KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro Soroti Sikap Buya Yahya dan Gus Yahya dalam Polemik Nasab Baalawi (bagian 1)

KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro Bahas Polemik “Dua Yahya” dalam Kajian Terbaru
JAKARTA – KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan kajian panjang yang membahas polemik mengenai sikap dua tokoh yang sama-sama memiliki nama Yahya, yakni Buya Yahya dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Dalam pemaparannya, ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan polemik nasab Baalawi yang belakangan menjadi perhatian publik.
Pada awal kajiannya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro membuka acara dengan doa bagi para pemirsa agar memperoleh kesehatan, keberkahan rezeki, keturunan yang saleh dan salehah, serta kehidupan yang diridai Allah SWT hingga akhir hayat.
Setelah menyampaikan pengantar tersebut, ia menjelaskan bahwa tema utama kajian kali ini adalah membahas dua tokoh yang sama-sama bernama Yahya.
Menurutnya, pembahasan tersebut bukan berkaitan dengan nama keluarga “bin Yahya”, melainkan mengenai Buya Yahya dan Gus Yahya yang dinilainya memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Penjelasan Makna Nama Yahya
Dalam pengantarnya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga mengulas makna nama Yahya dari sisi bahasa maupun tradisi pemberian nama.
Ia menjelaskan bahwa nama Yahya memiliki arti “hidup”. Menurut penuturannya, pada masa lalu nama tersebut kerap diberikan kepada anak yang lahir setelah orang tuanya mengalami beberapa kali kehilangan anak.
Ia kemudian mengaitkan penjelasan itu dengan kisah Nabi Zakaria AS yang memperoleh karunia putra bernama Nabi Yahya AS.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa dalam beberapa budaya di Indonesia, nama Yahya memiliki makna yang sepadan dengan nama “Urip” atau “Selamet”, yang diharapkan membawa keselamatan dan umur panjang bagi pemiliknya.
Menyinggung Peran Buya Yahya
Memasuki pokok pembahasan, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyinggung sosok Buya Yahya sebagai salah satu ulama yang dikenal luas di lingkungan Nahdlatul Ulama maupun masyarakat umum.
Ia menyebut Buya Yahya sebagai tokoh yang aktif menyampaikan dakwah melalui lembaga pendidikan Al Bahjah.
Dalam keterangannya, ia mengatakan bahwa Buya Yahya dikenal sebagai figur yang sering menyampaikan ajaran agama kepada para santri maupun jamaahnya.
Namun demikian, menurut KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro, terdapat sejumlah pandangan Buya Yahya mengenai polemik nasab Baalawi yang perlu mendapat perhatian dan dibahas secara terbuka.
Menilai Polemik Nasab Perlu Dibahas Terbuka
KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro mengatakan bahwa pembahasan mengenai nasab Baalawi bukan hanya menyangkut persoalan sejarah keluarga, tetapi menurutnya juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas.
Ia menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia perlu mengetahui berbagai pandangan yang berkembang agar memiliki informasi yang lebih lengkap.
Dalam kajian tersebut, ia mengajak masyarakat untuk mengikuti pembahasan secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan.
Menurutnya, perdebatan mengenai nasab tidak cukup diselesaikan melalui pernyataan singkat, tetapi memerlukan kajian berdasarkan referensi dan literatur yang dianggap relevan.
Soroti Sikap Gus Yahya Menjelang Muktamar NU
Selain membahas Buya Yahya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyoroti Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama yang menurut keterangannya diperkirakan berlangsung beberapa bulan ke depan.
Dalam pandangannya, Gus Yahya perlu menyampaikan posisi yang lebih jelas terkait polemik yang berkembang.
Ia mengatakan bahwa masyarakat membutuhkan kejelasan sikap dari para pemimpin organisasi keagamaan agar tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Gus Yahya dalam sejumlah kesempatan.
Ia menyebut pernah mendengar langsung beberapa pernyataan Gus Yahya mengenai PWI LS, kemudian membandingkannya dengan pernyataan yang menurutnya disampaikan dalam kesempatan lain.
Menurutnya, perbedaan tersebut perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat maupun warga Nahdlatul Ulama.
Mengutip Pernyataan Buya Yahya Mengenai Nasab
Dalam kajian itu, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga memutar cuplikan ceramah Buya Yahya yang membahas persoalan nasab.
Ia mengutip bagian ceramah yang menjelaskan bahwa menolak nasab yang telah diakui dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang berat menurut pandangan keagamaan.
Dalam kutipan tersebut, Buya Yahya juga mengajak masyarakat untuk tetap menghormati para habaib serta membedakan antara penghormatan terhadap nasab dengan kritik terhadap perilaku individu.
Menurut KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro, pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam kajiannya.
Berikan Tanggapan terhadap Ceramah Buya Yahya
Setelah memutar cuplikan tersebut, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyampaikan tanggapannya.
Ia berpendapat bahwa pembahasan mengenai nasab tidak dapat dilepaskan dari perkembangan informasi dan penelitian yang menurutnya terus berkembang.
Ia juga mengatakan bahwa seorang ulama perlu mengikuti perkembangan informasi agar pendapat yang disampaikan tetap sesuai dengan kondisi yang berkembang.
Dalam penjelasannya, ia mengibaratkan wartawan sebagai pihak yang sering memperoleh informasi lebih cepat karena terus mengikuti perkembangan peristiwa.
Oleh sebab itu, menurutnya, seorang ulama juga perlu memperbarui referensi dan memperluas kajian agar mampu memberikan penjelasan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Menilai Literasi Keilmuan Perlu Terus Diperbarui
KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro kemudian menekankan pentingnya budaya belajar sepanjang hayat.
Ia menyampaikan bahwa setiap orang memiliki keterbatasan pengetahuan sehingga diperlukan sikap terbuka terhadap informasi baru.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan berjalan sangat cepat sehingga tokoh agama, akademisi maupun masyarakat perlu terus memperbarui wawasan.
Ia juga mengajak seluruh pihak agar lebih mengedepankan kajian ilmiah dibandingkan saling memberikan penilaian tanpa dasar yang jelas.
Pembahasan tersebut menjadi pengantar sebelum ia melanjutkan kajian ke materi berikutnya yang membahas kitab-kitab rujukan, polemik Baalawi, serta pandangannya mengenai sejumlah tokoh yang disebut dalam ceramahnya.
Bersambung ke Bagian 2.
Referensi berita:




