Haji Dwi Susanto Ungkap Konsep Penghasilan Hari Tua Umur 40-50-60 Tahun

Haji Dwi Susanto Ungkap Konsep Penghasilan Hari Tua: Dari Kontrakan hingga Latihan Mengelola Keuangan
WARTA BATAVIA – JAKARTA — Haji Dwi Susanto menyampaikan sejumlah pandangan mengenai persiapan kehidupan finansial pada usia 40 tahun, 50 tahun hingga masa tua. Penjelasan tersebut disampaikan dalam sebuah acara yang ditayangkan melalui kanal YouTube RDAY SOLIHAH CHANNEL pada 10 April 2026.
Dalam penjelasannya, Haji Dwi Susanto mengajak peserta acara untuk mulai memikirkan sumber penghasilan yang dapat menopang kehidupan ketika memasuki usia lanjut. Ia menyinggung sejumlah sumber pemasukan, antara lain usaha kontrakan atau kos, ruko, katering, laundry, serta pemasukan bulanan dan tahunan.
Haji Dwi juga menceritakan contoh pengalaman Haji Marko yang menurutnya mengalami perkembangan jumlah kamar kontrakan dan memiliki ruko setelah mengikuti dan mempraktikkan ilmu yang disampaikan dalam lingkungan RDA.
Dalam acara tersebut, Haji Dwi menyampaikan target yang ia harapkan dapat dicapai peserta, yakni memiliki aset yang menghasilkan pemasukan sehingga pada masa tua tidak sepenuhnya bergantung kepada anak dan menantu.
Ia juga menghubungkan pembahasan ekonomi dengan kebiasaan ibadah, sedekah, latihan, serta perubahan cara berpikir. Menurut Haji Dwi, peserta perlu menjalankan proses secara bertahap dan mempraktikkan apa yang dipelajari.
Haji Dwi Susanto Bicara Persiapan Finansial di Usia 40 dan 50 Tahun
Pada awal penyampaiannya, Haji Dwi Susanto menekankan pentingnya mempersiapkan kondisi keuangan sejak sebelum memasuki usia lanjut.
Ia menyampaikan keinginannya agar peserta yang saat ini berada pada rentang usia 40 hingga 50 tahun sudah memiliki penghasilan yang aman ketika memasuki masa tua.
“Saya mau di usia kita 40-50 kita sudah punya penghasilan yang aman.”
Salah satu bentuk aset yang disebut Haji Dwi adalah kontrakan. Ia menyebut kepemilikan kontrakan sebagai salah satu sumber penghasilan yang dapat dipersiapkan sejak usia produktif.
Dalam acara itu, Haji Dwi kemudian meminta Haji Marko menjelaskan kondisi kontrakannya sebelum mengikuti kegiatan RDA.
Haji Marko disebut sebelumnya memiliki enam pintu kontrakan. Menurut penuturan Haji Dwi, setelah menjalankan proses selama tujuh bulan, jumlah kontrakan atau kos yang dimiliki Haji Marko meningkat menjadi 21 pintu.
“Selama 7 bulan dipaksain. Alhamdulillah kontrakannya, kos-kosannya alhamdulillah jadi 21.”
Pernyataan tersebut disampaikan Haji Dwi sebagai contoh kepada peserta mengenai pentingnya menjalankan apa yang dipelajari secara konsisten.
Target 100 Pintu Kontrakan dan Ruko
Setelah menyebut perkembangan kontrakan Haji Marko, Haji Dwi kemudian menyampaikan target yang lebih besar kepada peserta.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin peserta hanya memiliki 21 pintu kontrakan. Haji Dwi menyebut angka 100 pintu sebagai target yang ia sampaikan kepada peserta.
“Saya maunya Bapak dan Ibu enggak mau 21 pintu, tapi saya maunya 100 pintu.”
Selain kontrakan atau kos, Haji Dwi juga membahas ruko.
Menurut penuturannya, sebelum mengikuti RDA, Haji Marko disebut belum memiliki ruko. Setelah menjalankan proses selama tujuh bulan, Haji Dwi menyebut Haji Marko kemudian memiliki 15 pintu ruko.
“Sekarang punya ruko 15 pintu.”
Haji Dwi kemudian kembali menyampaikan target 100 pintu kepada peserta.
