36 Tahun Mengikuti Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Wahid Wonosobo Ceritakan Perjalanan Spiritual

36 Tahun Mengikuti Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Wahid Wonosobo Ceritakan Perjalanan Spiritual dan Alasan Mengubah Arah Tarekat
WARTA BATAVIA – WONOSOBO — Kisah perjalanan selama sekitar 36 tahun menjadi pengikut tarekat yang dikaitkan dengan Habib Luthfi bin Yahya diceritakan oleh Kiai Wahid dari Jeruk, Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam rekaman yang diunggah kanal TV Alwaha pada 21 Agustus 2026, Kiai Wahid menyampaikan pengalaman pribadi sejak pertama kali menerima talqin hingga akhirnya menyatakan tidak lagi mengikuti ajaran yang sebelumnya ia jalani.
Kisah tersebut disampaikan dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Dalam penuturannya, Kiai Wahid menyebut dirinya pernah menerima talqin dari Mbah Kiai Mohaimin Gunarudo pada Rabu, 4 Rabiul Awal 1410 Hijriah. Ia kemudian menyebut bahwa perjalanan tersebut telah berlangsung sekitar 36 tahun. Dalam periode berikutnya, ia juga mengaku pernah sowan dan mengikuti pelajaran Habib Luthfi bin Yahya pada sekitar 1990.
Menurut Kiai Wahid, selama bertahun-tahun dirinya menjalankan amaliah yang diperolehnya tanpa menyadari apa yang kemudian ia sebut sebagai sejumlah penyimpangan. Kesadaran tersebut, menurut pengakuannya, muncul secara bertahap setelah memperoleh pencerahan dan melakukan penelusuran terhadap sejumlah persoalan yang berkaitan dengan guru, silsilah, serta praktik tarekat.
Pernyataan Kiai Wahid itu kemudian menjadi bagian utama video yang dibahas Bahril dalam segmen “Sorotan Bahril” di kanal TV Alwaha. Dalam pengantar videonya, Bahril mengaitkan kesaksian tersebut dengan dinamika yang berkembang di lingkungan tarekat dan Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN).
Artikel ini merangkum isi kesaksian Kiai Wahid dan narasi yang disampaikan dalam video tersebut berdasarkan materi yang tersedia. Sejumlah tudingan dalam video merupakan pernyataan narasumber dan pembawa acara, sehingga tidak diposisikan sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen.
Kiai Wahid Mengaku Mengikuti Tarekat Selama 36 Tahun
Dalam kesaksiannya, Kiai Wahid memperkenalkan dirinya sebagai warga Jeruk, Wonosobo, Jawa Tengah. Ia kemudian menjelaskan perjalanan awalnya dalam mengikuti tarekat.
Kiai Wahid menyebut bahwa dirinya pernah menerima talqin dari guru yang disebutnya Mbah Kiai Mohaimin Gunarudo. Ia menyebut tanggal 4 Rabiul Awal 1410 Hijriah sebagai salah satu penanda penting dalam perjalanan tersebut.
“Dinten Rebo tanggal 4 wulan Rabiul Awal tahun 1410,” ujar Kiai Wahid dalam rekaman yang dikutip dalam video.
Ia kemudian menghitung bahwa perjalanan tersebut telah berlangsung kurang lebih 36 tahun. Dalam rentang waktu itu, Kiai Wahid mengatakan dirinya tetap menjalankan amaliah yang diterimanya.
Ia juga menyebut bahwa sekitar tahun 1990 dirinya pernah sowan dan mengikuti pelajaran Habib Luthfi bin Yahya. Pada tahap tersebut, menurut Kiai Wahid, dirinya belum memahami persoalan yang kemudian menjadi dasar perubahan sikapnya.
Kiai Wahid menuturkan bahwa dirinya baru secara bertahap menyadari adanya persoalan yang ia sebut sebagai “penyimpangan-penyimpangan” terhadap guru mursyid dan persoalan lain yang berkaitan dengan perjalanan tarekat.
Kesadaran Disebut Muncul Setelah Melakukan Penelusuran
Dalam rekaman tersebut, Kiai Wahid menyampaikan bahwa perubahan pandangannya tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia mengaku sebelumnya tetap menjalankan amaliah yang diterimanya.
Menurut dia, kesadaran mulai tumbuh setelah memperoleh pencerahan dan kemudian melakukan penelusuran terhadap informasi yang selama ini diterimanya.
“Alhamdulillah setelah ada pencerahan dari Kiai Imad dan saya diberi kesadaran oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menelusuri,” kata Kiai Wahid dalam video.
Ia kemudian menghubungkan proses tersebut dengan informasi dari sejumlah orang yang pernah datang kepadanya. Orang-orang yang disebut berasal dari Pekalongan, Pemalang, dan Tegal, menurut Kiai Wahid, pernah menyampaikan informasi mengenai guru yang dikaitkan dengan Habib Luthfi.
Salah satu persoalan yang ia soroti adalah identitas dan silsilah yang disebut berkaitan dengan Mbah Abdul Malik.
Persoalan Silsilah Mbah Abdul Malik
Kiai Wahid mengaku sejak 2016 telah mempertanyakan informasi mengenai silsilah Mbah Malik yang menurutnya disebut sebagai Sayid Abdul Malik bin Ilyas bin Yahya.
Ia menyatakan bahwa dirinya pernah menentang informasi tersebut secara langsung karena berdasarkan penelusurannya, Mbah Malik yang dimaksud memiliki silsilah berbeda.
Dalam rekaman, Kiai Wahid menyampaikan rangkaian nama yang menurutnya merupakan silsilah Mbah Malik, di antaranya Abdul Malik bin Ilyas bin Ali Dip Wongso, kemudian berlanjut melalui beberapa nama hingga tokoh yang ia sebut berkaitan dengan garis keturunan Jawa.
Ia mengatakan persoalan tersebut membuat dirinya mulai mempertanyakan informasi yang selama ini diterima.
Kiai Wahid kemudian menghubungkan persoalan silsilah dengan kewajiban melakukan penelitian sebelum menerima sebuah klaim nasab.
Dalam penuturannya, ia mengutip sebuah ungkapan berbahasa Arab mengenai larangan menisbatkan seseorang kepada ayah atau garis keturunan yang bukan miliknya.
Pernyataan tersebut digunakan Kiai Wahid untuk menegaskan pandangannya bahwa persoalan nasab, menurut pemahamannya, tidak semestinya diterima tanpa penelitian.
Kiai Wahid Menyebut Perubahan Sikap Dimulai Sebelum Kisruh JATMAN
Salah satu bagian penting dalam kesaksian Kiai Wahid adalah pernyataannya bahwa perubahan sikapnya terhadap ajaran yang sebelumnya diikuti telah berlangsung sebelum persoalan internal JATMAN yang disebut dalam video.
Ia bahkan mengatakan bahwa sejak 2011 dirinya mulai mengalami kesadaran dan mempertanyakan sejumlah hal.
Kiai Wahid menyebut dirinya pernah kembali dikukuhkan dalam perjalanan tarekat tersebut sekitar 2010. Namun, setelah itu, ia melakukan penelitian lebih lanjut.
Menurut dia, setelah mengikuti sebuah konferensi di tingkat kecamatan dan melakukan penelusuran lebih jauh, ia menemukan apa yang disebutnya sebagai banyak penyimpangan.
Karena itu, Kiai Wahid menegaskan bahwa perubahan sikapnya bukan semata-mata disebabkan oleh dinamika organisasi, melainkan telah melalui proses panjang yang menurut pengakuannya dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya.
Pengalaman Menjadi Murid Disebut Membuatnya Mempertanyakan Klaim Mursyid
Kiai Wahid juga menyoroti persoalan mengenai seseorang yang disebutnya dijadikan guru mursyid untuk lima tarekat.
Menurutnya, menjadi mursyid merupakan tanggung jawab yang sangat berat. Ia mempertanyakan bagaimana seseorang dapat diangkat menjadi mursyid untuk beberapa tarekat sekaligus apabila proses pendidikan spiritual yang diperlukan belum dijalankan secara memadai.
Dalam rekaman, ia menjelaskan bahwa perjalanan menjadi mursyid menurut pemahamannya membutuhkan proses tarbiyah yang panjang.
Ia menyebut sejumlah konsep dalam proses tersebut, termasuk wukuf zamani, wukuf ‘adadi, dan wukuf qalbi.
Wukuf Zamani
Kiai Wahid menjelaskan wukuf zamani sebagai proses bagaimana seseorang mampu mengatur waktu dan menjaga ketenangan hati dalam menjalankan kehidupan spiritual.
Menurut penjelasannya, proses tersebut merupakan bagian dari pembinaan agar seseorang mampu mengendalikan diri dan menjaga kondisi batin.
Wukuf ‘Adadi
Tahapan berikutnya disebut wukuf ‘adadi. Kiai Wahid menjelaskan konsep ini berkaitan dengan menjaga hati dan konsistensi dalam berzikir.
Ia memberikan ilustrasi mengenai jumlah zikir yang dilakukan seseorang dari hari ke hari. Menurut penuturannya, konsistensi menjadi bagian dari proses pembinaan spiritual.
Wukuf Qalbi
Tahap berikutnya disebut wukuf qalbi. Kiai Wahid mempertanyakan apabila seseorang diangkat menjadi mursyid tanpa melalui proses pembinaan dan pendampingan sebagaimana yang ia pahami.
Menurutnya, proses tersebut tidak sekadar berkaitan dengan gelar atau pengakuan sebagai mursyid, tetapi harus dibarengi perjalanan pendidikan dan amaliah.
Tarekat Disebut Sebagai Jalan Akhlak dan Kesadaran
Dalam kesaksiannya, Kiai Wahid menekankan bahwa tarekat seharusnya menghasilkan perubahan akhlak dan kesadaran spiritual.
Ia mengutip ayat Al-Qur’an tentang zikir kepada Allah yang dapat menenteramkan hati.
Menurut Kiai Wahid, zikir seharusnya membawa seseorang kepada ketenangan, ketenteraman, dan pengendalian diri.
Ia kemudian memberikan gambaran mengenai kondisi yang menurutnya perlu dipertanyakan apabila seseorang mengikuti tarekat tetapi justru semakin serakah.
“Dasarnya jalan tarekat adalah dengan zikir kepada Allah bagaimana hati kita tenteram,” ujar Kiai Wahid dalam rekaman.
Karena itu, ia mengajak pengikut tarekat untuk menilai perjalanan spiritual bukan hanya dari jumlah amaliah, tetapi juga dari perubahan perilaku dan kondisi hati.
Kiai Wahid Mengaku Tidak Lagi Menggunakan Sejumlah Atribut
Dalam bagian lain kesaksiannya, Kiai Wahid mengatakan bahwa sejak sekitar 2011 dirinya mulai mengalami perubahan kesadaran. Ia menyebut tahun 2019 sebagai salah satu titik penting dalam keputusannya.
Ia mengatakan sejak saat itu tidak lagi menggunakan sejumlah atribut atau perlengkapan yang sebelumnya berkaitan dengan praktik yang ia jalani.
Menurut Kiai Wahid, keputusan tersebut diambil setelah dirinya melakukan penelusuran dan mempertanyakan silsilah guru yang dikaitkan dengan praktik tersebut.
Ia menyatakan bahwa alasan utama perubahan sikapnya adalah karena menurut penelusurannya terdapat persoalan dalam silsilah guru.
Pernyataan itu merupakan kesaksian pribadi Kiai Wahid dalam video dan tidak disertai dokumentasi pembanding atau verifikasi independen dalam materi yang tersedia.
Sanad Kemursyidan Menjadi Bagian yang Disoroti
Setelah menyatakan tidak lagi mengikuti ajaran yang sebelumnya dijalani, Kiai Wahid menjelaskan kembali sanad kemursyidan yang menurutnya menjadi rujukan.
Ia menyebut Mbah Kiai Mohaimin Gunarudo sebagai guru yang membimbingnya. Menurut Kiai Wahid, sanad kemursyidan Mbah Mohaimin berasal dari Mbah Kiai Mustaqim Tulungagung.
Ia juga menyebut bahwa proses kemursyidan tersebut disaksikan oleh Mbah Abdul Hamid bin Utsman Kajuran.
Dalam konteks kesaksiannya, Kiai Wahid menilai keberadaan sanad dan proses pembinaan merupakan bagian penting dalam mengikuti tarekat.
Karena itu, ia mengajak masyarakat yang mengikuti tarekat agar memperhatikan proses pendidikan, sanad, amaliah, dan kompetensi guru.
Jabatan dalam Organisasi Tarekat
Kiai Wahid juga menyampaikan pandangan mengenai jabatan dalam organisasi.
Menurutnya, seseorang tidak semestinya mengejar jabatan. Namun, apabila seseorang diberi amanah, jabatan tersebut dapat diterima sebagai tanggung jawab.
Ia mengutip prinsip yang menurutnya sesuai dengan tuntunan Nahdlatul Ulama, yakni tidak mencari jabatan tetapi tidak menolak apabila mendapatkan amanah.
“Jangan serakah akan sebuah jabatan,” kata Kiai Wahid dalam rekaman.
Ia kemudian menghubungkan persoalan tersebut dengan kondisi hati seseorang.
Menurutnya, jabatan tidak menjadi ukuran utama apabila seseorang belum mencapai ketenangan hati atau tatma’inul qulub.
Kiai Wahid Menyinggung Sosok Mursyid dan Ilmu Agama
Dalam penjelasan berikutnya, Kiai Wahid mengemukakan pandangannya mengenai kompetensi seorang guru tarekat.
Ia menyebut bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani, menurut penjelasan yang ia sampaikan, dikenal memiliki penguasaan dalam tiga bidang ilmu, yakni tauhid, fikih, dan tasawuf.
Kiai Wahid menekankan bahwa penguasaan tersebut harus berada dalam kerangka akidah Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana yang ia pahami.
Ia juga menyebut konsep kebijaksanaan dalam membimbing murid.
Menurut Kiai Wahid, apabila seorang guru merasa ada orang lain yang lebih mumpuni dalam bidang tertentu, seharusnya ia dapat menyarankan murid untuk belajar kepada orang tersebut.
Ia mengaitkan pandangan itu dengan kitab Al-Anwar al-Qudsiyyah karya Imam al-Sya’rani yang disebutnya dalam rekaman.
Mengajak Murid Berguru kepada Orang yang Lebih Mumpuni
Kiai Wahid menuturkan bahwa seorang guru tidak semestinya menghalangi murid untuk belajar kepada orang lain.
Menurut penjelasannya, apabila seorang guru menyadari bahwa ada orang lain yang lebih menguasai bidang tertentu, guru tersebut dapat menyarankan muridnya untuk berguru kepada orang tersebut.
Ia menekankan bahwa sikap tersebut bukan berarti mencaci atau merendahkan guru sebelumnya.
Sebaliknya, menurut Kiai Wahid, hal itu merupakan bentuk kebijaksanaan dan pengakuan terhadap keterbatasan manusia.
Dalam konteks tarekat, ia menilai penguasaan ilmu menjadi hal penting karena perjalanan spiritual tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga pemahaman agama.
Kiai Wahid Menyatakan Telah Mengubah Arah Pengajian
Dalam bagian akhir kesaksian, Kiai Wahid menjelaskan bahwa dirinya kini kembali mengikuti kajian yang menurutnya berada dalam lingkungan JATMAN.
Ia menyebut beberapa kitab yang dikaji, antara lain Kifayatul Atqiya, Tanwirul Qulub, Mafahirul ‘Aliyah, serta Al-Hunyah li Thalibi Thariqil Haq yang ia kaitkan dengan tarekat Qadiriyah.
Menurut Kiai Wahid, kajian kitab-kitab tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang ia jalani setelah mengambil keputusan untuk tidak lagi mengikuti ajaran sebelumnya.
Ia mengatakan bahwa setelah perubahan tersebut, sejumlah warga tarekat di wilayahnya merasa lebih tenang dan lega.
Namun, pernyataan mengenai kondisi warga tersebut tetap merupakan keterangan yang disampaikan Kiai Wahid dalam video dan tidak disertai data survei atau dokumentasi independen dalam materi sumber.
Disebut Tinggal Sedikit Warga yang Belum Berubah Sikap
Kiai Wahid juga mengatakan bahwa di wilayah Wonosobo sebagian besar warga tarekat yang ia maksud telah menyadari persoalan yang menurutnya perlu diperhatikan.
Ia menyebut hanya tersisa satu atau dua orang yang belum mengubah sikap.
Menurutnya, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan rasa sungkan, malu, atau pertimbangan sosial lainnya.
