invisible hit counter
Nasional

Rhoma Irama Klarifikasi Kehadiran di PBNU, Tegaskan Sikap soal Polemik Nasab Ba’alawi

WARTA BATAVIA – Rhoma Irama menjelaskan kehadirannya di PBNU pada 18 Februari 2025 dan membantah kabar bahwa dirinya telah mengubah sikap terkait polemik nasab Ba’alawi. Ia juga menyerukan objektivitas, penelitian, dan persahabatan.

Rhoma Irama Klarifikasi Kehadirannya di PBNU

Rhoma Irama memberikan klarifikasi mengenai kehadirannya dalam kegiatan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada 18 Februari 2025. Klarifikasi tersebut disampaikan melalui kanal Rhoma Irama Official pada 22 Februari 2025 setelah muncul pemberitaan dan pembicaraan di ruang publik mengenai pertemuannya dengan sejumlah tokoh, termasuk Habib Muhammad Syahab.

Dalam penjelasannya, Rhoma Irama mengatakan kehadirannya di PBNU tidak berkaitan dengan perubahan sikap terhadap polemik nasab Ba’alawi. Ia secara khusus membantah kabar yang menyebut dirinya telah bertobat, meminta maaf kepada kelompok Ba’alawi, atau mengakui bahwa Ba’alawi merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW.

Rhoma menyatakan bahwa sampai saat memberikan penjelasan tersebut, keyakinannya mengenai persoalan tersebut tidak berubah. Ia menyebut kehadirannya di PBNU berkaitan dengan undangan untuk memberikan tausiah mengenai dakwah melalui musik.

Kegiatan yang dihadiri Rhoma Irama pada 18 Februari 2025 memang tercatat sebagai agenda Lembaga Dakwah PBNU. NU Online melaporkan bahwa kegiatan tersebut merupakan Temu Pegiat Dakwah Digital NU sekaligus peluncuran buku Perempuan, Dakwah, Birokrasi, dan Media. Acara itu turut menghadirkan Rhoma Irama, Syamsuddin Nur Makka atau Ustaz Syam, dan Habib Muhammad Syahab. (NU Online)

Menurut transkrip penjelasan Rhoma, undangan tersebut diterimanya dari seorang teman dan ia mendapatkan informasi bahwa dirinya akan memberikan tausiah di hadapan para mubaligh NU mengenai dakwah dalam musik.

Pertemuan dengan Habib Muhammad Syahab

Pertemuan dengan Habib Muhammad Syahab

Salah satu bagian yang menjadi perhatian Rhoma Irama dalam acara tersebut adalah kehadiran seorang tokoh Ba’alawi yang ternyata merupakan sahabat lamanya, Habib Muhammad Syahab.

Rhoma mengaku semula tidak mengetahui bahwa akan ada penceramah dari kalangan Ba’alawi dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut kehadiran tersebut sebagai sebuah kejutan.

Kejutan berikutnya terjadi ketika Rhoma mengetahui bahwa tokoh yang hadir tersebut adalah Habib Muhammad Syahab, seorang teman lama yang pernah bersama-sama berjuang dalam Partai Idaman.

Dalam penjelasannya, Rhoma mengenang hubungan persahabatan tersebut. Ia menyebut Habib Muhammad Syahab pernah memberikan dukungan kepada Partai Idaman, termasuk ketika deklarasi partai tersebut. Pertemuan kembali dua sahabat lama itu kemudian berlangsung dalam suasana emosional.

Rhoma mengatakan keduanya tetap dapat bertemu dan berpelukan meskipun berada dalam situasi polemik yang berbeda. Menurut Rhoma, pertemuan tersebut menjadi pengalaman yang berkesan karena mereka memiliki sejarah persahabatan yang panjang.

Kehadiran Habib Muhammad Syahab dalam acara tersebut juga sesuai dengan laporan NU Online yang mencatat bahwa ia menjadi salah satu tokoh yang hadir dalam agenda Dakwah Sphere pada 18 Februari 2025. (NU Online)

Rhoma Bantah Telah Mengubah Sikap soal Ba’alawi

Dalam video klarifikasinya, Rhoma Irama menyinggung kabar yang menurutnya berkembang setelah pertemuannya di PBNU.

Ia menyebut muncul pemberitaan yang menggambarkan dirinya telah berubah sikap dalam polemik nasab Ba’alawi. Menurut Rhoma, kabar tersebut tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ia sampaikan.

Rhoma menegaskan bahwa pertemuan dengan Habib Muhammad Syahab tidak berarti dirinya mengubah keyakinan yang selama ini ia sampaikan.

