Ceramah Gus Abbas: Makna Nahdlatul Ulama, Peran Ulama, hingga Kritik terhadap Pengurus NU (Bagian 3)

Gus Abbas: Kesombongan Menjadi Penyebab Iblis Menolak Menghormati Nabi Adam
Warta Batavia – Memasuki bagian berikutnya, Gus Abbas melanjutkan pembahasan mengenai kisah Nabi Adam AS dan Iblis sebagai salah satu pelajaran penting dalam memahami hakikat ilmu menurut perspektif yang disampaikannya.
Ia menjelaskan bahwa setelah Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk menghormati Nabi Adam, seluruh malaikat melaksanakan perintah tersebut kecuali Iblis.
Menurut Gus Abbas, penolakan Iblis bukan disebabkan karena tidak mengetahui perintah Allah, melainkan karena munculnya kesombongan dalam dirinya.
Ia kemudian mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Iblis menolak bersujud kepada Adam dan termasuk golongan yang ingkar.
Dalam penjelasannya, Gus Abbas menggambarkan Iblis sebagai sosok yang memiliki ilmu, kedudukan, serta pengalaman ibadah yang panjang. Namun, menurutnya, semua itu tidak mampu menyelamatkannya ketika kesombongan menguasai dirinya.
Kesombongan Karena Merasa Lebih Mulia
Gus Abbas melanjutkan bahwa Iblis merasa dirinya lebih layak dihormati dibandingkan Nabi Adam.
Ia menjelaskan bahwa dalam dialog yang dikisahkan Al-Qur’an, Iblis menyampaikan alasan penolakannya karena merasa diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah.
Menurut Gus Abbas, alasan tersebut menunjukkan bahwa Iblis menggunakan ukuran logika dan status untuk membandingkan dirinya dengan Adam.
Ia mengatakan bahwa kesombongan seperti itulah yang akhirnya menyebabkan Iblis terusir dari rahmat Allah SWT.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas mengajak jamaah mengambil pelajaran agar tidak merasa lebih tinggi karena ilmu, jabatan, usia, maupun kekayaan.
Ilmu Tinggi Tidak Menjamin Terhindar dari Kesombongan
Gus Abbas kemudian mengaitkan kisah Iblis dengan kehidupan manusia.
Ia menyampaikan bahwa seseorang yang memiliki ilmu tinggi tetap berpotensi terjerumus kepada kesombongan apabila tidak mampu menjaga hati.
Menurutnya, seseorang yang merasa paling alim, paling senior, paling kaya, atau paling berpengaruh dapat terjebak pada sifat yang dicontohkan Iblis.
Ia juga menyampaikan bahwa orang yang memiliki kedudukan tinggi hendaknya tetap mampu menghormati orang lain tanpa memandang usia maupun status sosial.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas mengingatkan bahwa penghormatan kepada sesama merupakan bagian dari akhlak yang harus dimiliki setiap Muslim.
Meneladani Kerendahan Hati
Lebih lanjut, Gus Abbas mengajak jamaah untuk membiasakan diri menghargai orang lain.
Menurutnya, seseorang yang berilmu hendaknya tetap rendah hati kepada orang yang belum memiliki pengetahuan yang sama.
Demikian pula orang yang memiliki jabatan atau kekayaan diminta tidak memandang rendah orang lain.
Ia mengatakan bahwa seluruh harta, kedudukan, dan kemampuan pada akhirnya tidak akan dibawa ketika manusia meninggal dunia.
Karena itu, menurutnya, sikap tawadhu atau rendah hati merupakan salah satu pelajaran utama dari kisah Nabi Adam dan Iblis.
Allah Mengajarkan Ilmu kepada Nabi Adam
Selanjutnya Gus Abbas menguraikan ayat Al-Qur’an mengenai pengajaran ilmu kepada Nabi Adam.
Ia menjelaskan bahwa Allah mengajarkan berbagai nama dan pengetahuan kepada Nabi Adam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
Menurutnya, penyebutan bahwa Allah mengajarkan seluruh nama kepada Nabi Adam menunjukkan keluasan ilmu yang diberikan Allah kepada manusia pertama tersebut.
Ia juga mengutip penjelasan sejumlah kitab tafsir mengenai makna ayat tersebut.
Dalam ceramahnya, Gus Abbas menyampaikan bahwa Nabi Adam memperoleh ilmu langsung sebagai karunia dari Allah SWT.
Ilmu Disebut Sebagai Anugerah Allah
Berdasarkan kisah Nabi Adam tersebut, Gus Abbas kemudian menjelaskan pandangannya mengenai hakikat ilmu.
Menurutnya, ilmu pada dasarnya merupakan anugerah Allah, bukan semata-mata hasil usaha manusia.
Ia menyampaikan bahwa manusia memang diwajibkan belajar, namun hasil akhir berupa ilmu tetap merupakan pemberian Allah SWT.
Karena itu, menurut Gus Abbas, seseorang tidak layak menyombongkan diri hanya karena merasa memiliki ilmu lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Ia juga mengatakan bahwa keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh lamanya belajar, tetapi juga oleh hidayah yang diberikan Allah.
Nabi Adam Mengalahkan Iblis dalam Argumentasi
Dalam penjelasannya, Gus Abbas menyebut bahwa Allah memperlihatkan kelebihan ilmu Nabi Adam di hadapan para malaikat.
Menurutnya, meskipun Iblis telah beribadah dalam waktu yang sangat lama sebagaimana dijelaskan dalam ceramah tersebut, Allah tetap memberikan keutamaan ilmu kepada Nabi Adam.
Ia mengatakan bahwa peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa ilmu yang berasal dari Allah tidak dapat diukur hanya dari lamanya seseorang belajar.
Gus Abbas kemudian menghubungkan kisah itu dengan pandangannya mengenai pentingnya menjadikan ilmu sebagai dasar perjuangan.
Dikaitkan dengan Filosofi Nahdlatul Ulama
Menurut Gus Abbas, kisah Nabi Adam dan Iblis memiliki hubungan dengan filosofi penggunaan nama Nahdlatul Ulama.
Ia menyatakan bahwa para pendiri NU menempatkan ilmu sebagai landasan utama dalam perjuangan organisasi.
Menurutnya, ilmu yang benar akan melahirkan kebijaksanaan, sedangkan ilmu yang disertai kesombongan justru dapat menjerumuskan seseorang.
Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa perjuangan Nahdlatul Ulama, menurut penjelasannya, dibangun di atas ilmu, bukan emosi ataupun permusuhan.
Pertolongan Allah dalam Perjuangan Para Nabi
Pada bagian berikutnya, Gus Abbas membahas konsep nusratun minallah atau pertolongan dari Allah SWT.
Ia menjelaskan bahwa seluruh nabi memperoleh pertolongan Allah ketika menjalankan tugas menyampaikan risalah.
Sebagai contoh, ia menyebut kisah Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, hingga Nabi Muhammad SAW.
Menurut Gus Abbas, kemenangan para nabi tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan material, melainkan karena memperoleh pertolongan Allah.
Ia menyampaikan bahwa dalam berbagai kisah Al-Qur’an, para nabi menghadapi tantangan yang berat, namun tetap mampu menjalankan tugas yang diberikan Allah.
Keistimewaan Para Nabi Menurut Penjelasan Gus Abbas
Dalam ceramahnya, Gus Abbas kembali menjelaskan konsep khushushiyyatun nubuwwah atau keistimewaan kenabian.
Menurutnya, keistimewaan tersebut membuat para nabi mendapatkan ilmu, bimbingan, serta pertolongan langsung dari Allah SWT.
Ia juga menyampaikan bahwa para ulama sebagai pewaris nabi memiliki tanggung jawab menjaga ajaran agama dan membimbing umat sesuai ilmu yang dimiliki.
Menurut penjelasannya, para ulama menjalankan peran dakwah dengan mengikuti jejak para nabi, meskipun tidak menerima wahyu.
Menuju Pembahasan Sejarah Perjuangan NU
Menjelang akhir bagian ceramah ini, Gus Abbas mulai menghubungkan konsep ilmu dan pertolongan Allah dengan perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama.
Ia mengatakan bahwa sejarah perjuangan NU, menurut pandangannya, tidak dapat dipisahkan dari peran para ulama yang memimpin masyarakat dalam berbagai masa.
Pembahasan tersebut kemudian menjadi pengantar menuju uraian mengenai Resolusi Jihad, perjuangan para kiai pesantren, serta keterlibatan Nahdlatul Ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang disampaikan pada bagian akhir ceramahnya.
Bersambung ke Bagian 4 (Penutup) yang akan membahas:
- Penjelasan Gus Abbas mengenai Resolusi Jihad.
- Peran KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan ulama pesantren dalam perjuangan kemerdekaan.
- Pandangan Gus Abbas mengenai kekuatan spiritual dalam sejarah perjuangan Indonesia.
- Pernyataan mengenai PWI Laskar Sabilillah sebagai organisasi yang menurutnya bertujuan membentengi Nahdlatul Ulama.
- Penutup ceramah dan kesimpulan keseluruhan isi pengajian.
Referensi berita:





2 Comments