Ceramah Gus Abbas: Makna Nahdlatul Ulama, Peran Ulama, hingga Kritik terhadap Pengurus NU (Bagian 2)

Gus Abbas: Karamah Bukan Ukuran Seseorang Menjadi Ulama
Warta Batavia – Melanjutkan ceramahnya, Gus Abbas menegaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya menjadikan kemampuan luar biasa atau karamah sebagai ukuran utama dalam menilai seorang ulama.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi tasawuf terdapat penjelasan bahwa seseorang dapat saja memperoleh kejadian luar biasa, namun hal tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa ia telah mencapai derajat ulama.
Menurut Gus Abbas, ukuran seorang ulama tetap kembali kepada ilmu, akidah, syariat, akhlak, serta rasa takut kepada Allah SWT.
Ia menyampaikan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan tertentu, seperti dianggap kebal terhadap senjata, mampu menghilang, atau memiliki kemampuan lain yang dipandang luar biasa oleh masyarakat, belum tentu memenuhi kriteria ulama.
Dalam penjelasannya, ia mengutip pandangan ulama tasawuf yang menyebut bahwa karamah dapat diberikan Allah kepada siapa saja sesuai kehendak-Nya, sehingga masyarakat diminta tidak menjadikan hal tersebut sebagai satu-satunya tolok ukur keilmuan seseorang.
Ukuran Ulama Menurut Gus Abbas
Gus Abbas kembali menekankan bahwa ukuran utama seorang ulama adalah kemampuannya membimbing umat menuju akidah yang lurus, syariat yang benar, serta akhlak yang baik.
Ia menyatakan bahwa ilmu yang dimiliki seorang ulama harus mampu mengarahkan manusia agar semakin dekat kepada Allah SWT.
Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya dikenal sebagai tokoh agama atau dihormati masyarakat apabila ilmu yang dimiliki tidak melahirkan ketakwaan.
Ia juga mengingatkan bahwa gelar ataupun penghormatan masyarakat tidak selalu identik dengan kedudukan seseorang sebagai ulama.
Dalam ceramahnya, ia mengatakan bahwa rasa takut kepada Allah merupakan ciri utama yang membedakan ulama dengan orang berilmu pada umumnya.
Menyinggung Kasus Tokoh Agama yang Terjerat Persoalan Hukum
Dalam salah satu bagian ceramahnya, Gus Abbas turut menyinggung adanya sejumlah pemberitaan mengenai tokoh agama yang terjerat persoalan hukum.
Menurutnya, apabila seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama, maka masyarakat perlu membedakan antara status sosial yang disandang dengan kualitas keulamaannya.
Ia menyampaikan bahwa seseorang dapat saja dikenal sebagai kiai, tetapi menurutnya belum tentu memenuhi kriteria ulama apabila tidak menjaga akhlak dan ketakwaannya.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasannya mengenai pentingnya memahami definisi ulama berdasarkan ilmu dan ketakwaan, bukan sekadar popularitas ataupun kedudukan di tengah masyarakat.
Mengajak Jamaah Tetap Menghadiri Majelis Ilmu
Di sela-sela ceramahnya, Gus Abbas beberapa kali menyampaikan candaan kepada jamaah yang terlihat mengantuk.
Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang biasa dalam sebuah pengajian.
Menurutnya, yang terpenting adalah kehadiran seseorang di majelis ilmu.
Ia menjelaskan bahwa menghadiri majelis ilmu memiliki nilai tersendiri meskipun seseorang belum sepenuhnya memahami seluruh materi yang disampaikan.
Dalam kesempatan itu, Gus Abbas juga mengajak jamaah untuk terus mengikuti pengajian sebagai bagian dari upaya menambah ilmu agama.
Menurutnya, majelis ilmu merupakan salah satu jalan untuk memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak.
Menyampaikan Kisah Ringan kepada Jamaah
Untuk mencairkan suasana, Gus Abbas menyelipkan berbagai kisah ringan mengenai tradisi menyambut para kiai di sejumlah daerah.
Ia menceritakan pengalamannya ketika menghadiri berbagai kegiatan pengajian di pesantren serta membandingkan tradisi yang ditemuinya di beberapa wilayah.
Cerita-cerita tersebut disampaikan dalam suasana santai dan beberapa kali disambut tawa para jamaah.
Selain itu, ia juga menyampaikan sejumlah pantun dan selawat yang mengundang interaksi dengan hadirin.