Ia juga menegaskan bahwa persahabatan dengan seseorang tidak otomatis berarti persetujuan terhadap seluruh pandangan orang tersebut.

Dalam konteks tersebut, Rhoma menyatakan dirinya tetap berpegang pada pandangan yang telah ia sampaikan sebelumnya mengenai nasab Ba’alawi.

“Sampai detik ini masih dalam keyakinan bahwa Ba’alawi bukan keturunan Nabi Muhammad SAW.”

Pernyataan tersebut merupakan posisi yang disampaikan Rhoma dalam video klarifikasinya dan bukan kesimpulan independen mengenai benar atau tidaknya klaim nasab tersebut.

Ceramah Rhoma di PBNU Membahas Dakwah dengan Musik

Ceramah Rhoma di PBNU Membahas Dakwah dengan Musik

Rhoma menjelaskan bahwa isi utama tausiah yang disampaikannya di PBNU bukanlah perdebatan mengenai nasab.

Ia mengatakan materi yang dibawakan berkaitan dengan bagaimana dakwah dilakukan melalui musik. Menurut penuturannya, ia menyampaikan materi tersebut sampai selesai dan acara kemudian ditutup dengan foto bersama.

Kehadiran sejumlah media yang mengabadikan momen pertemuan tersebut, menurut Rhoma, kemudian membuatnya memperkirakan bahwa foto dan peristiwa tersebut akan menjadi bahan pembicaraan di ruang publik.

Rhoma menyebut suasana pertemuan itu berlangsung penuh keharuan, terutama karena ia bertemu kembali dengan sahabat lama.

Laporan NU Online juga menyebut acara pada 18 Februari 2025 berlangsung di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, dalam agenda Dakwah Sphere. Kegiatan tersebut berlangsung pada malam hari dan disiarkan secara langsung dari Plaza Gedung PBNU. (NU Online)

Rhoma Kembali Menyinggung Polemik Nasab

Setelah menjelaskan kronologi kehadirannya di PBNU, Rhoma kemudian kembali membicarakan polemik nasab Ba’alawi.

Ia mengatakan sikapnya mengenai polemik tersebut tidak berubah. Rhoma menyebut sejumlah tulisan dan penelitian yang menurutnya menjadi dasar bagi pandangannya.

Dalam transkrip, Rhoma menyebut nama KH Imaduddin Utsman Al-Bantani serta sejumlah tokoh lain yang menurutnya melakukan penelitian mengenai sejarah dan nasab Ba’alawi. Ia juga mengatakan terdapat penelitian lain yang menurutnya menghasilkan kesimpulan yang dianggapnya sejalan.

Rhoma menyebut penelitian tersebut mencakup kajian nasab dan sejarah. Ia menguraikan pandangannya mengenai catatan genealogis yang berkaitan dengan Ahmad bin Isa dan Ubaidillah.

Namun, seluruh uraian tersebut merupakan paparan Rhoma Irama dalam video yang menjadi dasar artikel ini. Transkrip tidak menyediakan ruang untuk menguji secara independen seluruh sumber sejarah, manuskrip, maupun metodologi penelitian yang disebutkan.

Rhoma Mengaitkan Polemik dengan Penelitian DNA

Selain sejarah dan ilmu nasab, Rhoma Irama juga menyinggung penelitian DNA dalam menjelaskan pandangannya.

Ia menyebut penelitian yang dikaitkannya dengan Dr. Sugeng Sugiharto. Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut adanya hasil penelitian terhadap sejumlah sampel yang menurutnya menunjukkan haplogroup tertentu pada kelompok yang disebutnya sebagai Ba’alawi.

Rhoma kemudian membandingkan hasil tersebut dengan haplogroup yang ia sebut berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan pemaparan itu, ia menganggap temuan tersebut memperkuat keyakinannya.

Ia juga menyebut penelitian melalui FamilyTreeDNA dan angka sampel yang menurutnya melibatkan 183 orang Ba’alawi di Yaman serta sebagian di Indonesia.

Pernyataan mengenai DNA tersebut perlu ditempatkan sebagai klaim yang disampaikan Rhoma dalam video. Transkrip tidak menyertakan laporan penelitian lengkap, daftar sampel, metode pengujian, publikasi ilmiah, peer review, maupun data primer yang diperlukan untuk melakukan verifikasi independen terhadap kesimpulan tersebut.

Karena itu, artikel ini tidak menyatakan klaim DNA tersebut sebagai fakta ilmiah yang telah terverifikasi.

Rhoma Juga Menyinggung Kajian Filologi dan Sejarah

Rhoma Juga Menyinggung Kajian Filologi dan Sejarah

Selain nasab dan DNA, Rhoma mengaitkan pandangannya dengan kajian filologi dan sejarah.

