invisible hit counter
Nasional

Tanggapan Kiai Abdul Ghalib Syakhuri terhadap Pernyataan Syekh Usamah Al-Azhar soal Ba’alawi, Soroti Sejarah Hubungan hingga Dasar Penetapan Nasab

WARTA BATAVIASAMPANG – Kiai Abdul Ghalib Syakhuri dari Sampang, Madura, menyampaikan tanggapan terhadap pernyataan Syekh Usamah Al-Azhar yang membahas hubungan antara kalangan Ba’alawi dengan para ulama Universitas Al-Azhar. Dalam penjelasannya, Kiai Abdul Ghalib menyoroti tiga poin utama yang disampaikan Syekh Usamah, mulai dari sejarah hubungan dengan Al-Azhar hingga dasar yang digunakan dalam pengakuan nasab Ba’alawi.

Komentar tersebut disampaikan setelah beredar potongan video yang memperlihatkan jawaban Syekh Usamah ketika ditanya mengenai hubungan antara Bani Ba’alawi dan para ulama Al-Azhar.

Kiai Abdul Ghalib Sebut Ada Tiga Poin yang Perlu Ditanggapi

Pada awal penjelasannya, Kiai Abdul Ghalib mengatakan terdapat tiga hal yang menurutnya perlu diberikan tanggapan atas pernyataan Syekh Usamah.

Menurutnya, poin pertama berkaitan dengan pernyataan bahwa hubungan antara keluarga Ba’alawi dan para ulama Al-Azhar merupakan hubungan yang telah berlangsung lama dan mapan selama berabad-abad.

Soroti Sejarah Hubungan Ba’alawi dengan Al-Azhar

Menanggapi hal tersebut, Kiai Abdul Ghalib mengutip sejumlah sumber sejarah dan biografi yang menurutnya menunjukkan bahwa hubungan tokoh-tokoh Ba’alawi dengan Mesir baru tercatat pada masa yang relatif belakangan.

Ia menyebut nama Habib Ali bin Yahya sebagai salah satu tokoh yang disebut pernah datang ke Mesir sekitar abad ke-13 Hijriah. Sementara tokoh lain yang menurutnya lebih dikenal di Mesir adalah Habib Syekh bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi beserta beberapa habaib lainnya pada kisaran abad ke-14 Hijriah.

Berdasarkan uraian tersebut, ia berpendapat bahwa hubungan antara ulama Al-Azhar dengan kalangan habaib berlangsung sekitar 200 hingga 250 tahun terakhir.

Menurut Kiai Abdul Ghalib, apabila dibandingkan dengan sejarah panjang Al-Azhar yang berdiri pada tahun 970 Masehi atau abad ke-4 Hijriah, hubungan tersebut masih tergolong pada masa ulama belakangan (mutaakhirin), bukan sejak periode awal berdirinya lembaga tersebut.

TANGGAPAN K ABDUL GHALIB TENTANG JAWABAN SYEKH USAMAH AL AZHAR KETIKA DITANYA TENTANG KAUM BAALAWI

Singgung Sejarah Berdirinya Al-Azhar

Dalam penjelasannya, Kiai Abdul Ghalib juga mengulas sejarah berdirinya Al-Azhar.

Ia menyebut lembaga tersebut didirikan pada masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah melalui panglima Jauhar Ash-Shiqilli di bawah Khalifah Al-Mu’izz Lidinillah.

Berdasarkan uraian sejarah itu, ia kemudian mengemukakan pandangannya mengenai adanya hubungan historis antara Al-Azhar pada masa awal dengan Dinasti Fatimiyah.

Pertanyakan Dasar Pengakuan Nasab

Poin kedua yang dikritisi Kiai Abdul Ghalib adalah pernyataan Syekh Usamah yang menyebut para ulama Al-Azhar mengakui kemuliaan nasab Ba’alawi berdasarkan syuhrah (kemasyhuran), istifadhah, serta riwayat yang berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi.

Menurut Kiai Abdul Ghalib, dasar tersebut masih memerlukan penelitian yang lebih menyeluruh mengenai sejarah nasab Ba’alawi.

Ia mempertanyakan mengapa pada abad ke-9 dan awal abad ke-10 Hijriah, menurutnya, belum terdapat penyebutan Ba’alawi sebagai sayyid atau syarif dalam sejumlah literatur yang ia rujuk.

Selain itu, ia juga mempertanyakan mengapa, menurut pandangannya, belum ditemukan pencatatan nasab tersebut oleh sejumlah ulama nasab terdahulu apabila memang telah memenuhi standar istifadhah maupun mutawatir.

Ia juga mempertanyakan keberadaan riwayat mengenai tokoh-tokoh awal Ba’alawi yang menurutnya tidak banyak ditemukan dalam literatur sebelum periode tersebut.

Bahas Konsep Mutawatir dalam Penetapan Nasab

Masih berkaitan dengan poin kedua, Kiai Abdul Ghalib mempertanyakan apakah rangkaian cerita yang berkembang mengenai tokoh-tokoh awal Ba’alawi dapat langsung dikategorikan sebagai riwayat mutawatir.

Menurutnya, istilah mutawatir memiliki syarat tertentu dalam disiplin ilmu yang perlu dipenuhi sebelum digunakan sebagai dasar penetapan suatu perkara, termasuk persoalan nasab.
Tanggapan Kiai Abdul Ghalib Syakhuri terhadap Pernyataan Syekh Usamah Al Azhar soal Ba'alawi, Soroti Sejarah Hubungan hingga Dasar Penetapan Nasab

Tanggapi Pernyataan Mengenai Murid dan Guru Al-Azhar

Pada poin ketiga, Kiai Abdul Ghalib menanggapi pernyataan Syekh Usamah yang menyebut keberadaan banyak keluarga Ba’alawi di Mesir sebagai murid maupun guru dinilai cukup menjadi dasar pengakuan terhadap nasab mereka.

Menurut Kiai Abdul Ghalib, hubungan keilmuan maupun hubungan sosial tidak serta-merta berkorelasi dengan keabsahan suatu garis keturunan.

Ia mengutip pendapat yang dinisbatkan kepada Ibnu Khaldun yang menurutnya menjelaskan bahwa hubungan persahabatan maupun pergaulan tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan sah atau tidaknya sebuah nasab.

Kutip Sejumlah Literatur Fikih dan Nasab

Dalam penjelasannya, Kiai Abdul Ghalib juga mengutip beberapa kitab sebagai landasan argumentasinya.

Ia menyebut pendapat Syekh Muhammad Sa’id Ramadan Al-Buti dalam Kasyful Qina’ yang menurutnya menyatakan bahwa fatwa yang telah terbukti keliru wajib ditolak meskipun berasal dari seorang mujtahid.

Selain itu, ia juga mengutip kitab Mawahib al-Jalil karya Imam Al-Khathib Al-Maliki yang menurutnya menyebut bahwa nasab tidak dapat ditetapkan hanya berdasarkan pengakuan semata.

Kiai Abdul Ghalib kemudian merujuk pula kepada kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun yang menurut penjelasannya menyatakan bahwa suatu pendapat yang tidak rasional, bertentangan dengan prinsip dasarnya, maupun tidak sesuai dengan dalil yang menjadi pijakannya tidak dapat dijadikan hujah.

Ajak Mengkaji Persoalan Nasab Secara Ilmiah

Di akhir penjelasannya, Kiai Abdul Ghalib mengajak masyarakat agar mengkaji persoalan nasab melalui pendekatan ilmiah dengan merujuk pada literatur sejarah, ilmu nasab, dan kaidah-kaidah yang digunakan para ulama.

Ia menegaskan bahwa pembahasan mengenai nasab, menurut pandangannya, sebaiknya didasarkan pada penelitian yang komprehensif terhadap sumber-sumber yang tersedia sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas jawaban Syekh Usamah Al-Azhar mengenai hubungan Ba’alawi dengan Al-Azhar serta dasar yang digunakan dalam pengakuan terhadap nasab Ba’alawi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button