Gus Abbas Minta Anggota PWI-LS Tidak Takut Berbeda Pendapat

Gus Abbas Minta Anggota PWI-LS Berani Berbeda Pendapat, Tekankan Integritas dalam Pemilihan Organisasi
WARTA BATAVIA – KH Muhammad Abbas Billy Yachsi atau Gus Abbas, Ketua Umum PWI-LS, meminta anggota organisasi tidak takut menyampaikan perbedaan pendapat dalam dinamika internal organisasi.
Pesan tersebut disampaikan Gus Abbas dalam keterangannya yang ditayangkan melalui kanal KEBANGKITAN NU KULTURAL pada 11 Agustus 2026. Dalam keterangannya, Gus Abbas menyinggung persoalan pemilihan, mandat organisasi, dinamika internal, serta pentingnya menjaga kebersamaan di tengah perbedaan.
Gus Abbas mengatakan dirinya berusaha memegang mandat yang diberikan anggota selama mandat tersebut masih ada. Ia juga menjelaskan sikapnya dalam persoalan pemilihan sebelumnya, termasuk ketika anggota mencabut mandat terhadap Agus Maryono.
Menurut Gus Abbas, ketika seluruh pengurus daerah mencabut mandat dari Agus Maryono, dirinya berkewajiban menjalankan mandat tersebut.
“Saya perjuangkan Agus Maryono sampai 9 bulan sampai 10 bulan karena saya mengemban amanatnya panjenengan.”
Ia mengatakan keputusan tersebut merupakan bentuk pelaksanaan mandat yang diberikan kepadanya.
“Ketika kemudian panjenengan mencabut mandatnya, seluruh PD mencabut mandat dari Agus Maryono, saya pegang, saya laksanakan,” ujar Gus Abbas dalam keterangannya.
Gus Abbas Sebut Ketua Umum Bukan untuk Menguasai Pikiran Anggota
Dalam penjelasannya, Gus Abbas juga menanggapi adanya pandangan yang menyebut dirinya otoriter.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menjadikan posisi Ketua Umum sebagai sarana untuk menguasai pemikiran anggota organisasi.
Menurut Gus Abbas, ketua umum memiliki tugas menjalankan roda organisasi dan memastikan mesin organisasi serta perjuangan PWI-LS dapat berjalan.
“Saya selalu bermusyawarah. Saya mempersilakan berbeda pendapat,” kata Gus Abbas.
Ia kemudian menjelaskan bahwa tugas seorang ketua umum bukan untuk menguasai pikiran anggota maupun membentuk kelompok-kelompok tertentu di dalam PWI-LS.
“Kenapa? Sebab tugas daripada ketua umum itu bukan untuk menguasai pikiran panjenengan, bukan untuk membuat geng di PWI-LS, tapi bagaimana saya bisa menjalankan roda dan mesin organisasi dan perjuangan PWI-LS,” ujarnya.
Gus Abbas menggunakan perumpamaan mesin untuk menggambarkan fungsi seorang pemimpin dalam organisasi. Menurut dia, seorang ketua cukup memastikan mesin organisasi berjalan, sementara seluruh unsur di dalam organisasi memiliki fungsi masing-masing.
“Kalau mesinnya jalan, ketua itu jangan banyak ngomong, cukup memegang kunci, mesinnya dijalankan,” katanya.
Dinamika Internal PWI-LS Disebut Bukan Kemunduran
Gus Abbas juga meminta anggota tidak menganggap munculnya dinamika dan perbedaan pendapat di internal PWI-LS sebagai sesuatu yang otomatis berarti kemunduran organisasi.
Menurut dia, perbedaan pendapat justru menunjukkan bahwa roda organisasi berjalan dan anggota memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan.
“Jangan anggap itu adalah sebuah kemunduran. Jangan anggap itu sesuatu yang negatif. Tapi itu justru keberhasilan saya di dalam menggerakkan roda dan mesin daripada organisasi,” kata Gus Abbas.
Ia kemudian menunjuk keberanian anggota berbicara sebagai salah satu bukti adanya dinamika tersebut.
“Buktinya apa? Buktinya sampean berani bicara,” ujarnya.
Gus Abbas mengatakan dirinya memang menginginkan anggota memiliki keberanian menyampaikan pendapat. Ia juga menyebut bahwa perbedaan pandangan dengan dirinya bukan persoalan selama disampaikan sebagai bagian dari dinamika organisasi.
Menurut dia, seorang sekretaris jenderal maupun anggota lainnya dapat menyampaikan pendapat yang berbeda dengannya.
“Sekjen bicara sama saya, ini bicara sama saya, bicara menentang saya, enggak apa-apa. Saya punya pendapat, ayo jalan,” ujarnya.
