Kiyai Rhoma Irama Ungkap Makna Maulid Nabi dan Tujuan Peringatan Maulid Nabi

Kiyai Rhoma Irama Ungkap Makna Maulid Nabi: Dari Mengenal Rasulullah hingga Meneladani Akhlaknya
WARTA BATAVIA – Kiyai Rhoma Irama menjelaskan makna Maulid Nabi sebagai momentum mengenal Rasulullah, menumbuhkan cinta, meningkatkan ketaatan, dan meneladani akhlaknya.
Kiyai Rhoma Irama Jelaskan Tujuan Peringatan Maulid Nabi
Kiyai Rhoma Irama menyampaikan penjelasan mengenai makna peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam sebuah kegiatan yang ditayangkan kanal YouTube etalase seni pada 13 September 2026.
Dalam penjelasannya, Rhoma Irama menyebut peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk memperdalam dan mempertajam pengenalan umat Islam terhadap sosok Rasulullah SAW. Menurut penjelasan yang disampaikan dalam ceramah tersebut, pengenalan kepada Nabi diharapkan melahirkan kekaguman, kemudian kecintaan, dan berlanjut pada ketaatan.
“Tujuan kita memperingati Maulidin Nabi dalam rangka memperdalam, mempertajam pengenalan kita terhadap sosok beliau sallallahu alaihi wasallam sehingga muncullah kekaguman kita kepada beliau,” ujar Rhoma Irama dalam rekaman yang ditayangkan kanal tersebut.
Ia kemudian menjelaskan hubungan antara kekaguman, cinta, dan ketaatan kepada Rasulullah SAW. Dalam pemaparannya, ketaatan tersebut dikaitkan dengan perintah Allah agar umat melaksanakan apa yang diperintahkan Rasul dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
Mengenal Nabi Melalui Al-Qur’an
Dalam ceramahnya, Rhoma Irama juga membahas bagaimana umat Islam yang hidup jauh setelah masa Rasulullah SAW dapat mengenal dan beriman kepada beliau.
Ia menyampaikan bahwa umat Islam masa kini tidak hidup sezaman dengan Nabi Muhammad SAW dan tidak pernah bertemu secara langsung dengan beliau. Namun, keimanan kepada Rasulullah tetap dapat tumbuh melalui Al-Qur’an.
“Tak lain dan tak Quran tak bukan melalui Al-Qur’anul Karim,” kata Rhoma Irama ketika menjelaskan sumber pengenalan umat terhadap Nabi Muhammad SAW.
Menurut pemaparannya, Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kemudian dihimpun dalam satu mushaf. Ia menyebut kandungan Al-Qur’an mencakup berbagai pembahasan mengenai kehidupan manusia.
Rhoma Irama menyebut sejumlah bidang yang menurutnya terdapat dalam kandungan Al-Qur’an, antara lain ilmu sosial, ilmu agama, ilmu ketuhanan, kehidupan akhirat, kehidupan dunia, serta sains dan teknologi.
Dari penjelasan tersebut, ia menghubungkan keimanan kepada Allah dan keimanan kepada Nabi Muhammad SAW dengan Al-Qur’an sebagai wahyu yang menjadi pedoman umat Islam.
Kisah tentang Saudara Rasulullah yang Tidak Pernah Bertemu Nabi
Bagian lain dalam ceramah tersebut membahas kisah yang disampaikan Rhoma Irama mengenai kerinduan Rasulullah SAW kepada orang-orang yang disebut sebagai saudara beliau.
Rhoma Irama mengisahkan bahwa Rasulullah pernah menunjukkan kesedihan ketika sedang berkumpul bersama para sahabat. Ketika para sahabat menanyakan penyebab kesedihan tersebut, dalam kisah yang disampaikan Rhoma, Nabi menjelaskan bahwa beliau teringat kepada para saudara.
Para sahabat kemudian bertanya apakah mereka bukan saudara Rasulullah. Dalam penjelasan Rhoma, Rasulullah membedakan antara para sahabat yang telah bertemu beliau dengan orang-orang yang tidak pernah bertemu atau melihat beliau tetapi tetap beriman kepada beliau.
Rhoma Irama kemudian mengajak jamaah menghubungkan kisah tersebut dengan kondisi umat Islam saat ini. Ia menanyakan kepada hadirin apakah mereka pernah melihat atau bertemu Nabi Muhammad SAW, lalu mengingatkan bahwa meskipun tidak pernah bertemu secara langsung, umat Islam tetap beriman kepada Rasulullah.
