invisible hit counter
Nasional

Gus Abbas Ungkap Sejarah Keluarga Buntet Pesantren dan Latar Belakang Berdirinya PWI-LS, Sebut Berawal dari Keresahan terhadap Pergeseran Nilai Keagamaan

WARTA BATAVIA – Ketua Umum PWI-LS KH Muhammad Abbas Billy Yachsy menjelaskan sejarah keluarganya di Buntet Pesantren, silsilah Mbah Abbas, serta latar belakang berdirinya Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah dalam wawancara di kanal Rhoma Irama Official.

Gus Abbas Paparkan Hubungan Keluarga dengan Mbah Abbas Buntet

Ketua Umum Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS), KH Muhammad Abbas Billy Yachsy atau Gus Abbas, memaparkan sejarah keluarganya dalam sebuah wawancara yang tayang di kanal Rhoma Irama Official pada 31 Oktober 2025.

Pada awal perbincangan, Rhoma Irama menyinggung sosok Mbah Abbas Buntet yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo. Rhoma kemudian meminta Gus Abbas menjelaskan hubungan keluarganya dengan tokoh tersebut sekaligus sejarah perjuangan keluarga yang disebut terus berlanjut hingga generasi penerus.

Menjawab pertanyaan tersebut, Gus Abbas memulai dengan menjelaskan silsilah keluarganya secara rinci.

Menurut keterangannya, ayahnya bernama KH Fuad Hasyim yang merupakan keturunan Mbah Saleh. Sementara dari garis ibu, dirinya merupakan keturunan Mbah Mustahdi, putra tertua Mbah Abbas.

Ia menjelaskan bahwa Mbah Saleh merupakan kakak kandung Mbah Abdul Jamil. Dari Mbah Abdul Jamil lahir Mbah Abbas, kemudian Mbah Mustahdi, yang selanjutnya menjadi jalur keturunan ibunya.

Dengan demikian, menurut penjelasan Gus Abbas, kedua orang tuanya masih memiliki hubungan kekerabatan karena berasal dari dua cabang keluarga yang sama.

Ia mengatakan bahwa pola pernikahan antarkerabat pada masa itu cukup banyak dijumpai di lingkungan Buntet Pesantren. Menurutnya, setelah mempelajari sejarah keluarga, ia melihat adanya tujuan menjaga kesinambungan nasab dalam tradisi tersebut.

Sejarah Berdirinya Buntet Pesantren Menurut Gus Abbas

Dalam wawancara itu, Gus Abbas juga mengisahkan sejarah awal berdirinya Buntet Pesantren.

Ia menjelaskan bahwa pendiri Buntet Pesantren adalah Mbah Muqayyim yang disebut sebagai Mufti Kesultanan Cirebon serta masih memiliki hubungan keturunan dengan Sunan Gunung Jati.

Menurut penuturannya, Mbah Muqayyim memiliki menantu bernama Mbah Muta’ad.

Selanjutnya Mbah Muta’ad memiliki dua putra yang menjadi tokoh penting dalam sejarah keluarga, yakni Mbah Saleh sebagai putra tertua dan Mbah Abdul Jamil sebagai putra yang lebih muda.

Gus Abbas menjelaskan bahwa Mbah Saleh kemudian diminta mengembangkan dakwah di wilayah Benda Kerep.

Namun, menurut cerita keluarga yang diterimanya, Mbah Muta’ad belum langsung mengizinkan keberangkatan tersebut karena adik-adiknya, termasuk Mbah Abdul Jamil, masih berusia kecil sehingga belum ada yang meneruskan pengelolaan pesantren di Buntet.

Setelah adik-adiknya beranjak dewasa, Mbah Saleh akhirnya berangkat ke Benda Kerep dan mendirikan majelis yang kemudian berkembang menjadi Pesantren Benda Kerep.

Sementara itu, pengelolaan Buntet Pesantren diteruskan oleh Mbah Abdul Jamil bersama saudara-saudaranya.

Menurut Gus Abbas, dari garis Mbah Abdul Jamil kemudian lahirlah Mbah Abbas yang menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Pesantren Buntet.

Menjelaskan Hubungan Kekerabatan dengan Mbah Abbas

Dalam kesempatan yang sama, Gus Abbas kembali menegaskan hubungan keluarganya dengan Mbah Abbas.

Ia mengatakan bahwa Mbah Abbas merupakan kakeknya dari garis ibu.

Menurut penjelasannya, Mbah Abbas adalah putra Mbah Abdul Jamil, sedangkan ayahnya berasal dari garis Mbah Saleh yang merupakan kakak kandung Mbah Abdul Jamil.

Atas penjelasan tersebut, Rhoma Irama kemudian menyampaikan bahwa silsilah tersebut telah dijelaskan secara runtut.

Percakapan kemudian beralih pada pembahasan mengenai sejarah perjuangan ulama pada masa Resolusi Jihad tahun 1945.

Rhoma Irama menyebut bahwa berdasarkan sejarah yang diketahuinya, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari menunggu kedatangan tokoh yang menjadi leluhur Gus Abbas sebelum komando perlawanan terhadap pasukan Inggris dilakukan.

Gus Abbas membenarkan penjelasan tersebut.

Gus Abbas Menyebut Berdirinya PWI-LS Berawal dari Keresahan Pribadi

Gus Abbas Menyebut Berdirinya PWI-LS Berawal dari Keresahan Pribadi

Memasuki pembahasan mengenai organisasi, Rhoma Irama menanyakan latar belakang berdirinya Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS).

Menjawab pertanyaan itu, Gus Abbas mengatakan bahwa gagasan mendirikan organisasi tersebut berawal dari keresahan pribadi yang menurutnya juga dirasakan sejumlah ulama dan warga Nahdlatul Ulama.

Ia menyebut adanya gejala yang menurut pandangannya menunjukkan pergeseran nilai-nilai keagamaan serta perubahan mentalitas yang dinilainya luput dari perhatian banyak pihak.

Menurut Gus Abbas, kondisi tersebut menjadi alasan dirinya merasa perlu melakukan sebuah gerakan.

Ia mengatakan perjuangan tersebut, menurut pandangannya, ditujukan untuk menjaga agama, bangsa, dan negara.

Dalam wawancara tersebut, ia juga menyebut semboyan yang menjadi pegangan perjuangannya, yaitu I’zul Islam wal Muslimin wa I’zul Indonesia wal Indonesiyyin.

Mengaku Telah Memikirkan Gerakan Sebelum Berdirinya PWI-LS

Gus Abbas menjelaskan bahwa keinginannya membangun gerakan telah muncul beberapa tahun sebelum PWI-LS terbentuk.

Ia mengaku pernah berencana mengumpulkan para kiai muda Nahdlatul Ulama di Cilacap.

Menurut keterangannya, pada masa itu dirinya sempat menyampaikan rencana tersebut kepada Presiden ke-4 RI sekaligus tokoh NU, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Dalam wawancara itu, Gus Abbas mengatakan bahwa Gus Dur pada waktu tersebut menyampaikan dukungan terhadap niatnya, namun mengingatkan agar gerakan yang dilakukan tetap berada dalam konteks Nahdlatul Ulama dan Ahlussunnah wal Jamaah.

Gus Abbas mengatakan dirinya menerima pesan tersebut dan menyatakan tidak akan keluar dari koridor tersebut.

Menyebut Tesis KH Imaduddin Al-Bantani Menjadi Titik Awal Pergerakan

Dalam penjelasannya, Gus Abbas mengatakan bahwa gagasan mengenai perlunya sebuah gerakan sebenarnya sudah muncul sebelum adanya tesis yang disusun KH Imaduddin Al-Bantani.

Namun, menurutnya, tesis tersebut kemudian menjadi pijakan utama dalam pembentukan gerakan PWI-LS.

Ia mengaku menghubungi KH Imaduddin Al-Bantani untuk meminta naskah tesis beserta referensi yang digunakan.

Menurut Gus Abbas, dirinya mempelajari seluruh materi tersebut secara mendalam sebelum memutuskan membentuk wadah organisasi.

Ia menyebut bahwa setelah mempelajari isi tesis tersebut, dirinya menilai perlu dibentuk organisasi sebagai wadah perjuangan bersama.

Gus Abbas Menjelaskan Dasar Spiritual Organisasi

Selain mempelajari tesis tersebut, Gus Abbas juga mengatakan bahwa dirinya mencari dasar spiritual sebelum organisasi dibentuk.

Ia mengaku mempelajari berbagai kisah para nabi dalam Al-Qur’an, termasuk Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Yunus, dan Nabi Muhammad SAW.

Dalam kajiannya tersebut, Gus Abbas menyebut menemukan konsep yang menurutnya menjadi dasar perjuangan Rasulullah, yakni sifat musaddiqu lima ma’akum.

Ia kemudian menjelaskan bahwa konsep tersebut dipahaminya sebagai tugas untuk menegakkan kebenaran berdasarkan data, fakta, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurut Gus Abbas, pemahaman itulah yang kemudian menjadi salah satu landasan spiritual dalam perjuangan organisasi yang dipimpinnya.

Gus Abbas Menjelaskan Makna Musaddiqu Lima Ma'akum sebagai Landasan Perjuangan PWI-LS

Gus Abbas Menjelaskan Makna Musaddiqu Lima Ma’akum sebagai Landasan Perjuangan PWI-LS

Dalam lanjutan wawancara di kanal Rhoma Irama Official, Ketua Umum PWI-LS KH Muhammad Abbas Billy Yachsy (Gus Abbas) menjelaskan dasar pemikiran yang menurutnya menjadi fondasi spiritual organisasi yang dipimpinnya.

Menurut Gus Abbas, setelah mempelajari Al-Qur’an dan perjalanan para nabi, ia menemukan satu konsep yang dinilainya memiliki posisi penting dalam misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu sifat musaddiqu lima ma’akum.

Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut dipahami sebagai tugas untuk membenarkan atau meluruskan sesuatu berdasarkan kenyataan yang ada.

Menurut penuturannya, konsep tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan dalam perjuangan yang dijalankan PWI-LS.

Dalam wawancara itu, Gus Abbas juga menguraikan asal-usul kata musaddiq dari sisi kebahasaan Arab. Ia menjelaskan bahwa kata tersebut berkaitan dengan makna kejujuran (ash-shidq) yang menurutnya menjadi sifat utama para nabi dan rasul.

Ia mengatakan bahwa kejujuran diwujudkan melalui upaya menampilkan kebenaran serta tidak menyembunyikan fakta yang telah diketahui.

Menurut Gus Abbas, pemahaman tersebut membuat dirinya berkesimpulan bahwa perjuangan harus dilakukan berdasarkan data, bukti, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menyebut Rasulullah Meluruskan Ajaran, Sejarah, dan Nasab

Dalam penjelasannya, Gus Abbas mengatakan bahwa salah satu tugas Rasulullah SAW adalah meluruskan berbagai penyimpangan yang terjadi pada masa sebelumnya.

Ia menyebut, menurut pemahamannya terhadap Al-Qur’an, Rasulullah datang untuk meluruskan ajaran-ajaran yang mengalami perubahan, termasuk berbagai penafsiran yang menurutnya tidak sesuai dengan wahyu Allah.

Selain itu, Gus Abbas juga menyinggung sejumlah kisah para nabi yang menurutnya mengalami penyimpangan dalam berbagai literatur.

Ia memberikan beberapa contoh yang menurut penjelasannya berkaitan dengan kisah Nabi Daud, Nabi Sulaiman, serta Nabi Isa.

Menurut Gus Abbas, konsep tersebut kemudian ia jadikan sebagai salah satu kerangka berpikir ketika melihat berbagai persoalan yang menurut pandangannya terjadi di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa dari pemahaman itulah muncul gagasan mengenai perlunya pelurusan terhadap berbagai hal yang dianggap tidak sesuai dengan data sejarah maupun ajaran agama.

Gus Abbas Mengaku Sudah Memiliki Keresahan Sebelum Ramainya Media Sosial

Dalam wawancara tersebut, Gus Abbas mengatakan bahwa kegelisahan yang dirasakannya sudah muncul jauh sebelum berbagai pembahasan berkembang luas melalui media sosial.

Ia mengaku telah memperhatikan berbagai fenomena yang menurut pandangannya memerlukan perhatian sejak beberapa tahun sebelumnya.

Menurut Gus Abbas, ketika media sosial seperti YouTube berkembang dan berbagai informasi semakin mudah diakses masyarakat, ia menilai banyak data dan dokumentasi yang kemudian menjadi lebih terbuka.

Ia mengatakan bahwa perkembangan tersebut membuat masyarakat dapat menyaksikan sendiri berbagai informasi yang sebelumnya sulit diketahui secara luas.

Gus Abbas Menjelaskan Alasan Memilih Nama Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah

Gus Abbas Menjelaskan Alasan Memilih Nama Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah

Rhoma Irama kemudian menanyakan proses lahirnya nama organisasi yang kini dikenal sebagai Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS).

Menanggapi pertanyaan itu, Gus Abbas menjelaskan bahwa istilah Laskar Sabilillah merupakan nama yang pertama kali muncul dalam pikirannya.

Menurutnya, setelah itu ia berdiskusi dengan KH Imaduddin Al-Bantani mengenai perlunya membentuk organisasi sebagai wadah perjuangan.

Ia mengatakan bahwa perjuangan tersebut dinilai memerlukan organisasi agar dapat berjalan secara terstruktur dan memiliki tempat berhimpunnya orang-orang yang memiliki pandangan serupa.

Dalam penjelasannya, Gus Abbas menyebut organisasi dibutuhkan untuk menghimpun masyarakat yang memiliki semangat perjuangan yang sama.

Awalnya Menggunakan Nama Kebangkitan Wali Songo Indonesia

Gus Abbas menjelaskan bahwa setelah dilakukan sejumlah pertemuan, pada 29 Agustus 2023 diadakan musyawarah di kediamannya di Buntet.

Dalam forum tersebut, menurut keterangannya, sempat disepakati nama Kebangkitan Wali Songo Indonesia.

Selanjutnya organisasi mengadakan kongres pertama pada 6 Oktober 2023.

Pada kongres tersebut disusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi.

Namun ketika proses pendaftaran dilakukan kepada notaris, nama “Kebangkitan” disebut sudah banyak digunakan oleh organisasi lain.

Karena itu, menurut Gus Abbas, notaris menawarkan beberapa alternatif nama.

Ia kemudian memilih kata Perjuangan, sehingga lahirlah nama Perjuangan Wali Songo Indonesia yang kemudian dikenal dengan singkatan PWI.

Menurutnya, perubahan tersebut sekaligus menghasilkan singkatan organisasi yang lebih mudah dikenal masyarakat.

Menilai Organisasi Dibutuhkan agar Perjuangan Memiliki Wadah

Dalam wawancara itu, Rhoma Irama mengutip sebuah pernyataan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali mengenai pentingnya organisasi.

Menanggapi hal tersebut, Gus Abbas mengatakan bahwa dirinya memandang organisasi sebagai sarana agar perjuangan dapat berjalan secara teratur.

Ia menjelaskan bahwa alasan utama pembentukan organisasi adalah untuk menghimpun masyarakat yang memiliki tujuan yang sama.

Menurut Gus Abbas, tanpa organisasi perjuangan dinilai akan lebih sulit berjalan secara berkesinambungan.

Ia juga mengatakan bahwa wadah tersebut dimaksudkan sebagai tempat berhimpunnya masyarakat yang memiliki semangat perjuangan yang sama.

Gus Abbas Menjelaskan Keresahan yang Menurutnya Mendorong Berdirinya PWI-LS

Dalam kesempatan itu, Gus Abbas kembali menguraikan berbagai hal yang menurutnya menjadi latar belakang berdirinya organisasi.

Ia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun dirinya melihat berbagai perkembangan yang menurut pandangannya berkaitan dengan penghormatan terhadap sejumlah ulama Nusantara.

Menurut Gus Abbas, kondisi tersebut membuat dirinya merasa perlu membentuk sebuah gerakan.

Ia juga menyampaikan bahwa selama puluhan tahun dirinya mempertanyakan mengapa belum ada gerakan yang menurutnya secara khusus memberikan tanggapan terhadap persoalan tersebut.

Dalam penjelasannya, Gus Abbas menyebut beberapa contoh tokoh dan peristiwa yang menurutnya menjadi bagian dari kegelisahan tersebut.

Ia mengatakan bahwa rasa prihatin itulah yang kemudian berkembang menjadi gagasan untuk membangun organisasi.

Menyebut PWI-LS Dibangun atas Dasar Kecintaan terhadap Agama, Ulama, dan Bangsa

Menyebut PWI-LS Dibangun atas Dasar Kecintaan terhadap Agama, Ulama, dan Bangsa

Menjelang akhir sesi pembahasan mengenai latar belakang organisasi, Gus Abbas mengatakan bahwa menurut pandangannya perjuangan yang dilakukan dilandasi oleh kecintaan terhadap agama, Rasulullah SAW, para Wali Songo, Nahdlatul Ulama, Pancasila, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ia menyatakan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi dasar munculnya Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah.

Rhoma Irama kemudian memberikan apresiasi atas penjelasan tersebut sebelum wawancara berlanjut ke pembahasan mengenai program kerja organisasi.

Pembahasan Berlanjut pada Program Kerja PWI-LS

Pada bagian berikutnya, Rhoma Irama mulai menanyakan langkah-langkah yang akan dilakukan PWI-LS setelah organisasi berdiri.

Topik yang dibahas meliputi program kerja jangka menengah dan jangka panjang, pandangan Gus Abbas mengenai pembentengan akidah, penjelasan mengenai perbedaan karamah dan khurafat menurut pandangannya, hingga pembahasan mengenai gerakan penelitian makam yang disebutkan dalam wawancara.

Bersambung ke Bagian 3. Bagian terakhir akan memuat pembahasan program kerja PWI-LS, penjelasan mengenai gerakan penelitian makam, pernyataan penutup Gus Abbas, serta FAQ SEO, kata kunci, dan penutup artikel.

Gus Abbas Paparkan Program Kerja PWI-LS untuk Membentengi Agama dan Bangsa

Pada bagian akhir wawancara di kanal Rhoma Irama Official, Ketua Umum Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS), KH Muhammad Abbas Billy Yachsy atau Gus Abbas, menjelaskan sejumlah program yang menurutnya menjadi fokus organisasi ke depan.

Menjawab pertanyaan Rhoma Irama mengenai rencana jangka menengah dan jangka panjang organisasi, Gus Abbas mengatakan bahwa pokok perjuangan PWI-LS adalah membentengi agama dan bangsa.

Menurutnya, organisasi tersebut dibentuk untuk membentengi masyarakat dari berbagai hal yang dipandang tidak benar, sekaligus menjaga bangsa dan negara dari berbagai bentuk kezaliman yang menurut pandangannya dapat membahayakan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia menyebut bahwa perjuangan tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta keutuhan NKRI.

Gus Abbas Jelaskan Pandangannya tentang Perbedaan Karamah dan Khurafat

Dalam wawancara tersebut, Rhoma Irama kemudian meminta Gus Abbas menjelaskan pandangannya mengenai perbedaan antara karamah dan khurafat.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Gus Abbas mengatakan bahwa berdasarkan sejumlah kitab yang dipelajarinya, karamah tidak merusak syariat maupun akidah.

Sebaliknya, menurutnya, khurafat justru dapat merusak akidah dan syariat.

Ia juga menjelaskan bahwa, menurut sejumlah ulama yang dikajinya, karamah merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, sedangkan khurafat pada akhirnya akan memperlihatkan kebatilannya.

Dalam penjelasannya, Gus Abbas menyampaikan sejumlah ilustrasi yang menurutnya menggambarkan perbedaan kedua istilah tersebut.

Ia mengatakan bahwa karamah bukan sesuatu yang dapat dipertontonkan atau dilakukan secara sengaja untuk memperoleh pengakuan manusia.

Menurutnya, jika suatu peristiwa sengaja dipertontonkan sebagai tontonan, maka hal tersebut bukan termasuk karamah.

PWI-LS Sebut Akan Mendorong Penelitian terhadap Makam yang Dianggap Bermasalah

Salah satu pembahasan yang cukup panjang dalam wawancara tersebut adalah mengenai makam.

Rhoma Irama menanyakan langkah yang akan ditempuh PWI-LS berkaitan dengan sejumlah makam yang menurut berbagai pihak belakangan menjadi pembahasan di media sosial.

Menjawab hal itu, Gus Abbas mengatakan bahwa PWI-LS tengah mendorong masyarakat agar melakukan penelitian terhadap makam-makam di daerah masing-masing.

Menurutnya, masyarakat dapat meneliti apabila ditemukan kejanggalan yang berkaitan dengan sejarah atau identitas makam tersebut.

Ia mengatakan bahwa gerakan tersebut bukan dimaksudkan untuk membongkar makam secara sembarangan, melainkan mengajak masyarakat melakukan penelitian berdasarkan data sejarah yang tersedia.

Dalam wawancara itu, Gus Abbas juga menyebut beberapa daerah yang menurutnya telah melakukan penelitian terhadap makam, di antaranya Wanasari (Brebes), Wonosobo, Madiun, dan Pasuruan.

Menurutnya, masyarakat perlu memperhatikan kembali sejarah para leluhur di wilayah masing-masing apabila menemukan hal-hal yang dinilai memerlukan penelitian lebih lanjut.

Gus Abbas Menyinggung Kajian Sejarah Makam dalam dan Luar Negeri

Masih dalam pembahasan yang sama, Gus Abbas juga menyinggung sejumlah kajian sejarah mengenai makam yang menurutnya terdapat di luar Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa beberapa kisah mengenai lokasi makam tokoh-tokoh tertentu menjadi bagian dari kajian sejarah yang menurutnya perlu dipelajari secara mendalam.

Dalam wawancara tersebut, ia mengajak masyarakat agar tidak hanya menerima suatu informasi begitu saja, melainkan terlebih dahulu mempelajari sejarah, sumber, dan dasar informasi tersebut.

Menurut Gus Abbas, proses tersebut penting dilakukan agar masyarakat memperoleh pemahaman berdasarkan data yang dipandang dapat dipertanggungjawabkan.

Gus Abbas Mengajak Masyarakat Mengedepankan Kajian dan Klarifikasi

Gus Abbas Mengajak Masyarakat Mengedepankan Kajian dan Klarifikasi

Pada bagian selanjutnya, Gus Abbas menyinggung pentingnya melakukan klarifikasi terhadap berbagai informasi yang berkembang.

Ia mencontohkan sejumlah kitab yang menurutnya perlu diteliti kembali mengenai keaslian maupun sumber rujukannya.

Menurutnya, apabila suatu pendapat benar-benar berasal dari tokoh yang dikutip, maka masyarakat dapat mempelajarinya secara utuh.

Sebaliknya, apabila terdapat kekeliruan atribusi, menurutnya hal tersebut juga perlu dijelaskan kepada publik.

Ia mengatakan bahwa masyarakat hendaknya mengedepankan kajian, penelitian, serta sikap terbuka terhadap proses klarifikasi.

Menyampaikan Pernyataan Penutup Mengenai PWI-LS

Pada sesi penutup, Rhoma Irama meminta Gus Abbas menyampaikan pesan terakhir kepada masyarakat.

Dalam jawabannya, Gus Abbas menyinggung adanya berbagai tudingan yang menurutnya diarahkan kepada PWI-LS.

Ia mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Menurut penjelasannya, dasar pemikiran organisasi mengacu kepada akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, tasawuf Imam Al-Ghazali dan Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, serta empat mazhab fikih, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Gus Abbas juga menyebut PWI-LS sebagai gerakan masyarakat yang menurutnya lahir dari kalangan warga Nahdlatul Ulama secara kultural.

Menurutnya, organisasi tersebut merupakan wadah perjuangan masyarakat Indonesia sesuai dengan tujuan yang telah dijelaskan sepanjang wawancara.

Rhoma Irama kemudian menutup perbincangan dengan mengucapkan terima kasih kepada Gus Abbas atas kehadirannya di kanal tersebut.

Wawancara diakhiri dengan ajakan kepada pemirsa untuk terus mengikuti perkembangan pembahasan yang disampaikan dalam program tersebut.

Kesimpulan

Dalam wawancara berdurasi sekitar satu jam enam menit di kanal Rhoma Irama Official, KH Muhammad Abbas Billy Yachsy (Gus Abbas) menjelaskan sejarah keluarganya yang berkaitan dengan Buntet Pesantren, latar belakang berdirinya Perjuangan Wali Songo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS), dasar pemikiran organisasi, serta berbagai program yang menurutnya akan dijalankan ke depan.

Selain menjelaskan sejarah keluarga dan organisasi, Gus Abbas juga memaparkan pandangannya mengenai konsep musaddiqu lima ma’akum, perbedaan karamah dan khurafat menurut pemahamannya, pentingnya penelitian sejarah, hingga ajakan melakukan kajian terhadap berbagai informasi yang berkembang di masyarakat.

Seluruh penjelasan tersebut disampaikan dalam format dialog bersama Rhoma Irama yang dipublikasikan melalui kanal Rhoma Irama Official pada 31 Oktober 2025.

FAQ

Apa yang dibahas Gus Abbas dalam wawancara di Rhoma Irama Official?

Gus Abbas membahas sejarah keluarganya di Buntet Pesantren, latar belakang berdirinya PWI-LS, dasar pemikiran organisasi, program kerja, serta pandangannya mengenai sejumlah isu keagamaan dan sejarah sebagaimana disampaikan dalam wawancara.

Kapan wawancara tersebut dipublikasikan?

Berdasarkan keterangan pada transkrip, wawancara tersebut dipublikasikan pada 31 Oktober 2025 melalui kanal Rhoma Irama Official.

Apa yang disampaikan Gus Abbas mengenai tujuan PWI-LS?

Menurut penjelasan Gus Abbas dalam wawancara, organisasi tersebut dibentuk dengan tujuan membentengi agama, bangsa, dan negara sesuai dengan visi yang dipaparkannya.

Apa program yang disebutkan Gus Abbas?

Dalam wawancara tersebut, Gus Abbas menyebut sejumlah program, antara lain mendorong penelitian sejarah, pembentengan akidah menurut pandangannya, serta mengajak masyarakat melakukan kajian terhadap berbagai informasi yang berkembang.

Apa saja tema utama wawancara?

Tema utama wawancara meliputi sejarah keluarga Buntet Pesantren, sejarah berdirinya PWI-LS, visi organisasi, kajian sejarah, pandangan mengenai karamah dan khurafat, serta program kerja organisasi.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button