Perbedaan Pendapat Disebut sebagai Tanda Organisasi Bergerak
Dalam keterangannya, Gus Abbas kembali menggunakan analogi mesin untuk menjelaskan dinamika organisasi.
Ia mengatakan mesin yang berjalan akan menimbulkan suara. Karena itu, adanya suara, perdebatan, maupun dinamika tidak selalu berarti mesin tersebut mengalami kerusakan.
“Kalau seumpama diesel dijalankan, itu ada suaranya keras atau tidak keras? Gaduh atau tidak gaduh, bising atau tidak bising?” katanya.
Gus Abbas kemudian meminta anggota tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa PWI-LS mengalami perpecahan hanya karena terdapat perbedaan pandangan.
Ia menyampaikan bahwa organisasi yang aktif akan mengalami dinamika. Menurut dia, yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi pertikaian yang mengganggu kebersamaan.
Gus Abbas Minta Anggota Tidak Terjebak Narasi tentang Perpecahan
Gus Abbas juga menyinggung adanya anggapan bahwa PWI-LS mulai bubar atau pecah.
Ia meminta anggota tidak mudah terpengaruh oleh narasi tersebut.
“Jangan sampai ini banyak yang mem-framing PWI-LS sekarang sudah mulai bubar, PWI-LS sudah mulai pecah belah,” ujar Gus Abbas.
Menurut dia, dinamika yang terjadi di internal organisasi perlu dilihat dalam konteks perjalanan organisasi yang sedang bergerak.
Ia menyebut keberadaan PWI-LS yang semakin luas sebagai salah satu hal yang menurutnya menunjukkan perkembangan organisasi.
“Buktinya PWI-LS semakin di mana-mana, semakin berkibar,” kata Gus Abbas.
Dalam keterangannya, ia kemudian meminta anggota tetap percaya diri dan tidak takut menyampaikan perbedaan pendapat.
“Jadi saya minta kepada panjenengan jangan takut berbeda,” ujar Gus Abbas.
Gus Abbas Singgung Sejarah Perpecahan karena Perbedaan Pendapat
Dalam bagian lain keterangannya, Gus Abbas mengaitkan pentingnya menjaga perbedaan pendapat dengan sejumlah contoh sejarah yang ia sebut dalam pidatonya.
Ia menyebut nama Pangeran Arya Penangsang dan Prabu Antasena. Ia juga menyinggung sejarah di wilayah Banten dan Jawa Barat serta menyebut Sultan Ageng Tirtayasa.
Menurut Gus Abbas, sejarah tersebut menjadi bagian dari pengingat agar masyarakat Indonesia tidak mengulangi perpecahan akibat perbedaan kepentingan dan pendapat.
“Kalau seumpama di Jawa Tengah itu ada sejarah yaitu Pangeran Arya Penangsang,” katanya.
Ia kemudian melanjutkan dengan menyebut sejumlah tokoh dan kerajaan dalam konteks penjelasannya mengenai sejarah perpecahan.
Gus Abbas menyampaikan bahwa masyarakat tidak seharusnya mudah diadu domba ketika memiliki perbedaan pendapat.
“Orang Indonesia itu ora gelem berbeda pendapat. Pengene aku-akuan, pengene kupu-kupuan, akhirnya kerajaan di Jawa banyak hancur,” ujarnya.
Ia juga menyebut kerajaan di wilayah Sunda dalam penjelasan yang sama.
Menurut Gus Abbas, pelajaran yang ingin disampaikan adalah pentingnya menjaga persatuan meskipun terdapat perbedaan pandangan.
PWI-LS Diminta Menjaga Kebersamaan
Gus Abbas kemudian mengajak anggota PWI-LS menjaga kebersamaan dalam organisasi.
Ia mengatakan perbedaan pendapat diperbolehkan, tetapi tidak boleh berkembang menjadi pertengkaran.
“Di PWI-LS boleh berbeda, tapi mboten angsal gelut,” ujar Gus Abbas.
Ia mengulang pesan tersebut dengan meminta anggota tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
“Boleh berbeda, tapi ojo gelut,” katanya.
Menurut dia, anggota organisasi dapat memiliki pilihan dan pandangan masing-masing tanpa harus memutus hubungan atau menghentikan perjuangan bersama.
Gus Abbas juga menyampaikan sebuah peribahasa yang menggambarkan sikap untuk tetap melanjutkan perjalanan meskipun terdapat pihak yang memberikan kritik atau memiliki agenda berbeda.
“Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Mereka punya rencana, kita juga punya perjuangan dan jalan perjuangan yang jelas,” ujar Gus Abbas.
Pemilihan PWI-LS Diminta Tidak Menjadi Pemicu Perpecahan
Dalam keterangannya, Gus Abbas juga membahas proses pemilihan di lingkungan PWI-LS.
