikasi eksternal.
Apa inti cerita narasumber tentang perjalanan ke Solo?
Intinya, narasumber mengatakan bahwa ia pergi ke Solo ketika kuliah karena mengikuti gurunya dan terdorong oleh kecintaannya terhadap Simtud Duror, yang telah ia baca sejak sekolah dasar. Perjalanan tersebut kemudian menjadi salah satu pengalaman yang ia evaluasi kembali beberapa tahun setelahnya.
Apa saja lokasi ziarah yang disebut narasumber?
Narasumber menyebut Solo, Gresik, Pasuruan, Tanggul, Surabaya, Sunan Ampel, serta beberapa lokasi makam lainnya dalam cerita perjalanan ziarahnya.
Mengapa guru memiliki peran penting dalam cerita narasumber?
Narasumber menjelaskan bahwa keputusan menghadiri haul di Solo bermula dari sikap gurunya yang menghormati guru atau habib yang hadir dalam kegiatan tersebut. Sebagai murid, ia kemudian mengikuti gurunya.
Apa pesan utama yang muncul dari pengalaman narasumber?
Dalam konteks perbincangan, pengalaman tersebut menggambarkan perjalanan narasumber dari mengikuti tradisi sejak kecil, menghadiri kegiatan haul dan ziarah, hingga kemudian melakukan peninjauan kembali terhadap pengalaman dan sumber-sumber yang pernah menjadi bagian dari lingkungan belajarnya.