Ia menyebut Profesor Menahem Ali serta penelitian mengenai sejarah dan peradaban manusia. Dalam penjelasannya, Rhoma menghubungkan persoalan asal-usul masyarakat Yaman dengan klaim genealogis yang menjadi bagian dari polemik Ba’alawi.

Rhoma menyatakan bahwa menurut pandangannya terdapat persoalan yang belum terjawab dari aspek sejarah, DNA, maupun filologi.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Rhoma memandang polemik nasab sebagai persoalan multidisiplin yang menurutnya tidak cukup dibahas hanya melalui satu pendekatan.

Ia kemudian menyerukan agar persoalan tersebut dibicarakan melalui penelitian, koreksi, dan pembuktian.

Rhoma: Tujuan Polemik Bukan Permusuhan

Di tengah polemik yang berlangsung, Rhoma menekankan bahwa tujuan dirinya bukan untuk memutus hubungan dengan orang-orang yang berbeda pandangan.

Ia bahkan menyebut sejumlah nama sahabatnya yang berada dalam posisi berbeda dalam polemik tersebut. Rhoma mengatakan dirinya merindukan hubungan persahabatan yang pernah terjalin sebelum persoalan nasab menjadi perdebatan publik.

Menurut Rhoma, prinsip yang ia pegang adalah menyampaikan apa yang diyakininya sebagai kebenaran berdasarkan pandangan yang dimilikinya.

Ia kemudian mengajak pihak yang berbeda pandangan untuk melakukan introspeksi dan bermuhasabah. Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya dapat dibahas melalui diskusi dan penelitian.

Rhoma Menekankan Takwa, Bukan Status Nasab

Dalam bagian lain penjelasannya, Rhoma membicarakan kedudukan nasab dalam perspektif agama.

Ia menyampaikan bahwa kemuliaan seseorang pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh hubungan genealogis, tetapi juga oleh ketakwaan.

Rhoma mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis dalam menjelaskan pandangan tersebut. Ia memberikan contoh mengenai tokoh-tokoh yang memiliki hubungan keluarga dengan nabi tetapi tidak otomatis memperoleh keselamatan.

Pernyataan tersebut digunakan Rhoma untuk menekankan bahwa status keturunan tidak boleh menjadi alasan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Ia kemudian menyerukan agar pihak-pihak yang terlibat dalam polemik melakukan pemeriksaan terhadap klaim masing-masing. Menurutnya, apabila terdapat kritik, ayat, hadis, atau hasil penelitian, hal tersebut sebaiknya dipelajari secara terbuka.

Seruan untuk Menjaga Persatuan Indonesia

Rhoma kemudian memperluas pembahasannya dari persoalan nasab ke persatuan nasional.

Dalam video tersebut, ia menyampaikan kritik terhadap klaim-klaim tertentu mengenai sejarah Indonesia yang menurutnya berlebihan. Ia juga menyinggung klaim mengenai peran kelompok tertentu dalam sejarah perjuangan bangsa.

Rhoma mengatakan narasi yang menurutnya mengabaikan kontribusi kelompok lain dapat menimbulkan persoalan sosial.

Ia kemudian mengajak masyarakat untuk tetap bersatu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila.

Menurut Rhoma, perbedaan pandangan mengenai sejarah, nasab, maupun persoalan keagamaan tidak seharusnya mengarah pada perpecahan masyarakat.

Pertemuan dengan Habib Muhammad Syahab Dinilai Menjadi Contoh Persahabatan

Pertemuan dengan Habib Muhammad Syahab Dinilai Menjadi Contoh Persahabatan

Menjelang akhir video, Rhoma kembali mengingat pertemuannya dengan Habib Muhammad Syahab di PBNU.

Ia mengatakan awalnya terkejut karena tidak mengetahui bahwa seorang tokoh Ba’alawi akan hadir dalam acara tersebut. Namun keterkejutan itu berubah menjadi suasana haru setelah ia mengetahui bahwa orang tersebut adalah sahabat lamanya.

Bagi Rhoma, peristiwa tersebut menjadi contoh bahwa perbedaan pandangan tidak harus menghapus hubungan persahabatan.

Ia menyebut dirinya tetap dapat bersalaman, berpelukan, dan berbicara dengan sahabat yang berada di pihak berbeda dalam polemik.

Menurut Rhoma, sikap tersebut merupakan gambaran hubungan yang ia harapkan dapat terjadi lebih luas di tengah masyarakat.

Rhoma Irama Ajak Polemik Nasab Dibahas Secara Objektif

Pada bagian penutup, Rhoma kembali menyerukan agar polemik nasab dibahas secara objektif.