Ia mengatakan dirinya belum mengetahui siapa calon yang akan dipilih dan tidak ingin mengetahui pilihan anggota sebelum proses pemilihan dilakukan.
Gus Abbas menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin menyebut nama atau nomor tertentu karena hal tersebut dapat menimbulkan persepsi bahwa dirinya mengarahkan pilihan anggota.
“Saya tidak perlu tahu dan tidak mau tahu dan saya tidak ingin tahu. Nanti saja apa yang panjenengan milih,” ujarnya.
Ia mengatakan apabila dirinya menyebut calon tertentu lebih dahulu, situasi justru dapat menjadi rumit karena anggota bisa menilai pernyataannya sebagai bentuk keberpihakan.
Karena itu, Gus Abbas memilih tidak menyebut nama calon dalam keterangannya.
Ia kemudian memberikan satu kriteria yang menurutnya perlu diperhatikan oleh anggota dalam menentukan pilihan.
Gus Abbas Tekankan Pentingnya Memilih Pemimpin Berintegritas
Gus Abbas meminta anggota PWI-LS memilih orang yang memiliki integritas.
“Satu, pilih orang yang memiliki integritas,” kata Gus Abbas.
Selain integritas pribadi, ia juga menekankan pentingnya integritas sosial.
“Pilih orang yang memiliki integritas sosial,” ujarnya.
Menurut Gus Abbas, aspek tersebut penting karena organisasi PWI-LS membutuhkan efektivitas dalam menjalankan dakwah.
“Pengaruhnya ada karena PWI ini perlu efektivitas dakwah,” kata dia.
Dengan demikian, Gus Abbas tidak menyebut nama kandidat tertentu dalam bagian tersebut. Ia menyerahkan pilihan kepada anggota dengan menekankan kriteria integritas.
Mandat Anggota Disebut Menjadi Dasar Sikap Gus Abbas
Dalam penjelasan mengenai sikapnya sebagai Ketua Umum, Gus Abbas kembali menekankan persoalan mandat.
Ia mengatakan dirinya siap menerima berbagai penilaian terhadap sikap yang diambilnya selama keputusan tersebut didasarkan pada mandat yang diberikan kepadanya.
“Saya tidak takut kepada siapa pun karena itu adalah mandatnya panjenengan,” ujar Gus Abbas.
Ia juga menyatakan siap menerima apabila dirinya disebut sebagai pecundang atau otoriter.
“Saya mau dibilang pecundang, saya mau dibilang otoriter, tidak takut,” katanya.
Menurut dia, konsekuensi tersebut merupakan bagian dari posisi yang berada di garis depan organisasi.
“Kalau itu mandat sampean, sampai saya tumbang tetap bendera itu akan saya pegang,” ujar Gus Abbas.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika ia menjelaskan komitmennya dalam menjalankan mandat organisasi.
Ketua Umum Diminta Fokus Menjalankan Organisasi
Gus Abbas dalam keterangannya menggambarkan posisi ketua umum sebagai pihak yang bertugas memastikan organisasi tetap berjalan.
Ia tidak menggambarkan ketua umum sebagai pihak yang harus mengatur seluruh pendapat anggota.
Sebaliknya, menurut dia, keberadaan perbedaan pendapat merupakan bagian dari organisasi yang sedang bergerak.
Analogi mesin yang digunakan Gus Abbas menempatkan ketua sebagai pihak yang memastikan sistem dapat berjalan, sementara anggota organisasi menjadi bagian dari mesin tersebut.
Dengan pendekatan itu, Gus Abbas mengajak anggota tidak menganggap setiap suara berbeda sebagai ancaman bagi organisasi.
Ia justru meminta anggota berani berbicara, bermusyawarah, dan menyampaikan pendapat masing-masing.
Pesan untuk Menjaga PWI-LS Tetap Bersama
Di bagian akhir keterangannya, Gus Abbas kembali mengingatkan agar perbedaan tidak menyebabkan perpecahan.
Ia meminta anggota tidak bertindak seperti anak kecil setelah proses pemilihan selesai.
“Kalau sudah dipilih, tolong jangan seperti anak kecil, jangan pecah,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kebersamaan tetap diperlukan meskipun pilihan dalam pemilihan berbeda.
“Ini jangan sebab perlu kebersamaan. Berbeda boleh, tapi terucaplah tidak boleh,” kata Gus Abbas.
Pesan tersebut menjadi salah satu bagian utama keterangannya terkait pemilihan dan dinamika internal PWI-LS.
Gus Abbas juga mengingatkan bahwa siapapun yang nantinya terpilih perlu didukung dalam menjalankan organisasi.
Ia tidak menyebut siapa kandidat yang akan dipilih dan meminta anggota menggunakan pertimbangan masing-masing.
Integritas Sosial Menjadi Kriteria yang Ditekankan
Dari keseluruhan keterangannya, Gus Abbas secara khusus menyebut integritas dan integritas sosial sebagai kriteria yang perlu dipertimbangkan anggota dalam menentukan pilihan.
Ia tidak menyampaikan nama kandidat tertentu dalam bagian akhir keterangannya.
Sebaliknya, ia menyerahkan keputusan kepada anggota.
Kriteria tersebut disampaikan dalam konteks kebutuhan PWI-LS terhadap efektivitas dakwah dan perkembangan organisasi yang lebih baik serta profesional.
Gus Abbas kemudian mengakhiri keterangannya dengan meminta dukungan terhadap perkembangan PWI-LS.
“Terus dukung kami untuk perkembangan yang lebih baik dan profesional,” ujarnya.
FAQ
Siapa KH Muhammad Abbas Billy Yachsi?
KH Muhammad Abbas Billy Yachsi atau Gus Abbas adalah Ketua Umum PWI-LS yang dalam keterangannya di kanal KEBANGKITAN NU KULTURAL pada 11 Agustus 2026 membahas mandat organisasi, dinamika internal, perbedaan pendapat, serta pemilihan di lingkungan PWI-LS.
Apa yang disampaikan Gus Abbas mengenai perbedaan pendapat?
Gus Abbas meminta anggota PWI-LS tidak takut berbeda pendapat. Ia mengatakan perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika organisasi dan tidak harus berujung pada pertengkaran.
Apa sikap Gus Abbas terhadap anggota yang berbeda pendapat dengannya?
Gus Abbas mengatakan dirinya selalu bermusyawarah dan mempersilakan anggota memiliki pendapat berbeda. Ia juga menyatakan bahwa perbedaan pendapat dengannya tidak menjadi persoalan selama organisasi tetap berjalan.
Mengapa Gus Abbas menyebut analogi mesin?
Gus Abbas menggunakan analogi mesin untuk menggambarkan organisasi. Menurut penjelasannya, mesin yang berjalan akan menghasilkan suara. Karena itu, dinamika dan perbedaan pendapat tidak otomatis menunjukkan organisasi mengalami kemunduran.
Apa yang diminta Gus Abbas dalam pemilihan PWI-LS?
Gus Abbas meminta anggota memilih orang yang memiliki integritas dan integritas sosial. Ia tidak menyebut nama calon tertentu dalam keterangannya dan menyerahkan pilihan kepada anggota.
Apakah Gus Abbas menyebut kandidat tertentu?
Dalam keterangannya, Gus Abbas mengatakan dirinya tidak ingin mengetahui siapa yang akan dipilih anggota dan tidak menyebut nama kandidat tertentu. Ia memilih memberikan kriteria berupa integritas dan integritas sosial.
Apa pesan Gus Abbas setelah pemilihan?
Gus Abbas meminta anggota tetap menjaga kebersamaan setelah pemilihan. Menurut dia, berbeda pilihan diperbolehkan, tetapi perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk bertengkar atau memecah organisasi.
Apa yang dimaksud Gus Abbas dengan mandat anggota?
Gus Abbas menjelaskan bahwa sikapnya dalam menjalankan organisasi didasarkan pada mandat yang diberikan anggota. Ia mengatakan akan memegang mandat tersebut dan menjalankannya selama mandat itu masih diberikan.
Penutup
Keterangan KH Muhammad Abbas Billy Yachsi atau Gus Abbas di kanal KEBANGKITAN NU KULTURAL pada 11 Agustus 2026 membahas sejumlah persoalan yang berkaitan dengan dinamika PWI-LS.
Dalam keterangannya, Gus Abbas menegaskan pentingnya mandat anggota, musyawarah, kebebasan menyampaikan pendapat, serta keberlangsungan roda organisasi.
Ia juga meminta anggota tidak menganggap perbedaan pendapat sebagai kemunduran. Menurut penjelasannya, dinamika menunjukkan adanya aktivitas di dalam organisasi selama perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi pertengkaran.
Menjelang proses pemilihan, Gus Abbas tidak menyebut kandidat tertentu. Ia justru meminta anggota memilih berdasarkan integritas dan integritas sosial.
Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan setelah proses pemilihan berlangsung. Perbedaan pilihan, menurut pesan yang disampaikannya, tidak seharusnya menghilangkan kebersamaan maupun menghambat perjalanan organisasi.
Pada akhirnya, Gus Abbas mengajak anggota PWI-LS tetap mendukung perkembangan organisasi agar dapat berjalan lebih baik dan profesional.
Sumber berita:





