invisible hit counter
Nasional

Dr. Sugeng Sugiharto Tanggapi Pernyataan KH Miftahul Akhyar, Soroti Pentingnya Pembuktian dalam Kajian Ilmiah

Warta BataviaJakarta – Pernyataan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftahul Akhyar, mengenai pihak-pihak yang dinilai menolak sejumlah amaliah dan meragukan nasab sejumlah tokoh menjadi perhatian publik. Dalam sebuah tayangan video, KH Miftahul Akhyar menyampaikan kekhawatiran bahwa penolakan terhadap amaliah tertentu dan keraguan terhadap nasab tokoh-tokoh agama akan terus meluas.

Dalam keterangannya, KH Miftahul Akhyar menyebut bahwa fenomena tersebut mulai terjadi di sejumlah daerah dan mengaitkannya dengan kelompok yang disebutnya sebagai Wahabi. Ia juga menyampaikan bahwa beberapa amaliah seperti Ratib Al-Haddad dan penghormatan kepada sejumlah ulama dikhawatirkan ikut dipersoalkan apabila tren tersebut terus berkembang.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Dr. Sugeng Sugiharto. Dalam komentarnya, ia lebih banyak membahas metode berpikir ilmiah serta pentingnya pembuktian ketika menyampaikan suatu klaim, terutama yang berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan.

Dr. Sugeng Soroti Pentingnya Bukti dalam Sebuah Klaim

Pada awal pemaparannya, Dr. Sugeng menilai bahwa sebuah pendapat atau fatwa dalam ranah yang dapat diuji secara ilmiah memerlukan dukungan bukti yang dapat diverifikasi. Menurutnya, keberadaan otoritas atau banyaknya pihak yang mendukung suatu pendapat tidak menggantikan kebutuhan akan pembuktian.

Ia menyatakan bahwa dalam tradisi sains, suatu kesimpulan diterima apabila didukung data dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, menurutnya, setiap klaim ilmiah tetap terbuka untuk diuji kembali apabila ditemukan bukti baru yang lebih kuat.

Tradisi Ilmiah dalam Sejarah Islam

Dalam penjelasannya, Dr. Sugeng juga mengutip sejumlah tokoh dalam sejarah keilmuan Islam. Ia menyebut nama Imam Hasan Ibnu al-Haytham, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd sebagai contoh ulama yang dikenal memiliki kontribusi besar dalam pengembangan metode ilmiah.

Menurutnya, tradisi ilmiah yang berkembang pada masa keemasan peradaban Islam menempatkan data, observasi, dan penalaran sebagai bagian penting dalam proses memperoleh pengetahuan. Ia menilai bahwa sikap kritis merupakan salah satu karakter dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Dr. Sugeng Sugiharto Tanggapi Pernyataan KH Miftahul Akhyar, Soroti Pentingnya Pembuktian dalam Kajian Ilmiah

Abu Bakar Ar-Razi Dijadikan Contoh Pendekatan Eksperimental

Untuk menjelaskan pandangannya, Dr. Sugeng mengangkat kisah Abu Bakar Ar-Razi yang dikenal dalam sejarah kedokteran Islam.

Ia menjelaskan bahwa Ar-Razi melakukan berbagai pengamatan dan eksperimen dalam praktik medis. Salah satu contoh yang disebutkan adalah metode memilih lokasi rumah sakit dengan mengamati kondisi lingkungan melalui percobaan sederhana serta kritik terhadap teori kedokteran Galen yang saat itu banyak dianut.

Menurut penjelasannya, Ar-Razi menyusun hasil pengamatan dan eksperimennya dalam sebuah karya yang berisi argumentasi terhadap teori sebelumnya. Dr. Sugeng menggunakan contoh tersebut untuk menggambarkan bahwa teori ilmiah dapat berubah apabila terdapat bukti baru yang lebih kuat.

Nasab Dinilai Berada pada Ranah yang Dapat Diuji

Dalam komentarnya, Dr. Sugeng juga menyinggung persoalan nasab. Ia menyampaikan pandangan bahwa pembahasan mengenai nasab termasuk perkara yang menurutnya dapat dikaji menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan, sehingga pembuktiannya perlu mengacu pada metode ilmiah yang relevan.

Ia membedakan persoalan tersebut dengan pembahasan fikih yang memiliki pendekatan kajian berbeda. Menurut penjelasannya, persoalan yang berada pada ranah ilmu alam maupun ilmu terapan memerlukan data empiris sebagai dasar penarikan kesimpulan.

Michael Faraday sebagai Contoh Penemuan Berbasis Eksperimen

Selain mengutip ilmuwan Muslim, Dr. Sugeng juga menyinggung tokoh fisika Michael Faraday.

Ia menjelaskan bahwa Faraday tidak berasal dari latar belakang pendidikan formal yang tinggi, tetapi mampu menghasilkan berbagai penemuan penting melalui eksperimen. Menurutnya, hasil penelitian Faraday kemudian memperoleh penjelasan matematis dari James Clerk Maxwell sehingga menjadi dasar perkembangan ilmu kelistrikan modern.

Contoh tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa kontribusi ilmiah ditentukan oleh kekuatan data dan hasil penelitian, bukan semata-mata oleh status sosial maupun otoritas seseorang.

Gregor Mendel dan Lahirnya Ilmu Genetika Modern

Dr. Sugeng selanjutnya mengangkat kisah Gregor Mendel yang dikenal sebagai pelopor genetika modern.

Ia menjelaskan bahwa Mendel melakukan penelitian terhadap ribuan tanaman kacang polong untuk memahami pola pewarisan sifat. Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi dasar lahirnya hukum genetika yang hingga kini diajarkan dalam berbagai disiplin ilmu biologi.

Menurut Dr. Sugeng, kisah Mendel menunjukkan bahwa teori ilmiah diterima melalui proses penelitian dan pembuktian yang dapat diuji oleh peneliti lain, meskipun pada awalnya belum memperoleh pengakuan luas.

Menilai Metode Ilmiah Bersifat Terbuka terhadap Pengujian

Pada bagian akhir pemaparannya, Dr. Sugeng kembali menegaskan pandangannya bahwa metode ilmiah mengedepankan observasi, data, pengujian, dan kemungkinan koreksi apabila ditemukan bukti baru.

Ia menyampaikan bahwa dalam bidang-bidang seperti biologi, fisika, genetika, matematika, maupun ilmu sosial, suatu pendapat perlu didukung pembuktian agar dapat diterima dalam komunitas ilmiah.

Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk mengedepankan sikap kritis dalam menilai berbagai klaim yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan serta membedakan antara argumentasi yang berbasis data dengan argumentasi yang hanya bertumpu pada otoritas.

Penutup

Komentar Dr. Sugeng Sugiharto muncul sebagai tanggapan atas pernyataan KH Miftahul Akhyar mengenai fenomena penolakan terhadap sejumlah amaliah dan keraguan atas nasab tokoh-tokoh tertentu. Dalam pemaparannya, Dr. Sugeng menitikberatkan pembahasan pada pentingnya metode ilmiah, pembuktian empiris, serta penggunaan data dalam mengevaluasi berbagai klaim yang berada pada ranah ilmu pengetahuan.

Perbedaan pandangan yang disampaikan kedua tokoh tersebut menunjukkan adanya perbedaan pendekatan dalam melihat persoalan yang menjadi bahan diskusi, yakni antara pendekatan otoritas keagamaan dan pendekatan pembuktian ilmiah sebagaimana dijelaskan dalam komentar Dr. Sugeng Sugiharto.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button