invisible hit counter
Nasional

Kanal YouTube “Pada Sebuah Koma” Klaim Alami Intimidasi Terkait Pembahasan Makam KRT Sumodiningrat, Tetap Berkomitmen Mengulas Sejarah

Kanal YouTube “Pada Sebuah Koma” Mengaku Didatangi Dua Orang

Kanal YouTube “Pada Sebuah Koma” mengaku mengalami dugaan intimidasi setelah membahas polemik mengenai makam Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sumodiningrat. Pengakuan tersebut disampaikan dalam salah satu video yang diunggah di kanal tersebut.

Dalam penjelasannya, pembawa acara menyebut dirinya didatangi oleh dua orang laki-laki saat perjalanan pulang kerja. Pertemuan tersebut, menurut pengakuannya, berlangsung di jalan dan bukan di tempat kerja maupun di rumah.

Ia mengatakan kedua orang tersebut menyampaikan maksud kedatangannya dengan cara yang sopan. Namun, ia tidak mengungkapkan secara rinci isi pembicaraan yang terjadi.

Menurutnya, inti dari penyampaian tersebut adalah permintaan agar tim Pada Sebuah Koma tidak lagi membahas polemik makam KRT Sumodiningrat yang berada di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Mengaku Tetap Akan Membahas Polemik Makam

Dalam video tersebut, pengelola kanal menyatakan tidak akan menghentikan pembahasan mengenai polemik makam yang selama ini mereka angkat.

Ia mengaku menanggapi permintaan tersebut dengan santai dan menegaskan bahwa timnya tetap akan menyampaikan informasi yang mereka yakini berkaitan dengan sejarah KRT Sumodiningrat.

Tak lama setelah pertemuan tersebut berakhir, ia menghubungi Raden Dibo Lakswono, yang disebut sebagai trah Hamengku Buwono.

Menurut keterangannya, Raden Dibo Lakswono justru meminta agar pembahasan mengenai KRT Sumodiningrat terus dilanjutkan demi mengungkap fakta sejarah. Dalam video itu juga disebutkan bahwa peristiwa tersebut dinilai sebagai bentuk dugaan persekusi atau intimidasi.

Mengaku Mendapat Dukungan dari Sejumlah Tokoh dan Kreator Konten

Selain menceritakan dugaan intimidasi, pengelola kanal juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang disebut memberikan dukungan.

Beberapa nama yang disebut dalam video antara lain:

  • Gus Ali dari Arah 9 Channel.
  • AR News Media.
  • Kang Mas Salh dari kanal Ngaso Ngopi Ngaji.
  • Dr. Yaser Arafat, yang disebut sebagai ustaz sekaligus sejarawan dan dosen UIN Yogyakarta.

Menurut pengelola kanal, dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi timnya untuk terus membahas persoalan yang mereka anggap sebagai upaya pelurusan sejarah.

Singgung SK Bupati Bantul Nomor 667 Tahun 2025

Dalam penjelasannya, kanal tersebut juga menyinggung Surat Keputusan (SK) Bupati Bantul Nomor 667 Tahun 2025.

Mereka menyebut keputusan tersebut menetapkan makam KRT Sumodiningrat yang berada di Pesarean Para Wali Astana Gedong, Jejeran, Wonokromo, Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai bagian dari struktur cagar budaya.

Menurut narasi dalam video, keberadaan keputusan tersebut dijadikan dasar bahwa makam KRT Sumodiningrat yang berada di Jalan Duku Lamper Kidul, Kota Semarang, bukan merupakan makam tokoh tersebut.

Pernyataan tersebut merupakan klaim yang disampaikan oleh pengelola kanal berdasarkan penafsiran mereka terhadap dokumen yang disebutkan.

Kanal YouTube Pada Sebuah Koma Klaim Alami Intimidasi Terkait Pembahasan Makam KRT Sumodiningrat, Tetap Berkomitmen Mengulas Sejarah

Menyinggung Lambang Keraton di Lokasi Makam Semarang

Pengelola kanal juga menyampaikan bahwa pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat disebut tidak meminta pembongkaran makam di Semarang.

Menurut penjelasan dalam video, yang diminta hanyalah pelepasan Praja Cihna atau lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta pencantuman nama KRT Sumodiningrat yang terdapat pada gapura maupun area makam tersebut.

Selain itu, pembawa acara juga menyampaikan pendapat pribadinya bahwa apabila lambang dan nama tersebut tidak dilepas, maka menurutnya dapat ditambahkan keterangan yang menunjukkan status makam tersebut. Pernyataan ini merupakan opini pribadi yang disampaikan dalam video.

Soroti Klaim Nasab KRT Sumodiningrat

Video tersebut juga membahas persoalan silsilah atau nasab KRT Sumodiningrat.

Pengelola kanal mengkritik klaim yang dikaitkan dengan Luthfi bin Yahya, yang menurutnya menghubungkan KRT Sumodiningrat dengan sosok bernama Habib Hasan bin Thaha bin Yahya.

Dalam video itu disebutkan bahwa berdasarkan berbagai sumber sejarah yang mereka yakini sebagai bukti primer, KRT Sumodiningrat dimakamkan di kawasan Pesarean Para Wali Astana Gedong, Jejeran, Wonokromo, Pleret, Bantul, bukan di Semarang.

Mereka juga menyampaikan versi silsilah yang menyebut KRT Sumodiningrat merupakan putra Tumenggung Jayaningrat, yang makamnya berada di Magelang dan disebut sebagai menantu Hamengku Buwono I serta penulis Babad Keraton.

Paparkan Rangkaian Silsilah Leluhur

Dalam video tersebut dijelaskan pula silsilah yang menurut kanal tersebut dimiliki KRT Sumodiningrat.

Disebutkan bahwa di sebelah utara kompleks makam KRT Sumodiningrat terdapat makam Kiai Ageng Krian (Wonokriyo) yang disebut sebagai leluhurnya.

Selanjutnya dijelaskan bahwa Kiai Ageng Krian merupakan putra Adipati Pragolo II, yang merupakan putra Adipati Pragolo I atau Adipati Wasis Joyokusumo, yang disebut sebagai putra Ki Ageng Pemanjawi.

Pengelola kanal menyebut rangkaian silsilah tersebut tercatat dalam berbagai sumber sejarah yang mereka jadikan rujukan.

Ajakan Meminta Maaf Secara Terbuka

Dalam bagian akhir video, pengelola kanal menyampaikan harapan agar pihak yang disebut dalam pembahasan bersedia menyampaikan permintaan maaf secara terbuka apabila terdapat kekeliruan.

Ia berpendapat bahwa masyarakat, keluarga KRT Sumodiningrat, maupun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan memberikan maaf apabila hal tersebut dilakukan.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai pandangan pribadi narasumber dalam video.

Tegaskan Tetap Melanjutkan Edukasi Sejarah

Menutup video, pengelola kanal menyatakan bahwa berbagai bentuk hujatan, kritik maupun dugaan intimidasi yang mereka alami tidak akan menghentikan upaya membahas sejarah.

Mereka menegaskan akan tetap menyampaikan materi yang menurut mereka merupakan bagian dari edukasi dan pelurusan sejarah kepada masyarakat.

Catatan: Artikel ini merupakan laporan atas isi pernyataan yang disampaikan dalam video Kanal YouTube Pada Sebuah Koma. Sejumlah klaim yang disampaikan dalam video tersebut belum diverifikasi secara independen dalam artikel ini, dan pihak-pihak yang disebutkan belum memuat tanggapan dalam materi yang menjadi dasar penulisan berita ini.

Sumber berita:

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button