Dalam konteks penjelasan tersebut, angka 100 pintu disampaikan sebagai target yang diharapkan dapat menjadi bagian dari persiapan sumber penghasilan jangka panjang.
Sumber Penghasilan dari Kontrakan
Haji Dwi menjelaskan alasan dirinya mendorong peserta untuk memiliki banyak unit kontrakan atau ruko.
Menurut dia, aset tersebut dapat dikembangkan menjadi beberapa sumber pemasukan.
Ia menyebut pemasukan harian dapat diperoleh melalui usaha katering bagi penghuni kos. Ia beralasan sebagian penghuni kos tidak memasak sendiri sehingga layanan makanan dapat menjadi peluang usaha.
Sementara itu, pemasukan mingguan disebut dapat berasal dari layanan laundry.
Haji Dwi kemudian menjelaskan bahwa penghuni kos dapat dikenai biaya sewa bulanan yang sudah mencakup fasilitas tertentu, termasuk layanan cuci pakaian.
Untuk pemasukan tahunan, ia menyebut sumbernya dapat berasal dari kontrakan ruko.
Dengan demikian, dalam penjelasan Haji Dwi terdapat beberapa jenis pemasukan yang dikaitkan dengan aset properti, yakni pemasukan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.
Haji Dwi: Jangan Sepenuhnya Mengandalkan Anak dan Menantu
Salah satu bagian utama dalam penjelasan Haji Dwi adalah mengenai kehidupan seseorang ketika memasuki usia tua.
Ia mengatakan bahwa orang tua sebaiknya memiliki sumber penghasilan sendiri dan tidak sepenuhnya mengandalkan anak maupun menantu.
“Di usia 50 tahun, Bapak dan Ibu tidak ngandelin anak dan mantu.”
Haji Dwi juga menyebut bahwa dukungan anak, menantu, dan cucu tetap dapat diberikan kepada orang tua. Namun, ia menekankan pentingnya orang tua memiliki sumber penghasilan sendiri.
Dalam penyampaiannya, hal tersebut dikaitkan dengan upaya menjaga kemandirian dan harga diri pada masa tua.
“Kalau bisa anak kita support, mantu kita support, kalau bisa cucu kita support.”
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pesan Haji Dwi kepada peserta untuk mempersiapkan kondisi finansial sebelum memasuki masa pensiun atau usia lanjut.
Konsep Penghasilan Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan
Haji Dwi menjelaskan bahwa aset yang dimiliki dapat dikembangkan menjadi beberapa sumber pemasukan.
Penghasilan Harian
Untuk pemasukan harian, Haji Dwi menyebut usaha katering yang menyasar penghuni kos.
Ia menyampaikan bahwa penghuni kos rata-rata tidak memasak sehingga layanan katering dapat menjadi salah satu usaha yang dikaitkan dengan bisnis kos.
Penghasilan Mingguan
Untuk pemasukan mingguan, ia menyebut layanan laundry.
Menurut penjelasannya, penghuni kos dapat menggunakan layanan cuci pakaian yang disediakan sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Penghasilan Bulanan
Pemasukan bulanan dapat berasal dari uang sewa kos. Haji Dwi juga menyebut kemungkinan menggabungkan biaya sewa dengan fasilitas tertentu.
Penghasilan Tahunan
Sementara itu, pemasukan tahunan disebut dapat berasal dari kontrakan ruko.
Dalam pemaparannya, Haji Dwi mengaitkan keempat jenis pemasukan tersebut dengan tujuan mempersiapkan kehidupan ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Haji Dwi Susanto Tekankan Pentingnya Konsistensi
Selain membahas aset dan penghasilan, Haji Dwi berkali-kali menggunakan kata “paksain” dalam arti mendorong peserta untuk mempraktikkan ilmu secara konsisten.
Ia menceritakan contoh Haji Marko yang menurut penuturannya menjalankan proses selama tujuh bulan.
Haji Dwi menyebut praktik yang dilakukan secara berulang sebagai bagian dari proses.
“Dipaksain berbuat, berbuat, berbuat, berbuat selama 7 bulan.”
Konsep tersebut kemudian dibandingkan dengan latihan dalam olahraga.
Haji Dwi memberikan contoh olahraga badminton, catur dan tenis meja. Menurut dia, seseorang tidak langsung menjadi juara tanpa melalui latihan.
Ia menjelaskan bahwa proses tersebut dimulai dari latihan, kemudian berlanjut ke latihan tanding.
Latihan Menjadi Orang Kaya
Bagian lain dari penyampaian Haji Dwi adalah konsep yang ia sebut sebagai “latihan jadi orang kaya”.
Menurutnya, seseorang yang ingin mencapai kondisi finansial tertentu perlu membiasakan diri terlebih dahulu.
Ia membandingkannya dengan atlet yang membutuhkan latihan sebelum mengikuti pertandingan.
“Kalau kita mau jadi orang kaya mesti latihan jadi orang kaya.”
Haji Dwi kemudian memberikan sejumlah contoh yang menurutnya merupakan bentuk latihan.
Salah satunya adalah mengunjungi pusat perbelanjaan dan melihat barang dengan harga tinggi. Ia menyebut Plaza Indonesia dan produk bermerek sebagai contoh yang disampaikan kepada peserta.
Ia juga menyebut restoran di Plaza Indonesia sebagai tempat yang dapat digunakan dalam contoh latihan tersebut.
Penjelasan itu disampaikan dengan sejumlah candaan kepada peserta acara.
Latihan Mengubah Kebiasaan Belanja
Haji Dwi kemudian masuk ke kebiasaan belanja.
Ia meminta peserta berlatih membeli barang tanpa menawar, termasuk ketika berbelanja di toko modern.
Menurut dia, seseorang dapat memulai latihan dari hal-hal sederhana.
Ia menyebut Indomaret dan Alfamart sebagai contoh tempat berbelanja yang pada umumnya memiliki harga yang sudah ditetapkan sehingga pembeli tidak melakukan tawar-menawar.
Haji Dwi kemudian membawa contoh tersebut kepada aktivitas belanja di warung atau pedagang sayur keliling.
Ia menyampaikan agar peserta mencoba tidak menawar harga ketika membeli barang.
“Bapak dan Ibu coba latihan dulu seperti itu. Oh, dari hal-hal kecil.”
Menurut Haji Dwi, kebiasaan menghitung pengeluaran dalam jumlah kecil perlu dibedakan dengan pengelolaan keuangan untuk kebutuhan yang lebih besar.
Nasihat tentang Investasi
Dalam bagian lain ceramahnya, Haji Dwi membahas mengenai investasi.
Ia menceritakan contoh seseorang yang mengajak pasangannya menanamkan uang dalam sebuah investasi dengan janji memperoleh hasil setiap bulan tanpa harus bekerja.
Dalam ilustrasi yang disampaikan, seseorang dapat memberikan modal Rp50 juta atau Rp100 juta.
Haji Dwi kemudian mengingatkan peserta mengenai risiko penipuan berkedok investasi.
Ia memberikan gambaran mengenai pola seseorang yang memperoleh pembayaran sekitar 10 persen di awal, kemudian terdorong menambah investasi dan mengajak anggota keluarga lainnya.
Dalam cerita yang disampaikan, pada akhirnya perusahaan yang disebut dalam ilustrasi tersebut sudah tidak ada.
Haji Dwi kemudian mengarahkan peserta agar berhati-hati dan menjalankan apa yang ia sebut sebagai “ilmunya Allah”.
“Jalanin ilmunya Allah. Jalanin, syukurin, nikmatin.”
Ia mengatakan bahwa materi yang disampaikan pada kesempatan tersebut merupakan dasar dan akan dijelaskan secara bertahap.
Konsep Ibadah dalam Penjelasan Haji Dwi
Selain aspek ekonomi, Haji Dwi juga menyampaikan ajakan terkait peningkatan ibadah.
Ia meminta peserta mempraktikkan ilmu secara bertahap setelah pulang dari acara.
Menurut dia, perubahan dapat dimulai sejak hari pertama, kemudian dilanjutkan pada hari kedua, ketiga dan seterusnya.
Ia menyebut peningkatan ibadah sebagai salah satu bentuk praktik yang dapat dilakukan peserta.
“Hari pertama, hari kedua, hari ketiga, hari keempat, Bapak dan Ibu ibadahnya ke Allah sudah mulai meningkat.”
Haji Dwi kemudian menggunakan istilah “membuat takjub Allah” dalam menjelaskan praktik ibadah yang ia sarankan.
Ia menyebut beberapa bentuk, seperti ibadah ekstrem, sedekah ekstrem dan riyadah ekstrem.
Sedekah dan Praktik Ibadah yang Disebutkan
Dalam penjelasannya, Haji Dwi memberikan sejumlah contoh praktik ibadah.
Ia menyebut bangun pada tengah malam, mandi pagi, salat tahajud, membaca Al-Quran, salat tobat, sedekah subuh, sedekah Jumat serta salat qabliyah dan ba’diyah.
Haji Dwi juga menyebut angka tertentu dalam contoh yang disampaikannya, antara lain membaca Al-Quran hingga 12 juz dan salat tobat 68 kali.
Untuk sedekah subuh, ia menyebut contoh nominal Rp100.000. Sementara untuk sedekah Jumat barokah, ia menyebut Rp1 juta.
Namun, dalam penjelasannya ia juga memberikan alternatif bagi peserta yang belum mampu menjalankan nominal tersebut.
Ia mengatakan peserta dapat memulai dari nominal yang lebih kecil.
“Kalau bisa Bapak dan Ibu sedekah subuhnya kita bikin Rp100.000.”
Kemudian ia menambahkan bahwa jika nominal tersebut dirasakan berat, peserta dapat memulai dari Rp2.000.
Haji Dwi Menghubungkan Kebiasaan dengan Tujuan Finansial
Menurut penjelasan Haji Dwi, perubahan finansial tidak hanya berkaitan dengan jumlah uang yang dimiliki.
Ia menghubungkan tujuan tersebut dengan kebiasaan yang dilakukan secara berulang.
Analogi olahraga kembali digunakan. Seorang atlet, menurut contoh yang diberikan, harus berlatih sebelum dapat mengikuti pertandingan.
Dengan pola yang sama, Haji Dwi mengajak peserta untuk berlatih mengubah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menekankan bahwa proses tersebut harus dilakukan secara bertahap.
“Bapak dan Ibu harus latihan jadi orang kaya biar Bapak dan Ibu enggak kaget.”
Ucapan sebagai Doa
Haji Dwi juga membahas penggunaan kata-kata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan peserta agar berhati-hati menggunakan kata-kata negatif.
Dalam penjelasannya, ia mengatakan:
“Karena ucapan adalah doa.”
Ia kemudian memberikan contoh mengenai cara seseorang memandang peluang.
Menurut Haji Dwi, kesempatan tidak seharusnya selalu dipandang sebagai sesuatu yang hanya datang sekali.
Ia mengajak peserta untuk melihat peluang yang tersedia dan tidak membatasi diri dengan ungkapan negatif.
Bagian tersebut disampaikan dalam suasana interaktif dengan peserta acara.
Pentingnya Mempersiapkan Masa Tua
Persiapan masa tua menjadi salah satu tema utama yang berulang dalam penjelasan Haji Dwi Susanto.
Ia mendorong peserta yang masih berada dalam usia produktif untuk mulai mempersiapkan aset dan sumber pemasukan.
Dalam konsep yang disampaikannya, kontrakan, kos, ruko, katering dan laundry dapat menjadi bagian dari model usaha yang menghasilkan pemasukan.
Ia juga menyampaikan target kepemilikan aset dalam jumlah besar kepada peserta.
Menurut Haji Dwi, tujuan akhirnya adalah agar seseorang memiliki sumber pemasukan ketika memasuki usia 50 tahun, 60 tahun atau lebih.
Contoh Haji Marko dalam Pemaparan Haji Dwi
Nama Haji Marko beberapa kali disebut dalam acara tersebut.
Haji Dwi menjadikan pengalaman Haji Marko sebagai contoh dalam menjelaskan konsep yang disampaikannya.
Dalam transkrip acara, Haji Marko menyebut bahwa sebelum mengikuti RDA ia memiliki enam pintu kontrakan.
Haji Dwi kemudian mengatakan jumlah tersebut berkembang menjadi 21 pintu setelah tujuh bulan menjalankan proses yang ia sampaikan.
Selain kontrakan, Haji Dwi menyebut Haji Marko sebelumnya tidak mempunyai ruko dan kemudian memiliki 15 pintu ruko.
Informasi tersebut merupakan penuturan yang disampaikan dalam acara oleh Haji Dwi dan Haji Marko.
Humor dalam Penyampaian Materi
Acara yang disampaikan Haji Dwi berlangsung dalam suasana yang diselingi humor.
Sejumlah bagian pembicaraan mengenai Haji Marko, Kentung, pengalaman peserta, kendaraan, kegiatan belanja dan istilah tertentu disampaikan sebagai candaan.
Haji Dwi juga mengatakan bahwa humor digunakan agar peserta tidak mengantuk selama mengikuti acara.
Pada bagian mengenai Kentung, misalnya, Haji Dwi menyampaikan cerita dengan berbagai permainan kata dan candaan.
Ia juga mengaitkan Kentung dengan cerita mengenai Candi Borobudur dan stupa sebagai bagian dari humor dalam acara tersebut.
Dengan demikian, materi yang disampaikan tidak hanya berisi pembahasan finansial dan ibadah, tetapi juga interaksi dengan peserta serta cerita humor.
Haji Dwi Menyinggung Pengalaman Kentung
Dalam acara tersebut, Haji Dwi juga menceritakan percakapannya dengan seseorang yang ia panggil Kentung.
Ia menyebut pernah menanyakan pengalaman orang tersebut mencari pesugihan di Pantai Laut Selatan.
Dalam penuturan Haji Dwi, orang tersebut menjawab bahwa peristiwa itu terjadi pada 2005.
Cerita tersebut disampaikan sebagai bagian dari interaksi dan humor dalam acara.
Haji Dwi kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan pertanyaan mengenai kondisi seseorang yang merasa belum kaya atau belum sukses.
Ia kembali mengarahkan peserta kepada gagasan mengenai praktik, proses dan pembelajaran.
Pesan tentang Belanja dan Gaya Hidup
Dalam bagian lain, Haji Dwi meminta peserta memperhatikan kebiasaan ketika membeli barang.
Ia menyebut agar peserta tidak selalu mencari potongan harga atau program promosi.
Contoh yang digunakan adalah program promosi seperti “buy one get one”.
Namun, penyampaiannya kembali dibungkus dengan permainan kata dan humor yang mengundang tawa peserta.
Pesan utama yang disampaikan dalam bagian tersebut adalah latihan mengubah kebiasaan belanja.
Latihan Finansial Dimulai dari Hal Sederhana
Haji Dwi tidak hanya berbicara mengenai aset bernilai besar.
Ia juga mengajak peserta memulai perubahan dari aktivitas sehari-hari.
Contohnya adalah cara membeli barang, kebiasaan menawar harga, cara memandang barang mahal, serta cara menjalankan kegiatan ekonomi.
Menurut penjelasan Haji Dwi, latihan dari hal-hal kecil tersebut dilakukan untuk membentuk kebiasaan sebelum seseorang menjalankan target finansial yang lebih besar.
Konsep tersebut kembali dikaitkan dengan analogi olahraga yang membutuhkan latihan berulang.
Kesimpulan
Penjelasan Haji Dwi Susanto dalam acara yang ditayangkan RDAY SOLIHAH CHANNEL pada 10 April 2026 membahas sejumlah tema, mulai dari persiapan finansial masa tua, kepemilikan kontrakan dan ruko, sumber penghasilan dari usaha pendukung, kebiasaan belanja, investasi, hingga ibadah dan sedekah.
Haji Dwi menyampaikan target agar peserta memiliki aset yang dapat menghasilkan pemasukan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.
Ia menggunakan pengalaman Haji Marko sebagai salah satu contoh dalam pemaparannya. Dalam acara tersebut disebutkan bahwa Haji Marko sebelumnya memiliki enam pintu kontrakan dan kemudian disebut memiliki 21 pintu setelah menjalankan proses selama tujuh bulan. Haji Dwi juga menyebut kepemilikan 15 pintu ruko oleh Haji Marko.
Selain aset, Haji Dwi menekankan pentingnya latihan. Ia menggunakan contoh olahraga untuk menjelaskan bahwa seseorang perlu berlatih sebelum mencapai kemampuan tertentu.
Konsep “latihan menjadi orang kaya” yang disampaikan Haji Dwi kemudian diterjemahkan melalui sejumlah contoh kebiasaan sehari-hari, termasuk aktivitas belanja dan cara memandang peluang.
Di sisi lain, Haji Dwi juga memasukkan aspek ibadah dalam materi tersebut. Ia menyebut tahajud, membaca Al-Quran, salat tobat, sedekah subuh, sedekah Jumat, serta salat qabliyah dan ba’diyah sebagai bagian dari praktik yang disampaikannya.
Seluruh uraian tersebut merupakan materi dan pernyataan yang disampaikan Haji Dwi Susanto dalam acara sebagaimana tercantum dalam transkrip.
FAQ
Siapa Haji Dwi Susanto?
Haji Dwi Susanto adalah narasumber yang menyampaikan materi dalam acara yang ditayangkan melalui kanal RDAY SOLIHAH CHANNEL pada 10 April 2026. Dalam acara tersebut ia membahas persiapan finansial, aset, usaha, kebiasaan, ibadah dan latihan.
Apa yang dibahas Haji Dwi Susanto?
Haji Dwi membahas persiapan penghasilan untuk masa tua, kepemilikan kontrakan dan ruko, usaha katering dan laundry, kebiasaan belanja, investasi, sedekah, ibadah serta konsep latihan menjadi orang kaya.
Berapa target kontrakan yang disampaikan Haji Dwi?
Dalam acara tersebut Haji Dwi menyampaikan target 100 pintu kontrakan kepada peserta. Angka tersebut disampaikan sebagai target yang ia dorong untuk dipersiapkan peserta.
Berapa jumlah kontrakan Haji Marko yang disebut dalam acara?
Menurut penjelasan Haji Dwi, Haji Marko sebelumnya memiliki enam pintu kontrakan. Setelah menjalankan proses selama tujuh bulan, jumlah tersebut disebut menjadi 21 pintu.
Berapa jumlah ruko Haji Marko yang disebut Haji Dwi?
Haji Dwi menyebut Haji Marko sebelumnya tidak memiliki ruko dan kemudian memiliki 15 pintu ruko setelah menjalankan proses yang dibahas dalam acara.
Apa saja sumber penghasilan yang dibahas?
Haji Dwi menyebut beberapa sumber pemasukan, yakni katering, laundry, uang sewa kos dan kontrakan ruko. Masing-masing dikaitkan dengan pemasukan harian, mingguan, bulanan dan tahunan.
Mengapa Haji Dwi membahas kontrakan dan ruko?
Dalam penjelasannya, aset kontrakan dan ruko dikaitkan dengan persiapan penghasilan pada masa tua. Ia menyampaikan agar seseorang tidak sepenuhnya bergantung kepada anak dan menantu ketika memasuki usia lanjut.
Apa yang dimaksud dengan latihan menjadi orang kaya?
Dalam materi tersebut, “latihan menjadi orang kaya” merupakan istilah yang digunakan Haji Dwi untuk menggambarkan proses membiasakan diri dengan kebiasaan tertentu sebelum mencapai target finansial yang lebih besar.
Apa contoh latihan yang disampaikan?
Haji Dwi memberikan contoh melihat barang mahal, duduk di restoran, berbelanja tanpa menawar dan tidak selalu mencari diskon. Contoh tersebut disampaikan sebagai bagian dari materi dan diselingi humor.
Apa yang disampaikan Haji Dwi mengenai investasi?
Haji Dwi memberikan ilustrasi mengenai investasi yang menjanjikan keuntungan dan mengingatkan peserta mengenai kemungkinan penipuan investasi. Ia juga mengajak peserta menjalankan ilmu yang disampaikan secara bertahap.
Apa hubungan ibadah dengan materi Haji Dwi?
Haji Dwi memasukkan ibadah sebagai bagian dari praktik yang ia sarankan kepada peserta. Ia menyebut tahajud, membaca Al-Quran, salat tobat, sedekah subuh, sedekah Jumat, serta salat qabliyah dan ba’diyah.
Berapa nominal sedekah yang disebut?
Haji Dwi menyebut contoh sedekah subuh sebesar Rp100.000 dan sedekah Jumat barokah sebesar Rp1 juta. Ia juga mengatakan peserta dapat memulai dari nominal lebih kecil, termasuk Rp2.000, apabila nominal tersebut dirasakan berat.
Apa pesan utama Haji Dwi tentang masa tua?
Dalam pemaparannya, Haji Dwi mendorong peserta mempersiapkan sumber penghasilan sendiri melalui aset dan usaha sehingga ketika memasuki usia tua tidak sepenuhnya mengandalkan dukungan anak maupun menantu.
Kapan penjelasan tersebut disampaikan?
Penjelasan tersebut disampaikan Haji Dwi Susanto dalam acara yang ditayangkan melalui kanal RDAY SOLIHAH CHANNEL pada 10 April 2026.