Ia mengatakan perdebatan seharusnya tidak didorong oleh kebencian, dendam, kepentingan pribadi, maupun ego kelompok.

Rhoma juga membuka kemungkinan bahwa dirinya dapat dikoreksi apabila ditemukan kesalahan dalam pandangannya.

Ia mengajak pihak yang berbeda pandangan untuk berdiskusi dan melakukan penelitian bersama. Dalam konteks itu, pertemuan Rhoma dengan Habib Muhammad Syahab di PBNU menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikannya: perbedaan pandangan tidak harus berujung pada permusuhan.

Kehadiran Rhoma di PBNU sendiri merupakan bagian dari agenda Dakwah Sphere yang secara rutin mempertemukan para pegiat dakwah digital. NU Online menyebut forum tersebut ditujukan sebagai ruang berbagi wawasan, pengalaman, dan strategi dakwah di era digital. (NU Online)

Kesimpulan

Klarifikasi Rhoma Irama pada 22 Februari 2025 berangkat dari pertemuannya di PBNU pada 18 Februari 2025. Rhoma menjelaskan bahwa kehadirannya dalam acara tersebut berkaitan dengan dakwah melalui musik, bukan untuk menyatakan perubahan sikap dalam polemik nasab Ba’alawi.

Pertemuannya dengan Habib Muhammad Syahab berlangsung dalam suasana emosional karena keduanya merupakan sahabat lama. Meskipun memiliki perbedaan pandangan dalam polemik nasab, keduanya tetap dapat bertemu dan bersilaturahmi.

Dalam penjelasannya, Rhoma kembali menyampaikan pandangannya mengenai sejarah, ilmu nasab, DNA, dan filologi. Ia juga mengajak pihak-pihak yang berbeda pandangan untuk melakukan penelitian dan diskusi secara objektif.

Pada saat yang sama, Rhoma menegaskan pentingnya persahabatan dan persatuan. Ia menyatakan bahwa perbedaan pandangan mengenai nasab tidak semestinya berubah menjadi kebencian antarsesama.

Dengan demikian, inti klarifikasi Rhoma bukan hanya mengenai kehadirannya di PBNU, tetapi juga penegasan bahwa hubungan sosial dan persahabatan tetap dapat berjalan meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam sebuah polemik.

Apa yang diklarifikasi Rhoma Irama mengenai kehadirannya di PBNU?

FAQ

Apa yang diklarifikasi Rhoma Irama mengenai kehadirannya di PBNU?

Rhoma Irama menjelaskan bahwa dirinya hadir di PBNU pada 18 Februari 2025 untuk mengikuti kegiatan dakwah dan memberikan tausiah mengenai dakwah melalui musik. Kehadiran tersebut tidak dimaksudkan sebagai pernyataan perubahan sikapnya dalam polemik nasab Ba’alawi.

Siapa Habib Muhammad Syahab yang ditemui Rhoma Irama?

Dalam penjelasannya, Rhoma menyebut Habib Muhammad Syahab sebagai sahabat lama yang pernah bersamanya dalam kegiatan Partai Idaman. Pertemuan keduanya di PBNU berlangsung dalam suasana penuh keharuan.

Apakah Rhoma Irama menyatakan telah mengubah pandangannya mengenai Ba’alawi?

Tidak. Dalam video klarifikasi tersebut, Rhoma justru mengatakan bahwa sampai saat itu pandangannya mengenai persoalan nasab Ba’alawi belum berubah.

Apa yang disampaikan Rhoma mengenai penelitian DNA?

Rhoma menyebut penelitian DNA yang menurutnya berkaitan dengan kelompok Ba’alawi dan membandingkannya dengan haplogroup yang ia sebut berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Klaim tersebut merupakan bagian dari penjelasan Rhoma dan tidak diverifikasi secara independen dalam artikel ini.

Apa pesan Rhoma Irama di tengah polemik nasab?

Rhoma menyerukan objektivitas, penelitian, diskusi, introspeksi, dan persahabatan. Ia menekankan bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya menghilangkan hubungan persaudaraan dan persahabatan.

Apa kegiatan PBNU yang dihadiri Rhoma Irama pada 18 Februari 2025?

Menurut NU Online, Rhoma Irama menghadiri Temu Pegiat Dakwah Digital NU atau Dakwah Sphere yang sekaligus menjadi agenda peluncuran buku Perempuan, Dakwah, Birokrasi, dan Media. Acara tersebut juga menghadirkan Ustaz Syamsuddin Nur Makka dan Habib Muhammad Syahab. (NU Online)

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button