invisible hit counter
Nasional

KH Imaduddin Ungkap Latar Belakang Penelitian Nasab Baalawi, Singgung Tes DNA hingga Status Dzurriyah Rasulullah

Warta BataviaJAKARTA – Wakil Ketua Umum Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWILS), KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, menjelaskan latar belakang penelitian yang ia lakukan mengenai nasab Baalawi dalam sebuah wawancara bersama Kanal Bangsa Online.

Dalam podcast yang dipandu M. Masud Adnan tersebut, KH Imaduddin memaparkan alasan awal dirinya melakukan penelitian, sumber referensi yang digunakan, pandangannya mengenai tes DNA, hingga penjelasan mengenai keberadaan dzurriyah Rasulullah SAW di Indonesia.

Penelitian Berawal dari Kegelisahan

Dalam wawancara tersebut, KH Imaduddin mengatakan penelitian yang ia lakukan berangkat dari kegelisahan melihat adanya individu yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW namun, menurutnya, tidak menunjukkan akhlak sebagaimana dicontohkan Rasulullah.

Ia juga menyebut sejumlah peristiwa yang menurutnya menjadi perhatian, termasuk adanya kritik maupun penghinaan terhadap tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, ulama, hingga pejabat negara.

Menurut KH Imaduddin, salah satu momen yang mendorongnya melakukan penelitian adalah ketika menyaksikan pernyataan Habib Bahar bin Smith dalam sebuah persidangan yang mengaitkan status keturunan Nabi Muhammad SAW.

“Dari situ saya mulai mempertanyakan apakah benar mereka merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW, sehingga saya melakukan penelitian,” ujar KH Imaduddin dalam wawancara tersebut.

Mengaku Meneliti Berbagai Referensi dari Timur Tengah

Menjawab pertanyaan mengenai sumber penelitian, KH Imaduddin menjelaskan bahwa referensi diperoleh dari berbagai kitab dan manuskrip yang berasal dari sejumlah negara di Timur Tengah.

Ia menyebut dokumen tersebut berasal dari perpustakaan di Arab Saudi maupun negara lain seperti Iran, Irak, dan Turki.

Menurutnya, kitab-kitab yang digunakan merupakan naskah yang telah ditahqiq maupun ditashih serta masih memiliki manuskrip yang tersimpan di perpustakaan.

Seluruh referensi tersebut kemudian dipelajari sebagai bahan penelitian mengenai silsilah dan sejarah nasab.

Menanggapi Isu Pendanaan Penelitian

Dalam kesempatan yang sama, KH Imaduddin juga menanggapi isu yang menyebut penelitiannya didanai pihak tertentu.

Ia membantah tudingan tersebut dengan mengatakan bahwa jika melakukan perjalanan untuk kegiatan penelitian maupun undangan, biaya yang digunakan berasal dari keluarganya sendiri.

Menurutnya, berbagai tuduhan yang berkembang merupakan hak setiap orang untuk berpendapat dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang perlu ditanggapi secara serius apabila tidak disertai bukti.

Ia menyatakan hanya memberikan klarifikasi karena pertanyaan tersebut diajukan dalam wawancara Bangsa Online.

Menilai Diskursus Nasab Membawa Perubahan

KH Imaduddin juga menyampaikan pandangannya mengenai dampak diskusi publik terkait persoalan nasab.

Menurutnya, sejak isu tersebut berkembang, ia melihat perubahan dalam cara masyarakat menyikapi klaim keturunan Nabi Muhammad SAW.

Ia menyebut diskursus tersebut turut memengaruhi hubungan antara sebagian kelompok habaib dengan organisasi Nahdlatul Ulama, Ansor, maupun Banser.

Dalam keterangannya, ia menilai ruang diskusi yang berkembang telah mengubah pandangan sebagian masyarakat terhadap isu nasab.

apakah di Indonesia terdapat keturunan Rasulullah SAW, KH Imaduddin menjawab bahwa menurut pandangannya keturunan Rasulullah memang ada

Menjelaskan Pandangan Mengenai Keturunan Rasulullah di Indonesia

Saat ditanya apakah di Indonesia terdapat keturunan Rasulullah SAW, KH Imaduddin menjawab bahwa menurut pandangannya keturunan Rasulullah memang ada.

Namun, ia membedakan antara jalur keturunan laki-laki dan jalur keturunan perempuan.

Menurut penjelasannya, garis keturunan melalui jalur perempuan dapat ditemukan dalam sejumlah manuskrip lama yang mengaitkan silsilah Wali Songo dengan Rasulullah SAW.

Ia mengatakan bahwa dalam jalur tersebut terdapat satu mata rantai perempuan sehingga hasil tes DNA tidak harus identik dengan garis keturunan laki-laki yang masih berada di kawasan Timur Tengah.

KH Imaduddin menyebut perbedaan tersebut sesuai dengan penjelasan yang ia temukan dalam manuskrip-manuskrip kuno yang ditelitinya.

Menyebut Memiliki Data Tes DNA

Dalam wawancara itu, KH Imaduddin juga menyatakan telah memiliki data mengenai hasil tes DNA yang berkaitan dengan kelompok Baalawi.

Ia mengatakan data tersebut, menurutnya, tidak menunjukkan keterkaitan dengan garis keturunan laki-laki Bani Hasyim sebagaimana yang menjadi pembahasan dalam penelitiannya.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari hasil penelitian yang menurutnya telah dilakukan terhadap berbagai sumber sejarah, ilmu nasab, dan data genetika.

Pandangan Mengenai Pernikahan

Pembahasan juga menyinggung tradisi yang, menurut pewawancara, melarang perempuan dari kalangan tertentu menikah dengan laki-laki di luar kelompoknya.

Menanggapi hal tersebut, KH Imaduddin menyatakan setiap keluarga memiliki hak menentukan pilihan pasangan bagi anak-anaknya.

Ia kemudian menyampaikan pandangan pribadinya mengenai konsep kesetaraan atau kafaah dalam pernikahan berdasarkan latar belakang keluarga dan keturunan.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan dalam podcast Bangsa Online.

Menyebut Ada Puluhan Marga Keturunan Nabi yang Diakui

Menjelang akhir wawancara, KH Imaduddin mengatakan menurut hasil penelitiannya terdapat puluhan marga keturunan Nabi Muhammad SAW yang dinilai sahih berdasarkan ilmu nasab, sejarah, dan hasil tes DNA.

Ia menyebut jumlahnya mencapai 86 marga yang menurutnya memenuhi kriteria tersebut.

Sementara itu, ia menegaskan bahwa pandangannya mengenai nasab Baalawi tetap mengacu pada hasil penelitian yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Wawancara Ditutup Tanpa Kesimpulan Tambahan

Pada penutupan podcast, M. Masud Adnan menyampaikan bahwa isi wawancara bersama KH Imaduddin telah dipaparkan secara langsung oleh narasumber.

Ia mengatakan para penonton dipersilakan menyimak, menilai, dan menjadikan wawancara tersebut sebagai tambahan referensi maupun wawasan sesuai dengan informasi yang telah disampaikan selama perbincangan berlangsung. (Qodrat Arispati)

Referensi Berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button