Karena itu, ia kembali mengajak orang-orang yang masih mengikuti ajaran yang dipersoalkannya untuk melakukan introspeksi dan penelitian.
Penjelasan Bahril dalam Video TV Alwaha
Setelah kesaksian Kiai Wahid selesai, pembawa acara Bahril memberikan penjelasan tambahan.
Bahril menyebut kesaksian tersebut sebagai pengalaman seseorang yang telah mengikuti perjalanan tarekat selama puluhan tahun.
Dalam narasinya, Bahril juga menyampaikan sejumlah tudingan terhadap Habib Luthfi bin Yahya serta organisasi dan jaringan tarekat yang dikaitkan dengannya.
Bahril menyebut adanya perubahan hubungan antara Habib Luthfi dan sejumlah tokoh setelah dinamika kepemimpinan JATMAN yang disebut dalam video.
Ia juga menyampaikan tudingan mengenai adanya berbagai “produk” tarekat yang menurutnya berkaitan dengan Habib Luthfi.
Namun, tudingan tersebut merupakan narasi pembawa acara dan tidak disertai verifikasi independen dalam materi video yang menjadi dasar artikel ini.
Polemik JATMAN Disebut dalam Narasi Video
Nama JATMAN menjadi salah satu kata kunci dalam pembahasan video tersebut.
JATMAN atau Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah merupakan organisasi yang disebut berhubungan dengan komunitas tarekat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dalam video, Bahril mengaitkan kisah Kiai Wahid dengan persoalan kepemimpinan dan dinamika organisasi tersebut.
Sementara itu, Kiai Wahid sendiri lebih banyak menjelaskan pengalaman pribadinya terkait guru, sanad, amaliah, dan proses perubahan pemahaman.
Karena materi yang tersedia merupakan satu sisi kesaksian, artikel ini tidak menyimpulkan benar atau salahnya seluruh tudingan yang muncul.
Ajakan Kiai Wahid untuk Meneliti Guru dan Nasab
Salah satu pesan utama Kiai Wahid dalam video adalah pentingnya melakukan penelitian.
Ia meminta para pengikut tarekat agar tidak mudah menerima pengakuan mengenai guru, mursyid, maupun nasab tanpa melakukan penelusuran.
Menurutnya, seorang murid memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa ajaran yang diikuti sesuai dengan tuntunan agama.
Ia juga mengingatkan bahwa tarekat seharusnya menjadi jalan untuk membentuk akhlak dan kesadaran.
Pesan tersebut menjadi salah satu alasan Kiai Wahid mengajak para pengikut tarekat untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan spiritual masing-masing.
Dari Mengikuti hingga Memilih Jalan yang Berbeda
Kisah Kiai Wahid memperlihatkan perubahan sikap yang menurut pengakuannya berlangsung dalam waktu panjang.
Ia tidak menggambarkan keputusan tersebut sebagai perubahan mendadak. Sebaliknya, ia menyebut beberapa titik waktu, mulai dari menerima talqin, mengikuti pelajaran Habib Luthfi, mulai mempertanyakan silsilah pada 2016, mengalami peningkatan kesadaran sejak 2011, hingga menyebut 2019 sebagai titik penting perubahan.
Dalam penuturannya, proses tersebut kemudian berujung pada keputusan untuk tidak lagi mengikuti ajaran yang sebelumnya ia jalani.
Ia menyatakan telah kembali kepada jalur yang menurutnya sesuai dengan pemahaman tarekat yang benar.
Kiai Wahid Mengajak Pengikut Kembali ke JATMAN
Pada akhir kesaksiannya, Kiai Wahid mengajak para ikhwan tarekat di Jawa Tengah, Pulau Jawa, dan Indonesia untuk kembali mengikuti jalur tarekat yang menurutnya berada dalam lingkungan JATMAN.
Ia menyebut organisasi tersebut sebagai Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah.
Ajakan itu menjadi penutup utama kesaksiannya.
“Gusti Allah memberi petunjuk dan memberi hati yang tenang,” merupakan inti harapan yang disampaikan Kiai Wahid dalam konteks perjalanan spiritualnya.
Ia kemudian mengakhiri kesaksian dengan salam.
Narasi Penutup Bahril
Dalam bagian penutup video, Bahril kembali memberikan komentarnya.
Ia mengajak penonton yang masih mengikuti jaringan tarekat yang dikaitkan dengan Habib Luthfi untuk mempertimbangkan kembali kesaksian Kiai Wahid.
Bahril kemudian menyebut istilah “JATMAN NU” dan membandingkannya dengan kelompok lain yang dalam videonya disebut sebagai “JATMAN Aswaja”.
Ia juga menyampaikan sejumlah tudingan terhadap kelompok yang disebutnya sebagai produk baru.
Karena pernyataan tersebut merupakan narasi pembawa acara, klaim-klaim itu perlu dipahami sebagai bagian dari isi video, bukan sebagai hasil verifikasi independen.
Kisah 36 Tahun Menjadi Kesaksian Pribadi
Kesaksian Kiai Wahid dalam video TV Alwaha pada dasarnya berangkat dari pengalaman pribadi selama puluhan tahun.
Ia menceritakan bagaimana dirinya pertama kali menerima talqin, mengikuti perjalanan tarekat, kemudian mengenal Habib Luthfi bin Yahya, hingga akhirnya melakukan penelusuran dan mengambil keputusan berbeda.
Durasi perjalanan yang disebut mencapai sekitar 36 tahun menjadi bagian penting dalam cerita tersebut.
Kiai Wahid menekankan bahwa perubahan pandangannya muncul setelah proses panjang, bukan semata-mata karena dinamika organisasi.
Ia juga menempatkan penelitian terhadap sanad, nasab, proses pendidikan, dan amaliah sebagai bagian dari pertimbangan yang membuatnya mengambil keputusan.
Pentingnya Memisahkan Kesaksian dan Verifikasi
Materi video yang menjadi dasar artikel ini berisi kesaksian Kiai Wahid serta narasi Bahril mengenai dinamika tarekat dan JATMAN.
Karena itu, setiap tudingan yang disampaikan dalam video perlu dibedakan antara kesaksian pribadi, pendapat pembawa acara, dan fakta yang telah diverifikasi.
Dalam materi yang tersedia, tidak terdapat keterangan dari pihak Habib Luthfi bin Yahya atau pihak-pihak lain yang disebut dalam tudingan tersebut.
Artikel ini juga tidak melakukan verifikasi independen terhadap silsilah, sanad, status organisasi, maupun tudingan mengenai praktik tarekat yang disampaikan dalam rekaman.
Dengan demikian, informasi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari kesaksian dan narasi yang muncul dalam video TV Alwaha pada 21 Agustus 2026.
Kesimpulan
Kiai Wahid dari Jeruk, Wonosobo, menceritakan perjalanan sekitar 36 tahun dalam mengikuti tarekat yang dalam video dikaitkan dengan Habib Luthfi bin Yahya. Ia menyebut pernah menerima talqin dari Mbah Kiai Mohaimin Gunarudo dan kemudian mengikuti pelajaran Habib Luthfi sekitar 1990.
Menurut pengakuannya, kesadaran untuk mempertanyakan sejumlah hal muncul secara bertahap. Ia menyebut persoalan silsilah Mbah Abdul Malik sebagai salah satu hal yang membuatnya melakukan penelusuran lebih jauh.
Kiai Wahid juga mempertanyakan proses pengangkatan seseorang sebagai mursyid untuk beberapa tarekat sekaligus. Ia menekankan pentingnya proses tarbiyah, penguasaan ilmu agama, sanad kemursyidan, serta pembentukan akhlak dan ketenangan hati.
Ia kemudian menyatakan telah tidak lagi mengikuti ajaran yang sebelumnya dijalani dan memilih kembali kepada jalur tarekat yang menurutnya sesuai dengan JATMAN.
Kisah tersebut menjadi bagian utama video TV Alwaha yang diunggah pada 21 Agustus 2026. Dalam video yang sama, Bahril juga memberikan sejumlah komentar dan tudingan mengenai Habib Luthfi bin Yahya serta dinamika organisasi tarekat.
Seluruh tudingan tersebut dalam artikel ini ditempatkan sebagai pernyataan narasumber dan pembawa acara berdasarkan materi video yang tersedia, tanpa menyatakan bahwa tudingan tersebut telah terbukti secara independen.
FAQ
Siapa Kiai Wahid yang berbicara dalam video TV Alwaha?
Kiai Wahid dalam video memperkenalkan dirinya sebagai warga Jeruk, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Ia menceritakan pengalaman panjangnya dalam mengikuti perjalanan tarekat.
Berapa lama Kiai Wahid mengaku mengikuti perjalanan tarekat?
Kiai Wahid menyebut dirinya telah menjalani perjalanan tersebut sekitar 36 tahun. Ia menyebut tanggal 4 Rabiul Awal 1410 Hijriah sebagai salah satu penanda awal talqin yang diterimanya.
Kapan Kiai Wahid mengaku mulai mengikuti pelajaran Habib Luthfi?
Dalam kesaksiannya, Kiai Wahid menyebut sekitar tahun 1990 dirinya sowan dan mengikuti pelajaran Habib Luthfi bin Yahya.
Mengapa Kiai Wahid mengaku mengubah sikap?
Menurut kesaksiannya, perubahan sikap terjadi setelah proses panjang berupa pencerahan dan penelusuran. Ia antara lain mempertanyakan silsilah guru serta proses kemursyidan yang ia temui.
Apa persoalan silsilah yang dibahas Kiai Wahid?
Kiai Wahid menyoroti informasi mengenai Mbah Abdul Malik yang menurutnya disebut dengan silsilah tertentu. Ia mengatakan bahwa hasil penelusurannya menunjukkan silsilah berbeda. Pernyataan tersebut merupakan kesaksian Kiai Wahid dalam video dan belum diverifikasi secara independen dalam materi sumber.
Apa pandangan Kiai Wahid mengenai tarekat?
Kiai Wahid menyampaikan bahwa tarekat seharusnya menjadi jalan pembentukan akhlak, kesadaran, zikir, ketenangan hati, dan pengendalian diri.
Apa yang dimaksud dengan wukuf zamani, wukuf ‘adadi, dan wukuf qalbi dalam penjelasan Kiai Wahid?
Ketiga istilah tersebut digunakan Kiai Wahid untuk menjelaskan tahapan pembinaan spiritual yang menurutnya diperlukan dalam perjalanan tarekat. Ia mengaitkannya dengan pengelolaan waktu, konsistensi zikir, dan penjagaan hati.
Siapa guru yang disebut Kiai Wahid sebagai pembimbingnya?
Kiai Wahid menyebut Mbah Kiai Mohaimin Gunarudo sebagai guru yang membimbingnya. Ia mengatakan sanad kemursyidan Mbah Mohaimin berasal dari Mbah Kiai Mustaqim Tulungagung dan menyebut Mbah Abdul Hamid bin Utsman Kajuran sebagai pihak yang menyaksikan proses tersebut.
Kitab apa saja yang disebut dalam bagian akhir video?
Kiai Wahid menyebut beberapa kitab yang dikaji, antara lain Kifayatul Atqiya, Tanwirul Qulub, Mafahirul ‘Aliyah, serta Al-Hunyah li Thalibi Thariqil Haq yang dikaitkan dengan tarekat Qadiriyah.
Di mana kesaksian Kiai Wahid tersebut ditayangkan?
Kesaksian tersebut ditampilkan dalam video di kanal TV Alwaha yang disebut di dalam materi sumber diunggah pada 21 Agustus 2026.
Apakah seluruh tudingan dalam video telah diverifikasi?
Tidak ada verifikasi independen dalam materi yang tersedia untuk artikel ini. Karena itu, tudingan terhadap individu, silsilah, maupun organisasi diposisikan sebagai pernyataan Kiai Wahid atau narasi Bahril, bukan sebagai fakta yang telah dipastikan.
Apa pesan utama Kiai Wahid kepada pengikut tarekat?
Kiai Wahid mengajak para pengikut tarekat untuk melakukan penelitian terhadap guru, sanad, nasab, proses kemursyidan, serta ajaran yang dijalankan. Ia juga menekankan pentingnya akhlak dan ketenangan hati sebagai bagian dari perjalanan spiritual.
Apa yang disampaikan Bahril pada bagian penutup?
Bahril mengajak penonton untuk mempertimbangkan kembali kesaksian Kiai Wahid dan menyampaikan pandangannya mengenai JATMAN serta kelompok tarekat yang ia kaitkan dengan Habib Luthfi. Pernyataan Bahril tersebut merupakan narasi pembawa acara dalam video.