Relasi Nabi Muhammad dengan Umat
Rhoma Irama selanjutnya menjelaskan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dan nabi terakhir.
Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang dalam ceramahnya disampaikan untuk menjelaskan bahwa Muhammad bukanlah bapak dari anak-anak laki-laki umatnya, melainkan Rasulullah dan penutup para nabi.
Dari ayat tersebut, Rhoma Irama menjelaskan bahwa hubungan Nabi Muhammad SAW dengan umat tidak ditempatkan semata-mata dalam hubungan kekeluargaan atau family system. Ia menyebut hubungan tersebut sebagai relasi keumatan.
Dalam bagian berikutnya, ia juga menekankan bahwa ukuran keselamatan seseorang bukan semata-mata berdasarkan garis keturunan, melainkan ketakwaan dan perbuatan.
Rhoma menyampaikan bahwa orang yang bertakwa memperoleh surga, sedangkan orang yang melakukan maksiat mendapat ancaman neraka, tanpa membedakan status sosial atau garis keturunan sebagaimana disebut dalam ceramahnya.
Misi Nabi Muhammad SAW Memperbaiki Akhlak
Selain menyampaikan kalimat tauhid dan risalah, Rhoma Irama menjelaskan bahwa salah satu misi Nabi Muhammad SAW adalah membangun dan memperbaiki akhlak manusia.
Ia mengutip hadis yang populer dengan makna bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
“Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk memperbaiki akhlak,” ujar Rhoma ketika menjelaskan hadis tersebut.
Menurut penjelasan Rhoma, akhlak berkaitan dengan sikap, perilaku, dan kelakuan manusia. Ia kemudian membagi akhlak secara kualitatif menjadi tiga kategori, yaitu akhlak yang mulia, akhlak standar, dan akhlak yang buruk.
Sementara berdasarkan orientasinya, ia menyebut akhlak kepada Allah SWT, akhlak kepada sesama manusia, serta akhlak kepada alam, hewan, dan tanaman.
Iman dan Ibadah Dikaitkan dengan Akhlak
Dalam ceramah tersebut, Rhoma Irama juga menyoroti hubungan antara keimanan, ibadah, dan akhlak.
Ia mengatakan bahwa seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak memiliki akhlak tidak menjalankan tujuan pembentukan perilaku yang baik. Hal serupa ia sampaikan mengenai ibadah salat.
“Orang kalau dia bilang, ‘Saya beriman tapi enggak berakhlak, enggak ada artinya. Saya salat tapi enggak berakhlak enggak ada artinya,’” kata Rhoma dalam ceramahnya.
Rhoma kemudian mengutip ayat yang menyebut Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, atau teladan yang baik. Menurutnya, sosok Nabi menjadi rujukan dalam pembentukan perilaku dan akhlak.
Rhoma Irama Soroti Pentingnya Keteladanan
Dalam penjelasan selanjutnya, Rhoma Irama membandingkan pentingnya ilmu dan keteladanan dalam kehidupan.
Ia mengatakan bahwa banyak orang memiliki pengetahuan dan kemampuan akademik, tetapi belum tentu menjadi teladan dalam perilaku. Dalam ceramah tersebut, ia memberikan contoh orang yang memiliki gelar akademik tetapi melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moral.
“Banyak orang yang pintar ngomong, tapi sedikit orang yang bisa memberi teladan,” ujar Rhoma.
Menurutnya, teladan merupakan contoh perilaku yang baik. Karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak hanya berkaitan dengan mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi momentum untuk berusaha meneladani akhlak beliau.
Akhlak Nabi kepada Allah SWT
Rhoma Irama kemudian menguraikan contoh akhlak Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT.
Dalam ceramahnya, ia menyebut Rasulullah sebagai sosok yang tekun dalam beribadah. Salah satu contoh yang disampaikan adalah salat Nabi hingga kaki beliau mengalami pembengkakan.
Rhoma juga menyebut Nabi banyak beristighfar dan menyampaikan angka 100 kali dalam sehari dalam penjelasannya.
Dalam kisah yang disampaikan, ketika Nabi ditanya mengapa beliau tetap melakukan ibadah secara sungguh-sungguh meskipun telah mendapatkan kedudukan yang tinggi, jawabannya dikaitkan dengan rasa syukur kepada Allah SWT.
Rhoma menyebut sikap tersebut sebagai contoh akhlak dan budi pekerti kepada Allah SWT.
Ia kemudian mengaitkan hal itu dengan kewajiban umat Islam menjalankan ibadah. Menurut penjelasannya, menjaga salat lima waktu secara konsisten merupakan salah satu bentuk akhlak kepada Allah SWT.
Akhlak Nabi kepada Sesama Manusia
Selain hubungan dengan Allah SWT, Rhoma Irama menjelaskan akhlak Rasulullah SAW kepada sesama manusia.
Ia mengutip ayat yang menggambarkan Rasul sebagai utusan dari kalangan manusia yang memiliki kepedulian terhadap umatnya. Dalam ceramah tersebut, Rhoma menjelaskan bahwa Rasulullah merasa berat ketika melihat umat mengalami penderitaan.
Menurut penjelasan Rhoma, Rasulullah juga menginginkan umatnya memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Kepada orang-orang beriman, beliau digambarkan memiliki kasih sayang.
Dengan demikian, pembahasan mengenai akhlak Nabi dalam ceramah tersebut mencakup dua hubungan utama yang telah dijelaskan, yaitu hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia.
Maulid Nabi sebagai Momentum Meneladani Rasulullah
Pada bagian akhir penjelasan yang tersedia, Rhoma Irama kembali menekankan hubungan antara peringatan Maulid Nabi dengan keteladanan.
Ia menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk berusaha meneladani akhlak Rasulullah SAW. Keteladanan tersebut mencakup hubungan kepada Allah SWT maupun hubungan kepada sesama manusia.
Dalam kerangka yang disampaikan Rhoma, proses tersebut dimulai dari mengenal sosok Nabi Muhammad SAW. Pengenalan kemudian menumbuhkan kekaguman, dilanjutkan dengan kecintaan, dan pada akhirnya mendorong ketaatan kepada ajaran Rasulullah.
Penjelasan tersebut menjadi bagian utama ceramah Rhoma Irama dalam kegiatan yang ditayangkan kanal etalase seni pada 13 September 2026.
FAQ
Apa tujuan peringatan Maulid Nabi menurut Kiyai Rhoma Irama?
Menurut penjelasan Rhoma Irama, tujuan peringatan Maulid Nabi adalah memperdalam dan mempertajam pengenalan umat Islam terhadap sosok Nabi Muhammad SAW sehingga tumbuh kekaguman, kecintaan, dan ketaatan kepada beliau.
Bagaimana umat Islam mengenal Nabi Muhammad SAW meskipun tidak pernah bertemu beliau?
Dalam ceramah tersebut, Rhoma Irama menjelaskan bahwa umat Islam mengenal dan beriman kepada Nabi Muhammad SAW melalui Al-Qur’an yang menjadi wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah.
Apa yang dimaksud Rhoma Irama dengan misi Nabi memperbaiki akhlak?
Rhoma mengutip hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan atau memperbaiki akhlak. Ia menjelaskan akhlak sebagai sikap, perilaku, atau kelakuan manusia.
Apa saja jenis akhlak yang dijelaskan Rhoma Irama?
Secara kualitatif, Rhoma menyebut akhlak mulia, akhlak standar, dan akhlak buruk. Berdasarkan orientasinya, ia menyebut akhlak kepada Allah SWT, kepada sesama manusia, serta kepada alam, hewan, dan tanaman.
Mengapa Rasulullah SAW disebut sebagai teladan?
Dalam ceramah tersebut, Rhoma Irama mengutip ayat yang menyebut Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah, yaitu teladan yang baik. Ia mengaitkannya dengan pentingnya menjadikan perilaku Rasul sebagai contoh dalam kehidupan.
Bagaimana contoh akhlak Nabi kepada Allah SWT yang disampaikan Rhoma?
Rhoma menyampaikan contoh berupa ketekunan Nabi dalam salat, istighfar, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Dalam ceramahnya, ia menyebut Nabi tetap tekun beribadah sebagai bentuk syukur kepada Allah.
Bagaimana akhlak Nabi kepada sesama manusia?
Rhoma Irama menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kepedulian terhadap penderitaan umat dan menginginkan umatnya memperoleh keselamatan serta kebahagiaan. Kepada orang-orang beriman, Rasul digambarkan memiliki kasih sayang.
Sumber: Ceramah Rhoma Irama Di MT Ziyadatul Khoir Jakarta Utara