Kembali Menjelaskan Hakikat Ulama
Setelah suasana kembali tenang, Gus Abbas melanjutkan pembahasan mengenai hakikat ulama.
Menurutnya, ulama adalah orang yang tujuan hidupnya semata-mata mencari ridha Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang masih menjadikan kepentingan dunia sebagai tujuan utama belum layak menganggap dirinya sebagai ulama.
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa orientasi seorang ulama harus tertuju kepada Allah, bukan kepada kedudukan, kekayaan, maupun kepentingan pribadi.
Ia mengaitkan penjelasan tersebut dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa orang yang benar-benar takut kepada Allah adalah para ulama.
Ulama Disebut Sebagai Pewaris Para Nabi
Memasuki bagian berikutnya, Gus Abbas membahas hadis yang menyebut ulama sebagai pewaris para nabi.
Ia menjelaskan bahwa dalam hadis tersebut digunakan istilah “para nabi”, bukan hanya Rasulullah SAW.
Menurutnya, penggunaan istilah tersebut memiliki makna bahwa para ulama mewarisi sifat-sifat kenabian dalam membimbing umat, meskipun tidak menerima wahyu sebagaimana para nabi.
Ia kemudian menguraikan perbedaan antara nabi dan rasul sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah kitab yang dipelajarinya.
Menurut Gus Abbas, setiap rasul merupakan nabi, namun tidak setiap nabi merupakan rasul.
Ia juga menjelaskan bahwa kenabian memiliki keistimewaan yang disebut sebagai khushushiyyatun nubuwwah atau keistimewaan kenabian.
Menurut penjelasannya, keistimewaan tersebut menjadi dasar seseorang menerima tugas kerasulan.
Menjelaskan Konsep Keistimewaan Kenabian
Gus Abbas mengatakan bahwa Allah SWT memilih manusia tertentu untuk menerima keistimewaan kenabian.
Melalui keistimewaan tersebut, menurutnya, para nabi memperoleh bimbingan langsung dari Allah.
Ia menjelaskan bahwa para nabi memperoleh ilmu dan pertolongan Allah sehingga mampu menjalankan tugas menyampaikan risalah.
Dalam penjelasannya, ia menggunakan istilah ta’lim ilahi sebagai bentuk pengajaran langsung dari Allah kepada para nabi.
Menurutnya, inilah yang membedakan para nabi dengan manusia biasa yang memperoleh ilmu melalui proses belajar.
Kisah Penciptaan Nabi Adam
Selanjutnya Gus Abbas mulai menguraikan kisah penciptaan Nabi Adam AS sebagaimana termuat dalam Al-Qur’an.
Ia menjelaskan bahwa sebelum Nabi Adam diciptakan, Allah SWT telah memberitahukan kepada para malaikat mengenai rencana penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi.
Menurut Gus Abbas, pemanggilan para malaikat sebelum penciptaan Adam menunjukkan kemuliaan manusia di hadapan Allah.
Ia kemudian mengutip ayat Al-Qur’an yang menceritakan dialog antara Allah dan para malaikat mengenai penciptaan Nabi Adam.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi dasar untuk memahami kedudukan manusia sebagai khalifah di bumi.
Perintah Menghormati Nabi Adam
Gus Abbas menjelaskan bahwa setelah Nabi Adam diciptakan, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan kepada Adam.
Ia menegaskan bahwa sujud yang dimaksud bukanlah ibadah kepada Nabi Adam, melainkan bentuk penghormatan atas perintah Allah SWT.
Menurutnya, seluruh malaikat melaksanakan perintah tersebut, kecuali Iblis.
Dari peristiwa itulah, lanjut Gus Abbas, muncul pelajaran mengenai bahaya kesombongan yang kemudian menjadi pembahasan utama pada bagian selanjutnya dari ceramahnya.
Ia mengatakan bahwa penolakan Iblis untuk menghormati Nabi Adam menjadi contoh bagaimana kesombongan dapat mengalahkan ilmu yang dimiliki seseorang.
Bersambung ke Bagian 3, yang akan membahas:
- Penjelasan Gus Abbas mengenai kesombongan Iblis.
- Ilmu sebagai anugerah Allah dalam kisah Nabi Adam.
- Perdebatan Nabi Adam dan Iblis.
- Kaitan kisah tersebut dengan konsep keilmuan dalam Nahdlatul Ulama.
- Penjelasan mengenai pertolongan Allah (nusratun minallah) dan perjuangan para nabi.
Referensi berita:





2 Comments